• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskursus Ilmu Sosial Budaya Indonesia - Repository UM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Diskursus Ilmu Sosial Budaya Indonesia - Repository UM"

Copied!
366
0
0

Teks penuh

Kumpulan Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Wacana Ilmu Sosial Budaya Indonesia – Oleh: Nabhan F. Kumpulan pidato guru besar ini dikemas dalam 4 (empat) topik utama, antara lain: (1) Sains dan Teknologi; (2) Pembahasan Ilmu Sosial dan Kebudayaan Indonesia; (3) Perspektif Pendidikan Indonesia; dan (4) Mereka adalah pembelajaran inovatif.

Etnopuitika: Merajut Nilai Lokal, Menjaring Skala Global

Sebagai contoh kita bisa melihat "Dimu Jua" dalam Nyanyian Sunyi karya Amir Hamzah Doa" dalam Deru Debu Bercampur karya Chairil Anwar Sajak Tak Pernah Mati" dalam Dan Kematian Menjadi Akrab karya Subagio Sastrowardoyo Prolog" dalam Duka Abadimu karya Sapardi Djoko Damono (lahir 1940), dan “Meditasi” dalam Pariksit oleh Goenawan Mohamad (lahir 1941). Meminjam kearifan universal dari berbagai agama, ada “keheningan dan keheningan” dalam ajaran Buddha, ada “kedamaian di bumi kedamaian di hati” dalam ajaran Kristen, dan ada "berkah yang melimpah bagi alam semesta" dalam Islam.

Membaca Wacana Publik Secara Kritis

Ketiga, kajian ideologi dalam wacana publik berarti kajian teks yang kerap terjebak dalam persoalan keberpihakan. Dalam wacana publik yang notabene identik dengan pelaksanaan kekuasaan terdapat kecenderungan yang disebut dengan kekerasan simbolik.

Pembelajaran Sastra: Problematika dan Beberapa Pemecahannya

Pada bagian selanjutnya akan diberikan beberapa contoh pembelajaran untuk mengasah kecerdasan tersebut dengan mempelajari literatur. Siswa diajak menginternalisasi nilai melalui solilokui dan berdialog dengan guru melalui pembelajaran sastra.

Kesenian Ludruk: Dampak Akulturasi Budaya Terhadap Pendidikan Budi Pekerti Anak Bangsa

Misalnya, dalam ludruk, komunikasi verbal dapat dikategorikan ke dalam wacana sedangkan pemaparan bahasa yang digunakan oleh pelaku dikategorikan ke dalam teks. Teks dalam ludruk dibangun di atas (1) rangkaian hubungan internal yang mengatur koherensinya, (2) rangkaian hubungan asosiatif yang menghubungkannya dengan teks lain dalam korpus budaya, dan (3) rangkaian referensi yang mengacu pada satuan, keadaan dan peristiwa di luar teks (Fox, 1986: 44). Wacana lisan dalam ludruk memiliki ciri-ciri (1) tuturan lisan yang didukung gerak tubuh nonverbal, (2) kalimat yang digunakan tidak lengkap, cenderung pendek, (3) beberapa unsur dinyatakan secara implisit, dan (4) pola wacana tidak stabil.

Bahasa Jawa lisan dialek Jawa Timur merupakan bahasa pergaulan sehari-hari yang mencerminkan atau menjadi identitas masyarakat Jawa Timur (Soeseno Kartomihardjo, 1991; Geerzt, 1960). Sebagai identitas masyarakat, bahasa Jawa mengungkapkan dalam ludruk hal-hal yang dapat dipahami oleh masyarakat Jawa Timur. Misalnya, dalam ludruk, komunikasi verbal dapat dikategorikan ke dalam wacana, sedangkan pemaparan bahasa yang digunakan pelaku dikategorikan ke dalam teks (Fox, 1986: 44).

Keberaksaraan, Tradisi Baca-Tulis, dan Pembelajaran Sastra Indonesia

Implikasinya, pembelajaran sastra Indonesia memerlukan paradigma atau penekanan pada literasi, literasi dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Dengan mempelajari sastra Indonesia, siswa seharusnya menjadi bebas/mandiri [proses pembebasan] dari buta aksara, melek huruf dan ketidakmampuan berpikir kritis dan kreatif di satu sisi dan di sisi lain siswa harus menjadi manusia [proses humanisasi]. ] dengan mengembangkan literasi, tradisi literasi dan kemampuan berpikir kritis-kreatif dalam kehidupan siswa. Proporsi dan rumusan standar isi [kompetensi dan karakter yang diinginkan] sastra Indonesia harus cukup dan lengkap untuk mencapai visi dan misi utama pembelajaran sastra Indonesia; yang kemudian diterjemahkan ke dalam Rancangan Pembelajaran Sastra Indonesia berbasis literasi, tradisi baca tulis dan berpikir kritis-kreatif.

Dengan demikian, materi pembelajaran sastra Indonesia akan mampu menghasilkan efek pengasuhan berupa kesadaran akan pluralisme budaya, saling pengertian dalam hidup bersama dan wawasan multikulturalisme pada siswa (lihat Saryono, 2010). Pembelajaran sastra Indonesia juga dituntut untuk mengembangkan literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif. Tentunya kita berharap hasil pengukuran pembelajaran sastra Indonesia dengan tradisi literasi dan literasi benar-benar menunjukkan terbentuknya insan literat, literat, dan berpikir kritis-kreatif.

Men/Ter)jerat Kata-Kata Kotor

Karya akademis lainnya juga menempatkan pembahasan kata kotor (dan penggunaannya) dalam bidang sosiolinguistik (misalnya Pramono, 2005; Cipto, 2006; dan Japutri, 2006). Terlepas dari klaim tentang universalitas penggunaan kata-kata umpatan (Djatmika, 2007) dan sosiolinguistik pada umumnya (Ibrahim, 2009), pendekatan sosiolinguistik terhadap penggunaan kata-kata makian tidak begitu menjanjikan karena kata-kata makian yang sering digunakan dalam masyarakat tutur (speech community) dapat sama sekali tidak dapat dipahami oleh anggota masyarakat tutur lainnya: kata-kata yang dianggap kotor dalam satu bahasa belum tentu dianggap kotor dalam bahasa lain, sekalipun dalam bahasa yang sama tetapi dalam dialek yang berbeda (lihat misalnya Baker, 1966; Djatmika , 2007; Simbolon, 1999). Dengan kata lain, kita dapat melihat bahwa “dosa” penggunaan kata-kata kotor itu relatif, tergantung pada konvensi yang digunakan.

Dan relativitas konvensi sosial ini tidak cukup menjelaskan kemungkinan penggunaan kata-kata kotor secara individual. Namun, ini mengabaikan fakta bahwa seseorang dapat menggunakan kata-kata kotor dalam kesendirian. Pada titik ini, siklus sosial-individu-sosial (universal-khusus-sosial) penggunaan kata-kata kotor membutuhkan perhatian khusus.

Bahasa dan Budi Pekerti Among dalam Pembelajaran Sastra Indonesia

  • Mengapa Among
    • Sebagai Bahasa Khas Keluarga Hadirin sidang terbuka senat yang mulia
    • Sebagai Ideologi Pendidikan Nasional
    • Sebagai Amanah Undang-Undang
    • Sebagai Landasan Komunikasi Pembelajaran
  • Bahasa dan Budi Pekerti Among 1. Bahasa Among
    • Perspektif Pragmatik
    • Perspektif Etnografi Komunikasi
    • Budi Pekerti Among a. Pengertian dan Tingkatan
  • Pengintegrasian dalam Pembelajaran Sastra Indonesia
    • Bahasa dan Budi Pekerti Among untuk Mereaksi Respon Pembelajaran
    • Pembelajaran Sastra Indonesia Yang Mengendalikan dan Mengarahkan Siswa
    • Pembelajaran Sastra Indonesia Yang Membimbing dan Membombong Siswa
    • Pembelajaran Sastra Indonesia Yang Mempercaya dan Memandirikan Siswa
  • Kontribusi untuk Pendidikan Karakter

Pencantuman semboyan tut wuri handayani dalam logo Kementerian Pendidikan Nasional (Depdiknas) merupakan bentuk resmi pengakuan pemerintah di antara praktik-praktik, yaitu tut wuri handayani sebagai 'ideologi' dalam pendidikan nasional (Djojonegoro. Komponen latar belakang, peserta dan norma interaksi-interpretasi dikatakan mempengaruhi munculnya antara bahasa dan budi pekerti dalam pembelajaran Penggunaan antara bahasa dan budi pekerti dalam pembelajaran sastra diharapkan dapat mencapai sintesa dari kedua fungsi tersebut.

Ciri-ciri di bawah rasa, cipta, karsa: yaitu (1) menanamkan rasa ngandel, kendel, candel, sehingga memiliki rasa yang kental, (2) menanamkan batin neng-ning-nung sehingga mencapai nan, (3 ) ) membangun kemauan yang mantap dan mantap untuk memiliki kemauan yang anep. Cara-cara di bawah rasa, cipta, karsa: yang (1) memupuk perasaan ngandel, kendel, kandel, sehingga memiliki rasa yang kental, (2) memupuk batin neng-ning-nu sehingga mencapai nang, ( 3 ) menumbuhkan kemauan yang mantap dan mantap untuk memiliki kemauan antep. Etika bawah rasa, cipta, karsa: yang (1) memupuk rasa ngandel, kendel, kandel, sehingga memiliki rasa yang kental, (2) memupuk batin yang rindu untuk mencapai nang, (3) kemauan yang mantap dan mantap untuk punya kemauan anep.

Budaya Bisnis dan Perkembangan Manajemen Sumber Daya Manusia di Singapura, Thailand dan

Perkataan "Majikan", sebagai contoh, bukan sahaja merujuk kepada Konsep Barat, tetapi juga kepada arahan individu atau syarikat yang bertindak di bawah arahan majikan. Majikan mesti merundingkan penguatkuasaan undang-undang mengenai gaji lebih masa untuk pekerja profesional. Majikan yang mempunyai sekurang-kurangnya sepuluh pekerja mesti mewujudkan dan menguatkuasakan peraturan prestasi kerja yang ditulis dalam bahasa Thai di tempat kerja.

Undang-undang kompensasi mewajibkan pemberi kerja untuk memberikan tunjangan kepada karyawan yang terluka, terjangkit penyakit, atau meninggal selama aktivitas terkait pekerjaan. Jika majikan keberatan dengan pembayaran jumlah yang diwajibkan oleh Undang-Undang Perlindungan Tenaga Kerja, karyawan dapat mengajukan keluhan kepada pengawas ketenagakerjaan setempat. Pengusaha dengan minimal 20 karyawan harus menyetujui persyaratan kerja dan ketentuan kerja.

Kredibilitas Kebijakan Inisiasi Dividen Perusahaan Go-public di Indonesia dari Perspektif Signaung

Proporsi perusahaan yang melakukan/tidak melakukan pembagian dividen setelah IPO periode 1989-2003 di Indonesia (Sumber: Database Pasar Modal Indonesia-UGM). Pertama, apakah kebijakan inisiasi dividen perusahaan go public di lingkungan pasar modal Indonesia kredibel dari perspektif model sinyal? Apakah kebijakan inisiasi dividen yang ditetapkan oleh manajer memberikan indikasi yang kredibel tentang prospek kinerja perusahaan?

Bukti ini menunjukkan bahwa kebijakan inisiasi dividen di antara perusahaan publik di Indonesia juga terbukti tidak mencerminkan kinerja perusahaan pada periode saat ini secara kredibel. Ada dua hal yang memungkinkan bahwa kebijakan inisiasi dividen yang dilakukan oleh perusahaan publik di Indonesia tidak mencerminkan kinerja perusahaan secara kredibel. Perilaku kebijakan inisiasi dividen pada perusahaan publik di Indonesia tidak sejalan dengan penjelasan model signaling yang berimplikasi pada investor.

Praktik Bisnis Waralaba (Franchise) di Indonesia, Peluang Usaha dan Investasi

Investigasi Terhadap Franchisor

Menurut Sarosa (2009), ada 3 manfaat yang dapat diperoleh oleh calon franchisee dengan terlebih dahulu melakukan investigasi terhadap franchisor. Pertama, calon pewaralaba akan menerima informasi yang lebih akurat untuk perencanaan dan keputusan bisnis. Kedua, calon pewaralaba ingin mengetahui informasi sebanyak-banyaknya agar ketika ada masalah bisa cepat ditemukan solusinya sekaligus mengantisipasi potensi masalah yang akan muncul.

Diharapkan bahwa menyelidiki pemilik waralaba bukanlah tugas yang mudah. Sebaiknya sebelum melakukan investigasi, calon franchisee sebaiknya membekali diri terlebih dahulu dengan pengetahuan franchise, mencari informasi tentang jenis usahanya, termasuk pelaku lain di lokasi sebagai bahan perbandingan. Tidak dapat disangkal bahwa penyelidikan pertama tidak akan menjamin keberhasilan perusahaan, tetapi penyelidikan yang dilakukan dengan benar akan mengurangi risiko kegagalan.

Langkah-langkah Kunci dalam membeli franchise

Untuk mewujudkan ketiga manfaat tersebut, investigasi yang dilakukan oleh calon pewaralaba harus memperhatikan banyak aspek, terutama yang berkaitan dengan pemilik waralaba, antara lain rekam jejak pemilik waralaba, kinerja keuangan pemilik waralaba, kinerja operasi pemilik waralaba dibandingkan kompetitor sejenis, dukungan kepada penerima waralaba. , pemilik dan tim manajemen franchisor, serta referensi dan testimonial dari franchisee lainnya. Dalam pelaksanaannya terkadang terdapat beberapa kasus yang menghambat seperti franchisor tidak mau memberikan informasi, franchisor memberikan informasi yang tidak benar atau tidak tepat, franchisee hanya menerima informasi franchisor.

Siapkan diri menghadapi fakta

Oleh karena itu, bimbingan dan dukungan terbaik dari pemilik waralaba sangat diperlukan untuk kelangsungan bisnis waralaba. Selain support, berikut 10 tips sukses mengelola bisnis franchise dengan menggunakan benchmark Franchise Satisfaction Survey (FSS). Salah satu alasan orang memilih bisnis waralaba adalah karena lebih mudah dijalankan daripada memulai bisnis sendiri.

Kalaupun ada yang gagal, jika dikelola dengan baik dan benar, disertai sikap franchisor yang baik dan suportif, bisnis franchise ini akan menjadi solusi bagi mereka yang ingin memulai bisnis dengan cepat dengan resiko kegagalan yang rendah. Hubungan antara franchisor dan franchisee seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Faktor yang perlu diingat adalah kesuksesan franchisee adalah kesuksesan franchisor, dan kegagalan franchisee adalah kegagalan bisnis franchisor.

Mempersiapkan Green Entrepreneurs untuk Pembangunan Berkelanjutan

Dalam implementasinya, integrasi seluruh dimensi Green Entrepreneur dan pemilihan instrumen kebijakan ditujukan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Selain itu, terdapat variabel Instrumen Kebijakan yang dapat mengontrol implementasi tiga dimensi Green Entrepreneur. Variabel instrumen kebijakan yang diuji validitasnya dalam penelitian ini adalah model kebijakan yang memerlukan insentif (incentive model), model kebijakan yang bersifat punitif (punishment model), atau model kebijakan yang tidak memerlukan kebijakan tersebut.

H1 Tidak terdapat perbedaan antara model instrumen kebijakan insentif dan model instrumen kebijakan punitif. Model instrumen kebijakan yang dipilih dapat berupa instrumen kebijakan yang bersifat stimulasi dan/atau punitif. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat secara simultan pengaruh model instrumen kebijakan insentif dan punitif.

Referensi

Dokumen terkait