• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOKUMEN INTERMEDIASI PERBANKAN (LENDING)

N/A
N/A
maheswari naisha27

Academic year: 2024

Membagikan "DOKUMEN INTERMEDIASI PERBANKAN (LENDING)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5

INTERMEDIASI PERBANKAN (LENDING)

MENYALURKAN DANA merupakan Kegiatan menjual dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat. Kegiatan ini dikenal dengan kegiatan Lending. Kredit adalah penyaluran dana yang dilakukan oleh bank melalui pemberian pinjaman kepada masyarakat. Kredit lebih beragam bentuk jenisnya, tergantung dari

kemampuan bank yang menyalurkannya. Dengan jumlah serta tingkat suku bunga yang ditawarkan.

1. Sifat Kredit atau Hutang

Hutang maupun kredit sesungguhnya adalah hal yang sama jikalau kita lihat dari dua sudut yang berbeda.

Ia adalah kewajiban untuk membayar di masa depan dan karena uang banyak digunakan sebagai standar pembayaran yang ditangguhkan, biasanya terdapat kewajiban untuk membayar jumlah yang tetap. Dari sudut pandangan si penerima pembayaran di masa depan, kewajiban ini dinamakan kredit. ia merupakan claim terhadap orang lain untuk membayar.

Namun dari sudut pandang orang yang mempunyai kewajiban untuk membayar di masa depan, kewajiban itu ialah disebut dengan Hutang. Jelaslah bahwa jumlah hutang yang outstanding pada suatu waktu pasti akan sama dengan jumlah kredit yang outstansing pada waktu itu. Kredit atau hutang biasanya berasal dari transaksi ekonomi dan keuangan, dimana kreditur memberikan sejumlah nilai sekaligus sebagai penukaran dengan janji debitur untuk membayar di masa depan. “Nilai yang diserahkan” itu mungkin

berupa uang, jasa- jasa, atau suatu claim keuangan seperti saham atau obligasi. Akan tetapi, Hutang yang dihasilkannya biasanya dibayar dalam bentuk uang.

2. Fungsi Ekonomis dari Hutang

Adalah yang paling mudah dan jelas dipahami dengan memperhatikan suatu masyarakat yang relatif sederhana yang terdiri dari unit-unit atau rumah tangga. Ada 3 kategori Rumah Tangga yang dapat dikelompokkan berdasarkan pola tabungan mereka.Yaitu :

 Penabung positif (savers), adalah yang konsumsinya kurang dari penghasilannya sekarang.

 Penabung nol (zero) adalah mereka yang konsumsinya sekarang sama persis dengan penghasilannya sekarang.

 Penabung negatif (dissavers), adalah mereka yang konsumsinya untuk output lebih besar daripada penghasilannya sekarang.

3. Hutang dan Konsumsi

Masalah saat ini yang dihadapi setiap rumah tangga atau unit adalah pengalokasian konsumsinya menurut waktu, yaitu berdasarkan penghasilan sekarang dan perkiraan penghasilan di masa depan,

“Makin banyak kita mengkonsumsi dalam suatu periode, maka makin berkurang kita dapat mengkonsumsinya di waktu lain”. Pola penghasilan dan kebutuhan yang berbeda-beda sangat memperbesar perbedaan penilaian untuk konsumsi saat ini dan konsumsi masa depan.

Misalnya, Beberapa unit mungkin mempunyai kebutuhan yang besar sekarang seperti biaya pendidikan untuk anak-anak yang mahal. Tetapi mengharapkan kebutuhan masa depannya akan lebih rendah. Dan penghasilan mereka sekarang mungkin jauh lebih rendah daripada penghasilan yang mereka harapkan di masa depan. Jadi kredit (Hutang) konsumen memungkinkan rumah tangga untuk mengatur jarak waktu konsumsi mereka. Ia juga memungkinkan terciptanya instrumen keuangan yang memperkaya menu aktiva yang tersedia bagi para penabung.

4. Hutang dan Investasi

Tabungan ialah suatu syarat mutlak pembentukan modal. Suatu masyarakat tidak akan dapat menambah persediaan barang modalnya jika para masyarakatnya terus menggunakan seluruh pendapatan atau output yang dapat dihasilkan oleh tenaga kerja dan sumber daya dari proses produksi yang sekarang untuk dikonsumsi sehari-hari.Walaupun kemampuan dan kesediaan menabung ini perlu untuk

pembentukan modal

Namun itu saja belum cukup menjamin terjadinya pembentukan modal. Sumber daya yang tidak terpakai untuk konsumsi pun mungkin akan tetap menganggur atau terbuang percuma untuk ditambahkan pada stock modal. investasi merupakan suatu syarat lain yang perlu untuk pembentukan modal. Investasi berarti jumlah yang dikeluarkan selama suatu periode tertentu untuk output sekarang yang dipakai untuk

meningkatkan stock barang modal. Melalui investasi inilah jumlah penghasilan atau output dan sumber produksi lainnya yang telah di tabung, dijabarkan ke dalam akumulasi modal.

(2)

Menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”

Adapun Unsur - unsur dari Kredit, yaitu:

A -> Kepercayaan : Suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit akan benar-benar diterima kembali dimasa tertentu dimasa datang.

B -> Kesepakatan : Kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit, yang dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.

C -> Jangka waktu : mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.

D -> Balas Jasa : Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa yang dikenal dengan nama bunga.

6. TUJUAN DAN FUNGSI KREDIT

Tidak akan terlepas dari misi bank, tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain :

- Membantu Pemerintah : Semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sektor. Hal lain adalah: penerimaan pajak, membuka kesempatan kerja, meningkatkan jumlah barang dan jasa, menghemat devisa negara.

- Mencari Keuntungan : Terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah.

- Membantu usaha Nasabah : Membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja, dengan dana tersebut maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluas usahanya.

7. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit

5C Terdiri dari :

 Character

 Capacity

 Capital

 Collateral

 Condition 7P Ialah :

 Personality

 Party

 Perpose

 Prospect

 Payment

 Profitability

 Protection

(3)

BAB 6

JASA-JASA PERBANKAN

KEGIATAN PERBANKAN adalah memberikan jasa-jasa Bank lainnya. Tujuannya yaitu untuk mendukung dan memperlancar kedua kagiatan sebelumnya yaitu menghimpun dana dan menyalurkan dana. Semakin lengkap jasa Bank yang diberikan, maka semakin baik, hal ini disebabkan jika nasabah hendak melakukan suatu transaksi perbankan, cukup di satu Bank saja,

1. Pengertian Jasa-jasa Perbankan

Kelengkapan jasa Bank yang diberikan sangat tergantung dari kemampuan Bank tersebut, baik dari segi modal, perlengkapan fasilitas, Sumber Daya Manusia, jenis Bank, status Bank. Kelebihan dari Bank yang berstatus Bank devisa adalah dapat menawarkan jasa - jasa Bank yang berkaitan dengan mata uang asing seperti transfer keluar negeri, jual beli valuta asing, transaksi eksport import, dan jasa - jasa valuta asing lainnya.

Demikian pula dengan status cabang Bank yang melayani nasabah. Bank yang berstatus cabang penuh memberikan seluruh jasa-jasa Bank yang dimilikinya. Sedangkan kantor kas merupakan cabang Bank yang hanya melayani penyetoran dan pengambilan uang. Kantor seperti ini hanya memberikan jasa kasir atau teler.

2. Keuntungan Jasa-Jasa Bank lainnya

Keuntungan utama dari kegiatan pokok perbankan yaitu dari selisih bunga simpanan dengan bunga pinjaman maka pihak perbankan juga dapat memperoleh keuntungan lainnya yaitu transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa Bank lainnya.

Fee Based merupakan Keuntungan dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa Bank tersebut. Disisi lain resiko kerugian terhadap jasa-jasa Bank lainnya ini lebih kecil jika dibandingkan dengan resiko dalam pemberian fasilitas kredit.Yang paling penting adalah jasa-jasa bank lainnya ini sangat berperan besar dalam memperlancar transaksi simpanan dan pinjaman.

Keuntungan yang diperoleh dari jasa-jasa Bank lainnya, antara lain diperoleh dari:

 Biaya kirim : Diperoleh dari jasa pengiriman uang, baik dalam maupun luar negeri.

 Biaya administrasi : Dikenakan untuk jasa - jasa yang memerlukan administrasi tertentu. Pembebanan biaya administrasi biasanya untuk pengelolaan sesuatu fasilitas tertentu. Seperti biaya administrasi simpanan, biaya administrasi kredit dan administrasi lainnya.

 Biaya Tagih : Biaya tagih merupakan jasa yang dikenakan untuk menagihkan dokumen-dokumen milik nasabah seperti jasa kliring dan jasa inkaso. Biaya tagih ini dilakukan baik untuk tagihan dokumen dalam dan luar negeri.

 Biaya sewa : Dikenakan kepada nasabah yang menggunakan jasa safe deposit box. Besarnya biaya sewa tergantung dari ukuran box dan jangka waktu yang digunakan.

 Biaya provisi dan komisi : Biasanya dibebankan kepada kredit dan jasa transfer serta jasa-jasa atas bantuan Bank terhadap suatu fasilitas perbankan. Besarnya jasa provisi dan komisi tergantung dari jasa yang diberikan serta status nasabah yang bersangkutan.

 Biaya lainnya : Besar kecilnya penetapan biaya-biaya di atas terhadap nasabah tergantung dari Bank.

Masing-masing Bank dapat menggunakan metode tertentu.

2. Jenis - Jenis Jasa Perbankan

(4)

Kiring. Kliring juga merupakan jasa penyelesaian hutang piutang antar Bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring.

 Jasa Inkaso (Collection) -> Warkat-warkat Bank yang berasal dari luar kota atau luar negeri. Lama penagihan dan besarnya biaya tagih yang dibebankan kepada nasabah tergantung Bank yang bersangkutan. Biasanya lama penagihan berkisar antara 1 minggu sampai 4 minggu.

 Jasa Penyimpanan Dokumen (Safe Deposit Box) -> jasa-jasa persewaan kotak untuk menyimpan dokumen atau surat-surat berharga. Jasa ini dikenal juga dengan nama Safe loket. SDB berbentuk kotak dengan ukuran tertentu dan disewakan kepada nasabah yang berkepentingan untuk menyimpan dokumen-dokumen atau benda-benda berharga miliknya.

 Jasa kartu Kredit (Bank Card) -> “Uang plastik” yang dikeluarkan oleh Bank. Kegunaannya adalah sebagai alat pembayaran di tempat-tempat tertentu seperti supermarket, pasar swalayan, hotel, restoran tempat hiburan dan tempat lainnya.

 Jasa Valuta Asing (Bank Notes) -> Uang kartal asing yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh Bank di luar negeri. Bank Notes dikenal juga dengan istilah “Devisa Tunai” yang mempunyai sifat-sifat seperti uang tunai. Tidak semua Bank notes dapat dijualbelikan, hal ini tergantung daripada perturan devisa di negara asal Bank notes diterbitkan.

 Jasa Cek Wisata (travelles Cheque) -> Cek perjalanan yang biasanya digunakan oleh mereka yang hendak berpergian atau sering dibawa oleh wisatawan. Cek wisata ini diterbitkan dalam nominal tertentu. Penggunaan cek wisata dapat di belanjakan diberbagai tempat terutama di mana Bank yang mengeluarkan cek wisata tersebut melakukan pengikatan dan perjanjian.

 Jasa Letter of Credit -> Salah satu jasa Bank yang diberikan kepada masyarakat untuk memperlancar arus barang (eksport-import) termasuk barang dalam negeri (antar pulau). Kegunaan letter of Credit untuk menampung dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan dari pihak pembeli (importir) maupun penjual (eksportir) dalam transaksi dagangnya.

 Jasa-Jasa di Pasar Modal -> Di dalam pasar modal pihak perbankan mempunyai peranan yang sangat besar dalam rangka memajukan perkembangan pasar modal. Pebankan mendukung setiap kegiatan yang ada demi kelancaran transaksi pasar modal di bursa efek.

Jasa-jasa Bank yang diberikan dalam rangka mendukung kelancaran transaksi di pasar modal antara lain:

 Perantara pedagang efek / pialang (Broker) yaitu Bank perantara jual beli efek

 Pedagang efek (dealer) yaitu Bank berfungsi sebagai pedagang jual beli efek.

Perusahaan pengelola dana (invesment company) yaitu Bank sebagai pengelola dana nasabah dibursa efek.

 Penjamin emisi (Underwriter) yaitu Bank sebagai penjamin terjualnya efek

(saham/obligasi) sampai batas waktu tertentu.

(5)

BAB 7

KESEHATAN DAN RAHASIA BANK

Tidak dapat di pungkiri bahwa uang telah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat dan perekonomian suatu negara. Rasanya tidak mungkin dibicarakan perkembangan ekonomi suatu daerah atau suatu negara tanpa memasukkan kata atau besaran uang.

1. Kesehatan Bank

Di artikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Suatu batasan yang sangat luas, karena kesehatan bank memang mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya. Kegiatan tersebut mencakup :

 Kemampuan mengelola dana.

 Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain.

 Kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain, dan dari modal sendiri.

 Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.

Aturan Kesehatan Bank

Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia. Undang-undang tersebut lebih lanjut menetapkan bahwa :

 Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia segala keterangan, dan penjelasan mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

 Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank.

 Bank Indonesia melakukan pemeriksaan terhaap bank, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan.

 Bank wajib mengumumkan neraca perhitungan neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu dan bentuk yang di tetapkan oleh Bank Indonesia.

Sesuai Lampiran dari Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP Tanggal 31 Mei 2004 kepada semua bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional perihal setiap penilaian tingkat kesehatan bank umum.

(6)

A. Faktor Permodalan (Capital), terdiri dari :

Aktiva Produktif yang Di klasifikasikan (APYD) dibandingan dengan modal bank.

Ditentukan dengan membagi APYD dengan Modal Bank

Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan (laba ditahan)

Rencana permodalan untuk mendukung pertumbuhan usaha.

B). Faktor Kualitas Aset (Asset Quality), terdiri dari :

Aktiva Produktif yang Di klasifikasikan dibanding dengan total aktiva produktif

Perkembangan Aktiva Produktif bermasalah dibanding dengan aktiva produktif

Kinerja penanganan Aktiva Produktif bermasalah.

Indikator seperti kualitas penanganan Aktiva Produktif bermasalah.

C) . Faktor Manajemen (Management), terdiri dari :

I. Penerapan sistem manajemen risiko. Indikator pendukung seperti penerapan sistem manajemen risiko nilai, berdasarkan 4 cakupan, yaitu :

- Pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi - Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit

- Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko serta sistem informasi manajemen risiko, - Sistem pengendalian internal menyeluruh.

II. Kepatuhan Bank. Indikator pendukung seperti Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan kepatuhan terhadap komitmen dan ketentuan lainnya.

III. Manajemen Umum. Indikator pendukung seperti praktik tata kelola perusahaan yang baik (Good Coporate Governance/GCG), struktur dan komposisi pengurus bank, penanganan pertentangan kepentingan, independensi pengurus bank

D). Faktor Rentabilitas (Earning), terdiri dari :

1) Pengembalian atas Aset (Return on Asset-ROA) 2) Pengembalian atas Ekuitas (Return on Equity-ROE) 3) Margin bunga bersih

4) Biaya Operasional dibanding dengan Pendapatan Operasional.

5) Perkembangan laba operasional

6) Komposisi portofolio Aktiva Produktif dan diversifikasi pendapatan 7) Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya 8) Prospek laba operasional

E) . Faktor Likuiditas (Liquidity), terdiri dari :

 Aktiva likuid yang kurang dari 1 bulan dibanding dengan pasiva likuid kurang dari 1 bulan

 1 Month Maturity Mismatch Ratio. Dengan formula Selisih Aktiva dan Pasiva yang akan jatuh tempo 1 bulan terhadap Pasiva yang akan jatuh tempo 1 bulan

(7)

.

 Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (Loan to Deposits Ratio-LDR)

 Proyeksi arus kas 3 bulan mendatang. Dengan formula membandingkan Arus Kas Bersih dengan Dana Pihak Ketiga.

 Kebijakan dan pengelolaan likuiditas.

 Kemampuan bank memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya.

F). Faktor Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market Risk), terdiri dari :

 Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengatasi fluktuasi suku bunga dibanding dengan potensi kerugian suku bunga.

 Modal/cadangan untuk fluktuasi nilai tukar debandingkan dengan potensi kerugian nilai tukar.

 Kecukupan penerapan Sistem Manajemen Risiko Pasar (Market Risk)

Pelanggaran Aturan Kesehatan Bank

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dalam hal suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan

kelangsungan usahanya, Bank Indonesia dapat melakukan tindakan agar :

Pemegang saham menambah modal.

Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan atau direksi bank.

Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alisiansi seluruh kewajiban.

Bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain.

Bank menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban bank kepada bank atau pihak lain.

2. RAHASIA BANK

Sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Nnomer 28 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 yang lengkapnya, berbunyi sebagai berikut: “Rahasia bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanannya.”.

Pasal 40 ayat (1) dari Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 mewajibkan Bank untuk menjaga rahasia Bank, yaitu berbunyi sebagai berikut: “Bank wajib merahasiakan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanannya, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 41A, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44 dan Pasal 44 A.” Dari rumusan Pasal 40 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, secara eksplisit disebutkan bahwa lingkup rahasia bank adalah menyangkut bukan saja simpanan nasabah tetapi juga (identitas) Nasabah Penyimpan yang memiliki simpanan itu. Bahkan dalam rumusan Pasal 40 itu, “Nasabah Penyimpan” disebut lebih dahulu daripada “Simpanannya”.

3.2 Tindak Pidana Rahasia Bank

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 51 ialah kejahatan. Sanksi tindak pidana rahasia bank ditentukan dalam Pasal 47 ayat (2), yaitu : “pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan denda sekurang-kurangnya Rp.4.000.000.000,- (empat milyar rupiah) dan paling banyak Rp. 8.000.000.000,- (dua milyar rupiah).”

Dalam sisi lain dalam berbagai proses hukum pihak aparat hukum kepolisian maupun kejaksaan seringkali tidak memahami sepenuhnya ketentuan mengenai rahasia Bank ini. Hal ini menjadi dilema sehingga setiap komponen Bank harus dapat memberikan penjelasan kepada aparat hukum apabila dimintai rahasia Bank akan mendapat sanksi baik yang meminta maupun yang memberi rahasia Bank.

BAB 8

BANK SYARIAH

(8)

Peraturan Bank Indonesia nomor 2/7/PBI/2000 Bank Syariah adalah bank umum sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang

Perbankan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998 yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, termasuk unit usaha syariah dan kantor cabang bank asing yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah Unit usaha syraih adalah unit kerja di kantor pusat bak yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah.

Menurut Muhammad Syafii Antonio (Sekretaris Komite Ahli Perkembangan Bank Syariah) terdapat perbedaan mendasar antara bank konvensional dengan bank syariah.

a). Dari segi akad dan aspek legalitas : Akad yang dilakukan bank syariah memiliki

konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam.

b). Struktur Organisasi : Bank Syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional. Tapi unsur yang membedakan adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.

c). Bisnis dan Usaha Yang Dibiayai: Bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah.

d). Lingkungan Kerja dan Corporate Culture : Dalam hal etika sifat amanah dan shiddiq harus melandasi setiap karyawan sehingga tercipta profesionalisme yang berdasarkan Islam, dan dalam hal reward and punishment diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syraiah.

Operasional Bank Syariah

a. Penghimpunan Dana

Sebagaimana pada bank konvensional, penghimpunan dana di bank umum syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito, sedangkan BPRS hanya dapat melayani tabungan dan deposito. Namun demikian mekanisme operasional penghimpunan dana ini harus

disesuaikan dengan prinsip syariah. Prinsip operasional syariah yang telah diterapkan secara luas dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip Wadi’ah dan Mudharabah.

b. Prinsip Wadi’ah

Penghimpunan dana masyarakat di bank syariah prinsip wadi’ah dapat diterapkan pada

rekening giro dan tabungan. Dengan demikian terdapat 2 (dua) jenis penghimpunan dana

berdasarkan prinsip wadi’ah, yaitu; Giro Wadi’ah dan Tabungan Wadi’ah.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan yang dimaksud dalam Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang saat ini telah diubah

Bank Syariah menurut hukum positif Indonesia (sebelum UUPS terbentuk) dimungkinkan melalui Pasal 6 Huruf m Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan

transaksi perbankan berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998

Secara yuridis, bank berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan (selanjutnya disebut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992), sebagaimana telah diubah

a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Peraturan Bank Indonesia Nomor 717/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah, Peraturan Otoritas Jasa

Bank Perkreditan Rakyat Syariah yang selanjutnya disebut BPRS adalah Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

3.1 Undang-undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang Nomor 10 tahun 1998 3.2 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor

Pada akhirnya, pemberian kredit sudah menjadi fungsi utama bank-bank, sebagaimana disyaratkan pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, sebagaimana telah diubah