PENGARUH MEDIA PERSEMAIAN DAN AIR KELAPA MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL KACANG
SACHA INCHI (Plukenetia volubilid L.)
USULAN PENELITIAN
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Studi Sarjana Pertanian Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Garut
Oleh:
MUHAMMAD RIZQI MATOR NPM. 24031120052
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNVERSITAS GARUT
GARUT2024
Judul : Pengaruh Media Persemaian dan Air Kelapa Muda Terhadap Pertumbuhan Awal Kacang Sacha Inchi (Plukenetia volubilid L.)
Nama : Muhammad Rizqi Mator
Npm : 24031120052
Program Studi : Agroteknologi
Garut, 30 Maret 2024 Menyetujui dan Mengesahkan
Komisi Pembimbing Pembimbing Utama
Dr. Hanny Hidayati Nafi’ah, S.P., M.P.
Pembimbing Pendamping
Siti Syarah Maesyaroh , S.P., M. P .
Mengetahui,
Ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Garut
Ardli Swardana, S.P., M.Si.
i
KATA PENGANTAR
Bissmillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan dan menyusun usulan penelitian yang berjudul “Pengaruh Media Persemaian dan Air Kelapa Muda terhadap Pertumbuhan Awal Kacang Sacha Inchi (Plukenetia volubilid L.)”. Usulan penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Studi S1 Sarjana Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Garut. Selama penyusunan usulan penelitian ini penulis memperoleh banyak bantuan, bimbingan dan saran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Hanny Hidayati Nafi`ah, S.P., M.P. sebagai pembimbing utama.
2. Siti Syarah Maesyaroh, S.P., M.P., sebagai pembimbing pendamping.
3. Ardli Swardana, S.P., M.Si. sebagai ketua penguji, sekaligus Ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Garut.
4. Dr. Tintin Febrianti, S.P., M.P., sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Garut.
5. Seluruh Dosen, Staf, dan Pustakawan Fakultas Pertanian Universitas Garut, atas ilmu dan bantuan serta bimbingannya yang telah diberikan.
6. Kedua orangtua dan keluarga yang telah merawat, mendidik, mendo’akan dan memberi dorongan kepada penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang.
ii
8. Teman-teman mahasiswa dari fakultas pertanian universitas garut yang selalu memberikan semangat, motivasi dan dukungan yang luar biasa. Khususnya untuk teman seperjuangan Agroteknologi B 2020.
Harapan dan do’a penulis semoga semua kebaikan dari semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya usulan penelitian ini menjadi amal ibadah. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan usulan penelitian ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang membangun penulis terima demi perbaikan usulan penelitian ini.
Garut, 30 Maret 2024 Penulis
iii
AB 1DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR LAMPIRAN...viii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Identifikasi Masalah...3
1.3 Tujuan Penelitian...3
1.4 Kegunaan Penelitian...3
1.5 Kerangka Pemikiran...4
1.6 Hipotesis...6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...7
2.1 Tanaman Sacha Inchi (Plukenetia volubilid L.)...7
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Sacha Inchi...7
2.1.2 Morfologi Tanaman Sacha Inchi...8
2.1.3 Syarat Tumbuh Tanaman Sacha Inchi...10
2.2 Media Tanam...11
2.2.1 Cocopeat...11
2.2.2 Serbuk Gergaji...12
2.2.3 Tanah Bambu...12
2.2.4 Arang Sekam...13
2.3 Air Kelapa Muda...13
BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN...14
3.1 Tempat dan Waktu...14
3.2 Alat dan Bahan...14
3.3 Metode Penelitian...14
3.4 Analisis Data Pengamatan...16
3.4.1 Mode Linear...16
3.4.2 Analisis Ragam...16
3.5 Pelaksanaan Percobaan...18
3.5.1 Persiapan Tempat...18
3.6 Pengamatan...20
3.6.1 Pengamatan Utama...20
3.6.2 Pengamatan Penunjang...21
DAFTAR PUSTAKA...23
LAMPIRAN...26
DAFTAR TABEL
No. Judul Ha
1. Susunan Kombinasi antara Media (M) dan Konsentrasi (K)...15 2. Daftar Analisis Ragam...17
1. Tanaman sacha inchi...7 2. Buah sacha inchi...9
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian...27 2. Denah Plot Penelitian...28
AB 1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kacang Sacha Inchi (Plukenetia volubilid L.) termasuk kedalam family Euphorbiaceae, yang berasal dari Amerika Selatan. Tepatnya kacang sacha ini asli dari daerah Amazon yang termasuk sebagian Peru dan barat laut Brazil.
Tanaman sacha inchi ini masuk ke Indonesia pada tahun 2018 yang dikenalkan oleh beberapa instansi penelitian, dan pada tahun 2019 tanaman ini sudah banyak untuk dibudidayakan, budidaya terus berkelanjutan sampai saat ini. Kacang sacha inchi mempunyai beberapa nama lain yang dikenal dengan sebutan kacang gunung, kacang bintang, kacang inca atau inca inchi dan kacang peru yang memiliki buah berbentuk bintang (Supriyanto et al., 2022).
Kacang ini mempunyai kandungan nutrisi yang sangat penting untuk kesehatan manusia, seperti minyak nabati (45% berat kering), protein (27%), tokoferol (137 mg/100 g), dan pitosterol (75 mg/100 g). Minyak Sacha Inchi memiliki sejumlah besar PUFA (sekitar 77,5–84,4%), MUFA (sekitar 8,4–
13,2%), dan sejumlah kecil asam lemak jenuh (sekitar 7,9–9,1%) (Simopoulos, 2011). Rasio Omega-6/Omega-3 dalam kandungan minyak sacha inchi berkisar antara 0.81-1.09, sangat penting dijadikan sebagai makanan fungsional yang ideal untuk kesehatan manusia (Supriyanto et al., 2022). Sacha inchi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan karena kandungan nutrisi bijinya sangat bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Namun, penelitian lebih
2
lanjut tentang tanaman ini dan pengembangan strategi pemuliaan perlu dilakukan untuk meningkatkan potensinya. Pembibitan yang efektif dan efisien merupakan kunci untuk meningkatkan produksi hasil kacang sacha inchi (Kodahl dan Sorensen, 2021).
Kacang sacha inchi sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembaban, serta memerlukan perawatan yang intensif. Salah satu kesulitan dari budidaya tanaman kacang sacha inchi ini adalah pada masa pembibitannya, proses perkecambahan memerlukan waktu yang relatif lama berkisar antara 2 – 4 minggu. Salah satu solusi untuk mempercepat perkecamabahan dapat menggunakan perendaman air kelapa muda, dengan kandungan hormon sitokininnya yang berperan penting dalam pembelahan sel dan pertumbuhan tanaman, serta dapat memicu diferensiasi jaringan tunas dan organogenesis, sehingga akan mempercepat terhadap pertumbuhan daun dan perkecambahan benih (Marlina, 2018).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji berbagai kombinasi media tanam dan konsentrasi air kelapa muda yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang sacha inchi, sehingga dapat mempercepat lama waktu dalam perkecambahan. Media tanam persemaian harus mampu menyediakan kondisi yang baik untuk pembibitan, dengan mempunyai kriteria seperti; memiliki kelembaban yang cukup, aerasi yang baik, temperatur yang sesuai, serta mampu menyediakan unsur hara bagi kebutuhan tanaman (Taryana dan Sugiarti, 2020). Air kelapa muda kaya akan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) alami seperti; sitokinin, auksin dan giberelin. Keunggulan air kelapa muda sebagai
ZPT diantaranya; alami dan ramah lingkungan, mudah didapatkan, dapat meningkatkan potensi produksi. Zat pengatur tumbuh (ZPT) air kelapa muda ini, sebagai hormon berperan dalam merangsang dan memacu pertumbuhan, seperti mempercepat proses pengakaran dan pertumbuhan tunas baru, sehingga menjadi potensi untuk dimanfaatkan sebagai alternatif ZPT sintetis (Firando, 2021).
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
a. Apakah terjadi interaksi antara media tanam dan konsentrasi air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.)?
b. Kombinasi perlakuan manakah yang terbaik untuk pertumbuhan awal kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.)?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
a. Untuk menganalisis pengaruh berbagai media tanam dan konsentrasi air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi. (Plukenetia volubilid L.).
b. Untuk mendapatkan hasil kombinasi perlakuan terbaik antara media tanam dan konsentrasi air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi.
(Plukenetia volubilid L.).
4
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini yaitu:
a. Secara keilmuan, penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai hasil dari pengaruh media persemaian dan air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.).
b. Secara praktis, penelitian ini dapat berguna untuk memberikan informasi pengetahuan yang akurat kepada para petani dan instansi lainnya, dalam menghasilkan media tanam dan konsentrasi air kelapa yang terbaik untuk mempercepat pertumbuhan awal tanaman kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.).
1.5 Kerangka Pemikiran
Sacha inchi (Plukenitia volubilis L.) merupakan tanaman yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam pemanfaatan bidang kesehatan dan ekonomi (Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, 2022).
Untuk memaksimalkan potensi sacha inchi, perlu dilakukan pengaplikasian media tanam dan konsentrasi air kelapa muda pada tahap pembibitan atau pertumbuhan awal (Kodahl dan Sorensen, 2021).
Teknik budidaya dalam pembibitan tanaman sacha inchi perlu dilakukan penambahan aplikasi media tanam untuk dapat meningkatkan produksi tanaman.
Penelitian pada tanaman jarak pagar dengan penambahan media cocopeat dalam pembibitan cabutan meningkatkan berat bibit segar, tetapi penambahan arang
sekam mengurangi berat bibit (Ekaputra et al., 2016). Berdasarkan penelitian Ekawati dan Wati (2019) dengan berbagai perlakuan media tanam menunjukan pengaruh yang nyata pada umur 120 HST dalam pertumbuhan bibit asal stek batang kelor terhadap parameter tinggi tunas.
Purwanto (2008) pada penelitian pertumbuhan stek jarak pagar menunjukan bahwa berbagai macam perlakuan media tanam berpengaruh terhadap kemunculan tunas dan panjang tunas. Hal ini disebabkan karena pengaruh dari bahan organik terhadap fisiologi tanaman yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan salah satu perantara dalam memperbaiki sifat-sifat tanah.
Air kelapa kaya kandungan vitamin C, B, auksin, geberelin dan sitokinin yang membantu pembelahan sel dan pertumbuhan tanaman. Sitokinin menstimulasi asam nukleat untuk sintesis enzim dan mengatur aktivitas hormon, mendorong radikula menembus endosperm (Sativa et al., 2022). Perendaman kemiri dalam air kelapa muda selama 6 jam dengan konsentrasi 100% dapat memberikan pengaruh yang terbaik terhadap daya kecambah, kecepatan dan waktu berkecambah benih (Mowidu et al., 2021). Pengaruh tersebut diakibatkan oleh kandungan auksin di dalam air kelapa dapat meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel. Sehingga konsentrasi air optimal di dalam sel biji dapat melunakan lubang perkecambahan serta meningkatkan proses metabolisme didalam biji dan membuat biji lebih mudah untuk tumbuh.
Hasil dari perendaman menggunakan konsentrasi rendah air kelapa muda cenderung dapat meningkatkan kecepatan benih berkecambah, persentase benih
6
berkecambah dan waktu yang dibutuhkan benih berkecambah mencapai 80%.
Perendaman dengan menggunakan konsentrasi 50% pada benih Adenanthera pavonina dapat menunjukkan pengaruh hasil terbaik terhadap pertambahan tinggi kecambah yaitu 10,3 cm, daya berkecambah mencapai 100% dan waktu yang dibutuhkan benih berkecambah mencapai 80% selama 9 hari (Tampubolon et al., 2016).
Hasil dari penelitian pertumbuhan stek stevia menunjukan bahwa terdapat interaksi konsentrasi air kelapa muda dengan media tanam tertentu secara signifikan mempengaruhi tinggi stek dan jumlah daun tanaman 5 minggu setelah tanam (5MST) (Saptaji et al., 2015). Penelitian (Nugroho et al., 2023) parameter pengamatan panjang tunas stek vanili dipengaruhi oleh kombinasi antara media tanam dan air kelapa muda.
1.6 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka didapatkan hipotesis sebagai berikut:
a. Terjadi interaksi antara media tanam dan konsentrasi air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.).
b. Didapatkan kombinasi perlakuan terbaik antara media tanam dan konsentrasi air kelapa muda terhadap pertumbuhan awal kacang sacha inchi (Plukenetia volubilid L.).
.1 Tanaman Sacha Inchi (Plukenetia volubilid L.).
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Sacha Inchi
Kacang Sacha inchi, yang memiliki nama latin (Plukenetia volubilid L.), termasuk kedalam family Euphorbiaceae. Genus Plukenetia (Euphorbiaceae) terdiri dari 25 spesies, beberapa diantaranya baru dideskripsikan. Baru-baru ini Cardinal-Mc Teague dan Gelispie telah berhasil merevisi klasifikasinya.
Plukenetia termasuk kedalam suku Plukenetia, sub-suku Plukenetiinae dan dibedakan dengan ovarium empat karpelat dan adanya dua nektar ekstrafloral yang berada di basal (bagian dasar atau pangkal) pada permukaan adasial helaian daun (Kodahl dan Sorensen, 2021). Genus ini dibagi menjadi dua klade utama diantaranya: Klade berurat menyirip (satu vena primer) dan klade berurat palmate (termasuk P.volubilis, dengan tiga hingga lima vena primer).
Gambar 3. 1 Tanaman sacha inchi.
Dokumentasi pribadi (26 Februari 2024) 7
8
2.1.2 Morfologi Tanaman Sacha Inchi
Morfologi tanaman sacha inchi menurut Supriyanto et al., (2022) adalah sebagai berikut :
a. Akar
Tanaman sacha inchi mempunyai akar tunggang kuat dan bercabang banyak, yang berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara.
b. Batang
Batang tanaman ini merambat dan melilit, panjang batangnya dapat mencapai 10-20 meter.
c. Daun
Daun sacha inchi berbentuk oval, dengan ujung daun runcing dan tepi daun berberigi dengan berwarna hijau dan berbulu halus. Daun ini tumbuh baik pada berbagai kondisi budidaya. Biasanya bibit sacha inchi ditanam pada tiga kondisi lahan yang berbeda, diantaranya; lahan terbuka, budidaya campuran, dan agroforesty. Hasilnya pada kondisi berbeda daun sacha inchi tumbuh baik pada semua kondisi tersebut, dengan berkriteria warna hijau atau hijau tua dan berukuran normal (Supriyanto et al., 2022).
Sacha inchi yang tumbuh dengan baik pada kondisi berbeda tanamannya mampu berbunga dan menghasilkan biji. Hasil penelitian di Jawa Tengah, menemukan 75 famili arthopoda pada daun sacha inchi. Diantaranya persentase dari arthopoda tersebut; 8% hama, 10% musuh alami dan 85% penyerbuk dan pengurai (Supriyanto et al., 2022).
d. Bunga
Struktur bunga tanaman ini mempunyai bunga majemuk berbentuk malai, berwarna kuning, serta memiliki 5 kelopak dan 5 mahkota bunga yang berkelamin ganda. Sacha inchi merupakan tanaman berumah satu dengan 1-2 betina dan sekitar 60 bunga jantan. Pada daerah lain, sacha inchi dapat berbunga sekitar 3-5 bulan setelah tanam dan pembuahannya terjadi 8-9 bulan setelah tanam. Hasil plot percobaan yang dilakukan di Jawa Tengah, Sacha inchi berbunga 3 bulan setelah tanam dan benih matang 4 bulan setelah tanam (Supriyanto et al., 2022).
e. Buah dan Biji
Buah sacha inchi berbentuk kapsul, berwarna hijau saat muda dan berwana coklat kehitaman pada saat sudah tua. Memiliki 4-5 ruang dan di setiap ruang terdapat 1 biji. Biji sacha inchi berbentuk lenticular (pipih seperti lensa), yang mempunyai ukuran panjang 1,8 cm, lebar 0,8 dan tinggi 1,6 (Kodahl dan Sorensen, 2021. Sacha inchi memiliki kulit biji (testa) yang keras, berwarna coklat kehitaman dengan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi seperti minyak nabati, protein, tokoperol dan pitosterol (Supriyanto et al., 2022).
Gambar 3. 2 Buah sacha inchi.
Dokumentasi pribadi (26 Februari 2024)
10
2.1.3 Syarat Tumbuh Tanaman Sacha Inchi a. Iklim
Tanaman sacha inchi dapat tumbuh optimal di daerah tropis dengan curah hujan tinggi dan kelambaban udara yang cukup. Suhu ideal biji sacha inchi untuk berkecambah paling baik antara 25°C sampai 35°C. Sacha inchi membutuhkan kondisi cahaya tinggi untuk tumbuh dengan baik (Supriyanto et al., 2022).
Sacha inchi dapat tumbuh pada rentang suhu 10-37°C (derajat Celcius).
Namun, suhu ekstrem dalam rentang tersebut tidak akan optimal bagi pertumbuhannya. Suhu di bawah 8°C sangat beresiko serta dapat menyebabkan stres dingin yang parah terhadap tanaman (Kodahl dan Sorensen, 2021).
b. Tanah
Tanaman sacha inchi dapat tumbuh dengan paling ideal pada jenis tanah lempung berpasir yang digunakan untuk budidayanya. Namun, pada dasarnya tanaman ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dengan drainase yang baik (Kodahl dan Sorensen, 2021). Sacha inchi umumnya dapat tumbuh pada ketinggian yang berkisar antara 200-1500 meter diatas permukaan laut (mdpl).
Sifat tanah dapat dilakukan perbaikan dengan menambahkan bahan pembenah tanah campuran dari arang, kompos, dan tanah lapisan atas (Supriyanto et al., 2022).
2.2 Media Tanam 2.2.1 Cocopeat
Media tanam ini merupakan hasil akhir dari penghancuran sabut kelapa, dengan proses penghancuran sabut kelapa tersebut menghasilkan sebuah serat fiber dan serbuk halus yang dinamakan cocopeat (Asroh, 2021).
Cocopeat merupakan media tanam yang cocok digunakan, karena memiliki sifat fisik dan kimia yang dapat diterima seperti pH, konduktivitas listrik, densitas curah dan lain sebagainnya (Ilahi dan Ahmad, 2017). Cocopeat memiliki kelebihan sebagai media tanam yang mempunyai kapasitas mengikat dan menahan air yang sangat kuat, dan mengandung unsur hara esensial seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P) (Asroh, 2021).
2.2.2 Serbuk Gergaji
Media tanam serbuk gergaji merupakan limbah industry kayu halus yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dengan mempunyai keunggulan seperti;
ringan dan mudah dicampur, memiliki aerasi dan drainase yang baik, kapasitas menahan air yang baik, mengandung berbagai macam nutrisi dan dapat memperkaya mikroorganisme bermanfaat, serta dapat memperbaiki struktur tanah (Wardani dan Sari, 2017).
Media tanam serbuk gergaji termasuk sebagai media tumbuh organik yang dapat dengan mudah mengalami pelapukan dan dekomposisi oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang berperan dalam proses penguraiannya. Proses pelapukan bahan organik menghasilkan mineral seperti;
12
nitrogen, fosfor dan kalium yang merupakan unsur hara penting bagi pertumbuhan tanaman (Dalimoenthe, 2013).
2.2.3 Tanah Bambu
Media tanam tanah bambu ini merupakan hasil dari dekomposisi daun, batang dan perakaran bambu. Media tanam tanah bambu memiliki peranan penting dalam fenomena disease suppressive soil dengan pengaruh dari kondisi fisik dan kimia tanah yang meliputi: tekstur, pH, kandungan bahan organik, C-organik, dan KTK, dan faktor langsung serta paling berperan yaitu total populasi dan aktivitas mikroba tanah (Pepaya, 2015).
Media persemaian yang sering dimanfaatkan oleh petani salah satunya melibatkan tanah humus dan tanah disekitar akar bambu. Karena tanam bambu ini memiliki kandungan C-organik didalam tanah yang semakin tinggi, sehingga menyebabkan populasi cendawan, bakteri dan mikroba fungsional lainnya semakin tinggi, karena terdapat bahan organik yang tercukupi dengan maksimal.
Sehingga media tanam tanah bambu ini mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menghambat patogen (Khoiriyah, 2021).
2.2.4 Arang Sekam
Media tanam ini merupakan hasil dari pembakaran tidak sempura dari sekam padi. Arang sekam dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah dalam mekanisme rehabilitas tanah dan dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dengan adanya kandungan C-organik tanah yang tinggi (Listiana et al., 2021).
Arang sekam dapat meningkatkan prioritas tanah sehingga tanah menjadi gembur
dan sekaligus dapat menigkatkan kemampuan menyerap air, yang secara khusus dapat memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah (Muliawan, 2020).
2.3 Air Kelapa Muda
Air kelapa muda merupakan cairan yang terdapat didalam buah kelapa. Air kelapa muda ini terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) yang meliputi; giberelin, sitokinin dan auksin yang bagus untuk tanaman. Selain itu juga air kelapa muda memiliki kandungan senyawa organik seperti, zeatin glukosida, sukrosa, ftuktosa, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, lemak, Ca dan P. Kandungan tersebut dapat mempengaruhi perkecambahan biji (Devitriano dan Syarifuddin, 2021).
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dalam air kelapa muda mengandung hormon endogen, seperti auksin dan giberelin. Hormon endogen yang meningkat dapat membantu pertumbuhan embrio. Selain hormon tersebut, air kelapa muda juga kaya akan kandungan vitamin C, B, sitokinin, fosfor dan giberelin yang dapat membantu mempercepat pembelahan sel dan perkembangan embrio (Fransiska dan Sujarwati, 2023). Penggunaan air kelapa ini dapat meminimalisir penggunaan biaya yang berlebihan jika dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia dalam perendaman benih. Hasil dari penggunaan air kelapa muda ini dapat melunakan benih yang keras, sehingga proses imbibisi benih akan dapat lebih cepat. Air kelapa muda berperan aktif dalam embrio untuk memicu pertumbuhan dan perkembangannya sehingga mempercepat perkecambahan benih pinang.
Perlakuan yang paling terbaik dalam mempercepat perkecamabahan tersebut dengan menggunakan konsentrasi 100% air kelapa muda (Sumbari, et al., 2020).
BAB III
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Wanaraja. Berdasarkan Badan Pusat Statistika Kabupaten Garut (2019) ketinggian tempat pada lokasi percobaan di BPP Wanaraja tersebut kurang lebih berkisar 737 mdpl (meter diatas permukaan laut). Penelitian akan dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2024.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tray semai 50 hole ukuran 5 cm x 5 cm (20 pcs), serbuk gergaji, cocopeat, arang sekam, tanah bambu, air kelapa muda, air, sendok pengaduk/cangkul, wadah/ember, saringan, gelas ukur 1000 ml, air, kain penutup, rak semai, label perlakuan, penyemprotan, kamera handphone, timer/stopwatch, thermohygrometer, alat ukur/penggaris, alat tulis.
3.3 Metode Penelitian
Pada penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 4 × 3. Faktor pertama adalah media persemaian (M) yang terdiri dari lima taraf, yaitu:
m1: Cocopeat m2: Serbuk gergaji m3: Tanah Bambu m4: Sekam bakar
Faktor kedua adalah konsentrasi air kelapa (K) muda yang terdiri 3 taraf:
k1: 0%
k2: 50%
k3: 100%
Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali sehingga jumlah plot percobaan adalah 36 plot. Kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. 1 Susunan Kombinasi antara Media (M) dan Konsentrasi (K).
Media (M) Konsentrasi (K)
k0 K1 K2
m1 m1k0 m1k1 m1k2
m2 m2k0 m2k1 m2k2
m3 m3k0 m3k1 m3k2
m4 m4k0 m4k1 m4k2
Tata percobaan dapat dilihat pada Lampiran 2. Setiap plot percobaan terdapat 25 biji sacha inchi sehingga jumlah kacang sacha inchi yang dibutuhkan yaitu 900 biji.
16
3.4 Analisis Data Pengamatan 3.4.1 Mode Linear
Analisis data dari hasil penelitian dilakukan berdasarkan model linier Rancangan Acak Lengkap (RAK) faktorial 4 × 3. Model RAK menurut Gomez dan Gomez (2010), dengan 2 faktor (faktor M dan faktor K) yaitu dengan rumus:
Yijk = µ + ri + Mj + Kk + (MK) jk + eijk Keterangan:
Yijk = Nilai duga hasil pengamatan µ = Rata-rata umum
ri = Pengaruh ulangan ke-i
Mj = Pengaruh faktor M pada taraf ke-j Kk = Pengaruh faktor K pada taraf ke-k
(MK) jk= Pengaruh kombinasi perlakuan antara media tanam ke-j dan perlakuan air kelapa taraf ke-k
eijk = Pengaruh faktor rendom/galat yang berhubungan dengan faktor M taraf ke-j, faktor K taraf ke-k pada ulangan ke-i
3.4.2 Analisis Ragam
Berdasarkan model linier yang digunakan, maka dapat disusun daftar analisis ragam dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Daftar Analisis Ragam Sumber
Ragam DB JK KT Fhitung F0,05
Ulangan 2 ∑Xi.2/t-FK JKu/DBu KTu/KTG 3,40 Perlakuan 11 ∑Xjk.2/r-FK JKper/DBper KTper/KTG 2,22
M 3 ∑Xj.2/r.K-FK JKM/DBM KTMKTG 3,01
K 2 ∑Xk.2/r.M-FK JKK/DBK KTK/KTG 3,40
M x K 6 JKper-JKK-JkM JKMK/DBMK KTMK/KTG 2,51 Galat 24 JKtot-JKper-Jkul JKG/DBG
Total 36 ∑Xijk2/r.M.K-FK Sumber: Gomez dan Gomez (2010)
Kemudian untuk mengetahui tingkat perbedaan masing-masing perlakuan, maka digunakan uji F dengan kaidah pengambilan keputusan.
Fhitung ≤ F0,05 = tidak berbeda nyata (ns) Fhitung ≥ F0,05 = berbeda nyata (*)
Hasil analisis ragam selanjutnya di Uji F untuk mengetahui tingkat perbedaan masing-masing perlakuan, jika ternyata F hitung lebih besar dari F tabel, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5% dengan rumus sebagai berikut:
LSR(α,dbg,p) = SSR(α,dbg,p) x Sx̅
Keterangan:
LSR = Least Significant Ranges SSR = Studentized Significant Ranges dbg = Derajat Bebas Galat
α = Taraf nyata
p = Jarak antar perlakuan
Sx̅ = Simpangan baku rata-rata perlakuan
Nilai Sx̅ di hitung berdasarkan rumus sebagai berikut:
18
1. Untuk menguji bila terjadi interaksi antara faktor perlakuan, maka untuk membedakan antara M dan K atau sebaliknya digunakan rumus sebagai berikut:
Sx̅=
√
KTGalatr2. Untuk menguji bila tidak terjadi interaksi antara M dan K maka:
a. Membedakan faktor perlakuan M pada taraf faktor K seperti m1, m2, m3
dan m4 dengan rumus sebagai berikut:
Sx̅=
√
KTGalatr . Kb. Membedakan faktor perlakuan K pada taraf M seperti k1, k2, dan k3
digunakan rumus sebagai berikut:
c. Sx̅=
√
KTGalatr . M3.5 Pelaksanaan Percobaan .5.1 Persiapan Tempat
Tempat penelitian ini berlokasi di BPP Wanaraja, dengan menggunakan sebagian lahan untuk tempat penyemaian dan pembibitan pada penelitian ini. Pada lahan penelitian dilakukan terlebih dahulu sanitasi dan pembersihan area lahan sebelum dilakukannya penelitian. Hasil akhir dari penelitian ini merupakan bibit yang siap tanam di lahan dan siap untuk dipasarkan, sehingga perlu sebuah lahan untuk pemyimpanan bibit tanaman kacang sacha inchi.
.5.2 Persiapan Benih
Benih sacha inchi diperoleh dari petani di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia.
Benih sacha inchi yang dijadikan untuk pembibitan berasal dari tanaman yang sudah berproduksi selama 4 tahun, yang dibudidayakan pada ketinggian tempat kurang lebih 800 mdpl. Untuk satu kilogramnya benih sacha inchi berjumlah sekitar 500 biji, sehingga memerlukan setidaknya dua kilogram benih untuk dapat memenuhi kebutuhan 900 biji.
Kemudian untuk benih yang telah diperoleh dilakukan sortasi benih, untuk memilah dan memisahkan benih yang tidak normal. Kriteria benih yang dijadikan untuk pembibitan haruslah kesemua benihnya memiliki kesegaraman bentuk yang sama, tidak ada cacat atau benih rusak serta memiliki berat isi normal yang dapat dibuktikan dengan tenggelamnya benih di dalam air dan benihnya tidak mengapung pada saat di dalam air.
3.5.3 Persiapan Media Semai
Pada persiapan media persemaian menggunakan bahan-bahan seperti;
serbuk gergaji, cocopeat, tanah bambu dan arang sekam yang didapatkan di daerah Wanaraja. Bahan-bahan tersebut secara tunggal/terpisah dimasukan kedalam tray semai dengan ukuran 5 cm x 5 cm. Kemudian benih sacha inchi yang telah dilakukan perendaman sesuai dengan perlakuannya masing-masing, selanjutnya benih tersebut ditaman pada tray media semai yang sudah siap.
20
3.5.4 Perendaman Benih
Benih sacha inchi dilakukan perendaman dengan menggunakan perlakuan air kelapa muda, dengan menggunakan konsentrasi 0%, 50%, dan 100%.
Perendaman dengan air kelapa muda dilakukan selama 6 jam.
3.5.5 Pemeliharaan a. Penyiraman Media.
Penyiraman media semai dilakukan setiap hari sekali, dilakukan di waktu pagi dan waktu sore hari. Penyiraman yang dilakukan harus menyesuaikan dengan kondisi kelembaban media, jangan sampai terlalu lembab atau terlalu kering.
b. Pengecekan Suhu.
Pengecekan suhu dilakukan sehari tiga kali, dengan penentuan cek suhu pada waktu pagi, siang dan sore. Selain cek suhu, hal yang harus diperhatikan juga adalah penyinaran cahaya matahari terhadap pembibitan sacha inchi.
c. Control Pest Diseases/Pengendalian Hama Penyakit.
Pengendalian hama dilakukan secara teknik/manual. Pengendalian ini dilakukan apabila tanaman mulai teserang oleh hama atau penyakit dengan membuang dan membasminya, agar tidak menyebar ke tanaman yang lain.
3.6 Pengamatan
3.6.1 Pengamatan Utama a. Indeks Vigor (%)
Penghitungan indeks vigor benih dilakukan untuk mengetahui keseragaman dan kecepatan benih tumbuh pada kondisi lapangan. Penghitungan indeks vigor benih ini dilakukan pada hitungan pertama (frist count) yaitu 5 HST.
Rumus Indeks vigor (IV) menurut Sativa (2023) adalah sebagai berikut : IV=Jumlah kecambahnormal pada hitungan pertama
jumlahbenih ditanam ×100 %
b. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan dengan cara menggunakan penggaris, pada posisi pengukuran mulai dari batang pada bagian atas permukaan media tanam sampai dengan ujung/pucuk tanaman. Pengukuran tingggi tanaman dilakukan pada 14 HST, 21 HST, 28 HST dan 35 HST.
c. Diameter Batang (cm)
Pengukuran diameter batang dilakukan dengan cara menggunakan benang dan penggaris, pada posisi pengukuran dilakukan pada batang bawah dekat dengan bagian atas permukaan media tanam, dengan diukur terlebih dahulu menggunakan benang. Kemudian benang yang digunakan mengukur diberi tanda dan diukur
panjangnya menggunakan penggaris. Pengukuran diameter batang dilakukan pada 14 HST, 21 HST, 28 HST dan 35 HST.
d. Jumlah Daun (helai)
Penghitungan jumlah daun dilakukan pada setiap daun yang sudah terbentuk dari setiap plot penelitian. Daun yang dihitung harus berkriteria sudah terbuka sempurna. Penghitungannya dilakukan pada 21 HST, 28 HST dan 35 HST.
e. Luas Daun (cm)
Penghitungan luas daun dilakukan dengan mengambil jumlah rata-rata dari perwakilan 5 tanaman pada setiap plot penelitian, dengan kriteria daun yang dapat
22
dihitung haruslah sudah terbuka sempurna. Pengukuran luas daun ini dengan menggunakan metode gravimetri, berikut adalah rumus dari metode gravimetri:
LD= Berat Duplikasi(BR)
Berat Kertas Standar(BK)× Luas Kertas Standar(LK) Keterangan:
LD = luas daun (cm2) BR = berat duplikat (g) BK = berat kertas standar (g) LK = luas kertas standar (cm2)
Pengukuran luas daun (LD) dengan metode gravimetri menggunakan kertas A4 70 gsm dengan ukuran panjang 21 cm × 29,7 cm. perhitungan luas daun ini dilakukan pada 21 HST, 28 HST dan 35 HST.
f. Panjang Akar (cm)
Pengukuran panjang akar dilakukan diakhir penelitian yaitu pada 35 HST, dengan kondisi bibit sudah siap untuk di tanam di lahan. Pengukuran panjang akar ini dengan menggunakan penggaris, dimulai dari awal akar antara batas akar dengan batang sampai dengan ujung dari akar.
3.6.2 Pengamatan Penunjang
Pengamatan penunjang merupakan data hasil pengamatan untuk hanya untuk melengkapi saja dan datanya tersebut tidak dilakukan analisis statistik.
Parameter yang diamati pada pengamatan penunjang ini adalah :
a. Suhu (T), dilakukan pengukuran pada 3 waktu, yaitu; pagi, siang, dan sore.
b. Kelembaban (RH), dilakukan pengukuran pada 3 waktu, yaitu; pagi, siang, dan sore.
c. Keadaan lingkuran percobaan, pemantauan setiap pengambilan data pengamatan.
d. Curah hujan, dilakukan pengukuran curah hujan pada saat waktu penelitian mulai berjalan sampai akhir penelitian.
AB 1DAFTAR PUSTAKA
Asroh, A., Patimah, T., Meisani, N. D., Irawan, R., & Atabany, A. (2021).
Penambahan arang sekam, kotoran domba dan cocopeat untuk media tanam. Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat (PIM), 2(Khusus 1), 75-79.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut. (2019). Tinggi Wilayah di Atas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Garut, 2018.
(Online) https://garutkab.bps.go.id/statictable/2019/09/19/389/tinggi- wilayah-di-atas-permukaan-laut-dpl-menurut-kecamatan-di-kabupaten- garut-2018.html. Diakses: 11 Maret 2024.
Dalimoenthe, S. L. (2013). Pengaruh media tanam organik terhadap pertumbuhan dan perakaran pada fase awal benih teh di pembibitan. Jurnal Penelitian Teh dan Kina, 16(1), 1-11.
Devitriano, D., & Syarifuddin, H. (2021). Penggunaan Air Kelapa Muda Sebagai Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Daya Kecambah, Vigoritas, Berat Kering Biji Tanaman Kelor (Moringa oleifera). Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 21(3), 949-953.
Ekaputra, F., Supriyanta, S., & Yudono, P. (2016). Pengaruh komposisi media dan umur pindah tanam terhadap pertumbuhan awal Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dalam pembibitan metoda cabutan. Vegetalika, 5(1), 32-45.
Ekawati, I., & Wati, H. D. (2019). Pengaruh Media Tanam Terhadap Respon Pertumbuhan dan Produksi Genotipe Moringa oleifera (L). Jurnal Pertanian Cemara, 16(2), 8-13.
Firando, A. (2021). Pengaruh lama perendaman air kelapa muda terhadap pertumbuhan stek bibit vanili (Vanilla planifolia Andrews). Jurnal Riset Perkebunan, 2(1), 55-69.
Fransiska, W., & Sujarwati, S. (2023). Analisis Upaya Pematahan Dormansi Biji Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) dengan Pelukaan dan Perendaman Air Kelapa. JOSTECH Journal of Science and Technology, 3(1), 13-22.
Gomez, K. A. & Gomez, A. A. 2010. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Jakarta: UI Press.
Ilahi, W. F. F., & Ahmad, D. (2017). A study on the physical and hydraulic characteristics of cocopeat perlite mixture as a growing media in containerized plant production. Sains Malaysiana, 46(6), 975-980.
Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2022). Mengenal
Sacha inchi, kacang sejuta manfaat. (Online)
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/04/mengenal-sacha-inchi- kacang-sejuta-manfaat. Diakses: 05 Maret 2024.
Khoiriyah, A. N. M. (2021). Pengaruh pemberian pupuk organik dengan media tanah rhizosfer bambu terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau (Brassica juncea L) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Kodahl, N.; Sorensen, M. (2021). Sacha inci (Plukenetia volubilis L.) merupakan tanaman yang kurang dimanfaatkan dan memiliki potensi yang besar.
Agronomi. 11, 1066.
Listiana, I., Bursan, R., Widyastuti, R. A. D., Rahmat, A., & Jimad, H. (2021).
Pemanfaatan Limbah Sekam Padi Dalam Pembuatan Arang Sekam di Pekon Bulurejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Intervensi Komunitas, 3(1), 1-5.
Marlina, G. (2018). Uji Berbagai Media Tanam dan Pemberian Air Kelapa Muda Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis quineensis. Jacq) di Main Nursery. Jurnal Pertanian UMSB: Penelitian dan Kajian Ilmiah Bidang Pertanian, 2(1).
Mowidu, I., Paema, R., & Pangli, M. (2021). Perkecambahan Benih Kemiri pada Aplikasi Perendaman dalam Air Kelapa Muda. Agropet, 18(2), 20-25.
Muliawan, W. (2020). PENGARUH PENAMBAHAN ARANG SEKAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DI KEBUN PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS HAMZANWADI TAHUN 2020. Cocos Bio, 5(2), 75-80.
Nugroho, S. A., Al Arozi, L. N., & Novenda, I. L. (2023). Pengaruh Media Tanam Dan Zpt Nabati (Air Kelapa Dan Bawang Merah) Terhadap Pertumbuhan Setek Vanili (Vanilla planifolia Andrews). Jurnal Biosense, 6(01), 83-97.
Pepaya, P. B. (2015). Peranan Tanah Rhizosfer Bambu sebagai Bahan untuk Menekan Perkembangan Patogen Phytophthora palmivora dan Meningkatkan. Jurnal Tanah dan Iklim Vol, 39(2), 65-74.
26
Purwanto, E. (2008). Kajian Macam Media Tanam Dan Konsentasi Iba Terhadap Pertumbuhan Stek Jarak Pagar (Jatropha curcas I). Program studi agronomi. Universitas Sebelas Maret.
Saptaji, S., Setyono, S., & Rochman, N. (2015). Pengaruh air kelapa dan media tanam terhadap pertumbuhan stek stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Jurnal Agronida, 1(2).
Sativa, N., Gustini, S., Pratama, R. A., Nafi'ah, H. H., Nurdiana, D., & Pratiwi, R.
A. (2022). Pengaruh ekstrak bawang merah dan air kelapa terhadap pematahan dormansi biji dan pertumbuhan kecambah bidara Ziziphus nummularia (Rhamnaceae). JAGROS: Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology Science), 6(1), 30-43.
Sativa, N., Mutakin, J., & Rismayanti, A. Y. (2023). Uji Cekaman Salinitas Terhadap Viabilitas Dan Vigor Benih Beberapa Kultivar Kedelai (Glycine max (L). MERRIL). JAGROS: Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology Science), 7(1), 39-50.
Simopoulos AP. Importance of the omega-6/omega-3 balance in health and disease: evolutionary aspects of diet. World Rev Nutr Diet. 2011;102:10- 21. doi: 10.1159/000327785. Epub 2011 Aug 5. PMID: 21865815.
Sumbari, C., Thaib, R., & Anwar, A. (2020). UPAYA PEMATAHAN DORMANSI BENIH DELIMA (Punica granatum L) DENGAN AIR KELAPA MUDA. Menara Ilmu: Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah, 14(2).
Supriyanto, S.; Imran, Z.; Ardiansyah, R.; Auliyai, B.; Pratama, A.; Kadha, F. The Effect of Cultivation Conditions on Sacha Inchi (Plukenetia volubilis L.) Seed Production and Oil Quality (Omega 3, 6, 9). Agronomy 2022, 12, 636. https://doi.org/10.3390/agronomy12030636
Tampubolon, A., Mardiansyah, M., & Arlita, T. (2016). Perendaman benih saga (Adenanthera pavonina L.) dengan berbagai konsentrasi air kelapa untuk meningkatkan kualitas kecambah (Doctoral dissertation, Riau University).
Taryana, Y., & Sugiarti, L. (2020). Pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih kopi arabika (Coffea arabica L). Jurnal Agrosains Dan Teknologi, 4(2), 64-69.
Wardani, RAK, & Sari, DP (2017). Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu sebagai Media Tanam Jamur dan Kain Perca untuk Bahan Baku dalam Kemasan Fung–Cube. Dalam Prosiding Konferensi Pendidikan Biologi: Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajaran (Vol. 14, No. 1, pp. 83-87.
Lampiran. 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Jenis Kegiatan April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan
1.1 Tempat/lahan V
1.2 Alat dan bahan V
2. Pelaksanaan Percobaan
2.1 Persiapan Benih V
2.2 Pembuatan Media dan Konsentrasi V
2.3 Perendaman Benih V
2.4 Penanaman V
2.5 Pemeliharaan V V V V V V V
2.6 Pengamatan V V V V V V V
2.7 Pengolahan data V V
28
Lampiran. 2 Denah Plot Penelitian