Judul Skripsi : Kajian Sifat Kimia Tanah Alfisol Serta Hasil Tanaman Tomat Cherry Akibat Aplikasi Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) Dan Bahan Organik Yang Dibakar Dengan Dosis Berbeda. KAJIAN SIFAT KIMIA TANAH ALFISOL SERTA HASIL TANAMAN TOMAT CHERRY AKIBAT APLIKASI BAHAN ORGANIK TANPA. Puji dan syukur penulis haturkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan tuntunan-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Kajian Sifat Kimia Tanah Alfisol Serta Hasil Tanaman Tomat Cherry Akibat Aplikasi Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar”.
DAFTAR ISI
Organik Yang Dibakar Terhadap C-organik Tanah Pada saat panen 10 Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan. 11 Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap P-tersedia tanah Pada saat panen. 12 Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap K-tersedia tanah Pada saat panen.
PENDAHULUAN
Tujuan dan Kegunaan
Mengetahui pengaruh aplikasi bahan organik tanpa dibakar dan bahan organik yang dibakar terhadap sifat kimia tanah serta hasil tanaman tomat cherry. Mengetahui dosis bahan organik tanpa dibakar dan bahan organik yang dibakar yang memberikan hasil terbaik pada sifat kimia tanah dan tomat cherry. Penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi ilmiah mengenai pemanfaatan bahan organik terutama bahan organik tanpa dibakar dan bahan organik yang dibakar dalam budidaya ragam tanaman, khususnya tanaman tomat cherry.
Hipotesis
Tanah Alfisol adalah tanah dimana terdapat penimbunan liat dihorison bawah (argilik), mempunyai kejenuhan basa (berdasarkan jumlah kation) yang tertinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 150 cm dari permukaan tanah. Tanah Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama di tempat-tempat dengan tingkat pelapukan sedang. Tanah Alfisol memiliki pH netral, solum dangkal, bahan organik rendah, kandungan unsur hara makro (N, P, K, Mg, dan S) dan mikro (Fe dan Zn) rendah, daya simpan air rendah, dan drainase tanah yang buruk.
Bahan Organik
- Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos)
- Bahan Organik yang Dibakar
Selain itu, kompos juga dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan aktifitas biologi tanah (peningkatan jumlah mikroorganisme tanah), meningkatkan pH pada tanah asam, dan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan (Yuwono, 2005). Dampak kebakaran pada bahan organik sangat tergantung pada jenis dan intensitas api, kelembaban tanah, dan sifat bahan yang terbakar, serta komposisi. Semakin tinggi potensi bahan bakar maka semakin banyak N hilang pada saat pembakaran (Pantami, et al, 2010; . Hidayat, 2006).
Manfaat Bahan Organik Berbahan Dasar Jerami Dan Sekam Padi Bagi Tanah serta Tanaman
- Kompos Jerami Padi
- Arang Jerami dan Sekam Padi
Abu jerami padi merupakan pupuk organik yang secara alamiah mudah mendapatkannya terutama sekali di daerah lahan yang ada pertanaman padinya. Menurut penelitian Sudadi dan Atmaka (2000), abu jerami padi selain berperan untuk meningkatkan pH juga mampu menambah unsur hara yang mudah tersedia bagi tanaman. Berdasarkan penelitian ini dianjurkan untuk melakukan pemberian abu jerami padi sebagai sumber hara kalium untuk menaikkan produksi umbi tanaman ubi jalar dengan takaran 54 gram per tanaman.
Peranan Beberapa Unsur Hara pada Tanaman .1 Nitrogen ( N)
- Fosfor ( P )
- Kalium ( K )
- Reaksi tanah (pH tanah)
- Kandungan C - organik Tanah
Ketersediaan fosfor dalam tanah jarang yang melebihi 0,01% dari total P karena fosfor dalam bentuk P-terikat oleh Fe, Al dan Ca di dalam tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Rosmarkam dan Yuwono (2002), Fosfor dalam tanaman tetap berada dalam bentuk oksida, P yang telah diserap dalam bentuk H2PO4- umumnya cepat teresterifikasi melalui gugusan hidroksil berantai C menjadi fosfor berenergi tinggi P~P misalkan ATP. Kalium cukup dalam tanah banyak hubungannya dalam pertumbuhan tanaman yang pada umumnya kuat dan lebat.
Tanah yang memiliki pH < 5,5 maka tanah beraksi asam, sedangkan tanah yang memiliki pH > 8,0 maka tanah beraksi basa, hal ini dikarenakan apabila tanah beraksi < 5,5 memiliki jumlah H+ lebih banyak sebaliknya pada tanah yang bereaksi basa, kandungan OH lebih banyak dari H+ (Winarso, 2005). Apabila tanah bereaksi asam atau basa maka beberapa unsur hara akan terikat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hal ini karena unsur hara tidak terikat sehingga dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan tanaman.
Unsur C, ini diserap tanaman dalam fotosintesis dan menyimpan hasilnya sebagai materi organik dalam bentuk biomassa tanaman. Separuh dari jumlah karbon yang diserap tanaman dari udara bebas tersebut masuk ke dalam tanah melalui sisa tanaman (seresah), akar. Kadar C-organik dalam tanah mencerminkan kandungan bahan organic dalam tanah yang merupakan tolak ukur yang penting untuk pengelolaan tanah-tanah pertanian.
Menurut Fadhilah (2010), kadar C-organik tanah cukup bervariasi, tanah mineral biasanya mengandung C-organik antara 1 hingga 9%, sedangkan tanah gambut dan lapisan organic tanah hutan dapat mengandung 40% sampai 50% C- organik dan biasanya < 1% di tanah gurun pasir.
Tanaman Tomat Cherry
- Botani Tanaman Tomat Cherry
- Syarat Tumbuh Tanaman Tomat Cherry
Tomat Cherry memiliki sistem perakaran tunggang dengan akar-akar cabang yang menyebar ke segala arah pada kedalaman 60 - 70 cm. Sementara itu, buah yang sudah tua berwarna merah cerah atau gelap, merah kekuning-kuningan, atau merah kehitaman. Syarat tumbuh yang penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman tomat cherry diantaranya adalah iklim dan tanah.
Tomat cherry tumbuh dan berproduksi dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian di atas 700 mdpl. Tomat cherry memerlukan sinar matahari minimal 8 jam per hari dengan curah hujan sekitar mm per tahun. Keadaan temperatur dan kelembaban yang tinggi, berpengaruh kurang baik terhadap pertumbuhan, produksi dan kualitas buah tomat cherry (Wiryanta, 2004).
Tanah yang paling ideal adalah jenis lempung berpasir, subur, gembur, memiliki kandungan bahan organik tinggi, serta mudah mengikat air (porous). Jenis tanah berkaitan dengan peredaran dan ketersediaan oksigen di dalam tanah bagi kebutuhan akar tanaman.
Waktu dan Tempat Penelitian
Alat dan Bahan
Metode Penelitian .1 Rancangan Penelitian
- Model Analisis Data
- Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam untuk melihat pengaruh perlakuan yang dicobakan, dan apabila ada pengaruh dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.
Pelaksanaan Penelitian
- Persiapan Bahan Organik
- Persiapan Media Tanam
- Persemaian
Pupuk organik yang diberikan berupa bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar sesuai perlakuan yang dicobakan. Pemberian pupuk dilakukan setelah pengolahan tanah dengan cara menaburkan pada lubang mengelilingi tanaman berjarak 3-5 cm dari tanaman dengan kedalaman lingkaran lubang 5 cm dan menutupnya kembali dengan tanah. Kemudian diinkubasikan selama 7 hari agar bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar terurai sempurna.
Kemudian bahan pupuk tiap lubang yang telah ditentukan, diberikan dengan cara menaburkan pada lubang lingkaran disebelah tanaman berjarak 3-5 cm dengan kedalaman lingkaran lubang 5 cm. Penanaman bibit tomat Cherry dilaksanakan pada saat tanaman berumur 14 hari setelah pembimbitan (HSP) dan dilakukan pada sore hari yakni memindahkan bibit tomat dari tempat persemaian ke bedeng dengan jarak tanam 40 cm x 40 cm. Pemasangan ajir dilaksanakan pada saat tanaman berumur 7 hari setelah pindah tanam (HSPT) menggunakan kayu yang berukuran 200 cm - 300 cm dan dipasang di petak penelitian dengan jarak 5 cm dari tanaman tomat dan kedalaman minimum 20 cm.
Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 5 hari setelah pindah tanam (HSPT) dengan menggantikan 3 tanaman yang mati pada perlakuan A1, B2, dan B4. Penyiangan dilakukan setiap kali gulma tumbuh di sekitar tanaman tomat cherry dengan cara mencabut gulma. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada saat tanaman memasuki fase generatif, ada beberapa tanaman tomat menunjukan gejala serangan hama dan.
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 66 HSPT (hari setelah pindah tanam) dengan kriteria warna kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kuning kemerah-merahan.
N-total tanah
P-tersedia Tanah
K-tersedia Tanah
Reaksi tanah (pH tanah)
Kandungan C - organik Tanah
Jumlah Buah Tiap Petak
Bobot Buah Panen Tiap Petak
Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan pertanian petani di dusun Matani, desa Penfui Timur dan di Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana, yang berlangsung dari 02 November 2017 sampai dengan 28 Mei 2018. Benih tomat cherry disemaikan pada tanggal 13 Februari 2018 dan mulai tumbuh pada hari ke 4 setelah semai, kemudiaan tumbuh serempak pada 5 hari setelah semai, dan. Tanaman tomat Cherry mulai memasuki fase primordia bunga sampai berbunga penuh pada kisaran umur 46 - 48 HST.
Pemanenan pertama kali dilakukan pada saat tanaman tomat cherry berumur 66 HST selanjutnya pemanenan dilakukan secara terus–menerus dengan interval 3 hari sekali sampai 4 kali panen. Hasil Analisis Sifat Kimia Tanah Alfisol Awal Asal Matani, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kabupaten Kupang Tengah.
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar Terhadap N-Total Tanah Alfisol pada fase Vegetatif Akhir
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap P-tersedia Tanah Alfisol pada Fase Vegetatif Akhir
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap K-tersedia Tanah Alfisol pada fase Vegetatif Akhir
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap C-organik Tanah Alfisol pada Saat Panen
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap pH Tanah Alfisol pada Saat Panen
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap Jumlah Buah Tomat Cherry Per Petak
- Pengaruh Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar terhadap Bobot Buah Tomat Cherry Per Petak
Rerata N-Total Tanah pada Vegetatif Akhir dan Saat Panen Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar. Rerata P-tersedia Tanah pada Vegetatif Akhir dan Saat Panen Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar. 55,71 cm dan 6,00 helaian daun dibandingkan dengan perlakuan bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar.
Rerata K-dd Tanah pada Vegetaif Akhir dan Saat Panen Akibat Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar. Walaupun perlakuan dosis bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap K-dd tanah pada pengamatan akhir vegetatif. Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian dosis bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakartidak berpengaruh nyata terhadap rerata C-organik tanah saat panen.
Rerata C-Organik Tanah Saat Panen Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar. Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian dosis bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar berpengaruh nyata terhadap rerata pH tanah saat panen. Rerata pH Tanah pada Saat Panen Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar.
Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian dosis bahan organik tanpa dibakar (kompos) dan bahan organik yang dibakar berpengaruh nyata terhadap rerata jumlah buah per petak. Rerata Jumlah Buah Tomat Cherry Per Petak Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar. Rerata Bobot Buah Tomat Cherry Per Petak Akibat Aplikasi Dosis Bahan Organik tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik yang Dibakar.
PENUTUP
SIFAT KIMIA YG TERBAIK???
- Saran
Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap N-total Tanah Pada Akhir Vegetatif Tanaman Tomat Cherry. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap P-tersedia Tanah Pada Akhir Vegetatif Tanaman Tomat Cherry. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap C-organik Tanah Pada saat panen.
Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap N-Total tanah Pada saat panen. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap P-tersedia tanah Pada saat panen. Uji Lanjut Beda Nyata Jujur Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap P-tersedia tanah Pada saat panen.
Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap K-tersedia tanah Pada saat panen. Uji Lanjut Beda Nyata Jujur Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap K-tersedia tanah Pada saat panen. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap pH tanah Pada saat panen.
Uji Lanjut Beda Nyata Jujur Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap pH tanah Pada saat panen. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap Jumlah Buah tomat Cherry per petak Pada saat panen. Pengaruh Bahan Organik Tanpa Dibakar (Kompos) dan Bahan Organik Yang Dibakar Terhadap Bobot Buah tomat Cherry per petak Pada saat panen.