• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-governance Leadhership - Student Blog

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "E-governance Leadhership - Student Blog"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Ayu Aisyah Asri Ashari/AP FIA UB/2019

E-governance Leadhership

(Studi pada sistem E-governance di Surabaya)

Ayu Aisyah Asri Asharia Farida Nurani b

a,b Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia

———

1. Pendahuluan

Dinamika kehidupan masyarakat Indonesia semakin kompleks mengingat pada era sekarang merupakan era revolusi industri keempat yang serba digital. Hal ini juga tidak terlepas dari proses globalisasi yang berlangsung

karena globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi.

Sehingga semakin canggih teknologi tersebut, semakin cepat pula proses globalisasi. Kota Surabaya dengan penduduk mencapai 39,5 juta pada 2018 menurut databoks merupakan salah satu kota di Indonesia yang mendapat pengaruh teknologi yang signifikan.

A B S T R A C T

Now a new thing emerges where the old paradigm, governance as a single player and regulator, is beginning to be shifted to social cooperation outside government and technology called E-governance. The development of E-governance systems demonstrates the key role of leadership in the devolution process. E-governance related to securing the people's right to access public information has individual and social significance, which involves the community in making decisions at all stages of government, modernizing the government system and so on. The implementation is related to all social systems. The strategic direction of state policy towards the process of implementing E-governance consists of forming leadership potential. Research using qualitative descriptive methods. The basic concept of leadership development in Surabaya with a new pattern of interaction between the government and the community, provides encouragement and guidance in supporting mutually agreed-upon goals and provides community support for a better direction in the digitalization era.

INTISARI

Dewasa ini muncul hal baru dimana paradigma lama, pemerintahan sebagai pemain dan pengatur tunggal, mulai digeser ke kerjasama sosial di luar pemerintah dan teknologi yang disebut E-governance. Pengembangan sistem E-governance menunjukkan peran kunci kepemimpinan dalam proses devolusi. E-governance terkait dengan pengamanan hak masyarakat untuk mengakses informasi publik memiliki signifikansi individu dan sosial, yang melibatkan warga masyarakat dalam pengambilan keputusan di semua tingkatan pemerintahan, memodernisasi sistem pemerintahan dan sebagainya. Sehingga implementasinya terkait dengan kepemimpinan di semua tingkatan sistem sosial. Arah strategis kebijakan negara terhadap proses penerapkan E-governance terdiri dari pembentukan potensi kepemimpinan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Konsep dasarnya ialah membangun kepemimpinan di Surabaya dengan pola interaksi baru antara pemerintah dan masyarakat, memberikan dorongan dan bimbingan dalam bekerjasama untuk mengejar tujuan yang telah disepakati bersama dan mampu mendorong masyarakat ke arah yang lebih baik di era digitalisasi.

Keywords: E-governance, Leadhership

[email protected]

(2)

2 Perkembangan globalisasi sangat pesat sehingga pada era digitalisasi ini, penggunaan teknologi dan media digital merupakan suatu yang tidak dapat dihindari oleh suatu negara, bahkan secara umum sudah menajadi kebutuhan primer bagi setiap individu dalam aktivitas sehari-hari khususnya pada masyarakat di Kota Surabaya. Kemajuan digitalisasi menambah kehebatan globalisasi yang semakin memperpendek bahkan mengabaikan jarak dan mempercepat efisiensi waktu.

Kemajuan teknologi digitalisasi memberikan dampak luar biasa bagi setiap masyarakat, sehingga tidak merasa akan mengalami hambatan dalam beraktifitas sehari hari maupun berkomunikasi walaupun berada pada jarak yang sangat jauh. Hanya dalam hitungan detik dan menit, maka setiap pengguna teknologi digitalisasi sudah dapat berkomunikasi maupun melakukan aktivitas pada orang maupun institusi lain. Selain itu, kemajuan teknologi digitalisasi tentunya memberikan dampak yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Surabaya. Kemajuan teknologi digitalisai memberikan manfaat pada pemerintah Kota Surabaya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan rakyatnya, sehingga pemerintah dapat menyampaiakan informasi maupun kebijakan-kebijakan serta memberikan pelayanan publik kepada masyarakat.

Dengan adanya teknologi komunikasi ini, selain membantu masyarakat, sekaligus dapat membantu kegiatan perkantoran baik swasta maupun negeri.

Sebuah intansi seperti pemerintahan kota Surabaya pun menjadikannya sebagai sarana informasi dan layanan kepada masyarakat surabaya dalam hal aktifitas pemerintahan sehingga dapat mempermudah pemerintahan Kota Surabaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat surabaya sekaligus membantu masyarakat agar dapat terlibat langsung dalam aktifitas tersebut. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keterbukaan dan transparansi dalam segala aspek penyelenggaraan pemerintahan Kota Surabaya, maka muncullah istilah E-governance.

E-governance merupakan suatu sistem digitalisasi yang menggunakan teknologi informasi yang dikembangkan oleh pemerintah untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan memberikan pilihan pelayanan serta mendapatkan kemudahan akses informasi maupun pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat. Tetapi implementasi E- governance membutuhkan potensi kepemimpinan yang tepat dalam otoritas publik dan masyarakat. Analisis literatur tentang pengembangan sistem E-governance menunjukkan peran kunci kepemimpinan dalam proses devolusi. E-governance terkait dengan pengamanan hak warga negara untuk mengakses informasi publik memiliki signifikansi individu dan sosial, yang melibatkan warga negara dalam pengambilan keputusan di semua tingkatan pemerintahan, memodernisasi sistem pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain, E-

governance tidak hanya teknologi, tetapi mencakup lebih pemerintahan yang demokratis sebagai inisiatif yang bertujuan meningkatkan kehidupan warga negara.

Sehingga implementasinya terkait dengan kepemimpinan di semua tingkatan sistem sosial. Arah strategis kebijakan terhadap proses penerapkan E- governance terdiri dari pembentukan potensi kepemimpinan.

Untuk itu kemampuan seorang pemimpin adalah tuntutan untuk mensinergikan semua potensi yang ada dibawah kendalinya untuk menggapai sebuah cita-cita atau tujuan. Dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pimpinan harus memiliki prinsip agar pengaruh kepemimpinannya dapat diarahkan pada gerak tujuan yang ditetapkan. Oleh karena itu penulis mencoba memaparkan bagaimana peran kepemimpinan (leadhership) E-governance di Kota Surabaya pada era digitalisasi.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Kepemimpinan

Menurut Djafri (2017: 33) kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi orang lain dengan memberikan dorongan dan bimbingan dalam bekerjasama untuk mengejar tujuan yang telah disepakati bersama. Miftah Thoha (2008) dalam Djafri (2017: 32) menyatakan kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perseorangan maupun kelompok. Kepemimpinan sebagai hubungan yang mempengaruhi di antara para pemimpin dan pengikut yang akan melakukan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersama. Ada empat elemen penting yang harus ada jika kepemimpinan ada yakni hubungan didasarkan pada pengaruh, hubungan pemimpin dan yang dipengaruhi, para pemimpin dan pengikut berniat melakukan perubahan yang nyata dan para pemimpin dan pengikut yang saling mengembangkan tujuan. Semua itu perlu dilakukan oleh seorang pemimpin (Rost, 1993) dalam Rosari (2019: 19- 20). Sebagimana dikemukakan oleh Yuki (2010) dalam Sagala (2018: 56), kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.

Kepemimpinan dalam pemerintahan merupakan salah satu jenis kepemimpinan, mempunyai kedudukan startegis dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam rangka mewujudkan tujuan negara dan cita-cita nasional. Dengan memperhatikan berbagai deskripsi tentang kepemimpinan yang ada, maka pada umumnya kepemimpinan menurut Saggaf (2018: 123) dapat diartikan sebagai kemampuan dan kesanggupan

(3)

3 menggerakkan orang-orang atau pengikut untuk bekerja dan mengarahkan ke tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Susanto (2016: 8-10) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bwahannya, pada umumnya dikenal ada lima gaya kepemimpinan, diantaranya:

1. Gaya kepemimpinan Otokratis

Kepemimpinan otokratis disebut juga kepemimpinan diktator. Orang yang mengambil keputusan tanpa konsultasi dengan bawahannya yang harus melaksanakannya atau seseorang yang akan dipengaruhi keputusan tersebut.

2. Gaya kepemimpinan demokratis

Kepemimpinan demokratis

mempertimbangkan keinginan dan ide-ide para bawahan. Gaya kepemimpinan ini dikenal pula dengan istilah kepemimpinan konsensus. Orang yang menganut pendekatan ini melibatkan para bawahannya yang harus melaksanakan keputusan dalam proses pembuatannya, walaupun yang membuat keputusan akhir adalah pemimpin.

3. Gaya kepemimpinan partisipatif

Kepemimpinan partisipatif juga dikenal dengan istilah kepemimpinan terbuka dan bebas. Orang yang menganut pendekatan ini hanya sedikit memgang kendali dalam proses pengambilan keputusan.

Kepemimpinan partisipatif ini dalam kepemimpinannnya dilakukan dengan persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan loyalitas dan partisipasi bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar mereka ikut memiliki organisasi. Pemimpin gaya ini akan mendorong pimpinan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

4. Gaya kepemimpinan berorientasi

Gaya kepemimpinan ini juga disebut kepemimpinan berdasarkan hasil atau berdasarkan sasaran. Orang yang menganut pendekatan ini meminta gar bawahan atau anggota untuk memusatkan perhatiannya pada tujuan yang ada.

5. Gaya kepemimpinan situasional

Gaya kepemimpinan situasional menekankan perilaku pemimpin, asumsi yang digunakan dalam gaya ini adalah bahwa tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang tepat bagi seorang pemimpin dalam segala kondisi. Oleh karena itu kepemimpinan situasional akan menerapkan suatu gaya tertentu berdasarkan pertimbangan atas faktor-faktor seperti

pemimpin, pengikut dan situasi dalam arti struktur tugas, peta kekuasaan dan dinamika kelompok.

2.2 Pengertian Pemimpin

Para pemimpin adalah para elite yang berada di pucuk-pucuk piramida kekuasaan di bidangnya masing- masing. Semakin kharismatis pemimpin semakin tinggi kadar mitosnya. Walaupun nyatanya seorang pemimpin adalah manusia biasa, karena posisinya yang berada di puncak, maka konsekuensinya menjadi seorang pemimpin akan terus menjadi sorotan (Alfan, 2009: 30).

Pemimpin adalah orang yang diikuti kata-kata dan perbuatannya. Pemimpin selalu disorot. Menjadi pemimpin yang tidak mengejar penghormatan, tetapi menjaga kehormatan. Pengghormatan memang bisa dipanggungkan dan bisa dibeli karenanya mudah didapat. Sementara kehormatan tidak untuk diperjualbelikan. Pemimpin yang gagasan dan langkahnya terhormat, dengan sendirinya akanmendapat penghormatan (Chamim, 2012:79). Lebih lanjut dikatakan bahwa pemimpin menurut Nugroho (2018: 1) adalah seseorang yang mampu menggerakkan pengikut untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam struktur kepemimpinan, pemimpin tidak dapat berjalan sendiri.

Pemimipin adalah salah satu komponen di dalam kepemimpinan. Artinya, terdapat beberapa komponen lainnya di dalam sebuah struktur kepemimpinan, yakni pemimpin (leader); kemampuan untuk menggerakkan (ability to motivate); pengikut (follower); tujuan atau niat baik (good intention) dan organisasi. Sebagai sasaran akhir dari sebuah kepemimpinan yang efektif tentunya adalah tercapainya tujuan bersama atau tujuan organisasi melalui pengaruh yang diberikan oleh seorang pemimpin. Kapasitas untuk mempengaruhi dan menggerakkan pengikut menjadi faktor kunci dari seorang pemimpin yang efektif. Efektivitas kepemimpinan seseorang adalah hasil akumulasi dari interaksi seorang pemimpin dan efektivitas yang merupakan landasan yang penting yang dibutuhkan agar seorang pemimpin dapat berpikir secara efektif (Riger, 2007) dalam Nugroho (2018: 2).

2.3 Pengertian Electronic Governance

Informasi Communication and Teechnology (ICT) merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung aktivitas-aktivitas pemerintahan, maupun yang terpenting untuk memberikan pelayanan yang prima dari pemerintah untuk masyarakat. Menurut Angkasa (2007: 47) semua akativitas E-governance ditujukkan untuk mendukung terciptanya pemerintahan yang bersih, transparan dan berwibawa. E-governance sebagai aplikasi TIK untuk memberikan layanan pemerintah, pertukaran informasi, transaksi komunikasi, integrasi berbagai sistem dan layanan antara G2C, G2B serta proses back office dan interaksi dalam seluruh

(4)

4 kerangka kerja pemerintah. E-governance mempromosikan lebih banyak pemerintah yang efisien dan efektif, memfasilitasi layanan pemerintah yang lebih mudah diakses, memungkinkan akses publik yang lebih besar ke informasi dan membuat pemerintah lebih akuntabel kepada warga.

3. Metode

Artikel ini menggunakan studi kepustakaan atau library research. Studi kepustakaaan memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data. Studi kepustakaaan membatasi kegiatan hanya pada bahan- bahan koleksi perpustakaan tanpa memerlukan riset lapangan.

Studi kepustakaan merupakan serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan pengumpulan data pustaka.

Membaca dan mencatat serta mengolah bahan (Zed, 2004: 3).

Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif.

Deskriptif kualitatif adalah penggambaran secara kualitatif fakta, data atau objek material yang bukan berupa rangkaian angka, melainkan berupa ungkapan bahasa atau wacana melalui interpretasi yang tepat dan sistematis (Wibowo, 2011: 43).

4. Diskusi dan Hasil

Perkembangan dan pertumbuhan teknologi merupakan fenomena paling aktual yang dihadapi seluruh negara tidak terkecuali Indonesia. Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang mendapat pengaruh dari perkembangan teknologi tersebut dengan Sistem Layanan Informasi terbaik Kabupaten atau Kota kategori B pada PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) Award 2016 tingkat Jawa Timur.

Menurut Sitorus (2018) dalam Marsetio (2018:211) perkembangan teknologi diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial. Semua ini akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, politik bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri. Ada empat prinsip rancangan dalam era digitalisasi. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario- skenario yakni:

1. Interoperabilitas (kesesuaian) ialah kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP). IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar- besaran.

2. Transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dengan memperkaya

model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.

3. Bantuan teknis adalah kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh, agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.

4. Keputusan mandiri yakni kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Apabila terjadi pengecualian, gangguan atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Era digitalisasi didasarkan pada data. Cara itu bisa dikumpulkan dan dianalisis serta digunakan untuk membuat keputusan yang tepat dan berkembang serta menjadi faktor keunggulan kompetitif. Oleh karena itu, tidak hanya akan produksi secara terkoordinasi atau sepenuhnya basis baru, tetapi juga penyisipan produk dengan layanan digital misalnya dalam hal terjadi kegagalan, mesin itu sendiri menunjukkan bagian pengganti mana yang harus dibawa yaitu bagaimana pemerintah memfilter informasi yang relevan dari data yang dihasilkan untuk mendukung pengambilan keputusan.

Teknologi yang konvergen, tidak mengenal ruang dan waktu dan sederet karakter kebaruan yang melingkupinya telah mengubah karakter masyarakat dalam kehidupan bermedia serta berimplikasi langsung terhadap kehidupan msnusia modern, baik secara sosiologis maupun individual psikologis. Dari aspek regulasi, kehadiran teknologi yang berkembang dan implementasinya yang sangat cepat diberbagai bidang memiliki kecenderungan tidak mudah dikendalikan dan diregulasi. Hal inilah yang membuat pihak-pihak yang terlibat dan bertanggungjawab atas pengaturan tersebut.

Kemajuan teknologi digitalisai memberikan manfaat pada pemerintah Kota Surabaya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan rakyatnya, sehingga pemerintah dapat menyampaiakan informasi maupun kebijakan- kebijakan serta memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Dengan adanya teknologi komunikasi ini, selain membantu masyarakat, sekaligus dapat membantu kegiatan perkantoran baik swasta maupun negeri.

Sebuah intansi seperti pemerintahan kota Surabaya pun menjadikannya sebagai sarana informasi dan layanan kepada masyarakat surabaya dalam hal aktifitas pemerintahan sehingga dapat mempermudah pemerintahan Kota Surabaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat surabaya sekaligus membantu

(5)

5 masyarakat agar dapat terlibat langsung dalam aktifitas tersebut. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keterbukaan dan transparansi dalam segala aspek penyelenggaraan pemerintahan Kota Surabaya, oleh karena itu muncullah istilah E-governance. E- governance digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan memberikan pilihan pelayanan serta mendapatkan kemudahan akses informasi maupun pelayanan dari pemerintah kepada masyarakat.

E-governance merupakan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang baik (Heeks, 2001), tetapi implementasi gagasan E-governance membutuhkan penilaian potensi kepemimpinan yang tepat dalam otoritas publik dan dalam masyarakat (Arjjumen, 2018:

2). Dari sini tampak bahwa lahirnya konsep E- governance merupakan positive meaning oleh masyarakat umum karena akan menyelesaikan masalah pada penyelenggaraan pemerintahan.

Pengalaman kontemporer menunjukkan tiga tingkat implementasi model E-governance, yaitu: (1) model

“Pemerintah untuk warga negara” (G2C) memberikan informasi, sertifikat dan kerangka kerja yang khas kepada warga negara. Hal ini memungkinkan penghematan anggaran dengan mengelola prosedur standar dan menghemat waktu serta uang warga negara;

(2) Model “Pemerintah untuk Bisnis” (G2B) termasuk komputerisasi pajak dan pembayaran lainnya, melakukan tender elektronik untuk penyediaan produk, lelang elektronik, dan lain-lain. Model ini sangat menyederhanakan proses dan membuatnya transparan;

dan (3) model “Pemerintah ke Pemerintah” (G2G) menanamkan komputerisasi sirkulasi dokumen antara otoritas publik dan departemen, penyatuan sistem informasi struktur dan lembaga kekuasaan dan manajemen urusan internal. Hal ini menghemat waktu para manajer dari semua tingkatan dan menyediakan kesempatan untuk keputusan manajemen yang cepat dan terinformasi dengan baik (Klymushin dan Serenok, 2010) dalam (Arjjumen, 2018: 2). E-governance saat ini memang sangat diperlukan oleh pemerintahan karena akan ada banyak tujuan dan manfaat yang tercapai nantinya. Dengan adanya transparansi dari sistem E- governance ini dapat meminimalisir adanya korupsi di kalangan pemerintahan. Selain itu dengan E-governance dapat memudahkan kinerja pemerintah secara lebih efektif dan efisien dengan pemanfaatan teknologi komunikasi karena E-governance merupakan pusat informasi reformasi yang didukung sistem untuk mendigitalkan pengiriman layanan dan proses tata kelola yang terjadi di semua tingkatan pemerintahan. E- governance memanfaatkan internet dan world wide web untuk penyampaian layanan dan penyebaran informasi (Gant, 2008:15).

Akan tetapi implementasi E-governance membutuhkan potensi kepemimpinan yang tepat dalam otoritas publik dan masyarakat. Analisis literatur tentang pengembangan sistem E-governance menunjukkan peran kunci kepemimpinan dalam proses devolusi. E- governance terkait dengan pengamanan hak warga negara untuk mengakses informasi publik memiliki signifikansi individu dan sosial, yang melibatkan warga negara dalam pengambilan keputusan di semua tingkatan pemerintahan, memodernisasi sistem administrasi publik dan sebagainya. Dengan kata lain, E-governance tidak hanya teknologi, tetapi mencakup lebih pemerintahan yang demokratis sebagai inisiatif yang bertujuan meningkatkan kehidupan warga negara.

Oleh karena itu, implementasinya terkait dengan kepemimpinan di semua tingkatan sistem sosial. Arah strategis kebijakan terhadap proses penerapan E- governance terdiri dari pembentukan potensi kepemimpinan. Menurut Ritongga (2018: 13) kepemimpinan dapat diartikan sebagai cara seseorang memimpin orang lain. Kepemimpinan (leadership) dapat juga diartikan sebagai kemampuan dari seseorang untuk memengaruhi, mengerahkan dan mengarahkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Sehingga kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Mereka yang memimpin disebut sebagai “pemimpin” dari yang terendah hingga ke level nasional.

Dengan demikian, jelas implementasi model E- governance didasarkan pada faktor kepemimpinan yang menentukan inisiatif, kompetensi, inovasi dan tanggung jawab. Menurut Marsetio (2018: 212-213) Para pemimpin di harus memiliki kapasitas sebagai berikut:

1. Mudah dan cepat beradaptasi. Perubahan teknologi sangat cepat. Jika pemimpin tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat, ia akan tertinggal dan dampak dari tertinggal itu bukan cuma pada pribadi si pemimpin, tetapi akan menimpa lembaga atau organisasi yang ia pimpin, misalnya kalah dalam persaingan serta masyarakat pengguna juga akan terkena dampak.

2. Mempunyai global networking. Jejaring berskala global sangat penting dalam menghadapi era digitalisasi, yang tidak lagi dibatasi oleh perbatasan tradisional suatu negara. Solusi atas suatu masalah di Indonesia mungkin perlu melibatkan kerjasama dan koordinasi dengan banyak pihak di negara- negara lain. Itulah pentingnya punya jejaring global.

3. Integritas. Integritas pemimpin dalam situasi apa pun dan di mana pun akan tetap penting dan menen tukan. Tidak ada pihak yang mau

(6)

6 menjalin kerjasama dengan pemimpin yang dinilai kurang memiliki integritas.

4. Bersifat inovatif. Menghadapi perubahan yang cepat, seorang pemimpin harus selalu siap dengan ide atau gagasan baru, untuk memberi solusi atas masalah yang dihadapi. Inovatif di sini bukan sekadar kreatif, tetapi kreatif yang secara konkret bisa diaplikasikan oleh organisasi. Sekadar kreatif saja, jika tidak bisa diterapkan akan percuma saja.

Seorang pemimpin diharapkan mampu menghadapi setiap perubahan, mengembangkan sistem pelayanan E- governance yang handal dengan sasaran peningkatan kualitas jaringan komunikasi ke seluruh wilayah di Surabaya dengan tarif terjangkau dan terpercaya masyarakat luas. Dibutuhkan sifat kreatif untuk dapat memenuhi tuntutan rakyat dan sifat inovatif untuk menata sistem serta proses kerja pemerintah secara holistik. Seorang pemimpin harus mampu meningkatkan peran industri telekomunikasi dan teknologi informasi agar mempercepat pencapaian tujuan E-governance sehingga pelayanan publik tidak perlu sepenuhnya dilayani oleh pemerintah. Selain itu, perlu mengembangkan kapasitas sumber daya manusia, baik pada pemerintah maupun masyarakat dengan meningkatkan e-literacy. Pemimpin juga harus memiliki pandangan jauh ke depan dan mengesampingkan cara berfikir kedaerahan. Mereka harus berfikir secara nasional dan global untuk menghadirkan kesejahteraan dan keamanan bagi rakyat dengan memahami dan memadukan keadaan yang saling bergantung (interdependence) dan keberagaman (diversity) secara serasi seimbang melalui komunikasi, negosiasi, membujuk dan mengintegrasikan berbagai sikap para stakeholder dalam implementasi E-governance sehingga tercapai tujuan bersama (Ritongga, 2018: 14).

5. Penutup 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian di atas, kepemimpinan sangat penting untuk mengimplementasikan E- governance secara efektif. E-governance dapat membuat sebuah kota lebih kompetitif dan lebih kuat dalam kondisi perubahan global yang tidak terduga dan dapat berubah. Dengan adanya transparansi dari adanya sistem E-governance ini dapat meminimalisir adanya korupsi di kalangan pemerintahan. Selain itu dengan E- governance dapat memudahkan kinerja pemerintah secara lebih efektif dan efisien dengan pemanfaatan teknologi komunikasi. Arah strategis kebijakan negara terhadap proses penerapan E-governance terdiri dari pembentukan potensi kepemimpinan. Pemimpin yang memberi inspirasi bagaikan lilin dalam kegelapan, memberi arah, memberi harapan sekaligus manfaat bagi orang lain. Seorang pemimpin yang berbobot adalah

mereka yang mampu memberikan pelajaran bagi diri dan lingkungan serta para pengikutnya. Disinilah yang paling penting bagi seorang pemimpin agar mampu memberikan pelajaran sehingga mampu menjadi energizer bagi para pengikutnya.

5.2 Saran

Pemimpin yang baik bagaikan sebuah pedoman, mempengaruhi aktivitas kelompok yang diorganisir ke arah pencapaian tujuan nasional. Permasalahan semakin kompleks, sehingga dalam organisasi, pemimpin harus menguasai kemampuan manejerial (managerial skill) sekaligus mampu memberi inspirasi, namun memberi ruang untuk inovasi. Dengan demikian, diharapkan seorang pemimpin mampu menghadapi setiap perubahan, dapat memenuhi tuntutan rakyat dan memiliki sifat inovatif serta perlu membangun kemitraan dan kerja sama berdasarkan perumusan strategi E-governance. Pemimpin pada era digitalisasi saat ini dan yang akan datang dituntut untuk bersikap fleksibel, transparan, akuntabel, mampu beradaptasi dengan dengan lingkungan yang bersifat dinamis serta mampu menindaki segala bentuk perubahan dan secara aktif membuat variasi program perubahan yang dibutuhkan. Selain itu, pemimpin juga harus mampu mewujudkan harapan (visi) menjadi kenyataan, pemimpin yang berani mengambil risiko dan pemimpin berintegritas. Seorang pemimpin memiliki potensi seperti intelectualcapital, soft capital, physical capital dan social capital. Agar mampu mengoptimalkan semua potensinya maka seorang pemimpin dituntut untuk memahami potensi yang dimiliki beserta kecenderungan dan tantangan yang dihadapi pada era digitalisasi.

Daftar Pustaka

Alfan, Alfian. 2009. Menjadi Pemimpin Politik:

Perbincangan Kepemimpinan dan Kekuasaan.

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Angkasa, Ignaz K. and et al. 2007. Sejarah SMA/Ma kelas XII-IPA. Jakarta: GRASINDO

Arjjumen, H and et al. 2018. Leadership in the Context of E-governance: Lessons for Ukraine. Vol. 1 No. (1) 2

Chamim, Mardiyah. (2012). Surat Dari Dan Untuk Pemimpin. Jakarta: PT TEMPO INTI MEDIA Djafry, N dan Badu, SQ. 2017. Kepemimpinan dan

Perilaku Organisasi. Gorontalo: Ideas Publishing

Gant, J. P. 2008. Electronic Goverment for Developing Countries. Jenewa : ITU

Kusnandar, Budy V. 2019. Kota Surabaya Memiliki Penduduk Terbanyak di Jawa Timur. Diakses jam 21.20 tanggal 6 Desember 2019 dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019

(7)

7 /09/19/kota-surabaya-miliki-penduduk-

terbanyak-di-jawa-timur

Marsetio. 2018. Kepemimpinan Nusantara. Jawa Barat:

Universitas Pertahanan

Nugroho,Yohanes, AB. 2018. Kepemimpinan Untuk Mahasiswa: Teori dan Aplikasi. Jakarta:

Universitas Katolitk Indonesia Atma Jaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2015. Diakses jam

22.05 tanggal 6 Desember 2019 dari

http://jatimprov.go.id/read/data-ppid/seputar- ppid-pejabat-pengelola-informasi-dan- dokumentasi-

Ritongga, Rajab. (2018). Kepemimpinan Nusantara.

Jawa Barat: Universitas Pertahanan

Rosari, Reni. 2019. Leadership Definitions Application For Lecturers’ Leadership Development.

Journal of Leadership in Organizations. Vol.1, No. (1) 19-20

Sagala, Syaiful. 2018. Pendekatan Dan Model Kepemimpinan. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP

Saggaf, S dan Akib, H. 2018. Reformasi Pelayanan Publik Di Negara Berkembang. Makassar: CV SAH MEDIA

Susanto, Ahmad. 2016. Manajemen Peningkatan Kinerja Guru: Konsep, Strategi dan Implementasinya. Jakarta: Prenada Media

Referensi

Dokumen terkait