PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dibahas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah model Auditory Intellectually Repetition (AIR) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika siswa kelas XI IPA3 di SMA Negeri 14 Gowa Kabupaten Gowa?”. Seberapa tuntaskah hasil belajar matematika siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui model Auditory Intellectually Repetition (AIR)?
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
- Pengertian Efektivitas
- Pembelajaran Matematika
- Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR)
- Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Auditory
- Hasil Penelitian Yang Relevan
- Kerangka Pikir
- Hipotesis Penelitian
Respon siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah respon siswa terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Model pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) merupakan gaya belajar yang mirip dengan model pembelajaran Somatic, Auditory, Visualizing, Intellectual (SAVI) dan model pembelajaran Visualizing, Auditory, Kinesthetic (VAK). Menurut Meier (Huda, 2016) seorang guru hendaknya berusaha melibatkan siswa dalam kegiatan intelektual, seperti 1) pemecahan masalah.
Dengan pemberian tugas diharapkan siswa lebih terlatih dalam menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dan mengingat apa yang telah diberikan. 12 Langkah Pembelajaran Auditory Intellectual Repetition (Shoimin, 2014), yaitu: 1) siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 orang, 2) siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, 3) setiap kelompok mendiskusikan materi yang sedang dibahas. mereka mempelajari dan mencatat hasil diskusi kemudian dipresentasikan di depan kelas (auditori), 4) pada saat diskusi siswa diberikan pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan materi, 5) masing-masing kelompok memikirkan bagaimana menggunakan hasil diskusi tersebut. untuk menerapkan dan meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah (secara intelektual), 6) setelah selesai berdiskusi, siswa diberikan pengulangan materi dengan diberikan tugas atau diskusi untuk setiap individu (repetition). Guru mempersiapkan siswa untuk berdoa dan memberi salam, di bawah bimbingan kepala kelas 2. Guru mempersiapkan siswa untuk belajar dengan mengingat pelajaran sebelumnya terkait dengan materi yang akan dipelajari 4. Siswa berdoa dan memberi salam, dipimpin oleh ketua kelas 2. Siswa memikirkan pelajaran yang sebelumnya berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. siswa mendengarkan ceramah guru.Kegiatan kunci :.
Sedangkan kelemahan model pembelajaran AIR adalah ada tiga aspek yang perlu diterapkan yaitu kecerdasan auditori dan repetisi yang menyebabkan pembelajaran ini memerlukan waktu yang lama. Kabupaten Soppeng Negeri Takalala untuk mengetahui efektif tidaknya pendidikan matematika melalui penerapan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada siswa Kelas VIIIA MT. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) efektif diterapkan pada siswa MT Kelas VIIIA.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah model pembelajaran Auditory Intellectual Repetition (AIR) efektif diterapkan pada siswa kelas VII SMPN 1 Parangloe Kabupaten Gowa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah pembelajaran dengan model Auditory Intellectual Repetition (AIR). Pembelajaran dengan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dan juga dapat membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan.
Kelebihan pembelajaran dengan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) adalah melatih pendengaran siswa dan keberanian mengemukakan pendapat (auditory), melatih siswa memecahkan masalah secara kreatif (intelektual), melatih siswa mengingat kembali materi yang dipelajari (repetition), siswa menjadi lebih aktif dan kreatif (Shoimin, 2014). Oleh karena itu, diharapkan pembelajaran dengan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) lebih efektif (Shoimin, 2014). Model Auditory Intellectual Repetition (AIR) efektif digunakan dalam pembelajaran matematika siswa Kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa Kabupaten Gowa.
Science3 SMA Negeri 14 Gowa setelah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) minimal berada pada kategori sedang. Respon positif siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) lebih besar atau sama dengan 75% dari total aspek yang dipersyaratkan.
METODE PENELITIAN
Variabel dan Desain Penelitian
Populasi dan Sampel
Definisi Operasional Variabel
Prosedur Penelitian
Instrumen Penelitian
23 Repetition (AIR) sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang telah disiapkan, observasi siswa dan pemberian angket survey. Respon siswa merupakan respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan model Auditory Intellectually Repetition (AIR). Kuesioner respon siswa dirancang untuk mengetahui pendapat siswa terhadap kelebihan dan kelemahan model auditory intelektual repetition (AIR).
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Berikut akan diuraikan hasil analisis statistik deskriptif yaitu hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR), serta peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR). , hasil observasi aktivitas siswa dan angket respon siswa mengenai pembelajaran matematika melalui penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa. satu. Data hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa disajikan secara lengkap pada Lampiran D. 33 siswa pada kelas tersebut secara keseluruhan berada pada kategori sangat rendah.
Data hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar hasil belajar kelas tersebut, artinya hasil belajar matematika kelas tersebut
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) berdistribusi normal. Uji individual terhadap ketuntasan hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dihitung. Kesimpulan klasikal hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa sebelum dan sesudah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dihitung dengan menggunakan uji proporsi (uji z).
Artinya terjadi peningkatan pada hasil belajar matematika kelas Rata-rata hasil belajar matematika kelas Rata-rata hasil belajar matematika kelas
Nilai gain tersebut berada pada rentang g sebesar 0,70 sehingga peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPA3 di SMA Negeri 14 Gowa Kabupaten Gowa secara umum berada pada rentang atas. kategori. . Hasil analisis deskriptif dan inferensial menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa setelah pembelajaran melalui penerapan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa sebelum penerapan model Auditory Intellectual Repetition (AIR) . Dengan demikian” telah terjadi peningkatan hasil belajar matematika di kelas
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model Auditory Intellectual Repetition (AIR) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPA3 di SMA Negeri 14 Gowa Kabupaten Gowa. Peneliti menerapkan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) hanya pada materi statistik, sehingga diharapkan bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dapat menerapkannya pada materi lain sehingga kita dapat menemukan bersama materi apa yang dimaksud. sesuai dengan model Auditory Repetition Intellectually (AIR).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan hasil analisis deskriptif mengenai ketuntasan hasil belajar siswa dan peningkatannya, keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika, dan respon siswa terhadap pembelajaran matematika melalui penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR). Hasil analisis data hasil belajar matematika siswa sebelum dilaksanakannya pendidikan matematika melalui model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) menunjukkan tidak ada siswa atau 0% dari 33 siswa yang tuntas mengikuti tes, tercapai ketuntasan individu (mendapat nilai KKM 75), dengan kata lain hasil belajar Siswa sebelum diterapkan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) secara umum masih tergolong sangat rendah dan belum memenuhi kriteria ketuntasan klasikal. 2) Hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model auditory Intellectual Repetition (AIR) atau model posttest. Hasil analisis data belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) menunjukkan bahwa terdapat 29 siswa atau 87,88% dari total 33 siswa yang mencapai ketuntasan individu.
Dengan kata lain, hasil belajar siswa setelah diperkenalkannya model Auditory Intellectual Repetition (AIR) mengalami peningkatan karena tergolong rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi serta memenuhi kriteria klasikal sempurna. Jika persentase tersebut kita bandingkan maka dapat disimpulkan bahwa ia mencapai kriteria baik atau sangat baik, yaitu dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dengan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) efektif digunakan dalam pembelajaran matematika, karena tercapai kesempurnaan klasikal. jika paling sedikit 75% siswa dalam kelas tersebut mencapai kesempurnaan belajar individu. 3) Peningkatan (gain) hasil belajar matematika siswa setelah diperkenalkannya model Auditory Intellectual Repetition (AIR). Hasil observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) pada siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa menunjukkan memenuhi kriteria aktif.
Sedangkan hasil analisis data observasi aktivitas siswa menunjukkan rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa yang menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) adalah sebesar 84% aktivitas siswa yang semakin meningkat pada setiap sesinya. Dapat disimpulkan bahwa siswa telah berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran matematika melalui penerapan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR). Dan siswa yang merasakan adanya kemajuan setelah penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) memiliki persentase sebesar 93,93%.
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa tuntas secara individu, tuntas secara klasikal, dan terdapat peningkatan hasil belajar dimana nilai gain lebih dari 0,29, aktivitas siswa mencapai aktif kriteria, dan Respon siswa terhadap model Auditory Intellectual Repetition (AIR) adalah positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Auditory Intellectual Repetition (AIR) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPA3. Namun setelah diajarkan melalui penerapan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) tuntas secara klasikal, hal ini terlihat dari tes proporsi yang ditunjukkan Zcount.
21,077 ttabel = 1,70 yang berarti terdapat peningkatan hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dalam pembelajaran matematika siswa kelas XI IPA3 SMA Negeri 14 Gowa dimana nilai gain sebesar 0,75 lebih besar dari 0,29. Dari hasil analisis deskriptif dan inferensial yang diperoleh ternyata cukup mendukung teori yang telah dikemukakan dalam kajian teori, sehingga dapat disimpulkan bahwa “model Auditory Intellectually Repetition (AIR) efektif” digunakan dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas XI IPA3 di SMA Negeri 14 Gowa Kabupaten Gowa". Diharapkan sekolah dapat menggunakan model Auditory Intellectually Repetition (AIR) dalam proses pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran