• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ema Agustia Ningsih 243127907944 Kode Etik Guru

N/A
N/A
ema agustia ningsih

Academic year: 2025

Membagikan "Ema Agustia Ningsih 243127907944 Kode Etik Guru"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PEMBELAJARAN MODUL 3

Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai

Kode Etik Guru

Apakah Perilaku Guru Sebagai Pendidik Perlu Diatur?

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2025

Nama : Ema Agustia Ningsih Bidang Studi PPG : Teknik Kimia Industri

NIM : 243127907944

(2)

Kode Etik Guru

A. Pengertian Kode Etik Guru

Profesi guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kecerdasan generasi bangsa. Sebagai sosok yang menjadi panutan, guru tidak hanya bertanggung jawab dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan etika.

Oleh karena itu profesi guru menuntut adanya standar perilaku yang jelas dan mengikat yang diwujudkan dalam bentuk kode etik guru. Pada praktiknya, masih ditemukan tantangan berupa pelanggaran etika dan ketidaksesuaian antara sikap profesional dan tindakan dilapangan, serta kurangnya pemahaman guru terhadap isi dan makna kode etik itu sendiri.

Hal ini menunjukkan pentingnya evaluasi, pemahaman, dan pengetahuan kode etik guru dilingkungan sekolah.

Kode etik guru adalah seperangkat nilai moral dan prinsip profesional yang menjadi pedoman dalam sikap, tindakan, dan perilaku seorang guru dalam menjalankan tugasnya.

Kode etik ini tidak hanya mengatur hubungan guru dengan peserta didik, tetapi juga dengan rekan sejawat, orang tua, masyarakat, serta institusi pendidikan secara keseluruhan.

B. Tujuan Kode Etik Guru

Tujuan kode etik guru adalah untuk memastikan bahwa setiap pendidik menjalankan tugasnya dengan tanggung jawab, profesionalisme, dan kesadaran etis. Berikut dibawah ini beberapa tujuan kode etik guru, yaitu :

1. Menjaga profesionalisme : kode etik membantu guru bersikap dan bertindak secara profesional dalam mengajar dan berinteraksi

2. Menjadi pedoman perilaku : memberikan arah bagi guru dalam bertindak etis terhadap peserta didik, rekan sejawat, orang tua, masyarakat, dan lembaga pendidikan

3. Melindungi hak dan kewajiban : melindungi hak-hak guru sekaligus menekankan tanggung jawab dan kewajiban moral yang harus dijalankan

4. Membangun kepercayaan publik : dengan mematuhi kode etik, guru menunjukkan integritas dan etika, yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru

5. Menjaga martabat profesi : membantu menjaga kehormatan dan citra positif profesi guru dimata publik.

(3)

C. Prinsip Etika Moral untuk Profesi Guru

Kalangan post-modernist menganggap bahwa nilai-nilai adalah sesuatu yang relatif, bahwa nilai berbeda antara komunitas satu dengan yang lain dan juga nilai akan berubah seiring berjalannya waktu. Atas dasar ini perlu dirumuskan nilai etika yang universal dan berlaku umum untuk seluruh individu yang menjalankan profesi mengajar. Prinsip etika moral untuk profesi guru dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu:

Etika terhadap ilmu pengetahuan

: 1. Integritas intelektual (intellectual integrity) 2. Integritas kejuruan (vocational integrity) 3. Keberanian Moral (moral courage)

Etika terhadap peserta didik

: 4. Mendahulukan kepentingan orang lain (altruism) 5. Tidak berpihak (Impartiality)

6. Memiliki Wawasan Kemanusiaan (Human Insight) 7. Memikul Tanggung Jawab Pengaruh (the Responsibility

of Influence)

Etika terhadap profesi : 8. Kerendahan Hati (Humility) 9. Kolegialitas (Collegiality) 10. Kemitraan (Partnership)

11. Tanggung jawab dan aspirasi profesi (Professional Responsibilities and Aspirations)

D. Manfaat Kode Etik Guru

Kode etik guru memberikan manfaat besar, baik bagi guru secara individu maupun bagi ekosistem pendidikan secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa manfaat utama kode etik guru, yaitu :

• Menjadi kompas moral dan profesional

• Menumbuhkan kepercayaan publik

• Melindungi hak peserta didik

• Menjaga hubungan profesional

• Meningkatkan kualitas pendidikan

• Mencegah dan menyelesaikan konflik

• Memperkuat identitas profesi guru

(4)

E. Mengapa Perilaku Guru Perlu Diatur?

Perilaku guru perlu diatur karena tanggung jawabnya tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga moral dan sosial. Kode etik menjadi pedoman agar guru tetap berada dalam jalur yang benar dan berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter peserta didik. Berikut alasan mengapa perilaku guru perlu diatur, yaitu :

• Guru Adalah Teladan (Role Model)

Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan tapi juga menjadi panutan sikap dan moral bagi peserta didik. Tanpa pedoman etik, guru bisa bertindak subjektif atau tidak profesional dalam menghadapi situasi sosial dan emosional dikelas.

• Menjaga Profesionalisme

Dengan aturan etik, guru dapat menjaga batas-batas profesional seperti dalam berinteraksi dengan peserta didik, orang tua, dan rekan sejawat.

• Melindungi Hak Peserta Didik Dan Guru

Kode etik memastikan guru bersikap adil, tidak diskriminatif, menjaga rahasia pribadi peserta didik, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.

• Meningkatkan Kepercayaan Publik

Masyarakat akan lebih menghormati profesi guru jika mereka yakin bahwa guru memegang teguh prinsip-prinsip moral dan etika dalam menjalankan tugas.

• Menghindari Penyalahgunaan Wewenang

Tanpa aturan, bisa muncul penyimpangan seperti pelecehan, kekerasan verbal, atau tindakan manipulatif yang merugikan peserta didik dan mencoreng nama baik sekolah.

F. Aksi Nyata : rancangan dalam menjalankan peran dalam membimbing anak-anak menjadi manusia yang berbudi pekerti mulia

Berikut adalah rancangan aksi nyata mengenai kode etik guru dalam menjalankan peran membimbing anak-anak menjadi manusia berbudi pekerti mulia, diformulasikan secara konsentris dengan guru sebagai pusatnya:

1. Untuk Diri Sendiri: Meningkatkan Integritas dan Profesionalisme

Sebagai guru, memahami dan menerapkan kode etik secara konsisten adalah langkah awal untuk menjadi teladan bagi peserta didik.

• Refleksi Kode Etik: Membuat jurnal harian untuk merefleksikan bagaimana prinsip-prinsip kode etik diterapkan dalam tindakan sehari-hari, seperti bersikap adil kepada semua peserta didik dan menjaga kerahasiaan peserta didik.

(5)

• Pengembangan Kompetensi: Mengikuti pelatihan atau seminar tentang pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai etis dalam pendidikan.

• Disiplin Diri: Menjaga sikap profesionalisme dengan datang tepat waktu, berpakaian sopan, dan berkomunikasi dengan bahasa yang santun.

• Peningkatan Spiritualitas: Melakukan aktivitas pribadi seperti meditasi, doa, atau membaca literatur yang memperkuat nilai moral dan etika.

2. Untuk Peserta Didik: Menciptakan Proses Pembelajaran yang Berkarakter

Melalui kode etik, guru wajib memastikan pembelajaran menjadi media yang membentuk budi pekerti peserta didik.

• Teladan Perilaku: Menunjukkan sikap jujur, sabar, dan empati dalam berinteraksi dengan peserta didik, baik dalam pembelajaran maupun kegiatan sehari-hari.

• Penguatan Nilai: Mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam materi pelajaran, misalnya menanamkan pentingnya tanggung jawab saat mengajarkan manajemen waktu atau kolaborasi saat mengerjakan proyek kelompok.

• Diskusi Etika: Membuka ruang diskusi di kelas mengenai dilema moral sederhana, sehingga peserta didik belajar berpikir kritis dan menilai tindakan berdasarkan prinsip etika.

• Penghargaan Karakter Positif: Memberikan apresiasi kepada peserta didik yang menunjukkan sikap berbudi pekerti, seperti kejujuran, kebaikan, atau kedisiplinan.

3. Untuk Sekolah: Membangun Budaya Sekolah Berbasis Kode Etik

Budaya sekolah yang kuat memperkuat pelaksanaan kode etik secara menyeluruh.

• Kode Etik Kolektif: Menginisiasi revisi atau penegasan kembali kode etik sekolah agar lebih relevan dengan tantangan masa kini dan melibatkan guru, peserta didik, serta orang tua dalam prosesnya.

• Kampanye Kode Etik: Mengadakan program rutin seperti "Pekan Kode Etik," di mana peserta didik dan guru bersama-sama mempraktikkan nilai-nilai seperti keadilan, kerja sama, dan tanggung jawab.

• Tim Pemantau Etika: Membentuk tim kecil yang terdiri dari guru dan peserta didik untuk mengawasi pelaksanaan nilai-nilai kode etik dalam kegiatan sekolah sehari- hari.

• Kegiatan Sosial Sekolah: Merancang kegiatan bakti sosial atau program lingkungan yang melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk menanamkan nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial.

(6)

REFLEKSI

Setelah mempelajari secara mendalam dan membuat poster tentang kode etik guru, saya mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pentingnya kode etik dalam profesi ini. Kode etik guru adalah panduan moral dan profesional yang harus dipegang teguh oleh setiap pendidik. Ia tidak hanya berfungsi sebagai aturan formal, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang mencerminkan tanggung jawab, integritas, dan komitmen seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Melalui proses pembelajaran ini, saya menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan hanya tentang mengajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik. Guru harus menjadi teladan, baik dalam perilaku, ucapan, maupun sikap. Kode etik guru mengajarkan saya untuk selalu bertindak adil, menghormati hak-hak peserta didik, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif serta menghargai keberagaman.

Pembuatan poster tentang kode etik guru menjadi pengalaman yang sangat bermakna.

Proses kreatif ini memaksa saya untuk menganalisis setiap poin dalam kode etik dan mencari cara terbaik untuk menyampaikan pesan tersebut secara visual. Ini bukan hanya melatih kreativitas saya, tetapi juga membuat saya lebih memahami isi dan esensi kode etik guru secara mendalam. Saya menyadari bahwa poster ini tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga sarana untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada rekan sejawat dan masyarakat luas.

Dalam hal ini, kode etik guru menjadi semacam kompas yang membantu saya tetap berada pada jalur yang benar, meskipun tantangan dan godaan dalam profesi ini terkadang berat.

Setelah melalui proses ini, saya semakin yakin bahwa kode etik guru bukan hanya sesuatu yang harus dipelajari dan dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, dan rasa hormat kepada semua pihak harus menjadi bagian dari karakter seorang guru. Saya juga belajar bahwa dalam profesi ini, komitmen untuk terus belajar dan mengembangkan diri adalah sebuah keharusan, karena hanya dengan terus belajar, kita dapat menjadi guru yang lebih baik untuk peserta didik kita.

Melalui refleksi ini, saya merasa terinspirasi untuk terus memperbaiki diri, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, dan menjadikan kode etik guru sebagai landasan dalam setiap langkah saya sebagai pendidik. Saya berharap dapat menjadi guru yang tidak hanya menginspirasi peserta didik untuk mencapai potensi terbaik mereka, tetapi juga menciptakan dampak positif di lingkungan sekolah dan masyarakat.

(7)

DOKUMENTASI

1. Poster Tentang Kode Etik Guru

2. Dokumentasi Dengan Rekan Sejawat

(8)

UMPAN BALIK DARI REKAN SEJAWAT

Proses merancang poster bersama rekan-rekan guru menjadi pengalaman kolaboratif yang menyenangkan.

Kami bisa saling berbagi sudut pandang mengenai kode etik guru dalam praktik sehari-hari. Selain memperkuat kekompakan tim, kegiatan ini membuat kami lebih peduli dan terbuka terhadap pentingnya menjaga profesionalisme di lingkungan sekokah.

Ihsan Sjarif, S.T (Guru Matematika)

Setelah saya mempelajari kode etik guru, saya merasa bahwa guru harus sadar betapa pentingnya memiliki pedoman etika yang jelas dalam menjalankan profesi guru.

Hal yang akan saya lakukan setelah ini adalah saya merasa perlu untuk lebih meningkatkan kesadaran diri tentang betapa pentingnya menjaga profesionalisme dan integritas dalam menjalan tugas sebagai guru.

Sumarno, S.Pd (Guru IPS)

Setelah saya mempelajari kode etik guru ini, saya merasa bahwa seorang guru harus menjalankan profesinya dengan integritas moral, tanggung jawab profesional, dan komitmen terhadap pengembangan peserta didik, masyarakat, dan dirinya sendiri. Hal yang yang akan saya lakukan setelah ini adalah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi nilai moral dan profesionalisme, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, terus mengembangkan diri, serta menjalin hubungan baik dengan seluruh pihak yang terkait dalam pendidikan.

Abdul Hakim, S.Pd.Ag (Guru Agama)

Referensi

Dokumen terkait

(2) Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya

Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya

Dosen dalam melaksanakan tugas profesinya dengan penuh pengabdian senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi nilai objektivit as, keadilan,

(2) Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan

045/U/2002 (Farida Sarimaya, 2008: 17) menyebutkan ‘Kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugas-tugas sesuai

Setiap Guru dan Pegawai harus bertanggung jawab atas pelajaran atau tugas pekerjaan yang sesuai dengan kurikulum atau bidang

 KEGI berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali

(2) Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan