Pendahuluan
Postur Pertahanan Negara adalah refleksi kekuatan negara dalam mempertahankan dirinya dan tersusun dalam keterpaduan kekuatan, kemampuan serta penggelaran sumber daya nasional yang ditata dalam sistem pertahanan negara. Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, Pasal 1 (satu) angka 1 (satu) mendefinisikan pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Pertahanan Negara merupakan kekuatan bersama (sipil dan militer) diselenggarakan oleh suatu negara untuk menjamin integritas wilayahnya, perlindungan dari orang dan/atau menjaga kepentingan-kepentingannya. Dengan demikian penyelenggaraan pertahanan negara harus mengacu pada tujuan mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah. Menurut Alexander, pertahanan suatu negara secara militer saat ini tidak hanya mengandalkan kekuatan pasukan atau man power saja, namun juga mengandalkan teknologi canggih alat utama sistem senjata (Alutsista) demi menjaga kedaulatan negara.1 Dalam penulisan esai ini penulis akan memberikan gambaran tentang postur angkatan bersenjata Republik Suriname yang termasuk dalam angkatan bersenjata terlemah di Dunia.
Republik Suriname (Surinam), dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Prancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.
Secara Geografi Daratan Suriname dibedakan menjadi tiga bagian yakni daerah pesisir/pantai, daerah sabana dan daerah dataran tinggi2. Luas wilayah Suriname
1 Alexander Bramantio Admojo Utomo, Skripsi: “Kontribusi Transfer Tekonologi Militer Dari Korea Selatan Kepada Indonesia Melalui Penandatanganan The Joint Declaration on Strategic Partnership”
2 Repulik Suriname diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suriname#Geografi pada tanggal 29 April 2021 pukul 21.03 WIB
sekitar 163.265 kilometer persegi dengan jumlah penduduknya sekitar 581.363 jiwa sesuai data tahun 2019. Berbicara terkait angkatan bersenjata suriname negara tergolong dalam daftar angkatan bersenjata terlemah di dunia. Kekuatan personel militer angkatan bersenjata Suriname saat ini mencapai 2.270 personel dengan 3 helikopter SAF303 HAL Chetak sebagai kekuatan udara dan armada laut yang super minim3. Angkatan Bersenjata bermarkas di Paramaribo. Kemudian tugas tentara nasional Suriname adalah mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriname dari agresi militer bersenjata asing. Ini berarti, pertahanan tidak hanya wilayah tetapi juga wilayah perairan dan wilayah udara di atasnya. Adapun sejarah singkat angkatan bersenjata Suriname. Diawali dengan didirikannya oleh pemerintah Belanda yakni Angkatan Bersenjata Belanda di Suriname atau Netherlands Armed Forces in Suriname (TRIS). Setelah kemerdekaan pada tahun 1975, pasukan ini diubah menjadi Surinaamse Krijgsmacht (SKM), pada tanggal 25 Februari 1980 sekelompok 15 perwira non-komisioner dan satu perwira junior di bawah kepemimpinan sersan mayor Desi Bouterse, melancarkan kudeta dan menggulingkan Pemerintah. Selanjutnya, SKM diganti namanya menjadi Nationaal Leger (NL) atau Tentara Nasional. Dalam penulisan ini penulis merumuskan masalah terkait mengapa angkatan bersenjata Suriname tergolong yang terlemah didunia? Selanjutnya untuk menjawab hal tersebut beberapa persoalan yang mengemuka adalah pertama, berapa besar anggaran Angkatan Bersenjata Suriname dihadapkan dengan Gross National Product (GNP) negara tersebut.
Kedua, bagaimana kemampuan dan kekuatan Angkatan Bersenjata negara Suriname dihadapkan dengan geografi negara tersebut. Ketiga, Gelar Angkatan Bersenjata Suriname dihadapkan dengan geografi. Keempat, Bagaimana Strategi Pertahanan Angkatan Bersenjata negara Suriname dihadapkan kemungkinan ancaman militer dari luar.
Memahami pokok persoalan diatas penulis akan mengupas beberapa permasalahan yang menyebabkan angkatan bersenjata negara Suriname tergolong dalam kategori negara dengan angkatan bersenjata terlemah di dunia. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka dan metode deskriptif analisis yaitu dengan memberikan gambaran dan analisa terhadap data dan fakta yang
3 15 Negara dengan Militer Terlemah di Dunia diakses dari https://www.matamatapolitik.com/ pada tanggal 29 April 2021 pukul 22.12 WIB
terjadi berdasarkan literasi yang ada. Nilai guna dari penulisan ini adalah agar pembaca mendapatkan informasi tentang kondisi postur angkatan bersenjata Suriname, sehingga dapat dijadikan ilmu pengetahuan sekaligus sebagai bahan pembanding dengan pembangunan postur TNI AD. Sedangkan tujuan penulisan ini adalah sebagai bahan masukan dan sumber informasi terkait kekuatan bersenjata negara Suriname. Dalam tulisan ini disusun dengan ruang lingkup Pendahuluan, Pembahasan dan Penutup.
Pembahasan
Global Firepower pada tahun 2021 merilis peringkat kekuatan militer dari 140 negara di dunia. Peringkat GFP diselesaikan menggunakan lebih dari 50 faktor untuk menentukan skor Indeks Kekuatan suatu negara (Power Index), dengan kategori mulai dari kekuatan militer dan keuangan hingga kemampuan logistik dan geografi.
2021 Military Strength Ranking menyatakan Suriname menempati peringkat 135 dari 140 negara. Gerry E. Hendershot dalam tulisannya “Population Size, Military Power and Antinatal Policy” mengungkapkan Jumlah penduduk dimasukkan sebagai salah satu indikator utama kekuatan militer. Laporan Global Fire Power mengungkapkan bahwa untuk menjadi negara yang kuat harus memiliki beragam aset tak hanya senjata dan tentara. Namun juga menyangkut populasi, letak geografi, sumber daya alam besar hingga fleksibilitas logistik. Semakin beragam aset yang dimiliki maka akan semakin memperkuat negara tersebut4. Dihadapkan dengan luas wilayah negara Suriname hanya mencapai 163.821 km² atau sebesar pulau jawa hal ini tentu berpengaruh terhadap pengembangan kekuatan angkatan bersenjata pemerintah Suriname. Selanjutnya jumlah penduduk negara tersebut mencapai 581.363 dengan jumlah usia produktif mencapai 61.84 % sehingga molibisasi sumberdaya manusia dalam rangka pembangunan kekuatan militer tidak maksimal.
Berapa besar anggaran Angkatan Bersenjata Suriname dihadapkan dengan Gross National Product (GNP) negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi Suriname sebagian besar tergantung pada ekspor aluminium oksida dan sejumlah
4 Yantina Debora - 19 Oktober 2017, Tirtoid “Kekuatan Militer Negara Tak Hanya Soal Jumlah Senjata” diakses dari https://tirto.id/kekuatan-militer-negara-tak-hanya-soal-jumlah-senjata-cxxe pada tanggal 1 Mei Pukul 20.08 WIB
kecil aluminium yang dihasilkan dari bauksit ditambang di negara itu. Namun saat ini, perekonomian bergantung pada ekspor minyak mentah dan emas Suriname. Salah satu tambang emas skala besar yang beroperasi di Suriname adalah Tambang Emas Rosebel. Pengembangan tambang skala besar kedua yang disebut Proyek Emas Merian telah disetujui oleh pemerintah Suriname pada 7 Juni 2013. Proyek penambangan ini akan menjadi kemitraan antara Newmont Mining Corporation dan Alcoa World Alumina and Chemicals. Merian berada sekitar 60 kilometer (40 mil) di selatan kota Moengo di Sungai Marowijne menduduki peringkat ke-124 tujuan investasi teraman di dunia dalam peringkat Risiko Negara Euromoney Maret 2011.
Kemudian Minyak yang merupakan sektor yang menjanjikan. Staatsolie, perusahaan minyak milik negara, memproduksi 16.200 barel (2.580 m 3) per hari pada tahun 2012. Staatsolie saat ini menyuling 7.350 barel (1.169 m 3) per hari di Tout Lui Faut di Distrik Wanica dan sedang membangun lebih banyak lagi kapasitas untuk mencapai 15.000 barel (2.400 m 3) sehari. Peningkatan atau pembaruan kekuatan militer penting dilakukan, tapi hal itu tentunya sulit bagi militer paling miskin di dunia, yang memiliki anggaran minim. Sedangkan anggaran pertahanan merupakan salah satu hal penting bagi sebuah negara, yang juga dapat menentukan kekuatan militer mereka. Seperti dalam peringkat kekuatan militer menurut Global Firepower, anggaran pertahanan termasuk yang menentukan skor PowerIndex ('PwrIndx') suatu negara. Dengan anggaran pertahanan yang mendukung, maka militer suatu negara dapat meningkatkan kualitasnya atau memperbarui peralatan tempur. Suriname berada di peringkat ke 129 dari 138 negara untuk anggaran pertahanannya tahun 2020. Negara yang merdeka pada 25 November 1975 ini memiliki anggaran pertahanan sebesar $ 67,4 juta atau Rp 950,3 miliar5. Di sektor udara, Suriname hanya memiliki 3 helikopter, sementara di darat hanya memiliki 66 kendaraan lapis baja. Sedangkan di laut, angkatan bersenjata dari negara yang memiliki 386 km garis pantai ini hanya dibekali 3 kapal patroli6.
5 Kompas.com “Inilah negara-negara dengan militer terlemah didunia diakses dari https://internasional.kompas.com/read/2019/04/06/11425151/ pada tanggal 1 Mei 2021 pukul 21.44 WIB
6 Khaerunisa - Senin, 23 November 2020 https://intisari.grid.id/read/032440019/anggaran- pertahanannya-sangat-minim-ini-10-militer-paling-miskin-di-dunia-salah-satunya-saudara-jauh- indonesia pada tanggal 2 Mei 2021 pukul 17.07 WIB
Untuk mewujudkan tujuan negara, setiap negara membutuhkan modal utama berupa kekuatam (power). “Power is often defined as the ability to get another actor to do what it would not otherwise have done”7. Maksudnya adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi dan mengontrol negara lain agar melakukan sesuatu yang diinginkan oleh negara yang bersangkutan. Guna mendapatkan kekuatan, setiap negara harus memiliki sumber-sumber kekautan yang dapat menjadi tolak ukur bagi negara tersebut untuk menerapkannya dengan negara lain. Sumber- sumber yang dimaksud adalah potensi yang dimiliki oleh sebuah negara dan pengembangan atas potensi tersebut dalam bentuk kekuatan nasional.
Morgenthau (1990) berpendapat bahwa kekuatan nasional tidak timbul dengan sendirinya, melainkan ada beberapa komponen yang menjadi sumber dan faktor penting terbentuknya kekuatan tersebut, yaitu; (1) Faktor geografi yang menentukan strategi politik dan militer. Bentang wilayah dapat menjadi sumber kekuatan besar permanen yang menghalangi usaha penaklukan secara militer dari luar; (2) Sumber daya alam yang meliputi bahan pangan untuk supply kebutuhan dalam negerinya dan bahan baku sebagai penopang industri dan pengembangan teknologi perang; (3) Kapasitas industri yang bergantung pada kualitas dan kapasitas produksi peralatan-peralatan industri, pengetahuan teknis para buruh, keterampilan para insinyur, kecemerlangan pemikiran inventif para sarjana serta tingkat organisasi manajemen. Besarnya industri nasional dan kapasitas teknologi menentukan hirarki dari kekuatan yang dimiliki oleh negara-negara; (4) Kesiapsiagaan militer yang mendukung kebijaksanaan luar negeri. Kesiapsiagaan militer bergantung pada inovasi teknologi, kepemimpinan yang memiliki inovasi strategi dan taktik yang baik, serta kuantitas dan kualitas angkatan bersenjata; (5) Kependudukan, kuantitas dan kualitas penduduk berpengaruh dalam kekuatan nasional. Penduduk yang banyak memungkinkan pengisian lapangan pekerjaan yang bermacam-macam untuk membangun kekuatan nasional; (6) Karakter nasional yang banyak menampilkan keutamaan intelektual dan moral, contohnya sifat keras dan tekun orang Rusia, sifat berakal sehat dan tidak dogmatis orang Inggris serta sifat mandiri dan inovatif orang Amerika; (7) Semangat nasional dalam mendukung politik luar negeri pemerintahan negaranya pada masa damai atau perang; (8) Kualitas diplomasi yang baik dalam
7 Chatturverdi.J.C. 2005, India Isha Books “Political Governance :Comparative Politics” h. 160
penanganan masalah politik luar negeri; (9) kualitas pemerintahan yang baik disertai dengan dukungan rakyat yang maksimal. Dihadapkan dengan beberapa hal tersebut kekuatan nasional negara Suriname masih sangat jauh terbelakang untuk mengembangkan kekuatan angkatan bersenjata negara tersebut
Selanjutnya bagaimana kemampuan dan kekuatan Angkatan Bersenjata negara Suriname dihadapkan dengan geografi negara tersebut. Pada November 2012, Kementerian Pertahanan dan Urusan Dalam Negeri Suriname membeli tiga kapal patroli dari perusahaan Prancis Ocea untuk Penjaga Pantai. Pesanan tersebut senilai 16 juta euro. Kapal patroli ini akan digunakan untuk perlindungan perikanan dan serangan balik perompakan di perairan Suriname. Pertama, Kapal Patroli Cepat (P201), Kapal tersebut bisa mencapai kecepatan 30 knot. Pengiriman kedua kapal yang tersisa (P101 & P102), jenis FPB 72 (panjang 24 meter), pada akhir Juli 20138. Hal ini merupakan upaya Pemerintah Suriname dalam rangka mempercepat perencanaan untuk mendirikan penjaga pantai untuk Suriname yang akan dikerahkan untuk melakukan tugas patroli dan memerangi kegiatan kejahatan maritim seperti penangkapan ikan illegal, perdagangan narkoba, dan pembajakan diperairan laut Suriname. Selain itu untuk mengamankan wilayah laut teritori Suriname sejak putusan pengadilan arbitase Internasional. Pengadilan tersebut memberikan kedaulatan atas seluruh wilayah Courantyne ke Suriname9. Dihadapkan dengan kondisi demografi negara tersebut tentunya mengalami kesulitan dalam hal membangun kekuatan militer oleh karena itu upaya lain yang dilakukan adalah membangun kerjasama bilateral dengan beberapa negara di kawasan maupun di tingkat global. Untuk meningkatkan angkatan bersenjata Suriname dalam rangka mewujudkan tujuan negara dihadapkan dengan kondisi geografi, demografi dan sumber daya nasional yang sangat terbatas cukup sulit.
Disatu sisi kebijakan politik luar negeri Suriname menjadi anggota Non Blok untuk mengimbangkan kekuatan militer dengan negara-negara lain sulit bahkan tidak akan terjadi.
8 Diakses dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Suriname_National_Army pada tanggal 3 Mei 2021 pukul 16.32 WIB
9 Permanent Court of Arbitration - Guyana/SurinameArchived 2013-02-08 at the Wayback Machine diakses dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Borders_of_Suriname pada tanggal 3 Mei 2021 pukul 17.22 WIB
Balance of Power atau perimbangan kekuatan ialah gagasan yang sangat sering digunakan dalam membahas pengembangan kekuatan suatu negara. Hal ini dapat tempuh jika negara tersebut mempunyai nilai tawar yang tinggi. Suriname dengan sumber daya minyak dan emas dapat dimanfaatkan untuk menentukan posisi tawar tersebut. Sehingga pengembangan kekuatan militer dapat dicapai dengan menggunakan pendekatan perimbangan kekuatan. Balance of Power menggambarkan bagaimana negara-negara saling berinteraksi dan saling mengimbangi dalam hal kekuataan. Balance of Power pertama kali di perkenalkan oleh Ernst Haas pada tulisannya The Balance of Power: Prescription, Concept, or Propaganda dalam jurnal World Politics. Dalam jurnal tersebut Ernst Haas menyebutkan bahwa Balance of Power mempunyai banyak artian10, yaitu pertama Balance dalam artian distribution of power Haas menyebutkan bahwa para negarawan ketika mengatakan “balance of power has shifted” yang dimaksud ialah lawan dari negaranya telah meningkatkan kekuatannya. Kedua, Balance dalam artian equilibirium ialah formulasi antar kekuatan eksternal dan international antar negara yang bersaing atau aliansi negara yang setara. Ketiga, Balance dalam artian hegemony, yang mengatakan bahwa negara-negara bukanlah mencari kesimbangan tapi hegemoni. Tidak ada keamanan yang nyata selain negara kuat yang mempunyai potensi sebagai musuh. Yang dimaksud keamanan ialah ketika kekuatan negara lain lebih kecil. Keempat, Balance dalam artian stability and peace, para pemikir dunia ideal tidak bermaksud mengartikan Balance of Power sebgai metode untuk menciptakan kondisi yang stabil dan damai, tetapi stabil dan damai itu sendiri lah Balance of Power. Kelima, Balance dalam artian instability and war, hal ini merupakan kontras dari sebelumnya. Balance of Power ialah perang, sedangkan damai identik dengan menyelesaikan seluruh isu yang ada dengan moral, ekonomi, dan ciri etnografi. Keenam, Balance dalam artian power politics. Kekuasaan ialah kekuasaan murni dari politik atau yang disebut dengan Real Politic, dan Balance of Power telah bergabung menjadi satu konsep, konsep tentang negara yang bertahan dalam kompetitifnya dunia international akan permintaan menggunakan kekuasaan tanpa hambatan oleh pertimbangan moral. Ketujuh, Balance dalam artian universal law of history. Apa yang dimaksud dengan Balance of Power ialah manifistasi insting primitif dari self defence yang menggabungkannya dengan seluruh urusan manusia,
10 Haas. Ernst B. “The Balance of Power: Prescription, Concept, or Propaganda” World Politics Vol.
5, No. 4 (Jul., 1953), pp. 442-477 (36 pages) Published By: Cambridge University Press
bangsa dan international dan kedelapan, Balance dalam artian system and guide to policy making, ialah hanya equilibrium dalam kekuatan dalam ikatan anggota keluarga negara-negara yang akan membatasi mereka, ketika mereka menjadi kuat dan akan memaksakan kehendaknya ke pihak lain.
Gelar Angkatan Bersenjata Suriname dihadapkan dengan geografi.
Angkatan Bersenjata Nasional Suriname sekitar 2.500 personel, yang sebagian besar di satuan Angkatan Darat Suriname. Angkatan Bersenjata bermarkas di Ibukota Suriname yakni Paramaribo
Adapun beberapa instalasi militer seperti barak dan detasemen di berbagai distrik termasuk Memre Boekoe Kazerne (Paramaribo), pangkalan Angkatan Laut (distrik Wanica), pangkalan Angkatan Udara Luma (Zorg en Hoop, Paramaribo), pusat pelatihan untuk rekrutan yaitu Barak Ayoko dan detasemen Zanderij, pos perbatasan timur, Akontoe Velantie Kazerne di Albina, di Nickerie pos perbatasan barat, Profesor Dr. Ali Kazerne dan di Jalan Tol Kennedy ke Concordia Sersan Martowidjojo Kazerne ke-1. Ada juga berbagai detasemen dan yang disebut unit kecil di seluruh Suriname di distrik Sipaliwini, Saramacca, Brokopondo dan Para.
Tugas pengamanan tempat-tempat penting seperti Afobakkadam atau jembatan di atas Sungai Coppename merupakan tugas Tentara Nasional Suriname. Dengan luas yang relatif kecil sehingga gelar kekuatan Nasional lebih banyak berada di sekitar Ibukota Negara.
Penutup
Postur Pertahanan Negara sangat diperngaruhi oleh hakekat ancaman yang secara actual dan potensial yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.
Timbulnya berbagai tantangan tersebut menjadi perhatian pembangunan postur pertahanan negara. Kondisi geografi, demografi dan sumber daya nasional menjadi faktor utama lemahnya postur angkatan bersenjata Republik Suriname.
Pengembangan postur angkatan bersenjata identik dengan perimbangan kekuatan militer Balance of Power. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan postur angkatan bersenjata dapat ditempuh melalui dua cara, yakni 1) pengembangan dengan menggunakan kekuatan ekonomi negara tersebut, dan 2)
pengembangan dengan membentuk aliansi dengan negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap negara-negara lain.
Pelajaran (Lesson learned) yang dapat diambil dari tulisan ini adalah menurut Laporan Global Fire Power mengungkapkan bahwa untuk menjadi negara yang kuat harus memiliki beragam aset tak hanya senjata dan tentara. Namun juga menyangkut populasi, letak geografi, sumber daya alam besar hingga fleksibilitas logistik. Semakin beragam aset yang dimiliki maka akan semakin memperkuat negara tersebut11. Bangsa Indonesia telah diwarisi sumber daya alam yang demikian kayanya sehingga sebagai aset ketahanan nasional, selanjutnya bonus demografi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah merupakan aset untuk membangun perimbangan kekuatan sehingga bangsa Indonesia dapat menjadi Negara Indonesia Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur sesuai visi Indonesia Emas Tahun 2045.
Akhir kata, pengembangan dan pembangunan postur angkatan bersenjata suatu negara adalah mutlak dilakukan jika ingin negara tersebut damai. Berkaitan dengan hal tersebut rekomendasi ingin penulis sampaikan adalah untuk mewujudkan tujuan nasional pemerintah perlu memprioritaskan pembangunan untuk mencapai ketahanan nasional melalui pengembangan postur angkatan bersenjata Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam hal ini adalah Tentara Nasional Indonesia. .
11 Yantina Debora - 19 Oktober 2017, Tirtoid “Kekuatan Militer Negara Tak Hanya Soal Jumlah Senjata” diakses dari https://tirto.id/kekuatan-militer-negara-tak-hanya-soal-jumlah-senjata-cxxe pada tanggal 1 Mei Pukul 20.08 WIB
REFERENSI
1. Alexander Bramantio Admojo Utomo, Skripsi: “Kontribusi Transfer Tekonologi Militer Dari Korea Selatan Kepada Indonesia Melalui Penandatanganan The Joint Declaration on Strategic Partnership”
2. Repulik Suriname diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suriname#Geografi pada tanggal 29 April 2021 pukul 21.03 WIB
3. 15 Negara dengan Militer Terlemah di Dunia diakses dari https://www.matamatapolitik.com/ pada tanggal 29 April 2021 pukul 22.12 WIB
4. Yantina Debora - 19 Oktober 2017, Tirtoid “Kekuatan Militer Negara Tak Hanya Soal Jumlah Senjata” diakses dari https://tirto.id/kekuatan-militer-negara-tak-hanya-soal- jumlah-senjata-cxxe pada tanggal 1 Mei Pukul 20.08 WIB
5. Kompas.com “Inilah negara-negara dengan militer terlemah didunia diakses dari https://internasional.kompas.com/read/2019/04/06/11425151/ pada tanggal 1 Mei 2021 pukul 21.44 WIB
6. Khaerunisa - Senin, 23 November 2020 https://intisari.grid.id/read/032440019/anggaran- pertahanannya-sangat-minim-ini-10-militer-paling-miskin-di-dunia-salah-satunya-saudara-jauh-indonesia
pada tanggal 2 Mei 2021 pukul 17.07 WIB
7. Chatturverdi.J.C. 2005, India Isha Books “Political Governance :Comparative Politics” h. 160
8. Haas. Ernst B. “The Balance of Power: Prescription, Concept, or Propaganda”
World Politics Vol. 5, No. 4 (Jul., 1953), pp. 442-477 (36 pages) Published By:
Cambridge University Press
9. Diakses dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Suriname_National_Army pada tanggal 3 Mei 2021 pukul 16.32 WIB
10. Permanent Court of Arbitration - Guyana/SurinameArchived 2013-02-08 at the Wayback Machine diakses dari https://en.m.wikipedia.org/wiki/Borders_of_Suriname pada tanggal 3 Mei 2021 pukul 17.22 WIB