ESSAY EVOLUSI PERSPEKTIF SAINS DAN AGAMA
Nama: Savira Puji Lestari Nim: 1217020077
PENDAHULUAN
Sains memiliki tinjauan makna yang bersifat umum sekaligus khusus. Sains dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan. Selain itu sains dapat bermakna khusus sebagai ilmu pengetahuan alam, yaitu pengetahuan alam yang sistematik mengenai botanı, zoologı, kimia, geologi, dan lainnya. Sains sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu science yang berarti pengetahuan mengenai struktur dan tingkah laku dari alam dan dunia yang fisık, berdasarkan fakta yang dapat dibuktikan seperti dengan percobaan. Makna science pada berbagai kamus lebih banyak bersifat konseptual yang mengacu seperti hal di atas.
Teori Evolusi yang mungkin saat ini sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sehingga muncul lah perbedaan pengertian mengenai evolusi yang berada di lingkungan agama dan sains.
Sains Islam secara khusus dapat didefinisikan sebagai aktifitas saintifik atau ilmiah yang memiliki dasar atau berpedoman pada Islamic worldview. Tentunya dalam pencapaian kegiatan saintifik ilmiah ini, Islam juga menekankan adanya sumber-sumber dan metode ilmu tersebut. Islam memandang sains yang bersifat fisik tidak hanya pada tataran lahiriyah saja, namun juga adanya tujuan, kebenaran, dan pengakuan wahyu sebagai satu-satunya suber ilmu tentang realitas dan kebenaran yang terkait dengan makhluk dan khaliknya. Artinya, dalam melakukan kegiatan saintifik, para ilmuwan muslim yang berpedoman al-Qur'an dan Hadits akan dapat melahirkan produk sains yang membawa maslahat bagı kehidupan manusia, baik jangka panjang maupun jangka pende
PEMBAHASAN
Dr Hamim, Pakar IPB University dari Departemen Biologi FMIPA sebagai narasumber menjelaskan terkait teori evolusi dalam perspektif ayat-ayat Al-Quran beserta pandangan ulama. Ia menjelaskan bahwa manusia sebagai ulul albab mestinya senantiasa berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Pemikiran tersebut merupakan wujud dari implementasi keyakinan bahwa penciptaan Allah SWT tidak akan sia-sia.
Teori evolusi yang pertama kali dikonsepkan Darwin disebutkan sebagai kerangka dasar proses evolusi yang berjalan hingga saat ini. Bahkan percobaan Stanley- Miller menyimpulkan bahwa alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya. Teori-teori tersebut mengundang banyak pro dan kontra bahkan mengundang penolakan bukan hanya dari pemeluk Islam karena tidak selaras dengan nilai islam. Tentunya, teori-teori sains tersebut akan selalu berkembang sehingga kebenarannya tidak mutlak.
Kebenaran yang mutlak hanya berasal dari ketetapan Allah SWT dimana segala hal yang terjadi di muka bumi akan mutlak terjadi atau sesuai takdir. Bahkan, dari segi biologi molekuler, susunan gen tercatat dengan sangat rinci sehingga membuktikan bahwa hukum alam dari Allah SWT mutlak sifatnya.
Catatan penting dari teori evolusi tersebut bahwa tak hanya menyorot aspek penciptaan manusia namun juga seluruh makhluk hidup. Disimpulkan bahwa berdasarkan ayat-ayat Al-Quran maupun pandangan ulama, teori tersebut sarat muatan materialisme.“Pandangan atau teori tersebut memang tidak dapat dikatakan berbahaya karena pada akhirnya akan tetap mengarah kepada ketetapan Allah SWT yang bersifat mutlak,” imbuhnya.
Periode evolusi yang begitu panjang dari prokariota hingga manusia sudah dibuktikan berdasarkan keberadaan fosil dan catatan geologis lainnya. Ia menambahkan bahwa sebagai seorang yang beriman, umat muslim semestinya yakin akan ketetapan Allah SWT bahwa keberagaman makhluk hidup telah ditentukan takdir. Sekuens evolusi yang terjadi sejatinya merupakan gambaran luar biasa dari Allah SWT untuk mengawali kerangka berpikir bahwa semua hal niscaya terjadi sesuai kehendak-Nya. Begitu pula dengan penciptaan manusia, seringkali manusia menafikan efek keajaiban terutama dengan adanya teori evolusi.
Salahuddin El Ayyubi, Lc MA Dosen IPB University dari Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen menyebutkan bahwa proses penciptaan makhluk hidup terutama manusia telah terbukti dalam AL-Quran.
Sains menginformasikan bahwa kehidupan di bumi bermula dari air, dalam Al Quran penciptaan makhluk hidup dari air tersebut telah disebutkan dalan Surah Al- Anbiya ayat 30. Dari ayat tersebut menghasilkan tiga penafsiran yakni Allah SWT menciptakan makhluk hidup dari air, segala kehidupan di bumi dijaga oleh air dan Allah SWT menjadikan segala sesuatu di air menjadi hidup.
Berdasarkan Surah An-Nur ayat 45, dijelaskan pula penciptaan makhluk hidup dari air sehingga membuktikan bahwa teori-teori sains akan selalu terkait dengan kehendak Allah SWT. Bahkan proses penciptaan manusia pun berawal dari pencampuran air yakni air mani antara perempuan dan laki-laki. Namun proses tersebut sangat panjang karena Allah menciptakan manusia sebagai mahkluk paling sempurna di alam semesta. Pertanyaan akan definisi evolusi yang hanya diterjemahkan sebagai perubahan mungkin saja benar. Namun, penciptaan manusia merupakan kehendak Allah SWT yang paling berbeda dibandingkan penciptaan makhluk hidup lainnya. Sehingga pandangan teori Darwin bahwa manusia berasal dari kera sangat bertolakbelakang dengan nilai Islam.
Pada tahun 1890-an ketika fosil manusia Jawa (pithecanthropus erectus) ditemukan. Kebuntuan itu akhirnya terpecahkan ketika fosil manusia itu berhasil diindentifikasi, kemudian dinilai begitu dekat dengan manusia modern dan Neanderthal namun ciri fisik lain masih dinilai dekat juga dengan kera, sehingga pada akhirnya manusia Jawa ini dianggap sebagai perantara antara manusia dan kera. Penguat dan pembelaan terhadap teori evolusi ini juga kembali datang dari Thomas Henri Huxley yang menunjukkan bahwa struktur anatomi manusia sangatlah dekat dengan struktur anatomi kera. Pandangan Huxley itu secara lengkap dapat dilihat di dalam bukunya Evidence as to Man’s Place in Nature. Sebenarnya telah dibuktikan bahwa adalah mustahil apabila sel hidup yang pertama - atau bahkan satu saja
dari berjuta-juta molekul protein dalam sel itu - dapat muncul atas faktor kebetulan.
Ini bukan saja ditunjukkan melalui berbagai percobaan dan pengamatan, melainkan juga melalui perhitungan probabilitas secara matematis. Dengan kata lain, evolusi gugur di langkah pertama: yaitu dalam menjelaskan kemunculan sel hidup yang pertama. Sel, satuan terkecil makhluk hidup, tidak mungkin muncul secara kebetulan dalam kondisi primitif tanpa kendali di saat Bumi masih muda - seperti yang dipaksakan kaum evolusionis kepada kita agar percaya. Jangankan dalam kondisi demikian, dalam laboratorium tercanggih di abad ini sekali pun, hal itu mustahil terjadi. Asam-asam amino, yaitu satuan pembentuk berbagai protein penyusun sel hidup, tak mampu dengan sendirinya membentuk organel-organel di dalam sel seperti mitokondria, ribosom, membran sel, ataupun retikulum endoplasma - apalagi membentuk sebuah sel yang utuh. Oleh sebab itu, pernyataan bahwa sel Pertama terbentuk secara kebetulan melalui proses evolusi, hanyalah hasil rekaan yang sepenuhnya didasarkan pada daya khayal.
Sel hidup, yang sampai kini masih mengandung banyak rahasia, adalah satu di antara sekian banyak kesulitan utama yang dihadapi teori evolusi.
Dilema mengkhawatirkan lainnya (dari sudut pandang evolusionis) adalah molekul DNA yang terdapat di dalam inti sel hidup, sebuah sistem kode yang terdiri dari 3,5 miliar satuan berisi semua rincian makhluk hidup. DNA pertama kali ditemukan melalui kristalografi sinar-X pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dan merupakan sebuah molekul raksasa dengan rancangan yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, Francis Crick, pemenang hadiah Nobel, meyakini teori evolusi molekuler. Namun pada akhirnya, ia sendiri pun harus mengakui bahwa molekulyang begitu rumit tak mungkin muncul dengan sendirinya secara tiba-tiba karena kebetulan, sebagai hasil dari sebuah proses evolusi:
Seseorang yang jujur, dengan pemahaman keilmuan yang ada sekarang, saat ini hanya dapat menyatakan bahwa asal mula kehidupan nampak bagaikan sebuah keajaiban.
PENUTUP KESIMPULAN
Penemuan penemuan di bidang ilmiah selalu menunjukkan bukti-bukti yang menentangnya. Semakin diteliti, semakn banyak bukti yang menunjukkan penciptaan yang sempurna, dan kian dipahami bahwa kemunculan makhluk hidup dan vanasinya akibat faktar kebetulan adalah mustahil. Setiap penelitian mengungkapkan bukti baru akan adanya rancangan pada makhluk hidup, sehingga fakta penciptaan semakin jelas. Sejak masa Darwin, setiap dasawarsa yang berlalu kan mengungkapkan kebdakabsahan teon evolusi. Singkatnya, kemajuan teknologi tidak mendukung teori evolusi. Oleh sebab itu, Tidak benar apabila dikatakan bahwa evolusi adalah sesuatu yang belum bisa dijawab atau diterangkan oleh ilmu pengetahuan. Juga tidak benar bahwa evolusi bisa dibuktikan di masa yang akan datang,