• Tidak ada hasil yang ditemukan

fenomena pernikahan dini di lingkungan perkotaan dan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "fenomena pernikahan dini di lingkungan perkotaan dan"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

Terjadinya Perkawinan Dini di Lingkungan Perkotaan dan Perdesaan di Kabupaten Ponorogo dalam Kajian Sosiologi Hukum (Studi Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo). Tesis. Dari tahun 2020 hingga 2021, statistik Pengadilan Agama Ponorogo menunjukkan kasus pernikahan dini terbanyak terjadi di Kecamatan Ngrayun.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat tentang perbandingan fenomena pernikahan dini di dua objek daerah tertentu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan evaluasi bagi pemerintah dan pihak terkait mengenai fenomena pernikahan dini dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga pemerintah dan pihak terkait dapat menyusun strategi untuk melakukan evaluasi kasus. pernikahan dini di Kabupaten Ponorogo khususnya di Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo.

Telaah Pustaka

Kedua, Syahreni dengan tesis berjudul “Pengkajian Sosiologis Faktor Penyebab Banyaknya Pernikahan Usia Dini di Desa Gatareng Kecamatan Mariowawo Kabupaten Soppeng”, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif lapangan. 14Syahreni, “Survei Sosiologis Faktor Penyebab Banyaknya Pernikahan Dini Di Desa Gatareng Kecamatan Mariowawo Kabupaten Soppeng”, Skripsi (Makassar: UIN Alauddin, 2019), 7.

Kajian Teori

Tinjauan Umum Tentang Pernikahan a. Pengertian Pernikahan

26 Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun. 1974 tentang Perkawinan, Pasal 1. Pernikahan memperjelas ikatan suci. Kemudian undang-undang perkawinan menjelaskan, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi antara lain agar dapat menikah.

Tinjauan Umum Tentang Sosiologi Hukum dan Budaya Hukum a. Pengertian Sosiologi Hukum

Budaya hukum yaitu gagasan, nilai, pemikiran, pendapat dan perilaku anggota masyarakat dalam menerapkan hukum. Hadikusuma mengatakan budaya hukum adalah tanggapan umum yang sama dari masyarakat tertentu terhadap fenomena hukum. Budaya hukum menunjukkan sikap dan perilaku manusia terhadap persoalan hukum dan peristiwa hukum dalam masyarakat.

Friedman, seorang sosiolog hukum dari Stanford University menjelaskan bahwa budaya hukum merupakan unsur dari sikap dan nilai sosial, oleh karena itu disebut sebagai penggerak sistem hukum. Budaya hukum merupakan unsur sikap dan nilai-nilai sosial, oleh karena itu kita menyebutnya sebagai penggerak sistem hukum.

Metode Penelitian

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari lapangan berupa wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data menurut model Miles dan Huberman. Reduksi data adalah kegiatan meringkas, memilih dan memilah hal-hal yang paling penting, memfokuskan pada poin-poin penting dan mencari pola atau tema dari data yang diperoleh setelah pengumpulan data di lapangan.

Dalam mereduksi data, peneliti berpedoman pada teori dan tujuan penelitian.82 Dengan mereduksi data, peneliti akan lebih mudah mengklasifikasikan data mana yang penting dan sangat diperlukan untuk penelitian. Penyajian data adalah kegiatan menyajikan data yang telah dikumpulkan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan lain-lain.

Sistematika Pembahasan

BAB II Data Pembanding Bab ini akan menjelaskan tentang data pembanding yaitu terjadinya pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun, termasuk faktor dan pengaruh terjadinya, yang diperoleh dari hasil wawancara atau observasi, yang diperoleh berdasarkan teknik pengolahan data tertentu. . BAB III Data Pembanding Pada bab ini akan menjelaskan mengenai data pembanding yaitu terjadinya pernikahan dini di Kabupaten Ponorogo beserta faktor dan pengaruh terjadinya, yang diperoleh dari hasil wawancara atau observasi yang diperoleh berdasarkan data tertentu. teknik pengolahan. BAB IV, Analisis Komparatif Pada bab ini peneliti menjelaskan analisis untuk menemukan persamaan dan perbedaan antara perbandingan dan perbandingan sesuai dengan topik yang peneliti hadapi.

BAB V Penutup bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dibahas oleh peneliti. Kesimpulan penting untuk ditulis karena berfungsi untuk menyajikan hasil akhir atau temuan penelitian yang merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian.

Profil Wilayah Kecamatan Ngrayun 1. Sejarah Berdirinya Kecamatan Ngrayun

Maka untuk mengenang kedua bersaudara itu, masyarakat menamai daerah tempat tinggal Mbah Laung sebagai Slahung, dan tempat tinggal adiknya, Mbah Rayut, disebut Ngrayun.89. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan tukang kebun, sehingga tidak heran jika kecamatan ini menjadi salah satu pemasok hasil pertanian antara lain singkong, jagung, lengkuas, kunyit, kancuri, jahe, temulawak dan rempah-rempah lainnya. Kecamatan ini juga memiliki kebun buah-buahan, antara lain pisang, mangga, durian, dan pepaya.

Faktor Yang Melatarbelakangi Pernikahan Dini di Kecamatan Ngrayun

Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari pelaku itu sendiri, dimana para pelaku pernikahan dini beranggapan bahwa dengan menikah mereka akan bebas mengatur kehidupannya dan terlepas dari aturan orang tuanya sendiri. Apalagi pada keluarga yang menikah di usia dini, inilah alasan mengapa orang tua menikahkan anak perempuannya di usia yang masih sangat muda. Hasil wawancara faktor ini merupakan penyebab paling dominan dari fenomena pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun.

Menurut informan, orang tua juga berpengaruh terhadap terjadinya pernikahan dini, orang tua biasanya tidak ingin nama baik keluarganya tercoreng karena khawatir putrinya akan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Selain itu, pola asuh orang tua cenderung mengalah dan menerima apa yang diinginkan atau diputuskan oleh anaknya.

Dampak Pernikahan Dini Di Kecamatan Ngrayun 1. Perceraian

Kebanyakan pelaku pernikahan dini akan membantu kegiatan orang tuanya di kebun, sawah dan ladang sambil menunggu panen yang relatif lama dan tidak dapat diprediksi, apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai panen berikutnya atau tidak. Jika dijelaskan faktor pernikahan dini bahwa salah satu alasan orang tua menikahkan anaknya adalah untuk mengurangi beban, hal ini justru menimbulkan masalah baru. Karena kebetulan setelah akad nikah, mereka akan tinggal serumah dengan salah satu orang tuanya.

Apalagi jika mereka sudah dikaruniai anak, biaya melahirkan, biaya merawat bayi bahkan segala macam acara penting untuk sang buah hati mau tidak mau harus ditanggung oleh biaya orang tua. Hal ini tentunya secara tidak langsung turut menambah tanggung jawab orang tua bagi mereka yang menikah dini, mengingat sebagian besar latar belakang keluarga pelaku pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun adalah masyarakat ekonomi rendah.

Gambaran Umum Kecamatan Ponorogo 1. Sejarah Berdirinya Kecamatan Ponorogo

Kecamatan Ponorogo merupakan daerah dataran rendah dengan kategori perkotaan, sehingga kecamatan ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian Kabupaten Ponorogo. Dengan luas yang telah dijelaskan di atas, kecamatan ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 77.224 jiwa pada tahun 2022, dengan rincian 38.355 laki-laki dan 38.863 perempuan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kecamatan yang menjadi pusat pergerakan ekonomi di Kabupaten Ponorogo ini merupakan kecamatan yang sangat strategis dan terdapat banyak fasilitas umum yang mudah dijangkau seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan dan lembaga pendidikan.

Faktor Yang Melatarbelakangi Pernikahan Dini Di Kecamatan Ponorogo

Perkembangan fisik yang begitu pesat pada generasi muda di Kabupaten Ponorogo berdampak pada terjadinya pernikahan dini. Orang tua terlalu sibuk bekerja seharian di kantor dan lain sebagainya, jarang memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anak, sehingga anak menjadi lepas kendali akibat lemahnya pengawasan. Kurangnya kasih sayang dari orang tua akibat perceraian juga menjadi alasan para remaja menikah dini.

Seperti yang diungkapkan oleh informan yaitu Sdri. Zaenuri sebagai Kepala KUA Kabupaten Ponorogo. Dan juga anak-anak yang orang tuanya terlalu sibuk dan sering tidak ada di rumah.

Dampak Pernikahan Dini Di Kecamatan Ponorogo 1. Perceraian

Salah satu kemungkinan terbesar adalah perceraian, karena mereka tidak memiliki kesiapan mental dan sebagainya untuk menghadapi perjalanan keluarga yang mereka sayangi.”118. Kurangnya kemandirian yang dimaksud adalah para pelaku perkawinan yang belum dewasa, dapat dipastikan masih kurang pengalaman dan pengetahuannya, sehingga dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya masih didorong oleh orang tuanya. Dan apalagi setelah menikah saya punya anak, tentu saya tidak punya ilmu dan disposisi untuk mengasuh anak, kalau ada orang tua yang baik, saya bisa dibantu dalam mengasuh anak, kadang ketika anak saya menangis saya mengeluh. atau bahkan menangis tidak akan berhenti, aku bingung kakak, dia menghiburnya dengan membenci diri sendiri.

Terlepas dari settingnya, pernikahan dini berdampak signifikan terhadap hak mereka untuk mengakses pendidikan, meskipun ada program pemerintah untuk wajib belajar selama 12 tahun dan tidak ada pembatasan pendidikan bagi anak-anak yang menikah, pada kenyataannya pernikahan dini. dapat dikatakan bahwa mereka kehilangan kesempatan untuk mengakses pendidikan sebagaimana mestinya, dan satu-satunya pilihan yang akan mereka ambil adalah menerima pendidikan sistem pelacakan paket. Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo di.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pernikahan dini di lingkungan Kecamatan Ngrayun dan Kecamatan Ponorogo pada

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo dapat dipahami bahwa budaya hukum pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo terbentuk karena kedua wilayah tersebut memiliki kesamaan faktor sebagai berikut. Wajar jika terjadi peningkatan fenomena pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun dan Ponorogo karena adanya perubahan undang-undang yang mengatur batas usia menikah. Kemudian terdapat perbedaan budaya hukum dalam fenomena pernikahan dini di kabupaten Ngrayun, dengan rincian singkatnya seperti dibawah ini.

Menurut hasil wawancara yang disampaikan oleh Kantor Urusan Agama Kabupaten Ngrayun, salah satu pendorong pernikahan dini di kabupaten tersebut adalah tingkat ekonomi masyarakat. Dampak yang ditimbulkan dari munculnya pernikahan usia dini di Kecamatan Ngrayun dan Kabupaten Ponorogo di.

Dampak yang ditimbulkan atas terjadinya pernikahan dini di lingkungan Kecamatan Ngrayun dan Kecamatan Ponorogo pada

Dampak Pernikahan Dini di Kabupaten Ngrayun dan Ponorogo. dan mereka mengetahui apa yang disebut perkawinan, umumnya berpendapat bahwa perkawinan yang baik adalah perkawinan yang hidup dalam masyarakat. Fakta bahwa revisi undang-undang yang membatasi usia untuk menikah, fakta bahwa individu tersebut sudah menjalin hubungan jangka panjang, kehamilan di luar nikah dan kontrol orang tua yang lemah menjadi faktor di balik ini. terhadap terjadinya pernikahan dini di kabupaten Ngrayun dan Ponorogo. Sedangkan faktor yang berbeda dari kedua kecamatan tersebut, di kecamatan Ngrayun faktor lingkungan menjadi pendorong terjadinya pernikahan dini di kecamatan tersebut karena banyak masyarakat di lingkungan tersebut yang justru menikah dini.

Kemiripan dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pernikahan dini di kabupaten Ngrayun dan Ponorogo antara lain perceraian, kurangnya kemandirian dan hilangnya akses pendidikan. Sementara itu terdapat perbedaan pengaruh di Kecamatan Ngrayun, dimana tingkat kemiskinan semakin meningkat dan jumlah tanggungan anggota keluarga dari orang tua semakin meningkat, karena sebenarnya pelaku pernikahan dini di Kecamatan Ngrayun berasal dari keluarga yang memiliki tingkat ekonomi sedang.

Saran

Karena dengan begitu akan banyak pikiran dan jiwa positif yang tertanam dalam diri mereka, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk menikah dini. Perkawinan Di Bawah Umur Dalam Perspektif Sosiologi Hukum (Studi Di Desa Tajug Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo) Skripsi Ponorogo : IAIN Ponorogo Kajian Sosiologis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Banyaknya Pernikahan Dini Di Desa Gatareng Kecamatan Mariowawo Kabupaten Soppeng Disebabkan ”, Tesis Makassar: UIN Alauddin.

Analisis Penyebab dan Dampak Pernikahan Dini di Kecamatan Kandis Kabupaten Siak, Jurnal Ibu dan Anak. 266 remaja di Ponorogo melamar dini karena hamil” di https://news.detik.com (diakses Selasa, 8 November 2022).

Referensi

Dokumen terkait

Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah segala upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus dapat sejalan dengan upaya menjaga dan

Oleh sebab itu, salah satu cara teknologi pengendalian rayap dengan menggunakan agens pengendali hayati berupa nematoda entomopatogen yang ramah lingkungan, murah,

Dengan kata lain, kebudayaan adalah segala hal yang menyangkut kehidupan manusia, termasuk aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat, hasil-hasil yang dibuat

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan dan melimpahkan segala karunia, nikmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia, nikmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

Memang ada beberapa kebaikan dalam pernikahan dini, bahkan di dalam Agama Islam pun tidak melarangnya atau tidak membatasi usia pernikahan, tetapi karena pernikahan

Menurut peneliti ada 6 remaja (18,2%)yang lingkungan pergaulan baik dengan pernikahan dini usia > 16 tahun ini terjadi bukan karna lingkungan pergaulan tapi

Penelitian-penelitian sebelumnya juga memperlihatkan risiko untuk terjadi kematian bayi pada ibu yang berusia < 20 tahun 1,5 kali lebih besar daripada ibu yang berusia 20-34