Lydia Thyatira Situmorang (2206093004) Literature Review: Axiology – Theory of Values
Literatur ini membahas tentang aksiologi, salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari tentang value atau nilai. Aksiologi sendiri berasal dari dua kata Yunani, yaitu "axios" yang berarti bernilai, dan "logos" yang berarti alasan. Aksiologi juga merupakan disiplin ilmu yang relatif baru, dalam abad ke-20, istilah "aksiologi" pertama kali digunakan oleh Paul Lapie dan E. von Hartmann.
Meskipun baru menjadi sebuah disiplin ilmu, sejarah filsafat menunjukkan bahwa, bahkan sedari dulu, nilai merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Nilai sendiri berasal dari penilaian manusia terhadap kondisi hidup, struktur realitas, tatanan alam, dan tempat manusia dalam semuanya itu, dalam konteks ini nilai dapat mencakup hal-hal yang dianggap baik untuk kelangsungan hidup atau untuk peningkatan kualitas hidup. Nilai juga mendasari gagasan tentang baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek serta dapat mempengaruhi minat, ketertarikan, dan tindakan manusia karena ketika sesuatu dianggap memiliki nilai, itu akan menggerakkan kita untuk bertindak atau melakukan hal tersebut dengan keyakinan bahwa hal tersebut akan memberi manfaat bagi kita. Manusia juga selalu sadar akan skala nilai, yang mana skala ini mencerminkan derajat dan kualitas kepuasan yang dirasakan.
Pada literatur ini dijelaskan beberapa teori nilai yang memiliki pengaruh besar dalam ilmu aksiologi, yaitu sebagai berikut.
1. Axiological Platonism. Teori ini dikembangkan oleh Plato dan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif dan eksistensinya independen dari pandangan atau penilaian manusia.
2. Axiological Intuitionism. Teori ini memandang bahwa tindakan-tindakan tertentu diketahui sebagai baik atau buruk, benar atau salah melalui intuisi atau pemahaman langsung. Dalam teori ini diyakini bahwa pengetahuan tentang nilai nilai dapat dipahami secara intuitif oleh siapapun yang telah mengembangkan kesadaran akan nilai.
3. Axiological Emotivism. Teori ini meyakini bahwa pernyataan terkait nilai nilai etika, seperti baik buruk, tidak memiliki makna proporsional atau fakta yang terkait dengan mereka. Filsuf-filsuf emotivis berpendapat ketika kita membuat sebuah penilaian, kita tidak membuat pernyataan tentang dunia, melainkan mengekspresikan perasaan emosional atau sikap kita tentang hal tersebut. Namun, pandangan ini dikritik terlalu sederhana karena mengabaikan aspek-aspek objektif dalam penilaian etika misalnya yang berkaitan dengan realitas sosial dan budaya,
4. Axiological Naturalism. Teori ini dikembangkan oleh John Dewey sebagai kritik terhadap teori Platonism. Dewey berpendapat bahwa nilai tidak bisa dipisahkan dari pengalaman manusia. Sebaliknya, nilai merupakan hasil dari pemahaman manusia tentang dunia dan interaksi mereka dengan lingkungan sekitar.
5. Aksiologi menurut pandangan Bertrand Russel. Menurut pandangan ini, nilai itu tidak tentang benar atau salah, ketidaksetujuan terhadap suatu nilai ditentukan dari selera atau preferensi individu. Kata “baik” didefinisikan sebagai perasaan nikmat atau kepuasan, sebuah tindakan dinilai benar atau salah diukur dari perasaan tersebut. Dalam hal ini approval bukan sesuatu yang penting. Karena itu, Russel mengusulkan adopsi etika sosial yang mengatur keinginan-keinginan khusus dan konsekuensinya sehingga terciptalingkungan yang lebih teratur.