Filsafat romawi, pratistik,
abad pertengahan
Filsafat Romawi
Lucretius (99-50 SM)
jika para dewa menciptakan dunia, hal-hal alami di dunia -siang dan malam, cuaca, gerhana, kelahiran - terjadi secara alami, dan tidak diatur oleh para dewa.
Kematian, hanyalah akhir dari kesadaran. Dia sama sekali tidak percaya adanya kehidupan setelah mati.
segalanya terbuat dari partikel kecil yang disebut atom, yang saling bergabung dengan cara-cara berbeda untuk membentuk bermacam-macam benda.
Cicero (106-43 SM)
negara yang kokoh tidak boleh dikendalikan perilaku manusia yang berhasrat berlebih-lebihan
bahaya bagi masyarakat adalah jika ambisi pribadi sangat mendominasi kehidupan mereka.manusia perlu menyadari bahwa sebuah pelayanan publik akan terlaksana dengan baik jika kepentingan pribadi ditekan.
Filsafat Patristik (abad 1-5
M)
Patristik berasal dari kata “Patres” yang berarti bapak- bapak. Yang dimaksudkan adalah para pujangga gereja dan tokoh-tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual agama Kristen.
Tokoh-tokohnya diantaranya : Justinus Martir,
Tertullianus, Clement, Origen, Agustinus
Tertullianus (160-230 M)
Awalnya menolak kehadiran filsafat Yunani.
Wahyu Tuhan sudahlah cukup
Tidak ada hubungan antara agama dengan filsafat
Pada akhirnya menerima filsafat Yunani sebagai cara berpikir yang rasional (sebagai cara atau metode berpikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya)
Tuhan sebagai pemegang kekuasaan dan peraturan
Agustinus (354-430 M)
Pemikiran berpusat pada Tuhan dan manusia
Pemikiran dapat mengenal kebenaran, menolak adanya skeptisme
Jika orang ragu bahwa ia hidup, tentu ia benar- benar hidup
Bagaimana kita dapat tahu tentang Tuhan?
Banyaknya kebenaran akan benar, indah, baik akan mengantarkan manusia pada kebenaran absolut dan abadi (kebenaran tuhan)
Konsep relatif menunjukkan adanya yang mutlak
Filsafat Skolastik (abad 5-15
M)
Berasal dari Bahasa latin “Scholasticus” yang berarti murid, sebagai suatu Gerakan filsafat dan keagamaan yang berupaya mengadakan sintesa antara akal budi manusia dengan keimanan
Periode skolastik
Filsafat timur, periode Skolastik Islam
Tokoh-tokohnya : Al-Kindi, Al Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Ghazali
Filsafat barat, periode Skolastik Kristen
Terbagi 3 fase: awal Skolastik (9-12 M), keemasan skolastik (13-14 M), akhir skolastik (14-15 M)
Tokoh-tokohnya : Boethius, Abelardus,
Albertus Agung, Thomas Aquinos, Guliemus, Nicholaus Cusanus
Awal skolastik
(abad 5-12 M)
Skolastik awal ditandai dengan kebangkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi filsafat. Atau, setidaknya mengarahkan filsafat agar sesuai dengan doktrin- doktrin agama. Walaupun filsafat belum sepenuhnya lepas dari pemikiran teologi kristiani.
Pada masa ini terjadinya perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran Romawi secara politik sudah mengalami
kemerosotan.
Boethius (480-524
M)
Sejarah adalah sebuah roda (istilah Roda Boethius atau The Boethian Wheel)
selama roda masih berputar, mereka yang berkuasa dengan harta yang banyak, bisa saja menjadi debu. Dan juga
sebaliknya, orang miskin dan orang-orang yang kelaparan memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi lebih baik
kebahagiaan yang sejati, yang abadi dan tidak dapat direbut oleh siapapun, adalah kebahagiaan yang terikat
dengan “Yang Baik” itu sendiri, yakni Tuhan. Tuhan berada di dalam hati manusia, dan hanya manusia yang bisa
mencapainya di dalam hatinya. Ketika manusia menemukan Tuhan di dalam hatinya, ia tidak takut akan apapun lagi, termasuk akan penderitaan dan kematian.
Jika kebahagiaan (kebaikan) dari Tuhan, dan Tuhan berada dalam hati manusia, mengapa manusia melakukan
kejahatan?
Abelardus (1079-
1142 M)
Dalam tulisannya yang berjudul "Kenalillah Dirimu Sendiri" (dalam bahasa Latin Scito te ipsum).
mengajarkan bahwa suatu tindakan lahiriah selalu bersifat netral. Yang membuat suatu tindakan
bermoral atau tidak yaitu maksud atau sikap batin dari orang tersebut
Maksudnya, apakah batin orang tersebut
menyetujui tindakan yang diambil itu. Oleh karena itu, suatu hal yang dianggap tak pantas, belum dapat dinilai patut atau buruk, bila batin orang itu di dalam batinnya menyetujui atau mengiyakan sesuatu yang tak pantas itu, maka barulah itu dianggap dosa
Keemasan Skolastik (abad 12-
13 M)
Faktor yang menyebabkan masa keemasan skolastik :
- Dipengaruhi filsafat Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina
- Didirikannya Universitas Almamater di Prancis - berdirinya ordo-ordo
Albertus Magnus
( 1203- 1280M )
pengetahuan tertinggi tentang Tuhan yang kita dapat di dunia ini didapat secara negatif. Artinya, yang bisa kita ketahui secara manusiawi hanyalah apa yang tidak bisa dikenakan pada Tuhan,
misalnya bahwa Tuhan itu sesuatu yang tidak
terbatas. Tapi apa persis “tidak terbatas” itu tidak bisa dimengerti sebab manusia serba terbatas
roh bukan sesuatu yang tinggal dalam badan, tetapi sebaliknya bahwa badanlah yang tinggal di dalam roh, sebab roh lebih hakiki dari badan. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di alam
semesta bersfat rohani.
Thomas Aquinos
(1225-1274 M)
Iman dan daya pikir, kendati berbeda, adalah saling terkait dan
merupakan dua alat utama untuk memproses data teologi, keduanya diperlukan agar seseorang memperoleh pengetahuan sejati tentang Allah.
memadukan filsafat Yunani dan doktrin Kristiani dengan
mengemukakan bahwa pemikiran rasional dan studi seputar kodrat atau alam, seperti pengilhaman, merupakan cara-cara yang sahih untuk memahami kebenaran terkait Allah.
Menurutnya, Allah mengungkapkan diri melalui alam, sehingga mempelajari alam berarti mempelajari Allah. tujuan utama teologi adalah menggunakan daya pikir untuk memahami kebenaran tentang Allah dan untuk mengalami keselamatan melalui kebenaran tersebut.
hukum positif yang berangkat dari kenyataan asali manusia sebagai makhluk berakal budi. Hukum kodrat merupakan
standar regulatif untuk hukum positif. Hukum positif dalam hal- hal tertentu yang tidak mencerminkan hukum kodrat
sebenarnya bukan hukum, melainkan hanya suatu yang mirip hukum.