• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat romawi, pratistik, abad pertengahan

N/A
N/A
Muhar Rir

Academic year: 2024

Membagikan "Filsafat romawi, pratistik, abad pertengahan "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Filsafat romawi, pratistik,

abad pertengahan

(2)

Filsafat Romawi

Lucretius (99-50 SM)

jika para dewa menciptakan dunia, hal-hal alami di dunia -siang dan malam, cuaca, gerhana, kelahiran - terjadi secara alami, dan tidak diatur oleh para dewa.

Kematian, hanyalah akhir dari kesadaran. Dia sama sekali tidak percaya adanya kehidupan setelah mati.

segalanya terbuat dari partikel kecil yang disebut atom, yang saling bergabung dengan cara-cara berbeda untuk membentuk bermacam-macam benda.

Cicero (106-43 SM)

negara yang kokoh tidak boleh dikendalikan perilaku manusia yang berhasrat berlebih-lebihan

bahaya bagi masyarakat adalah jika ambisi pribadi sangat mendominasi kehidupan mereka.manusia perlu menyadari bahwa sebuah pelayanan publik akan terlaksana dengan baik jika kepentingan pribadi ditekan.

(3)

Filsafat Patristik (abad 1-5

M)

 Patristik berasal dari kata “Patres” yang berarti bapak- bapak. Yang dimaksudkan adalah para pujangga gereja dan tokoh-tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual agama Kristen.

 Tokoh-tokohnya diantaranya : Justinus Martir,

Tertullianus, Clement, Origen, Agustinus

(4)

Tertullianus (160-230 M)

 Awalnya menolak kehadiran filsafat Yunani.

 Wahyu Tuhan sudahlah cukup

 Tidak ada hubungan antara agama dengan filsafat

 Pada akhirnya menerima filsafat Yunani sebagai cara berpikir yang rasional (sebagai cara atau metode berpikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya)

 Tuhan sebagai pemegang kekuasaan dan peraturan

(5)

Agustinus (354-430 M)

 Pemikiran berpusat pada Tuhan dan manusia

 Pemikiran dapat mengenal kebenaran, menolak adanya skeptisme

 Jika orang ragu bahwa ia hidup, tentu ia benar- benar hidup

 Bagaimana kita dapat tahu tentang Tuhan?

 Banyaknya kebenaran akan benar, indah, baik akan mengantarkan manusia pada kebenaran absolut dan abadi (kebenaran tuhan)

 Konsep relatif menunjukkan adanya yang mutlak

(6)

Filsafat Skolastik (abad 5-15

M)

 Berasal dari Bahasa latin “Scholasticus” yang berarti murid, sebagai suatu Gerakan filsafat dan keagamaan yang berupaya mengadakan sintesa antara akal budi manusia dengan keimanan

(7)

Periode skolastik

 Filsafat timur, periode Skolastik Islam

 Tokoh-tokohnya : Al-Kindi, Al Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Ghazali

 Filsafat barat, periode Skolastik Kristen

 Terbagi 3 fase: awal Skolastik (9-12 M), keemasan skolastik (13-14 M), akhir skolastik (14-15 M)

 Tokoh-tokohnya : Boethius, Abelardus,

Albertus Agung, Thomas Aquinos, Guliemus, Nicholaus Cusanus

(8)

Awal skolastik

(abad 5-12 M)

 Skolastik awal ditandai dengan kebangkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi filsafat. Atau, setidaknya mengarahkan filsafat agar sesuai dengan doktrin- doktrin agama. Walaupun filsafat belum sepenuhnya lepas dari pemikiran teologi kristiani.

 Pada masa ini terjadinya perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran Romawi secara politik sudah mengalami

kemerosotan.

(9)

Boethius (480-524

M)

Sejarah adalah sebuah roda (istilah Roda Boethius atau The Boethian Wheel)

selama roda masih berputar, mereka yang berkuasa dengan harta yang banyak, bisa saja menjadi debu. Dan juga

sebaliknya, orang miskin dan orang-orang yang kelaparan memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi lebih baik

kebahagiaan yang sejati, yang abadi dan tidak dapat direbut oleh siapapun, adalah kebahagiaan yang terikat

dengan “Yang Baik” itu sendiri, yakni Tuhan. Tuhan berada di dalam hati manusia, dan hanya manusia yang bisa

mencapainya di dalam hatinya. Ketika manusia menemukan Tuhan di dalam hatinya, ia tidak takut akan apapun lagi, termasuk akan penderitaan dan kematian.

Jika kebahagiaan (kebaikan) dari Tuhan, dan Tuhan berada dalam hati manusia, mengapa manusia melakukan

kejahatan?

(10)

Abelardus (1079-

1142 M)

 Dalam tulisannya yang berjudul "Kenalillah Dirimu Sendiri" (dalam bahasa Latin Scito te ipsum).

 mengajarkan bahwa suatu tindakan lahiriah selalu bersifat netral. Yang membuat suatu tindakan

bermoral atau tidak yaitu maksud atau sikap batin dari orang tersebut

 Maksudnya, apakah batin orang tersebut

menyetujui tindakan yang diambil itu. Oleh karena itu, suatu hal yang dianggap tak pantas, belum dapat dinilai patut atau buruk, bila batin orang itu di dalam batinnya menyetujui atau mengiyakan sesuatu yang tak pantas itu, maka barulah itu dianggap dosa

(11)

Keemasan Skolastik (abad 12-

13 M)

 Faktor yang menyebabkan masa keemasan skolastik :

- Dipengaruhi filsafat Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina

- Didirikannya Universitas Almamater di Prancis - berdirinya ordo-ordo

(12)

Albertus Magnus

( 1203- 1280M )

 pengetahuan tertinggi tentang Tuhan yang kita dapat di dunia ini didapat secara negatif. Artinya, yang bisa kita ketahui secara manusiawi hanyalah apa yang tidak bisa dikenakan pada Tuhan,

misalnya bahwa Tuhan itu sesuatu yang tidak

terbatas. Tapi apa persis “tidak terbatas” itu tidak bisa dimengerti sebab manusia serba terbatas

  roh bukan sesuatu yang tinggal dalam badan, tetapi sebaliknya bahwa badanlah yang tinggal di dalam roh, sebab roh lebih hakiki dari badan. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di alam

semesta bersfat rohani.

(13)

Thomas Aquinos

(1225-1274 M)

Iman dan daya pikir, kendati berbeda, adalah saling terkait dan

merupakan dua alat utama untuk memproses data teologi, keduanya diperlukan agar seseorang memperoleh pengetahuan sejati tentang Allah.

memadukan filsafat Yunani dan doktrin Kristiani dengan

mengemukakan bahwa pemikiran rasional dan studi seputar kodrat atau alam, seperti pengilhaman, merupakan cara-cara yang sahih untuk memahami kebenaran terkait Allah.

Menurutnya, Allah mengungkapkan diri melalui alam, sehingga mempelajari alam berarti mempelajari Allah. tujuan utama teologi adalah menggunakan daya pikir untuk memahami kebenaran tentang Allah dan untuk mengalami keselamatan melalui kebenaran tersebut.

hukum positif yang berangkat dari kenyataan asali manusia sebagai makhluk berakal budi. Hukum kodrat merupakan

standar regulatif untuk hukum positif. Hukum positif dalam hal- hal tertentu yang tidak mencerminkan hukum kodrat

sebenarnya bukan hukum, melainkan hanya suatu yang mirip hukum.

Referensi

Dokumen terkait

adalah tentang sejarah perkembangan filsafat Islam di Andalusia pada abad ke-11.. hingga

Pada zaman ini berbagai gerakan bersatu untuk menentang pola pemikiran abad pertengahan yang dogmatis, sehingga melahirkan suatu perubahan revolusioner dalam

Filsafat Hermeneutika, merupakan salah satu aliran dalam Post-modern, yang menghidupkan kembali (awal baru) terhadap klaim berakhirnya filsafat. Melalui bahasa

2021, para guru mempunyai komitmen tinggi dalam pelaksanaan dan merealisasikan hasrat abad ke-21 melalui melahirkan murid yang berupaya menjadi model insan masa depan Maka, guru

Pertama, implementasi filsafat materialisme dalam kurikulum pendidikan dimana kurikulum di sekolah pada abad ini tidak hanya memusatkan pembelajaran pada teori semata, melainkan juga