Teknologi Pengembangan Media Kesehatan
Dina Ediana, Arina Nuraliza Romas, Henny Arwina Bangun Indra Frana Jaya KK, Maisyarah , Oktoverano Hendrik Lengkong
Penerbit Yayasan Kita Menulis
Kesehatan
Copyright © Yayasan Kita Menulis, 2022 Penulis:
Dina Ediana, Arina Nuraliza Romas, Henny Arwina Bangun Indra Frana Jaya KK, Maisyarah, Oktoverano Hendrik Lengkong
Editor: Janner Simarmata
Desain Sampul: Devy Dian Pratama, S.Kom.
Penerbit Yayasan Kita Menulis
Web: kitamenulis.id e-mail: [email protected]
WA: 0821-6453-7176 IKAPI: 044/SUT/2021
Katalog Dalam Terbitan Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku tanpa Izin tertulis dari penerbit maupun penulis
Dina Ediana., dkk.
Teknologi Pengembangan Media Kesehatan Yayasan Kita Menulis, 2022 xii; 104 hlm; 16 x 23 cm ISBN: 978-623-342-420-2 Cetakan 1, April 2022
I. Teknologi Pengembangan Media Kesehatan II. Yayasan Kita Menulis
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, Yang telah memberikan rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menerbitkan buku yang berjudul “Teknologi Pengembangan Media Kesehatan” buku ini dapat diwujudkan. Dalam kondisi yang cepat berubah seperti saat sekarang ini, diperlukan suatu perubahan terhadap media kesehatan.
Proses perkembangan media pembelajaran dalam dunia Pendidikan diberbagai bidang ilmu, telah memberikan dampak yang sangat luas diberbagai bidang salah satunya dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Dalam bidang pendidikan dan kesehatan pemanfaatan media pembelajaran digunakan oleh para pendidik atau dosen dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penggunaan media dapat dilakukan oleh dosen diseluruh bidang studi, salah satunya adalah dosen mata kuliah Teknologi Pengembangan Media kesehatan.
Dalam mata kuliah teknologi pengembangan media kesehatan telah memberikan penjelasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Oleh karena itu, agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka perlu adanya penyesuaian. Teknologi dan media yang telah tersedia haruslah dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran dalam pendidikan di sekolah-sekolah. Penggunaan media haruslah sesuai dengan tujuan pembelajaran, agar tujuan dapat tercapai dengan baik.
Penggunaan media pembelajaran dalam pendidikan harus disesuaikan dengan materi ajar, agar penggunaannya dapat proporsional. Media pembelajaran saat ini mengalami pengembangan yang sangat pesat.
Berawal dari penggunaan media berbasis manusia hingga berkembang sampai media yang sangat kompleks yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Semua perkembangan itu, tak lain yaitu untuk memajukan dunia pendidikan yang ada saat sekarang ini.
Dalam kegiatan proses pembelajaran, Buku dan media sangat diperlukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan manusia. Dalam buku Teknologi Pengembangan Media Kesehatan ini membahas tentang : Bab 1 Sejarah Perkembangan Media Promosi
Bab 2 Konsep Teknologi dan Pengembangan Media Promosi Kesehatan Bab 3 Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan
Bab 4 Tahapan Pelaksanaan Promosi Kesehatan Bab 5 Macam – Macam Media Promosi Kesehatan
Bab 6 Tahapan Perancangan Media Elektronik Sebagai Media Promosi Kesehatan
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penerbitan buku ini. Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik Bapak/Ibu sekalian.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga buku ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan, khususnya pada Buku teknologi pengembangan Media ini.
Buku ini tersusun atas kolaborasi dari beberapa penulis diIndonesia dari berbagai Insttitusi, baik negeri maupun swasta, sebagai salah satu perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Penerbit Yayasan Kita Menulis yang telah memfasilitasi penerbitan buku ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan secara moral dan material dalam penyusunan buku ini.
Penulis menyadari jika dalam penyusunan buku ini masih terdapat kekurangan, semoga di masa yang akan datang menjadi semakin baik.
Besar harapan kami, buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Medan, ………..
Penulis
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vii
Daftar Gambar ... ix
Daftar Tabel ... xi
Bab 1 Sejarah Perkembangan Media Promosi 1.1 Pendahuluan ... 1
1.2 Sejarah Perkembangan Media ... 2
1.3 Pengertian Media ... 5
1.4 Tujuan Media Promosi ... 6
1.5 Manfaat Media Promosi Kesehatan ... 7
1.6 Macam-macam dan Penggolongan Media ... 9
Bab 2 Konsep Teknologi dan Pengembangan Media Promosi Kesehatan 2.1 Pendahuluan ... 13
2.2 Konsep Teknologi ... 15
2.2.1 Pelayanan Kesehatan Digital ... 17
2.2.2 Informasi Kesehatan Berbasis Digital ... 18
2.3 Pengembangan Media Promosi Kesehatan ... 21
2.3.1 Ruang Lingkup Media Promosi Kesehatan ... 22
2.3.2 Peran Media dalam Promosi Kesehatan ... 24
Bab 3 Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan 3.1 Pendahuluan ... 27
3.2 Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan ... 28
3.3 Pengujian Rancangan Produk dan Pengujian Produk ... 42
3.4 Riset Pengembangan Media Promosi Kesehatan ... 45
Bab 4 Tahapan Pelaksanaan Promosi Kesehatan 4.1 Tahap-tahap Pelaksanaan Promosi Kesehatan ... 50
4.2 Identifikasi Kebutuhan ... 51
4.3 Tahap Implementasi ... 56
4.4 Tahap Evaluasi ... 59
Bab 5 Macam – Macam Media Promosi Kesehatan
5.1 Konsep Media Promosi Kesehatan ... 63
5.2 Tujuan Penggunaan Media Promosi Kesehatan ... 64
5.3 Manfaat Media Promosi Kesehatan Masyarakat ... 65
5.4 Jenis Media Promosi Kesehatan ... 66
5.5 Merancang dan Menggunakan Media Promosi Kesehatan ... 70
5.6 Media Sosial Sebagai Media Promosi Kesehatan ... 71
Bab 6 Tahapan Perancangan Media Elektronik Sebagai Media Promosi Kesehatan 6.1 Pendahuluan ... 73
6.2 Literasi Digital ... 77
6.2.1 Multimedia ... 77
6.2.2 Visual (Gambar) ... 78
6.2.3 Visual (Video) ... 79
6.2.4 Audio ... 80
6.2.5 Olah Digital ... 81
6.2.6 Konsep Promosi Media Digital ... 82
6.3 Tahapan Perancangan Promosi Kesehatan Menggunakan Media Elektronik (Media Digital) ... 84
6.3.1 Tahapan Perencanaan ... 85
6.3.2 Tahapan Perancangan ... 85
6.3.3 Tahapan Implementasi ... 86
6.3.4 Tahapan Monitoring Dan Evaluasi ... 88
Daftar Pustaka ... 91
Biodata Penulis ... 101
Gambar 6.1: Media Konvensional di Indonesia Menuju Senjakala ... 74 Gambar 6.2: Pengguna Internet Indonesia Peringkat ke-3 Terbanyak di Asia 75 Gambar 6.3: BPS: 88,99% Anak 5 Tahun ke Atas Mengakses Internet untuk
Media Sosial ... 76 Gambar 6.4: Masyarakat Indonesia Paling Banyak Akses YouTube pada
Semester I-2021 ... 84 Gambar 6.5: beragam resolusi tampilan layar ... 86 Gambar 6.6: Rasio perbandingan layar monitor ... 87
Tabel 6.1: Format gambar yang umumnya digunakan ... 78 Tabel 6.2: Spesifikasi umum komputer untuk pengolahan multimedia ... 82
Bab 1
Sejarah Perkembangan Media Promosi
1.1 Pendahuluan
Sebagai langkah mewujudkan kesehatan warga negara Indonesia dilakukan suatu proses perubahan perilaku kesehatan melalui kegiatan promosi kesehatan dengan menggunakan media dalam pemberian penyuluhan kesehatan.
Menurut Notoatmodjo (2005), promosi kesehatan tidak dapat lepas dari media karena melalui media, pesan-pesan disampaikan dengan mudah dipahami dan lebih menarik”(Umar Hamalik and Adri, 2018). Media merupakan segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perantara”(Akmal and Susanto, 2019).
Media Promosi kesehatan merupakan suatu cara atau alat dan atau semua sarana promosi untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat merubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatan (Notoatmodjo, 2005), dengan maksud dan tujuan untuk memandirikan, memampukan, serta memperdayakan masyarakat agar bisa meningkatkan derajat kesehatannya, baik itu kesehatan pribadi maupun kesehatan di lingkungannya"(Umar Hamalik and Adri, 2018). Pelaksanaan kegiatan ini memiliki peran penting dalam upaya peningkatan pengetahuan
dan wawasan masyarakat dalam penggunaan media promosi kesehatan, penggunaan media dalam promosi kesehatan mampu memberikan dampak yang sangat bagus terhadap perubahan perilaku kesehatan dimasyarakat, yang dapat terwujud melalui bentuk perubahan dari pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan kesehatan dengan media sebagai perantara dalam penyampaian pesan-pesan kesehatan. proses atau langkah pembuatan media dalam promosi kesehatan meliputi aktivitas pembelajaran dalam proses pembuatan media kesehatan. Pembelajaran dalam proses pembuatan media kesehatan melalui beberapa tahapan yang telah ditetapkan, agar media atau alat peraga yang digunakan sesuai dengan sasaran yang sudah ditentukan sebelumnya”(Munawar and Suryadi, 2019).
Media sebagai saluran informasi merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan kesehatan. Memilih media sebagai saluran menyampaikan pesan kesehatan dipengaruhi oleh metode yang digunakan, pada hakikatnya sebagai alat bantu dalam pendidikan kesehatan dan sebagai salah satu upaya untuk mendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran sehingga hasil lebih bagus dan mudah dipahami oleh sasarannya”(Umar Hamalik and Adri, 2018). Dan media mampu memberikan keuntungan apabila digunakan secara baik menurut fungsinya.”(Kemenkes RI, 2016). sebagai saluran pesan media pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan atas media cetak, media elektronik dan media papan (billboard). Beberapa media cetak dikenal antara lain booklet, leaflet, selebaran (flyer), lembar balik (flip chart), artikel atau rubrik, poster dan foto. Media elektronik dapat berupa televisi, radio, video, slide, film strip dan sekarang dikenal internet. Media papan berupa baliho biasanya dipasang di tempat-tempat umum yang menjadi pusat kegiatan masyarakat.
Alat peraga yang dipergunakan dalam pendidikan kesehatan dapat berupa alat bantu lihat (visual), alat bantu dengar (audio) atau kombinasi audio visual dan media lainnya”(Jatmika et al., 2019).
1.2 Sejarah Perkembangan Media
Dewasa ini, Perkembangan Media Teknologi dan informasi begitu cepat dan pesat, seperti media cetak maupun media elektronik. Kebutuhan akan media informasi yang cepat dan akurat sudah menjadi salah satu kebutuhan yang utama bagi setiap insan manusia. Media atau lebih dikenal sebagai media massa sering kali dikaitkan dengan komunikasi dan keduanya saling ada
hubungan dan kaitannya”(Yoko, 2019). Jika ditinjau dari perkembangan media, media awal mula berkembang selepas wujudnya sistem tulisan yang menjadi perantara perhubungan manusia pada zaman dahulu. Media merupakan suatu hal yang telah menjadi kebutuhan dalam kegiatan sehari-hari, yang dapat dimanfaatkan diberbagai bidang keilmuan”(Quail, 2011). Menurut Sobur (2004) perkembangan media ini dimasa globalisasi, teknologi yang tumbuh berkembang bisa mempermudah masyarakat dalam memperoleh data secara instan serta efisien dengan menjajaki pertumbuhan era. Secara teori, media bertujuan mengantarkan data dengan benar serta mampu menyampaikan informasi secara efektif dan efisien kepada setiap khalayak
“(Abarca, 2017)”.
Perkembangan media mulai dikenal pada era zaman romawi 60 tahun sebelum masehi (SM)”(Abarca, 2017). Pada era itu perkembangan media sudah mulai bermunculan dengan awal mulanya muncul satu media yaitu surat kabar. Surat kabar pada zaman itu terbit setiap hari memuat isi pengumuman dari Kaisar Roma dan berita-berita mengenai kegiatan kekaisaran yang ditempel pada pusat-pusat kota yang dikenal dengan nama Forum Romanum. Pada tahun 59 SM Caesar Julius, menerbitkan surat kabar hingga bertahan empat abad lamanya sebelum runtuhnya kekaisaran Roma”(Abarca, 2017). Para pakar menyebutkan bahwa masa sebelum Acta Diurna sebagai masa Prajurnalis (Barus, 2010).
Surat kabar pertama yang dicetuskan oleh Julius Caesar, menjadikan suatu perkembangan media yang dikenal sampai keseluruh penjuru dunia sehingga merambah ke dalam dunia jurnalis, yang semakin berkembang pesat keberadaannya. surat kabar yang berasal dari kertas, dan Surat kabar tertulis pertama kali diterbitkan di Venesia dan Roma sekitar abad pertengahan yang kemudian disebut dengan Gazetta. surat kabar berlanjut dengan adanya penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada tahun 1450 di Jerman, adanya mesin cetak inilah muncul istilah pers.
Mesin cetak ditemui oleh Johann Gutenberg ( 1450- 1468), mesin cetak yang di temukan berisi pesan berita tercetak awal kali pada abat ke- 17 pada tahun 1605 oleh Johan Carolus di Staarsburg dengan nama “Relation” yang merupakan surat kabar pertama didunia yang di cetak. kemudian banyak pesan berita bermunculan paling utama pada daratan eropa. seiring dengan berjalannya waktu perkembangan teknologi media informasi semakin berkembang seperti media cetak”(Fitria, 2018). di Indonesi perkembangan media cetak itu sendiri seperti surat kabar telah terbit di Indonesia sejak jaman
penjajahan Belanda. Jan Pieterszoon Coen memprakarsai penerbitan newsletter “Memorie der Nouvelles” yang berisi berita-berita dari Belanda yang dibawa ke Indonesia. Surat kabar tersebut menggunakan tulisan tangan dan disebarkan hanya pada orang-orang penting di Jakarta. Surat kabar modern pertama yang terbit di Indonesia (dulu Hindia Belanda) adalah “Bataviasche Nouvelles en Politique”(Abarca, 2017). Surat kabar tersebut menggunakan bahasa belanda dan lebih banyak menampilkan iklan untuk kepentingan komersial pemerintahan Belanda. Koran Pribumi, yang menggunakan bahasa Melayu baru muncul pada tahun 1850an. Surat kabar “Bromartani” yang berbahasa Jawa terbit di Solo pada tahun 1855. Pada tahun 1943, media atau surat kabar terbit “Medan Prijanji” yang berbahasa melayu dan berisi gambaran situasi politik serta interpretasinya dari sudut pandang nasionalisme.
Perkembangan merupakan perubahan, perkembangan Teknologi yang dapat dikatakan sebagai menujunya ke tingkat yang lebih maju. Seperti dalam perkembangan teknologi Media pada jaman sekarang sangat berbeda dengan teknologi pada jaman dahulu kala”(Fitria, 2018).
Perkembangan Media cetak dalam bentuk surat kabar, yang ditulis kemudian dicetak dengan teknologi percetakan”(Massa, 1960). Media cetak di antaranya adalah majalah, koran, surat kabar yang berisikan tentang artikel yang bertemakan kesehatan, politik, kebudayaan, kesustraan, opini-opini publik dan informasi tentang kesenian dapat mewarnai kehidupan masyarakat. Misalnya dalam artikel yang bertemakan politik, bahwasan politik semakin menjamu dalam Negara”(A.S., 2014). Kemudian peristiwa-peristiwa penting yang memengaruhi sejarah kehidupan masyarakat. Surat kabar atau yang biasa disebut Koran adalah salah satu media cetak jurnalisme di mana isi medianya memuat artikel-artikel tentang seputar informasi-informasi yang ada atau berita seputar kehidupan manusia.
Di zaman sekarang, media sudah menjadi hal yang sangat penting dalam penyampaian informasi/pesan kepada semua bagian/lini dalam kehidupan manusia. Media mampu menjanjikan bisnis yang memiliki pergerakan cepat di masa modern saat sekarang ini. Keberadaan media sangat diperlukan oleh manusia atau pengguna dalam mendapatkan data, informasi dan juga hiburan maupun informasi dari pekerjaan lainnya, atas keberadaan media dan informasi membawa dampak positif bagi kelanjutan hidup manusia dan sangat diperlukan untuk masa saat sekarang, masa yang akan datang. Kesempatan mendirikan suatu media bisa menjanjikan kepada pemiliknya. Pemasukan utama dari media ini, ialah dari iklan. media membutuhkan iklan untuk
menghidupi medianya. Keberadaan media dapat dimanfaatkan oleh praktisi Public Relations sebagai gerbang dalam menjangkau publik umum dan kelompok lainnya, untuk menyebarkan informasi. Kegiatan Public Relations sangatlah erat kaitannya dengan media yang merupakan strategi dan cara yang digunakan oleh Public Relation dalam membantu keberadaan media untuk menjangkau publik secara luas serta menyebarkan informasi dan berita.
Perkembangan media dan teknologi dapat memberikan dampak positif bagi dunia kerja salah satunya dunia Pendidikan dan kesehatan”(Fitria, 2018).
Pendidikan, memberikan dampak terhadap kemajuan dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan media teknologi dalam kegiatan proses pembelajaran atau belajar mengajar dapat memberikan kemudahan dalam penyampaian materi pembelajaran dan informasi kepada peserta didik. Dan bagi instansi kesehatan dapat memudahkan petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien serta penyuluhan kesehatan di masyarakat.
1.3 Pengertian Media
Media berasal dari kata dalam bahasa Latin “medius” yang dalam bentuk jamaknya “medium”, yang dapat diartikan secara harfiah dalam bahasa Arab sebagai perantara”. Karena itu, dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi perantara disebut sebagai media atau media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan/informasi.
Menurut Asyhar (2012) yang sepertinya mengutip pendapat Suparman (1977), media merupakan alat atau sarana yang memiliki fungsi menjadi perantara atau penyalur informasi dari pengirim ke penerima. Dalam konteks pembelajaran, secara umum media dapat diartikan sebagai alat bantu mengajar. Konsep ini menjelaskan bahwa segala jenis alat baik media elektronik maupun non elektronik yang dapat menyampaikan informasi pembelajaran disebut dengan media (Simarmata dan Mujiarto, 2019; Abi Hamid et al., 2020; Simarmata et al., 2020). Karena begitu luasnya pengertian media, maka diberikan batasan atas pengertian media tersebut seperti yang dikemukakan oleh Briggs (1977) dan Hujair AH. Sanaky (2013), mereka mendefinisikan media pembelajaran yaitu alat atau sarana fisik yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didik sehingga menimbulkan rangsangan untuk
belajar. dan kawan-kawan (1982 yang dimuat dalam Azhar Arsyad, 2011).
Menurut Henich mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud atau unsur-unsur pembelajaran maka media itu disebut media pembelajaran. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sedangkan Briggs (1970) menjelaskan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang peserta didik untuk belajar. Misalnya: media cetak dan media elektronik.
Media merupakan suatu alat yang digunakan sebagai perantara dalam penyampaian pesan/media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat bantu promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi pada masyarakat. Media promosi kesehatan yang baik adalah media yang mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kesehatan yang sesuai dengan tingkat penerimaan sasaran, sehingga sasaran mampu mengubah perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan”(Winelis and Sodik, 2020). Media promosi kesehatan dapat berperan sebagai sarana kesehatan yang mampu menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat merubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatan (Notoatmodjo, 2005). Menurut Suhardjo (2003), media sebagai sarana belajar mengandung pesan atau gagasan sebagai perantara untuk menunjang proses belajar atau penyuluhan tertentu yang telah direncanakan dari beberapa devenisi di atas dapat memberikan suatu informasi, bahwa dengan memanfaatkan media dapat memberikan kemudahan bagi penggunanya, dalam penyampaian pesan dan informasi.
1.4 Tujuan Media Promosi
Media dapat mempermudah penyampaian informasi, menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi, dan mempermudah pengertian/devenisi, kemudian mengurangi komunikasi yang verbalistis, serta menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap mata dan memperlancar komunikasi.
Dalam menggunakan atau membentuk media komunikasi langkah awal yang dicobakan adalah untuk memastikan khalayak sasaran, dan memastikan tujuan yang spesifik. Tujuan berkaitan dengan hasil yang hendak diperoleh. Dan memastikan isi, isi wajib disesuaikan dengan kemauan responden. Isi tidak boleh kelewatan, akan memberikan dampak ketidakefektifan media yang sudah dirancang. Isi bisa diperoleh lewat kuesioner serta wawancara kepada responden yang bersangkutan”(Yosendha and Widati, 2014).
1.5 Manfaat Media Promosi Kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan, alat tersebut merupakan alat bantu untuk memudahkan penyampaian dan penerimaan pesan yang di berikan kepada seseorang atau kelompok (Fitriani,2011)”.
Manfaat penggunaan media dalam promosi kesehatan:
1. Membantu mengatasi hambatan dalam pemahaman 2. Mencapai sasaran yang lebih banyak
3. Merangsang sasaran untuk meneruskan pesan kepada orang lain 4. Mempermudah penyampaian informasi
5. Mempermudah penerimaan informasi pada sasaran
Media maupun Perlengkapan alat peraga yang digunakan secara bersamaan, misalnya mengenakan papan tulis dengan gambar serta sebagainya. Hendak nya dalam memakai perlengkapan alat peraga, baik secara campuran ataupun tunggal, terdapat 2 perihal yang wajib dicermati, perlengkapan peraga wajib dipahami oleh warga sasaran serta inspirasi ataupun gagasan yang tercantum di dalamnya wajib bisa diterima oleh sasaran. Perlengkapan peraga yang digunakan dapat memberikan manfaat dan keuntungan- keuntungan, antara lain: ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung di dalamnya.
Alat peraga yang digunakan secara baik memberikan keuntungan-keuntungan, antara lain :
1. Dapat menghindari kesalahan pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
2. Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.
3. Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.
4. Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
5. Dapat memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan.
Penggunaan media atau alat peraga harus memperhatikan tujuan penggunaannya (sederhana dan kompleks), sasaran, tempat dan penggunanya.
Dengan memahami konsep penggunaan alat peraga dan media kesehatan yang ada dalam pendidikan kesehatan. diharapkan penggunanya mampu memahami atau memberikan informasi atau penyuluhan kesehatan melalui bantuan media, yang dapat mendorong atau memotivasi masyarakat untuk melakukan perubahan sikap, perilaku kesehatan terhadap preventif sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit serta mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk memanfaatkan media kesehatan sebagai upaya penambahan pengetahuan dan wawasan dalam upaya penggunaannya di masyarakat, dengan media masyarakat mampu melakukan deteksi dini tentang pencegahan penyakit atau mampu mengetahui terlebih dahulu tentang seputar informasi kesehatan.
Menurut Notoatmodjo, (2005) tujuan dari penggunaan media promosi kesehatan adalah “(Jatmika et al., 2019)”. :
1. Media dapat mempermudah penyampaian informasi 2. Media dapat menghindari kesalahan persepsi
3. Media dapat memperjelas informasi yang disampaikan 4. Media dapa mempermudah pengertian
5. Media dapat mengurangi komunikasi yang verbalistik
6. Media dapat menampilkan objek yang dapat ditangkap dengan mata 7. Media dapat memperlancar komunikasi, dan lain-lain
1.6 Macam-macam dan Penggolongan Media
Ada beberapa cara untuk mengetahu macam-macam dan menggolongkan media. Bretz (1971), misalnya, membagi media menjadi tiga macam. yaitu media yang dapat didengar (audio), media yang dapat dilihat (visual), dan media yang dapat bergerak. Media bentuk visual dibedakan menjadi tiga yaitu gambar visual, garis (grafis), dan symbol verbal. Selain itu, Bretz juga membedakan media menjadi media transmisi (telekomunikasi) dan media rekaman”(Ardian, 2014).
Penggolongan Media Kesehatan
Penggolongan Media Kesehatan di antaranya :
1. Media dapat digolongkan menjadi dua, berdasarkan bentuk umum penggunaan dan berdasarkan cara produksi.
2. Berdasarkan bentuk umum penggunaan.
a. Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet majalah, buletin, tabloid, dan lain-lain.
b. Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip chart, transparansi, slide, film, dan lain-lain.
3. Berdasarkan cara produksi a. Media cetak
Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Pada umumnya terdiri atas gambaran sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata warna. Contohnya poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik, stiker, dan pamflet. Fungsi utamanya adalah memberi informasi dan menghibur. Kelebihan yang dimiliki media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak terlalu tinggi, tidak perlu energi listrik, dapat dibawa, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar. Kelemahannya tidak dapat menstimulasi efek suara dan efek gerak serta mudah terlipat.
b. Media elektronik.
Media elektronik aitu suatu media bergerak, dinamis, dapat dilihat, didengar, dan dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Contohnya televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide show, CD interaktif, dan lain-lain. Kelebihan media elektronik antara lain sudah dikenal masyarakat, melibatkan semua pancaindra, lebih mudah dipahami, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih besar/luas, serta dapat diulang-ulang jika digunakan sebagai alat diskusi. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan, dan perlu keterampilan dalam pengoperasian
c. Media Luar Ruangan atau Media papan (billboard)
Media luar ruang yaitu suatu media yang penyampaian pesannya di luar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronik secara statis. Contohnya papan reklame, spanduk, pameran, banner, TV layar lebar, dan lain-lain. Kelebihan media luar ruang di antaranya sebagai informasi umum dan hiburan, melibatkan semua pancaindra, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik atau alat canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan.
Menurut Umar Hamalik, Djamarah dan Sadiman dalam Adri (2008), mengelompokkan media promosi kesehatan berdasarkan jenisnya, yaitu:
1. Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti tape recorder.
2. Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan dalam wujud visual.
3. Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, dan media ini dibagi ke dalam dua jenis, yaitu (a) Audiovisual
diam, yang menampilkan suara dan visual diam, seperti film sound slide, (b) Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, seperti film, video cassete dan VCD.
Langkah-Langkah Penetapan Media Promosi Kesehatan Yaitu Terdiri Dari 6 Langkah”(Ardian, 2014)”.
1. Langkah Pertama : Identifikasi masalah kesehatan dan pertimbangan tentang tujuan dalam perencanaan Promosi kesehatan
2. Langkah Kedua : Penetapan perilaku yang diharapkan dan analisa faktor- faktor yang menpengaruhi perubahan
3. Langkah Ketiga :Perhitungan Sumber-Sumber Baik Potensial Maupun Yang Sudah Ada
4. Langkah Keempat : Menetapkan Tujuan Promosi kesehatan e.
Langkah Kelima : Penyusunan Rencana Operasional Pendidikan Secara Terperinci
5. Langkah Keenam : Penyusunan Rencana Penilaian promosi kesehatan
Menurut Yosendha and Widati, (2014) Dalam merancang pengembangan media promosi kesehatan, perlu menetapkan langkah sebagai berikut” : 1. Menetapkan tujuan
Tujuan harus relastis, jelas, dan dapat diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang akan diukur, seberapa banyak perubahan akan diukur, berapa lama dan di mana pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi dan merancang evaluasi.
2. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan.
Tujuannya antara lain memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, memberikan kepuasan pada masing-masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan jangkauan produk, serta menghitung jenis dan penempatan media.
3. Memposisikan pesan (positioning)
Memposisikan pesan adalah proses atau upaya menempatkan suatu produk perusahaan, individu atau apa saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning membentuk citra.
4. Menentukan strategi positioning
Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen, menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi khalayak sasaran, menentukan posisi merek produk sendiri, serta mengikuti perkembangan posisi.
5. Memilih media promosi kesehatan
Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran. Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas. Setiap media akan memberikan peranan yang berbeda. Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.
Bab 2
Konsep Teknologi dan
Pengembangan Media Promosi Kesehatan
2.1 Pendahuluan
Teknologi merupakan suatu perangkat yang memudahkan manusia dalam mengakses atau mengerjakan berbagai hal. Teknologi adalah sebuah senjata yang digunakan agar suatu pekerjaan atau aktivitas lebih efektif dan efisien, dengan menggunakan teknologi orang lebih produktif dan bisa mengeksplor banyak hal. Penggunaan teknologi yang tepat, akan menghasilkan produk atau hasil yang optimal. Teknologi sangat erat kaitannya dengan media sosial.
Penggunaan media sosial yang semakin meningkat dengan berbagai macam jenis, mulai dari media permainan hingga media untuk pembelajaran, membuat manusia sangat tergantung pada smartphone yang mereka genggam setiap waktu. Mengingat pengguna sosial media dari berbagai lapisan masyarakat dan dari semua tingkatkan usia dan pendidikan, maka sosial media ini perlu dikembangkan akan penggunaannya dapat bermanfaat terutama tentang edukasi kesehatan. Edukasi kesehatan melalui sosial media adalah hal yang sangat efektif dan efisien untuk memberikan informasi kepada khalayak
masyarakat betapa pentingnya kita menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit.
Promosi kesehatan adalah suatu langkah yang dilakukan agar masyarakat tahu, mau serta mampu untuk berperilaku sehat serta menjauhi hal-hal yang dapat mendatangkan sakit dan penyakit. Sehat adalah kondisi di mana terjadinya keseimbangan antara fisik, mental, maupun sosial tanpa suatu kecacatan atau kekurangan. Sehingga perilaku sehat adalah perbuatan yang dilakukan seseorang agar mencapai keseimbangan antara fisik, mental, maupun sosial.
Promosi kesehatan merupakan upaya untuk memberikan informasi dengan berbagai macam metode, sedangkan kesehatan merupakan upaya untuk mencapai kondisi sempurna baik fisik, mental maupun sosial. Pengembangan media promosi kesehatan perlu digencarkan lagi agar promosi kesehatan dapat berjalan dengan optimal sehingga bisa mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Teknologi digital dapat digunakan untuk memperluas jangkauan promosi kesehatan dan intervensi gaya hidup sehat yang disesuaikan dengan karakteristik individu (Naslund & Aschbrenner, 2019).
Saat ini, perilaku hidup bersih dan sehat sangat minimal penerapaannya di kalangan masyarakat yang sudah maju dengan kecanggihan teknologi.
Kecanggihan teknologi ini juga berkaitan dengan pola makan masyarakat.
Keberadaan aplikasi untuk order makanan dari rumah atau kantor, tanpa susah keluar dan mengantri membuat masyarakat semakin dimanjakan, akan tetapi pilihan menu makanannya tidak sehat, istilah lainnya junk food atau fast food.
Akibatnya muncul masalah-masalah kesehatan, mulai dari obesitasi, kolesterol, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, tubuh lemas, kepala pusing, dan sebagainya, yang mana masalah-masalah tersebut muncul karena pola hidup yang tidak sehat bahkan mengabaikan kesehatan. Era serba canggih sekarang ini, menyebabkan individu mengikuti trend tanpa melihat dampak yang akan ditimbulkan, sehingga banyak pasien-pasien yang pada akhirnya menghabiskan masa mudanya untuk berobat ke rumah sakit atau melakukan threatment tertentu untuk menurunkan berat badannya. Lebih baik mencegah dari pada mengobati, lebih baik merasakan pahit diwaktu muda untuk merasakan nikmatnya manis diwaktu tua, artinya lebih baik kita menjaga kesehatan semaksimal mungkin diwaktu muda dengan cara berolahraga, konsumsi makan bergizi, menjaga pola tidur, menjuahi rokok, miras, narkoba dan sebagainya, untuk investasi kesehatan kita diwaktu yang akan datang.
Sehat adalah pilihan individu yang cerdas, jadilah individu yang cerdas dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (Laroche, L’Espérance, &
Mosconi, 2020).
Promosi kesehatan adalah sebuah proses yang memungkinkan individu untuk meningkatkan kontrol atas kesehatan mereka yang tentunya juga untuk meningkatkan kesehatan mereka. Pemberdayaan individu dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya kesehatan perlu untuk digencarkan lagi, hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, mengatasi dan beradaptasi dengan perubahan dan membangun ketahanan (Gallagher, Keehner, Hervé- Claude, & Stephen, 2021).
Pengembangan media promosi kesehatan dengan bantuan teknologi akan banyak menjangkau masyarakat luas. Media promosi kesehatan yang dikemas dengan menarik dan interaktif mampu menghadirkan minat masyarakat dalam mengaksesnya. Memanfaatkan sosial media sebagai media promosi kesehatan merupakan langkah yang tepat dilakukan di era serba canggih sekarang ini, selain hiburan sudah seharusnya promotor kesehatan mengikuti tren masyarakat sekarang ini dengan menyelipkan pesan-pesan kesehatan di dalam suatu gambar atau video. Aplikasi sosial media paling banyak penggunanya saat ini adalah, tik tok dan instagram. Video paling banyak penontonnya saat ini adalah aplikasi tik tok, sedangkan untuk gambar adalah aplikasi instagram.
Maka sudah seharusnya promotor kesehatan untuk beralih menggunakan aplikasi sosial media agar mudah menjangkau masyarakat luas (Naslund &
Aschbrenner, 2021).
2.2 Konsep Teknologi
Teknologi sangat membantu manusia dalam melakukan berbagai hal, dengan kata lain teknologi mampu untuk membuat individu lebih produktif karena bisa melakukan banyak hal. Konsep teknologi adalah efektif dan efisien. Pada jaman dahulu orang membuat buku menggunakan mesin ketik, apabila ada kata yang salah ketik maka harus diulangi dari awal. Kecanggihan teknologi mampu memudahkan orang untuk mengetik dan menghapus tulisan sesuka hati apabila ada yang salah, dengan hadirnya komputer dan laptop orang lebih bisa melakukan banyak hal bahkan lebih dengan waktu yang singkat.
Perkembangan teknologi dan informasi sudah seharusnya diikuti oleh para tenaga medis dan promotor kesehatan dalam menyampaikan edukasi kesehatan. Peran teknologi sangat banyak dan tentunya akan memudahkan promotor dalam melakukan promosi kesehatan. Ragam karakteristik individu
yang begitu kompleks, tidak bisa disamakan hanya dengan satu media promosi, maka perlu bantuan teknologi untuk membuat berbagai macam bahan edukasi kesehatan dalam berbagai kemasan yang menarik.
Penerapan perilaku hidup sehat memerlukan interaksi yang kompleks dari berbagai faktor penentu. Keyakinan gaya hidup sehat memiliki tempat penting dalam pembentukan perilaku gaya hidup sehat. Hal ini menekankan bahwa perubahan perilaku multikomponen, seperti aktivitas fisik, diet sehat, berkaitan dengan berat badan self-efficacy, perlindungan dari penyakit, dan hidup sehat, dipengaruhi oleh keyakinan gaya hidup sehat (Akman, Tüzün, & C. Ünalan, 2012). Self-efficacy merupakan variabel efektif dalam menentukan perilaku perlindungan kesehatan. Self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuan mereka sendiri dalam mengembangkan dan menerapkan strategi yang mereka butuhkan untuk mengelola situasi yang mungkin mereka hadapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan self-efficacy tinggi memiliki berat badan lebih seimbang, mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan, memiliki sikap makan yang lebih sehat, dan lebih aktif secara fisik. Selain itu, individu dengan tingkat efikasi diri yang lebih tinggi lebih berhasil dalam menurunkan berat badan, karena efikasi diri berpengaruh pada pengendalian berat badan sehingga membantu mencapai perubahan perilaku yang diperlukan untuk mempertahankan atau mencapai berat badan ideal (Bektas, Kudubeş, Ayar, & Bektas, 2021).
Salah satu faktor lain yang memengaruhi keyakinan hidup sehat adalah literasi.
Literasi kesehatan yang dikemas dan dituangkan melalui sosial media mampu membuat remaja membuat keputusan mandiri tentang perilaku gaya hidup sehat seperti aktivitas fisik. Telah dilaporkan bahwa perubahan positif dalam keyakinan remaja dan strategi manajemen diri meningkatkan perilaku gaya hidup sehat dengan meningkatkan aktivitas fisik. Remaja dengan keyakinan tinggi akan hidup sehat lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam melakukan aktivitas fisik. Meningkatnya keyakinan akan gaya hidup sehat menunjukkan bahwa remaja berhasil memperoleh dan mempraktekkan perilaku hidup sehat.
Dalam penelitian Trigueros et al., ditegaskan bahwa terdapat korelasi positif antara aktivitas fisik dengan perilaku hidup sehat dan ditentukan bahwa remaja yang aktif secara fisik juga bertekad untuk mempertahankan perilaku hidup sehat (Trigueros et al., 2019). Dalam studi mereka, Chung et al., menemukan korelasi yang sama antara sikap terhadap gizi dan perilaku gaya hidup sehat (Chung et al., 2017). Selain itu, banyak penelitian menekankan bahwa ada hubungan antara karakteristik sosiodemografi dan aktivitas fisik, nutrisi, dan keyakinan gaya hidup sehat (Sala, Linde, Crosby, & Pacanowski, 2021).
Efektivitas promosi kesehatan dengan memanfaatkan sosial media mampu mendukung efektivitas intervensi gaya hidup yang dapat berhasil mengatasi faktor risiko kesehatan, seperti aktivitas fisik, perilaku diet, dan suasana hati yang buruk serta gejala yang menghalangi perubahan perilaku kesehatan yang positif. Maka dari itu, teknologi digital sangat menjanjikan untuk menjembatani dan memperluas jangkauan promosi kesehatan kepada kalangan masyarakat yang sering menggunakan sosial media.
2.2.1 Pelayanan Kesehatan Digital
Sektor kesehatan mulai memasuki era disrupsi. Pasien kini dapat berkonsultasi dengan dokter melalui berbagai aplikasi di smartphone. Layanan perawatan di rumah, pemeriksaan laboratorium maupun pemesanan obat dapat juga dilakukan melalui aplikasi yang terpadu dengan jasa transportasi daring yaitu internat. Jika sebelumnya pasien kesulitan dalam mendapatkan informasi riwayat kunjungan di fasilitas kesehatan, sebagai contoh peserta program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), maka saat ini bisa diakses melalui aplikasi mobile JKN. Teknologi digital semakin maju dan sudah dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi serta mutu pelayanan kesehatan.
Internet memberikan berbagai opsi bagi orang awam sebagai konsumen industri pelayanan kesehatan untuk meriset berbagai gejala yang ia rasakan atau yang terjadi pada tubuhnya. Sebelum memutuskan untuk mengunjungi dokter, mencari pengalaman sejenis di internet saat ini menjadi langkah pertama. WHO telah mengakui begitu besarnya peran internet dalam promosi produk medis dan obat-obatan. E-health atau electronic health yaitu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bagi pelayanan kesehatan dan informasi kesehatan, mulai didorong untuk dimasukkan dalam layanan dan sistem kesehatan. Konsep m-health atau mobile health yaitu penggunaan teknologi nirkabel untuk kesehatan publik, guna meningkatkan akses ke informasi kesehatan, tenaga kesehatan dan layanan kesehatan. Cakupan e- health lebih luas, melingkupi teknologi rekam medis elektronik, sistem administrasi pasien, hingga sistem di laboratorium kesehatan, sementara penerapan m-health, informasi kesehatan bisa diantar dan dikumpulkan lebih cepat sehingga lebih ruti melalui aplikasi dan memanfaatkan fitur ponsel hingga penggunaan smartwatch.
WHO menerbitkan resolusi mengenai kesehatan digital. Resolusi ini mendorong negara-negara anggota memberi prioritas pengembangan dan
penggunaan teknologi digital dalam dunia kesehatan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan layanan kesehatan universal dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Berikut ini adalah jenis-jenis e-health berdasarkan penggunanya, antara lain:
1. E-Health untuk konsumen umum. Disebut sebagai informatika konsumen dengan tujuan untuk memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat umum dan memfasilitasi konsultasi dokter ke pasien secara daring atau tanpa tatap muka.
2. E-Health untuk penyedia layanan kesehatan. Disebut informatika medis atau klinis, e-health ini mencakup fasilitas kesehatan, institusi pendidikan kesehatan dan medis, serta para praktisi kesehatan. Pada fasilitas kesehatan diterapkan dalam sistem resep elektonik dan rekam medis elektronik.
3. E-Health untuk akademisi dan peneliti. Disebut bioinformatika, di mana sistem teknologi dan informasi dimanfaatkan untuk manajemen, distribusi, dan pengelolaan data kesehatan demi keperluan riset medis, yang nantinya akan digunakan sebagai bukti atau latar belakang dalam merumuskan suatu masalah kesehatan.
2.2.2 Informasi Kesehatan Berbasis Digital
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah gaya hidup masa kini. Saat ini, masyarakat telah terbiasa dengan arus informasi yang cepat bergulir dari media sosial dan platform online lainnya. Tren perkembangan teknologi digitalpun akhirnya wajib untuk diikuti agar tidak ketinggalan informasi. Kebutuhan masyarakat akan informasi dan pelayanan kesehatan yang cepat dan akurat diperkirakan akan menggeser paradigma yang berpusat pada fasilitas pelayanan kesehatan (health facility-centered) menjadi berpusat pada pasien (patient-centered). Dengan kata lain, penyedia layanan kesehatanlah yang mendekati masyarakat dan bukan sebaliknya.
Pasien yang tadinya harus mendatangi klinik atau rumah sakit untuk mendapatkan informasi kesehatan, kini hanya tinggal memainkan jarinya di atas layar gawai. Cukup dengan menulis kata kunci tentang hal yang ingin diketahui pada browser, berbagai informasi yang terkait akan muncul.
Informasi kini mudah didapat secara real-time. Hal ini tentu saja membantu
masyarakat untuk mengambil keputusan yang efektif dan akurat dalam waktu singkat. Namun, ada 3 syarat yang harus dipenuhi agar informasi kesehatan digital dianggap valid dan dapat dipercaya.
Ruddy Gobel menyatakan bahwa terdapat 3 aspek penting galam informasi kesehatan digital, yaitu sebagai berikut:
1. Konten. Konten dalam informasi kesehatan digital harus akurat dan mudah dipahami. Bahasa yang dipakai harus disesuaikan dengan target audiens yang berbeda-beda tingkat pendidikan, minat, dan atensinya. Konten adalah hal utama yang perlu diperhatikan para promotor kesehatan, agar informasi yang disampaikan dapat tersaji secara tepat dan terperinci.
2. Kanal atau media. Media untuk mengakses sebuah konten harus mudah diakses, murah dan mudah dibagikan kepada orang lain.
Gunakanlah media yang ramah dengan konsumen, ramah secara fasilitas, ramah dengan kantong dan lain sebagainya.
3. Audiens atau pengguna layanan. Pahami karakteristik dari pengguna layanan digital, maka perlu melakukan riset terlebih dahulu, untuk menentukan market atau pasar mana yang akan dijangkau.
Berikut adalah tiga domain untuk mengukur perilaku kesehatan serta perubahannya:
1. Health Knowledge (Pengetahuan Kesehatan) merupakan suatu informasi yang diketahui oleh individu terkait dengan kesehatan, seperti penyakit menular dan tidak menular, faktor-faktor yang berakitan dengan kesehatan (gizi makanan, sarana air bersih, sampah, polusi udara), fasilitas pelayanan kesehatan, dsb. Instrumen untuk mengukur pengetahuan kesehatan adalah dengan pedoman wawancara atau kuesioner check list yang diisi berdasarkan kondisi yang sebenarnya. Indikator pengetahuan kesehatan adalah ”tingginya pengetahuan” responden tentang kesehatan atau besarnya persentase kelompok responden atau masyarakat tentang variabel-variabel kesehatan. Pengetahuan secara khusus dapat bermanfaat bagi kelompok pekerja berisiko tinggi dengan penyakit kronis, karena
mereka dapat melakukan kontrol atas perilaku mereka dan menyesuaikannya untuk mengoptimalkan fungsi, kemampuan kerja, dan peluang pekerjaan yang berkelanjutan (Ots et al., 2020).
2. Health Attitude (Sikap Terhadap Kesehatan) merupakan pendapat atau suatu penilain orang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, yang mencakup sikap tentang penyakit menular dan tidak menular, faktor-faktor yang berakitan dengan kesehatan (gizi makanan, sarana air bersih, sampah, polusi udara), fasilitas pelayanan kesehatan, dsb. Instrumen untuk mengukur sikap terhadap kesehatan dapat dilakukan dengan pedoman wawancara atau kuesioner check list yang diisi berdasarkan kondisi yang sebenarnya.
Indikator sikap terhadap kesehatan adalah ”tingginya kepedulian”
responden terhadap kesehatan atau besarnya rasa ingin melindungi diri dari faktor-faktor yang menyebabkan penyakit. Sikap remaja terhadap gizi memegang peranan yang sangat penting dalam terjadinya obesitas pada masa kanak-kanak dan memengaruhi kebiasaan makan mereka di masa dewasa. Terlihat bahwa remaja dengan tingkat keyakinan hidup sehat yang tinggi memiliki sikap makan sehat yang positif (Bektas et al., 2021).
3. Health Practice (Praktik Kesehatan) merupakan segala kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan. Tindakan atau praktik kesehatan yang mencakup tindakan atau praktik sehubungan dengan penyakit menular dan tidak menular, faktor- faktor yang berakitan dengan kesehatan (gizi makanan, sarana air bersih, sampah, polusi udara), fasilitas pelayanan kesehatan, dsb.
Instrumen untuk mengukur praktik terhadap kesehatan dapat dilakukan dengan pedoman wawancara atau kuesioner check list yang diisi berdasarkan kondisi yang sebenarnya. Indikator praktik terhadap kesehatan adalah ”tingginya aktivitas” responden untuk menjaga kesehatan atau banyaknya aktivitas responden yang dilakukan untuk melindungi diri dari faktor-faktor yang menyebabkan penyakit. Olahraga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya obesitas dan penyakit tidak menular, dengan aktivitas fisik secara terus menerus
dan berkelanjutan membuat individu terbiasa untuk melakukannya, sehingga berolahraga menjadi sebuah hobby yang menyenangkan (Sala et al., 2021).
2.3 Pengembangan Media Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan merupakan suatu kegiatan instruksional dan strategi lain untuk mengubah perilaku kesehatan individu, serta upaya organisasi, arahan kebijakan, dukungan ekonomi, kegiatan lingkungan, media massa, dan program tingkat masyarakat (Glanz, Rimer, & Viswanath, 2008). Promosi kesehatan adalah suatu penerapan dalam memberikan edukasi di bidang kesehatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan atau perilakunya untuk mencapai kesehatan secara optimal (Triwibowo & Pusphandani, 2015). Pemberian edukasi berpengaruh pada perilaku individu untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, individu yang berpendidikan tinggi lebih cenderung melakukan aktivitas yang dapat menunjang kesehatannya (Ots et al., 2020).
Promosi kesehatan perlu dirancang dengan pemahaman penerima, khalayak sasaran, karakteristik kesehatan dan sosial, keyakinan, sikap, nilai, keterampilan dan pengalaman agar menjadi efektif. Pendidikan kesehatan penting dilakukan untuk menunjang program-program kesehatan. Pendidikan kesehatan yang baik adalah yang bisa tersampaikan kepada masyarakat, hingga mereka paham, mau serta mampu untuk menerapkannya (Notoatmodjo, 2014).
Promotor kesehatan merupakan penggerak edukasi dibidang kesehatan, seorang promotor harus mampu memberikan penyuluhan yang tepat bagi masyarakat agar informasi yang diberikan dapat terserap dengan baik. Perawat sekolah merupakan kelompok profesional penting yang memberikan informasi untuk meningkatkan kesehatan dan perilaku remaja. Perawat mampu mengenali pengetahuan remaja terkait kesehatan karena pendidikan yang mereka berikan dan keterampilan literasi kesehatan yang diperoleh. Literasi kesehatan yang tinggi meningkatkan hasil kesehatan yang positif dari remaja.
Oleh karena itu, perlu adanya program intervensi visual, interaktif, dan peer
interaktif yang dilaksanakan oleh perawat sekolah untuk meningkatkan tingkat literasi kesehatan remaja. Program-program ini harus dirancang agar sesuai dengan semua tingkatan kelas dan mempertimbangkan keterampilan literasi kesehatan sebelumnya yang ditunjukkan oleh siswa. Secara khusus, perawat sekolah harus mengajari remaja apa itu literasi kesehatan dan di mana serta bagaimana menemukan sumber daya yang tepat. Intervensi ini juga akan meningkatkan tingkat efikasi diri remaja, juga disarankan agar perawat sekolah melakukan pemeriksaan dengan alat yang valid dan terverifikasi untuk mengidentifikasi remaja dengan tingkat literasi kesehatan dan efikasi diri yang rendah, dan bahwa program dikembangkan untuk meningkatkan efikasi diri dan tingkat literasi kesehatan semua remaja (Bektas et al., 2021).
Pengembangan media promosi kesehatan adalah strategi yang harus dilakukan agar mencapai kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Media promosi kesehatan dapat dikembangkan dengan bantuan teknologi.
Smartphone adalah benda yang memudahkan individu dalam mengakses banyak hal, termasuk mengakses edukasi dan layanan kesehatan. Maka dari itu, pembuatan konten atau isi materi promosi kesehatan perlu disesuaikan dengan trend yang sedang berkembang sekarang ini, sebagai contoh penggunaan hastag untuk mengkampanyekan isu-isu tentang kesehatan (Kletecka-Pulker et al., 2021).
2.3.1 Ruang Lingkup Media Promosi Kesehatan
Media adalah segala sesuatu yang sapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) sehingga dapat menerangkan informasi, ide, perasaan, perhatian dan minat komunikan sedemikian rupa sehingga terjadilah pemahaman, pengertian dan penghayatan dari apa yang diterapkan (Gallagher et al., 2021).
Tujuan penggunaan media antara lain sebagai berikut:
1. Alat bantu menyampaikan pesan. Pesan adalah sebuah informasi yang diharapkan dapat dimengerti dan dilakukan oleh si penerima pesan. Pesan berkaitan dengan himbauan atau anjuran kepada individu agar bisa melakukan atau bisa menghindari hal-hal tertentu.
Pesan kesehatan adalah suatu informasi yang diberikan agar orang mampu untuk menerapkan perilaku hidup sehat dan menghindari perilaku hidup yang tidak sehat.
2. Dapat membangkitkan perhatian, minat dan kesungguhan terhadap materi promosi kesehatan. Penting bagi promotor untuk memberikan narasi-narasi yang dapat memotivasi dan membangkitkan semangat seseorang untuk bisa menyerap informasi dengan baik sehingga bisa menerapkannya, selain itu gambar-gambar atau video edukasi dibuat semenarik mungkin akan menarik perhatian audiens.
3. Sebagai alat pengingat pesan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan, salah satunya adalah pelupa, dengan adanya media promosi kesehatan yang dapat dilihat dan diakses setiap saat membuat seseorang ingat dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan.
4. Menjelaskan fakta-fakta, prosedur dan tindakan. Media kesehatan merupakan wadah yang dapat memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta dan data. Prosedur dan tindakan yang telah dilakukan oleh sejumlah peneliti dan tenaga medis mampu menghasilkan suatu bukti yang valid guna mendukung keberlangsungan kesehatan di tengah masyarakat.
5. Membuat penyajian materi penyuluhan yang lebih menarik. Materi yang menarik bisa membuat audiens antusias dalam mendengar serta membacanya, maka dari itu agar penyampaian materi penyuluhan tersampaikan dengan optimal perlu dibuat materi semenarik mungkin, tentu saja kita harus melihat karakteristik individunya.
Media promosi kesehatan memiliki beberapa macam, antara lain media yang dapat didengar (audio), media yang dapat dilihat (visual), dan media yang dapat bergerak (motorik). Media bentuk visual dibedakan menjadi tiga yaitu gambar visual, grafis, dan simbol verbal. Selain ini, ada juga media transmisi (telekomunikasi) dan media rekaman. Media yang paling lengkap adalah audio visual gerak (gambar, suara, gerak). Sebagai contoh video edukasi yang interaktif yang dapat kita lihat di sosial media dan platform digital (Sugiarto, Shaluhiyah, & Widjanarko, 2018).
2.3.2 Peran Media dalam Promosi Kesehatan
Media dalam proses komunikasi merupakan salah satu komponen yang harus adam yaitu komunikator, pesan (informasi), komunikan dan media serta adanya umpan balik. Jika satu dari komponen proses komunikasi tidak ada maka proses tidak akan terjadi sehingga posisi media dalam proses komunikasi sangatlah penting. Proses komunikasi menyampaikan pesan tentang kesehatan harus memperhatikan komponen media. Media harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi penghubung pesan antara komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan) sehingga materi tentang kesehatan dapat tersampaikan dengan baik (Ardian, 2014).
Proses komunikasi yang terjadi dimasyarakat, sebagai contoh pemberi pelayanan (dokter dan perawat) dengan pasien atau keluarga pasien yang melakukan proses komunikasi secara bergantian, yaitu pasien atau keluarga pasien bertanya dan dokter atau perawat menjawab, begitu pun sebaliknya.
Media adalah komponen yang tidak dapat berubah peran dan berjalannya proses komunikasi, maka menjadi penting untuk melakukan langkah-langkah yang tepat dalam membuat media promosi kesehatan agar konten atau isi yang akan diberikan dapat tersampaikan dengan baik.
Media promosi kesehatan selalu berubah dari tahun ke tahun. Saat ini, dengan kecanggihan teknologi yang serba instan dan memudahkan membuat masyarakat dapat menyerap informasi sebanyak-banyaknya, akan tetapi yang masih menjadi tantangan adalah adanya informasi yang bersifat hoax atau palsu. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk bagi pola pikir masyarakat.
Semakin banyak informasi yang kita terima, bukan berarti kita langsung percaya akan informasi yang tidak jelas sumbernya tersebut. Maka, perlu adanya edukasi tentang penggunaan sosial media dan mengenalkan sumber- sumber informasi yang terpercaya tentunya yang sudah terverifikasi.
Promosi kesehatan adalah intervensi yang tepat dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit menular dan merupakan sebagai salah satu intervensi dalam pengendalian penyakit menular. Promosi kesehatan yang berisi edukasi kesehatan tentang penyakit menular dibutuhkan sebagai upaya untuk memperkuat penyebaran informasi yang akurat untuk mempromosikan pengetahuan dan sikap TB yang sehat. Promosi kesehatan yang dilakukan pada siswa berhasil meningkatkan pengetahuan mereka terutama berkaitan dengan pengobatan TB. Promosi kesehatan yang diberikan pada anggota keluarga berhasil ditingkatkan dengan menggunakan media video edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan yang dikemas
dengan baik dan benar berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat (Yani, Juniarti, & Lukman, 2019).
Berikut adalah peran media promosi kesehatan:
1. Media dapat mempermudah penyampaian informasi
Jika dibandingkan jumlah masyarakat dan tenaga medis (dokter dan perawat) sangatlah jauh, maka dari itu perlu adanya media promosi kesehatan untuk mempermudah dalam menyampaikan informasi. Media promosi dirancang sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik individu, sebagai contoh media promosi antara orang desa dengan orang kota, tentu akan berbeda. Orang kota cenderung memiliki pendidikan tinggi dan aktif dalam bertanya, sehingga dibutuhkan adanya ruang konsultasi antara dokter dengan pasien, bisa secara langsung bisa juga dengan layanan telefon atau aplikasi tertentu yang dapat menghubungkan dokter dengan pasiennya. Sedangkan pada umumnya, orang- orang malas untuk membaca narasi yang begitu panjang, sehingga perlu dibuatkan video edukatif atau gambar animasi yang dapat menyampaikan edukasi kesehatan dengan jelas dan menarik. Notoatmodjo menjelaskan bahwa kurang lebih 75% dari pengetahuan manusia diperoleh melalui mata, sedang sisanya melalui indera yang lain. Dengan menggunakan power point dan booklet, informasi yang disampaikan melalui mata lebih banyak, sehingga informasi akan lebih mudah diterima oleh keluarga (Mardhiah, 2015).
2. Media dapat menghindari kesalahan persepsi
Pemilihan dan penggunaan media yang tepat dengan melihat karakteristik individu merupakan salah satu komponen yang penting. Pengetahuan paling banyak disalurkan oleh organ penglihatan atau mata. Oleh sebab itu, dalam aplikasi pembuatan media disarankan lebih banyak menggunakan alat-alat visual ataupun audiovisual karena akan mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi oleh masyarakat. Peningkatan pengetahuan keluarga setelah diberikan perlakuan merupakan akibat dari pemberian edukasi kesehatan dengan media audio visual. Dengan demikian media audio visual sebagai media promosi kesehatan efektif digunakan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga menjadi lebih baik dan menghindari kesalahan persepsi (Yosendha & Widati, 2018).
3. Media dapat memperjelas informasi
Informasi kesehatan harus disampaikan dengan jelas dan benar. Media merupakan wadah yang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyalurkan informasi tersebut. Konten atau isi dari suatu gambar atau video sebaiknya diberikan narasi yang ringkas, padat dan jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, perlu juga untuk mencantumkan sumber dari mana informasi tersebut didapatkan.
4. Media dapat mempermudah pengertian
Tak jarang ada beberapa individu yang terkadang tidak mau mengindahkan perkataan dari dokter terkait dengan masalah kesehatannya, maka dari itu perlu adanya media promosi kesehatan yang mampu memberikan pengertian kepada karakter individu yang sulit untuk diberitahu. Media yang dikemas dengan menceritakan kembali pengalaman pengobatan atau riwayat penyakit seseorang dan menghadirkan orang tersebut di dalam suatu video atau wawancara interaktif mampu memberikan pengertian kepada individu.
5. Media dapat mengurangi komunikasi verbalistik
Cara mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik, maka cara yang digunakan adalah melalui media masa atau media sosial. Jaman sekarang, orang melihat informasi atau berita melalui smartphone. Handphone pintar tersebut mampu menghipnotis penggunanya hanya dengan melihat video maupun tulisan singkat. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang (Putri, Nurwati, & S., 2016). Edukasi di media sosial merupakan hal yang tepat dilakukan pada zaman serba canggih ini. Tenaga kesehatan sudah semestinya beralih ke media sosial sebagai wadah untuk memberikan pendidikan kesehatan. Aplikasi-aplikasi seperti instagram, twitter, facebook, whatsApp, youtube bahkan tik tok perlu digunakan sebagai media untuk memberikan edukasi atau promosi kesehatan kepada massa atau pengguna media sosial.
Bab 3
Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan
3.1 Pendahuluan
Media promosi kesehatan merupakan sarana dalam menyampaikan pesan informasi oleh komunikator sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang pada akhirnya diharapkan dapat merubah perilakunya ke arah yang lebih baik terkait dengan kesehatan (Susilowati, 2016).
Media promosi kesehatan yang baik adalah media yang mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kesehatan yang sesuai dengan tingkat penerimaan sasaran, sehingga sasaran mau dan mampu untuk mengubah perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan (Depkes, 2006).
3.2 Tahapan Pengembangan Media Promosi Kesehatan
Tahap-tahapan dalam pengembangan media promosi kesehatan yaitu:
1. Tahap Analisis Masalah dan Sasaran Pada tahap ini dilakukan penelaahan analisis:
a. Masalah Kesehatan, termasuk penyebab masalahnya, sifat masalah, epidemiologi masalah termasuk masalah perilaku yang ada di masyarakat sehubungan dengan masalah kesehatan yang ditimbulkan.
b. Kelompok sasaran, dalam hal demografi, sosial-ekonomi, faktor- faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat seperti umur, pendidikan, budaya dan adat-istiadat, pendapatan, serta pengembangan sikap dan perilaku yang berhubungan dengan masalah kesehatan.
c. Kebijaksanaan, peraturan dan program penanggulangan yang telah ada dari berbagai instansi sektoral untuk mengetahui pengalaman yang lalu, harapan dimasa yang akan datang. Di sini dapat dipelajari arahan-arahan dan dalam membuat suatu program kegiatan KIE, masing-masing sektor. Apakah masalah sosial, kesehatan, ekonomi, demografi atau bahkan politik. Dan melihat program serta pendukung apa saja yang telah tersedia.
d. Memilih institusi, organisasi atau LSM yang mampu mendukung program. Dilihat kemampuan internal dan eksternal dari organisasi tersebut.
e. Sasaran komunikasi yang tersedia, untuk menetapkan media dan sarana yang tersedia dan yang telah dilaksanakan, yang memengaruhi perilaku masyarakat seperti umur, pendidikan, budaya dan adat istiadat, pendapatan serta pengembangan sikap dan perilaku yang berhubungan dengan masalah kesehatan (Depkes, 2006).
2. Tahap Rancangan Pengembangan Media
Pada tahap ini dirancang atau direncanakan berbagai strategi dan model intervensi yang menjelaskan beberapa komponen utama, yaitu:
a. Menetapkan tujuan
Tujuannya adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan di masa datang yang akan dicapai melalui pelaksanaan kegiatan tertentu. Penetapan tujuan merupakan dasar untuk merancang media promosi kesehatan dan dalam merancang evaluasi. Jika tujuan yang ditetapkan tidak jelas dan tidak operasional maka program menjadi tidak fokus dan tidak efektif (Notoadmodjo, 2005)
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan harus:
(1) Realistis, artinya bisa dicapai bukan hanya angan-angan.
(2) Jelas dan dapat diukur.
(3) Apa yang akan diukur.
(4) Siapa sasaran yang akan diukur.
(5) Seberapa banyak perubahan yang akan diukur.
(6) Berapa lama dan di mana pengukuran dilakukan.
b. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan.
Tujuannya adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan memberikan kepuasan pada masing-masing segmen. Dapat juga untuk menentukan ketersediaan, jumlah dan jangkauan produk. Selain itu juga dapat menghitung jenis media dan menempatkan media yang mudah di akses oleh khalayak sasaran.
Sebelum media promosi kesehatan diluncurkan hendaknya perIu mengumpulkan data sasaran seperti:
(1) Data karakteristik perilaku khalayak sasaran.
(2) Data epidemiologi.
(3) Data demografi.
(4) Data geografi.
(5) Data psikologi (Notoadmodjo, 2005).
c. Mengembangkan posisioning pesan
Posisioning adalah suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk perusahaan, individu atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap sebagai sasaran atau konsumennya. Posisioning bukan sesuatu yang dilakukan terhadap produk tetapi sesuatu yang dilakukan terhadap otak calon konsumen atau khalayak sasaran. Hal ini bukan strategi produk tetapi strategi komunikasi.
Di sini berhubungan dengan bagaimana calon konsumen menempatkan produk kesehatan di dalam otaknya (Notoadmodjo, 2005).
d. Menentukan strategi posisioning
Pada prinsipnya seseorang yang ingin melakukan kegiatan posisioning memerlukan suatu ketekunan dan kejernihan berpikir dalam memandang produk dan pasar yang tengah diusahakan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan :
a) Identifikasi para pesaing
Tujuannya adalah melakukan identifikasi atas sejumlah pesaing yang ada di masyarakat.
b) Persepsi konsumen
Tujuannya adalah memperoleh sejumlah atribut yang dianggap penting oleh khalayak sasaran.
c) Menentukan posisi pesaing
Mengetahui posisi yang diduduki oleh pesaing dilihat dari berbagai sudut pandang.
d) Menganalisis preferensi khalayak sasaran
Yaitu mengetahui posisi yang dikehendaki oleh khalayak sasaran terhadap suatu produk tertentu.
e) Menentukan posisi merek produk sendiri
Penentuan posisi merek yang akan kita jual harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : analisis ekonomi, komitmen terhadap segmen pasar, jangan mengadakan perubahan yang penting, pertimbangkan simbol-simbol produk.
f) Ikuti perkembangan posisi
Secara berkala posisi produk harus ditinjau dan dinilai kembali apakah masih cocok dengan keadaan (Notoadmodjo, 2005).
e. Memilih Media Promosi Kesehatan
Pemilihan media adalah jabaran saluran yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan pada khalayak sasaran. Yang perlu diperhatikan di sini adalah:
a) Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran, bukan pada selera pengelola program.
b) Media yang di pilih harus memberikan dampak yang luas.
c) Setiap media akan mempunyai peranan yang berbeda.
d) Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi dan efektivitas pesan (Depkes, 2006).
3. Tahap Pengembangan Pesan, Uji Coba dan Produksi Media
Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke dalam ungkapan atau kata yang sesuai untuk khalayak sasaran. Pesan dalam suatu media harus efektif dan kreatif, untuk itu pesan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
1) Command attention
Kembangkan suatu ide atau pesan pokok yang merefleksikan strategi desain suatu pesan. Bila terlalu banyak ide, hal tersebut akan membingungkan khalayak sasaran dan mereka akan mudah melupakan pesan tersebut
2) Clarify the massage
Pesan haruslah mudah, sederhana dan jelas. Pesan yang efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru bagi khalayak sasaran. Kalau pesan dalam media diremehkan oleh sasaran, secara otomatis pesan tersebut gagal.