• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI FUNGSIONAL STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JENEPONTO NUR ICHSAN AHMAD ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SKRIPSI FUNGSIONAL STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JENEPONTO NUR ICHSAN AHMAD ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2021"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

FUNGSIONAL STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JENEPONTO

NUR ICHSAN AHMAD

ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2021

(2)

ii

FUNGSIONAL STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JENEPONTO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Administrasi Pendidikan

Strata Satu (S1) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Oleh

NUR ICHSAN AHMAD 1643042011

ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v Nama : Nur Ichsan Ahmad NIM : 1643042011

Jurusan : Administrasi Pendidikan (S1)

Judul : Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jenponto

Menyatakan yang sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini adalah hasil jiplakan atau mengandung unsur plagiat, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Makassar, 03 Desember 2020 Yang membuat pernyataan

Nur Ichsan Ahmad 1643042011

(6)

vi

mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”

(QS. Ar Rad: 11)

Ambillah kebaikan dari apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya,

“Eja tompi na rikana doang”

Kuperuntukkan skripsi ini

Sebagai wujud terima kasihku terhadap kerja keras dan pengorbanan kedua Orang tuaku, Saudaraku, dan Keluarga besarku yang begitu mencintai dan merawatku dengan tulus serta perhatian dan doa yang selama ini diberikan, dengan ini penulis

mengucapkan terima kasih banyak atas kesederhanaan hidup yang penuh cinta kasih dan kebahagiaan.

Semoga Allah SWT Memberikan Rahmat dan Keberkahannya Kepada Kita Semua.

(7)

vii

Kabupaten Jeneponto. Skripsi. Dibimbing oleh Dr. Wahira, M.Pd dan Sumarlin Mus, S.Pd.,M.Pd; Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu

Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Penelitian ini mengkaji tentang fungsional struktur organisasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsional subbdimensi struktur organisasi di Dinas Pendidikan yang mencakup kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan redaksi kata, paparan data dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur organisasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto terdiri atas Kepala Dinas, Sekretaris Dinas, Bidang Pendidikan Sekolah Dasar, Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama, Bidang Kebudayaan, Bidang PAUD dan DIKMAS, Bidang Pembinaan Dan Ketenagaan Serta Jabatan Fungsional. Selanjutnya berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto mempunyai tenaga kerja sebanyak 136 tenaga kerja yang terdiri dari pejabat struktural sebanyak 25 tenaga kerja, fungsional umum sebanyak 51 tenaga kerja dan jabatan fungsional pengawas sebanyak 60 tenaga kerja. Adapun dimensi struktur organisasi dalam Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto dalam hal ini kompleksitas sudah sesuai dengan visi misi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto, formalisasi sebagaimana Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto diatur sesuai peraturan pemerintah daerah atau bupati Kabupaten Jeneponto, dan sentralisasi dalam hal pengambilan keputusan berasal dari pimpinan yaitu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

Kata Kunci: Struktur Organisasi, Kompleksitas, Formalisasi dan Sentralisasi.

(8)

viii

Puji dan syukur Alhamdullilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas berkat rahmat dan hidayah-Nya skripsi berjudul “Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto” ini dapat terselesaikan. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata (S1) pada Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar.

Salam dan shalawat semoga senantiasa tercurah untuk junjungan Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa pesan kebenaran kepada seluruh ummat manusia dan semoga keselamatan dilimpahkan kepada seluruh keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya serta para pengikut-pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Penulis menyadari bahwa sejak penyusunan proposal sampai skripsi ini selesai, banyak hambatan, rintangan dan halangan, namun berkat bantuan, motivasi dan doa dari berbagai pihak semua ini dapat teratasi dengan baik.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Pada kesempatan ini, dari lubuk hati yang paling dalam, terima kasih kepada kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Ahmad dan Ibunda Heriati, Orang tua terbaik yang kumiliki di dunia ini yang telah menuntunku dalam menjalani kerasnya kehidupan dan mengajarkan arti kehidupan dengan cinta dan kasih sayang yang murni serta kesabaran dan

(9)

ix

dukungan dan do’anya selama penulis menempuh pendidikan.

Secara khusus, penulis menghaturkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Dr. Wahira, M.Pd., selaku pembimbing satu dan bapak Sumarlin Mus, S.Pd, M.Pd., selaku pembimbing dua yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan, arahan, dorongan, serta semangat kepada penulis. Semoga Allah SWT. melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua.

Penghargaan dan ucapan terima kasih setinggi-tingginya tak lupa penulis haturkan kepada:

1. Prof. Dr. H. Husain Syam, M.TP., selaku Rektor Universitas Negeri Makassar yang telah menerima penulis menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

2. Dr. Abdul Saman, M.Si.Kons., selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar atas segala kebijakannya sebagai pimpinan Fakultas tempat peneliti menimba ilmu selama ini.

3. Dr. Mustafa,. M.Si., sebagai Wakil Dekan I, Dr. Pattaufi, M.Si., sebagai Wakil Dekan II dan Dr. Ansar M.Si sebagai Wakil Dekan III FIP UNM, yang telah memberikan layanan akademik, administrasi dan kemahasiswaan selama proses pendidikan dan penyelesaian studi.

(10)

x

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Makassar yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis duduk di bangku perkuliahan.

6. Bapak Jamaluddin, S.Pd selaku operator Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar yang senantiasa membantu penulis dalam proses administrasi akademik.

7. Bapak Walidain selaku staf tata usaha Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar yang senantiasa membantu penulis dalam proses administrasi akademik.

8. Bapak Drs. Nur Alam Basri, M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto dan Kasubbag Umum yang telah meluangkan waktunya serta memfasilitasi penulis dengan memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian.

9. Staf Kasubbag dan beberapa ASN yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam penelitian.

10. Kepada teman seperjuangan yang luar biasa di jaman SMP-SMA Ayu Awalia, Ira, Sri Novianti, Kurniawan, Iqbal, Reza, Mamang, Idhar, Tio dan Ardi juga tak lupa (Nur Indah Sari). Terima kasih atas persahabatan selama ini yang penuh suka dan duka serta doa dan motivasi dalam hal apapun.

(11)

xi

Mawaqif Sulaiman, Ainun, Emilda, Antole, Rindy, Haslinda Kiki, Kyo, Tasma, Karmila, Fajriyah, dan Sartika sudah menjadi sahabat yang baik serta selalu membantu dalam segala hal dan atas segala kebersamaannya dalam melewati masa perkuliahan dikala suka maupun duka, dan semua teman- teman AP 02 yang belum sempat penulis sebutkan. Terima kasih telah mewarnai kehidupan penulis kurang lebih 4 tahun lamanya.

12. Rekan-rekan senior Jurusan Administrasi Pendidikan angkatan 2014 dan 2015. Terkhusus untuk Keluarga Besar AP 2016 yang telah menerima penulis dengan sangat luar biasa dan memberikan dukungan, motivasi dan bantuan selama penyusunan skripsi ini. Terima kasih telah menjadi teman, sahabat, dan keluarga dalam kebersamaan selama menjalani proses perkuliahan hingga proses penyelesaian studi dan akan menjadi kenangan terindah yang tidak akan terlupakan.

13. Bapak Secuirity, ibu Kantin, ibu Ros dan pak Jhon Fakultas Ilmu pendidikan Universitas Negeri Makassar. Terima kasih selama 4 tahun ini telah memberikan pengalaman yang luar biasa kepada penulis.

14. Rekan-rekan KKN/PPL Universitas Negeri Makassar angkatan XIX tahun 2019/2020 di SMK CAMPALAGIAN. Terima kasih atas kebersamaannya selama tiga minggu berkesan di lokasi KKN.

(12)

xii

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan bahwa tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran yang konstruktif sehingga penulis dapat berkarya yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Penulis berharap semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca maupun dunia pendidikan secara umum serta dapat bernilai ibadah disisi-Nya. Amin Yaa Rabbal Alamin.

Makassar, 03 Desember 2020

Penulis

(13)

xiii

PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI iv

PERNYATAAN KEASLIAN v

MOTTO vii

ABSTRAK viiii

PRAKATA viiiii

DAFTAR ISI xiiii

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xvi

DAFTAR LAMPIRAN xvi

BAB I 1

PENDAHULUAN 1

A. Konteks Penelitian 1

B. Fokus Penelitian 6

C. Tujuan Penelitian 6

D. Manfaat Penelitian 6

BAB II 7

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL 7

A. Tinjauan Pustaka 7

1. Organisasi dan Struktur Organisasi 7

2. Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto 8

(14)

xiv

METODE PENELITIAN 26

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 26

B. Kehadiran Peneliti 27

C. Lokasi Penelitian 27

D. Sumber Data 28

E. Teknik Pengumpulan Data 28

F. Teknik Analisis Data 31

G. Pengecekan Keabsahan Data 33

H. Tahap-tahap Penelitian 35

BAB IV 37

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 37

A. Hasil Penelitian 37

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 37

2. Deskripsi Hasil Penelitian 40

B. Pembahasan 66

BAB V 73

KESIMPULAN DAN SARAN 73

A. Kesimpulan 73

B. Saran 74

DAFTAR PUSTAKA 75

(15)

xv

Tabel 4.2 Data Pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto 40

Tabel 4.3 Pola Pegambilan Keputusan 65

(16)

xvi

(17)

xvii

Lampiran 3 Matriks Fungsional Data 85

Lampiran 4 Dokumentasi 109

Lampiran 5 Persuratan 121

Lampiran 6 Riwayat Hidup 128

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Adanya arus globalisasi sangat menuntut adanya kualitas sumber daya manusia yang semakin meningkat. Pemerintah sebagai pelayan publik (public servant) mempunyai tugas dan tanggung jawab memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sebagai penjabaran dari tujuan negara, yaitu menjamin keamanan negara, memelihara ketertiban, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi kepentingan masyarakat, serta mensejahterakan masyarakat berdasarkan prinsip keadilan sosial. Hal inilah yang akan menjadi tantangan bagi Indonesia sehingga diperlukan adanya peningkatan. Menurut Sondang P. Siagian (2011: 2-25) menyatakan:

Adanya beberapa alasan pentingnya sumber daya manusia dalam organisasi itu sendiri, yaitu dengan beberapa pendekatan antara lain pendekatan politik, pendekatan ekonomi, pendekatan hukum, pendekatan sosio-kultural, pendekatan administratif, dan pendekatan teknologika.

Organisasi dapat dipahami sebagai suatu sistem interaksi dinamis dari beberapa aspek pokok yang terdapat didalamnya. Beberapa aspek pokok organisasi antara lain subjek atau pelaku, struktur, tata hubungan, fungsi, proses atau aktivitas, tata nilai, prosedur dan tata aturan, serta tujuan yang hendak dicapai. Secara umum, terminologi organisasi dapat diidentikkan dengan terminologi lembaga. Dengan demikian, yang dimaksud dengan lembaga instansi pemerintah dalam pedoman ini dapat disamakan dengan organisasi atau instansi pemerintah.

(19)

Hasibuan (2013:24) memberikan pengertian “Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari kelompok orang yang bekerjasama dalam mencapai tujuan tertentu”. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu wadah yang terdiri dari unsur manusia yang saling bekerja sama dan saling menguntungkan untuk kepentingan bersama dalam pencapaian tujuan organisasi. Faktor penentu apakah suatu organisasi dapat survive dalam mencapai tujuannya atau tidak dilihat dari sumber daya menusianya. Mengingat pentingnya sumber daya manusia dalam organisasi atau lembaga, maka sumber daya manusia dalam hal ini pegawai memiliki peran penting dalam organisasi itu sendiri, yaitu sebagai perencanaan, pelaksana, dan pengawas dalam sebuah lembaga atau organisasi.

Sumber daya aparatur dalam suatu organisasi pemerintah harus di arahkan dan dikoordinasikan untuk menghasilkan kontribusi yang baik bagi organisasi, sumber daya aparatur pemerintah merupakan sumber daya yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan pada pembangunan dalam memajukan tatanan pemerintahan, kemasyarakatan, serta pembangunan dalam rangka menuju masyarakat sejahtera seperti yang dicita-citakan.

Keberhasilan organisasi dapat ditentukan melalui tingkat keefektifan struktur organisasi. Secara ideal struktur organisasi harus bersifat dinamis sebagai konsekuensi dari adaptasi terhadap dinamika perubahan lingkungan internal dan eksternal. Dalam perspektif ini struktur organisasi yang baik adalah yang mampu beradaptasi secara responsif maupun antisipatif terhadap tuntutan perubahan lingkungan. Struktur organisasi menjadi penting sebagai pemberi peran bagi

(20)

individu atau kelompok sehingga tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan menjadi jelas dan tidak tupang tindih. Keselarasan antara masing-masing tugas dan pekerjaan diharapkan hadir dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran bersama.

Menurut Suryaningsum (2008) “Struktur organisasi mempunyai dua muka, yang pertama yaitu model struktur dan yang kedua dimensi-dimensi struktur organisasi”. Model struktur dimana model tersebut mempergunakan prinsip-prinsip teori organisasi. Kemudian yang kedua dimensi-dimensi struktur organisasi yang akan menentukan kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan yang harus dilakukan dan tingkat spesialisasi yang dapat diberikan. Sehubungan perkembangan waktu dan dinamika eksternal dan internal di lingkungan instansi pemerintah, pedoman evaluasi yang ada seharusnya disesuaikan dan diperbaiki sesuai dengan tuntutan perkembangan yang terjadi.

Tuntutan akan pedoman evaluasi didukung oleh pedoman kelembagaan instansi pemerintah yang selaras dengan bunyi Undang-Undang Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Pedoman Evaluasi Kelembagaan Instansi Pemerintah Pasal 2, berbunyi “Pedoman Evaluasi Kelembagaan Instansi Pemerintah merupakan acuan bagi instansi pemerintah dalam melaksanakan evaluasi kelembagaan pemerintah secara efektif dan efisien”.

Pedoman evaluasi kelembagaan instansi pemerintah ini mencakup Dimensi struktur yang mencakup tiga subdimensi yaitu kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas pada struktur organisasi merujuk pada tingkat

(21)

diferensiasi (pemisahan tugas-tugas) yang ada pada suatu organisasi. Semakin kompleks organisasi, semakin dibutuhkan koordinasi, kontrol, dan komunikasi yang efektif bagi unit-unit yang ada sehingga para pimpinan bisa memastikan bahwa setiap unit bekerja dengan baik.

Formalisasi pada restrukturisasi organisasi merupakan suatu proses penyeragaman melalui aturan-aturan, prosedur, instruksi dan komunikasi yang telah dibakukan. Sementara sentralisasi pada subdimensi struktur organisasi Sentralisasi dapat diartikan sebagai tingkatan pengkonsentrasian kekuasaan secara formal. Sentralisasi dapat menurunkan tingkat kompleksitas dan menyederhanakan struktur organisasi. Semakin sederhana struktur organisasi akan semakin gesit gerak dan perkembangannya. Sedangkan bagi organisasi yang strukturnya besar, sentralisasi dapat mengakibatkan organisasi tersebut bergerak lamban.

Organisasi dalam penelitian ini adalah Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto. Bupati Jeneponto Nomor 26 Tahun 2008 menyebutkan bahwa:

Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto memiliki tugas dan fungsi yaitu merumuskan konsep sasaran, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, membina, mengarahkan, mengevaluasi serta melaporkan pelaksanaan urusan Pemerintahan Daerah di Bidang Pendidikan, Olahraga, dan Pemuda berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Dalam penelitian terdahulu, ditemukan fakta bahwa dalam praktik penyelenggaraan tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto yang menyebutkan tugas dan fungsi dinas pendidikan tidak berjalan sesuai dengan semestinya. Banyaknya tugas dan fungsi yang tidak berjalan seperti pada bidang pendidikan dasar, pelaksanaan tugas dan fungsi yang tercantum dalam pasal 12

(22)

ayat 3 yang menyebutkan bahwa pengangkatan, penempatan kerja tenaga pendidik PNS tidak berjalan untuk periode 2015. Selain itu, tugas dan fungsi dalam mengoreksi usul mutasi tenaga pendidik juga tidak berjalan. Tidak berjalannya tugas dan fungsi ini tidak sesuai dengan salah satu dimensi indikator struktur organisasi.

Masalah yang lain bahwa di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto ditemukan kendala atau persoalan yang berkaitan dengan penurunan kinerja pegawai yang disebabkan karena pimpinan bukan dari kalangan pendidik yang berakibat kurangnya penguasaan pribadi dalam pembinaan pegawai, pemberdayaan pegawai, keteladanan dalam pelaksanaan tugas dan kecakapan dalam membina hubungan dengan pihak luar kurang mendapatkan perhatian.

Informasi dari hasil observasi awal dari Bapak Drs. Nur Alam Basar, M.Si selaku Kepala Dinas Pendidikan beliau mengatakan bahwa tidak berjalannya tugas dan fungsi ini karena adanya perkembangan yang beragam dari unit dalam organisasi itu sendiri yang berdasarkan pada orientasi pekerjaan, sifat tugas-tugas yang ada, dan latar pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang ada. Untuk itulah tugas dan fungsi dalam menyelenggarakan, membina, dan mengarahkan serta mengevaluasi dalam urusan pendidikan dasar, olahraga, dan pemuda tidak berjalan sesuai dengan jadwal.

Molornya waktu pelaksanaan pada pembinaan dan pelayanan teknis sering kali tidak berjalan sesuai dengan jadwal juklak dan juknis. Dari permasalahan di atas maka penulis merasa tertarik untuk mengambil judul “Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto”.

(23)

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat difokuskan masalah yang diteliti sebagai berikut: “Bagaimanakah fungsional subdimensi kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi pada struktur organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto?”

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan fokus permasalahan tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsional subdimensi kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi pada struktur organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Sebagai sumber informasi bagi pembaca yang ingin mengetahui fungsional subdimensi kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi pada struktur organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

2. Manfaat Praktis

a. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kalangan praktisi pemerintah pada Dinas Pendidikan dalam meningkatkan kualitas organisasinya dengan memperhatikan beberapa subdimensi sutruktur organisasi yang mencakup komplesitas, formalisasi dan sentralisasi.

b. Bagi Dinas Pendidikan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan fungsi manajemen struktur organisasi

(24)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Organisasi dan Struktur Organisasi

Organisasi dapat dipahami sebagai suatu sistem interaksi dinamis dari beberapa aspek pokok yang terdapat didalamnya. Beberapa aspek pokok organisasi antara lain subjek atau pelaku, struktur, tata hubungan, fungsi, aktivitas, tata nilai, prosedur dan tata aturan, serta tujuan yang hendak dicapai. Secara umum, terminologi organisasi dapat diidentikkan dengan terminologi lembaga.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan lembaga instansi pemerintah dalam pedoman ini dapat disamakan dengan organisasi atau instansi pemerintah.

Syaiful Sagala dalam (Taruna, 2017:15). mendefinisikan organisasi adalah “Institusi atau wadah tempat orang berinteraksi dan bekerja sama sebagai suatu unit terkoordinasi yang setidaknya terdiri dari dua orang atau lebih yang berfungsi mencapai sasaran”. Artinya, bahwa organisasi adalah sebuah wadah, tempat, sistem untuk melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jika dihubungkan dengan pendidikan maka organisasi pendidikan adalah wadah untuk melakukan kegiatan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Organisasi merupakan sistem saling pengaruh antar orang dalam kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Organisasi dipandang pula sebagai satuan sosial yang dikoordinasi secara sadar, yang

(25)

tersusun atas dua orang atau lebih, yang berfungsi atas dasar yang relatif terus- menerus untuk mencapai suatu tujuan atau seperangkat tujuan bersama.

Sementara itu untuk mencapai tujuan dari sebuah organisasi perlu adanya peran dari struktur organisasi, struktur organisasi merupakan bentuk dari organisasi secara keseluruhan yang menggambarkan kesatuan dari berbagai segmen dan fungsi organisasi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, ukuran, jenis teknologi dan sasaran yang akan dicapai. (Nurhayati & Darwansyah, 2013:

4) menyatakan “Struktur organisasi merupakan susunan hubungan-hubungan antar satuan organisasi, jabatan-jabatan, tugas-tugas, wewenang dan peranggung jawaban-pertanggung jawaban dalam organisasi”.

Struktur organisasi mengatur hubungan yang relatif tetap atau pasti di antara tugas-tugas yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut Gammahendra dkk (2014: 3) Struktur organisasi pada hakikatnya adalah suatu cara untuk menata unsur-unsur dalam organisasi dengan sebaik-baiknya, demi mencapai berbagai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, pentingnya sebuah struktur organisasi akan membantu manajer dari hasil keputusan dalam mendesain organisasi sebagai cara mengidentifikasi dari pengelolaan sumber daya manusia dan segala fungsi-fungsi yang ada untuk penyelesaian pekerjaan perusahaan dengan pedoman visi, misi dan tujuan organisasi.

2. Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto

Struktur organisasi mencerminkan bagaimana organisasi membagi tugas, hubungan antar divisi, dan penempatan anggota untuk mencapai tujuan organisasi

(26)

secara maksimal.Oleh karena itu, struktur organisasi berpengaruh pada efektivitas organisasi. Sejalan dengan pendapat tersebut, Tanjung (2017:22) berpendapat bahwa struktur organisasi yang tepatlah yang akan membuat organisasi menjadi efektif.

Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi (Wiandini, 2011). Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan- kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (dikoordinasikan). Selain itu, struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.

Berikut adalah susunan Struktur Organisasi Dinas Pendidikan kabupaten Jeneponto:

a. Kepala Dinas

b. Sekretaris yang terdiri dari:

1) Sub Bagian Umum Dan Kepegawaian 2) Sub Bagian Keuangan

3) Sub Bagian Perencanaan.

c. Bidang Pendidikan Sekolah Dasar yang terdiri dari:

1) Seksi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Sekolah Dasar.

2) Seksi Pembinaan Kesiswaan Pendidikan Sekolah Dasar.

3) Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

d. Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama yang terdiri dari:

(27)

1) Seksi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

2) Seksi Pembinaan Kesiswaan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

3) Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

e. Bidang Kebudayaan

1) Seksi Pelestarian Cagar Budaya dan Kepurbakalan.

2) Seksi Pengembangan Kebudayaan.

3) Seksi Pembinaan Kebudayaan dan Tenaga Kesenian.

f. Bidang PAUD dan DIKMAS

1) Seksi Pendidikan Usia Dini (PAUD).

2) Seksi Pendidikan Masyarakat (DIKMAS).

3) Seksi Kursus dan Pelatihan Wirausaha.

g. Bidang Pembinaan Ketenagaan

1) Seksi PTK PAUD dan Pendidikan non formal.

2) Seksi PTK SD.

3) Seksi PTK SMP

h. Kelompok Jabatan Fungsional

Tugas pokok dan fungsi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jeneponto diatur dalam Peraturan Daerah. Peraturan Kabupaten Jeneponto No. 03 tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Kabupaten Jeneponto yaitu:

Membantu Bupati Jeneponto dalam penyusunan rencana, mengkoordinasikan, mengarahkan dan mengevaluasi kegiatan serta menetapkan kegiatan teknis pendidikan sesuai

(28)

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.

Dalam menyelenggarakan tugas di atas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jeneponto berfungsi sebagai:

a. Perumus kebijakan teknis sektor pendidikan;

b. Pemberi izin pendirian lembaga pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah;

c. Pelaksana pelayanan umum sektor pendidikan;

d. Pembina lembaga pendidikan dasar dan menengah baik formal maupun non formal;

e. Pembina unit pelaksana teknis dinas (UPTD).

Tiga fungsi dasar struktur organisasi menurut (Sultoni.R.f, 2015: 28), yaitu:

a. Untuk menghasilkan output organisasi dan mencapai tujuan organisasi (goals);

b. Untuk menanamkan kepatuhan individu kepada organisasi dan bukan sebaliknya;

c. Untuk menata kegiatan yang didalamnya terdapat kekuatan pengambil keputusan dalam pelaksanaan kegiatan.

3. Dimensi Struktur Organisasi

Dimensi struktur organisasi adalah pola tentang hubungan antara berbagai komponen dan bagian organisasi. Pada organisasi formal struktur direncanakan dan merupakan usaha sengaja untuk menetapkan pola hubungan antara berbagai komponen, sehingga dapat mencapai sasaran secara efektif.

Sedangkan pada organisasi informal, struktur organisasi adalah aspek sistem yang

(29)

tidak direncanakan dan timbul secara spontan akibat interaksi peserta. Struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor kepada siapa, dan mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaksi yang akan diikuti.

Sebuah struktur organisasi mempunyai tiga dimensi yaitu kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi (Gammahendra, Hamid, & Riza, 2014: 3).

a. Kompleksitas

Kompleksitas merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap struktur organisasi. Kompleksitas merupakan sesuatu yang pertama-tama dirasakan oleh individu ketika memasuki suatu organisasi dan membawa pengaruh pada perilaku individu di dalam organisasi, kondisi-kondisi struktural dalam organisasi, proses-proses yang terjadi di dalam organisasi, serta hubungan antara organisasi dengan lingkungannya.

Kompleksitas mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada dalam organisasi. Yang termasuk didalam kompleksitas adalah :

1) Tingkat Spesialisasi 2) Tingkat pembagian kerja

3) Jumlah tingkatan didalam hierarki organisasi

4) Tingkat sejauh mana unit-unit organisasi tersebar secara geografis.

Kompleksitas adalah banyaknya tingkat diferensiasi yang dilakukan dalam pembagian kerja (division of labor). Pada umumnya organisasi pemerintah memiliki kompleksitas yang tinggi karena beragamnya tugas dan fungsi yang dijalankan. Kompleksitas merujuk pada tingkat diferensiasi (pemisahan tugas- tugas) yang ada pada suatu organisasi. Semakin kompleks organisasi, semakin

(30)

dibutuhkan koordinasi, kontrol, dan komunikasi yang efektif bagi unit-unit yang ada sehingga para pimpinan bisa memastikan bahwa setiap unit bekerja dengan baik. Diferensiasi atau pemisahan tugas-tugas merujuk pada tiga hal, yaitu:

1) Diferensiasi Horizontal

Diferensiasi horizontal merupakan pemisahan tugas-tugas dalam struktur horizontal antar unit-unit organisasi berdasarkan perbedaan orientasi unit organisasi, tugas, fungsi, pendidikan, keahlian dan sebagainya. Pada organisasi pemerintah, diferensiasi horizontal dipisahkan diantaranya berdasarkan:

a) Visi dan misi pemerintah pusat atau daerah;

b) Urusan pemerintahan yang diselenggarakan;

c) Kewenangan yang dimiliki; dan

d) Pengelompokkan bidang tugas organisasi.

2) Diferensiasi Vertikal

Diferensiasi vertikal merujuk pada tingkat hierarki organisasi. Semakin tinggi tingkat hierarki didalam struktur organisasi, maka kompleksitasnya akan semakin tinggi dan potensi distorsi komunikasi dari manajemen tingkat tinggi hingga unit organisasi paling rendah akan semakin besar.

Satu hal yang perlu diperhatikan dari diferensiasi ini adalah rentang kendali, yaitu seberapa banyak unit organisasi yang dapat dibentuk secara efektif oleh unit organisasi yang diatasnya. Semakin kompleks pekerjaan semakin kecil rentang kendali yang diperlukan dalam pengawasan. Dalam praktek penataan organisasi pemerintah, perlu memperhatikan dimensi diferensiasi vertikal ini.

(31)

Diferensiasi vertikal sebaiknya diartikan sebagai tanggapan terhadap peningkatan diferensiasi horizontal. Jika spesialisasi meluas, maka kooordinasi tugas makin dibutuhkan. Faktor yang menentukan diferensiasi vertikal adalah rentang kendali. Rentang kendali (span of control) menetapkan jumlah bawahan yang dapat diatur dengan efektif oleh seorang Kepala Dinas. Jika rentangnya lebar, Kepala Dinas akan mempunyai banyak bawahan yang melapor kepadanya.

Jika rentangya sempit, maka Kepala Dinas hanya mempunyai sedikit bawahan.

3) Diferensiasi Spasial

Diferensiasi spasial merujuk pada tempat kedudukan, fasilitas, dan penyebaran unit organisasi secara geografis. Semakin jauh dan semakin banyak tempat kedudukan, fasilitas, dan penyebaran unit organisasi secara geografis, maka akan semakin tinggi kompleksitas organisasi tersebut. Diferensiasi spasial merupakan pertimbangan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia, khususnya dalam penataan kelembagaan instansi pemerintah. Hal ini dikarenakan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau yang tersebar.

Arti penting kompleksitas organisasi terdiri dari sub sistem yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kontrol yang efektif. Maka makin kompleks sebuah organisasi, makin besar kebutuhannya akan alat komunikasi, koordinasi, dan kontrol yang efektif. Dengan kata lain, jika kompleksitas meningkat, maka akan demikian juga halnya dengan tuntutan terhadap manajemen untuk memastikan bahwa aktvitas-aktivitas yang dideferensiasi dan disebar bekerja dengan mulus dan secara bersama kearah pencapaian tujuan organisasi.

(32)

b. Formalisasi

Formalisasi merupakan suatu kondisi dimana aturan-aturan, prosedur, instruksi, dan komunikasi dibakukan. Formalisasi yang tinggi akan meningkatkan kompleksitas. Formalisasi merupakan sesuatu yang penting bagi organisasi karena dengan standardisasi akan dicapai produk yang konsisten dan seragam serta mengurangi kesalahan-kesalahan yang tidak perlu terjadi. Selain itu, formalisasi akan mempermudah koordinasi antar bagian/ unit organisasi dalam menghasilkan suatu produk atau jasa. Formalisasi di dalam restrukturisasi organisasi merupakan suatu proses penyeragaman melalui aturan-aturan, prosedur, instruksi dan komunikasi yang telah dibakukan.

Vogt (2015 : 6) menyatakan bahwa “Jika formalisasi rendah, perilaku para pegawai relatif tidak terprogram”. Artinya, kebijakan dari seseorang di dalam pekerjaannya berbanding terbalik dengan jumlah perilaku yang diprogramkan lebih dahulu oleh organisasi, maka makin besar standarisasi, makin sedikit pula jumlah masukan mengenai bagaimana suatu pekerjaan (job desc) harus dilakukan oleh seorang pegawai.

Formalisasi berkaitan dengan jumlah dokumentasi tertulis dalam organisasi. Dokumentasi meliputi prosedur-prosedur, job description, regulasi, dan kebijakan manual. Dokumen-dokumen tertulis menggambarkan perilaku dan kegiatan (Daft, 2013: 18). Artinya, standarisasi bukan hanya menghilangkan kemungkinan para pegawai untuk berperilaku secara lain, tetapi juga menghilangkan kebutuhan bagi para pegawai untuk mempertimbangkan aternatif.

(33)

Di dalam Robbins (Torang, 2013: 87) formalisasi menurut memerlukan beberapa teknik dalam pelaksanaannya, diantaranya:

1) Seleksi (selection)

Organisasi memilih pegawainya bukan secara acak, tetapi melalui sebuah rintangan yang dirancang untuk membedakan para individu yang mungkin dapat berprestasi dengan baik dan mereka yang mungkin tidak berhasil. Proses seleksi yang efektif dirancang untuk menentukan apakah calon pekerja cocok bagi organisasi. Yang dilakukan dalam proses seleksi adalah mencoba menghindari dipekerjakannya orang-orang yang tidak cocok; yaitu para individu yang tidak dapat menerima norma-norma organisasi.

Seleksi harus diakui sebagai salah satu teknik yang paling banyak digunakan organisasi untuk mengontrol kebijakan terhadap pegawainya. Apakah penerimaan pegawai itu menyangkut pegawai yang tidak terampil atau yang professional, organisasi menggunakan proses seleksi untuk menyaring orang yang tepat dan mengeluarkan mereka yang berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang dianggap oleh manajemen kurang baik.

Seleksi untuk para professional dapat dilakukan dengan kebebasan lebih besar daripada seleksi pegawai tidak terampil, karena profesionalisasi dari para profesional mengurangi kebutuhan bagi organisasi untuk mengidentifikasi orang- orang yang akan tidak berguna bagi organisasi. Sebagian dari tugas ini telah dilakukan oleh universitas dan asosiasi yang mengeluarkan ijazah dari para profesional tersebut. Tetapi, semua anggota baru harus memenuhi persyaratan minimum dari organisasi mengenai pegawai yang dapat diterima, dan proses

(34)

seleksi tersebut merupakan salah satu mekanisme yang populer untuk mencapai tujuan ini.

2) Persyaratan Peran / Jabatan (role requirement)

Para individu di dalam organisasi mempunyai peran. Setiap pekerjaan membawa serta harapan mengenai bagaimana si pemegang peran seharusnya berperilaku. Fungsional tugas menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi dan menguraikan tentang perilaku pegawai yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

3) Peraturan, Prosedur, dan Kebijakan (rules, procedures, policies)

Peraturan merupakan pernyataan eksplisit yang ditujukan kepada seorang pegawai tentang apa yang harus atau tidak boleh dilakukan. Prosedur adalah rangkaian langkah yang saling berhubungan satu sama lain secara sekuensial yang diikuti pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kebijaksanaan adalah pedoman yang menetapkan hambatan terhadap pengambilan keputusan yang dibuat oleh para pegawai. Masing-masing merupakan teknik yang digunakan organisasi untuk mengatur perilaku para anggotanya. Peraturan tidak memberi kesempatan kepada para pegawai untuk membuat pertimbangan atau mengambil kebijakan-kebijakan.

Peraturan menetapkan pola perilaku tertentu dan spesifik yang disyaratkan.

Prosedur ditetapkan untuk memastikan terjadinya standardisasi proses kerja. Suatu masukan akan diproses dengan cara yang sama, keluarannya juga selalu sama setiap hari. Jika kita bertanya kepada seorang pegawai bagian keuangan apa yang dikerjakannya, maka jawabannya kemungkinan besar akan

(35)

sesuai deskripsi yang telah dibuatkan prosedurnya mengenai aktivitas-aktivitas yang dilakukan.

Kebijakan memberikan kebebasan yang lebih besar dibandigkan peraturan. Kebijakan memberi kesempatan kepada para pegawai untuk menggunakan keleluasaan yang terbatas dan tidak menetapkan perilaku tertentu dan spesifik dari pegawai. Keleluasaan tersebut diciptakan dengan memasukkan istilah-istilah yang menunjuk pada pertimbangan-pertimbangan seperti (“yang terbaik”, “memuaskan”, dan “bersaing”) yang diserahkan kepada pegawai untuk diinterpretasikan sendiri. Kebijakan tidak harus tertulis untuk mengontrol keleluasaan.

4) Pelatihan (training)

Banyak organisasi memberi pelatihan kepada pegawai dengan maksud untuk memasukkan perilaku dan sikap pekerja yang diinginkan kepada para pegawai. Pegawai baru kerap disyaratkan untuk mengikuti program orientasi agar terbiasa dengan tujuan, sejarah, filsafat, dan peraturan organisasi, serta kebijakan personalia yang relevan, misalnya jam kerja, prosedur pembayaran, persyaratan lembur dan tunjangan lainnya. Pelatihan ada yang bersifat on the job training (misalnya pemagangan, pendampingan (coaching), atau penugasan- penugasan yang bersifat studi), adapula yang bersifat off the job training (ceramah, demonstrasi, simulasi, atau instruksi terpogram). Pelatihan juga sebagai sarana untuk mengajarkan dan menanamkan externalized behaviors kepada para anggota organisasi.

(36)

5) Ritual (rituals)

Ritual digunakan sebagai teknik formalisasi terhadap para anggota yang diperkirakan akan mempunyai dampak yang kuat dan lama terhadap organisasi.

Yang pasti termasuk dalam kelompok ini adalah para individu yang berambisi untuk menduduki posisi manajemen tingkat senior dan mereka juga memutuskan untuk mencari status aktif di dalam sebuah kelompok atau juga para pimpinan yang memilih untuk menjadikan pekerjannya sebagai profesi.

Pada proses ritual, tidak cukup bahwa sesorang memiliki kualifikasi teknis yang dibutuhkan untuk suatu jabatan. Ia juga harus memenuhi standar- standar normatif atau kepribadian yang sesuai untuk jabatan tersebut. Ancaman yang biasanya mendasari ritual adalah bahwa para anggotanya harus membuktikan mereka dapat dipercaya dan setia pada organisasi sebelum mereka dapat “dilantik”, sedangkan “proses pembuktian” merupakan ritualnya.

c. Sentralisasi

Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang kepada sejumlah kecil manajer atau yang berada di posisi puncak pada suatu struktur organisasi (Pendidikan, Tentang, Dan, & Pendidikan, 2004: 2). Jadi, sentralisasi merupakan seluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut UU.

Sentralisasi adalah tingkat dimana kewenangan (authority) dalam pengambilan keputusan-keputusan organisasi berada pada manajemen tingkat tinggi. Sentralisasi dapat diartikan sebagai tingkatan pengkonsentrasian kekuasaan

(37)

secara formal. Sentralisasi dapat menurunkan tingkat kompleksitas dan menyederhanakan struktur organisasi. Semakin sederhana struktur organisasi akan semakin gesit gerak dan perkembangannya. Sedangkan bagi organisasi yang strukturnya besar, sentralisasi dapat mengakibatkan organisasi tersebut bergerak lamban.

Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah.

Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat (Sari & Hadijah, 2016: 206). Akibatnya waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama. Selain itu, kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkadang berlawanan dengan nilai-nilai di suatu daerah tertentu.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan berbagai kesamaan ciri sosial budayanya, juga mengikuti sistem sentralistik yang telah lama dikembangkan pada negara berkembang. Di sisi lain, bertolak belakang dari sentralisasi adalah desentralisasi, yaitu pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kepada unit organisasi tingkat bawah yang berada dekat dengan masyarakat. Desentralisasi menciptakan banyak spesialisasi atau kekhususan.

1) Pengambilan Keputusan

Menurut Audina (2016: 14) “Kesulitan dalam mengukur tingkat sentralisasi adalah terletak pada beragamnya jenis keputusan di dalam organisasi itu sendiri”. Artinya, suatu organisasi bisa bersifat sentralistis dalam satu hal, dan desentralistis dalam hal lain. Suatu organisasi umumnya bersifat desentralis (work-related decision), tetapi cenderung sentralistis berkenaan dengan

(38)

keputusan-keputusan strategis. Akibatnya kita kadang-kadang kesulitan menentukan tingkat sentralisasi yang sesungguhnya dalam sebuah organisasi.

Tingkat kontrol yang dimiliki seseorang dalam seluruh proses pengambilan keputusan dapat digunakan sebagai sebuah ukuran mengenai sentralisasi. Kelima langkah dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

a) Mengumpulkan informasi untuk diteruskan kepada pengambil keputusan mengenai apa yang dapat dilakukan.

b) Memproses dan menginterpretasikan informasi tersebut untuk memberi saran kepada pembuat keputusan mengenai apa yang harus dilakukan.

c) Membuat pilihan mengenai apa yang hendak dilakukan

d) Memberi wewenang kepada orang lain mengenai apa yang hendak dilakukan Melaksanakan apa yang harus dilakukan.

B. Kerangka Konseptual

Pendidikan sebagai organisasi harus dikelola sesuai dengan sumber daya yang ada baik itu sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana, sehingga aktivitas pelaksanaan program organisasi dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto merupakan lembaga yang menyelenggarakan pendidikan ditingkat kabupaten untuk mencapai tujuan melalui kerja sama. Organisasi yang baik adalah organisasi dinamis yang berkembang setiap waktu sesuai dengan perubahan yang terjadi pada profit pemerintah yang meliputi pembentukan struktur dan pengintegrasian agar manusia-manusia dapat

(39)

bekerja di dalam hubungan-hubungan yang saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Struktur organisasi merupakan faktor yang sama pentingnya dalam menentukan dan melihat cara kerja suatu organisasi, yang mana dapat dianalisa melalui strukturnya yang tergambar dan akan bisa diketahui bagian dan sub bagian, wewenang masing-masingnya serta hubungan koordinasi antar bagian dan sub bagian dalam pelaksanaan tugas serta tanggungjawab masing-masing berikut pembagian tugas berdasarkan spesialisasi yang ada.

Penyusunan struktur organisasi sangat dipengaruhi oleh kemauan individu-individu yang berkuasa. Seringkali kehadiran suatu struktur serta jabatan lebih bersifat politis, lebih didasarkan pada muatan kepentingan dari pada kebutuhan rill. Hal ini diartikan bahwasanya aktivitas kerja yang ada pada Dinas Pendidikan tidak sesuai dengan jabatan yang seharusnya dijalankan oleh tenaga kerja. Lebih lanjut dikatakan bahwa penentuan suatu jabatan atau posisi juga seringkali didasarkan pada pertimbangan berapa orang atau siapa saja yang harus diberi perhatian khusus. Akibatnya, muncul tumpang tindih nama posisi atau jabatan. hal negatif yang berisiko mengganggu efektivitas proses kerja harus dapat diidentifikasi dan dikendalikan agar proses organisasi dapat senantiasa menciptakan rantai nilai yang optimal.

Kemampuan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota mendesain organisasi masih perlu ditingkatkan. Misalnya, motivasi kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto yang diamati melalui perilaku kerja, diantaranya: Menurunnya motivasi yang dimiliki pegawai dalam melaksanakan tugasnya, terlihat dari masih

(40)

kurangnya rasa tanggung jawab akan pekerjaan yang diberikan, beberapa pegawai yang tidak disiplin. Untuk itu perlu ditinjau kembali berdasarkan dimensi organisasi yang terdiri dari subdimensi kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi agar Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto mampu memperbaiki, menyesuaikan, dan menyempurnakan struktur dan proses organisasi yang sesuai dengan lingkungan strategisnya.

Kompleksitas merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap struktur organisasi. Kompleksitas juga membawa pengaruh pada perilaku individu di dalam organisasi, kondisi-kondisi struktural dalam organisasi, proses-proses yang terjadi di dalam organisasi, serta hubungan antara organisasi dengan lingkungannya.

Arti penting kompleksitas organisasi khususnya pada Dinas Pendidikan terdiri dari sub sistem yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kontrol yang efektif. Makin kompleks sebuah organisasi, makin besar kebutuhannya akan alat komunikasi, koordinasi, dan kontrol yang efektif. Dengan kata lain, jika kompleksitas meningkat, maka akan demikian juga dengan tuntutan terhadap manajemen untuk memastikan bahwa aktvitas-aktivitas yang dideferensiasi dan disebar bekerja dengan mulus dan secara bersama kearah pencapaian tujuan organisasi Dinas Pendidikan.

Formalisasi dalam organisasi memiliki keuntungan yaitu pengaturan perilaku para pegawai. Standarisasi perilaku akan mengurangi keanekaragaman dan juga mendorong koordinasi. Makin besar formalisasi, makin sedikit pula kebijaksanaan yang diminta dari unit kerja. Formalisasi di dalam organisasi

(41)

merupakan suatu proses penyeragaman di dalam lingkup Dinas Pendidikan.

Formalisasi melalui aturan-aturan, prosedur, instruksi dan komunikasi yang telah dibakukan.

Dinas Pendidikan dalam pengambilan keputusan mengacu pada sistem sentralisasi, yaitu segala sesuatu yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah pusat. Dalam era reformasi dewasa ini, diberlakukan kebijakan otonomi yang seluas-luasnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Rira (2019) “Otonomi daerah merupakan distribusi kekuasaan secara vertikal. Distribusi kekuasan itu dari pemerintah pusat ke daerah, termasuk kekuasaan dalam bidang pendidikan.”

Dalam pelaksanaan otonomi daerah di Dinas Pendidikan tampak masih menghadapi berbagai masalah. Masalah itu diantaranya tampak pada kebijakan pendidikan yang tidak sejalan dengan prinsip otonomi daerah dan masalah kurang adanya koordinasi dan sinkronisasi. Berdasarkan pembahasan Peneliti, maka peneliti menggambarkannya dalam kerangka konseptual sebagai berikut:

(42)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Formalisasi

1. Peraturan dalam melaksanakan tugas 2. Perilaku Individu 3. Penilaian kinerja

pegawai Kompleksitas

1. Jenis Pekerjaan dalam Struktur Organisasi 2. Prosedur/cara unit

kerja organisasi 3. Tingkat keberhasilan

unit kerja organisasi

Sentralisasi 1. Pengambilan

keputusan

Optimalisasi Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kab. Jeneponto/ SDM

Profesional

(Pendidikan yang Berkualitas)

Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kab.

Jeneponto

(43)

26 BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang berusaha mengungkapkan kejadian atau fenomena yang ada di lokasi penelitian. “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pengertian atau pemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus”

(Moleong, 2018: 5). Berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri (Gunawan, 2013: 81-82). Penelitian kualitatif lebih menekankan pada deskriptif holistik, yangmenjelaskan secara detail tentang kegiatan atau situasi apa yang sedang berlangsung.

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian fenomenologi.

Penelitian fenomenologi mencoba menejelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu (Rahmat, 2009). Kualitatif format deskriptif yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Metode deskriptif kualitatif merupakan proses untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang

(44)

B. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam hal ini sangatlah penting dan utama, hal ini seperti yang dikatakan Moleong bahwa dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti sendiri atau bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama.

Sesuai dengan penelitian kualitatif, kehadiran peneliti di lapangan sangat penting dan diperlukan secara optimal.Peneliti merupakan instrument kunci utama dalam mengungkapkan makna dan sekaligus sebagai alat pengumpul data.Karena itu peneliti juga harus terlibat dalam kehidupan orang-orang yang diteliti sampai pada tingkat keterbukaan antara kedua belah pihak.

Peneliti dalam penelitian ini bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan.Kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan.

C. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di mana penelitian akan dilakukan. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

Pemilihan tempat penelitian di maksudkan untuk memperjelas objek yang menjadi sasaran penelitian. Pertimbangan yang kedua karena karena keadaan lokasi yang mudah dijangkau juga memperoleh data-data yang sesuai, menjawab persoalan dan fenomena yang terjadi sesuai dengan pokok fokus masalah yang diajukan.

(45)

D. Sumber Data

Sumber data adalah salah satu yang paling vital dalam penelitian.

Kesalahan dalam menggunakan atau memahami sumber data, maka data yang diperoleh juga akan meleset dari yang diharapkan. Pemilihan sumber data berdasarkan judul penelitian yaitu Fungsional Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto, adalah sumber data yang memiliki informasi sehubungan dengan struktur organisasi sehingga diperoleh data yang akurat.

Sumber data dalam rencana penelitian ini adalah:

1. Kepala Dinas 2. Sekretaris 3. Kepala Bidang 4. Pegawai

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menurut Sugiyono (2015: 308) “teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah untuk mendapatkan data”.Dalam memperoleh data peneliti dapat memperoleh informasinya melalui data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti langsung dari subjek atau objek penelitian dan data sekunder, yaitu data yang didapatkan tidak secara langsung dari objek atau subjek penelitian.

Teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang relevan dengan tujuan dan kebutuhan penelitian, maka teknik pengumpulan datayang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, kuisioner, wawancara dan dokumentasi.

(46)

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. “Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu” (Moleong, 2018: 186). Wawancara yang terstruktur dipilih oleh Peneliti sebagai teknik pengumpulan data, karena informasi yang akan didapatkan oleh peneliti telah diketahui secara pasti oleh peneliti. Karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data atau peneliti telah mempersiapkan instrument pertanyaan dan alternatif jawaban.

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang peneliti lakukan kepada narasumber atau informan untuk memperoleh informasi terkait dengan upaya peningkatan profesionalisme guru. Dalam kegiatan wawancara, peneliti menyiapkan pedoman wawancara berupa draf pertanyaan yang akan diajukan kepada informan. Draf pertanyaan tersebut kemudian dikembangkan sesuai keadaan di lapangan namun tidak keluar dari pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya.

Tiga langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara menurut Danim (Hakim, 2013: 168) antara lain:

a. Pembukaan, yaitu peneliti menciptakan suasana kondusif, memberi penjelasan fokus yang dibicarakan, tujuan wawancara, waktu yang akan dipakai, dan sebagainya.

b. Pelaksanaan, yaitu ketika memasuki inti wawancara, sifat kondusif tetap diperlakukan dan juga suasananya informal.

(47)

c. Penutup yaitu berupa pengakhiran dari wawancara, ucapan terima kasih, kemungkinan wawancara lebih lanjut, tindak lanjut yang bakal dilakukan, dan sebagainya.

Adapun informan dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto beserta staff yang akan diwawancarai mengenai peran Kompleksitas, Formalisasi dan Sentralisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

2. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menggali data dari sumber yang berupa tempat, aktivitas, benda atau rekaman gambar (Nugrahani dan Hum, 2014). Artinya, Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku obyek sasaran. Metode observasi atau pengamatan dapat diartikan sebagai kegiatan mengamati sesuatu dengan menggunakan panca indera mata (Indera penglihat).

Dalam penelitian ini, observasi yang dilakukan yaitu metode partisipasi pasif. Artinya peneliti berada di tempat penelitian namun tidak terlibat dalam kegiatan melainkan fokus kepada permasalahan yaitu mengamati suasana dan aktivitas di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto.

3. Dokumentasi

Endang Danial dalam Arikunto (2010: 91) mengemukakan bahwa studi dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah penelitian seperti peta, data statistic,

(48)

jumlah dan nama pegawai, data siswa, data penduduk, grafik, gambar, surat-surat, foto, akte, dsb. Adapun dokumentasi yang akan diperoleh dalam penelitian ini yaitu data-data atau dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu FUNGSIONAL Struktur Organisasi di Dinas Kabupaten Jeneponto.

F. Teknik Analisis Data

Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2007: 248) mengemukakan teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Miles dan Huberman (1992: 16) dalam Gunawan (2013) mengemukakan tiga tahapan yang harus dikerjakan dalam teknik analisis data kualitatif sebagai berikut.

1. Tahap pengumpulan data (Collecting)

Pada tahap ini peneliti melakukan proses pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang telah ditentukan sejak awal. Proses pengumpulan data melibatkan sisi aktor (informan), aktivitas, latar atau konteks terjadinya peristiwa. Data dalam penelitian kualitatif merupakan segala sesuatu yang diperoleh dari yang dilihat, didengar, dan diamati, seperti catatan lapangan sebagai hasil lapangan, deskripsi wawancara, foto, cerita sejarah, agenda, atribut, simbol-simbol yang melekat dan dimiliki, dan banyak hal lain sebagai hasil pengamatan dan pendengaran.

(49)

Beberapa hal yang dijadikan pedoman pada saat pengumpulan data dilapangan antara lain:

a. Fokus pada objek penelitian b. Tentukan jenis penelitian c. Membuat pertanyaan analitis d. Memulai dari yang makro e. Mengomentari gagasan f. Memo untuk diri sendiri

2. Reduksi data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Adapun data yang akan saya reduksi hanya yang berkaitan dengan struktur organanisasi.

3. Penyajian data (Data display)

Langkah selanjutnya adalah menyajikan data, langkah yang digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian ini adalah teks yang berupa naratif maupun tabel yang disajikan secara jelas dan tentu saja hal tersebut harus berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.Pada tahap ini keterlibatan peneliti sangat berpengaruh dalam kegiatan penyajian data atau penampilan (display) dari data yang telah di peroleh sebelumnya. Display adalah suatu format yang menyajikan suatu informasi secara tematik kepada pembaca.

(50)

Penyajian data diarahkan agar data dari hasil reduksi terorganisir dan tersusun dalam pola hubungan, sehingga semakin mudah untuk dipahami dan merencakan kerja penelitian selanjutnya. Dalam melakukan display data, selain dengan teks naratif juga dapat berupa: bagan, hubungan antar kategori. Diagram alur (Flow Chart), pictogram dan sejenisnya. Kesimpulan yang akan di berikan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti- bukti kuat yang akan mendukung pengumpulan data berikutnya.

4. Pengambilan keputusan (Conclusion Drawing/ Verification)

Langkah terakhir adalah kesimpulan dan verifikasi, seperti yang telah dijelaskan di atas kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan masih akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tapi bila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid, kuat, dan konsisten, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Proses untuk mendapatkan bukti-bukti disebut dengan verifikasi data.

Verifikasi dan penarikan kesimpulan dimaknai dengan penarikan arti data yang telah disampaikan.Pemberian makna dilakukan dari sejauh mana pemahaman peneliti dan interprestasi yang dibuatnya.

G. Pengecekan Keabsahan Data

Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data dalam pengecekan keabsahan data. Arikunto (2010: 274) mengemukakan bahwa model triangulasi artinya mengulang atau klarifikasi dengan aneka sumber. Jika diperlukan triangulasi data, dapat dilakukan dengan cara mencari data-data lain sebagai

(51)

pembanding. Orang yang terlibat dapat dimintai keterangan lebih lanjut tentang data yang diperoleh. Triangulasi merupakan suatu pendekatan analisa data yang mensintesa data dari berbagai sumber.

Penggunaan teknik triangulasi menurut Moleong (2018: 324) terdapat

empat kriteria yang digunakan yaitu “(1) derajat kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability)”. Uji keabsahan data dalam penelitian ini

menggunakan triangulasi.Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber berarti membandingkan atau mengecek kembali kepercayaan informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara; membandingkan antara apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi; membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi Metode

Triangulasi metode dilakukan peneliti untuk mengecek kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data, seperti halnya metode wawancara yang ditunjang dari hasil observasi atau pengamatan.

Dalam penelitian ini peneliti mengungkapkan data tentang fungsional struktur organisasi. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama.

Pelaksanaannya juga dapat dengan cara cek dan recek.

(52)

H. Tahap-tahap Penelitian

Ada tiga tahapan dalam penelitian ini hingga mencapai tahap penulisan laporan hasil penelitian, adapun tahapan tersebut menurut Suryana (2012: 19), antara lain:

1. Tahap Pra Lapangan

Tahap pra lapangan adalah melakukan studi awal untuk melihat dan meninjau fenomena yang terjadi di lapangan sebagai bahan penelitian yang akan di lakukan. Pada tahap ini, peneliti akan menyusun rancangan penelitian yang akan dilakukan dan peneliti menguatkan latar belakang masalah atau konteks penelitian, alasan penelitian, studi pustaka, penentuan lapangan penelitian, jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian, rancangan pengumpulan data, rancangan prosedur analisa data, rancangan perlengkapan yang diperlukan di lapangan dan rancangan pengecekan keabsahan data oleh peneliti.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Tahap pekerjaan lapangan yang menuntut peneliti dalam mencari dan mengumpulkan sumber data seakurat mungkin dengan melakukan teknik observasi, kuisioner, wawancara, dokumentasi dengan menggunakan beberapa alat bantu yang diperlukan seperti tape recorder, kaera dan yang lainnya sebagai pendukung peneliti dalam melakukan penelitian di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto. Tahap ini dimulai dengan memahami konteks penelitian, persiapan diri memasuki lokasi penelitan serta berperan aktif dalam mengumpulkan informasi atau data.

(53)

3. Tahap Analisa data

Tahap analisa data dalam penelitian kualitatif dilakukan setelah peneliti mendapatkan sumber data dari hasil penelitian di lapangan. Peneliti sebagai instrument kunci dalam penelitian ini harus segera melakukan analisa data yang kemudian dilanjutkan dengan pengecekan keabsahan data. Sehingga akhirnya data yang diperoleh benar-benar valid sebagai acuan dalam menemukan sebuah makna. Tahap analisa data meliputi, peneliti melalukan analisa data selama penelitian dilakukan hingga setelah pengumpulan data.

4. Tahap Penulisan Laporan

Sebagai laporan akhir yang mencantumkan keseluruhan proses, kesimpulan, dan memuat seluruh objek yang ditemukan dalam penelitian.

(54)

37 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan dari data menyangkut fokus penelitian sebagai tindak lanjut dari hasil pengumpulan data. Berikut deskripsi hasil penelitian melalui prosedur pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang telah diperoleh. Berdasarkan penelusuran data di lapangan yang kemudian difungsional sesuai dengan tujuan penelitian, maka dapat disajikan hasil penelitian dan pembahasan sebagai berikut:

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Agar mempermudah memahami lokasi penelitian yang menjadi tempat peneliti memperoleh data, berikut dipaparkan gambaran umum lokasi penelitian.

Pada bagian ini peneliti akan memaparkan hal-hal mengenai lokasi penelitian, yaitu identitas Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto beserta visi dan misinya.

a. Sejarah Singkat Berdirinya Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto

Abd. Djalil Sikki sebagai Bupati Jeneponto yang ke 2 Periode Tahun 1960-1966 menggantikan Malajong Dg. Liwang yang menjadi Bupati Pertama Tahun 1959-1960, dimasa kepemimpinannya Ibu Kota Kabupaten Jeneponto di pindahkan dari kampung Monro-monro ke Bontosunggu dan beliau memprakarsai dibuatnya lambang Daerah Kabupaten Jeneponto melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1978 tentang penggunaan lambing daerah pada masa kepemimpinan Bupati Jeneponto H.M. Ishak Iskandar. Selain itu Abd. Djalil Sikki merintis pembangunan diberbagai sektor termasuk sektor Dinas Pendidikan dan

(55)

juga membangun sekolah pertama yaitu SMAN 1 Jeneponto, sampai sekarang ini masih terpakai dan dibagun Tahun 1978. Dan dari jasa beliau Abd.

Djalil Sikki oleh Pemerintah Kabupaten Jeneponto mengabadikan namanya sebagai nama jalan ABD. Djalil Sikki dimana berada di Dinas Pendidikan Kabupaten Jenponto.

b. Letak Geografis Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jeneponto berlokasi di Jl.

Abd. Jalil Sikki No.29 Romanga, Kecamatan Binamu Kabupaten Jenponto, Sulawesi Selatan, Kode Pos (92316), Telepon (0419)21211, Situs Web http:///www.jenepontokab.go.id, dengan koordinat lokasi lintang -5.671.084 dan lokasi bujur 119.727.678.

c. Visi dan Misi Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto Visi: Berdaya saing, maju, religious, dan berkelanjutan.

Misi: 1) Program peningkatan dan akses mutu PAUD

2) Program peningkatan akses dan mutu pendidikan SD/MI 3) Program peningkatan akses dan mutu pendidikan SLTP\

4) Program peningkatan akses dan mutu pendidikan masyarakatProgram peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

d. Fasilitas Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto

Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto memiliki fasilitas yang lengkap dan tertata dengan baik, bersih, layak, nyaman dan selalu siap untuk digunakan.

Mulai dari halaman yang luas sampai pada sarana dan prasarana.

(56)

Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kab. Jeneponto

No Uraian

Keadaan Unit Baik Rusak

Ringan Rusak Berat

1. Ruang Kepala Dinas 1

2. Ruang Sekretaris 1

3. Ruang Subbag Umum 1

4. Ruang Subbag Keuangan 1 5. Ruang Subbag Perencanaan 1 6. Ruang Bid. Pendidikan SD 1 7. Ruang Bid. Pendidikan SMP 1 8. Ruang Bid. Pendidikan

PAUD 1

9. Ruang Pembinaan

Ketenagaan 1

10. WC 4 2

11. Mushollah 1

12. Kantin 1

13. Ruang Aula 1

14. Lapangan Olahraga 15. Ruang Kesenian 16. Ruang keterampilan

Sumber: Profil Dinas Pendidikan Kab. Jeneponto

e. Keadaan Pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto

Tenaga kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto terdiri dari tenaga berstatus ASN dan tenaga honorer. Adapun jumlah pegawai di Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto sebagai berikut:

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Formalisasi
Tabel 4.1 Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kab. Jeneponto
Tabel 4.2 Data Pegawai Dinas Pendidikan Kab. Jeneponto  Pejabat Struktural  Fungsional
Foto Dispen
+2

Referensi

Dokumen terkait

Adapun indikator yang menjadi fokus penelitian peran Dinas Pendidikan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri I Tanah Grogot Kabupaten Paser

Ini dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa norma dan sistem nilai dalam budaya organisasi pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya sudah

Dengan demikian, hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa: variasi dalam komitmen organisasi pada Suku Dinas Pendidikan Dasar Kota Administrasi

Dari beberapa uraian tersebut maka penulis berasumsi bahwa untuk meng- efektifkan pelayanan pendidikan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, maka dugaan faktor-faktor

Hal yang dikomunikasikan dalam komunikasi vertikal ke bawah di Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten secara umum sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Katz

Formulasi strategi pemerintah kabupaten lingga mengacu pada visi dan misi dinas pendidikan yaitu pemerataan pendidikan serta tantangan yang dihadapi pemerintah desa dalam meningkatkan

Proses Perancangan Adapun sistem yang akan diusulkan dalam Pembuatan Sistem Informasi Pusat Prestasi Siswa SMP Pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis Berbasis Website ini

Adapun solusi pemecahan yang digunakan untuk membantu murid kelas III SDN Tanetea Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan adalah