GURU SEKUMPUL’S TEACHINGS:
AN ANALYSIS OF ISLAMIC ECONOMIC PRINCIPLES Rohana Faridah
Antasari Islamic State University, Banjarmasin, Indonesia [email protected]
Abstrak
Guru Sekumpul, juga dikenal sebagai KH.M. Zaini Ghani bin Abdul Ghani, adalah seorang u lama dan guru sufi terkenal dari Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan, dengan sejumlah besar pengikut. Bahkan setelah kematiannya, jumlah jemaat yang menghadiri peringatan tahunan (haul) meningkat setiap tahun. Selama hidupnya, Guru Sekumpul mengajarkan berbagai ajaran Islam, terutama Tawhid, Fiqh, dan Tasawwuf. Tetapi selain itu, ia juga menyertakan prinsip-prinsip ekonomi Islam, yang ia praktekkan dan yang diadopsi oleh murid-muridnya. Studi lapangan ini menggunakan metodologi kualitatif. Penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengamatan, wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Para informant yang dipilih dalam penelitian ini adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat atau telah terlibat dalam interaksi langsung dengan Guru Sekumpul selama hidupnya. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Hubermand (2020) kondensasi data, presentasi data dan inferensi.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Guru Sekumpul menekankan prinsip-prinsip berikut dari ekonomi Islam: Usaha bisnis berbasis Sharia yang memprioritaskan kejujuran, keandalan, etika kerja yang tekun, dan menahan diri dari usury untuk mencapai berkat dan kehidupan yang damai.
Dia juga memberdayakan pedagang kecil. Kegiatan pengajarannya memiliki dampak ekonomi yang positif pada daerah Sekumpul, khususnya melalui pariwisata agama dan munculnya berbagai kegiatan komersial.
Keywords: Guru Sekumpul, Islamic Economics, Martapura, Preacher
Pendahuluan
Agama dapat mempengaruhi tujuan, keputusan, motivasi, tujuan dan kepuasan orang.
(Iannaccone, 1998; Noland, 2005). Dalam bukunya “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism,” Weber (1930), seperti yang dinyatakan oleh Ersis et al. (2019), mencoba untuk menetapkan dasar untuk menganalisis kehadiran agama dalam masyarakat dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi anggota masyarakat. (Abbas et al., 2019). Menurut Ibn Khaldun, agama adalah kekuatan yang mengintegrasikan, harmonis, dan menyatukan, karena memiliki semangat yang mampu meredakan berbagai konflik. (Farihah, 2014).
Studi tentang agama mengungkapkan hubungan yang erat antara agama dan agama (Weaver
& Agle, 2002). Demikian pula, ada perbedaan antara religiositas dan spiritualitas (King, 2007),
namun keduanya tidak diragukan lagi memiliki pengaruh positif pada sikap dan perilaku seseorang. (Purnamasari & Amaliah, 2015).
Di Indonesia, pemimpin agama memiliki potensi untuk mempengaruhi dan membimbing orang ke arah keterlibatan dalam transformasi sosial di berbagai aspek kehidupan. (Mediasa et al., 2019). Kemampuan mereka untuk mendorong koneksi sosial berasal dari kemampuan mereka untuk memotivasi dan mendorong keterlibatan dalam komunitas. (Barentsen, 2019). Karakter- karakter agama mengambil peran yang unik dan dominan dalam pengembangan masyarakat (Ehrhardt, 2016), ditandai dengan karakteristik seperti pengaruh yang jelas pada nilai-nilai yang diadopsi, pemahaman konteks lokal, jaringan yang luas, akses ke berbagai sumber kekuatan masyarakat, dan kredibilitas tinggi. (Samuel & Pandey, 2018). Selain itu, pemimpin agama bahkan berkontribusi untuk membentuk strategi pembangunan masyarakat (Haar & Ellis, 2006). di Indonesia, fakta menekankan bahwa pertumbuhan Ekonomi Islam, diilustrasikan oleh munculnya perbankan berbasis Sharia, tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para pemimpin agama.
(Setyowati, 2022).
Kh. Muhammad Zaini Abdul Ghani berdiri sebagai salah satu tokoh agama Indonesia yang terkenal, khususnya di Kalimantan Selatan, di mana ia dikenal sebagai Guru Sekumpul, yang mengacu pada daerah di mana ia menyebarkan Da’wah Islam. Wilayah ini, awalnya hutan Karamunting, dikenal sebagai Sungai Kacang. (Rosyadi, 2004). Seiring waktu, ia telah berubah menjadi daerah perkembangan ekonomi yang luar biasa, menggabungkan simbol-simbol agama dengan kegembiraan pertumbuhan ekonomi. (Abbas et al., 2019). Setelah kematian Guru Sekumpul pada tahun 2005, kehadiran di pertunjukan tahunan secara konsisten meningkat. Pada dasarnya, Institut Pencapaian Dunia Indonesia (LEPRID) menunjuk acara Guru Sekumpul sebagai pertemuan keagamaan terbesar di Asia Tenggara, menarik sekitar 2 juta penyembah. (Banjar, 2020; Helman, 2020; poroskalimantancom, 2020). Acara ini bahkan telah menarik tokoh-tokoh penting dari Indonesia (Sandiaga Uno Hadiri Haul Guru Sekumpul Di Martapura, Kalsel, n.d.;
Siapa Guru SekUMPUL Hingga Haulnya Didatangi Jokowi?, 2018; Wapres KH Ma’ruf Amin Hadiri haul guru Sekumpul, 2023)
Guru Sekumpul menggunakan pendekatan da'wah berbasis pendidikan, menunjukkan kepedulian yang kuat terhadap bidang pendidikan (GHANI, n.d.; Yusran, 2017). Ajaran Guru Sekumpul menawarkan bimbingan tentang bagaimana individu dapat meningkatkan diri mereka sendiri, keluarga mereka, lingkungan dekat, dan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip moral.
Guru Sekumpul memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Al-Qur’an, hadis, hukum Islam, sejarah Islam, dan pengetahuan umum. Mereka mengumpulkan keahlian ini untuk kegiatan da'wah, yang mencakup khotbah melalui ucapan (bil-lisan), contohkan prinsip-prinsip agama melalui tindakan ( Bil-hal), dan menyebarkan ajaran Islam melalui menulis buku (bit-tadwin), mencerminkan model pendidikan Nabi Muhammad (Abbas, 2017). Sebagai contoh, Guru Sekumpul memperkenalkan da'wah bil hal, sebuah konsep yang menggabungkan studi dan amal, menarik inspirasi dari kehidupan Nabi Muhammad sebagai model peran. (Hefni et al., 2003).
Sejumlah studi sebelumnya telah berusaha untuk mengeksplorasi hubungan antara ajaran yang disampaikan oleh Guru Sekumpul dan domain ekonomi. Dalam penelitiannya, Abbas (2019) mencatat bahwa hanya beberapa ulama yang berhasil mengintegrasikan konsep da’wah dan pembangunan ekonomi masyarakat secara bersamaan. Pendekatan Guru Sekumpul termasuk memotivasi pedagang dan kongregasi untuk berinvestasi dalam kewirausahaan, bermitra dengan mereka, dan menyediakan modal untuk operasi bisnis mereka. (Abbas et al., 2019). Studi lain oleh Abbas (2017) menyimpulkan bahwa Guru Sekumpul menggunakan tiga konsep da'wah: Dakwah bil-lisan, Dakwah Bil-hal, dan dakwah bit-tadwin. Konsep-konsep ini secara kolektif membentuk kerangka Guru Sekumpul untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan kepentingan masyarakat dan praktek ekonomi Islam. Selain itu, Guru Sekumpul menganggap bisnis sebagai kewajiban Muslim, menekankan bahwa adalah tanggung jawab Dai untuk mempromosikan gagasan ini. (Abbas & Rajiani, 2017). Mahmud Yusuf (2019) menyoroti dampak ekonomi positif dari acara pengangkutan guru Sekumpul pada ekonomi Banjar Regency dan lingkungan sekitarnya, meliputi konsumsi, akomodasi, dan perhotelan. (Yusuf, 2019). Hal ini parallel dengan studi lain yang menegaskan bahwa kehadiran daerah Sekumpul berkontribusi pada pembangunan ekonomi masyarakat, yang terlihat melalui berbagai usaha seperti toko-toko, restoran, toko suvenir, akomodasi, akses jalan, layanan transportasi, fasilitas parkir, dan atraksi wisata lainnya. (Aulia & Rahmini, 2020).
Berdasarkan dasar ini, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki ajaran Guru Sekumpul dalam konteks Ekonomi Islam. Upaya ini bertujuan untuk memeriksa wawasan dan ajaran Guru Sekumpul mengenai ekonomi Islam dan lebih memahami perannya dalam kemajuan ekonomi masyarakat setempat.
Landasan Teori
1. Peran Ulama di Masyarakat
Pada konteks ajaran Islam dan masyarkat muslim, secara umum ulama memiliki kedudukan yang sangat strategis, bukan hanya karena alasan teologis akan tetapi juga secara historis-sosiologis.(Ratodi & Syariah, 2019) Para ulama menggunakan metode budaya dan tradisi masyarakat setempat untuk menyebarkan ajaran Islam dan menjadikannya sebagai bagian dari adat istiadat masyarakat. Secara teologis, ulama merupakan ahli ilmu dan agama yang dipandang sebagai pewaris para nabi (waratsah al-ambiya) yang kedudukannya adalah sebagai penerus tugas dan fungsi nabi dalam risalah kenabian bagi umat manusia. Sedangkan secara historis-geologis, ulama memiliki otoritas dalam bidang keagamaan sehingga memiliki kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarkat muslim. Ulama tidak hanya sekedar dihormati dan disegani, akan tetapi gagasan dan pemikirannya mengenai keagamaan dalam berbagai sudut pandang dianggap sebagai
“kebenaran”, dipegang teguh dan diikuti secara kuat serta mengikat.(Ratodi & Syariah, 2019) Ulama memiliki banyak peranan yang berbeda dalam berinteraksi dengan individu maupun kelompok lain. Peranan ulama dalam kehidupan sosial tidak hanya terbatas dalam urusan agama atau moral. Ulama merupakan golongan yang memiliki peran penting dalam menciptakan etika, struktur dan perilaku masyarakat. Selain itu, ulama juga dapat berperanan sebagai tokoh religio- politik, pendidik, broker budaya, mediator, broker politik, setia usaha atau administrator (keagamaan) termasuk sebagai penggerak modernisasi, pembangunan dan agent of change.
Sekalipun di era modern, para ulama masih memainkan berbagai fungsi dan peran mereka dan tetap menjadi penasehat, pemandu dan pelopor untuk menciptakan keseimbangan, keharmonisan serta persatuan dalam masyarakat.(Makmur, 2012)
Salah satu tokoh ulama yang memiliki peran besar dalam masyarakat Banjar adalah K.H.
Muhammad Zaini Abdul Ghani, atau dikenal sebagai Guru Sekumpul. Ketokohan serta sosok karismatik dirinya dikokohkan serta diteguhkan dalam perannya di bidang sosial, kultural dan keagamaan. Guru Sekumpul merupakan seorang ulama yang memiliki integritas kepribadian serta kemampuan dalam mengaktualisasikan peran-peran ekonomi, sosial, kultural maupun religiusitas di tengah masyarkat.(Mirhan, 2012)
Guru Sekumpul dikenal dengan dakwahnya yang secara lisan dan dakwah bilhal. Sejak menetap disekumpul, terjadi perubahan secara mendasar serta besar-besaran terhadap daerah Sekumpul dan sekitarnya, dimana masyarakat baik dari dalam maupun luar daerah Kalimantan Selatan secara masif membeli tanah di sekitar Sekumpul agar dekat dengan Guru. Selain itu dalam
bidang teologis, Guru Sekumpul juga berperan besar dalam menghidupkan tarekat Samaniyah di daerah Sekumpul melalui karya al-Risalat al-Nuraniyyah fi Syarh al-tawashshulat al-sammaniyah dalam majelis pengajian Ar-Raudah di Sekumpul, Martapura.
Dalam bidang ekonomi, Guru Sekumpul memiliki usaha sendiri untuk membiayai serta membangun fasilitas dakwahnya secara mandiri sehingga tidak menggunakan harta orang lain.
Selain itu, Guru Sekumpul memiliki peran yang sangat besar dalam menumbuhkan roda ekonomi masyarakat sekitar, tidak hanya dengan memberikan pengajaran secara lisan, akan tetapi juga aksi nyata dalam membantu ekonomi masyarakat sekitar dimana salah satu caranya adalah dengan menanamkan modal kepada orang lain. Adapun contoh dari peran Guru Sekumpul dalam bidang ekonomi adalah dagangan sembako yang dilaksanakan oleh salah seorang muridnya dengan perjanjian kesepakatan keuntungan dibagi dua dan apabila mengalami kerugian akan ditanggung sendiri oleh Guru Sekumpul. Terdapat pula usaha Guru Sekumpul yang masih berkembang serta memerlukan banyak orang yang ikut mengelola di dalamnya adalah perusahaan dengan nama “Al- Zahra” yang didirikan pada tahun 2003 bersama muridnya yang bernama H. Ahmad Ridwan.
2. Teori Ekonomi Islam tentang Bekerja
Dalam perspektif Islam, bekerja bukan hanya sekedar bekerja, akan tetapi bermakna “work for work”. Dalam istilah Islam, bekerja memiliki arti memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya dimana bekerja adalah sama dengan ibadah. Bekerja memiliki hakikat kegiatan individu untuk mendapatkan karunia Tuhan yang telah disebar dan disebarluaskan ke seluruh dunia, yangmana itu adalah bekerja keras.(Chalim, 2020)
Pada dasarnya, agama Islam terdiri dari tiga komponen perbuatan yang meliputi perbuatan hati, lisan, dan anggota badan. Begitu pula dalam ajaran mengenai bekerja dimana Islam menekankan perlunya niat sebagai bagian dari aspek perbuatan hati. Selain itu bekerja juga memerlukan tindakan atau aktivitas, baik yang dilakukan oleh lisan, anggota badan, maupun akal.
(Saefullah, 2014)
Secara syar’i, bekerja merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim karena merupakan suatu usaha untuk merealisasikan kemaslahatan baik bagi individu maupun masyarakat di dunia dan akhirat. Islam memberikan kebebasan kepada umatnya dalam berusaha baik itu bidang pengolahan, perakitan, perdagangan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan pelayanan selama tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat. Selain itu, semua jenis pengabdian kemanusiaan,
keterampilan, kecerdasan, pemikiran, dan kesusastraan juga masuk ke dalam kategori pekerjaan.
(Saefullah, 2014)
Nabi Muhammad SAW. menekankan keharusan bekerja bagi setiap muslim seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari:
:
ذَخُأْيَ نْلاَ هَدِيَبِ ىسِفْن ىذَلَّا وَ لَاقَ ص هِللَّا لَوْسُرَ نْا ضرَ ةَرَيَرَهُ ىبِا نْعَ
وَا هَاطَعَا هِلَّأْسِيَفَ) لاًجُرَ ىتِأْيَ نْا نْمِ هِلَّ .رَيَخُ هَرَهْظَ ىلعَ بَطَتَحْيَفَ هِلبْحَ مْكُدِحَا هِعَنَمِ
. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh seseorang diantara kalian mengambil tali, lalu mencari kayu bakar dan membawanya di atas punggungnya adalah lebih baik baginya daripada ia datang kepada seseorang untuk minta-minta, baik orang itu memberinya maupun tidak memberinya”.(Bukhari, n.d.)Dengan bekerja, manusia tidak hanya memperoleh penghasilan atau sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan tetapi juga memperoleh martabat serta kemuliaan. Seorang muslim haruslah bekerja dengan niat karena Allah, dimana dengan menggunakan niat tersebut seseorang akan mampu mencapai tujuan dari pekerjaannya yakni mendapatkan ridha Allah.(Noer, 2022) Bekerja untuk mencari nafkah adalah hal yang istimewa dalam pandangan Islam. Allah telah berjanji kepada orang yang beriman dan melakukan pekerjaan yang baik bahwa bagi mereka ampunan Allah dan ganjaran yang besar.(Baharuddin, 2019)
Terdapat beberapa pemikiran ekonomi Islam yang ada dalam kitab-kitab fikih ulama Banjar, diantaranya dalah konsep ekonomi Islam menurut Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitab Sabil al-Muhtadin (1779 M) mengenai zakat yang berorientasi pada kondisi sosial masyarakat pada periode tersebut yang didominasi oleh masyarakat miskin, sehingga beliau mengajarkan bahwa memberikan zakat bukan untuk melengkapi finansial yang bersifat sementara, akan tetapi juga harus bersifat berkembang. Selain itu terdapat kitab Risalah as-Salat (1910 M) yang mengakatan bahwa kesempurnaan shalat yang ketiga yakni pakaian yang berasal dari harta yang halal,(Sauqi et al., 2023) yangmana mengisyaratkan bahwa dalam mencari rezeki haruslah melalui cara-cara yang halal.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pengamatan, wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Informant yang
dipilih dalam penelitian ini adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat atau telah terlibat dalam interaksi langsung dengan Guru Sekumpul selama hidupnya, di antaranya manajer unit bisnis yang termasuk dalam keluarga guru Sekumpul, tokoh masyarakat, dan pengusaha/bisnis yang ada di sekitar daerah Sekumpul Martapura. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Hubermand (2020) kondensasi data, presentasi data dan inferensi.
Hasil dan Analisis
Upaya untuk menyampaikan ajaran Islam (dawah) dapat disampaikan melalui tiga pendekatan: lisan, tertulis, dan tindakan. Metode-metode ini mengacu pada apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, bahkan perilaku beliau sendiri adalah bentuk dawah. Pendekatan Oral (Bil-Lisan) adalah Pendekatan ini berfokus pada kemampuan untuk menyampaikan pesan secara verbal. Ini melibatkan berbicara dan mengkomunikasikan ajaran Islam melalui pidato, khotbah, diskusi, dan percakapan. Pendekatan tertulis (Al-Risalah): pendekatan ini melibatkan menyampaikan pesan Islam melalui tulisan. Ini termasuk buku, brosur, artikel, dan media elektronik modern seperti situs web dan platform media sosial. Bahan tertulis dapat mencapai audiens yang lebih luas dan memberikan catatan yang berkelanjutan dari pengajaran. Pendekatan Tindakan (Dawah Bil-Hal): pendekatan ini menekankan kekuatan tindakan dalam menyampaikan pesan Islam. Ini melibatkan demonstrasi ajaran melalui perilaku dan tindakan seseorang.
Contohnya adalah membantu orang yang membutuhkan, menciptakan peluang pekerjaan, memberikan keterampilan, dan terlibat dalam tindakan kebaikan dan amal.
Tiga pendekatan ini bekerja sama untuk secara efektif menyampaikan ajaran Islam dan menarik orang ke dalam iman. Dengan menggunakan kombinasi metode lisan, tertulis, dan berbasis tindakan, individu dapat menjangkau berbagai macam orang dan membuat dampak positif pada masyarakat. Tujuan dari da'wah bil-hal adalah untuk mendorong orang untuk tumbuh sebagai individu dan sebagai komunitas. Orang-orang mengembangkan diri mereka sendiri dan masyarakat untuk mencapai ketertiban sosial-ekonomi yang lebih baik dan memenuhi kebutuhan sesuai dengan bimbingan Islam. Ia menekankan menangani isu-isu sosial seperti kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan, melalui tindakan amal yang nyata dan kontribusi terhadap tujuan da'wah. (Sagir, 2015) Banyak siswa Guru Sekumpul datang ke Majelis Taklim di masjid Ar Raudhah di mana ia mengajar banyak buku-buku Islam klasik pada topik prinsip-prinsip Islam, seperti Tawhid, Fiqh, dan Tasawwuf. Guru juga membaca ayat-ayat puitis yang memuji Nabi
(sya’ir mawlid) selama sesi. Untuk mempromosikan perilaku yang baik, ajaran-ajaran ini menawarkan saran tentang perbaikan diri, keluarga, dan pendidikan moral berbasis masyarakat.
Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk meningkatkan keimanan dan iman kepada Allah Yang Mahakuasa serta untuk meniru tindakan dan cara hidup Nabi Muhammad SAW.
Sebagai pemimpin spiritual (murshid) Guru Sekumpul mewujudkan ajaran melalui da'wah bil-hal, atau menerapkannya pada perilaku sendiri. Siswa sangat terpengaruh oleh strategi ini.
Sepanjang hidupnya, Guru Sekumpul menyampaikan berbagai nilai melalui ajarannya.
Pengajaran ini tidak terbatas pada kuliah di majelis taklim, tetapi juga termasuk contoh praktis dari apa yang dia ajarkan.
Menjalankan bisnis dengan niat baik dan dengan cara yang etis
Guru Sekumpul menekankan pentingnya individu bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga menghindari ketergantungan dan membebani orang lain. Haji Ridwan, seorang mahasiswa Guru Sekumpul yang ditugaskan untuk memulai dan mengelola Al Zahra, menekankan pentingnya mematuhi prinsip-prinsip Islam dalam bisnis dan kehidupan. (interview, 23 August 2023). Ini termasuk berlatih kejujuran, keandalan, dan ketekunan sambil menghindari aset berbasis bunga. Tujuan akhir adalah untuk mencapai berkat dan kehidupan yang damai.
Ketika ia masih muda pada tahun 1960-an, ia pernah bergabung dengan kegiatan penambangan berlian di wilayah Cempaka. Dia tidak ragu untuk menyelam ke dalam lubang pertambangan untuk mencari batu-batu berharga. Hasilnya digunakan tidak hanya untuk mendukung hidupnya, tetapi juga sebagai bahan studi bagi para sarjana di luar wilayah.
Selain itu, Guru Sekumpul berusaha menghindari usur dalam keuangan bisnisnya (wawancara dengan Guru H. Sa’duddin, 24 Agustus 2023, imam masjid Ar Raudhah). Meskipun mempertimbangkan bunga bank sebagai usury dilarang, dia masih menggunakan layanan bank konvensional untuk transaksi bisnisnya. Namun, dia membatasi penggunaan banknya untuk deposit dan tabungan, menahan diri dari meminjam. Uang yang diperoleh dari tabungan ini tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas publik, tidak termasuk fasilitas ibadah. Kemudian ditemukan bahwa Guru Sekumpul berbagi pandangan yang sama dengan fatwa DSN-MUI mengenai penggunaan pendapatan non-halal di bank-bank Islam sebagai dana sosial. (Indonesia, 2018). Diperkirakan bahwa KH Ma'ruf Amin, seorang tokoh terkemuka di MUI, pernah berdebat dengan Guru Sekumpul tentang upaya untuk memusnahkan usury dalam
kehidupan Muslim Indonesia, ketika mengunjungi Sekumpul pada awal 90-an. (Wawancara dengan Guru H. Sa’dudin, 24 Agustus 2023)
Kebebasan Ekonomi
Ketika Guru Sekumpul bertambah tua dan menjadi lebih sibuk dengan kegiatan khotbahnya, ia memberikan modal kepada orang lain / siswa yang dipercaya. Model kerjasama ini menerapkan Kontrak Qiradh (interview with H. Ridwan, August 23, 2023).
Bisnis ini dilakukan dalam bentuk perdagangan kebutuhan dasar, batu permata, cetak, pakaian dan makanan ritel, dan bisnis lainnya. Beberapa bisnis ini adalah bagian dari kelompok bisnis Al-Zahra yang masih ada hari ini. Keuntungan tidak hanya untuk tujuan pribadi, keluarga, dan khotbah, tetapi juga untuk memberikan bantuan kepada keluarga guru-guru sebagai bentuk menghormati mereka. (Penyusun, 2006).
Membuat Kesempatan Kerja
Seperti yang dijelaskan dalam bagian "kebebasan ekonomi", Guru Sekumpul mempercayakan kerabat dekat dan siswa untuk menjalankan bisnisnya. Dia tidak hanya menginstruksikan mereka untuk bekerja, tetapi juga menyediakan modal, seperti yang dialami oleh H. Ridwan dan H. Jahrani. Hal ini memungkinkan siswa untuk mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan nafkah.
Selain itu, kegiatan dalam Majelis Taklim secara tidak langsung menyebabkan pertumbuhan berbagai jenis bisnis di sekitar Sekumpul. Ini termasuk bisnis kuliner, akomodasi, pakaian Muslim, kebutuhan dasar, transportasi, dan berbagai layanan lainnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah Sekumpul bahkan bisa melampaui daerah lain di Martapura. (interview with Hj. Rahmah, August 24, 2023)
Perkembangan Daerah Sekumpul
Awalnya, Sekumpul adalah daerah yang tidak dihuni. Perkembangan wilayah Sekumpul telah cepat, bahkan setelah kematian Abah Guru pada tahun 2005. Makam Tuan Guru KH Zaini Abdul Ghani, juga dikenal sebagai Sekumpul Dome atau Abah Guru Dome, terus dikunjungi oleh para pelayan dari dalam dan luar Kalimantan Selatan, bahkan dari luar negeri. Kunjungan ini meningkat selama Ramadan dan peringatan tahunan kematiannya. (haul Sekumpul). Daerah Sekumpul telah berkembang dengan fungsi khotbah, fungsi perumahan, dan fungsi ekonomi melalui pariwisata keagamaan.(Ratodi & Rafiani, 2019).
Kesimpulan
Ajaran dan praktik Guru Sekumpul mencerminkan komitmennya terhadap nilai-nilai Islam dan pencarian berkat dan kehidupan damai. Dia menekankan pentingnya mematuhi prinsip-prinsip Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis dan kehidupan. Pengajaran-Nya tidak terbatas pada kuliah di majelis taklim, tetapi juga termasuk contoh-contoh praktis dari apa yang dia ajarkan. Pendekatan Guru Sekumpul untuk menyampaikan ajaran Islam adalah melalui da'wah bil- hal, yang menekankan kekuatan tindakan dalam menyampaikan pesan Islam. Dia menyediakan modal untuk siswa dan mempercayakan mereka untuk menjalankan bisnisnya, menciptakan peluang kerja dan pertumbuhan ekonomi di daerah Sekumpul. Pengembangan wilayah Sekumpul telah cepat, bahkan setelah kematiannya, dengan Sekumpul Dome terus dikunjungi oleh para pejalan kaki dari dalam dan luar Kalimantan Selatan. Secara keseluruhan, ajaran dan tindakan Guru Sekumpul telah memiliki dampak yang signifikan pada siswa dan komunitasnya, mengarah pada pertumbuhan berbagai bisnis dan pengembangan daerah Sekumpul.
Daftar Pustaka
Abbas, E. W. (2017). Prophetic Education of Guru Sekumpul for Social Studies Education. 1st International Conference on Social Sciences Education-" Multicultural Transformation in Education, Social Sciences and Wetland Environment"(ICSSE 2017), 102–105.
Abbas, E. W., Hadi, S., & Rajiani, I. (2019). Guru Sekumpul” as the prophetical model of entrepreneurship education from islamic perspective. Proceedings of ADVED. Retrieved from Https://Www. Ocerints. Org/Adved19_e-Publication/Papers/69. Pdf.
Abbas, E. W., & Rajiani, I. (2017). A new creative model of da’wah as a medium of economic development in Indonesia. Economic and Social Development: Book of Proceedings, 302–
306.
Aulia, N., & Rahmini, N. (2020). Analisis Dampak Ekonomi Kunjungan Wisata Religi Kawasan Sekumpul Terhadap Pengembangan Ekonomi Lokal (Studi Pada Makam Guru Sekumpul, Martapura Kab. Banjar). JIEP: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan, 3(1), 1–14.
Banjar, K. (2020, March 3). Haul Ke-15 Abah Guru Sekumpul Pecahkan Rekor Dengan Jamaah Terbanyak. koranbanjar.NET. https://koranbanjar.net/haul-ke-15-abah-guru-sekumpul- pecahkan-rekor-dengan-jamaah-terbanyak/
Barentsen, J. (2019). The religious leader as social entrepreneur. Servant Leadership, Social Entrepreneurship and the Will to Serve: Spiritual Foundations and Business Applications, 235–253.
Ehrhardt, D. (2016). Janus’ Voice: Religious Leaders, Framing, and Riots in Kano. Contemporary Islam, 10(3), 333–356.
Farihah, I. (2014). Agama Menurut Ibn Khaldun. Jurnal Fikrah, 2, 187–205.
GHANI, K. M. Z. A. (n.d.). PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KH MUHAMMAD ZAINI ABDUL GHANI (STUDI PENDIDIKAN AKHLAK DI MARTAPURA, KALIMANTAN SELATAN).
Haar, G. ter, & Ellis, S. (2006). The role of religion in development: Towards a new relationship between the European Union and Africa. The European Journal of Development Research, 18, 351–367.
Hefni, H., Suparta, M., & Yusuf, M. Y. (2003). Metode dakwah. Kencana.
Helman. (2020, March 2). Haul Guru Sekumpul Pecahkan Rekor Wisata Religi Terbanyak. Duta TV | Berita Terkini Kalimantan Selatan. https://dutatv.com/haul-guru-sekumpul-pecahkan- rekor-wisata-religi-terbanyak/
Iannaccone, L. R. (1998). Introduction to the Economics of Religion. Journal of Economic Literature, 36(3), 1465–1495.
King, S. M. (2007). Religion, spirituality, and the workplace: Challenges for public administration.
Public Administration Review, 67(1), 103–114.
Mediasa, F., Pratiwib, E. K., & Janahc, N. (2019). The political view of religious leaders in Indonesia. International Journal of Innovation, Creativity and Change, 6(1), 60–75.
Noland, M. (2005). Religion and economic performance. World Development, 33(8), 1215–1232.
poroskalimantancom. (2020, March 1). Haul Guru Sekumpul Tercatat Rekor Indonesia di LEPRID. Poros Kalimantan. https://poroskalimantan.com/haul-guru-sekumpul-tercatat- rekor/
Purnamasari, P., & Amaliah, I. (2015). Fraud prevention: Relevance to religiosity and spirituality in the workplace. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 211, 827–835.
Rosyadi, A. (2004). Bertamu Ke Sekumpul Mereka yang Bertemu dengan KH Muhammad Zaini Abdul Ghani. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian Ilmu Pengetahuan dan Keislaman Kabupaten Banjar.
Samuel, P., & Pandey, S. (2018). Life satisfaction and altruism among religious leaders. The International Journal of Indian Psychology, 6(1), 89–95.
Sandiaga Uno Hadiri Haul Guru Sekumpul di Martapura, Kalsel. (n.d.). Retrieved August 25, 2023, from https://nasional.sindonews.com/berita/1385588/12/sandiaga-uno-hadiri-haul- guru-sekumpul-di-martapura-kalsel
Setyowati, R. (2022). Sharia compliance in the Islamic banking perception in Indonesia.
Siapa Guru Sekumpul Hingga Haulnya Didatangi Jokowi? (2018, March 26). Republika Online.
https://republika.co.id/share/p65ss6428
Wapres KH Ma’ruf Amin Hadiri Haul Guru Sekumpul. (2023, January 26). Republika Online.
https://republika.co.id/share/rp3lf6451
Weaver, G. R., & Agle, B. R. (2002). Religiosity and ethical behavior in organizations: A symbolic interactionist perspective. Academy of Management Review, 27(1), 77–97.
Yusran, M. (2017). Pemikiran Pendidikan Islam KH Muhammad Zaini Abdul Ghani.
Yusuf, M. (2019). Analisis Pengaruh Kegiatan Keagamaan Haul Guru Sekumpul Terhadap Perekonomian di Kalimantan Selatan. Antasari Press.
Baharuddin. (2019). Produktivitas Kerja Dalam Perspektif Ekonomi Islam. Jurnal Balanca, 1(1), 39–55.
Bukhari. (n.d.). Shahih Bukhari Juz 2.
Chalim, A. (2020). Work Ethic Based on Islamic Perspective. Journal of Law, Policy and Globalization, 101, 141–145. https://doi.org/10.7176/jlpg/101-15
Indonesia, D. S. N. M. U. (2018). Fatwa DSN –MUI NO:123/DSN-MUI/XI/2018 tentang Dana Sosial.
Makmur, A. (2012). Peranan Ulama Dalam Membina Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 36(1), 174–191.
https://doi.org/10.30821/miqot.v36i1.114
Mirhan, A. M. (2012). “Karisma K.H. Muhammad Zaini Abdul Ghani dan Peran Sosialnya (1942-2005). Ilmu Ushuluddin.
Noer, M. U. (2022). Islamic Work Ethic: The Role of Religious Principles on Working. Borneo International Journal of Islamic Studies, 4(2), 1–20.
https://doi.org/10.21093/bijis.v4i2.4788
Penyusun, T. (2006). Guru Sekumpul: Biografi Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani”.
Ar Raudhah.
Ratodi, M., & Rafiani, S. (2019). “Peran KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani Dalam Perkembangan Permukiman di Sekumpul Martapura.” INA-Rxiv.
Saefullah, E. (2014). Bekerja Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Suatu Kajian Tematik Hadits Nabawi). Al-Amwal, 6(2), 50–75.
Sagir, A. (2015). Dakwah Bil-Hal: Prospek Dan Tantangan Da’i. Alhadharah, Vol. 14(27), 18.
Sauqi, M., Rusdiana, & Malihah, L. (2023). Analisis Intelektualisme Pemikiran Ekonomi Islam Ulama Banjar Periode 1779-1955 Masehi. Jurnal Hadratul Madaniah, 10(1), 11–20.