• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadist siyasah ilmu hadis

N/A
N/A
AHMAD RIKIYANTO

Academic year: 2023

Membagikan "Hadist siyasah ilmu hadis "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Al-qur’an disebut juga al-Kitab, adalah Kalamullah (Firman Allah) yang diturunkan secara Mutawattir (berangsur-angsur) kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril yang dituliskan di dalam sebuah Mushaf dan merupakan ibadah bagi orang yang

membacanya serta sebagai petunjuk pedoman hidup bagi manusia. Salah satu tujuan

diturunkannya Al-qur’an adalah sebagai pemberi petunjuk dan pembatas antara yang hak dan yang batil. Akan tetapi, apabila petunjuk dan tuntunannya itu tidak diikuti secara seksama, maka Al-qur’an tidak memberi arti apa-apa bagi manusia.

Al-qur’an haruslah diaplikasikan dalam perilaku sosial, sehingga ajarannya dapat memantul dan mewarnai realitas sosial. Seseorang yang tidak takut kepada Tuhan, maka ia tidak akan peduli dari mana ia mendapatkan harta dan ke mana membelanjakannya. Bahkan, obsesi orang itu hanyalah menambah kekayaanya, meskipun kekayaan itu dimurkai dan diharamkan, baik karena mencuri, menyuap, meng-ghasab, memalsukan menjual yang diharamkan, mempraktikkan riba, memakan harta anak yatim, menyewa orang untuk pekerjaan yang diharamkan, seperti perdukunan, kekejian, lagu-lagu, atau membuat

pelanggaran terhadap baitul mal kaum muslimin dan fasilitas umum, mengambil harta orang lain dengan jalan mempersulit, atau meminta tanpa ada kebutuhan, atau yang sejenisnya.

dari hasil perbuatan itulah ia makan, mengenakan pakaian, mengendarai kendaraan, membangun atau menyewa rumah, melengkapi perabotannya, dan memasukkan yang diharamkan itu ke dalam perutnya. Padahal Nabi SAW telah bersabda: Setiap daging yang tumbuh dari yang diharamkan, maka neraka lebih (berhak) untuknya. Pada hari kiamat nanti, orang seperti itu akan ditanya tentang hartanya: dari mana mendapatkannya dan ke mana membelanjakannya, Pada hari itu ada kehancuran dan kerugian.

Oleh karena itu, bagi orang-orang yang masih menyimpan harta yang haram, segeralah untuk melepaskannya. Jika harta itu hak manusia, segeralah untuk mengembalikannya kepada pemiliknya disertai dengan permintaan maaf sebelum datangnya hari dimana tidak ada lagi pengadilan dengan dinar dan dirham, melainkan dengan kebaikan dan keburukan. Dari semua contoh dalam memperoleh harta dengan cara yang bathil, seperti risywah (suap), kegiatan ini sangat merugikan korban baik secara lahir maupun bathin. Apalagi jika kegiatan ini

(2)

korbannya orang sederhana kebawah, mereka yang bahkan kekurangan materi akan terus tertindas akibat pelaku yang acuh akan keadaan sosial disekitarnya. Dan apabila keadaan seperti ini tidak segera di binasakan, maka akan semakin jelas tanda-tanda kehancuran sebuah daerah ataupun Negara.

(3)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Risywah (Suap Menyuap) Dalam Islam

Secara etimologi Risywah berasal dari bahasa Arab ةوشر وشري اشر yang berarti “Menjulurkan kepala”. Adapun pendapat Ulama adalah sebagai berikut :

Ibnu Mandzur menyebutkan perkataan Abul ‘Abbas“Rusywah/Risywah diambil dari konteks anak burung/ayam yang menjulurkan kepalanya pada mulut induknya seraya

meminta agar makanan yang berada di paruh induknya di suapkan untuknya. Ibrahim

Mustafa menyebutkan bahwa kalimat risywah berasal dari kata ءاشرلا yang bermakna: “Seutas tali atau tali ember dan semacamnya”

Adapun menurut terminologi adalah Apa-apa yang diberikan (baik uang maupun hadiah) untuk mendapatkan suatu manfaat atau segala pemberian yang bertujuan untuk mengukuhkan sesuatu yang batil dan membatilkan suatu yang haq.1 Sedangkan pendapat Ulama adalah sebagai berikut:

Ibnu Hajar al ‘Atsqolani di dalam kitabnya Fathul Bari menukil perkataan Ibnu al

‘Arobi ketika menjelaskan tentang makna Risywah. ”Risywah atau suap-menyuap yaitu suatu harta yang diberikan untuk membeli kehormatan/ kekuasaan bagi yang memilikinya guna menolong/melegalkan sesuatu yang sebenarnya tidak halal”2.

Abdullah Ibn Abdul Muhsin mendefinisikan sebagai berikut : Risywah ialah sesuatu yang diberikan kepada hakim atau orang yang mempunyai wewenang memutuskan sesuatu supaya orang yang memberi mendapatkan kepastian hukum atau mendapatkan keinginannya.

Risywah juga dipahami oleh ulama sebagai pemberian sesuatu yang menjadi alat bujukan untuk mencapai tujuan tertentu.3

Adapun menurut MUI : suap (Risywah) adalah pemberian yang diberikan oleh seorang kepada orang lain (pejabat) dengan maksud meluluskan suatu perbuatan yang batil (tidak benar menurut syariah) atau membatilkan perbuatan yang hak. Jadi dari berbagai definisi diatas dapat di simpulkan tentang definisi risywah secara terminologis yaitu: Suatu pemberian baik berupa harta maupun benda lainnya kepada pemilik jabatan atau pemegang

1 Al Mu’jam al Wasith.hlm 148

2 Ibnu Hajar al Atsqolani , Fathul Bari, Dar al Ma’rifah, Beirut, Juz 5,1379 H, Hal 221.

3 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, Jilid V ,1996, Hal 1506

(4)

kebijakan/kekuasaan guna menghalalkan (atau melancarkan) yang batil dan membatilkan yang hak atau mendapatkan manfaat dari jalan yang tidak ilegal.

B. Pandangan Ijma’ Ulama’ Tentang Risywah

Banyak sekali dalil ijma’ yang menyebutkan bahwa risywah haram secara ijma’. Imam al Qurtubi ketika menafsirkan surat al Maidah ayat 42 berkata; “Dan tidak ada perbedaan hukum dikalangan para salaf bahwa melakukan risywah untuk menolak yang hak atau dalam perkara yang dilarang merupakan riyswah(suht) yang haram”.

Di dalam kitab Nihayatul Muhtaj Imam Ar-Romli yang dijuluki sebagai ‘asy Syafi’i ash shoghir/imam syafi’i kecil menjelaskan akan hal ini: “Kapan saja seseorang mencurahkan harta untuk berhukum dengan yang tidak haq atau menolak berhukum dengan yang haq maka ia telah berbuat risywah yang di haramkan secara ijma.4 Hamd bin Abdurrohman al Junaidil dalam bukunya juga menjelaskan akan haramnya risywah secara ijma’. “Dan sungguh telah bersepakat para shohabat dan tabi’in begitu juga dengan para ulama umat atas haramnya risywah dengan segala bentuknya. Dan telah terdapat nash-nash yang menjelaskan tentang implementasi dan interpretasi apa yang terdapat dalam qur’an dan sunnah serta berusaha menjauhinya semaksimal mungkin.”

Selain berbagai nukilan diatas Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughniy5 ia berkata:

“Adapun suap-menyuap dalam masalah hukum dan pekerjaan (apa saja) maka hukumnya haram tanpa ada selisih pendapat di kalangan ulama.” Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar menukil perkataan Ibnu Ruslan tentang kesepakatan haramnya risywah. Ibnu Ruslan berkata dalam Syarhus Sunan, “Termasuk kemutlaqan suap-menyuap bagi seorang hakim dan para pekerja yang mengambil shadaqah, itu menerangkan keharamannya sesuai Ijma.

Imam ash-Shan’ani dalam Subulussalam juga berkata, “Dan suap-menyuap itu haram sesuai Ijma’ baik bagi seorang qadhi/hakim, bagi para pekerja yang menangani shadaqah atau selainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

(QS. Al-Baqarah: 188).

4 Syamsudin Muhammad bin Abi ‘Abbasar Romli, Nihayatul Muhtaj, Dar al Fikr, Berut, 1984, Juz 8, Hal 255.

5 Ibnu Qudamah, Al Mughni, Darul Fikr, Beirut, 1984, Juz 11, Hal 437.

(5)

C. Pandangan Madzahibul Arba ‘Ah (Empat Imam Madzhab) Tentang Risywah 1. Madzhab Hanafi

Dalam fatwa Qadi’ Khan (tokoh Madzab Hanafiyah) disebutkan: kalau seorang anakhakim, atau notulennya, atau salah satu pegawainya menerima suap, dan kasusnya diserahkan kepada hakim tersebut untuk diputuskan hukumannya, maka keputusan hakim diterima kalau dia tidak mengetahui transaksi suap yang terjadi. Tapi, jika hakim hakim mengetahui praktek kolusi yang terjadi dengan kerabatnya, maka keputusannya ditolak. Jika praktek suap sudah menjadi kebiasaan, maka posisi hakim tidak diakui lagi.6

Praktek suap adalah sesuatu yang diharamkan, baik bagi yang memberi maupun bagi yang menerima. Ada empat macam bentuk praktek suap, yaitu:

a. Haram bagi kedua belah pihak.

b. Kalau seseorang memberi suap pada hakim untuk diringankan hukumannya, maka baik keputusannya benar maupun tidak, dihukum haram dari kedua belah pihak.

c. Kalau seseorang membayar atas dasar khawatir pada dirinya atau hartanya, maka haram bagi yang menerima tetapi tidak bagi yang memberi. Begitu pula halnya dengan orang yang menebus dan memberi uang suap untuk menjaga kekayaanya.

d. Seseorang dibenarkan membayar pada abdi negara demi kelancaran urusannya, tapi tidak dibenarkan untuk orang yang menerimanya.

Bentuk yang dibenarkan ketika mendapati kondisi demikian adalah: orang yang menerima suap mengabdikan dirinya sehari semalam, sesuai dengan pembayaran yang telah diberikan. Dengan transaksi seperti itu maka hukumnya sah. Jika ia memberikan uang suap terlebih dahulu demi kelancaran urusannya, maka orang memberi suap punya wewenang untuk menyurunya bekerja sesuai dengan tansaksi kedua belah pihak atau bekerja pada orang lain. Jika seseorang meminta bantuan untuk memperlancar urusan birokrasinya tanpa di dahului dengan uang pelicin (diberikan setelah urusannya berakhir) maka para ulama berbeda pendapat: sebagian ulama tidak membenarkan bagi orang yang menerimanya dan sebagian lagi membenarkan (sah), karena hal tersebut adalah sifat balas budi (seperti seseorang yang bertindak sebagai imam sekaligus muadzin tanpa disertai dengan syarat tertentu).7

6 Abdul Ghani Bin Ismail An-Nablis, Tahqiq AL-Qadiyah Fii Al-Farq Baina Ar-Risywah Wa Al-Hadiah.

Diterjemahkan oleh Muh Fudhail Rahman Sahrir Nuhun, Hukum Suap Dan Hadiah, Cet. 1 (Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2003), Hal 122

7 Ibid,. Hal 123

(6)

2. Madzhab Syafi’i

Para pemuka dan tokoh madzhab syafi’i di antaranya Ibnu Rif’ah dalam Kifayat An- Nabawiyah Fi Syarh At-Tanbiyah berkata, “Tidak dibenarkan seorang hakim menerima suap, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mundzir dari Abu Huraiah RA, ia berkata:

يشترملاو يشارلا ملسو هيلع ا ىلص ا لوسر نعل

Artinya: “Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaknat orang yang memberi dan menerima suap”.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Tsauban, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

شئ ارلاو يشت رملاو يشارلا ملسو هيلع ا ىلص ا لوسر نعل

Artinya: “Allah Subahanahu Wa Ta ‘Ala melaknat orang yang memberi suap, menerima suap, dan orang yang meghubungkan keduanya.”

Begitu pula yang diriwayatkan oleh Anas. Penyebab yang mendasar adalah jika seorang hakim menerima suap untuk melenceng dari kebenaran yang akan diputuskan, sehingga hukumnya haram. Sangat jelas sekali, bahwa menerima suap hukumnya haram. Jika menerima suap dengan maksud tidak memberi keputusan hukum secara objektif, sementara ia berwewenang untuk memutuskan kepada pihak yang bersengketa, maka menghindar untuk memberi keputusan hukum diharamkan baginya. Jika hakim ingin memutuskan perkara secara benar, maka seharusnya ia tidak menerima upah dari pemimpin (orang yang dihormati).

Mayoritas pemuka ulama Syafi’i Abu Thayib, Mawardi, dan Ibnu Sibagh berkata:

“Jika seseorang memberi suap untuk memutuskan hukum secara tidak benar atau menahan supaya tidak memberi hukum dengan benar, maka hukumnya haram. Tapi jika dia memberi suap agar hak-haknya tercapai, maka tidak diharamkan baginya, meskipun haram bagi orang menerimanya, sebagaimana tidak ada salahnya buat dia jika ingin membebaskan tawanan dengan tebusan hartanya.8

3. Madzhab Maliki

8 Ibid,. Hal 132-134

(7)

Para pemuka dan tokoh madzhab Maliki diantaranya dalam Mukhtasar Khalil dan syarh oleh muridnya, Bahram menyatakan: jika dimaksud untuk meminta hukum atas dasar

kebodohan dan cinta dunia, maka hukumnya haram: kebodohan dapat menyalahi hukum yang telah disepakati oleh para ulama, sehingga terjerumus ke dalam urusan yang sesat: sedangkan cinta dunia dapat menjadi penyebab kesengsaraan atau aniaya.9

4. Madzhab Hambali

Para tokoh dan pemuka madzhab Hambali di antaranya Al-Allamah Asy-Syaikh Mansur Al-Bahwati rahimahullahu dalam syarh Al Iqna’a berkata: “Haram untuk menerima suap.

Sebagaimana hadis dari Ibnu Umar RA ia berkata:

يشترملاو يشارلا ملسو هيلع ا ىلص ا لوسر نعل

Artinya: “Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi dan meneria suap”.

Suap adalah sesuatu yang diberikan setelah adanya permintaan. Jika orang yang akan memberikan suap untuk membentengi dia dari kedzaliman, dan dia berada dijalan yang benar, maka hukumnya halal. Atha’, Jabir bin Zaid, dan Hasan berpendapat: “Seseorang boleh menebus dirinya sendiri dengan hartanya, sebagaimana seseorang yang menebus tawanan dengan hartanya. Tapi hakim tidak boleh (haram) menerima hadiah tersebut.”10

D. Menurut UU Tindak Pidana Suap Suap diatur dalam:

1. Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No 73).

2. UU No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap (“UU 11/1980”).

3. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta diatur pula dalam UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (“UU Pemberantasan Tipikor”).11

9 Ibid,. Hal 140-141 10 Ibid,. Hal 143-44

11 http://consultanonline.wordpress.com/tahukah-kamu/kejahatan-pidana/beda-suap-dan-gratifikasi

(8)

E. Dalil-Dalil Tentang Risywah (Suap Menyuap)

Yang artinya: Ahmad bin Yunus menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Dzi’bi menceritakan kepada kami, dari Harits bin Abdurrahman, dari Abi Salamah, dari Abdullah bin Umar berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” H.R. Abu Daud )

(9)

Yang artiya :Ahmad bin Musa bin Mutsannamenceritakan kepada kami, Abu ‘Amir

al-‘Aqdi menceritakan kepada kami, Abi Dzi’bi menceritakan kepada kami dari

Harits bin Abdurrahman, dari Abi Salamah, dari Abdullah bin Umar berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Rasulullah shallallahu

‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.”H.R. al-Tirmidzi )

Yang artiya : Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami, Waki‘, menceritakan kepada kami, Abu Dzi’bi menceritakan kepada kami, dari Harits bin Abdurrahman, dari Abi Salamah, dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah Saw bersabda: Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” ( H.R. Ibnu Majah).

Yang artinya: Waki‘, menceritakan kepada kami, Abi Dzi’bi

menceritakan kepada kami, dari Harits bin Abdurrahman, dari Abi Salamah, dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah Saw

bersabda : Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” ( H.R. Ahmad bin Hanbal )

Referensi

Dokumen terkait

Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Akhlaq Dosen Pengampu: Ust. Ena

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa eksistensi UKMI As-Siyasah FISIP USU ini menjadi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Islam dibentuk karena memiliki fingsi

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa eksistensi UKMI As-Siyasah FISIP USU ini menjadi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Islam dibentuk karena memiliki fingsi

Mata kuliah Hadis Ahkam Hukum Keluarga adalah mata kuliah yang mengulas hadis-hadis yang berhubungan dengan hukum keluarga sisi hukum dan nilai-nilai

Implementasi integrasi ilmu hadis dan antropologi pada perguruan tinggi agama Islam (PTAI) ditunjukkan melalui dimasukannya mata kuliah antropologi dalam struktur kurikulum

BENTUK TUGAS WAKTU PENGERJAAN TUGAS Tugas 6 8 Minggu JUDUL TUGAS Makalah Pengelolaan Perpustakaan SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH mampu membuat rancangan desain

Kom BENTUK TUGAS Tugas Indivudi online JUDUL TUGAS Tugas 10 SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH  Mampu memahami dan mejelaskan asumsi dasar prespektfi konstruktivisme  Mampu

MAKALAH HADIST TARBAWI “Hadis Tentang Etika Siswa Terhadap Guru” Dosen Pengampu : Arsanur Rahman.,S.Pd.I.,M.Pd Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadist Tarbawi Disusun Oleh: