Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan keterampilan perawat dalam pemasangan infus dengan kejadian flebitis di Rumah Sakit Umum Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Judul Skripsi : Hubungan Keterampilan Perawat Pemasangan Infus Dengan Kejadian Flebitis Pada Pasien Di Rumah Sakit Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kalimantan Tengah Nama Mahasiswa : Rusmiati. Hubungan keterampilan perawat pemasangan infus dengan angka kejadian flebitis pada pasien di Rumah Sakit Imanuddin Pangkalan Bun Kalimantan Tengah.
Kerangka konseptual untuk menyelidiki hubungan antara keterampilan infus perawat dan flebitis di Kalimantan Tengah. Pemasangan infus (pemasukan cairan) merupakan tindakan darurat yang sangat menentukan keselamatan nyawa pasien (Riyadi S & Harmoko, 2012 dalam Kaloa 2016).
Rumusan Masalah
Berdasarkan wawancara dengan 10 perawat diruangan didapatkan 6 (60%) perawat tidak mengikuti SOP pemasangan infus. Bahkan ketika ditanya tentang prosedur pemasangan infus, mereka hanya tahu sedikit tentang isi prosedur tersebut, namun ketika mengamati selama pemberian infus, ternyata ada beberapa kriteria yang tidak diperhitungkan terkait dengan isinya. prosedur, terutama masalah cuci tangan. Dapat memberikan masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan pemeliharaan sterilitas ruangan dan peralatan medis bekas, sebagai masukan bagi tim pengendalian infeksi dalam menyusun kebijakan pemasangan infus untuk mengurangi terjadinya flebitis.
Penelitian ini dapat memberikan masukan khususnya bagi perawat rumah sakit dalam meningkatkan keterampilan pemasangan infus yang baik dan sesuai SOP. Penelitian dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan pembelajaran atau referensi bagi mahasiswa mengenai keterampilan perawat pemasangan infus agar tidak terjadi flebitis.
Relevansi
45 tahun 66,67%, jenis kelamin perempuan 57,6%, status gizi buruk 57,8%, ukuran kanula 20 G 64,2%, waktu pemasangan > 3 hari 80%, pemasangan di IGD 51,1%, infus isotonik 95,6%, pemasangan ekstremitas atas 100% , dan flebitis banyak ditemukan pada DM dan efusi pleura 11,1%.
Tinjauan Teori .1 Keterampilan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keterampilan Pemasangan Infus
Pengalaman juga diartikan sebagai memori episodik, yaitu memori yang menerima dan menyimpan peristiwa yang dialami individu pada waktu dan tempat tertentu sebagai referensi otobiografi (referensi berdasarkan pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain). Semakin lama seseorang bekerja pada pekerjaan yang ditekuni, semakin banyak pengalaman dan keterampilan kerja semakin baik.
Perawat
Pengertian
Dalam menjalankan praktiknya, ners vokasi dapat melakukan praktik keperawatan di pelayanan kesehatan masyarakat dan berhak mendapatkan Surat Izin Perawat Vokasi (SIPV) dari dinas kesehatan kabupaten/kota. 2) Perawat profesional. Perawat profesional adalah perawat yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi keperawatan baik di tingkat universitas atau perguruan tinggi kesehatan. Perawat profesional juga harus mampu mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan klien yang berbeda.
Peran dan fungsi perawat
Dalam menjalankan praktiknya, perawat vokasi dapat melakukan praktik keperawatan di pelayanan kesehatan masyarakat dan berhak mendapatkan surat izin praktik keperawatan (SIPV) dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Konsisten dengan penelitian Warsito (2013), karakteristik perawat meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan dan masa kerja. Seorang perawat yang menjalankan profesinya sebagai perawat harus memiliki pengetahuan dan pelatihan dalam bidang tertentu dalam menjalankan profesinya, yang memerlukan pelatihan yang tepat untuk dapat melaksanakannya dengan baik dan profesional.
Masa kerja adalah lamanya seorang perawat bekerja di rumah sakit sejak mulai bekerja sampai perawat berhenti bekerja. Semakin lama masa kerja seseorang maka semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, hal ini dapat membantu meningkatkan kinerja seorang perawat (Rusmianingsih, 2012).
Definisi Pemasangan Infus
Tujuan Pemasangan Infus/Terapi Intravena
Standar Operasional Prosedur Pemberian Cairan Intravena
11* Bersihkan area tusukan dengan kapas alkohol dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar dan tunggu hingga kering. 12* Tempatkan torniket di atas area yang akan ditusuk dan minta pasien untuk memegangnya (bila pasien sadar).
Plebitis
- Pengertian
- Penyebab dan Klasifikasi Plebitis
- Tanda dan gejala Plebitis
- Menurut Rohani dan Setio (2010) menurut letaknya plebitis dibagi menjadi 2, yaitu sebagai berikut
- Tindakan Pencegahan Plebitis
- Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Plebitis 1) Hubungan Lama Hari Pemasangan Infus Dengan Kejadian Plebitis
Flebitis kimia terjadi dalam bentuk reaksi antara tunika intima vena dan senyawa kimia yang dapat menimbulkan respon inflamasi. Partikel bahan yang terbentuk dari cairan atau proses pencampuran obat yang tidak sempurna dapat meningkatkan risiko flebitis (INS, 2010). Flebitis mekanik merupakan peradangan pada pembuluh darah vena yang terjadi akibat pergerakan benda asing yang menimbulkan gesekan, biasanya sering dikaitkan dengan proses pemasangan kateter intravena.
Flebitis bakteri (Bakteri flebitis) adalah proses inflamasi pada pembuluh darah vena yang terjadi akibat kolonisasi bakteri. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat melakukan tindakan pemasangan infus, perawat harus selalu mengetahui tatalaksana tindakan pemasangan infus agar tidak dilakukan. Pemberian obat melalui infus dalam jangka panjang memerlukan perhatian khusus agar pembuluh darah vena tetap terjaga, sehingga harus memilih pembuluh darah vena yang kuat dan baik, batas waktu penggunaan kateter infus hanya 48-72 jam.
Jika hal ini tidak terkontrol akan memudahkan terjadinya peradangan pada pembuluh darah vena, akibat adanya kolonisasi mikroba atau bakteri pada tempat tusukan infus, untuk itu sebaiknya dilakukan penggantian kateter intravena walaupun tidak ada. tanda flebitis. Durasi infus dapat menyebabkan infeksi selama pemberian terapi infus intravena. Hal ini dikarenakan pemasangan infus yang terlalu lama dan rapat dengan memasukkan benda asing ke dalam tubuh tanpa pengobatan dapat menimbulkan reaksi infeksi, dimana jaringan yang mengalami trauma dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme yang dapat mengakibatkan flebitis (Perry & Potter, 2010). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Meira, dkk (2015) bahwa mayoritas responden yang pernah mengalami flebitis sebanyak 42 responden (51,2%) dan mayoritas responden yang mengalami flebitis melakukan infus paling lama pada hari ke 5 yaitu masing-masing 38 orang. 82 infus. Responden pengobatan.
Perawatan atau perban infus adalah perawatan pemasangan kateter intravena sebagai upaya untuk mengurangi risiko komplikasi atau infeksi, terutama flebitis, dan untuk mempertahankan patensi aliran infus dan selang infus. Perawatan infus dilakukan setiap 48-96 jam atau saat kasa infus basah atau kasa pelindung area tusukan rusak (Rosyidi dan Wulansari, 2013). Saat ini telah dikurangi menjadi setiap 48-72 jam sekali, yaitu bersamaan dengan penggantian area penempatan kateter intravena.
Hubungan keterampilan perawat dengan angka kejadian plebitis
Secara teknis, penggantian balutan, penggantian jalur infus, dan balutan daerah infus harus dilakukan setiap 48 jam, karena sterilitas suatu alat hanya bertahan selama 48 jam. Menurut penelitian Rizal (2018) yang berjudul hubungan keterampilan perawat dalam memasang infus dengan kejadian flebitis pada pasien di ruang Flamboyan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, meliputi: Metode penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling dengan jumlah sampel 15 responden dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi.
Hasil penelitian: sesuai SOP terjadi flebitis pada 1 pasien (25%), dan sesuai SOP tidak terjadi flebitis pada 4 pasien (36%). Sedangkan yang tidak mematuhi SOP mengalami flebitis pada 3 pasien (75%) dan tidak mematuhi SOP, tidak terjadi flebitis pada 7 pasien (64%) Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini didapatkan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara keterampilan keperawatan dengan kejadian flebitis pada pasien di ruang flamboyan RS Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Kerangka Konseptual
Hipotesis
Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu, metode ilmiah berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri ilmiah yaitu rasional, empiris dan sistematis (Sugyiono, 2013).
Waktu dan Lokasi Penelitian
Desain Penelitian
Kerangka Kerja (Frame work)
Populasi, Sampel dan Sampling .1 Populasi .1 Populasi
Sampel
Sampling
Identifikasi dan definisi operasional .1 Identifikasi Variabel .1 Identifikasi Variabel
Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penjelasan operasional dari semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian, yang memudahkan pembaca atau penguji untuk menginterpretasikan makna penelitian (Nursalam, 2014).
Instrumen
Pengumpulan dan Pengolahan Data .1 Pengumpulan Data .1 Pengumpulan Data
Teknik Pengolahan Data
Jika ada data yang tidak lengkap, responden diminta untuk mengisi data sesuai dengan informasi yang diberikan. Scoring adalah kegiatan menjumlahkan skor yang diperoleh dari responden dari lembar pendataan yang telah diisi. Kegiatan tabulasi dalam penelitian merupakan tahap keempat yang dilakukan setelah proses editing, coding dan scoring.
Kegiatan tabulasi dalam penelitian adalah mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian kemudian memasukkannya ke dalam tabel dengan skor yang telah ditentukan.
Analisa Univariat
Analisa Bivariat
Etika Penelitian
Masalah etika responden untuk menjamin keadilan bagi setiap responden untuk menerima perlakuan yang sama tanpa memandang jenis kelamin, agama dan suku. Mengenai keterbukaan, peneliti memastikan bahwa lingkungan penelitian dikondisikan sedemikian rupa sehingga peneliti dapat secara terbuka menjelaskan prosedur penelitian kepada responden.
Keterbatasan Penelitian
Bab ini membahas tentang hasil penelitian tentang hubungan keterampilan perawat dalam pemberian infus dengan angka flebitis pada pasien di RS Sultan Imanuddin yang dikumpulkan datanya dari bulan Mei 2020 – Februari 2021. Bedah RS Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kotawaringin Barat Kabupaten, Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil penelitian dan pembahasan dijelaskan berdasarkan gambaran umum lokasi penelitian, karakteristik responden, analisis univariat, analisis bivariat.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Tempat Penelitian
Ruang Penyakit Dalam merawat pasien pria dan wanita dewasa, memiliki 9 kamar, dengan total 30 tempat tidur, terdiri dari tiga ruang kelas I, dua ruang kelas II, dua ruang kelas III dan 1 ruang isolasi.
Karakteristik Responden menurut Jenis Kelamin
Karakteristik Responden menurut Pendidikan
Karakteristik Lama Bekerja
Keretampilan Perawat Dalam Memasang Infus
- Analisa Bivariat
- Pembahasan
- Mengidentifikasi Keterampilan perawat dalam Pemasangan Infus Hasil penelitian tentang tingkat keterampilan perawat tentang
- Menganalisis Hubungan Keterampilan Perawat dalam memasang infus dengan angka kejadian plebitis
- Kesimpulan
- Saran
Hasil pengumpulan dan pengolahan data hubungan antara keterampilan perawat memasang infus dengan jumlah flebitis dapat dilihat pada Tabel 5.6. Karena nilai Asymp.sig < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keterampilan perawat dalam pemasangan infus dengan jumlah flebitis di ruang anak, ruang penyakit dalam dan ruang operasi di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Kejadian flebitis merupakan salah satu indikator mutu asuhan keperawatan yang diberikan oleh suatu rumah sakit.
The Infusion Nurses Society (INS) merekomendasikan bahwa kejadian flebitis kurang dari atau sama dengan 5%. Pada penelitian ini didapatkan bahwa semakin tinggi tingkat keterampilan perawat dalam memasang infus maka semakin rendah kejadian flebitis. Keterampilan keperawatan pemasangan infus yaitu kemampuan perawat dalam melakukan pemasangan infus dengan benar pada semua tahapan, keterampilan keperawatan dapat mempengaruhi terjadinya phlebitis.
Selain itu faktor teknik pemasangan infus yang tidak sesuai prosedur karena kurangnya keterampilan perawat sehingga kemungkinan masuknya bakteri juga berpengaruh terhadap kejadian flebitis (Fitriyanti, 2013). Demikian pula dengan faktor lama pemberian infus yaitu ≥ 3 hari juga berperan dalam kejadian flebitis (Putri, 2016). Diharapkan lembaga pendidikan menambah sumber rujukan mengenai keterampilan perawat dalam pemberian infus dan pengetahuan tentang kejadian flebitis.
Hubungan antara kepatuhan perawat melakukan hand hygiene terhadap kejadian flebitis di ruang rawat inap Rs Pelamonia Makassar. Hubungan keterampilan perawat dalam pemasangan infus dengan kejadian flebitis pada pasien di RS Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kalimantan Tengah” dan akan memberikan informasi aktual yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Kuesioner penelitian “Hubungan keterampilan perawat dalam pemasangan infus dengan kejadian flebitis pada pasien di Rumah Sakit Sultan.
VARIABEL KETERAMPILAN PEMASANGAN INFUS Petujuk Penilain
13* Bersihkan area tusukan dengan kapas betadine dengan gerakan melingkar dari dalam ke luar dan tunggu hingga kering.
VARIABEL OBSERVASI PLEBITIS Nomor kode pasien