Hukum Lingkungan
Resume Video “Jenggot Jenggot Tobelo” Masyarakat adat O'hongana Manyawa atau Tobelo Dalam di Maluku Utara
Dosen Pengampu:
Dr. Nadia Astriani, S.H., M.Si.
Disusun Oleh:
1. Nethania Ciremita - 110110230254 2. Bismo Irmanendra Rachman - 110110230290
3. Daffa Dhiya Ulhaq - 110110230297
4. Joshua Alexander Christian Hutapea - 110110230270 5. Jose
6. Ray
7. Zak Mubarak - 110110230281 8. Sultan
1.1 Analisis Way Of life
Dalam video tayangan yang berjudul Jenggot Jenggot Tobelo dapat kita amati pada kehidupan masyarakat di daerah Wangongira, Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera Utara , Provinsi Maluku Utara . Masyarakat di desa ini sangat bergantung terhadap sumber air yang telah lama ada lebih dari ratusan tahun , sumber air tidak hanya menjadi kebutuhan yang dasar tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya bagi mereka . Terdapat juga padi padi sungai yang menjadi ciri khas dan kalender pertanian bagi masyarakat daerah Tobelo . Terdapat kekhawatiran dari warga desa setempat yang dimana adanya pipa pipa yang di pasangkan oleh pihak PDAM sehingga dengan ini warga melepas pipa tersebut yang dapat merusak ekosistem dan nilai nilai budaya . Adanya bentuk kesadaran dari masyarakat bahwasanya dalam pengelolaan pipa dari pihak PDAM yang telah dilakukan itu tidak merusak alam dan menghilangkan nilai nilai sejarah .
Masyarakat daerah Tobelo sejak dahulu menggantungkan sumber makannya dari sagu hasil bercocok tanam . masyarakat Desa Tobelo yang tinggal di hutan dijuluki O’Hongana Manyawa ( penjaga hutan ) adapun julukan bagi masyarakat sudah bermukim yaitu O’Hoberera Manyawa . Setelah masuknya agama baru mereka dikenalkan cara hidup menetap lalu di susul program pemukiman oleh pemerintah .
Sebelum saat ini pula masyarakat tobelo dalam sendiri mengedepankan cara bertahan hidup dari berburu dan tinggal di hutan, itulah mengapa terdapat julukan tersendiri bagi mereka sebelumnya yang disebut sebagai penjaga hutan, fakta menarik juga bagaimana kultur secara turun menurun diberikan oleh orangtua mereka kepada setiap anak anak mereka untuk tetap membiarkan janggut mereka bertumbuh panjang. Tidak ada maksud tersendiri namun hanya sebagai penghormatan terhadap kultur yang telah ada.
Dalam hal ini masyarakat tobelo dalam, memiliki tradisi adat Ritual yang digunakan secara turun menurun untuk merayakan hasil keberhasilan masa panen dengan cara gotong royong termasuk dalam kegiatan pertanian dan perayaan . Hal ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dan saling mendukung .
Meskipun pendapatan mereka cukup rendah masyarakat Tobelo mampu memenuhi kebutuhan dasar melalui pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya seperti pengolahan kopra .
mereka juga menggunakan sistem barter (tukar menukar) untuk memenuhi kebutuhan , hal tersebut menunjukkan sifat kemandirian dan solidaritas dari masyarakat desa Tobelo tersebut . Masyarakat desa Tobelo memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan sumber
daya alam . Oleh karenanya masyarakat berusaha untuk tidak merusak ekosistem yang ada , terutama sumber air yang menjadi bagian penting bagi kehidupan mereka .
Masyarakat dapat beradaptasi dengan adanya perubahan seperti pergeseran dari kehidupan meramu menjadi kehidupan menetap . Ini menunjukkan kemampuan masyarakat Tobelo untuk beradaptasi dengan kondisi baru sambil mempertahankan tradisi . Namun , mereka menghadapi tantangan dari modernisasi dan pembangunan yang dapat mengancam cara hidup tradisional mereka . Adanya rasa kekhawatiran tentang dampak pembangunan terhadap sumber daya alam dan budaya .
oleh karena itu masyarakat Tobelo memiliki tekad yang kuat melalui nilai nilai yang mereka pegang untuk menghadapi tantangan dari perubahan sosial dan pembangunan yang dapat mengancam keberlangsungan cara hidup mereka .
1.2 Bandingkan Dengan Masyarakat Modern
Secara modern apa yang dilakukan oleh masyarakat tobelo dalam sendiri tidaklah begitu menolaknya perkembangan, ditentukan juga pada menit 15 dimana pada dasarnya pembangunan yang ingin dilakukan pada sungai yang merupakan sumber kehidupan mereka pun mereka tidak menolak akan tetapi mempertanyakan dan mempertimbangkan sekiranya potensi dan juga resiko dari keberadaan pembangunan oleh pemerintah yang kurang tepat, dari sementase maupun pengkonversian sumber daya sungai yang mereka katakan malah menghilangkan aspek intrinsik dari sungai tersebut.
Pun secara religius kami menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara masyarakat modern saat ini dengan masyarakat tobelo dalam, dimana berdasarkan ritual yang dijelaskan dengan way of life di bagian sebelumnya mereka merupakan agama kristiani yang tetap berdoa selayaknya masyarakat modern saat ini berdoa, mereka pun memiliki adanya pendeta yang dimana sebagai yang anggapannya merupakan pemimpin jalannya suatu peribadatan atau bahkan gereja. Sehingga secara aspek budaya religius suku tobelo dalam bukanlah yang berbeda dengan masyarakat modern.
Lebih lanjut mengenai sapaan yang mereka lakukan ketika melalui rumah mungkin menjadi sebuah perbedaan dimana seluruhnya memanglah menggunakan bahasa lokal dan juga adanya tradisi yang dimana ketika masuk berkunjung ke dalam rumah yang menyapa bukanlah hanya pemilik rumah saja namun sampai peliharaannya pun tetap menyapa atau setidaknya diminta untuk menyapa kepada tamu yang berkunjung. Menjadi sebuah kultur yang baik dan juga baru didengar dikarenakan dari pandangan kami aspek ramah tamah yang dihadirkan sangatlah erat dan bagaimana orang dijamu dengan hangat sudah mulai cukup berbeda dengan apa yang ada pada masyarakat modern yang tergolong (terkadang) acuh dan tidak acuh terhadap sesamanya dan hanya seadanya saja.
Akan tetapi secara sosial ekonomi tentulah berbeda dimana apabila melihat dari skala gaji dari apa yang mereka dapatkan dari produksi kopra itu hanya 500.000 yang tentu sangat berbeda dengan apa yang berada pada masyarakat modern pada saat ini. Tapi nyatanya hal tersebut cukup dikarenakan walaupun mereka hanya menghasilkan sedikit uang namun dikarenakan pengetahuan mereka terhadap treatment layaknya obat-obatan, cara menjaga kesehatan,gizi, dan nutrisi dari alam maka mereka tetap berkecukupan dan kehidupan mereka dalam segi hospitality pun terjamin dan tidak mengalami kendala. apabila dibandingkan dengan masyarakat modern tentu akan berbeda dikarenakan gaya hidup yang cenderung impulsif dan juga pola hidup yang dapat dikatakan tidak sehat dan tentunya tidak memiliki pengetahuan yang terlalu dalam mengenai kebutuhan tubuh untuk kesehatan (sebagian besar orang).
Pun kaitannya dengan pembangunan yang ingin digunakan kepada pemerintah harusnya mengarahkan pembangunan secara modern ke ketahanan pangan dikarenakan dengan apa yang ada saat ini pun tidak seharusnya perubahan yang dilakukan mengikuti apa yang berada pada perkotaan atau masyarakat modern secara luas karena berpotensi menghancurkan kultur yang notabene menjaga mereka dan menjadikan mereka (masyarakat tobelo dalam) sebagaimana mereka saat ini.
Dalam masyarakat tobelo dalam kekeluargaan dari adanya setiap masyarakat lebih erat dibandingkan masyarakat modern yang dimana contohnya dalam segi panen, ketika mereka selesai melaksanakan panen mereka pun berbagi dengan sesamanya dan membagikan makanannya, cukup berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat modern saat ini yang tidak terlalu memperhatikan aspek tersebut.
1.3 Analisa Perbandingan Gen Z
Sebagai Generasi Z, ada beberapa hal yang bisa diadaptasi dari video way of life masyarakat adat Tobelo yang sangat dekat dengan alam dan adat istiadat. Suku Tobelo melestarikan tradisi menanam pohon sebagai simbol kelahiran anak dapat mencerminkan penghormatan kepada alam dan menjaga ekosistem lingkungan sekitar, hal ini dapat diimplementasikan dengan pengurangan penggunaan plastik dan peduli terhadap isu lingkungan yang masih minim di kalangan anak muda.
Penggunaan Bahasa Tobelo yang merupakan identitas masyarakatnya, dengan harapan Gen Z dapat berupaya mempelajari bahasa daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya. Akan lebih baik apabila bahasa daerah bisa digunakan dalam interaksi sehari-hari karena tidak hanya melestarikan bahasa daerah tetapi juga memperkuat rasa identitas kebudayaan yang sudah mulai pudar di kalangan anak muda.
Perbandingan yang sangat jelas daripada gen-z saat ini adalah pada dasarnya apa yang dilakukan oleh masyarakat tobelo lebih mengarahkan fokus mereka kepada apa yang penting bagi kehidupan mereka bersama dibandingkan dengan kebutuhan mereka tersendiri, sehingga perbedaan yang sayang jelas dari bagaimana gen z lebih hidup dalam lingkupnya yang individualis dan terlalu terkejar oleh segala hal yang dikaitkan langsung dengan ambisi mereka, dibandingkan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Pun bisa dilihat dari keberadaan sosial financial juga dapat menjadi pembeda, sehingga saran kami dari kelompok adalah untuk masyarakat modern terutama gen z bisa mengadopsi beberapa hal yang baik bagi diri mereka dan sesama dari masyarakat tobelo dalam ini.