• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM TAHSIN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN

N/A
N/A
Tiyas Indarti

Academic year: 2024

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM TAHSIN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM TAHSIN AL-QUR’AN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN

Tiyas Indarti

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo [email protected]

Fery Diantoro

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo [email protected]

Abstrak:

Pendidikan yang diinginkan akan menjadi ujung tombak kemajuan bangsa pada kenyataannya belum sepenuhnya terealisasikan, banyak pondok pesantren yang ada di seluruh Indonesia belum mampu menyelesaikan masalah degradasi karakter yang optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an sebagai penguatan pendidikan karakter di pesantren. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan sumber data diperoleh dari artikel jurnal yang dipublikasikan dan juga diperkuat dalam studi kasus pada santri yang mengikuti program tahsin Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Jannah Panjeng Jenangan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan observasi atau pengamatan serta analisis isi atas literatur dan artikel yang dijadikan sumber data penelitian. Tahsin Al-Qur’an merupakan mempelajari Al-Qur’an dengan pengucapan setiap hurufnya harus diucapkan dengan benar, program tahsin Al-Qur’an ini salah satu cara yang efektif untuk menumbuhkan karakter pada peserta didik, karena dilatih dan dibiasakan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an telah dilaksanakan dengan pembiasaan kegiatan tahsin Al-Qur’an setiap harinya. Kebijakan program ini mendorong penguatan karakter sehingga menghasilkan rasa percaya diri, toleransi, tangguh, kerja sama, dan komitmen.

Kata Kunci: Implementasi, Tahsin Al-Qur’an, Pendidikan Karakter Abstract:

The desired education will be the spearhead of the nation's progress in fact has not been fully realized, many Islamic boarding schools throughout Indonesia have not been able to solve the problem of optimal character degradation. The purpose of this study is to determine the implementation of the Qur'an tahsin program policy as a strengthening of character education in Islamic boarding schools. This research uses a qualitative approach method with data sources obtained from published journal articles, the analysis technique used in this study is to use content analysis of literature and articles used as research data sources. Tahsin Al-Qur'an is

(2)

studying the Qur'an with the pronunciation of each letter must be pronounced correctly, the Qur'an tahsin program is one of the effective ways to cultivate character in students, because it is trained and accustomed every day. The results showed that the implementation of the Qur'an tahsin program policy has been carried out by habituating the activities of the Qur'an tahsin every day. This program policy encourages character strengthening so as to produce self- confidence, tolerance, resilience, cooperation, and commitment.

Keywords: Implementation, Tahsin Al-Qur'an, Character Education Introduction (Pendahuluan)

Pendidikan merupakan agent of change yang mempunyai tugas sangat penting dalam menghasilkan generasi masa depan yang tangguh dan kokoh. Dalam hal ini, lembaga pendidikan mempunyai peran penting sebagai ujung tombak pendidikan untuk memajukan mutu dan juga kualitas pendidikan di negeri ini. Namun masih saja terdapat beberapa perbuatan yang tidak baik dari masyarakat Indonesia dalam kalangan mahasiswa, anak sekolah, ataupun lainnya dengan salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya penguatan pendidikan karakter di lembaga pendidikan.

Seperti fenomena yang telah kita ketahui yaitu pengasuh di pondok pesantren Nurul Huda Brebes cabuli santrinya selama dua tahun, sehingga merasakan dinginnya lantai penjara dan ada juga di Gresik belasan santri disidang karena terlibat penganiayaan sesama santri. Pendidikan karakter telah mengalami kemerosotan yang menyebabkan hilangnya moral, seperti meningkatnya pergaulan seks bebas, tingginya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pemerkosaan serta perusakan hak milik orang lain yang menjadi masalah sosial dan belum dapat teratasi dengan tuntas.1 Dari fakta tersebut, dapat diketahui bahwa beberapa orang yang terlibat dalam kasus tersebut merupakan orang-orang yang berada di lingkungan keagamaan. Maka dari itu, pembentukan karakter semestinya dilakukan sejak usia masih dini, agar karakter bisa lebih mudah terbentuk dan diarahkan. Dari

1 Dewi Purnama Sari, ‘Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an’, Islamic Counseling, 1.01 (2017), 3.

(3)

permasalahan tersebut, dalam mengimplementasikan pendidikan karakter diperlukan penguatan dan juga pengembangan budaya religius yang lebih signifikan.2

Dalam artikel jurnal dengan judul “Implementasi Metode Sorogan Pada Pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Pondok Pesantren” penulis Sugiati lewat Jurnal Qathruna, membahas tentang implementasi metode sorogan dalam pembelajaran tahsin Al-Qur’an yang meliputi santri menghadap kepada guru satu persatu, guru membaca dan santri mendengarkan, santri mendatangi guru supaya mendengarkan bacaan santri. Penelitian dalam artikel jurnal ini juga menyebutkan faktor pendukung dan penghambat penerapan metode sorogan dalam pembelajaran tahsin dan tahfidz, faktor pendukungnya yaitu memiliki keteguhan dan kesabaran, menjauhkan diri dari maksiat dan sifat-sifat tercela, dan memiliki niat yang ikhlas. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu santri kurang fokus dalam mengikuti kegiatan dan perbedaan kemampuan antara santri yang satu dengan santri yang lainnya.3 Dalam penelitian lainnya yang berjudul “Implementasi Tahsin dan Tahfidz Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa Pada Pembelajaran Tematik Di SDIT Al-Qur’aniyyah” penulis Alfi Novianti Rizkia lewat skripsinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan tahun 2021, membahas tentang program tahsin dan tahfidz yang dilaksanakan dengan membaca Al-Qur’an bersama-sama dapat menghasilkan karakter siswa dengan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim dan membiasakan adab-adab hariannya, kejujuran dalam mengerjakan tugas, kedisiplinan dalam menaati peraturan sekolah, bertanggung jawab atas tindakannya, dan kepercayaan diri untuk mengikuti kegiatan-kegiatan.4 Dalam artikel jurnal yang berjudul “Metode Perbaikan Bacaan yang Efektif Untuk Pesantren Qur’an” penulis Noni Fajrianita dan Furkan Maryedho lewat Jurnal JOEAI (Journal of Education and

2 Farah Camelia, ‘Implementasi Kebijakan Program Tahfidz Al-Qur’an Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter Di Pondok Pesantren Al-Qur’an Putri Ibnu Katsir Jember’, Jurnal Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 20.01 (2020), 2.

3 Sugiati, ‘Implementasi Metode Sorogan Pada Pembelajaran Tahsin Dan Tahfidz Pondok Pesantren’, Jurnal Qathruna, 3.1 (2016), 154.

4 Alfi Novianti Rizkia, ‘Implementasi Tahsin Dan Tahfidz Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa Pada Pembelajaran Tematik Di SDIT Al-Qur’aniyyah’, Skripsi (Online) diakses tanggal 7 September 2022.

(4)

Instruction), yang membahas tentang program tahsin yang dapat tuntas dalam waktu kurang lebih 3 bulan dan dengan kesungguhan guru dan kemampuan serta kerja keras santri proses pembelajaran tahsin dapat berjalan dengan optimal, sehingga dapat membaca Al-Qur’an dengan benar.5 Di jurnal artikel lainnya yang berjudul “Metode Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an Di Pondok Pesantren SMP MBS Bumiayu”, di dalam artikel tersebut membahas mengenai program tahsin dan tahfidz yang dilaksanakan merupakan salah satu cara untuk menjaga keorisinalitasan Al-Qur’an dengan cara membaca, memahami dan juga menghafalkannya.6 Dalam artikel jurnal lainnya yang berjudul “Implementasi Kurikulum Tahsin Al-Qur’an Untuk Remaja di Ma’had Kareem Bil-Qur’an”, artikel jurnal tersebut membahas mengenai konsep kurikulum tahsin yang mengacu pada guru yang mutqin. Tetapi terdapat faktor penghambat dalam konsep kurikulum ini, yaitu terbatasnya guru tahsin yang mutqin, karena itulah Ma’had Kareem Bil-Qur’an ini belum bisa menerima santri/wali dengan kapasitas yang banyak.7

Dari beberapa penelusuran artikel ilmiah yang dilakukan penulis, sebagian besar membahas tentang metode pembelajaran tahfidz dan tahsin Al-Qur’an. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis fokus kepada implementasi tahsin Al-Qur’an sebagai upaya penguatan pendidikan karakter. Fokus penelitian ini yang belum banyak dibahas. Lewat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang tahsin Al-Qur’an. Penulis melihat ada fenomena menarik di tahun belakangan ini, khususnya pada bidang tahsin Al-Qur’an dimana semakin banyak kaum muslimin yang tertarik untuk menerapkan program tahsin Al-Qur’an.

Dari uraian latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Kebijakan Program Tahsin Al-Qur’an Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren”. Penulis sangat tertarik ingin meneliti hal

5 Noni Fajrianita, Furkan Maryedho, ‘Metode Perbaikan Bacaan Yang Efektif Untuk Pesantren Qur’an’, Jurnal JOEAI, 5.01 (2022), 269.

6 M. Utsman Arif Fathah, ‘Metode Tahsin Dan Tahfidz Al-Qur’an Di Pondok Pesantren SMP MBS Bumiayu’, Ilmu Ushuluddin, 20.2 (2021), 201.

7 Supi Amaliah, Endin Mujahidin, dan Imas Kania Rahman, ‘Implementasi Kurikulum Tahsin Al- Qur’an Untuk Remaja Di Ma’had Kareem Bil-Qur’an’, Tadbir Muwahhid, 5.1 (2021), 25.

(5)

tersebut, karena pembenaran dalam membaca Al-Qur’an atau tahsin Al-Qur’an yang dikategorikan dapat berpotensi dalam penguatan karakter seseorang, terlebih terhadap santri yang disamping itu mempunyai kewajiban dan juga kegiatan yang bervariasi.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an sebagai penguatan pendidikan karakter di pesantren, dan faktor yang mendukung serta menghambat implementasi tahsin di pesantren.

Methode (Metode yang digunakan)

Metode yang digunakan dalam pembahasan implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an sebagai upaya penguatan pendidikan karakter di pesantren ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif ini merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yaitu membuat penjelasan secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat tertentu. Jenis penelitian ini adalah riset kepustakaan (library research). Riset kepustakaan ini sering disebut studi pustaka, yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.8 Data penelitian diperoleh dari artikel jurnal yang dipublikasikan, kemudian dianalisis sehingga didapatkan pembahasan dan kesimpulan penelitian.

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan yakni, pengamatan (observasi) dan studi kepustakaan. Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara peneliti mencatat informasi-informasi yang ada. Peneliti menggunakan jenis observasi non partisipan, yaitu peneliti hanya mengamati/melihat perilaku atau fenomena yang ada tanpa ikut terjun ke aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian.9 Sedangkan studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan referensi-referensi tertulis yang relevan dengan tema penelitian.

Sedangkan instrumen penelitian yang peneliti gunakan yaitu peneliti sendiri atau yang biasa disebut human instrument.

8 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), 3.

9 Agustinus Bandur, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2016), 105.

(6)

Karena penelitian ini menggunakan riset kepustakaan, maka bahan yang dikumpulkan yaitu berupa data empirik ataupun informasi-informasi yang bersumber dari jurnal, buku-buku, dan hasil laporan penelitian yang sesuai dengan tema penelitian ini. Adapun tahap-tahap yang harus ditempuh penulis dalam meneliti yaitu sebagai berikut: mengumpulkan bahan-bahan penelitian, membaca bahan kepustakaan, membuat catatan penelitian, mengolah catatan penelitian dan dianalisis secara mendalam.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yaitu analisis kualitatif dengan metode analisis konten. Content analysis atau analisis konten merupakan penelitian yang bersifat pembahasan secara mendalam terhadap isi suatu informasi yang ada atau tertulis di dalam media massa. Analisis konten ini adalah sebuah metodologi penelitian yang memanfaatkan beberapa tahapan atau prosedur untuk menarik kesimpulan dari referensi-referensi tertulis. Peneliti menggunakan teknik analisis data dengan metode analisis konten karena penelitian ini jenis penelitiannya berupa riset kepustakaan, yang sumber datanya dari jurnal, buku-buku, dan hasil laporan penelitian yang tertulis.

Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis data dengan pendekatan kualitatif yang bersifat induktif. Pendekatan kualitatif yang bersifat induktif ini merupakan suatu analisis yang didapatkan berdasarkan data-data yang diperoleh, kemudian dikembangkan agar menjadi hipotesis, kemudian mencari data lagi dengan berulang kali sampai hipotesis diterima dan dapat berkembang menjadi teori.10 Dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan induktif ini dimulai dari fakta- fakta yang ada, selanjutnya fakta-fakta tersebut dianalisis dan dibuat pertanyaan, lalu dikaitkan dengan teori yang sesuai sehingga dapat ditarik kesimpulan.

Literatur Review (Kajian Teori) 1. Tahsin Al-Qur’an

10 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2012), 335.

(7)

Tahsin berasal dari Bahasa Arab yakni hassana-yuhassinu-tahsiinaa yang artinya ialah memperbaiki, menghiasi, membaguskan ataupun memperindah.11 Mempelajari Al-Qur’an itu tidak boleh asal-asalan, dalam mempelajari Al-Qur’an setiap pengucapan hurufnya harus diucapkan dengan jelas dan benar. Umat Islam mempunyai kewajiban untuk memeliharan dan menjaga Al-Qur’an, yakni dengan membaca (tilawah), menulis (kitabah), serta menghafal (tahfidzh). Berkaitan dengan tahsin atau tahsin tilawah itu merupakan pembelajaran memperbaiki maupun memperindah bacaan Al-Qur’an ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Misalnya, tempat keluarnya huruf atau biasa disebut makhorijul huruf, sifat-sifat huruf dan juga hukum bacaannya. Hal tersebut harus diperhatikan, membaca Al- Qur’an harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditentukan.12

Tujuan dari tahsin Al-Qur’an ini adalah agar selamat bacaan Al-Qur’annya dari kesalahan yang jelas (lahn al-jaliy) dan samar (lahn al-khofiy). Cakupan kesalahan yang jelas ini terdapat pada mengubah huruf ataupun harakat, menambah huruf dan mengurangi huruf ataupun harakat, baik menyebabkan pada perubahan makna atau tidak. Adapun cakupan kesalahan yang samar terdapat pada hukum- hukum seperti membaca idghom pada bacaan idzhar atau membaca panjang dua harakat pada bacaan mad yang enam harakat, dan lain sebagainya.13

Manfaat dari mempelajari Al-Qur’an ini yaitu untuk mengasah hati dan pikiran. Selain itu, kita juga menjadi tahu membaca Al-Qur’an dengan baik.

Mengerti makhraj dan panjang pendeknya bacaan. Dengan mempelajarinya kita juga bisa membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang bagus. Manfaat lainnya yang dapat kita rasakan jika kita mempelajari Al-Qur’an, yaitu mendapatkan kenikmatan yang tiada banding, mendapat pahala yang berlipat ganda, dan Al- Qur’an juga dapat memberikan syafaat nanti di hari kiamat.

11 Tamrin, ‘Pola Pembinaan Tahsin Al-Qur’an Di Kalangan Mahasiswa’, Rausyan Fikr, 2.2 (2019), 321.

12 Ibid, 322.

13 Supi Amaliah, 14.

(8)

2. Metode Tahsin Al-Qur’an

Mempelajari Al-Qur’an dengan metode pembelajaran yang tepat sangat penting untuk dilakukan. Karena dengan metode yang baik, maka akan mencapai tujuan yang telah diharapkan. Metode-metode tahsin Al-Qur’an antara lain yaitu:14

a. Metode Iqra’, yakni cara cepat dalam membaca Al-Qur’an yang terdiri dari 6 jilid. Metode Iqra’ ini dapat ditekankan pada bacaan yaitu mengeluarkan bacaan huruf atau suara huruf Al-Qur’an.

b. Metode Qira’aty, yakni metode cara cepat dalam membaca Al-Qur’an dengan menekankan pada praktek membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid yang telah ditentukan.

c. Metode Tartil, metode ini diharapkan bagi anak agar dapat membaca Al- Qur’an dengan harmonisasi nada-nada.

d. Metode Ummi, metode ini menggunakan pendekatan bahasa ibu.

Mengandung tiga unsur yaitu langsung, diulang-ulang, dan mendidik dengan penuh kasih sayang.

e. Metode An-Nadhiyah, metode ini menekankan pada kode “ketukan”

3. Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan kognitif, afektif dan juga psikomotorik. Menurut Ron Kruts dalam Yuyun, mengatakan bahwa karakter merupakan satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang dan dari perilaku tersebut orang akan mengenal “ia seperti apa”, karakter dapat menentukan kemampuan seseorang untuk berperilaku jujur, terus terang kepada orang lain, serta taat kepada tata tertib dan aturan yang ada.15 Pendidikan harus mampu mewujudkan pendidikan karakter dan pendidikan bertanggung jawab terhadap penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah sistem pendidikan yang menanamkan nilai-nilai sesuai dengan

14 Wiwik Anggranti, ‘Penerapan Metode Pembelajaran Baca-Tulis Al-Qur’an’, Jurnal Intelegensia, 1.1 (2016), 109–10.

15 Yuyun Yuniarti, ‘Pendidikan Kearah Pembentukan Karakter’, Jurnal Tarbawiya, 11.2 (2014), 266.

(9)

budaya bangsa, yang erat kaitannya dengan moral, perilaku, cara pandang, pola pikir serta sikap yang ditunjukkan oleh seseorang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat dan juga bangsanya. Pendidikan karakter bukan hanya sekedar mengajarkan mengenai mana yang benar dan salah, pendidikan karakter merupakan sebuah upaya untuk menanamkan nilai-nilai yang sesuai dengan budaya dan bangsa yang berkaitan dengan moral, sehingga individu tersebut dapat mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari baik berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan dirinya sendiri maupun dengan masyarakat. 16

4. Implementasi Tahsin Al-Qur’an

Implementasi yaitu bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem. Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk emncapai tujuan kegiatan.17 Implementasi Tahsin Al-Qur’an merupakan suatu kegiatan atau cara yang sudah tersusun secara maksimal untuk memperbaiki atau memperindah dalam membaca Al- Qur’an. Allah juga memerintahkan agar membaca Al-Qur’an dengan tartil yang sebenar-benarnya, tidak membaca dengan asal asalan, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Muzzammil ayat 4 yang artinya “Dan bacalah (olehmu) Al-Qur’an dengan tartil yang sebenar-benarnya”. Untuk membaca dengan tartil yang sebenar- benarnya maka seorang muslim dituntut untuk mempelajari bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar atau dengan istilah mempelajari tahsin tilawah Al- Qur’an.18

Result (Hasil)

Kajian ini membahas tentang implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an sebagai upaya penguatan pendidikan karakter di pesantren. Program tahsin Al-Qur’an

16 Ade Chita Putri H, ‘Character Building (Pendidikan Karakter)’, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 9.1 (2019), 3.

17 Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), 70.

18 Hisyam bin Mahrus Ali Al-Makky, Bimbingan Tahsin Tilawah Alquran (Solo: Zam-Zam, 2013), 46.

(10)

merupakan sebuah proses atau cara yang dipersiapkan dan direncanakan dalam rangka agar tercapainya bacaan Al-Qur’an dengan baik dan juga benar sesuai kaidah-kaidah tahsin atau tajwid. Program tahsin ini menjadi keunggulan di pondok pesantren untuk menyelesaikan hafalan dan juga pembentukan karakter yang menjadi cita-cita bersama.

Banyak keutamaan Al-Qur’an yang diperoleh bagi siapapun yang mempelajarinya, dimulai dari membaca setiap hurufnya akan dilipatgandakan 10 kali lipat kemudian bisa memahami, menghafal dan diamalkan apa yang terdapat pada Al-Qur’an. Dasar pembelajaran tahsin itu sendiri adalah standarisasi bacaan agar bacaan Al-Qur’an mereka sesuai dan memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwidnya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Prasmanita, et. al. di dalam penelitiannya, bahwa sesuatu yang menentukan keberhasilan implementasi pembelajaran tajwid dan keterampilan membaca Al-Qur’an adalah fasilitas metode, model pembelajaran dan sumber belajar yang memadai, agar metode yang sudah disiapkan dapat dilaksanakan secara optimal.19

Keberhasilan kebijakan program tahsin Al-Qur’an ini dapat dilaksanakan dengan ketekunan para santri untuk mempelajari Al-Qur’an. Seperti di pondok pesantren Miftahul Jannah yang peneliti observasi, implementasi tahsin Al-Qur’an di pondok pesantren Miftahul Jannah awalnya hanya dijadikan sebagai bentuk pembiasaan sebelum pembelajaran dimulai, namun berkembang menjadi sebuah program unggulan yang dimiliki oleh pondok pesantren tersebut. Lembaga pendidikan Islam ini memang ingin membudayakan literasi Al-Qur’an kepada para santrinya. Karena membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan sebuah keharusan bagi setiap muslim, membiasakan literasi Al-Qur’an dianggap dapat memberikan manfaat yang besar terhadap para santri. Penanaman literasi Al-Qur’an yang diterapkan oleh pondok pesantren ini merupakan sebuah usaha yang dilakukan sekolah agar para santrinya mampu membaca serta menghafal Al-Qur’an sejak usia dini dan akan terus melekat sampai nanti. Pondok pesantren Miftahul Jannah ini menggunakan salah satu

19 Prasmanita, et. al., ‘Implementasi Pembelajaran Tajwid Dan Keterampilan Membaca Al-Qur’an Dalam Materi Qur’an Hadist.’, Jurnal Attractive: Innovatif Education Jurnal, 2.2 (2020), 50–51.

(11)

metode dalam mempelajari Al-Qur’an, yaitu metode ummi. Metode ummi ini merupakan metode yang menggunakan pendekatan bahasa ibu dan mengandung tiga unsur yaitu langsung, diulang-ulang, dan mendidik dengan penuh kasih sayang.

Program tahsin di pondok pesantren Miftahul Jannah ini dilaksanakan setiap hari pada waktu setelah isya’ dengan durasi kurang lebih 1 jam setiap harinya. Program tahsin ini merupakan usaha pondok pesantren dalam melaksanakan pendidikan karakter. Seperti yang telah dikatakan oleh Mulyasa dalam Muhammad Ali, bahwa pendidikan karakter itu bukan hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi pendidikan karakter itu juga bertujuan agar santri dapat membiasakannya dikehidupan sehari-harinya. Selain itu pendidikan karakter juga dapat menanamkan kebiasaan mengenai hal-hal yang baik dalam kehidupan.20 Oleh karena itu, upaya pondok pesantren dalam membentuk karakter siswa melalui Al-Qur’an merupakan kegiatan yang harus dipertahankan, karena telah berupaya untuk membentuk pribadi para santrinya sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan juga berupaya untuk menumbuhkan rasa kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.

Nilai-nilai karakter akhlakul karimah ditanamkan kepada para santri melalui penerapan kebijakan program tahsin Al-Qur’an. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam implementasi program tahsin Al-Qur’an di pondok pesantren Miftahul Jannah yaitu nilai percaya diri, toleransi, tangguh, kerja sama, dan juga komitmen. Dalam proses pembelajaran tahsin ini, ustadz-ustadzahnya menggunakan buku modul tahsin yang berisikan target-target bacaan Al-Qur’an yang harus dicapai oleh para santri. Saat proses pembelajaran, para ustadz-ustadzah pendamping Tahsin menggunakan berbagai metode belajar, hal ini dilakukan agar para peserta didik tidak merasa bosan dalam belajar membaca Al-Qur’an. Berbagai metode yang digunakan dalam proses pembelajaran juga merupakan usaha para ustadz-ustadzah, agar para santri dapat mudah memahami dalam proses kegiatan tahsin Al-Qur’an.

20 Muhammad Ali Ramdhani, ‘Lingkungan Penddikan Dalam Implementasi Pendidikan Karakter’, Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 08.01 (2014), 29–30.

(12)

Terlaksananya program tahsin Al-Qur’an tersebut, sedikit banyaknya dapat memberikan pengaruh pada kepribadian para santrinya. Pondok pesantren memang menginginkan lulusannya memiliki karakter baik yang kuat atau berakhlakul karimah, yang diusahakan melalui program tahsin Al-Qur’an ini yang dapat membentuk karakter para santrinya. Dengan adanya implementasi program tahsin Al-Qur’an yang diterapkan di pondok pesantren, ada harapan yang ingin diwujudkan oleh lembaga pendidikan Islam ini melalui kebijakan program tahsin Al-Qur’an. Lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas Al-Qur’an ini, ingin para peserta didiknya dapat mencintai Al-Qur’an dan dapat menerapkan nilai-nilai Qur’ani dikehidupan sehari- harinya sehingga dapat menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Banyak hal yang dapat mempengaruhi dalam membentuk karakter seseorang. Salah satunya adalah lingkungan, baik lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga. Oleh karena itu, melalui program tahsin Al-Qur’an ini pondok pesantren berupaya membentuk santrinya agar memiliki karakter berakhlakul karimah yang kuat.

Sesuai dengan pengamatan peneliti, pengambilan kebijakan di pesantren ini melibatkan pimpinan, pengurus pesantren, dan pengajar pesantren, akan tetapi pengambilan keputusan penuh ada di tangan pimpinan. Komunikasi antara pengurus dan pengajar pesantren terus dilakukan. Sehubungan dengan program yang dijalankan, untuk mengetahui perkembangan serta evaluasi santri, pengurus dan pengajar pesantren rutin mengadakan rapat setiap pekan. Pesantren ini baru menginjak usia 10 tahun, selalu memperbaiki sistem merupakan prinsip yang dipegang oleh seluruh elemen kepengurusan. Oleh karena itu, apabila ada usulan dari wali santri atau pengurus, maka akan dipertimbangkan terlebih dahulu. Dalam hal ini, pimpinan memiliki kewenangan memutuskan untuk menerima dan melanjutkan program tersebut atau menolak dan perlu kajian ulang karena alasan tertentu. Kehadiran pengajar pesantren saat kegiatan tahsin Al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap peningkatan membaca Al-Qur’an yang semakin baik.

Adapun dalam pelaksanaan pembelajaran tahsin Al-Qur’an, pengajar melakukan monitoring dan koreksi seperlunya kesalahan atau kekurangan atas bacaan yang telah

(13)

dibaca santri dan guru meluruskan. Kesalahan bacaan pada santri sesuai dengan kesalahan yang diucapkannya, santri terkadang juga melakukan catatan-catatan seperlunya dari sisi tajwid ataupun fashohahnya. Langkah-langkah penerapan pada pembelajaran tahsin Al-Qur’an di pondok pesantren meliputi persiapan, yaitu menyiapkan Al-Qur’an, buku prestasi untuk santri dan tempat berada di ruang kelas sehingga pembelajaran nyaman dan berhasil. Apabila masih terdapat bacaan yang kurang tepat, pengajar atau pembimbing memperhatikan bacaan santri lalu dibetulkan dan diberikan komentar sekaligus dicatat pada buku prestasinya. Bagi santri yang sudah benar membacanya, diberi tugas untuk membaca halaman selanjutnya, kemudian setelah selesai memberikan setoran bacaannya, pengajar atau pendamping mencatat di dalam buku prestasi santri, lalu dibagikan kembali buku prestasi tersebut kepada santri.

Pelaksanaan program tahsin Al-Qur’an ini ada faktor pendukung dan juga penghambatnya. Faktor pendukung keberhasilan implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an ini yaitu mampu melupakan pikiran-pikiran yang sekiranya akan mengganggunya, memiliki niat yang ikhlas untuk mencapai tujuan dalam program tahsin, mempunyai keteguhan dan kesabaran dalam belajar Al-Qur’an, istiqamah dalam bentuk kedisiplinan dalam segala hal yang berkaitan dengan proses tahsin Al- Qur’an, menjauhkan diri dari maksiat dan sifat-sifat tercela, telah mampu membaca dengan baik, sanggup mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, fasilitas yang nyaman dan lengkap yang dapat membuat santri termotivasi untuk lebih fokus dan konsisten dalam kegiatan dengan mematuhi tata tertib yang ada, tersedianya buku prestasi yang diharapkan dapat membuat para santri bertanggung jawab, sungguh- sungguh dan berusaha dalam memperbaiki bacaannya yang belum tepat, dan adanya jadwal pelaksanaan tahsin Al-Qur’an yang tentu menjadi pendukung atas implementasi kebijakan program tahsin Al-Qur’an.

Faktor penghambat penerapan program tahsin Al-Qur’an ini yaitu, santri yang kadang kurang fokus dalam membaca Al-Qur’an, kemampuan antara santri yang satu dengan santri yang lainnya berbeda, tersedianya seorang pengajar tahsin yang mutqin

(14)

sangat terbatas, banyak menuntut kerajinan, keuletan, ketekunan dan kedisiplinan pribadi seorang santri, kemampuan dan kepribadian santri yang kurang antusias mengikuti program tahsin, masih terdapat santri yang tidak menarget bacaan dan ada yang tidak hadir pada saat kegiatan berlangsung. Adanya kendala-kendala dalam pelaksanaan program tahsin ini membuat pondok pesantren berupaya mengatasi kendala-kendala tersebut dengan berbagai cara agar program tahsin dapat berjalan dengan maksimal. Strategi dalam mengatasi kendala implementasi kebijakan pendidikan karakter dilakukan melalui pemberian motivasi dari pengasuh yang direalisasikan setiap hari senin. Selain itu juga terdapat tindak lanjut dari pengajar atau pendamping bagi santri yang tidak mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an. Santri akan dicari sampai ketemu, kemudian diberi nasihat.

Oleh karena itu, motivasi merupakan faktor penting yang selalu mendapat perhatian di dalam berbagai usaha yang ditujukan untuk mendidik dan membelajarkan manusia, baik di dalam pendidikan formal, non formal ataupun informal. Di pondok pesantren Miftahul Jannah, pengajar atau pendamping selalu memberikan motivasi kepada santri agar semangat dalam mempelajari Al-Qur’an. Pengajar sangat mengutamakan motivasi dalam membimbing santri dalam mempelajari Al-Qur’an, kemudian dengan cara melakukan pendekatan secara persuasif, dalam artian pengajar memberikan dorongan agar para santri semangat dalam mempelajari Al-Qur’an yaitu dengan memberikan motivasi-motivasi kepada para santri. Tetapi jika ada santri yang melanggar peraturan, maka akan ada hukuman yang diberikan oleh pengajar secara langsung berupa sangsi yang sifatnya mendidik santri. Dengan diterapkannya peraturan-peraturan ini menjadikan santri semakin disiplin, tanggung jawab, percaya diri, saling toleransi, komitmen, dan juga tangguh dalam mengadapi berbagai hal.

Discussion (Analisis/pembahasan)

Tahsin Al-Qur’an merupakan meperbaiki, menghiasi, membaguskan ataupun memperindah dalam membaca Al-Qur’an. Tujuan dari tahsin Al-Qur’an ini adalah agar selamat bacaan Al-Qur’annya dari kesalahan yang jelas maupun kesalahan yang samar.

(15)

Dengan mempelajari Al-Qur’an kita bisa membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang baik dan benar. Keberhasilan kebijakan program tahsin Al-Qur’an ini dapat dilaksanakan dengan ketekunan para santri untuk mempelajari Al-Qur’an. Selain itu, mempelajari Al-Qur’an dengan metode pembelajaran yang tepat juga sangat penting untuk dilakukan. Di dalam tahsin Al-Qur’an terdapat beberapa metode yaitu metode Iqra’, metode Qira’aty, metode Tartil, metode Ummi, dan metode An-Nadhiyah. Di pondok pesantren yang peneliti observasi menggunakan salah satu metode tersebut, yaitu metode Ummi. Dalam mengimplementasikan tahsin Al-Qur’an berarti melaksanakan kegiatan atau cara yang sudah tersusun secara maksimal untuk memperbaiki atau memperindah dalam membaca Al-Qur’an. Program tahsin ini dilaksanakan setiap hari pada waktu setelah isya’ dengan durasi kurang lebih 1 jam setiap harinya. Program tahsin ini merupakan salah satu usaha pondok pesantren dalam melaksanakan pendidikan karakter. Upaya pondok pesantren dalam membentuk karakter siswa melalui Al-Qur’an ini merupakan kegiatan yang harus dipertahankan, karena telah berupaya untuk membentuk pribadi para santrinya sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan juga berupaya untuk menumbuhkan rasa kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.

Pendidikan karakter sendiri berarti sebuah upaya untuk mengembangkan kognitif, afektif dan juga psikomotorik. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai sebuah sistem pendidikan yang menanamkan nilai-nilai sesuai dengan budaya bangsa, yang erat kaitannya dengan moral, perilaku, cara pandang, pola pikir serta sikap yang ditunjukkan oleh seseorang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat dan juga bangsanya. Nilai-nilai karakter akhlakul karimah ditanamkan kepada para santri melalui penerapan kebijakan program tahsin Al-Qur’an ini. Banyak hal yang dapat mempengaruhi dalam membentuk karakter seseorang. Salah satunya adalah lingkungan, baik lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga. Dengan diterapkannya program tahsin Al-Qur’an ini menjadikan santri semakin disiplin, tanggung jawab, percaya diri, saling toleransi, komitmen, dan juga tangguh dalam mengadapi berbagai hal.

(16)

Pada saat pelaksanaan kegiatan tahsin Al-Qur’an pengajar selalu mendampingi dan mengoreksi bacaan-bacaan para santrinya jika masih terdapat kesalahan ataupun kekurangan bacaan yang dibaca. Cara pengajar mengoreksi bacaan santri yang masih salah yaitu dengan membetulkan bacaan yang dibaca dan diberikan komentar sekaligus dicatat pada buku prestasinya. Kesalahan yang terkadang masih dilakukan santri saat membaca Al-Qur’an yaitu terkait dengan tajwid atau fashohahnya. Hal tersebut dapat diperbaiki dengan selalu mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an yang menjadi salah satu kebiasaan di pondok pesantren. Dalam penerapan program tahsin Al-Qur’an ini masih ada beberapa faktor penghambatnya, antara lain yaitu masih adanya santri yang kurang fokus dalam membaca Al-Qur’an, kemampuan dalam membaca Al-Qur’an antara santri yang satu dengan santri yang lainnya berbeda, terbatasnya pengajar tahsin yang mutqin, dan masih ada santri yang kurang antusias dalam mengikuti program tahsin sehingga tidak hadir saat kegiatan tahsin Al-Qur’an berlangsung. Dengan adanya hambatan-hambatan tersebut, maka pihak pondok pesantren menindak lanjuti santri yang tidak mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an dengan dicari sampai ketemu kemudian diberi nasihat dan jika ada yang melanggar peraturan di pondok pesantren maka akan ada hukuman secara langsung yang sifatnya mendidik. Selain itu para pengajar dan pengasuh pondok pesantren juga selalu memberikan motivasi terhadap santri-santrinya dan memberikan dorongan agar selalu bersemangat dalam mempelajari Al-Qur’an.

Salah satu faktor berhasilnya tujuan program tahsin Al-Qur’an yaitu faktor tempat, karena apabila tempatnya tidak nyaman maka tujuan dari program tersebut tidak akan tercapai dengan maksimal dan pembelajaran menjadi tidak kondusif. Jadi, saat melaksanakan suatu program pembelajaran harus memilih tempat yang nyaman dan juga kondusif. Hasil penerapan program tahsin Al-Qur’an di pondok pesantren tersebut sudah cukup baik, karena adanya sarana dan prasarana belajar yang baik dam komplit. Dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai tersebut, maka suatu

(17)

kegiatan dapat lebih efektif dan juga efisien.21 Selain sarana dan prasarana, peran seorang pengajar ataupun pembimbing yang selalu memotivasi para santrinya juga menjadi faktor utama dalam proses program tahsin Al-Qur’an ini. Karena apabila tidak ada pengajar ataupun pembimbing, maka tidak akan terlaksana program tahsin Al- Qur’an. Pengajar dan pembimbing tersebut juga merupakan pengajar tahsin yang mutqin dan dapat menggunakan metode serta media dalam pembelajaran tahsin dengan baik dan benar yang dapat mengakibatkan tercapainya tujuan dari program tahsin tersebut. Karena dengan metode ataupun media dalam pembelajaran dapat menjadikan santri tidak bosan selama kegiatan tahsin Al-Qur’an sedang berlangsung.22 Selain itu, tetapi masih ada santri yang masih terdapat kesalahan dalam membaca Al- Qur’an. Hal ini disebabkan karena masih ada santri yang kurang antusias dalam mengikuti kegiatan tahsin Al-Qur’an.

Hasil studi yang peneliti teliti dengan studi sebelumnya tentu terdapat beberapa perbedaan. Pada studi sebelumnya di hasil studinya membahas mengenai dua program dalam pembelajaran Al-Qur’an, yaitu tahsin dan tahfidz, sedangkan pada studi yang peneliti bahas hanya fokus pada satu program pembelajaran Al-Qur’an, yaitu program tahsin. Perbedaan yang lainnya yaitu pada hasil studi sebelumnya sebagian besar lebih membahas tentang metode pembelajaran tahfidz dan tahsin Al-Qur’an, sedangkan pada hasil studi peneliti lebih fokus pada penerapan dari tahsin Al-Qur’an untuk penguatan pendidikan karakter. Selain itu, pada salah satu hasil studi yang ada sebelumnya juga membahas mengenai materi untuk tahsin Al-Qur’an, sedangkan di hasil studi peneliti tidak membahas mengenai hal tersebut. Di dalam hasil studi yang sebelumnya juga membahas hafalan-hafalan ayat Al-Qur’an, sedangkan di hasil studi yang peneliti tulis tidak membahas hafalan-hafalan ayat Al-Qur’an, tetapi hanya membahas mengenai pembetulan bacaan-bacaan Al-Qur’an yang dibaca para santri.

21 Syarif Hidayat, Rahendra Maya, Agus Sarifudin ‘Implementasi Metode At-Tahsin Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Pada Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Hunafa Anak Shaleh Dan Shalehah Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan’, Prosiding Al Hidayah: Pendidikan Agama Islam, 2018, 83.

22 Sarifudin dan Halimah, ‘Manajemen Facebook Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan’, Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 01.1 (2018), 101.

(18)

Program tahsin Al-Qur’an itu memiliki peran yang luar biasa untuk bisa menanamkan penguatan karakter. Pada prinsipnya keberhasilan dalam tujuan program tersebut dapat tercapai jika semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan tahsin Al-Qur’an ini dapat bekerja sama dan bisa saling membantu dari berbagai arah, termasuk tersedianya sarana dan prasarana serta semangat tinggi para santri untuk mengikuti program tahsin ini dan pengajar ataupun pembimbing yang senantiasa semangat dalam mendidik para santrinya. Pembelajaran di pondok pesantren memberikan kontribusi yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui pendidikan di pondok pesantrenlah para santri sebagai generasi penerus bangsa dibekali dan diajarkan tidak hanya hal-hal akademik saja, tetapi juga diajarkan untuk membentuk sikap, perilaku, dan karakter yang dapat diterapkan ketika terjun langsung di lingkungan masyarakat. Program tahsin Al-Qur’an ini harus dievaluasi dan diperbarui kembali untuk memenuhi harapan yang lebih maksimal lagi.

Conclusion (Kesimpulan)

Berdasarkan deskripsi di atas dan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti di Pondok Pesantren Miftahul Jannah Panjeng Jenangan, dapat ditarik kesimpulan bahwa program Tahsin Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Jannah dilaksanakan setiap hari pada waktu setelah isya’ dengan durasi kurang lebih 1 jam. Pelaksanaan program tahsin Al-Qur’an tersebut menggunakan metode salah satu metode dalam tahsin, yaitu metode ummi. Kontribusi pelaksanaan program tahsin Al-Qur’an dalam memperkuat karakter di Pondok Pesantren Miftahul Jannah Panjeng Jenangan terlihat pada perubahan karakter para santri yang dibuktikan dalam kehidupan sehari-harinya, serta berdampak pada penerapannya, sehingga hal tersebut dapat menguatkan sikap atau karakter percaya diri, toleransi, tangguh, kerja sama, dan komitmen.

Pelaksanaan program tahsin Al-Qur’an ini selain adanya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambatnya. Faktor pendukung keberhasilan program tahsin ini yaitu memiliki niat yang ikhlas untuk mencapai tujuan dalam program tahsin, mempunyai keteguhan dan kesabaran dalam belajar Al-Qur’an, istiqamah dalam

(19)

bentuk kedisiplinan dalam segala hal yang berkaitan dengan proses tahsin Al-Qur’an, menjauhkan diri dari maksiat dan sifat-sifat tercela, telah mampu membaca dengan baik, sanggup mempelajari Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, fasilitas yang nyaman dan lengkap, dan lain sebagainya. Sedangkan faktor penghambat dalam penerapan program tahsin Al-Qur’an ini yaitu santri yang kadang kurang fokus dalam membaca Al-Qur’an, kemampuan antara santri yang satu dengan santri yang lainnya berbeda, tersedianya seorang pengajar tahsin yang mutqin sangat terbatas, banyak menuntut kerajinan, keuletan, ketekunan dan kedisiplinan pribadi seorang santri, kemampuan dan kepribadian santri yang kurang antusias mengikuti program tahsin, dan lain sebagainya. Strategi yang digunakan untuk mengatasi hambatan pelaksanaan program tahsin Al-Qur’an tersebut yaitu dengan memberikan motivasi dari pengasuh ataupun pengajar tahsin tersebut, selain itu juga dilakukan tindak lanjut dari pengasuh ataupun pengajar pondok pesantren terhadap santri yang tidak mengikuti kegiatan tahsin Al- Qur’an dan akan diberikan nasihat serta hukuman yang bersifat mendidik.

Dengan menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian riset kepustakaan (library research) yang diperkuat dengan observasi yang peneliti lakukan mampu menjawab permasalahan tentang pengimplementasian kebijakan program tahsin Al- Qur’an sebagai penguatan karakter di pesantren. Keterbatasan peneliti dalam membuat artikel ini adalah kurangnya pengetahuan dalam membuat dan menyusun artikel ini, sehingga perlu diuji kembali kebenarannya di masa yang akan datang.

Referensi/Daftar Pustaka

Al-Makky, Hisyam bin Mahrus Ali. (2013). Bimbingan Tahsin Tilawah Alquran. Solo:

Zam-Zam.

Amaliah, Supi, Endin Mujahidin, dan Imas Kania Rahman. (2021). Implementasi Kurikulum Tahsin Al-Qur’an Untuk Remaja Di Ma’had Kareem Bil-Qur’an.

Tadbir Muwahhid, 5.1.

Anggranti, Wiwik. (2016). Penerapan Metode Pembelajaran Baca-Tulis Al-Qur’an’.

Jurnal Intelegensia, 1.1.

Camelia, Farah. (2020). Implementasi Kebijakan Program Tahfidz Al-Qur’an Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter Di Pondok Pesantren Al-Qur’an Putri Ibnu Katsir Jember. Jurnal Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 20.01.

(20)

Fajrianita, Noni dan Furkan Maryedho. (2022). Metode Perbaikan Bacaan Yang Efektif Untuk Pesantren Qur’an. Jurnal JOEAI, 5.01.

Fathah, M. Utsman Arif. (2021). Metode Tahsin Dan Tahfidz Al-Qur’an Di Pondok Pesantren SMP MBS Bumiayu. Ilmu Ushuluddin, 20.2.

Hidayat, Syarif, Rahendra Maya, dan Agus Sarifudin. (2018). Implementasi Metode At- Tahsin Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Pada Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Hunafa Anak Shaleh Dan Shalehah Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan. Prosiding Al Hidayah: Pendidikan Agama Islam.

Prasmanita, et. al. (2020). Implementasi Pembelajaran Tajwid Dan Keterampilan Membaca Al-Qur’an Dalam Materi Qur’an Hadist. Jurnal Attractive: Innovatif Education Jurnal, 2.2.

Putri H, Ade Chita. (2019). Character Building (Pendidikan Karakter). Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 9.1.

Ramdhani, Muhammad Ali. (2014). Lingkungan Penddikan Dalam Implementasi Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 08.01.

Rizkia, Alfi Novianti. Implementasi Tahsin Dan Tahfidz Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Siswa Pada Pembelajaran Tematik Di SDIT Al-Qur’aniyyah, Skripsi (Online) diakses tanggal 7 September 2022.

Sari, Dewi Purnama. (2017). Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an. Islamic Counseling, 1.01.

Sarifudin dan Halimah. (2018). Manajemen Facebook Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 01.1.

Sugiati. (2016). Implementasi Metode Sorogan Pada Pembelajaran Tahsin Dan Tahfidz Pondok Pesantren. Jurnal Qathruna, 3.1.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Tamrin. (2019). Pola Pembinaan Tahsin Al-Qur’an Di Kalangan Mahasiswa. Rausyan Fikr, 2.2.

Usman, Nurdin Usman. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

Yuniarti, Yuyun, (2014). Pendidikan Kearah Pembentukan Karakter. Jurnal Tarbawiya, 11.2.

Tanggal Koreksi/Review Korektor/Reviwer

(Tuliskan hari dan tanggal) (Tuliskan Nama dan Tanda Tangan dibawahnya)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut terdapat beberapa hal penting yang menjadi kendala dan merupakan masalah dalam pengelolaan pendidikan seperti berikut ini. Lokasi

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa untuk melahirkan peserta didik yang berkarakter maka perlu pendidikan yang mengedepankan karakter bangsa dan budayanya di

Selain hadiah, bentuk pengendalian lain yang diterapkan adalah pemberian teguran atau hukuman bagi santri yang kehadirannya kurang pada saat kegiatan

Program Tahfidz al-Qur’an merupakan kegiatan yang sangat mulia apabila diterapkan pada suatu lembaga pendidikan, Akan tetapi, siswa yang mengikuti program tahfidz al-Qur’an harus rela

Evaluasi per semester yaitu dilaksanakan tiap semester atau dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan ṣafar dan bulan ramaḍan. Penggunaan waktu dalam agenda kegiatan di

Sedangkan faktor penghambat dalam upaya menangkal doktrin radikalisme di Pondok Pesantren Wali Songo Wates adalah (1) Perbedaan tingkat pemahaman santri terhadap

Selanjutnya reza regar selaku santri putri mengatakan bahwa : “faktor pendukung ketika kegiatan tilawah al-Qur‟an yaitu suara, karena yang dibutuhkan dalam tilawah al-Qur‟an ini adalah

Peneliti mengumpulkan beberapa informasi berdasarkan observasi dan wawancara dari kegiatan yang dilakukan sudah mengarah pada fokus penelitian mengenai Implementasi Pembiasaan Takror