• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI METODE JOYFULL LEARNING PADA PEMBELAJARAN ILMU TAJWID DI TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN BUSTANUL ULUM KECAMATAN KALIWATES KABUPATEN JEMBER SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "IMPLEMENTASI METODE JOYFULL LEARNING PADA PEMBELAJARAN ILMU TAJWID DI TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN BUSTANUL ULUM KECAMATAN KALIWATES KABUPATEN JEMBER SKRIPSI"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

SHAFIYYAH MILAYADI NIM T20191096

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JULI 2023

(2)

i

IMPLEMENTASI METODE JOYFULL LEARNING

PADA PEMBELAJARAN ILMU TAJWID DI TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN BUSTANUL ULUM KECAMATAN KALIWATES

KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

SHAFIYYAH MILAYADI NIM T20191096

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JULI 2023

(3)
(4)
(5)

iv MOTTO

هيلع قفتم( اْوُرِّ فَ نُ ت َلََو اْوُرِّ شَبَو اْوُرِّ سَعُ ت َلََو اْوُرِّ سَي )

“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, dan buatlah gembira dan jangan kalian buat lari.” (Muttafaq Alaih)*

* Shahih Bukhari Muslim: 653

(6)

v

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini kupersembahkan kepada:

Kedua orang tuaku Bapak Mulyadi dan Ibu Rumilah yang do’anya tak pernah berhenti untuk anak-anaknya. Yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan

semangat untukku. Semoga Allah membalas kebaikan ibu dan bapak dengan surga-Nya.

Kakak dan adikku, Fachry Asy’ari dan Ammar Akhtar Addany yang telah menyayangiku dan memberikan motivasi kepadaku hingga sampai saat ini.

Semoga Allah melindungi dan mengabulkan keinginan kalian serta dapat bertemu di surga-Nya kelak. Aaamiin.

(7)

vi

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membimbing umat manusia melalui lembaga terbaik Islam. Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Implementasi Metode Joyfull Learning pada Pembelajaran Ilmu Tajwid di Taman Pendidikan Al-

Qur’an Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.” Semoga kehadiran karya tulis ini mampu memberikan manfaat bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Keberhasilan dan kesuksesan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Maka dari itu, penulis menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Prof. Dr. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan fasilitas dalam proses belajar mengajar.

2. Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah mengesahkan penelitian ini secara resmi.

3. Dr. Rif’an Humaidi, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan dukungan dan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini.

(8)

vii

4. Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Dr. H. Amir, M.Pd.I selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah memberikan waktu, kesabaran dan motivasi dalam membimbing menyelesaikan skripsi ini.

6. Kepala dan pengajar TPA Bustanul Ulum yang telah memberikan waktu dan tempat bagi penulis.

7. Bapak dan Ibu dosen yang tanpa lelah memberikan ilmu hingga penulis dapat menyelesaikan studi di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Penulis menyadari selama proses penyusunan skripsi yang telah diusahakan semaksimal mungkin ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis selalu membuka diri untuk menerima kritik dan saran dari berbagai pihak demi perbaikan skripsi ini.

Jember, 3 Juni 2023 Penulis

Shafiyyah Milayadi

(9)

viii ABSTRAK

Shafiyyah Milayadi, 2023: Implementasi Metode Joyfull Learning pada Pembelajaran Ilmu Tajwid di Taman Pendidikan Al-Qur’an Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

Kata Kunci: Joyfull Learning, Pembelajaran Ilmu Tajwid, TPA Bustanul Ulum Santri seringkali menghadapi kesulitan dalam mempelajari ilmu tajwid karena gaya belajar mereka tidak selaras dengan metode yang digunakan oleh pengajar. Maka dari itu, pengajar perlu mengajar dengan menggunakan metode yang dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar. Salah satu metode yang perlu diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah joyfull learning. Fokus dalam penelitian ini yaitu 1) Bagaimana implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember? 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember? 3) Bagaimana solusi dalam mengatasi faktor penghambat implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis field research. Lokasi penelitian ini terletak di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Dalam menentukan informan menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan data condensation, data display dan verification.

Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Adapun temuan penelitian ini yaitu: (1) Implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum dengan cara mengkolaborasikan antara pembelajaran dengan hiburan yaitu menjelaskan materi ilmu tajwid melalui lagu dan permainan. (2) Faktor pendukung dalam implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum adalah semangat dan antusias santri sehingga pengajar termotivasi untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Sedangkan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum adalah faktor variasi usia santri dan ketidakhadiran santri yang mengakibatkan mereka tertinggal dalam materi yang telah dijelaskan. (3) Solusi dalam mengatasi faktor penghambat implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum yakni dengan menyediakan waktu khusus untuk memberikan penjelasan ulang kepada santri yang tidak hadir.

(10)

ix DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN COVER ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Istilah ... 7

F. Sistematika Pembahasan ... 9

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 11

A. Penelitian Terdahulu ... 11

B. Kajian Teori ... 16

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 42

B. Lokasi Penelitian ... 42

(11)

x

C. Subjek Penelitian ... 43

D. Teknik Pengumpulan Data ... 44

E. Analisis Data ... 47

F. Keabsahan Data... 48

G. Tahap-tahap Penelitian ... 49

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 51

A. Gambaran Objek Penelitian ... 51

B. Penyajian Data dan Analisis ... 58

C. Pembahasan Temuan ... 85

BAB V PENUTUP ... 92

A. Simpulan ... 92

B. Saran-saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Lembar Pernyataan Keaslian 2. Pedoman Penelitian

3. Data Informan 4. Jurnal Penelitian 5. Surat Izin Penelitian 6. Surat Selesai Penelitian 7. Dokumentasi

8. Biodata Penulis

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Orisinalitas Penelitian ... 14 Tabel 2.2 Ciri-ciri belajar yang menyenangkan dan tidak menyenangkan ... 18 Tabel 4. 1 Jadwal Pelajaran TPA Bustanul Ulum ... 60

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Buku tartila jilid 1-6 ... 57

Gambar 4.2 Kegiatan dzikir setelah sholat berjamaah... 60

Gambar 4.3 Buku hafalan santri ... 74

Gambar 4.4 Media pembelajaran tajwid ... 76

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Dalam dunia pendidikan, terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan yang menjadi tempat individu memperoleh ilmu pengetahuan atau belajar.

Sebagaimana diterangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 13 bahwa “jalur pendidikan terbagi menjadi tiga macam, jalur yaitu jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal dimana dalam pelaksanaan pendidikannya dapat diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka ataupun jarak jauh.”1

Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) merupakan lembaga pendidikan non formal yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran Al-Qur’an kepada anak-anak. TPA menjadi wadah untuk mendidik santri agar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid. Santri merupakan istilah untuk mereka yang belajar ilmu agama yang dalam hal ini TPA sebagai tempat pendidikannya. TPA dikenal luas di Indonesia, bahkan hampir setiap desa memiliki TPA yang terhubung dengan masjid atau musholla sebagai pusat pendidikan agama.2

Al-Qur’an bukan hanya untuk disanjung, dihormati dan dijadikan simbol ajaran Islam, tetapi juga menjadi petunjuk dan pedoman bagi kaum

1 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2 Haeri Ayatina dkk, “Pengaruh Budaya terhadap Sistem Pendidikan Al-Qur’an (TPA):

Studi Komparatif TPA Al Muhtadin dan TPA Al Hidayah di Yogyakarta,” Khazanah: Jurnal Mahasiswa 12, no 1 (April, 2019): 94.

(15)

muslim. Untuk dapat mengamalkan Al-Qur’an dengan baik, maka harus bisa membacanya dengan benar. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5:

َۚ َقَ

ل َخ ْي ِذَّ

لا َكِ ب َر ِم ْساِب ْ أ َر ْق ِا َۚ قَ ١

لَع ْن ِم َنا َسْن ِاْلا َقَل َخ ُۙ م َرْ ٢

كَ اْ

لا َكُّب َر َو ْ أ َر ْق ِا ٣

َمَّ

لَع ْي ِذَّ

لا

ُِۙمَ ل َقْ

لاِب ْْۗمَ ٤

ل ْعَي ْمَ

ل ا َم َنا َسْ ن ِاْ

لا َمَّ

لَع ٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”3

Mayoritas umat Islam di negeri ini mengalami kesulitan dalam membaca Al-Qur’an. Pada tahun 2015, sekitar 54% penduduk muslim di Indonesia tidak memiliki kemampuan membaca Al-Quran. Dari persentase tersebut, sepertiganya adalah anak-anak. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri masih banyak muslim dewasa yang belum mampu membaca Al Qur’an.4

Dalam analisis yang dilakukan oleh Supriandi mengenai kesulitan belajar membaca Al-Qur’an, ditemukan beberapa kesulitan yang dirasakan.

Pertama, kesulitan dalam mengucapkan huruf sesuai dengan makharijul huruf.

Kedua, kesulitan dalam menghubungkan huruf satu dengan huruf lainnya.

Ketiga, kesulitan memahami hukum tajwid. Dalam penelitian tersebut juga dipaparkan bahwa faktor-faktor penyebab seseorang kesulitan belajar

3 Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: CV. Al-Mubarok, 2018), 597.

4 Sarnapi, “Ironis 54% Muslim Indonesia tak Bisa Baca Al-Qur’an” 14 Desember 2017, http://www.pikiran-rakyat.com, diakses tanggal 27 Februari 2023.

(16)

membaca Al-Qur’an adalah ketidaksesuaian gaya belajar santri dengan metode yang digunakan pengajar.5

Jika dianalisa hasil penelitian diatas, maka penyebab seseorang tidak dapat membaca Al-Qur’an karena tingkat kesulitan materi, baik bentuk maupun pengucapan hurufnya. Selain itu, penyebab selanjutnya adalah cara belajar Al-Qur’an yang tidak sesuai dengan gaya belajar santri sehingga menimbulkan kesan bagi sebagian orang bahwa pembelajaran Al-Qur’an itu terkesan monoton dan membosankan, yaitu diawali dengan membaca do’a, kemudian mengaji di depan ustadz/ustadzah yang apabila bacaannya salah mereka akan mendapat teguran dan diminta untuk mengulang, atau bahkan tidak diperbaiki sama sekali. Selanjutnya diberi nilai dan ditutup dengan do’a.

Tidak banyak orang yang tertarik dengan ilmu tajwid. Seseorang yang dapat membaca Al-Quran dengan benar sesuai dengan aturan tajwid yaitu makhraj yang tepat dan sifat huruf sebagaimana Al-Quran diturunkan.

Banyak orang yang menganggap bahwa dengan membaca Al-Qur'an saja sudah cukup, maka tidak heran jika banyak orang yang fasih membaca Al- Qur'an melakukan kesalahan dalam tajwid.6

Proses dalam menjelaskan materi tajwid yaitu diajarkan hanya melalui metode ceramah disertai contoh pengucapannya dan terkadang santri diminta untuk menirukannya. Pengajar hanya menggunakan buku dan papan tulis

5 Supriandi, “Analisis Kesulitan Belajar Peserta Didik Membaca Al-Qur’an pada Mata Pelajaran PAI Kelas X SMAN 1 Pinrang,” Al-Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan 19, no.1 (April, 2021): 62-64.

6 Baharuddin, “Metode Pembelajaran Ilmu Tajwid Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Imam ‘Ashim Makassar”

(Tesis, UIN Alauddin Makassar, 2012), 3.

(17)

dalam proses belajar mengajar sehingga santri terlihat tidak antusias dalam mempelajari ilmu tajwid. Hal tersebut berpotensi pada rendahnya pemahaman santri terhadap apa yang disampaikan oleh pengajar.7

Penerapan metode pembelajaran yang tepat dan efektif sangat penting dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an. Pengajar memiliki peran krusial dalam memilih dan menerapkan metode yang sesuai agar mencapai hasil yang optimal. Keterampilan dan kecermatan pengajar dalam memilih metode pembelajaran akan berdampak langsung pada efektivitas pembelajaran Al- Qur’an.8

Dalam membantu melancarkan proses pembelajaran, diperlukan adanya panca indera. Misalnya, apabila lingkungan belajar tidak memuaskan indera mata seperti gambar dan tulisan tidak menarik, tidak ada bunyi alunan nada yang terdengar oleh telinga, serta ditambah dengan udara yang pengap dan tidak sejuk yang mengganggu kegiatan belajar mengajar sehingga menurunkan minat belajar santri.9 Salah satu alternatif untuk meningkatkan ketertarikan santri dalam pembelajaran ilmu tajwid yaitu dengan menerapkan metode joyfull learning.

Berdasarkan pengamatan peneliti, di TPA Bustanul Ulum dalam menyampaikan materi tajwid melalui lagu dan permainan kepada santri sehingga suasana pembelajaran lebih meriah dan menyenangkan. Kreativitas

7 Yesi Fadlilah, “Implementasi Media Putar dalam Pembelajaran Ilmu Tajwid,” Tarlim:

Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no.2 (September, 2020): 148.

8 Idi Warsah dan Muhamad Uyun, “Kepribadian Pendidik: Telaah Psikologi Islami,”

Psikis: Jurnal Psikologi Islami 5, no. 1 (Juni, 2019): 62–73.

9 Elmania Alamsyah, “Implementasi Metode Joyfull learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Alam Banyuwangi Islamic School,” Al Adabiyah: Jurnal Pendidikan Agama Islam 1, no.1 (Juni 2020): 61.

(18)

dari seorang pengajar terlihat dari lagu dan permainan sederhana yang diciptakan sendiri. Pengajar memiliki kompetensi dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran karena telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman perkuliahan. Selain itu, keberhasilan dibuktikan dengan prestasi santri yang seringkali santri meraih juara dalam mengikuti perlombaan yang berkaitan dengan membaca Al- Qur’an.10

Peneliti merasa tertarik dan menganggap penting untuk melakukan penelitian sebagai wujud revolusi dalam penerapan metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid. Oleh karena itu, Taman Pendidikan Al- Qur’an Bustanul Ulum dipilih sebagai lokasi penelitian yang menjadi fokus dalam mengkaji secara mendalam mengenai implementasi metode tersebut.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks yang telah dipaparkan, maka fokus penelitian yang dijawab dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagaimana implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember?

10 Observasi di TPA Bustanul Ulum, 31 Januari 2023.

(19)

3. Bagaimana solusi dalam mengatasi faktor penghambat implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mendeskripsikan implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

2. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

3. Untuk mendeskripsikan solusi dalam mengatasi faktor penghambat implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

D. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa manfaat yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi, wawasan, pemikiran dan pengetahuan dalam penggunaan metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid.

(20)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pemahaman yang diperoleh dari penelitian secara langsung tentang implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid.

b. Bagi almamater Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, penelitian ini diharapkan menjadi rujukan atau referensi untuk penelitian tentang implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid.

c. Bagi lembaga yang diteliti, dapat memberikan informasi, kritik dan saran yang membangun akan pentingnya metode yang efektif dalam mengajar agar materi yang disampaikan dapat terserap secara maksimal oleh peserta didik.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisikan makna istilah-istilah penting yang menjadi fokus perhatian peneliti dalam judul penelitian. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman makna istilah yang dimaksud oleh peneliti.

Istilah penting dalam judul penelitian ini yaitu:

1. Metode Joyfull Learning

Joyfull learning merupakan proses pembelajaran yang mengasyikkan dan bermakna. Mengasyikkan berarti peserta didik dapat menikmati belajar tanpa adanya tekanan atau stres, sedangkan bermakna

(21)

berarti bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik dalam belajar dapat berguna bagi kehidupannya.11

2. Pembelajaran Ilmu Tajwid

Pembelajaran merupakan proses dimana peserta didik berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar.

Interaksi yang mengacu pada hubungan antara pendidik dan peserta didik ini disebut interaksi edukatif, dimana terjadi saling pengaruh antara pendidik dan peserta didik.

Ilmu tajwid merupakan ilmu tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar yang memberikan atau menyempurnakan hak-hak huruf, mustahaq-mustahaqnya dan mengembalikan tiap-tiap huruf itu pada asalnya dengan tanpa memaksakan dan memberatkan lisan serta lafadz dalam hubungan persamaannya haruslah dibaca seukuran dengan persamaannya pula.12

Dengan demikian, pembelajaran ilmu tajwid adalah proses interaksi yang melibatkan santri dengan pengajar dalam mempelajari ilmu tajwid sebagai sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

3. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)

Taman Pendidikan Al-Qur’an merupakan lembaga pendidikan non formal yang didirikan dengan tujuan utama untuk memberikan pembelajaran Al-Qur’an kepada anak-anak. TPA menjadi tempat dimana

11 Sufiani dan Marzuki, “Joyful Learning: Strategi Alternatif Menuju Pembelajaran Menyenangkan”, Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam 7, no.1 (Juli, 2021): 124.

12 Zainol Hasan dan Moh. Afandi, Model Praktikum Pembelajaran Tilawatil Qur’an (Pamekasan: Duta Media Publishing, 2018), 1

(22)

santri-santri menerima pengajaran tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid. TPA memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan agama kepada generasi muda, sehingga mereka dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan benar. Dalam konteks penelitian ini, istilah “Taman Pendidikan Al- Qur’an” akan disingkat menjadi “TPA” untuk memudahkan penggunaan dan penulisan.

Maksud dari judul ini yaitu penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning) pada proses interaksi antara santri dan pengajar dalam mempelajari ilmu tajwid di TPA Bustanul Ulum Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

F. Sistematika Pembahasan

Hasil penelitian skripsi ini disajikan dalam bentuk laporan yang terbagi dalam lima bab. Setiap bab terdiri dari beberapa sub bab. Garis besar isinya adalah:

Bab Satu adalah pendahuluan. Bab ini memberikan gambaran singkat dari pembahasan skripsi secara keseluruhan. Bab pertama meliputi konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.

Bab Dua yaitu kajian kepustakaan yang menguraikan penelitian terdahulu dan kajian teori yang berhubungan dengan penelitian yang hendak diteliti. Bab kedua disajikan susunan penjabaran tentang metode joyfull learning dan pembelajaran ilmu tajwid.

(23)

Bab Tiga adalah metode penelitian yang merupakan komponen penting dari proses penelitian karena menentukan keberhasilan penelitian.

Adapun pada bab tiga mencakup pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap- tahap penelitian.

Bab Empat yaitu penyajian data dan analisis. Pada bagian ini berisi paparan data yang diperoleh di lapangan. Bab empat mencakup gambaran obyek penelitian, penyajian data, analisis data serta pembahasan temuan.

Bab Lima adalah penutup dari bahasan dalam skripsi ini. Dalam bab ini dikemukakan kesimpulan dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dan saran yang membangun dari peneliti terkait penelitian yang telah dilakukan.

(24)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini, peneliti menguraikan berbagai penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Peneliti kemudian membuat ringkasan dari penelitian-penelitian tersebut, baik yang telah atau belum terpublikasi. Langkah ini dilakukan untuk memahami sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang dilakukan.13 Berikut ini dipaparkan beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu:

Pertama, skripsi Ulufi Khasanah (2017) dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Tajwid dengan Strategi Index Card Match di TPA Al- Mustaqim Wonokerso Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta”. Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peneliti menemukan penggunaan strategi Index Card Match dalam pembelajaran tajwid sangat efektif. Strategi ini lebih mudah dipahami, dihafalkan, ringkas dan melibatkan aktivitas peserta didik. Faktor pendukung dalam strategi ini adalah antusiasme, komunikasi yang baik antara peserta didik dan pendidik.

Sedangkan faktor penghambat meliputi perbedaan usia peserta didik yang beragam sehingga mempengaruhi daya tangkap, situasi kelas, waktu, hujan, dan adanya kegiatan peserta didik di luar TPA.

Kedua dalam skripsi Fitri Ardhiana Nur (2018) dengan judul

“Perbandingan Efektivitas Metode Rote Learning dan Metode Efektif dan

13 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember, 2020), 91.

(25)

Efisien dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an sesuai Ilmu Tajwid di SMP Negeri 3 Surabaya”. Dalam hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode efektif dan efisien yang merupakan kolaborasi dari dua metode yaitu make a match dan metode mind mapping lebih efektif digunakan dari pada menggunakan metode rote learning atau metode menghafal dalam materi ilmu tajwid. Perbandingan tersebut terlihat dari hasil analisis, metode rote learning diperoleh dengan jumlah rata-rata 68,27 sedangkan metode efektif dan efisien memperoleh rata-rata 74,80.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Sugesti Nurwin (2019) dengan judul “Penerapan Metode Rote Learning dalam Ilmu Tajwid Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an di Kelas VIII MTs Darussalam Prabumulih.” Adapun hasil dari penelitian setelah dianalisis dengan rumus menghitung, standar deviasi, TSR dan distribusi frekuensi terdapat pengaruh antara keberhasilan membaca Al-Qur’an siswa kelas VIII.

MTs Darussalam Prabumulih sebelum dan sesudah diterapkannya metode rote learning pada mata pelajaran tajwid. Hal ini dapat dilihat dari Uji hipotesis yaitu t hitung sebesar 9,17 dan besarnya t yang tercantum pada tabel nilai t (tt.ts 5% = 2,06 dan tt.ts 1% = 2, 80), maka dapat diketahui bahwa to lebih besar pada tt yaitu: 2,06<9,17>2,80. Dengan demikian dari uji hipotesis, dapat disimpulkan bahwa Ho yang diajukan ditolak. Ini berarti Ha diterima, bahwa terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan metode rote learning.

(26)

Yang keempat dalam skripsi M. Saiful Aqil (2020) berjudul

“Implementasi Joyfull Learning dengan Metode Mind Mapping dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Kota Malang”. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M. Saiful Aqil, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode ini memberikan pengalaman yang menyenangkan dan memperoleh respons positif bagi peserta didik. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar dan peserta didik menjadi lebih berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Langkah-langkah joyfull learning dengan metode mind mapping dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terbagi menjadi tiga tahapan yaitu: tahap pendahuluan, tahap inti dan tahap penutup. Faktor pendukung dan penghambat berasal dari faktor guru, peserta didik, sarana dan prasarana, lingkungan sekolah, alokasi jam pembelajaran, dan faktor kejadian luar biasa (pandemi covid-19).

Kelima, penelitian yang berjudul “Strategi Pembelajaran Joyful Learning dengan Humor dan Implementasi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” yang dilakukan oleh Yoga Dwi Charisma (2020). Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi joyfull learning dengan humor ini efektif diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Karena selama ini peserta didik menganggap pelajaran PAI sebagai pelajaran yang membosankan. Dengan penggunaan strategi joyfull learning dengan humor ini siswa lebih tertarik dengan pembelajaran sehingga pembelajaran akan terasa lebih efektif dan efisien. Dalam menggunakan

(27)

strategi ini, juga perlu diperhatikan agar jangan sampai berlebihan menggunakan humor dalam pembelajaran, karena menyebabkan pembelajaran tidak efektif lagi.

Tabel 2.1 Orisinalitas Penelitian

No Nama Judul Perbedaan Persamaan

1 Ulufi Khasanah (2017)

Efektivitas Pembelajaran Tajwid dengan Strategi Index Card Match di TPA Al- Mustaqim Wonokerso Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta

Penelitian sebelumnya secara spesifik

memfokuskan strategi yang digunakan yaitu menggunakan strategi index card match,

sedangkan pada penelitian ini menggunakan metode joyfull learning

a. Sama-sama memfokuskan pada

pembelajaran ilmu tajwid.

b. Sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif.

2 Fitri Ardhiana Nur (2018)

Perbandingan Efektivitas Metode Rote Learning dan Metode Efektif dan Efisien dalam

Meningkatkan Kemampuan Membaca Al- Qur’an sesuai Ilmu Tajwid di SMP Negeri 3 Surabaya

a. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam hal metode pembelajaran yang digunakan.

Penelitian ini

menerapkan metode joyfull learning.

Sementara penelitian sebelumnya

menggunakan metode rote learning dan metode efektif dan efisien.

b. Pada penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif, sedangkan pada penelitian sebelumnya menggunakan

pendekatan kuantitatif.

Sama-sama

memfokuskan pada pembelajaran ilmu tajwid.

(28)

No Nama Judul Perbedaan Persamaan 3 Sugesti

Nurwin (2019)

Penerapan Metode Rote Learning dalam Ilmu Tajwid Untuk

Meningkatkan Kemampuan Membaca Al- Qur’an di Kelas VIII MTs Darussalam Prabumulih

a. Penelitian ini berbeda dalam hal menerapkan metode pembelajaran.

Penelitian ini

menerapkan metode joyfull learning.

Sementara penelitian sebelumnya

menggunakan metode rote learning.

b. Pada penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif, sedangkan pada penelitian sebelumnya menggunakan

pendekatan kuantitatif.

Sama-sama

memfokuskan pada pembelajaran ilmu tajwid.

4 M. Saiful Aqil (2020)

Implementasi Joyfull Learning dengan Metode Mind Mapping dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Kota Malang

Penelitian terdahulu memfokuskan pada pembelajaran PAI-BP sedangkan penelitian ini memfokuskan pada pembelajaran ilmu tajwid.

a. Sama-sama membahas tentang joyfull learning b. Sama-sama

menggunakan pendekatan kualitatif

5 Yoga Dwi Charisma (2020)

Strategi Pembelajaran Joyful Learning dengan Humor dan

Implementasi dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

a. Penelitian terdahulu memfokuskan pada pembelajaran PAI sedangkan penelitian ini memfokuskan pada pembelajaran ilmu tajwid.

b. Pada penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatif, sedangkan pada penelitian sebelumnya

Sama-sama

membahas tentang joyfull learning.

(29)

No Nama Judul Perbedaan Persamaan menggunakan

pendekatan

kepustakaan (library research)

Dari kelima penelitian terdahulu, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang hendak diteliti terletak pada objek serta metode penelitiannya. Penelitian yang hendak diteliti menggunakan metode penelitian kualitatif di TPA Bustanul Ulum yang terletak di kota Jember terkait dengan implementasi metode joyfull learning pada pembelajaran ilmu tajwid.

B. Kajian Teori

1. Metode Joyfull Learning

a. Pengertian Metode Joyfull Learning

Dalam proses pengajaran, keberhasilan atau kegagalan dapat ditentukan oleh kecakapan pendidik dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran. Terkadang, meskipun seorang pendidik memiliki memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang akan diajarkan, mereka tidak selalu berhasil dalam proses pembelajaran.

Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, penting bagi seorang pendidik untuk cermat memilih metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pendidik.

(30)

Kata “metode” berasal dari kata method yang berarti suatu cara kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan dalam mencapai suatu tujuan. Apabila kata metode disandingkan dengan kata pembelajaran, hal ini mengacu pada suatu cara atau sistem yang digunakan dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mengetahui, memahami, menggunakan dan menguasai materi pelajaran tertentu.14

Para ahli pendidikan banyak yang ikut mengemukakan pengertian joyfull learning. Menurut Berk dalam Saifuddin, joyfull learning merupakan suatu pola berfikir dan pegangan yang digunakan oleh pendidik untuk memilih dan menerapkan cara menyampaikan materi sehingga mudah dipahami oleh peserta didik dan menciptakan suasana pembelajaran.15

Menurut Dave Meier seperti Indrawati dan Wanwan memberikan pengertian menyenangkan atau fun mengacu kepada suasana belajar yang penuh kegembiraan. Namun dalam konteks ini, kegembiraan disini tidak berarti suasana ribut, hura-hura, kegembiraan yang tidak terarah dan kegembiraan yang dangkal.16

14 Ahmad Munjih Nashi dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung, PT Refika Aditama, 2013), 29.

15 Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis (Yogyakarta: Deepublish, 2018), 112.

16 Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (t.tt: PPPPTK IPA, 2009), 16.

(31)

Tabel 2.2

Ciri-ciri belajar yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

Menyenangkan Tidak Menyenangkan

1) Rileks

2) Bebas dari tekanan 3) Aman

4) Menarik

5) Bangkitnya minat belajar 6) Adanya keterlibatan penuh 7) Perhatian peserta didik tercurah 8) Lingkungan belajar yang menarik 9) Bersemangat

10) Perasaan gembira 11) Konsentrasi tinggi

1) Tertekan

2) Perasaan terancam 3) Perasaan menakutkan 4) Merasa tidak berdaya 5) Tidak bersemangat 6) Malas/tidak berminat 7) Jenuh/bosan

8) Suasana pembelajaran monoton 9) Pembelajaran tidak menarik

siswa

Menurut Rusman, pembelajaran yang menyenangkan merupakan strategi yang tidak hanya semata-mata pembelajaran yang mengharuskan peserta didik untuk tertawa terbahak-bahak, melainkan sebuah pembelajaran yang menciptakan ikatan yang kuat antara pendidik dan peserta didik dalam suasana yang bebas dari tekanan.17 Maka dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung dapat diterapkan melalui video, game, bernyanyi, kuis dan aktivitas lain yang membangkitkan perasaan menyenangkan.

b. Tujuan dan Manfaat Joyfull Learning

Menyenangkan artinya proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan berkesan.

Suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan akan menarik minat peserta didik untuk berpartisipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Selain itu,

17 Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta:

Raja Grafindo Persada, 2010), 326.

(32)

pembelajaran yang menarik dan berkesan akan menjadi hadiah dan penghargaan bagi peserta didik, yang pada mendorong motivasi mereka semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya.18

Konsep joyfull learning yang dikemukakan oleh Rusman bertujuan agar peserta didik termotivasi lebih kuat untuk belajar karena pembelajaran dilakukan dengan cara yang nyaman dan menyenangkan dengan melibatkan fisik dan psikis peserta didik.

Dalam hal ini pendidik perlu membangun suasana pembelajaran yang selaras dengan minat dan kecerdasan peserta didik. Secara khusus, tujuan pembelajaran yang menyenangkan adalah untuk membangkitkan kemampuan belajar yang sepenuhnya dan untuk meningkatkan kebahagiaan, kemampuan, kecerdasan dan keberhasilan mereka sebagai peserta didik.19

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari joyfull learning adalah agar peserta didik semakin termotivasi untuk belajar karena pembelajaran berlangsung dengan cara yang menyenangkan, sehingga meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran.

c. Langkah-langkah Joyfull Learning

Joyfull learning dapat mempercepat penguasaan dan pemahaman materi pembelajaran yang dipelajari, sehingga waktu

18 Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 2.

19 Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta:

Raja Grafindo Persada, 2010), 327.

(33)

yang dibutuhkan untuk belajar lebih cepat. Dalam pelaksanaannya, langkah-langkah dalam joyfull learning sebagai berikut.20

1) Pendidik menjelaskan materi dengan gambar, gerakan dan tanya jawab

2) Peserta didik diajak bermain dan bernyanyi dalam kelompok kecil.

3) Pendidik mengajak peserta didik untuk menyanyi atau bertepuk tangan lagu yang diciptakan pendidik sendiri (pendidik harus kreatif ketika meringkas materi menjadi lagu atau tepuk-tepuk).

4) Soal latihan dibagikan kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan (usahakan menggunakan media pembelajaran).

5) Pendidik memilih kelompok untuk membacakan jawab hasil diskusinya dengan menggunakan permainan.

6) Pendidik memberi penguatan atas jawaban yang telah disampaikan antar kelompok.

7) Pendidik mengajak peserta didik untuk mengikuti permainan yang selaras dengan materi.

8) Pendidik memberikan hadiah kepada kelompok yang terbaik dan memperoleh poin terbanyak.

Dengan menerapkan langkah-langkah pembelajaran yang menyenangkan ini, pendidik hendaknya membantu peserta didik membangun percaya diri dengan cara menghargai ide-ide dan

20 Sufiani dan Marzuki, “Joyful Learning: Strategi Alternatif Menuju Pembelajaran Menyenangkan”, Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam 7, no.1 (Juli, 2021): 132.

(34)

kontribusi mereka, serta memberikan rasa aman secara fisik dan psikologis di lingkungan pembelajaran. Oleh karena itu, peserta didik akan merasa senang terlibat secara fisik dan psikis dalam proses pembelajaran dan dapat berkontribusi penuh untuk pengembangan kecerdasan, kemampuan, dan kesejahteraan mereka sebagai peserta didik.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran

Kualitas dari pembelajaran dapat dikatakan baik terlihat dari pembelajaran yang berlangsung dengan efektif. Kualitas pembelajaran tidak terlepas dari pelaksanaan proses pembelajaran dan faktor yang mempengaruhinya. Ine rahayu dan Tedi membagi beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran, yaitu:21

1) Pendidik

Pendidik berperan penting dalam proses pembelajaran.

Selain menjadi panutan bagi peserta didik, pendidik juga berperan sebagai pengelola pembelajaran. Proses pendidikan yang berkualitas dipengaruhi oleh tenaga pendidik yang profesional.

Mulyasa mengemukakan bahwa pendidik adalah seorang kreator dan motivator, yang menjadi pusat dari proses pendidikan. Dari fungsi ini, pendidik berusaha menemukan cara yang lebih baik dalam membantu peserta didik agar mereka

21 Ine Rahayu Purnamaningsih dan Tedi Purbangkara, Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran (Sidoarjo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2022), 30-34.

(35)

menilainya sebagai sosok yang berkarakter kreatif dan bukan hanya melakukan sesuatu secara rutin. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh pendidik sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya dan apa yang akan dikerjakan di masa datang lebih baik dari sekarang.22

Maka dari itu, peran pendidik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pendidik harus memiliki jiwa pembelajar dan mampu memotivasi peserta didik dalam belajar. Efektivitas proses pembelajaran menjadi tanggung jawab pendidik dan keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan pendidik.

2) Peserta didik

Dalam interaksi belajar mengajar, peserta didik menjadi subjek yang akan mencapai tujuan pembelajaran dalam bentuk hasil belajar. Setiap peserta didik memiliki karakteristik umum dan karakteristik khusus.

Karakteristik umum dilihat dari segi usia sedangkan karakteristik khusus dilihat dari sudut gaya belajar, seperti pendidik, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek peserta didik meliputi aspek latar belakang peserta didik serta faktor yang dimiliki peserta didik.

22 Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 51-52.

(36)

Latar belakang ini mulai dari perekonomian, keluarga hingga kemampuan peserta didik. Oleh karena itu selain pendidik, orang tua sangat memiliki peranan penting dalam membangun karakter peserta didik untuk terus berkembang.

3) Sarana dan Prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat pelajaran dan sebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran.

Kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu pendidik dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Dengan demikian, sarana dan prasarana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Pembelajaran belum berjalan dengan baik secara efektif dan efisien apabila sarana dan prasarana tidak memadai.

4) Lingkungan

Lingkungan adalah konteks terjadinya pengalaman belajar. Pada faktor ini, perlu diperhatikan lingkungan fisik dan lingkungan non fisik yang menunjang situasi interaksi belajar mengajar optimal. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Situasi lingkungan mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Situasi lingkungan

(37)

ini meliputi lingkungan fisik, lingkungan teknis dan lingkungan sosiokultural.

Dalam peningkatan kualitas pendidikan, lingkungan adalah hal yang sangat berpengaruh. Lingkungan yang baik membawa peserta didik ke dalam kondisi yang baik serta siap menerima pelajaran. Dilihat dari dimensi lingkungan, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial psikologis.

Faktor organisasi kelas yang didalamnya meliputi jumlah peserta didik dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Iklim sosial psikologis secara internal adalah hubungan sesama peserta didik, peserta didik dengan pendidik, sesama pendidik, bahkan pendidik dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.

Hubungan yang dijalin oleh sekolah, orang tua dan masyarakat haruslah baik dan berkesinambungan, karena dapat berefek pada

(38)

kepercayaan masyarakat pada lembaga pendidikan serta masyarakat juga dapat membantu untuk kemajuan sekolah.

2. Ilmu Tajwid

a. Pengertian Ilmu Tajwid

Kata “tajwid” berasal dari bahasa Arab )

ااًْي ِّوَْتَ - ُدِّ وَُيُ – َدَّوَج

( yang artinya membaguskan. Sedangkan menurut istilah, tajwid adalah:

ُك ُءاَطْعِّاَو ِّةَحْيِّحَصلا اَهِّجِّراََمَ ْنِّم ِّءاَجِّْلْا ِّفْوُرُح ُجاَرْخِّا ُهَََّّح فْرَح ِّ ل

ُهَََّّحَتْسٌمَو

“Mengucapkan huruf hijaiyyah dari tempat keluarnya dengan benar dan memberikan haqnya huruf serta mustahaqnya.”23

Para ulama qira’at Al-Qur’an mengatakan bahwa yang dimaksud tajwid adalah mengeluarkan atau mengucapkan huruf- huruf sesuai dengan bunyi dan hak aslinya secara sempurna dengan suara yang tidak dipaksakan.24

Ilmu tajwid merupakan suatu ilmu pengetahuan yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang menjadi landasan wajib ketika membaca Al-Qur’an, sehingga sesuai dengan bacaan Rasulullah SAW. Maka dapat disimpulkan bahwa ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara mengucapkan kalimat-kalimat Al-Qur’an dengan baik dan benar.

23 Siti Nur Aidah dkk, Panduan Lengkap Belajar Ilmu Tajwid (Yogyakarta: KBM Indonesia, 2020), 27-28.

24 Ahmad Zaka Thayalisi dan Badrudin, Tajwid Berbasis Kode QR (Serang: t.p, 2021), 1.

(39)

Manfaat mempelajari ilmu tajwid adalah untuk menghindari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan dari kesalahan saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan ajaran di dalam Al-Qur’an Surat Al-Muzammil ayat 4:

ۗ الًْيِّتْرَ ت َنٰاْرَُّْلا ِّلِّ تَرَو ِّهْيَلَع ْدِّز ْوَا ٤

Dari ayat diatas, Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. Tartil mengandung arti teratur, perlahan, membaguskan dan memperhatikan tajwidnya. Hal ini tidak dapat dilakukan tanpa mengerti dan memahami kaidah membaca Al- Qur’an seperti dengan mempelajari ilmu tajwid.

Mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah. Maksud dari hukum tersebut adalah kewajiban kolektif yang apabila dikerjakan oleh jumlah orang yang mencukupi, maka gugurlah kewajiban itu terhadap orang lain. Namun, membaca Al-Qur’an secara benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid hukumnya fardhu’ain atau wajib (kewajiban individu).25

b. Ruang Lingkup Ilmu Tajwid

Al-Qur’an menjadi sumber utama bagi umat Islam dan sebagai pedoman hidup dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an bukan hanya memberikan petunjuk tentang hubungan manusia

25 Abu Nizhan, Buku Pintar Al-Qur’an (Jakarta: Qultum Media, 2008), 13.

(40)

dengan Tuhan, melainkan juga mengatur hubungan antar sesama manusia serta manusia dengan alam sekitarnya.26

Membaca Al-Qur’an tidak sama dengan membaca koran atau buku-buku lain yang hanya perkataan manusia. Membaca Al-Qur’an adalah membaca firman Tuhan, berkomunikasi dengan Tuhan kemudian dengan seseorang membaca Al-Qur’an seolah-olah berdialog dengan Tuhan. Maka dari itu, pengetahuan atau keterampilan dibutuhkan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan kaidah ilmu tajwid.

Buku karya Ummu Habibah yang berjudul 20 Hari Hafal 1 Juz dipaparkan bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu tajwid meliputi: makharijul huruf, sifatul huruf, ahkamul huruf, ahkamul maddi wal qashr, ahkamul waqaf wal ibtida’ dan al-khat dan al- usmani.27 Namun dalam penelitian ini, ruang lingkup ilmu tajwid hanya dibatasi pada pokok pembahasan ahkamul huruf dan ahkamul maddi wal qashr.

1) Ahkamul huruf

Pada saat membaca Al-Qur’an, akan dijumpai nun sukun atau tanwin serta mim sukun di setiap ayat. Penjelasan mengenai hukum nun sukun atau tanwin serta mim sukun akan menjadi bahan pembahasan dalam ahkamul huruf. Peneliti secara singkat

26 Said Agil Husin Al Munawir, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Ciputat: PT Ciputat Press, 2005), 3.

27 Ummu Habibah, 20 Hari Hafal 1 Juz (Yogyakarta: Diva Press, 2015), 38-39.

(41)

akan menguraikan tentang hukum nun sukun atau tanwin serta mim sukun, yaitu:

a) Hukum Nun Sukun atau Tanwin

Apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah maka mempunyai empat hukum bacaan, yaitu:

(1) Idzhar Halqi

Disebut dengan idzhar halqi apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi (tenggorokan). Huruf halqi ada 6, yaitu: alif atau hamzah (

ء

), ha’ (

ه

), kha’ (

خ

), ’ain (

ع

), ghain (

غ

) dan

ha’ (

ح

). Cara melafadzkan atau mengucapkannya harus jelas. Maka bunyi pada “n” pada nun dan tanwin dilahirkan secara tegas, jelas, pendek tanpa dengung.28 Berikut contoh-contoh bacaan idzhar halqi:

اافاَفْلَأ تَّنَجَو : ء اَهَااَم اَهْ نِّم َجَرْخَا : ه اباَسِّح اءاَطَع : ح َفاَخ ْنَم اَّمَاَو : خ اَهْ يَلَع ذِّئَمْوَ ي : ع

28 Agus Salim Marpaung, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur’an Dan Ilmu Tajwid (Medan, CV Pusdikra Mitra Jaya, 2021), 28.

(42)

لِّغ ْنِّم : غ

(2) Idgham

Secara bahasa, idgham adalah memasukkan sesuatu pada sesuatu yang lain. Secara istilah, idgham adalah memasukkan huruf mati pada huruf yang berharakat sehingga keduanya menjadi satu huruf bertasydid yang diucapkan oleh lisan satu kali Maksudnya adalah memasukkan bacaan nun sukun atau tanwin ke dalam huruf sesudahnya. Idgham terbagi menjadi dua, yaitu idgham bigunnah dan idgham bilagunnah.

(a) Idgham Bigunnah

Idgham bigunnah adalah menyembunyikan nun sukun atau tanwin dengan memasukkannya pada huruf sesudahnya dan dibaca dengan mendengung. Idgham bigunnah juga disebut dengan idgham ma’al gunnah. Idgham bigunnah terjadi apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf

و م ن ي

. Berikut adalah contoh-contoh bacaan yang termasuk idgham bigunnah:

29 Marzuki dan Sun Choirul Ummah, Dasar-Dasar Ilmu Tajwid (Yogyakarta, Diva Press, 2020), 67.

(43)

ُلْوََُّ ي ْنَم : ي َلِّ ًَبُّ ن ْنَا ىَلَع : ن َنْوُ نِّمْؤُ تاَّم الًْيِّلَق : م ٌةًَِّحاَو ٌةَخْفَ ن : و

Hukum nun sukun yang bertemu dengan huruf

و م ن ي

dibaca idgham bigunnah apabila tidak dalam satu kata. Akan tetapi, jika hal itu terjadi dalam satu kata, maka tidak lagi dibaca idgham bigunnah, melainkan harus dibaca idzhar wajib (jelas).

(b) Idgham Bilagunnah

Yang dimaksud dengan idgham bilagunnah adalah menyembunyikan nun sukun atau tanwin dengan memasukkannya pada huruf sesudahnya dan dibaca tanpa mendengung. Idgham bilagunnah terjadi apabila nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf

ر

dan

ل

. Adapun contoh dari nun sukun atau tanwin yang bertemu dengan kedua huruf hijaiyyah sebagai berikut.

َْيََِّّّتُمْلِّ ل ىاًُه : ل

ْمِِّّ بَّّر ْنِّم : ر

(44)

(3) Iqlab

Secara bahasa, iqlab berarti mengubah huruf dari aslinya. Secara istilah, iqlab adalah menukar atau mengganti suatu huruf menjadi huruf lain. Dalam hukum nun sukun atau tanwin, iqlab berarti menukar atau mengganti nun sukun atau tanwin menjadi mim mati sebelum ba’ disertai dengan bacaan dengung dan samar.30 Huruf iqlab hanya ada satu yaitu

ب

. Contoh

bacaan iqlab yaitu:

ْمِّهًِّْعَ ب ْنِّم : ب

Cara membaca iqlab adalah bunyi nun sukun atau tanwin itu dibalik sehingga bacaannya berbunyi huruf mim dan mulut tertutup dalam keadaan panjang, setelah panjang barulah dapat disebut iqlab.31

(4) Ikhfa’ Hakiki

Ikhfa’ berarti menyembunyikan (menyamarkan). Sedangkan hakiki artinya sungguh- sungguh. Ikhfa’ hakiki adalah pengungkapan huruf dengan sifat antara idzhar dan idgam yang tersembunyi

30 Marzuki dan Sun Choirul Ummah, Dasar-Dasar Ilmu Tajwid, 72.

31 Nur’aini, Metode Pengajaran Al-Qur’an dan Seni Baca Al-Qur’an dengan Ilmu Tajwid (Semarang, CV Pilar Nusantara, 2020), 68.

(45)

dari tasydid dengan mendengungkan huruf pertama.32 Jumlah huruf ikhfa’ ada 15, yaitu

ش س ز ذ د ج ث ت

ك ظ ط ف ق ض ص

. Contoh bacaan ikhfa hakiki:

ْيِّرَْتَ تَّنَج

Cara membaca ikhfa hakiki adalah suara nun sukun atau tanwin masih tetap terdengar tetapi samar- samar antara idzhar dan idgham dan terus bersambung dengan makhraj huruf sesudahnya, sehingga terdengar seperti ‘ng’ apabila bertemu

ك ق

dan adakala terdengar seperti suara ‘ng’ dan ‘ny’ jika bertemu

ف ش س ز ذ ث ظ

dan adakala terdengar seperti ‘ny’ apabila bertemu

huruf dan adakala tetap berbunyi nun jika bertemu

ج

dengan huruf

ظ ض د ت

.33

32 Marzuki dan Sun Choirul Ummah, Dasar-Dasar Ilmu Tajwid, 4.

33 Marzuki dan Sun Choirul Ummah, Dasar-Dasar Ilmu Tajwid, 74.

(46)

b) Hukum Mim Sukun

Hukum mim mati ketika bertemu huruf hijaiyyah terbagi menjadi 3 hukum, yaitu: idgam mimi atau idgham mutamatsilain, ikhfa’ syafawi dan idzhar syafawi.

(1) Idgham Mimi

Idgham mimi dapat disebut juga dengan idgham mitsli atau idgham mutamatsilain. Idgham mimi terjadi apabila mim sukun bertemu dengan huruf mim (

م

),

seperti contoh:

ٌضَرَّم ْمِِّّبّْوُلُ ق ِّْفِ

Cara membaca idgham mimi adalah menyuarakan huruf mim menjadi satu seolah-olah menjadi mim bertasydid dan wajib disertai dengan dengung.34

(2) Ikhfa’ Syafawi

Ikhfa’ syafawi yaitu menyamarkan bacaan di bibir karena hurufnya keluar dari bibir.35 Ikhfa’ syafawi terjadi apabila mim sukun bertemu dengan huruf ba’

(

ب

). Contoh bacaan ikhfa’ syafawi adalah

ةَرا َجِِّّبِ ْمِّهْيِّمْرَ ت .

34 Mursal Aziz dan Zulkipli Nasution, Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an:

Memaksimalkan Pendidikan Islam Melalui Al-Qur’an (Medan: CV Pusdikra Mitra Jaya, 2020), 50.

35 Marzuki dan Sun Choirul Ummah, Dasar-Dasar Ilmu Tajwid, 86.

(47)

Adapun cara membacanya yakni dengan menyamarkan bacaan mim sukun disertai dengan dengungan.36

(3) Idzhar Syafawi

Idzhar syafawi terjadi apabila mim sukun bertemu dengan huruf-huruf selain mim (

م

) dan ba’

(

ب

). Adapun huruf-huruf tersebut yaitu

خ ح ج ث ت ا

ي ه و ن م ل ك ق ف غ ع ظ ط ض ص ش س ز ر ذ د

.

Cara membaca idzhar syafawi yakni bunyi mim disuarakan dengan terang dan jelas tanpa berdengung di bibir dengan mulut tertutup baik dalam satu atau dua kalimat37 seperti

َتْمَعْ نَا

ataupun

ٌرَنَ ْمِّهْيَلَع.

2) Ahkamul Maddi Wal Qashr

Mad secara bahasa berarti menambah. Menurut istilah, mad berarti memanjangkan suara pada salah satu huruf mad.38 Huruf mad terbagi menjadi 3 macam, yaitu alif, wawu dan ya’ (

ا ي و

). Dinamakan dengan huruf mad, karena di dalamnya

36 Mursal Aziz dan Zulkipli Nasution, Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an:

Memaksimalkan Pendidikan Islam Melalui Al-Qur’an, 49.

37 Mursal Aziz dan Zulkipli Nasution, Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an:

Memaksimalkan Pendidikan Islam Melalui Al-Qur’an, 46.

38 Muhammad Mahmud Abdullah, Metode Membaca, Menghafal, dan Menajwidkan Al- Qur’an Al-Karim (Yogyakarta: Laksana, 2021), 260.

(48)

terdapat proses pemanjangan dan penggandaan suara huruf untuk memperluas tempat keluarnya huruf-huruf tersebut.

Secara garis besar, mad dalam ilmu tajwid terbagi menjadi 2 macam, yakni mad thobi’i dan mad far’i.

a) Mad Thabi’i

Mad thabi’i juga disebut dengan mad asli.

Dinamakan dengan mad asli karena sesuatu yang menjadi zatnya suatu huruf, sehingga zat tersebut menjadi tidak ada kecuali dengannya (sifat asal huruf) serta tidak bergantung kepada suatu sebab yang lain.39

Mad thabi’i terjadi ketika ada huruf yang berharakat fathah kemudian diikuti huruf alif (

ا

), atau kasrah diikuti ya’

sukun (

ْي

) atau dhummah diikuti wawu sukun (

ْو

). Cara

membacanya dengan dipanjangkan dua harakat, baik ketika meneruskan atau menghentikan bacaan. Adapun contohnya yaitu:

َلاَق : ا ُرْوُفَغ : ْو ُمْيِّحَر : ْي

39 Muhammad Mahmud Abdullah, Metode Membaca, Menghafal, dan Menajwidkan Al- Qur’an Al-Karim, 260.

(49)

b) Mad Far’i

Mad far’i adalah mad yang panjangnya melebihi mad asli yang disebabkan oleh adanya huruf hamzah atau sukun.40 Pembagian dari mad far’i adalah:

(1) Mad Wajib Muttashil

Mad wajib muttashil adalah mad yang terjadi karena setelah huruf mad terdapat huruf hamzah yang bersambung dalam satu kalimat. Cara membaca mad wajib muttashil yaitu dipanjangkan sekitar 5 harakat atau lima kali gerakan jari tangan dengan sedang.

Contoh bacaan mad wajib muttashil:

َءآَج اَذِّا

(2) Mad Jaiz Munfashil

Disebut mad jaiz munfashil karena mad asli bertemu dengan huruf hamzah bukan dalam satu kalimat, seperti:

ُساَّنلا اَهُّ يَا َيَ

Ada 3 macam panjang dari bacaan mad jaiz munfashil:

(a) 1 alif atau 2 harakat, ketika membaca cepat (b) 2 alif atau 4 harakat, ketika membaca sedang (c) 212 alif atau 5 harakat, ketika membaca cepat.

40 Muhammad Mahmud Abdullah, Metode Membaca, Menghafal dan Menajwidkan Al- Qur’an Al-Karim, 261.

(50)

(3) Mad ‘Arid Lissukun

Mad arid lissukun adalah bacaan panjang karena ada huruf mad bertemu dengan huruf sukun yang disebabkan waqaf dan terjadi di akhir ayat.

Apabila tidak dalam keadaan waqaf, maka tetap dibaca mad thabi’i. Adapun cara membaca mad arid lissukun terbagi menjadi 3 macam:

(a) Tul (panjang) yaitu 3 alif atau 6 harakat (b) Tawassuth (sedang) yaitu 2 alif atau 4 harakat (c) Qasar (pendek) yaitu 1 alif atau 2 harakat Contoh bacaan mad arid lissukun:

ْرْوُكَش

diwaqafkan

ٌرْوُكَش

(4) Mad ‘Iwad

Mad ‘iwad artinya fathatain yang berada di akhir kalimat dan dibaca waqaf. Cara membacanya dengan dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat, seperti:

اَْيِّْبَك

Diwaqafkan

ااْيِّْبَك

(5) Mad Badal

Badal artinya pengganti. Disebut dengan mad badal karena yang sebenarnya huruf mad yang asalnya hamzah yang jatuh sukun kemudian diganti menjadi ya atau alif atau wawu. Mad badal terjadi

(51)

apabila hamzah bertemu dengan huruf mad. Maka cara membacanya yaitu dengan dipanjangkan 1 alif atau 2 harakat, contohnya:

اْوُ تْؤُأ

asalnya

اْوُ تْوُأ

(6) Mad Lazim Mutsaqqal Kilmy

Mutsaqqal berarti diberatkan. Mad lazim mutsaqqal kilmy merupakan bacaan panjang dikarenakan bertemunya huruf mad dengan tasydid dalam satu kalimat. Cara membacanya dipanjangkan 3 alif atau 6 harakat, seperti:

َْيِّ لآ ضلا َلََو

(7) Mad Lazim Mukhaffaf Kilmy

Mukhaffaf artinya diringankan. Mad lazim mukhaffaf kilmy terjadi karena huruf mad bertemu dengan huruf berbaris sukun dalam satu kalimat. Cara membacanya dengan memanjangkan mad 3 alif atau 6 harakat, dilanjutkan dengan membaca mad setelahnya dengan ringan. Adapun contohnya:

َنَئْلآ

asalnya

َنَئْلَاآ

(8) Mad Lazim Mutsaqqal Harfi

Mad lazim mutsaqqal harfi merupakan bacaan panjang pada permulaan surat. Mad ini ditandai

(52)

dengan “alis” (~) yang dibaca panjang dengan 3 alif atau 6 harakat. Apabila ada tanda tasydid, maka cara membacanya dengan diidghamkan kepada huruf yang berada di hadapannya. Contohnya:

ۤصۤعٰ يٰه ۤك

(9) Mad Lazim Mukhaffaf Harfi

Mad lazim mukhaffaf harfi adalah bacaan panjang pada permulaan surat yang tandanya fathah berdiri. Cara membacanya dibaca panjang 1 alif atau 2 harakat dengan ringan. Adapun contohnya:

ۤسٰط

(10) Mad Farqi

Pada lafadz

ِّنْيَرَكَّذلا ۤ

ٰء ْلُق

terdapat mad farqi, yang berfungsi memisahkan antara istifham (kalimat pertanyaan) dan khabar (kalimat berita).41 Huruf hamzah pada lafadz tersebut berfungsi sebagai istifham dan dipanjangkan 6 harakat.

(11) Mad Layyin

Mad layyin adalah memanjangkan huruf wawu dan ya sukun, apabila huruf sebelumnya berharakat fathah dan huruf sesudahnya berharakat sukun ‘aridh,

41 Muhammad Mahmud Abdullah, Metode Membaca, Menghafal, dan Menajwidkan Al- Qur’an Al-Karim, 267.

(53)

yaitu disukunkan karena menghentikan bacaan.42 Sebaliknya, mad ini selamanya tidak dibaca panjang ketika meneruskan bacaan, seperti dalam lafadz:

ْفْوَخ

diwaqafkan

ٌفْوَخ

(12) Mad Shilah Qashirah

Secara bahasa, qashirah artinya pendek.

Menurut istilah, mad shilah qashirah yaitu apabila sebelum ha’ (dhamir) ada huruf yang berharakat dan disyaratkan tidak disambungkan dengan huruf berikutnya dan tidak pula bertemu dengan hamzah yang berharakat. Cara membacanya dengan dipanjangkan dua harakat atau satu alif, baik ha’

dhamir tersebut berharakat dhummah maupun kasroh.

Harakat ha’ dhamir dalam mad shilah qashirah biasanya ditulis dalam bentuk dhummah terbalik atau fathah kasroh berdiri. Contoh mad shilah qashiroh, yaitu: ٌةَيِّواَه ه ُّمافَ

(13) Mad Shilah Tawilah

Secara bahasa, tawilah artinya panjang.

Menurut istilah, mad shilah tawilah yaitu apabila

42 Muhammad Mahmud Abdullah, Metode Membaca, Menghafal, dan Menajwidkan Al- Qur’an Al-Karim, 266.

(54)

setelah ha’ (dhamir) terdapat hamzah qath’i. adapun cara membacanya dengan dipanjangkan lima harakat atau dua setengah alif, baik ha; dhamir tersebut berharakat dhummah maupun kasroh. Contoh bacaan mad shilah thawilah yaitu: هَدَلْخَا ٗٓ هَلاَم َّنَا ُبَسْحَي

(14) Mad Tamkin

Mad tamkin terjadi apabila dua huruf ya’

saling bertemu dalam satu kata, huruf ya’ yang pertama berharakat kasroh dan bertasydid, sedangkan huruf ya’ yang kedua berharakat sukun. Cara membaca mad tamkin adalah dengan memantapkan bunyi tasydid pada huruf ya’ yang pertama.

Selanjutnya bacaan dipanjangkan saat menghadapi huruf madnya, yaitu huruf ya’ kedua yang berharakat sukun. Panjangnya dua harakat atau satu alif. Contoh bacaan mad tamkin, yaitu:

َْي ِّي ِّلِّع ْيِّفَل

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.43 Salah satu komponen penelitian yang penting yaitu me

Gambar

Tabel 2.1 Orisinalitas Penelitian ...................................................................
Tabel 2.1   Orisinalitas Penelitian
Gambar 4.1 Buku tartila jilid 1-6
Gambar 4.3 Buku hafalan santri
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa implementasi active learning dalam pembelajaran Fiqh di SMP Al-Islam 1 Surakarta. menggunakan metode yang bervariasi antara lain,

Jadi dari hasil penelitian ini yang menunjukkan metode pembelajaran Joyfull Learning berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik kelas V mata pelajaran Ilmu Pengetahuan

(IMPLEMENTASI METODE “AL-MIFTAH LIL ULUM” DALAM MEMAHAMI KITAB KUNING DI MADRASAH DINIYAH MIFTAHUL ULUM AMBAL AMBIL KEJAYAN PASURUAN) Adalah hasil karya saya dan dalam

Dalam pengajarannya secara umum Metode Pembelajaran Baca al-Qur’an di TPA Bani Lathif ini dibagi menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu: Tahap pertama, selama tiga bulan

Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui peranan metode pembelajaran dalam materi ilmu tajwid maka perlu dilakukan penelitian mengenai Perbandingan

Dalam penelitian ini peneliti memberikan gambaran secara menyeluruh tentang Implementasi Metode Bani Lathif dalam Pembelajaran Baca al- Qur’an di Taman Pendidikan

Faktor penghambat di atas dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, seperti faktor lingkungan sosial di pondok bustanul ulum bulugading seperti tidak adanya