IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN BERFIKIR KRITIS
KELAS VII SMPN 1 PARENGGEAN
Fathur Rahman1 IAIN Palangka Raya E-mail: [email protected]
Abstract
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Parenggean dengan tujuan untuk meningkatkan berfikir kritis peserta didik kelas VII melalui Pembelajaran Problem Based Learning pada materi Rukhsah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar PAI. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Parenggean, Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik berjumlah 21 peserta didik, terdiri dari 11 laki-laki dan 10 perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penerapan Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan Berfikir Kritis peserta didik. Hal ini terlihat dari nilai yang diperoleh peserta didik pada masing-masing siklus. Pada siklus I ke siklus II dalam kegiatan menyimak dari 68 %menjadi 88%, kegiatan Bertanya dari 65% menjadi 85%, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 67% menjadi 88%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari 65% menjadi 77%, kegiatan menceritakan kembali tema dari 66% menjadi 76%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan dari 75% menjadi 85%.
Kata Kunci : berfikir kritis,model pembelajaran problem based learning
Pendahuluan
Pendidikan sebagai suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi manusia seutuhnya berjiwa Pancasila. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional juga menyatakan sebagai berikut:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Pendidikan juga merupakan suatu sarana yang paling efektif dan efisien dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk mencapai suatu dinamika yang diharapkan.Pendidikan mempunyai peranan penting sebagai ujung tombak dalam menentukan masa depan bangsa. Bangsa tanpa pendidikan tidak
akan ada penerus cita-cita luhur untuk mencapai kesejahteraan. Melalui pendidikan yang berkualitas maka masyarakat mempunyai peranan dalam melakukan perubahan dan pembangunan bangsa. Pendidikan yang berkualitas dapat ditempuh melalui Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi.( Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2017 )
Guru sebagai komponen penting dari tenaga kependidikan, memiliki tugas untuk melaksanakan proses pembelajaran, dan siswa merupakan salah satu objek dari pembelajaran tersebut. Menurut PP No. 19 Tahun 2005 pada pasal 19 disebutkan bahwa pada proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat dan pengembangan fisik serta psikologis peserta didik. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Sistematika dalam melakukan proses pengajaran perlu dikuasai oleh setiap pendidik, sehingga diharapkan siswa mampu memahami dan mengerti dalam setiap materi yang diajarkan. Suatu materi perlu memiliki pola pembelajaran dan metode pengajaran yang baik agar materi dapat tersampaikan secara keseluruhan. Keterbatasan memperoleh informasi dan pengetahuan dari media lain, karena kurangnya pemanfaatan fasilitas yang telah disediakan. Penggunaan fasilitas perpustakaan dan media internet masih terbatas dan kurang digunakan secara optimal. Hal ini menyebabkan minimnya pengetahuan yang dimiliki siswa, sehingga pengetahuan siswa tidak berkembang secara optimal dengan wawasan yang luas di bidangnya. Perlunya pemantapan kreativitas guru dalam penggunaan metode pembelajaran dapat menyebabkan sistem pengajaran lebih baik dan tidak bersifat monoton.
Hasil observasi Pelaksanaan proses pembelajaran di kelas VII SMPN 1 Parenggean pada mata pelajaran PAI materi Rukhsah menunjukan peserta didik saat proses pembelajaran berlangsung. kemampuan berpikir kritis yang didapat belum sesuai dengan yang diharapkan. Karena pada saat pembelajaran terdapat siswa yang masih kurang dalam memahami materi, kurang dalam mengenal ataupun memecahkan sebuah permasalahan dan kurang menanggapi sebuah permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran, seharusnya siswa diberikan kebebasan untuk berlatih mengemukakan pendapat dan mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri.
Solusi yang dapat ditawarkan terhadap permasalahan yang ada yaitu dengan menggunakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan Berpikir kritis peserta didik, yaitu model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurut Duch (Shoimin 2014, hlm. 130) menyatakan bahwa: “Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.”
Model pembelajaran problem based learning dipandang mampu memberikan pemahaman terhadap suatu masalah dan mampu melatih siswa dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, model pembelajaran ini menawarkan sejumlah solusi kepada guru untuk menjadikan pembelajaran itu menarik, berkualitas dan bermakna bagi siswa. Dengan demikian model problem based learning merupakan suatu model pembelajaran yang dipandang relevan untuk dikembangkan dalam merealisasikan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka penerapan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menjadi salah satu alternatif yang efektif sebagai upaya untuk meningkatkan berfikir kritis peserta didik kelas VII SMPN 1 Parenggean.
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Research Action atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Sanjaya (2015), Penelitian Tindakan Kelas dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh perlakuan tersebut. Tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki proses pembelajaran di kelas, ada tujuan penyerta yang dapat dicapai sekaligus berupa terjadinya proses latihan dalam jabatan selama proses PTK berlangsung.
Lokasi penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Parenggean, kecamatan Parenggean yang terletak di Jalan Bahtera, Kecamatan Parenggean Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan juli 2023.
Adapun yang menjadi Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMPN 1 Parenggean tahun pelajaran 2023/2024 dengan jumlah peserta didik 21 anak, 11 laki-laki dan 10 perempuan. untuk kevalidan data yang diperlukan.Prosedur yang dipakai dalam pengumpulan data adalah tes,observasi dan dokumentasi.
Teknik Analisis data menggunakan jenis data kuantitatif dan data kualitatif. Sehingga teknik analisis data yang dilakukan ada dua, yaitu analisis data secara kuantitatif dan analisis secara kualitatif. Analisis data tes formatif menggunakan rumus sebagai berikut:
Untuk menghitung rata-rata hasil tes digunakan rumus berikut : Setyosari (2013, hlm. 243)
X = Σx Ν Keterangan:
X = Nilai rata-rata yang dicari
Σx = Jumlah skor yang diperoleh N = Jumlah siswa
Dengan kriteria sebagai berikut:
Tabel 1
Kategori Berpikir Kritis
Presentase Kategori kemampuan
siswa
91% ≤ A ≤ 100% A (Sangat Baik)
76% ≤ B < 90% B (Baik)
56% ≤ C < 75% C (Cukup)
41% ≤ D < 55% D (Kurang)
0% ≤ E < 40% E (Buruk)
Rancangan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.(Musa’adah, 2020).
Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui penerapan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar PAI peserta didik materi Rukhsah.
Pra Siklus
Berdasarkan data Observasi berpikir kritis Peserta didik sebelum melakukan tindakan/pra siklus diperoleh hasil yang jauh dari harapan, karena masih banyak peserta didik yang tingkat berpikir Kritisnya masih rendah.
Siklus 1
Hasil dari pelaksanaan pra siklus digunakan untuk melaksanakan tindakan perbaikan pada siklus I. Kegiatan penelitian pada siklus I terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Pada tahap perencanaan peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut: (1) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari Modul Ajar (MA) dan media pembelajaran. Materi yang disampaikan yaitu tentang Rukhsah Guru
menyusun instrumen sebagai pengumpul data yaitu berupa lembar observasi pembelajaran, dan tes berpikir kritis. menyusun Lembar Kerja Kelompok (LKK) berupa tugas menelaah apa saja kemudahan/keringanan dalam ibadah seperti sholat, puasa, zakat dan haji dengan penerapan PBL dan menyusun alat evaluasi. Pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah dibuat, kegiatan pembelajaran siklus I pada mata pelajaran PAI dilaksanakan dengan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Jumlah peserta didik yang hadir adalah sebanyak 21 orang peserta didik. guru akan mengamati dan mencatat apa saja yang terjadi saat proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan poin-poin yang telah tersedia di lembar observasi. Hasil pengamatan proses pembelajaran akan terekam dalam lembar observasi pelaksanaan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Hasil pengamatan ini, akan dijadikan dasar dalam tahap refleksi. (1) Pendahuluan, Mempersiapkan media/ alat peraga/ bahan berupa LCD Projector, Speaker aktif, Notebook, CD pembelajaran interaktif, kertas karton, spidol atau media lain. dengan Menggunakan Power point dengan Link https://docs.google.com/presentation/d/1G3l6c_ZvuW3lBwUdESvW5yOqF89 V9bqHQS-MsH2k2oc/edit?usp=sharing, Kemudian Guru membuka pembelajaran dengan salam dan berdo’a, pembacaan al-Qur’an dengan surat/
ayat pilihan, memperhatikan kesiapan peserta didik, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi, dan tempat duduk peserta didik, setelah itu Guru memberikan motivasi dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran, menyampaikan cakupan materi, tujuan, dan kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup dan teknik penilaian, Mengkondisikan peserta didik untuk duduk secara berkelompok. Kegiatan Inti, Guru meminta peserta didik untuk Menyaksikan Video yang dalam bentuk link terhubung ke youtube https://youtu.be/Toz81U4gVlE setelah itu peserta didik mampu menimbulkan beberapa pertanyaan, Guru meminta peserta didik untuk mengamati Infografis. Infografis bab 9 menyajikan garis besar materi tentang memahami makna rukhsah,rukhsah dalam salat, zakat, puasa, dan haji, dan hikmah rukhsah. Selanjutnya guru meminta peserta didik untuk membaca Pantun Pemantik. Pada bab 9, Pantun Pemantik berisi pantun untuk mendukung pemahaman bermakna pada topik yang dibahas. Setelah membaca Pantun Pemantik peserta didik diminta menuliskan pesan dari pantun tersebut.Guru meminta peserta didik untuk membaca rubrik Mari bertafakur yang berisi tentang Allah Swt., memberikan kemudahan (rukhsah).Setelah membaca rubrik Mari Bertafakur, peserta didik diminta menuliskan pertanyaan sebagaimana pada tabel yang ada di buku teks, Peserta didik membentuk kelompok secara heterogen (setiap kelompok terdiri dari 5 orang).Guru meminta peserta didik untuk menganalisis Rukhsah dalam Ibadah. (Mencoba), Peserta didik berdiskusi tentang Rukhsah dalam beribadah (Menalar), Guru membantu mengarahkan peserta didik menemukan Rukhsah dalam Ibadah Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi dari buku, jurnal atau artikel ilmiah sebagai pustaka pendukung terkait Rukhsah dalam Ibadah Guru mendampingi dan
melakukan penilaian saat peserta didik sedang diskusi terkait penugasan dalam bentuk tulisan yang akan dipresentasikan dan didiskusikan dengan kelompok lain.setelah itu Guru memberikan Tugas Pengetahuan Berupa soal Pilihan Ganda.Penutup, Guru dan peserta didik melakukan refleksi terkait seluruh proses belajar yang sudah dilaksanakan.kemudian Guru memberikan apresiasi berupa reward kepada peserta didik yang memiliki kinerja baik.Guru mengingatkan peserta didik tentang materi selanjutnya.Guru dan peserta didik bersama-sama mengucapkan hamdallah dan pengakuan terhadap kekurangan dengan menyebutkan wallahu A’lam bi al shawab.
Berpikir kritis peserta didik Pada siklus I dalam kegiatan menyimak Pelajaran dengan konsentrasi dari 68 %, kegiatan Bertanya Mengenai Pembelajaran yang diberikan dari 65%, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 67%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa dari 65%, kegiatan menceritakan kembali tema pembelajaran yang diberikan dari 66%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan dari 75%.
Refleksi, setelah peneliti melaksanakan penelitian melalui perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan, peneliti menemukan beberapa evaluasi dan refleksi sebagai bahan perbaikan untuk siklus selanjutnya, diantaranya:
Kegiatan pembelajaran belum berjalan lancar karena kondisi kelas masih belum kondusif dan masih ada beberapa peserta didik yang kurang memahami model pembelajaran ini, karena lambat dalam berfikir dan ada yang tidak memperhatikan penjelasan guru. Pada saat melakukan diskusi kelompok terlihat dalam satu kelompok tidak semua peserta didik mendiskusikan permasalahan dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru, ada sebagian peserta didik masih sibuk bermain sendiri. Hal tersebut disebabkan karena peserta didik masih tergantung dengan teman satu kelompoknya dan cenderung mengandalkan yang lain. Dalam menyampaikan atau menjawab pertanyaan dari guru sebagian peserta didik masih malu-malu untuk mengemukakan pendapatnya walaupun jawabannya berbeda dengan jawaban anggota kelompok yang lain.
Oleh karenanya guru harus aktif mengecek hasil pekerjaan peserta didik, menunjuk peserta didik yang berbeda untuk mengemukakan pendapatnya kepada teman yang lainya.
Dari hasil refleksi siklus I, maka perbaikan yang diperlukan adalah: Guru memperingatkan peserta didik untuk lebih memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru, sehingga peserta didik diharapkan benar-benar paham terhadap materi yang baru saja selesai dibahas agar dapat mengerjakan tes dengan nilai yang memuaskan.Untuk mengatasi masih adanya peserta didik yang kurang aktif dan individual, guru mengingatkan dan membimbing kembali betapa pentingnya anggota kelompok untuk saling bekerja sama.Guru memberikan motivasi dan semangat kepada peserta didik agar berani bertanya dan memberikan argumen saat pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil pengamatan, hasil tes yang diperoleh dan refleksi yang telah dilakukan, Berpikir kritis peserta didik belum maksimal perlu
dilanjutkan ke siklus II.
Siklus 1I
Siklus II dilaksanakan untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus I, terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil Belajar Peserta Didik siklus II mengalami peningkatan dalam kegiatan menyimak Pelajaran dengan konsentrasi 88%, kegiatan Bertanya Mengenai Pembelajaran yang diberikan dari 85 %, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 88%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa 77%, kegiatan menceritakan kembali tema pembelajaran yang diberikan 76%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan 85%.
N N
o
Aktivitas Siklu
s I
Siklus II 1
1.
Kegiatan menyimak pelajaran
dengan konsentrasi 70 % 88%
2 2.
Anak bertanya mengenai pembelajaran yang diberikan
65 % 85%
3 3.
Anak menjelaskan satu bukti sebelum mengambil tindakan
67% 88%
4 4.
Anak mampu menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah
peristiwa
65% 73%
5 5.
Anak dapat menceritakan kembali
tema pembelajaran yang diberikan 66% 75%
6 6.
Kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan
75% 85%
Refleksi Penggunaan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam materi Rukhsah pada siklus II telah
Tabel 1.
Aktivitas Berfikir Kritis Siswa
terlaksana secara optimal. Hal tersebut dapat diketahui dengan memperhatikan semua peserta didik sudah terbiasa menggunakan model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Seluruh peserta didik dapat menjaga kekompakan dan kerjasama seluruh anggota kelompok pada proses pembelajaran. Hal itu juga dapat dibuktikan dengan hasil tes Berpikir kritis peserta didik pada akhir siklus II yang mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tes siklus I. Upaya perbaikan pada siklus II secara umum dapat dikatakan berhasil karena kriteria keberhasilan pada penelitian ini yaitu Pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik dengan ketuntasan belajar 76%, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan peneliti yaitu ≥ 76%.
Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II. hasil belajar peserta didik pada siklus I menunjukkan peningkatan berpikir kritis peserta didik 21 peserta didik pada Pada siklus I dalam kegiatan menyimak Pelajaran dengan konsentrasi dari 68 %, kegiatan Bertanya Mengenai Pembelajaran yang diberikan dari 65%, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 67%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa dari 65%, kegiatan menceritakan kembali tema pembelajaran yang diberikan dari 66%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan dari 75%, Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dalam kegiatan menyimak Pelajaran dengan konsentrasi 88%, kegiatan Bertanya Mengenai Pembelajaran yang diberikan dari 85 %, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 88%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa 77%, kegiatan menceritakan kembali tema pembelajaran yang diberikan 76%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan 85%. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan setelah diterapkannya model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Kesimpulan
Peningkatan dalam kegiatan menyimak Pelajaran dengan konsentrasi dari 70% menjadi 88%, kegiatan Bertanya Mengenai Pembelajaran yang diberikan dari 65% menjadi 85 %, kegiatan menjelaskan bukti sebelum mengambil tindakan dari 67% menjadi 88%, kegiatan menjelaskan hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa dari 65% menjadi 73%, kegiatan menceritakan kembali tema pembelajaran yang diberikan dari 66% menjadi 75%, kegiatan menyampaikan pendapat, menanggapi dan menyimpulkan dari 75% menjadi 85%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat membantu meningkatkan berpikir kritis siswa kelas VII SMPN 1 Parenggean.
Referensi
Hamadayama, Jumanta. (2016).Aktivitas berpikir kritis. Jakarta: Bumi Aksara.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. ( 2017 ).
Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti.Kelas XI.
Musa’adah. ( 2020 ). Rancangan Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
Sanjaya. (2015). Model Pengajaran Dan Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia.
Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Jakarta:
Pernadamedia:2016.
Shoimin. (2014).Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media
Trianto (2015). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.