• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Rangka Penanganan Kemisikan Oleh Dinas Sosial Kabupaten Berau (Studi Kasus di Kecamatan Tanjung Redeb)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Rangka Penanganan Kemisikan Oleh Dinas Sosial Kabupaten Berau (Studi Kasus di Kecamatan Tanjung Redeb)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

854 Volume 7, Nomor 3, November 2023

Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Rangka Penanganan Kemisikan Oleh Dinas Sosial Kabupaten Berau

(Studi Kasus di Kecamatan Tanjung Redeb)

Ida Rugayah

1)

, Muhammad Jamal Amin, Suroyo.

Universitas Terbuka, Jl. H.A.M.M. Rifaddin, Kec. Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia [email protected]1)

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implementasi kebijakan Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Pemkab Berau melalui Dinas Sosial dalam rangka penanganan kemisikinan di Kabupaten Berau yang difokuskan pada studi kasus di Kecamatan Tanjung Redeb. Beberapa temuan utama dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Faktor pendukung kegiatan PKH di Kabupaten Berau yaitu : 1.

Komunikasi, Adanya pedoman umum dalam melaksanakan/merealisasikan PKH sehingga pelaksanaannya menjadi terarah; 2. Sumberdaya, Tersedianya tenaga pendamping dan operator pada tingkat kecamatan sehingga dapat menjangkau lebih banyak tempat dan mudah berkoordinasi; 3.

Disposisi, Dukungan dari segi anggaran dan fasilitas yang sangat besar dari Pemerintah Daerah sehingga pelaksanaan PKH menjadi maksimal. Ketiga. Faktor penghambat PKH di Kabupaten Berau yaitu : 1. Sumberdaya, Tidak adanya kantor sekretariat Unit Pelaksana PKH di tingkat kecamatan; 2.

Disposisi, Tidak adanya pengangkatan PNS bagi tenaga pendamping PKH; 3. Sumberdaya, Tidak adanya insentif bulanan dikarenakan tenaga pendamping masih berstatus Non ASN. Berdasarkan temuan, maka disarankan : (1) Pembuatan Unit Pelaksanan Teknis (UPT) PKH di tiap Kecamatan; (2) Membuat program kemandirian yang tepat untuk KPM; (3) Perlunya membuat formasi CPNS/PPPK untuk tenaga pendamping sehingga ada keberlanjutan karena kalau dari Non ASN sewaktu-waktu bisa resign/keluar. (4) Perlu adanya insentif bulanan untuk meningkatkan motivasi kerja tenaga pendamping PKH.

Kata Kunci : Program Keluarga Harapan (PKH), Kemiskinan, Berau

Abstract

This research was conducted to determine the implementation of the Family Hope Program (PKH) policy by the Berau Regency Government through Social Service in handling poverty in the Berau Regency, which focused on case studies in Tanjung Redeb District. Some of the main findings in this study are as follows: Supporting factors for PKH activities in Berau Regency, namely: 1. Communication, there are general guidelines for implementing/realizing PKH so that the implementation is directed; 2. Resources, Availability of assistants and operators at the sub-district level so they can reach more places and make coordination easier; 3. Disposition, support in terms of budget, and very large facilities from the Regional Government so that the implementation of PKH is maximized. Third. The inhibiting factors for PKH in Berau Regency are: 1. Resources, There is no PKH Implementation Unit secretariat office at the sub- district level, 2. Disposition, there is no appointment of civil servants for PKH assistants; 3. Resources.

There is no monthly incentive because the accompanying staff is still Non-ASN status. Based on the

(2)

855 Volume 7, Nomor 3, November 2023

findings, it is recommended: (1) Establish PKH Technical Implementation Units (UPT) in each District; (2) Making the right self-reliance program for KPM; (3) The need to make CPNS/PK formations for assistant staff so that there is continuity because non-ASN employees can resign/leave at any time. (4) There needs to be a monthly incentive to increase the work motivation of PKH assistants.

Keywords: Family Hope Program (PKH), Poverty, Berau

PENDAHULUAN

PKH adalah program pemberian dana tunai dengan syarat yang pertama kali diluncurkan oleh pemerintah pada tahun 2007. Tujuan pemberian bantuan keuangan ini agar para keluarga miskin mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan, hal ini berujung pada peningkatan kualitas manusia.

PKH diharapkan dapat meringkankan pengeluaran rumah tangga bagi orang yang miskin dan menjadi investasi dalam bidang pendidikan maupun bidang kesehatan yang berguna bagi generasi selanjutnya.

Pemerintah menggunakan kolaborasi bantuan berjangka pendek dan panjang ini untuk mengakhiri kemiskinan para penerima PKH (Nazara dan Rahayu, 2013).

Program rintisan ini terbatas dan mencakup hanya beberapa keluarga dan wilayah. Akibatnya, implementasi program ini lamban pada awal kebijakan. Melalui kantor Wakil Presiden Republik Indonesia serta Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mulai mendorong perluasan cakupan PKH sejak tahun 2010. Hal Ini telah menghasilkan keefektifan dalam program serta memiliki dampak yang positif bagi orang miskin. Penerima manfaat program PKH tahun 2007 berasal dari keluarga yang sangat miskin dimana angkanya berada di bawah 80 persen dari garis kemiskinan.

Dikarenakan ini merupakan program baru, cakupannya terbatas. Dibandingkan dengan 60 juta keluarga miskin yang ada di Indonesia, 6,5 juta keluarga yang hidup dalam ambang batas kemiskinan, program ini hanya dapat berkontribusi terhadapt 1,5 juta keluarga pada tahun 2012. Pada akhir tahun 2014, PKH diproyeksikan dapat berkontribusi terhadap 3,2 juta rumah tangga. (Suleman dan Resnawaty, 2010).

Indikator Makro Pembangunan kabupaten Berau tahun 2016-2017 meliputi : IPM (Indeks Pembangunan Manusia), tingkat kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, emisi Karbo dan Opini BPK. Target capaian tingkat kemiskinan kabupaten Berau tahun 2016 adalah sebesar 4,76% dan realisasi sebesar 5,33%. Pada tahun 2017 pemkab Berau dalam RPJMD menargetkan angka kemiskinan sebesar 4,51%

dan realisasi sebesar 5,41%. Angka kemiskinan di Kabupaten Berau mengalami kenaikan dari tahun 2014-2017 bisa dilihat pada tahun 2016 sebsar 5,33 % dan tahun 2017 sebesar 5,41 %. Namun pada tahun 2018 angka kemiskinan menurun yaitu 5,04 %. Pada tahun 2019 angka kemiskinan tetap pada 5,04 % namun mengalami kenaikan pada tahun 2020 5,19 % (Bapplitbang, 2021). Kenaikan angka kemiskinan ini harus menjadi perhatian para pengambil kebijakan karena tidak menutup kemungkinan bahwa angka kemiskinan ini akan kembali naik di masa depan, dan angka ini dapat dijadikan pelecut dalam mengambil kebijakan.

Salah satu program yang dijalankan untuk menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Berau adalah Program Keluarga Harapan. Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Berau di mulai dimana hanya 3 kecamatan yang termasuk ke dalam penerimanya yaitu Kecamatan Biduk-biduk, Gunung Tabur, dan Sambaliung. Menurut data dari Dinas Sosial Kabupaten Berau, sejak 2016 Program PKH telah dilaksanakandi 13 Kecamatan atau di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Berau.

Jumlah KPM dari 2016-2018 selalu mengalami kenaikan berturut-turut sebesar 2443, 3566, 3647. Dari Jumlah tersebut jumlah KPM di Kecamatan Tanjung Redeb pada tahun 2015-2018 sebesar 41, 123, 121, 216.

Target angka kemiskinan yang selalu tidak tercapai setiap tahunnya, membuat peneliiti untuk mengkaji dan meniliti implementasi/penerapan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Berau, karena seperti yang disebutkan diatas PKH menjadi satu dari kebijakan/prgram kerja yang dijalankan untuk pengentasan kemiskinan.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mencoba mendeskripsikan Implementasi Program Keluarga Harapan terhadap penanganan kemiskinan oleh Dinas Sosial Kabupaten Berau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari informan yang diteliti.

(3)

856 Volume 7, Nomor 3, November 2023

Sumber data pada penlitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung oleh penulis di lapangan yang memiliki kaitan terhadap tugas pokok dan fungsi dalam penyelenggaraan Program Keluarga Harapan. Penulis mengumpulkan data primer melalui wawancara, observasi, dan temuan dari wawancara tersebut. Penulis menggunakan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Berau, Kepala Seksi PKH, Aparat Kecamatan, Pendamping PKH, Peserta PKH, dan Tokoh Masyarakat sebagai sumber data utama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Berau

Secara teknis, berbagai kementerian dan lembaga bertanggung jawab atas kegiatan PKH, termasuk Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, BPS, TNP2K yang mana sumber dana PKH berasal dari APBN. Oleh karena itu, dasar pelaksanaan PKH adalah sebagai berikut : UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial; UU No. 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin; Perpres No. 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai; PMK No. 228/PMK 05/2016 tentang Tentang Belanja Bantuan Sosial Pada Kementerian Negara/Lembaga; Peraturan Menteri Sosial No. 1 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan PKH; SK Direktur Jenderal Nomor 12/LJS.SET.OHH/09/2016 tentang Pedoman umum PKH; Perjanjian Kerjasama dengan Bank-bank Negara (BRI, Mandiri, BRI, dan BTN).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anggaran yang tersedia dari APBD II Tahun 2021 untuk dana support terkait pada kegiatan PKH di Dinas Sosial Kabupaten Berau sebesar Rp.

224.000.000,-. Dalam wawancara kepada Kepala Dinas Sosial dan Kasi PKH mereka tidak menyebutkan adanya kesulitan dana dalam rangka implementasi program PKH sehingga peneliti menyimpulkan bahwa dana yang ada sudah sangat cukup. Pemerintah Daerah Kabupaten Berau memang terlihat sanggat mendukung implementasi Program PKH dimana hal ini terlihat pada peningkatan yang signifikan pada anggaran untuk mendukung pelaksanaan kegiatan PKH pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp. 420.000.000,-.

Sasaran PKH adalah keluarga miskin (KM) yang memiliki komponen pendidikan (SD sederajat, SMP sederajat, SMA sederajat) dan kesehatan (ibu hamil, nifas, balita, anak prasekolah) atau anak usia 7 hingga 21 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan wajib 12 tahun. Penyandang disabilitas sangat diprioritaskan, dan orang lanjut usia diprioritaskan mereka yang berusia di atas 70 tahun. Program Keluarga Harapan terdiri dari tiga bagian. Komponen pertama adalah pendidikan, di mana anak-anak peserta PKH harus terdaftar dan hadir di sekolah setidaknya 85% dari hari efektif sekolah yang berlaku.

Komponen kedua adalah kesehatan, di mana peserta harus mendapatkan layanan prenatal dan postnatal, mendapatkan bantuan dokter saat kelahiran, diberi vaksinasi sesuai jadwal, dan melacak perkembangan mereka.

Dalam menentukan kepesertaan Program Keluarga Harapan (PKH) maka tidak dapat terlepas dari komponen masing-masing keluarga, komponen-komponen ini menentukan besaran bantuan yang diperoleh peserta PKH, selanjutnya komponen ini dapat disebut Komponen PKH. Berdasarkan SK Menteri Sosial RI Nomor 606/SK/LJS.JSK.TU/09/2018 Tanggal 26 September 2018 tentang Perubahan Pertama Keputusan Direktur Jaminan Sosial nomor : 74/SK/LJS.JSK.TU/2018 tentang Indeks dan Komponen bantuan sosial Program Keluarga Harapan tahun 2018. Skema Bantuan PKH Tahun 2021 berdasarkan kategorinya adalah Ibu Hamil, Anak Usia 0 s/d 6 tahun, Anak SD, Anak SMP, Anak SMA, Disabilitias, dan Lansia.

Berdasarkan data yang dijhiJumlah KPM PKH dan jumlah bantuan per kelurahan di Kecamatan Tanjung Redeb dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

(4)

857 Volume 7, Nomor 3, November 2023

Tabel 1. Jumlah KPM PKH Se Kecamatan Tanjung Redeb

Kelurahan

JUMLAH KPM PKH

THP1 THP2 THP3 THP4

BUGIS 14 22 16 16

GAYAM 14 19 21 21

GUNUNG

PANJANG 32 43 38 39

KARANG AMBUN 44 58 51 52

SUNGAI

BEDUNGUN 36 40 38 38

TANJUNG REDEB 18 22 24 24

Tabel 2. Besaran Bantuan Per Kelurahan se Kecamatan Tanjung Redeb

Kelurahan

JUMLAH BANTUAN

TOTAL

THP1 THP2 THP3 THP4

BUGIS Rp 9,425,000 Rp 16,700,000 Rp 10,050,000 Rp 11,000,000 Rp. 47,175,000 GAYAM Rp 8,250,000 Rp 13,150,000 Rp 11,475,000 Rp 13,750,000 Rp. 46,625,000 GUNUNG

PANJANG Rp 26,850,000 Rp 38,600,000 Rp 31,125,000 Rp 33,925,000 Rp. 130,500,000 KARANG

AMBUN Rp 32,000,000 Rp 46,100,000 Rp 37,000,000 Rp 40,250,000 Rp. 155,350,000 SUNGAI

BEDUNGUN Rp 23,175,000 Rp 27,225,000 Rp 25,775,000 Rp 27,000,000 Rp. 103,175,000 TANJUNG

REDEB Rp 11,950,000 Rp 16,875,000 Rp14,400,000 Rp 15,675,000 Rp. 58,900,000

TOTAL Rp. 541,725,000

Penyaluran bantuan PKH menggunakan sistem Non Tunai dimana hasil wawancara kami dengan Sekretaris Camat Tanjung Redeb disampaikan bahwa : “Langsung masuk ke rekening Bank BRI jadi kami mengingatkan kepada Lurah, RT, Pendamping PKH untuk menginfokan ke masyarakat jika ada bantuan masuk. Sehingga yang bersangkutan dapat mengecek ke bank secara langsaung atau melalui ATM”.

Tujuan utama dari Program Keluarga Harapan (PKH) ini untuk membuka akses KPM bagi Ibu hamil dan balita untuk memanfaatkan layanan kesehatan dan anak usia sekolah dalam memanfaatkan layanan pendidikan di tempat tinggal mereka. Selain itu manfaat program ini juga diarahkan dalam mencapkup penyandang disabilitas dan orang-orang dengan usia lanjut dengan tujuan mempertahan kesejahteraan sosial nya sesuai dengan amanat konstitusi. PKH diharapkan juga untuk dapat berkontribusi secara signifikan dalam menurukan jumlah penduduk miskin, menurunkan kesenjangan ekonomi, serta membantu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(5)

858 Volume 7, Nomor 3, November 2023

Faktor – Faktor Pendukung dan Penghambat PKH di Kabupaten Berau

Dalam menentukan faktor-faktor yang menjadi pendukung ataupun penghambat, sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, peneliti menggunakan model teori implementasi oleh George C.

Edward III (1980). Dalam pandangan Edward III, implementasi dipengaruhi oleh empat variabel, yaitu : (1) Komunikasi, (2) Sumberdaya, (3) Disposisi, (4) Struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama lain (Edward III (1980:14) dalam Subarsono (2021).

Komunikasi

Sumberdaya

Implementasi Disposisi

Struktur Birokrasi

Sumber : Edward III (1980:148) dalam Subarsono (2021:91)

a.

Komunikasi

Keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran (Subarsono, 2021).

Selain itu, faktor komunikasi ini juga dilakukan untuk melihat sejauh mana pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam suatu implementasi kebijakan mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Karena menurut Rahmat (2015) bahwa komunikasi berpengaruh positif terhadap implementasi kebijakan.

Dengan hasil yang sama, Penelitian oleh Ariyani, dklk (2014) mengatakan bahwa adanya hubungan yang positif antara komunikasii dengan keberhasilan implementasi suatu kebijakan/program. Sehingga, hal ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan salah satu elemen penting dalam implementasi kebijakan.

Komunikasi yang baik antara kepala OPD dan jajaran kepada tingkat birokrasi dibawahnya atau kepada masyarakat khusus KPM PKH merupakan salah satu kunci utama keberhasilan Program PKH.

Salah satu bentuk komunikasi yang baik antara Dinas Sosial dengan bawahan (Pendamping PKH) terdapat dalam DPA Dinas Sosial 2022. Dalam DPA tersebut terdapat “Belanja Uang Saku, Transportasi dan Akomodasi Pendamping PKH Dalam Rangka Koordinasi Teknis PKH Ke Dinas Sosial” sebesar Rp.

75.000.000, dimana hal ini berguna untuk koordinasi dengan tingkat birokrasi diatasnya mengenai PKH.

Hal ini merupakan salah satu komunikasi yang baik yang tercipta dalam rangka mensukseskan PKH di Kab. Berau.

Selain itu, berdasarkan hasil wawancara pada KPM PKH, bahwasanya Komunikasi antara Pegawai Dinas Sosial, Pendamping PKH, Aparat Kecamatan dengan KPM PKH tercipta dengan sangat baik, hal ini ditandai dengan semua KPM PKH yang diwawancara mengerti persyaratan- persyaratan yang ditentukan berupa KTP, KK, Surat keterangan tidak mampu, foto rumah, dll.

b.

Sumberdaya

Faktor selanjutnya yang mempengaruhi pelaksanaan Implementasi Program Keluarga Harapan di Kabupaten Berau adalah sumberdaya. Walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumberdaya tersebut dapat berwujud sumberdaya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumberdaya finansial. Sumberdaya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.

(6)

859 Volume 7, Nomor 3, November 2023

Sumberdaya yang penting dalam implementasi kebijakan meliputi :

1.

Staf/Pelaksana PKH

Sumber Daya Manusia (SDM) dalam sebuah organisasi dimaknai sebagai faktor penggerak organisasi. Program Keluarga Harapan di Kabupaten Berau memiliki Tim Koordinasi Teknis Program Keluarga Harapan yang diketuai oleh Kepala Baplitbang dan wakil ketua oleh Kepala Dinas Sosial berdasarkan Keputusan Bupati Berau Nomor 62 Tahun 2020. Sedangkan Ketua pelaksana sebagai penggerak garis depan kegiatan PKH di Kabupaten Berau adalah Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial serta sekretaris Kepala Seksi Perlindungan dan Jaminan Sosial Keluarga beserta staf di bidang yang berjumlah 5 orang serta dibantu oleh Tim Pendamping PKH di Kecamatan- kecamatan yang berjumlah 21 orang.

2.

Informasi

Menurut Yalia (2014), Informasi disini merupakan data-data yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga para pelaksana kebijakan mengerti isinya. Pedoman dan Petunjuk teknis yang digunakan dalam kegiatan PKH adalah Pedoman Pelaksanaan Program Keluarga Harapan Tahun 2019, 2020, 2021 yang dikeluarkan oleh Kementerian sosial Republik Indonesia melalui direktorat perlindungan dan jaminan sosial.

Pedoman tersebut menjadi bahan Informasi bagi Dinas Sosial Kabupaten Berau dalam pelaksanaan kegiatan PKH di seluruh kecamatan di Kabupaten Berau termasuk Kecamatan Tanjung Redeb. Selain itu, KPM PKH mendapatkan informasi yang jelas mengenai persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini ditandai saat wawancara KPM PKH dapat dengan jelas menyebutkan syarat- syarat yang harus dipenuhi yaitu “Kartu keluarga, KTP, kartu kerjaan (kartu kuning), surat keterangan tidak mampu atau surat kebutuhan sehari-hari dari RT, foto rumah”

3.

Wewenang

Menurut Yalia (2014), Kewenangan dalam berbagai bentuk dimulai dengan perintah sampai pada meminimalisir sikap atau perilaku yang bisa menghalangi implementasi kebijakan. Dalam pelaksanaan kegiatan PKH, masing – masing kompinen pelaksana PKH memiliki wewenangnya masing- masing.

Berdasarkan data dari dinas Sosial pelaksanan PKH di Kabupaten Berau terdiri dari Koordinator Kabupaten PKH (Korkab PKH), Administrator Pangkalan Data (APD), Pendamping Sosial dan Asisten Pendamping. Masing-masing dari komponen pelaksanan PKH di Kabupaten Berau tersebut memiliki wewenangnya masing-masing.

4.

Fasilitas

Dalam rangka menunjang terlaksana dan suksesnya PKH di Kabupaten Berau, maka perlu penunjang fasilitas pendukung dari hal tersebut seperti sarana dan pra sarana dari tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dalam rangka menunjang kesuksesan PKH ini Kabupaten Berau melalui Dinas Sosial belum memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) PKH di tingkat kecamatan, padahal kecamatan- kecamatan selain kecamatan yang berada dekat Ibu Kota Kabupaten, memiliki jarak-jarak yang lumayan jauh.

c.

Disposisi

Disposisi dalam implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan faktor yang sangat penting dalam pendekatan mengenai suatu kebijakan publik yang dalam hal ini adalah PKH. Disposisi memiliki hubungan dengan sikap dan watak para pelaksanan kebijakan dalam melaksanakan dan menerima suatu kebijakan tanpa paksaan yang mana hal itu merupakan keberhasilan dalam melaksanakan kebijakan. Lantaran para pelaku kebijakan mempunyai suatu keinginan, kemauan, &

kecenderungan untuk melaksanakan dan mewujudkan kebijakan tadi secara sungguh-sungguh. Apabila perilaku atasan yang baik akan menjadi contoh terhadap bawahannya. Dalam hal ini juga wajib dibutuhkan keseimbangan pandangan bahwa kebijakan dilaksanakan untuk memenuhi tujuan organisasi (Liahati dan Larasati, 2018 : 45).

Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Sosial sangat berkomitmen terhadap suksesnya Program Keluarga Harapan. Hal ini ditunjukkan bahwa kepala dinas sosial yang notabene merupakan pejabat nomor satu satuan organisasi mengerti apa yang menjadi hambatan dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan PKH ini. Menurut kepala dinas faktor pendukungan dalam penyaluran bantuan

(7)

860 Volume 7, Nomor 3, November 2023

PKH ini adalah karena sudah berbasis internet sehingga lebih mudah dalam proses pembagiannya.

Selain dukungan, kepala dinas sosial juga mengerti tentang hambatan yang dialami yaitu “Seperti yang kita ketahui bahwa di Kab. Berau ini sangat luas sehingga bebapa letak geografis yang sulit dijangkau sehingga letak geografis inilah yang menjadi hambatan yang kita hadapi selama ini”. Selain itu, penempatan staf pendamping PKH di kecamatan-kecamatan dalam tatanan dinas sosial juga memiliki strategi yaitu dengan mengangkat tenaga pendamping PKH di Kecamatan merupakan orang yang berdomisili/tinggal di kecamatan yang bersangkutan sehingga petugas pendamping menjadi lebih fokus dalam pendampingan peserta PKH.

Selain dari segi staf birokrasinya, Pemerintah Kahupaten Berau juga menyalurkan dana kegiatan yang lumayan besar pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran pada Dinas Sosial Tahun 2022 yaitu hampir 600 Juta Rupiah. Dimana didalamnya terdapat Belanja Uang Sakut, Transportasi, dan Akomodasi Pendamping PKH sebesar 75 Juta Rupiah. Pemerintah Kabupaten Berau memberikan perhatian yang besar kepada pendamping PKH yang notabene para pendamping ini merupakan para tenaga non ASN.

Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki posisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif (Subarsono, 2021 : 92).

d.

Struktur Birokrasi

Struktur birokrasi pada level dinas merupakan bagian dari Pemerintah Daerah yang memiliki kepala sebagai Pengguna Anggaran dan mengurusi fokusnya masing. Seperti contoh Dinas Sosial Kabupaten Berau memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang sosial secara keseluruhan. Sehingga peran dari Dinas ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kebijakan suatu Pemerintah Daerah (Pemda) yang mana dalam hal ini adalah keberhasilan Program Keluarga Harapan. Program Keluarga Harapan sebagai kegiatan yang termasuk dalam kegiatan Dinas Sosial Kabupaten Berau tepatnya berada pada Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial. Dilihat dari sudut bandang struktur organisasi, Program Keluarga Harapan (PKH) dapat dilaksanakan dengan leluasa dan karena masuk dalam satu bidang sendiri, sehingga pelaksanannya bisa lebih terkontrol.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dituliskan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur berjalan cukup lancar, hal ini dikarenakan oleh : a. Proses Implementasi PKH di Kabupaten Berau meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan sudah berjalan dengan baik; b. Tercapainya tujuan PKH yang meliputi peningkatan kualitas kesehatan, taraf pendidikan anak-anak KSM, dan peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Faktor-faktor pendukung kegiatan PKH di Kabupaten Berau adalah sebagai berikut : 1) Adanya pedoman umum dalam melaksanakan/merealisasikan PKH sehingga pelaksanaannya menjadi terarah;

2)Tersedianya tenaga pendamping dan operator pada tingkat kecamatan sehingga dapat menjangkau lebih banyak tempat dan mudah berkoordinasi; 3)Dukungan dari segi anggaran dan fasilitas yang sangat besar dari Pemerintah Daerah sehingga pelaksanaan PKH menjadi lebih maksimal.

Faktor-faktor yang menghambat PKH di Kabupaten Berau adalah sebagai berikut : 1) Tidak tersedianya kantor sekretariat Unit Pelaksana PKH tingkat kecamatan; 2) Tidak adanya pengangkatan PNS untuk tenaga pendamping PKH; 3) Tidak adanya insentif bulanan dikarenakan tenaga pendamping masih berstatus Non ASN.

Berdasarkan Hasil Penelitian Implementasi Program Keluarga Harapan di Kabupaten Berau, peneliti dapat menyarankan beberapa hal : 1) Pemerintah daerah perlu membuat Unit Pelaksanan Teknis (UPT) PKH di tiap Kecamatan atau di Kecamatan yang mewakili kecamatan lain dengan jarak yang tidak terlalu jauh; 2) Membuat program kemandirian yang tepat untuk KPM sehingga mereka tidak tergantung pada PKH secara terus menerus; 3) Perlunya membuat formasi CPNS/PPPK untuk tenaga pendamping sehingga ada keberlanjutan karena kalau dari Non ASN sewaktu-waktu bisa resign/keluar; 4. Perlu adanya insentif bulanan untuk meningkatkan motivasi kerja tenaga pendamping PKH.

(8)

861 Volume 7, Nomor 3, November 2023

DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, Dini, Abdul Hakim, and Irwan Noor. "Pengaruh Faktor Komunikasi, Sumberdaya, Sikap Pelaksana, Dan Struktur Birokrasi Terhadap Output Implementasi Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Di Kabupaten Probolinggo." Indonesian Journal of Environment and Sustainable Development 5.2 (2014).

Baplitbang. 2016. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Berau 2016- 2021.

Kabupaten Berau.

Faizal. 2015. Diskursus Pemberdayaan Masyarakat. Ijtimaiyya: 8(1), 35-51.

Kholif, K. I., Noor, I., Siswidiyanto. 2014. Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam Menanggulangi Kemiskinan di Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto. Jurnal Administrasi Publik: 2(4), 709-714.

Kominfo, 2011. Program Penanggulangan Kemiskinan Kabinet Indonesia Bersatu II. Kementerian Komunikasi dan Informatika. 1-2.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Nazara, S., dan Rahayu, S. K. 2013. Program Keluarga Harapan (PKH): Program Bantuan Dana Tunai Bersyarat di Indonesia. International Policy Centre for Inclusive Growth. 42, 1-6.

Noor, M. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS: 1(2), 87-99.

Nurwati, N. 2008. Kemiskinan : Model Pengukuran, Permasalahan dan Alternatif Kebijakan. Jurnal Kependudukan Padjadjaran: 10(1), 1-11.

Rahmat, Aisha, A. 2015. Policy implementation: process and problems. International Journal of Social Science and Humanities Research: 3(3), 306-311.

Riyadi, S. 2016. Analisis Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM) Penerima Bantuan (Studi di Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah). Program Studi Magister Ilmpu Pemerintahan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Universitas Lampung [TESIS]. Bandar Lampung.

Suleman, S. A., dan Resnawaty, R. 2010. PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH): ANTARA PERLINDUNGAN SOSIAL DAN PENGENTASAN KEMISKINAN. Dalam: PROSIDING KS: RISET

& PKM. 4(1), 88-92.

Referensi

Dokumen terkait

Twilight Enhancement The 16300 curve for June, 1964 in Figure l shows a predawn enhancement which begins near conjugate point sunrise at 100 km.. The sun does not set above 200 km at

Lebih lanjut wawancara oleh “JM” informan, terkait proses pelaksanaan PKH khususnya bidang kesehatan di Kabupaten Takalar menjelaskan sebagai berikut: “ Petugas dari PKH yang