== EXECUTIVE SUMMARY ==
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
1. INTRODUCTION
Dalam rangka implementasi rencana aksi global untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), United Nations Development Programs (UNDP) merumuskan suatu program yang dapat menggambarkan kualitas penduduk suatu wilayah dari berbagai dimensi. Human Development Index atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah salah satu penghitungan statistik yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas manusia terutama di negara-negara berkembang.
IPM disusun untuk memonitor upaya dunia global dalam memperbaiki kualitas hidup warga dunia pada aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, akses terhadap sumber daya, dan keadilan sosial. Program pem bangunan manusia yang diselenggarakan oleh pemerintah dan stakeholder terkait
utamanya terpusat pada kemajuan ekonomi dengan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tantangan global yang dihadapi mulai dari geopolitik, keterbatasan anggaran, karakteristik alam sampai perubahan iklim global merupakan faktor-faktor penyebab perbedaan capaian IPM di masing-masing wilayah. Upaya keras pemangku kepentingan dalam
pembangunan manusia harus
didiskusikan secara serius dalam kepemimpinan strategis kolaboratif tingkat tinggi baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, Kementerian/
Lembaga dan juga pihak swasta.
Diharapkan diskrepansi IPM antar wilayah di Indonesia tidak terlalu tinggi, gap sosial dapat dipersempit dan kesenjangan sosial dapat diperkecil.
Publikasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) disusun setiap tahun sebagai salah satu bentuk laporan pertanggungjawaban kegiatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Survei Sosial ekonomi Nasional (SUSENAS), Sensus Penduduk atau kegiatan lain yang berkaitan dengan demografi merupakan sumber data yang digunakan dalam penghitungan IPM. Publikasi ini menyajikan indikator-indikator yang menggambarkan tingkat kualitas manusia diukur dari beberapa dimensi. Angka-
angka yang disajikan memberikan gambaran capaian pembangunan manusia dilihat dari aspek Kesehatan, Pendidikan dan Perekonomian. Data IPM disajikan secara nasional, propinsi dan kabupaten/Kota. Informasi tersebut mengilustrasikan upaya pemerintah nasional dan daerah dalam mengembangkan sumber daya nasional dan regional dalam meningkatkan kualitas manusia. Semakin tinggi angka IPM semakin berhasil pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah kepada penduduknya.
Dalam rangka melakukan evaluasi perkembangan IPM di Kawasan Asia Pasifik, publikasi ini menyajikan perkembangan IPM negara-negara ASEAN dari tahun 1990 – 2022. Dalam buku ini juga mengevaluasi capaian pembangunan manusia sesaat setelah terjadi pandemi covid-19 yang menghantam seluruh dimensi kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Selain faktor-faktor internal, dinamika masyarakat dalam hal sosial, ekonomi, dan politik juga mempengaruhi perkembangan pembangunan manusia. Hal-hal yang terjadi di era disrupsi sekarang ini banyak mempengaruhi kualitas pembangunan manusia. Perang dan konflik di sekitar kita, ancaman militer, nir militer dan hibrida yang makin merajalela mempengaruhi perkembangan pembangunan manusia karena dampaknya terhadap kerusakan infrastruktur, hilangnya sumber daya, dan kerugian manusia lainnya.
Begitu juga dengan dampak negatif globalisasi dari kemajuan teknologi semakin memperlebar kesenjangan ekonomi, memperburuk kesehatan manusia dan mengancam keamanan pangan. Ditambah lagi perubahan iklim yang memperburuk lingkungan semakin mengkhawatirkan kualitas kehidupan manusia.
Publikasi ini menyajikan berbagai dimensi pengukuran Indeks, sejarah penyusunan IPM, kategori kualitas IPM dan trend IPM selama beberapa periode untuk melihat gambaran perkembangan pembangunan manusia masing-masing wilayah. Disamping itu disajikan pula informasi mengenai indikator yang digunakan dalam penyusunan IPM menurut kabupaten kota dan Provinsi se Indonesia, sehingga dapat dilihat keterbandingan antar wilayah dalam capaian masing-masing dimensi. Rumus perhitungan dan sumber data disertakan dalam lampiran publikasi ini
2. DISCUSSION
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pertama kali diperkenalkan oleh United Nations Development Program (UNDP) pada tahun 1990 secara global, sejak saat itu terjadi beberapa kali perubahan dalam cara pandang dan cara hitungnya.
Dimensi penyusun IPM secara internasional adalah Kesehatan, Pendidikan dan Standard hidup layak, Indonesia menerapkan ketiga dimensi ini dalam menghitung IPM berdasar ketersediaan data hasil survei atau sensus yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS). Masing-masing Dimensi dihitung berdasar indikator pembentuknya.
Dimensi kesehatan disusun dari indikator Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir. UHH menentukan perkiraan umur penduduk suatu wilayah dihitung sejak kelahiran. Banyak faktor yang mempengaruhi Umur Harapan Hidup. Kondisi kesehatan dan sanitasi lingkungan, kesehatan ibu saat hamil dan melahirkan, ketersediaan fasilitas kesehatan, makanan yang bergizi, perumahan yang layak adalah beberapa faktor yang berpengaruh pada hasil penghitungan UHH. Dimensi Pendidikan disusun dari dua indikator yaitu Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas dan Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk usia 7 tahun keatas. Diasumsikan penduduk umur 25 tahun keatas sudah tidak bersekolah lagi sehingga, rata-rata lama sekolah menggambarkan level pendidikan yang sudah dinikmati oleh penduduk wilayah tertentu selama hidupnya. Sedangkan batasan usia 7 tahun sesuai dengan program pemerintah yang menyatakan umur penduduk mulai mengenyam Pendidikan formal. Dan dimensi terakhir yaitu standart hidup layak disusun oleh indikator daya beli masyarakat (Purchasing Power Parity/PPP).
Diskrepansi angka IPM antara wilayah Indonesia bagian Barat dan Timur mencapai 20 persen. Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta dan Bali adalah wilayah yang memiliki capaian IPM sangat tinggi diatas 80 persen, sedangkan wilayah Provinsi lainnya terbagi dalam kelompok capaian tinggi dan sedang. Perbedaan ini terjadi karena kota-kota besar di Jawa sudah maju dengan pembangunan infrastruktur yang menunjang pembangunan manusia. Sedangkan wilayah Indonesai Timur yang minim pembangunan fisik, berpengaruh pada kemudahan akses pemerintah dalam menjangkau masyarakat sampai level pedesaan terpencil. Hal ini berpengaruh pada penyediaan fasilitas dan tenaga kesehatan, fasilitas dan tenaga Pendidikan dan kondisi keamanan pangan, sehingga pembangunan manusia tidak setinggi wilayah lain. Perlu integrasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, Pada masing-masing dimensi angka yang disajikan juga memiliki gap yang lebar,
Umur Harapan Hidup (UHH) wilayah dengan IPM tertinggi dengan terendah mencapai 8 tahun, perbedaan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) hampir 2 tahun, serta selisih Harapan Lama Sekolah tertinggi (HLS) dan terendah mencapai 4 tahun sedangkan daya beli masyarakat tertinggi dan terendah sebesar 11 juta per kapita per tahun.
3. CONCLUSION
Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berkisar antara 0 – 1, semakin mendekati satu (1) berarti pembangunan manusia tergolong sangat tinggi yang artinya Pemerintah setempat berhasil mengangkat derajat penduduknya dari berbagai dimensi penyusunnya, yaitu Kesehatan, Pendidikan dan Standart Hidup Layak. Jika angka IPM mendekati satu maka pemerintah setempat dianggap mampu menjaga stabilitas kehidupan masyarakatnya, meningkatkan derajat kesehatan warga negaranya, menstimulasi Pendidikan bagi penduduknya pada tingkat Pendidikan yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan daya beli masyarakatnya mengikuti tren pasar global. Hal ini mengimplikasikan peningkatan kesejahteraan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas Pendidikan.
Indonesia menempati urutan 114 pada penghitungan angka IPM dibanding negara-negara lain, sedikit diatas Vietnam dan Filipina, tetapi jauh dibawah Singapura yang menempati posisi 12 teratas level global. Meksipun pembangunan fisik dan infrastruktur sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia di perkotaan, namun pembangunan manusia mengalami kendala di berbagai sektor. Geografis Indonesia yang sangat luas dan terpisah lautan diantara pulau-pulau besar, menjadi hambatan tersendiri bagi penyelenggara kebijakan di bidang transportasi. Daerah remote atau pedalaman yang jauh dari perkotaan mengalami tantangan tersendiri dalam penyediaan fasilitas dan tenaga kesehatan.
Pembangunan sarana prasarana sekolah yang tidak sebanyak perkotaan menjadi hambatan yang tidak ringan bagi penduduk wilayah pedesaan. Serta kesenjangan ekonomi masyarakat dengan penghasilan yang tidak merata menjadi ancaman tersendiri dalam pemerataan dan peningkatan daya beli masyarakat.
IPM tertinggi di Indonesia dicapai oleh Provinsi DKI Jakarta. Sebagai Ibukota negara dengan wilayah yang tidak terlalu luas dan dekat dengan pemerintah pusat, pemerintah DKI Jakarta mudah menjangkau seluruh lapisan masarakat dan mengimplementasikan program pembangunan di semua golongan. Jakarta tidak
hanya membangun gedung bertingkat yang mewah, namun pemerintah DKI juga menyediakan anggaran besar guna mendongkrak kualitas kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat serta menyediakan sarana prasarana Pendidikan, fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai dan penyediaan bantuan sosial bagi warganya. UHH Jakarta mencapai 73,32 tahun, rata-rata lama sekolah tercatat 11,31 tahun (rata-rata Pendidikan penduduknya sampai kelas 3 SMA) dan Harapan Lama Sekolahnya sebesar 13,08 tahun (diharapkan penduduk bisa mengenyam Pendidikan minimal sampai Diploma II), dengan daya beli hampir 19 juta perkapita per tahun. Sebaliknya Provinsi Papua mencapai IPM terendah se Indonesia. Rata- rata lama sekolah penduduknya hanya sampai kelas 7 atau kelas 1 SMP, dengan Umur Harapan Hidup 66 tahun serta daya beli masyarakat diangka 7 jutaan per kapita per tahun (rata-rata daya beli tidak sampai 600 ribu per orang per bulan untuk seluruh komoditas baik makanan maupun non makanan).
Perkembangan IPM menunjukkan tren positif untuk seluruh negara ASEAN selama kurun waktu tiga dekade ini (tahun 1990 – 2022). Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah global semakin mengikuti perkembangan kemajuan iptek dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas warga negaranya. Perkembangan IPM di Indonesia juga menunjukkan tren positif. Pemerintah semakin sadar bahwa pembangunan bukan hanya di sektor ekonomi saja, namun kualitas manusia sebagai komponen negara juga harus menjadi prioritas nasional.
4. RECOMMENDATIONS
Wilayah geografis Indonesia terbentang dari Barat sampai Timur dengan karakteristik wilayah yang berbeda-beda. Masing-masing pemerintah daerah sudah mengupayakan pembangunan manusia di semua dimensi. Namun hasil yang diperoleh tergantung banyak faktor, ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan, sarana prasarana dan tenaga Pendidikan, stabilitas harga dan keamanan bahan pangan adalah faktor-faktor penting pencapaian pembangunan manusia di wilayah masing-masing. Selain itu kondisi geografis, jarak pedesaan dan pusat perkotaan, minat penduduk dalam memperoleh Pendidikan, kesadaran akan kesehatan dan sanitasi lingkungan menentukan tingkat kesulitan pemerintah dalam implementasi program pembangunan. Selain itu yang tak kalah penting adalah ketersediaan anggaran pembangunan, karena bagaimanapun dana keuangan menentukan
kualitas dan kuantitas pembangunan yang diselenggarakan pemerintah dan stakeholder terkait.
Pemerintah pusat sebagai penanggung jawab dan koordinator seluruh kebijakan pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib memantau dan memberikan arahan agar pelaksanaan pembangunan dilakukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Perlunya sinergi antar Provinsi akan memperkuat pemerataan hasil pembangunan. Provinsi yang sudah maju sebaiknya memberikan support bagi Provinsi yang masih dalam tahap pembangunan.
Kebijakan politik juga perlu diarahkan agar anggaran tidak terpusat di perkotaan saja namun juga memberikan dukungan pada pembangunan pedesaan.
Wilayah timur Indonesia perlu tenaga-tenaga muda yang kreatif dengan pemikiran dan ide segar dalam membangun kualitas manusia. Pemanfaatan teknologi seyogyanya tidak hanya untuk ekploitasi sumber daya alamnya namun juga untuk kemajuan wilayah tersebut. Pemerintah perlu menciptakan lapangan kerja dan membangun lebih banyak fasilitas kesehatan dan Pendidikan sehingga mendorong urbanisasi dan migrasi ke wilayah Indonesia Timur agar kegiatan Pendidikan, perekonomian, pemerintahan tidak hanya terpusat di wilayah Jawa dan daerah Indonesia Barat saja.
Indonesia perlu membuka peluang lebih besar bagi investor lokal dan asing dalam pembangunan infrastruktur di wilayah timur sama seperti investasi di wilayah Indonesia Barat. Indonesia perlu melakukan kerjasama bilateral dengan China dalam pembangunan dan perdagangan di wilayah Timur untuk mendongkrak stabilitas ekonomi dan ketersediaan serta keamanan pangan. Selain itu Indonesia perlu menjalin perjanjian keamanan dengan negara adidaya seperti Amerika dan Rusia untuk menjamin keamanan dan pertahanan wilayah Indonesia Timur yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat di Jakarta.
REFERENCE:
Badan Pusat Statistik. (2022). Indeks Pembangunan Manusia. Badan Pusat Statistik, 178.
BPS Provinsi DKI Jakarta. (2023). Indeks Pembangunan Manusia Provinsi DKI Jakarta 2023. In 2023.