• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informasi dan Pengantar Novel karya Rina Kent

N/A
N/A
Elly Arnovi

Academic year: 2025

Membagikan "Informasi dan Pengantar Novel karya Rina Kent"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

1 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

(2)

2 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

(3)

3 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

All The Lies

Copyright © 2020 Rina Kent All rights reserved.

No part of this publication may be reproduced, stored or transmitted in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, scanning, or otherwise without written permission

from the publisher. It is illegal to copy this book, post it to a website, or distribute it by any other means without permission, except for the use of brief quotations in a book review.

This novel is entirely a work of fiction. The names, characters and incidents portrayed in it are the work of the author’s imagination. Any resemblance to actual persons, living or dead, events or

localities is entirely coincidental.

(4)

4 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

l y n k . i d / k a t a k i l a s

Hai, pembaca yang budiman,

Terima kasih banyak sudah memilih dan membeli novel terjemahan dari KataKilas.

Mohon maaf jika ada kekurangan dalam terjemahan ini, baik itu typo atau hal-hal lain yang mungkin kurang sempurna. Semoga kamu berkenan memaklumi dan tetap menikmati perjalanan cerita ini.

Selamat membaca, semoga kisah ini bisa menjadi teman yang menyenangkan di waktu luangmu.

Salam hangat, KataKilas Get in Touch

Whatsapp Channel | Wattpad | TikTok

(5)

5 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

CONTENTS

Author Note Blurb Playlist

Chapter 1 - R Chapter 2 - G Chapter 3 - Reina Chapter 4 - Reina Chapter 5 - Reina Chapter 6 - Reina Chapter 7 - Reina Chapter 8 - Reina Chapter 9 - Reina Chapter 10 - Reina Chapter 11 - Reina Chapter 12 - Reina Chapter 13 - Reina

Chapter 14 - G Chapter 15 - Reina

(6)

6 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Chapter 16 - G Chapter 17 - Reina Chapter 18 - Reina

Chapter 19 - G Chapter 20 - Reina Chapter 21 - Reina Chapter 22 - Reina Chapter 23 -Reina Chapter 24 - Reina Chapter 25 - Reina

Chapter 26 - G Chapter 27 - Reina Chapter 28 - Reina Chapter 29 - Reina

Chapter 30 - G

What’s Next?

Also By Rina Kent About the Author

(7)

7 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Untuk mereka yang tidak pernah menyerah.

(8)

8 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

AUTHOR NOTE

Halo, teman pembaca,

Jika ini pertama kalinya kamu membaca bukuku, mungkin kamu belum tahu bahwa aku menulis kisah-kisah yang lebih gelap, yang bisa terasa mengganggu dan mengguncang emosi. Buku-buku dan tokoh utama dalam ceritaku bukan untuk mereka yang mudah terpengaruh. Aku tidak memberikan peringatan pemicu, jadi jika kamu membutuhkannya, mungkin bukuku bukan untukmu.

Namun, jika kamu sudah membaca buku-bukuku sebelumnya, bersiaplah untuk perjalanan penuh liku lainnya dengan karakter yang rumit dan gairah yang begitu intens hingga membuatmu mencintai sekaligus membenci mereka.

(9)

9 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

All The Lies adalah buku pertama dari duet ini dan BUKAN novel yang berdiri sendiri.

Lies & Truths Duet:

#1 All The Lies

#2 All The Truths

Jangan lupa untuk berlangganan newsletter Rina Kent agar tidak ketinggalan kabar rilis terbaru dan mendapatkan hadiah eksklusif!

(10)

10 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

BLURB

Ketika kebohongan menjadi kebenaran.

Namaku Reina Ellis.

Populer.

Cantik.

Tak tersentuh.

Masalahnya, aku tak mengingat satu pun dari itu.

Namanya Asher Carson.

Tampan.

Diam.

Gelap.

Oh, dan dia adalah calon suamiku.

(11)

11 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia punya tiga aturan untukku:

Aku harus tunduk.

Aku harus hancur.

Aku harus membayar atas apa yang telah kulakukan.

Masalahnya, aku tak ingat apa yang telah kulakukan, tapi aku punya petunjuk.

Ada api.

Seorang gadis yang tewas.

Dan aku ada di sana.

(12)

12 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

PLAYLIST

Every Breath You Take – Chase Holfelder Amsterdam – Coldplay

Heartbeat – Point North Breakeven – The Script

Sinner – Deaf Havana

Into The Dark – Point North & Kellin Quinn

¿ - Bring Me The Horizon & Halsey Prom Queen – Molly Kate Kestner

Admit Defeat – Bastille Save Me – XXXTENTACION

In Between – Glass Tides Yours – Jake Scott

Just Exist – Eliza & The Delusionals It’s Ok Not To Be Ok – Little Hurt

Dig – Arrested Youth

(13)

13 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

You Know That – No Love For The Middle Child Roses – Soleima

Scream – SAINT PHNX

You can find the playlist on Spotify.

(14)

14 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

1

ku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya yang serupa dan tersenyum.

Ini pertama kalinya aku melepaskan belenggu yang menahanku selama ini. Beban yang selalu menindihku.

Keluargaku.

Dia adalah keluargaku.

Kami sama.

Rambut pirang stroberi yang sama, meskipun miliknya lebih pendek.

A

(15)

15 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Kulit yang tampak kecokelatan meski sebenarnya tidak. Mata biru besar yang mencerminkan lautan dalam dan langit luas.

Kami mungkin terpisah selama ini, tapi kami tetap sama.

Kami masih saling menatap seperti bercermin, seperti dua bagian yang terbelah dalam tubuh yang berbeda.

Mulai hari ini, hidupku akan berubah. Aku akhirnya menemukan ketenangan ini, dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya.

Kami duduk di bangku tua di dalam sebuah pondok. Udara lembap, bercampur aroma pinus dan rumput yang masuk melalui jendela yang setengah rusak. Hutan yang mengelilingi kami terasa seperti perlindungan dari dunia luar.

Ini tempat perlindungan kami.

Satu-satunya tempat di mana tidak ada yang bisa menemukan kami.

Tempat ini membangkitkan kenangan ketika Reina dan aku dulu saling berpelukan dan bersembunyi.

Dulu, kami tidak bersuara. Hampir tidak bernapas.

Kami punya banyak hal untuk diceritakan. Aku tidak sabar mendengar bagaimana hidupnya selama bertahun-tahun ini.

Lalu terdengar suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering di luar pondok.

Kami serempak tersentak. Tangan kami menjadi lembap, dan ketenangan yang tadi menyelimuti lenyap begitu saja.

“Kamu sedang menunggu seseorang?” Suaraku terdengar setegang yang kurasakan.

Reina menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergetar. “Kamu tahu,

(16)

16 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

aku sudah bilang...”

“Apa?”

“Aku bergaul dengan orang-orang yang buruk, Rai.”

Aku mencengkeram bahunya, menatapnya dalam-dalam. Rasanya aneh melihat diriku sendiri dalam dirinya. “Kita akan pergi ke pihak berwenang. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi, Reina. Kita akan bersama seperti yang kita janjikan.”

Dia mengulurkan jari kelingkingnya, matanya berkilat oleh air mata yang tertahan. “Janji kelingking.”

Aku tertawa kecil melihat gestur kekanak-kanakan itu dan mengaitkan kelingkingku dengan miliknya. “Kamu seharusnya sudah dua puluh satu tahun, tapi baiklah. Janji kelingking, dasar bocah.”

“Hei! Aku lima menit lebih tua darimu.”

“Ya, ya, terserah.”

Tiba-tiba suara benturan keras terdengar dari pintu. Kami berdua refleks meringkuk.

Jantungku berdebar begitu kencang hingga itu satu-satunya suara yang bisa kudengar.

Dug. Dug. Dug.

Reina menarik ujung jaketku, tangannya gemetar. “Kamu harus pergi.”

“Tidak. Aku tidak akan pergi tanpamu. Tidak lagi.”

Dia menggeleng dengan putus asa. “Sekarang Kakek sudah tiada, kalau mereka tahu tentang kamu, semuanya berakhir. Kamu harus pergi, Rai.”

(17)

17 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Aku menggelengkan kepala dengan panik, mencengkeramnya sekuat tenaga. “Aku tidak akan kehilanganmu setelah akhirnya menemukanmu.”

“Kamu tidak akan kehilangan diriku. Kita akan selalu menemukan jalan kembali satu sama lain. Karena, pada akhirnya, kita…”

“Satu.”

Kami mengucapkan kata terakhir itu bersamaan.

Dia mengangguk, matanya kembali mengeras. “Ingat saat kita dulu bermain petak umpet dengan Ibu?”

“Aku ingat. Kita selalu berpencar untuk mengalihkan perhatian mereka.”

Dia menyeringai. “Pengalihan.”

“Oke, oke,” gumamku dengan kepasrahan yang sebenarnya tidak kurasakan.

Hal terakhir yang kuinginkan setelah bertemu kembali dengan Reina adalah berpisah lagi dengannya. Tapi aku harus percaya bahwa kami akan saling menemukan, seperti yang selalu kami lakukan.

“Aku lewat jendela, kamu lewat pintu.”

Aku menariknya ke dalam pelukan singkat, dadaku terasa sesak, dipenuhi segala jenis paranoia yang kacau. “Aku akan menemuimu di luar.”

“Aku menyayangimu, Rai.” Dia mengacak rambutku.

“Aku juga menyayangimu, Reina.”

Begitu aku melepaskannya, hatiku mencengkeram begitu kuat hingga hampir meledak.

Aku menyaksikan adikku melompat dan memanjat keluar jendela.

(18)

18 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia begitu lincah, yang tidak mengejutkan mengingat di mana dia hidup selama ini.

Kami akan mengubah itu. Dia akan mendapatkan awal yang baru.

Dengan satu tatapan terakhir, aku berlari keluar pintu belakang.

Saat bersama Ibu, Reina dan aku belajar sesuatu yang penting.

Jangan pernah menoleh ke belakang.

Jika tidak menoleh ke belakang, kamu bisa berlari lebih cepat.

Jika tidak menoleh ke belakang, tidak ada yang bisa menangkapmu.

Aku berlari melewati hutan, aroma tanah dan pepohonan memenuhi hidungku.

Debu menodai sepatuku yang putih, napasku semakin berat saat aku berusaha memperpendek jarak. Aku menoleh ke samping, mencari tempat untuk bersembunyi, lalu menyadari sesuatu yang menghilang.

Gelangku.

Tidak.

Aku berhenti dan melanggar aturan kami sendiri.

Aku menoleh ke belakang.

Api melahap kayu tua dari pondok yang baru saja kami tinggalkan beberapa menit lalu. Asap dan kobaran api membumbung tinggi di tengah hutan.

Seseorang berpakaian celana hitam dan hoodie menyeret Reina kembali ke dalam pondok, sementara dia meronta dan mencakar tangan orang itu. Tangan laki-laki. Bertato.

Jantungku berdebar tak beraturan dan kakiku melemah. Aku melangkah maju, tapi berhenti saat Reina menatapku dan

(19)

19 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

menggelengkan kepalanya.

Dia memohon padaku untuk mengingat janji kami bertahun-tahun lalu.

Jika salah satu tertangkap, yang lain harus lari.

Aku pernah melakukan kesalahan itu sebelumnya. Aku lari tanpa menoleh ke belakang.

Hari itu, aku kehilangan satu-satunya saudara perempuanku.

Tapi aku bukan anak kecil lagi. Kami tidak sedang melarikan diri bersama Ibu.

Kali ini, aku akan menyelamatkannya seperti dia pernah menyelamatkanku.

Energi mengalir deras ke dalam tubuhku saat aku menerjang ke depan. Tinju terkepal di sisi tubuhku. Rambutku berantakan di sekitar wajah, helaian pirang menempel di pelipis karena keringat.

Aku hampir sampai ketika Reina menjerit, “Tidaaaak!”

Sesuatu yang keras dan berat menghantam bagian belakang kepalaku. Aku jatuh berlutut dengan suara gedebuk.

Bintang-bintang hitam bermunculan di balik kelopak mataku yang bergetar tertutup, dipenuhi air mata.

Melalui celah kecil, aku menatap pondok yang terbakar. Jeritan Reina yang menyayat memenuhi udara. Suaranya begitu mentah dan…

mematikan.

“R-Reina…” bisikku, mengulurkan tangan lemah sebelum jatuh terkulai di depanku.

Semua suara menghilang.

(20)

20 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Reina tidak lagi berteriak.

Tidak lagi menjerit.

Tidak lagi… berjuang.

Sebuah isakan tersangkut di tenggorokanku saat kegelapan menelanku sepenuhnya.

(21)

21 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

2

emusnahan adalah proses yang menarik.

Semua dimulai dengan satu retakan. Lalu bertambah menjadi dua. Kemudian semuanya hancur, runtuh berkeping-keping.

Seni sejatinya terletak pada bagaimana menciptakan retakan pertama itu. Harus tepat sasaran. Harus jelas dan tidak bisa disalahartikan.

Dan yang paling penting, harus menyakitkan.

Lebih baik lagi jika datang tanpa peringatan. Korban akan lebih mudah dikendalikan saat mereka lengah, saat dunia mereka jungkir balik

P

(22)

22 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

hanya dalam hitungan detik.

Hari ini, proses pemusnahan itu telah dimulai.

Hidup Reina kini menjadi milikku.

Milikku untuk disiksa.

Milikku untuk diakhiri.

(23)

23 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

3

Satu minggu kemudian..

olong!

Seseorang tolong aku!

Aku butuh bantuan!

"Tidak ada yang akan menolongmu, monster."

Aku membuka mataku sedikit dan meringis. Bagian belakang kepalaku terasa seberat besi.

T

(24)

24 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Bunyi bip yang konstan. Bau cairan antiseptik bercampur kopi. Musik klasik.

Begitu cahaya putih menyilaukan menusuk kelopak mataku, aku segera memejamkannya lagi.

Aku jelas berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Bukankah ada lagu tentang itu?

"Reina?"

Seseorang memaksa kelopak mataku terbuka dan menyorotkan cahaya yang lebih menyilaukan ke arahku. Mataku perih karena intrusi itu.

"Nona Ellis, bisa dengar aku?"

"Reina, sayang, buka matamu."

Reina? Siapa itu Reina?

Ada sesuatu yang salah dengan nama itu. Benar-benar terasa tidak beres.

Tempat yang salah. Waktu yang salah. Nama yang salah.

Suara-suara terus mengalun di sekelilingku. Seseorang memanggilku Nona Ellis. Suara yang lebih tua terus menyebutku Reina.

Dan ada kehadiran lain, seseorang yang tidak bisa kupastikan siapa.

Suaranya berat dan gelap, seperti hutan di tengah malam tanpa bintang. Dalam dan kasar di ujungnya, seolah semua kekejaman di dunia telah meresap ke dalamnya. Mengherankan bagaimana suara bisa menyampaikan begitu banyak hal.

Mengerikan bagaimana suara bisa menjadi bahan mimpi buruk.

Semua suara lain terus bertanya apakah aku baik-baik saja dan

(25)

25 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

menyuruhku membuka mata. Tapi tidak dengannya.

Tidak.

Suara mimpi buruk itu tenang, berbeda dengan yang lain. Ia berbicara dengan ketenangan yang mengerikan, penuh maksud yang dingin.

"Bangunlah, monster. Kamu tidak bisa mati sekarang."

Kata-katanya meresap perlahan. Otakku yang lamban baru bisa memahami maksudnya dengan jeda.

Jantungku berdebar keras mendengar ancaman dalam suaranya, mendengar bagaimana dia memanggilku.

Monster.

Ini tidak mungkin nyata.

Ini mimpi—tidak, ini mimpi buruk. Sebentar lagi akan berakhir, dan aku akan kembali seperti biasa.

Tapi… apa itu ‘biasa’?

Aku bukan Reina, bukan Nona Ellis, atau siapa pun yang mereka panggil. Aku seseorang yang lain.

Aku… aku tidak tahu siapa aku. Reina terdengar familiar, tapi itu bukan aku.

Semuanya salah. Terlalu salah.

Kesadaranku terus keluar masuk seperti permainan petak umpet dengan kegelapan. Aku tidak yakin apakah aku sedang lari darinya atau malah berlari ke arahnya.

Ada sesuatu yang menggoda dalam kegelapan itu… tarikan, dorongan.

Seperti lagu nina bobo yang menghantui dengan lirik yang terus berubah.

Aku terus berusaha menghindari cahaya yang menyilaukan dan

(26)

26 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

suara-suara itu. Begitu banyak suara mengelilingiku, seperti siksaan yang tak terlihat.

Mereka semakin keras, semakin mendominasi, dan aku tidak bisa menghentikan mereka menyiksa indraku.

Mereka seperti gatal yang tidak bisa dijangkau di bawah kulit.

Lalu, suatu hari, ketika aku pikir aku akan benar-benar gila, mataku terbuka. Atau mungkin otakku akhirnya menyadari fakta itu.

Bagian belakang kepalaku nyeri, begitu juga tubuhku. Seolah seseorang memukuli seluruh tubuhku dengan tongkat baseball.

Tunggu… apa itu yang benar-benar terjadi?

Cahaya menyilaukan membuatku ingin menutup mata lagi, tapi aku tidak melakukannya. Aku tetap mempertahankannya terbuka—selebar yang kubisa mengingat keadaanku saat ini.

Jika aku menutupnya lagi, mungkin aku tidak akan pernah bisa membukanya kembali. Aku akan kembali ke permainan petak umpet dengan kegelapan.

Aku akan benar-benar kehilangan akal.

Penglihatanku kabur. Warna-warna putih yang tidak serasi mulai membentuk sesuatu yang lebih jelas saat aku berusaha fokus. Semakin keras aku mencoba melihat, semakin kuat sakit kepala yang menekan pelipisku.

Dinding putih. Bau antiseptik masih sama. Tidak ada musik klasik atau aroma kopi kali ini. Mungkin berarti lelaki tua yang dulu berbicara denganku sudah tidak ada lagi.

"Nona Ellis, Anda sudah sadar," suara lembut terdengar dari

(27)

27 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

sampingku sebelum wajah seorang wanita Asia yang ramah muncul di hadapanku.

Rambut hitamnya terikat dalam sanggul di bawah topi putihnya, dengan beberapa kerutan di sekitar matanya yang sipit dan hangat.

Dia memeriksa sesuatu di mesin di sekitarku dan mengangguk kecil dengan senyum. "Saya akan memanggil Dr. Anderson. Apa kamu butuh sesuatu?"

Aku mencoba menggeleng, tapi rasa sakit yang menusuk di tengkukku membuatku berhenti.

Ketika aku tidak menjawab, dia bertanya lagi, "Bagaimana perasaanmu?"

"Seperti neraka," gumamku dengan suara serak, hampir tak terdengar. "Aku sudah di neraka?"

"Kamu sangat beruntung, sayang. Kamu membuat kami semua khawatir." Dia tersenyum, lalu membungkuk sedikit dan berbisik, "Tunanganmu belum pernah meninggalkan sisimu sama sekali."

Aku punya tunangan?

Tidak. Itu tidak mungkin benar. Aku tidak punya tunangan. Aku bahkan tidak punya siapa-siapa.

Salah. Semuanya terasa begitu salah.

"Jarang sekali melihat anak kuliah punya kesetiaan seperti itu saat ini."

Kuliah.

Oke, jadi namaku Reina Ellis, aku mahasiswa, dan aku punya tunangan.

(28)

28 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Sudah kubilang bukan, ini salah?

Tidak ada yang masuk akal di otakku... atau mungkin otakku masih berusaha mengejar kenyataan?

Saat aku mengangkat kepala lagi, perawat Asia yang ramah itu tidak lagi berbicara padaku. Perhatiannya tertuju pada sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang—di belakangku. "Selamat atas kesembuhan tunangan Anda, Tuan Carson."

"Terima kasih."

Tubuhku langsung menegang, dan getaran dingin menjalar di punggungku, merayap ke seluruh tubuh.

Suara dalam, kasar, dengan sedikit serak.

Suara dari mimpi burukku.

Orang yang pernah menyebutku monster dan... sesuatu lagi.

Ada sesuatu lagi, tapi aku lupa apa itu.

Sebenarnya, aku lupa banyak hal.

Aku bahkan tidak ingat kenapa aku ada di sini, berapa usiaku, atau bahkan namaku sendiri.

Semuanya kabur. Seperti aku bisa meraih jawabannya, tapi begitu ujung jariku menyentuhnya, itu berubah menjadi kabut.

Perawat itu mengatakan sesuatu lagi, tapi aku tidak menangkap kata- katanya—otakku masih kesulitan mengejar semuanya. Segalanya terjadi terlalu cepat, seperti di serial futuristik.

Tunggu, apakah kita ada di episode Black Mirror?

Kenapa aku bisa mengingat Black Mirror tapi tidak ingat hidupku sendiri?

(29)

29 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Hal terakhir yang aku fokuskan adalah suara pintu yang mendesis terbuka, lalu tertutup kembali setelah perawat keluar.

Tepat saat itu juga, tenggorokanku terasa kering dan perih. Aku menoleh ke samping, mencari air.

Ada sebotol air di atas meja kecil, dan aku mengulurkan tangan untuk meraihnya.

Kesalahan besar.

Sesuatu di bahu kananku berbunyi krek, lalu rasa sakit meledak di ototku. Aku mengerang dan menggigit bibir bawah untuk menahan suara itu.

Rasa sakit itu sementara. Rasa sakit itu sementara.

Suara ibuku terngiang di kepalaku seperti mantra.

Aku berkedip dua kali. Aku ingat punya seorang ibu.

Itu hal pertama yang kuingat sejak aku terbangun di ruangan steril ini.

"Lihat siapa yang akhirnya kembali ke dunia."

Gerakanku membeku saat suara itu bergema di sekelilingku. Aku bahkan lupa kalau dia masih ada di ruangan ini.

Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada tanda-tanda dia mendekat.

Serangannya datang tanpa suara, cepat. Satu detik aku masih mencoba memahami situasi, detik berikutnya sosok tinggi dan tegap sudah berdiri tepat di atas ranjangku.

Kamu tahu warna hutan tropis saat hujan deras? Itu warna matanya.

Hijau gelap, nyaris hitam.

Dingin.

(30)

30 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Tanpa emosi.

Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat instingku siaga penuh.

Aku ingin lari.

Aku ingin bersembunyi.

Tapi aku tidak bisa. Sesuatu memberitahuku bahwa ini bukan hanya karena luka-lukaku. Aku memang tidak bisa lari darinya.

Dia mengenakan kaus putih sederhana dan jaket kulit hitam, dipadukan dengan celana jeans gelap. Rambutnya sehitam langit malam tanpa bulan, dengan semburat kebiruan. Pendek di samping, tapi cukup panjang di tengah untuk terlihat sedikit acak.

Garis rahangnya tajam, alisnya tebal—memberinya aura yang berbahaya, seperti seorang pembunuh berantai.

Bahu lebar dan pinggang rampingnya membuat kesan intimidatif dari sosoknya bertambah berkali lipat.

Ya, masuk akal. Dia seorang atlet, pasti menghabiskan waktu berjam- jam di gym dan latihan tanpa henti.

Tunggu—bagaimana aku tahu itu?

Bibir atasnya melengkung dalam seringai sinis, seolah-olah kegelapan terserap ke dalam senyumnya. "Aku tahu kamu akan kembali."

Berbeda dengan perawat tadi, dia tidak terlihat lega. Tidak. Dia lebih seperti seorang pemburu yang mengamati mangsanya sebelum menyerang.

Seperti kilat yang muncul sesaat sebelum guntur.

Seperti bunyi klik senapan sebelum peluru ditembakkan.

(31)

31 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Tiba-tiba, aku berharap aku tetap tenggelam dalam kegelapan ketidaksadaran. Karena kegelapan semacam itu jauh lebih baik daripada yang satu ini.

Bukankah mereka bilang ada monster yang lebih baik daripada yang lain?

Tangannya terulur ke arahku, dan secara naluriah aku mendorong tubuhku ke bantal. Rasa sakit meledak di kepalaku dan bahu atas, tapi aku tidak berhenti.

Aku harus menjauh dari jangkauannya.

Lari.

Lari!

Instingku akhirnya menyusul otakku yang lambat dan kini berteriak padaku untuk segera pergi dari sini.

Dalam kondisiku sekarang, mustahil untuk sekadar bergerak, apalagi berlari.

Aku melirik ke belakang, ke arah tombol panggilan darurat. Mungkin jika aku meminta tolong pada perawat yang baik hati itu, dia bisa menyingkirkannya dari sisiku. Mungkin ada seseorang yang bisa membantuku.

Karena aku benar-benar butuh bantuan sekarang.

Aku bisa merasakannya di tulangku, bisa mengecapnya di lidahku.

Dia mengeluarkan suara tsk yang menyelinap ke telingaku dan menancap di bawah kulitku. “Tak ada yang akan menyelamatkanmu.

Hanya ada kamu dan aku.”

Seperti kehancuran yang semakin mendekat, tangannya kembali

(32)

32 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

meraihku, lalu mencengkeram daguku di antara ibu jari dan telunjuknya.

Sentuhannya lembut, begitu lembut hingga mengejutkan kulit hangatku. Tapi sorot matanya yang gelap, tanpa emosi, sama sekali tidak lembut. Sebuah seringai sadis terangkat di sudut bibirnya.

Sebuah gemetar muncul dari dalam jiwaku.

Itu tatapan seseorang yang akan menghancurkan, mencabik-cabik, dan menguliti—dan dia akan melakukannya dengan senyum di wajahnya.

“B-biarkan aku pergi.” Suaraku terdengar seperti bisikan terakhir orang yang sekarat.

Cengkeramannya menguat di rahangku hingga aku meringis. “Bukan begitu caranya. Ingat aturannya?”

“A-aturan apa?”

“Hancur dengan sukarela, mungkin aku akan membiarkanmu mengumpulkan serpihannya.”

Dada dan jantungku berdegup keras hingga mesin-mesin di sekitarku berbunyi nyaring. “Apa—”

Kata-kataku terputus saat dia semakin mendekat, napasnya menyapu kulitku. Sebuah gemetar lain merambat di tulang punggungku, disusul dengan bulu kuduk yang berdiri di sekujur tubuhku.

Aku tidak tahu apakah ini karena ketakutan, atau sesuatu yang lain.

Sedekat ini, dia terlihat semakin mematikan—dan luar biasa tampan.

Ada sesuatu yang mencengkeram pikiranku.

Aku mengenalnya dari suatu tempat, tapi di mana?

Dia menjulurkan lidahnya, menjilati kulitku dari bawah mata hingga sudut bibir. Sesuatu yang liar dan tak terkendali meledak dalam tubuhku,

(33)

33 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

membuat bulu kudukku kembali berdiri.

Aku menatapnya dengan bibir bergetar.

“Selamat datang kembali di neraka pribadimu, monster.”

(34)

34 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

4

hump. Thump. Thump.

Jantungku berdetak aneh, seakan kehilangan irama, seolah tak tahu harus berbuat apa.

Ada begitu banyak kebencian di matanya.

Begitu banyak… dendam.

Tatapan intensnya, bagaikan hutan kelam yang basah oleh hujan, membuatku merasa seolah sedang dikuliti hidup-hidup, lalu dibiarkan mati begitu saja.

Mungkin aku memang sudah mati dan kini terjebak di neraka, disiksa oleh pria ini.

T

(35)

35 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Kalau tidak, kenapa dia memanggilku monster sementara aku bahkan tidak mengenalnya?

Tidak—aku tidak mengingatnya. Tapi aku tahu dia. Aku pasti mengenalnya dari suatu tempat.

Tapi di mana?

Menurut perawat tadi, dia adalah tunanganku. Entah kenapa, hal itu terdengar salah.

Dia bukan tunanganku. Dia lebih dari itu… sesuatu yang lebih gelap, lebih mengancam.

Aku mencoba mengangkat kepalaku. Rasa sakit menjalar dari tengkuk hingga ke depan kepalaku.

Aku meringis, bibirku bergetar saat mencoba menahan rasa nyeri yang tajam. Kugigit bibir bawahku agar suara kesakitanku tidak terdengar.

Tak seorang pun boleh melihat kelemahanku. Terutama bukan pria ini.

Dia terus menatapku, ekspresinya datar, kecuali sedikit kedutan di sudut bibirnya.

Tunggu…

Aku bertemu dengan tatapannya yang tak berperasaan dan memperhatikan kurva tipis di bibirnya. Otakku mungkin lamban dalam memproses semuanya, tapi aku mengenali ekspresi itu.

Itu adalah kesenangan.

Kesadisan yang bengkok dan beracun.

Dia menikmati kesakitanku. Dia mengamati bahuku yang tegang dan bibirku yang gemetar seolah sedang menikmati pertunjukan.

(36)

36 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia menyukai kelemahanku.

Dia menyukai penderitaanku.

Tolong.

Seseorang, tolong aku.

Sebuah suara, samar seperti bisikan dari mimpi—atau mimpi buruk—bergema di dalam kepalaku.

Suara itu terdengar begitu mirip denganku.

Siapa yang pernah kumintai tolong sebelumnya? Aku benci meminta bantuan. Aku mungkin tidak tahu namaku atau bahkan usiaku, tapi aku tahu satu hal—aku tidak suka terlihat lemah dengan cara seperti itu.

Pintu mendesis terbuka, memutus kontak mataku dengan pria yang barusan menyebutku monster. Dia melepas cengkeraman di daguku dan mundur, seakan baru saja tidak mencekikku dua detik yang lalu.

Perawat baik hati dari tadi datang kembali bersama seorang dokter kurus berjubah hitam yang memakai kacamata tanpa bingkai.

Pria itu langsung meraih pergelangan tanganku dan duduk di sisiku, menggenggam tanganku di dalam genggamannya.

Kejutan menyusup ke dalam diriku. Sentuhannya begitu lembut…

namun dingin.

Bagaimana mungkin sesuatu bisa terasa begitu halus tapi begitu…

beku?

Seperti sedang disentuh oleh bongkahan es.

Tatapannya beralih pada dokter, lalu dia tersenyum. Ada sesuatu yang aneh dalam senyum itu. Bukan sepenuhnya palsu, tapi juga… kosong.

Hampa, seperti sentuhannya.

(37)

37 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Dr. Anderson.” Suaranya terdengar begitu sopan, begitu tenang—

berbeda jauh dengan sikapnya sebelumnya. “Bagaimana keadaan tunanganku?”

Aku menatapnya dan tangannya yang menggenggam tanganku. Tidak, aku tidak mungkin tunangan pria ini.

Tidak mungkin.

Kalau benar begitu, aku benar-benar kasihan pada diriku sendiri dan pilihan hidupku yang menyedihkan.

Serius, pertama aku tidak ingat namaku. Lalu seseorang menyebutku monster. Dan sekarang, orang yang memanggilku monster ini adalah…

tunanganku?

Seberapa banyak kejutan yang harus kuterima dalam satu waktu?

“Nona Ellis.” Dokter itu tersenyum dengan cara yang sopan tapi tetap berjarak. “Bagaimana perasaan Anda?”

“Sakit?” Entah kenapa itu terdengar lebih seperti pertanyaan daripada jawaban.

Aku bersumpah, pria itu menyeringai sekilas. Entah karena terhibur atau karena kesadisan, aku tidak tahu.

Dr. Anderson dan perawat melakukan pemeriksaan menyeluruh—

memeriksa denyut nadiku, suhu tubuhku. Dia juga menggunakan alat kecil dengan cahaya terang ke mataku.

Jadi ini orang yang menggangguku saat aku tidur tadi.

“Apakah Anda ingat nama Anda?” tanyanya.

“Itu…” Namaku berada di ujung lidahku, tapi aku tidak bisa menjangkaunya. “A-aku tidak tahu.”

(38)

38 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Ya, aku mendengar nama Reina Ellis disebut sebelum dan setelah aku sadar, tapi aku tidak merasa terhubung dengan nama itu.

Nama itu salah.

Jadi aku memilih untuk tidak mengatakannya.

Dokter mencatat sesuatu di notepad-nya, lalu terus bertanya tentang tahun berapa sekarang, di negara mana aku berada, negara bagian apa, siapa presiden saat ini, dan sebagainya.

Aku menjawab semuanya tanpa ragu. Aku menghitung sampai dua puluh. Aku melafalkan alfabet.

Tapi ketika dia kembali bertanya tentang namaku dan usiaku… aku membeku.

Sepanjang waktu itu, pria yang memanggilku monster tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Kehadirannya begitu pekat, gelap, tak tergoyahkan.

Rasa sakit di belakang kepalaku pun tidak sebanding dengan keberadaannya yang menekan.

Dr. Anderson mengangguk sambil membolak-balik catatan di tangannya. “Kami sempat mengira Anda akan jatuh dalam keadaan vegetatif, Miss Ellis. Anda beruntung.”

Beruntung? Apakah dia buta?

Tidakkah dia melihat sosok mengerikan di sampingku?

Seakan pria itu hanya menunggu dokter dan perawat pergi agar dia bisa mencabik-cabikku.

Mencabikku secara terbuka.

Memakanku hidup-hidup.

(39)

39 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Aku mencoba menatap perawat dan memintanya untuk menolongku, tapi aku tidak punya kesempatan.

Atau lebih tepatnya, bajingan ini menghalangi komunikasiku. Setiap kali aku mencoba menangkap tatapan perawat itu, dia mempererat genggamannya di tanganku, membuatku meringis kesakitan.

Bajingan.

"Apa... apa yang terjadi padaku?" Aku akhirnya mengucapkan pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepalaku sejak aku membuka mata.

"Trauma akibat benturan keras di kepala." Alis Dr. Anderson melunak. "Seorang pemburu menemukan anda di hutan di dekat pinggiran kota."

Hidungku mengerut. "Apa yang aku lakukan di hutan?"

"Itu yang ingin aku tahu, Reina." Sepasang mata hijau pekat itu begitu dekat hingga aku bisa merasakan ancaman yang merayap di kulitku dan menembus tulangku. "Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kamu berencana meninggalkan Blackwood?"

Aku mencoba menarik tanganku dari genggamannya, tapi dia mencengkeram lebih erat, tidak membiarkanku lepas. "Aku... Aku tidak ingat."

Lalu tiba-tiba aku menyadarinya. Aku tidak ingat.

Dan bukan hanya tentang kenapa aku ada di rumah sakit, atau siapa bajingan yang memegang tanganku ini, atau bahkan namaku.

Aku tidak ingat apa pun. Aku tidak punya satu pun kenangan sebelum aku terbangun di sini.

(40)

40 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Ya Tuhan. Tidak.

Apa ini semacam telenovela?

Dr. Anderson mengangguk. "Amnesia jangka pendek umum terjadi dalam kasus seperti ini. Sekarang pembengkakan sudah mereda, ingatan anda seharusnya akan kembali sedikit demi sedikit."

"Pembengkakan?" Mataku membelalak.

"Ya." Dokter itu membolak-balik file di tangannya. "Saat pertama kali anda tiba, ada pembengkakan akibat benturan keras. Itu yang menyebabkan anda koma selama dua hari. Tapi kami sudah memantau dan mengurangi pembengkakannya secara bertahap, dan kami berhasil.

Seperti yang saya bilang, anda masih muda, dan amnesia jangka pendek itu bukan hal yang aneh."

"Kamu... kamu tidak mengerti," suaraku parau. "Aku tidak ingat apa pun tentang diriku sendiri."

Dr. Anderson mengangguk dengan penuh pemikiran. "Semua tes menunjukkan tidak ada masalah serius, tapi kami akan melakukan satu MRI dan CT scan lagi untuk memastikan. Anda masih memiliki pengetahuan umum, dan ingatan lainnya akan kembali perlahan."

"Kalau tidak kembali?" Aku bertanya, suaraku terdengar ketakutan seolah aku sedang berdiri di tengah malam musim dingin yang gelap.

"Maka itu akan menjadi kasus amnesia retrograde."

"Dan tidak bisa disembuhkan?"

"Otak adalah organ yang kompleks, Nona Ellis. Kita masih tahu sangat sedikit tentang cara kerjanya. Sayangnya, belum ada obat untuk amnesia, tapi jika kamu kembali ke kehidupan normal dan dikelilingi oleh teman,

(41)

41 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

keluarga, serta benda-benda yang familiar—terutama aroma tertentu—

itu mungkin bisa membantu mengembalikan ingatanmu."

Mungkin.

Berarti bahkan dokter pun tidak tahu bagaimana caranya aku bisa kembali normal.

Tapi, sebenarnya, apa itu normal?

Pastinya bukan termasuk bajingan yang memegang tanganku ini atau rasa sakit yang berdenyut di belakang kepalaku.

"Wali anda akan segera datang, tapi lebih baik kalau anda beristirahat," kata Dr. Anderson sebelum pergi.

Aku punya wali? Tapi aku kan sudah kuliah. Bagaimana cara kerjanya?

"Umurku berapa?" Aku bertanya pada perawat.

"Dua puluh satu, ingat, Rei?" Bajingan di samping kananku menjawab dengan senyum menyebalkan yang bahkan tidak sampai ke matanya.

Senyuman palsu.

Dia palsu.

Tidak ada yang tulus darinya. Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku kalau sampai menerima lamarannya.

Itu pun kalau dia memang pernah melamar. Entah kenapa aku merasa aku hanya… terjebak dengannya begitu saja.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

"Tidak, aku tidak ingat," desisku. "Apa kamu tidak mendengar satu kata pun yang aku katakan? Aku baru saja bilang ke dokter kalau aku tidak ingat kehidupanku."

(42)

42 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia menaikkan sebelah alisnya yang tebal dan sempurna. "Huh."

Hanya satu kata. Huh. Apa yang seharusnya aku lakukan dengan itu?

"Kamu hanya sedang tertekan, Nona Ellis." Perawat itu tersenyum padanya dengan begitu penuh kasih, seolah dia adalah anaknya sendiri.

"Asher tidak pernah meninggalkan sisimu sejak kamu masuk rumah sakit.

Dia sangat perhatian."

Asher.

Asher…

Namanya tidak terdengar familiar, tapi fakta bahwa dia terus berada di sampingku... Aku menatapnya lagi, mencoba merasakan sesuatu yang berbeda darinya.

Tidak. Tidak ada apa-apa.

Dia hanya suara mengerikan di kepalaku.

Dia orang yang memanggilku monster.

Mata sinis itu bertemu dengan tatapanku saat dia berbicara kepada perawat dengan nada yang menjijikkan ramahnya. "Dia satu-satunya yang aku punya. Benar, Rei?"

Rei.

Sialan. Rei?

Dia tidak berhak memberiku panggilan sayang setelah sebelumnya menyebutku monster. Bagaimana dia bisa mengatakan dua hal itu dan terdengar begitu meyakinkan… dan mengerikan?

Dia tidak berhak berpura-pura jadi manusia sempurna di depan orang lain ketika aku bisa merasakan dia sedang merencanakan kehancuranku.

(43)

43 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Perawat itu nyaris meleleh mendengar kata-katanya.

Otot-otot di bahuku menegang sementara rasa takut mencekik tenggorokanku.

Salah. Semuanya terasa begitu salah.

Perawat itu tersenyum saat menyuntikkan sesuatu ke dalam infusku.

"Kamu gadis yang beruntung, Reina."

Bisakah mereka berhenti mengatakan itu? Bagaimana mungkin dia tidak melihat ancaman yang menggantung di atasku seperti kutukan? Ini menyelimuti kulitku seperti asam yang membakar.

Dan untuk kesekian kalinya, bisakah mereka berhenti memanggilku Reina? Itu bukan namaku.

Tapi, kalau aku tidak ingat namaku, bagaimana aku bisa begitu yakin bahwa itu bukan Reina?

Aku meraih tangan perawat itu saat dia hendak pergi. Ini satu- satunya kesempatan yang aku punya untuk menghentikan semua ini, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.

"Ada yang salah, sayang?" tanya perawat dengan ekspresi lembut.

"T-tolong aku. Dia akan menyakitiku."

Genggaman Asher di tanganku semakin kuat, tapi bahkan jika perawat itu melihatnya, dia hanya akan melihat ibu jarinya mengusap punggung tanganku seolah-olah sedang menenangkanku.

Saat dia berbicara, nadanya penuh kepedulian. "Apakah ini tentang penyerangmu? Apa kamu mengingatnya, Rei?"

"Tidak, bukan itu. Maksudku—"

"Polisi ada di luar, tapi Dr. Anderson menyarankan agar kamu

(44)

44 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

beristirahat dulu sebelum berbicara dengan mereka." Perawat itu melirikku, lalu ke arah Asher. "Aku bisa memanggil mereka masuk sekarang."

“Lebih baik jika dia beristirahat dulu. Aku yakin kamu mengerti setelah semua yang dia alami.” Dia menampilkan senyum bernilai jutaan dolar—senyum yang entah menawan atau justru senyum seorang pembunuh berantai saat memilih korbannya.

Bahkan saat aku berusaha melepaskan diri dari genggamannya, aku tidak bisa menyangkal betapa berbahayanya daya tariknya.

Apakah ini…nafsu?

Itu satu-satunya alasan aku bisa bertunangan dengan seseorang seperti dia.

Sial. Itu bahkan lebih buruk daripada kehilangan ingatanku. Tolong katakan aku tidak sebodoh itu sampai-sampai mengikat diri pada pria seperti ini hanya karena nafsu.

“Kamu benar.” Perawat itu langsung jatuh ke dalam permainannya dengan mudah, begitu saja. Jika aku tidak sedang merasa seperti meleleh dari dalam, mungkin ini akan terasa ironis.

Bagaimana bisa dia tidak melihat kebohongannya? Tipuannya yang begitu terang-terangan?

Perawat itu menepuk tanganku sebelum pergi. “Obatnya akan segera bekerja.”

“T-tidak—” Suaraku terputus saat dia menutup mulutku dengan tangannya.

Pintu terbuka dengan suara mendesis, lalu menutup setelah perawat

(45)

45 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

itu pergi. Aku merintih, napasku semakin tersendat setiap detiknya.

Paru-paruku terasa terbakar, dan mataku mulai berkaca-kaca karena kekurangan udara.

Aku tidak bisa bernapas.

Sial. Aku tidak bisa bernapas.

Kuku-kuku jariku mencengkeram lengannya, bahkan dengan rasa sakit yang menyiksa di bahuku. Alih-alih melepaskanku, dia justru mengamatiku dengan tatapan penuh minat, seolah ingin melihat bagaimana aku mati. Bagaimana aku menghembuskan napas terakhirku.

Dia akan membunuhku, bukan?

Aku kembali hidup hanya untuk mati lagi.

Naluri bertahan hidupku bangkit. Aku tidak boleh mati. Aku mengerahkan sisa tenaga yang kupunya, mencakar dan menggores kulitnya.

Dia sama sekali tidak bergeming.

Jika ada, justru senyumannya semakin melebar, seolah ini adalah pertunjukan sirkus dan aku adalah tontonan favoritnya.

Saat aku merasa ini benar-benar akhirnya, dia tiba-tiba melepaskan genggamannya. Aku tersentak, terengah-engah, tersedak udara yang masuk.

Ada sesuatu yang gelap dan kosong merayap ke dalam matanya, membuatnya hampir terlihat hitam sepenuhnya. “Kamu pikir bisa melawanku?”

Jari-jarinya menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku.

Gerakan itu begitu lembut sampai napasku tercekat. Cara dia berganti dari

(46)

46 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

kelembutan ke kekejaman begitu cepat membuat kepalaku pusing.

Semua ini hanyalah permainan. Mata itu tidak mungkin mengenal kebaikan. Ini hanya sandiwara atau mungkin manipulasi yang lebih kejam.

“Kamu pikir ada yang bisa menyelamatkanmu dariku?” Dia tertawa—

tawa kosong dan mengerikan. “Kamu milikku. Untuk kuhancurkan dan kubinasakan, monster kecilku. Biasakan itu.”

Aku membuka mulut untuk membantah.

Dia menekan jarinya ke bibirku, menghentikan kata-kataku. “Diam.

Kamu tidak punya hak bicara. Kamu hanya boleh mendengar.”

Denyut nadinya terasa di bibirku—stabil, tenang…dan dingin.

Apakah mungkin sebuah nadi bisa terasa sedingin ini?

Bibirku kering dan perih, jadi aku tidak mencoba menggigitnya seperti yang diperintahkan otakku. Jika aku nekat menggigit jarinya, dia mungkin akan membalasnya dengan cara yang lebih brutal.

Tubuhku sudah terlalu lemah, rasa sakit menjalar dari tengkuk ke bahu lalu ke seluruh tubuhku. Aku hanya butuh dia pergi sampai aku cukup kuat untuk melawannya.

Bagaimana cara membuatnya menjauh tanpa menggunakan kekuatan?

Pikir. Pikir.

Aku menatap matanya yang dingin, kilauan tajam di dalam kehijauan itu. Sayang sekali, mata seindah itu dimiliki oleh orang sekejam dia.

Aku bisa mengemis dan memohon, tapi kurasa itu tidak akan berhasil padanya.

Ada begitu banyak kebencian yang terpancar darinya.

(47)

47 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Begitu banyak kehancuran.

Aku memilih cara lain.

Menjulurkan lidah, aku menyentuh jarinya, menjilat kulitnya dengan perlahan.

Sejenak, keterkejutan terpampang di matanya sebelum kelopak matanya turun setengah.

Ya. Dia bisa menyembunyikannya sesuka hati, tapi aku melihatnya.

Orang lebih mudah dikendalikan saat mereka kehilangan keseimbangan.

Terutama iblis seperti Asher. Dia tampak seperti tipe yang selalu mengendalikan segalanya, dan aku bertaruh pada itu saat aku mulai menjilati jarinya.

Aku menatapnya dengan penuh tantangan.

Kamu tidak akan bisa menguasai aku. Tidak sekarang. Tidak selamanya.

Bibir atasnya sedikit berkedut, seolah dia mendengar tantanganku dan menerimanya.

Dia mendorong jarinya ke dalam mulutku, melingkarnya di atas lidahku. Aku tersentak, tapi suara itu tertahan oleh paksaan gerakannya.

Bahunya semakin lebar, bayangannya tampak seperti Malaikat Maut yang datang untuk menjemput nyawa—dimulai dengan nyawaku.

Gigi-gigiku menyentuh kulitnya, dan aku terdiam, mempertimbangkan langkah selanjutnya.

“Gigit, dan aku akan menyakitimu lebih parah,” katanya, seakan bisa membaca pikiranku.

Aku menatap tajam ke arahnya, tapi tetap melanjutkan.

(48)

48 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Semakin dia menggerakkan jarinya di lidahku, semakin cepat aku menjilat, menjelajahi tiap sudut kulitnya.

Semakin aku berusaha, semakin marah tatapannya. Aku tidak tahu apakah itu amarah atau nafsu—atau mungkin keduanya.

Rasa panas menjalar ke tulang punggungku setiap kali aku menyedot jarinya, tapi aku tidak berhenti. Jika aku bisa mempertahankan tatapan itu, dia akan membiarkanku sendiri.

Aku membuka mulut lebih lebar, menelan lebih banyak jarinya. Aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan, tapi aku bisa merasakan sesuatu mengalir darinya menuju ke dalam diriku.

Sebuah rasa kuasa.

Perubahan dalam dinamika.

Topengnya mulai retak, dan kilatan kegilaan muncul di matanya.

Aku bisa terus menggoyahkannya, dan suatu saat, dia tidak hanya akan meninggalkanku sendiri, tapi juga menghilang sepenuhnya dari hidupku—

Dia menarik jarinya keluar secepat saat dia memasukkannya, dan aku melepasnya dengan suara ‘pop’.

Ekspresinya kembali datar, tak tersentuh.

Aku terengah-engah, berusaha mengendalikan diri dan napasku yang tak beraturan.

Rasa lelah menyerang setiap sarafku, kelopak mataku mulai turun perlahan. Pasti efek obat. Bagus—setidaknya sesuatu bisa menghilangkan rasa sakit ini.

Kasur bergeser saat Asher berdiri, menatapku dengan kebencian

(49)

49 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

dan…sesuatu yang lain.

Mungkin karena ‘sesuatu’ itu, atau mungkin karena aku tidak punya siapa pun di sini selain dia. Aku hanya tidak ingin sendirian.

Bahkan ditemani monster lebih baik daripada sendirian.

Dalam kantuk yang semakin berat, aku bergumam, “Jangan…pergi.”

“Kamu berhutang padaku. Aku tidak akan pergi lagi.”

(50)

291 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Terima kasih banyak sudah membeli dan membaca novel terjemahan dari KataKilas!

Semoga kamu menikmati setiap halaman yang ada.

Jika kamu punya masukan jangan ragu untuk hubungi aku di email:

[email protected] Aku tunggu kabar darimu! 😊

https://lynk.id/katakilas3

Wattpad Whatsapp Channel

TikTok

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, atas limpahan rahmat -Nya, sehingga skripsi yang berjudul Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Lintang Karya Nana Rina dan Implementasinya

Dengan kata lain, novel merupakan salah satu bentuk fiksi dalam bentuk prosa yang memiliki panjang cukupan dalam arti tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek serta di

Kata dusta dalam novel tersebut, termasuk ke dalam majas metafora, karena arti dari kata dusta menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) itu sendiri adalah

Dan yang termasuk kata anafora dalam novel catatan hati seorang istri karya Asma Nadia adalah (Bayangan-.. bayangan).yaitu bayangan-bayangan kebahagiaan indah

Novel Tentang Kehidupan Pierre Fauchard, karya Ferizal Sang Pelopor Sastra Kedokteran Gigi Indonesia : A novel about the life of Pierre Fauchard Judul Buku : Novel Tentang Kehidupan Pierre Fauchard, karya Ferizal Sang Pelopor Sastra Kedokteran Gigi Indonesia : A novel about the life of Pierre Fauchard Penulis / Editor : Ferizal QRCBN : 62-6418-9288-164 https://www.qrcbn.com/check/62-6418-9288-164 Pembuat Sampul : Ferizal Jumlah Halaman : 236 Jenis Penerbitan : PT. TV FANA SPM KESEHATAN PUSKESMAS Edisi : 24-6-2025 Sinopsis Novel ini : Melalui novel ini, Ferizal membawa kita menyusuri lorong waktu abad ke-18, mengenal Pierre sebagai manusia yang berani melawan tradisi, menembus batasan ilmu, dan memperjuangkan kesehatan dengan pena dan keyakinan. Sebuah kisah yang bukan hanya tentang gigi, tetapi tentang keberanian, cinta, dan pengabdian yang menginspirasi generasi. Pierre memulai perjalanan sunyi untuk menemukan cara baru. Tanpa gelar megah dan tanpa dukungan akademi, ia menulis Le Chirurgien Dentiste—sebuah buku yang menantang tradisi dan membuka babak baru dalam kedokteran gigi. Perjalanan Pierre dipenuhi cemooh, ancaman, dan pengkhianatan. Ia menghadapi bukan hanya musuh yang terlihat, tetapi juga rasa takut dan kesendirian yang menghantui langkahnya. Namun dalam setiap luka, Pierre menemukan cahaya kecil: senyum orang-orang kecil yang diselamatkannya. Bersama muridnya, Louis Gervais, Pierre membuktikan bahwa ilmu bukan milik segelintir orang berkuasa. Ilmu adalah hak setiap manusia yang ingin hidup tanpa rasa sakit. Meski ia berjalan dalam sunyi, warisan Pierre perlahan menembus batas negara dan zaman. Novel ini berlatar kisah nyata yang dibalut dengan narasi fiksi historis yang emosional. Pierre Fauchard Bapak Kedokteran Gigi Modern, beliau berjuang dari nol hingga mengubah sejarah Kedokteran