• Tidak ada hasil yang ditemukan

INKONSTITUSIONAL PENGANGKATAN KAPOLDA DI ACEH DALAM OTONOMI KHUSUS

N/A
N/A
Angga

Academic year: 2023

Membagikan "INKONSTITUSIONAL PENGANGKATAN KAPOLDA DI ACEH DALAM OTONOMI KHUSUS "

Copied!
101
0
0

Teks penuh

Kemudian, Pasal 18B Ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia menyatakan bahwa: “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang sifatnya istimewa atau istimewa yang diatur dengan undang-undang”. Untuk Daerah Otonomi Aceh, terdapat ketentuan mengenai pengangkatan Kapolda Aceh yang harus berdasarkan persetujuan gubernur, yaitu Undang-undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh b.

Pembatasan Masalah

Perumusan Masalah

Manfaat Penelitian

Secara praktis, penelitian ini dapat bermanfaat dalam memberikan masukan kepada lembaga legislatif agar lembaga legislatif membuat suatu undang-undang untuk suatu daerah tertentu sehingga dapat memberikan hak yang sama dengan daerah lainnya.

Metode Penelitian

  • Pendekatan penelitian
  • Jenis Penelitian
  • Sumber Bahan Hukum
  • Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
  • Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum
  • Teknik Penulisan

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh peneliti dari berbagai literatur dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini menggunakan buku-buku yang berkaitan dengan Kebijakan Hukum, buku-buku Hukum Tata Negara dan Politik, Topik Hukum Tata Negara dan Jurnal yang berkaitan dengan sumber bahan hukum.

Sistematika Penulisan

  • Inkonstitusional
  • Kekhususan
  • Pengangkatan
  • Kapolda
  • Provinsi Aceh
  • Desentralisasi

Kepolisian Daerah (Polda) merupakan satuan pelaksana utama daerah Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berada di bawah Kapolri. Polda dipimpin oleh Kepala Daerah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolda) yang bertanggung jawab kepada Kapolri.

Kerangka Toritis

Teori Negara Kesatuan

Negara kesatuan dengan sistem terpusat, artinya segala urusan dalam negara ditangani langsung oleh pemerintah pusat. Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi, artinya daerah diberi hak untuk ikut serta dalam pengurusan urusan dalam negerinya sendiri (otonomi daerah).

Teori Otonomi Daerah

Van der Pot16 memahami konsep otonomi daerah sebagai eigen huishouding (mengurus rumah tangga sendiri), otonomi adalah memberikan hak kepada daerah untuk mengatur daerahnya sendiri. Pemikiran kedua, asas otonomi daerah menggunakan asas otonomi yang nyata dan bertanggung jawab.

Teori Hierarki Perundang-Undangan

Penciptaan yang ditentukan oleh norma-norma yang lebih tinggi menjadi alasan sahnya seluruh sistem hukum yang membentuk satu kesatuan. Sebagaimana diungkapkan oleh Kelsen “Kesatuan norma-norma ini didasari oleh fakta bahwa penciptaan norma – yang lebih rendah – ditentukan oleh yang lain – yang lebih tinggi – yang penciptaannya ditentukan oleh norma yang lebih tinggi lagi, dan bahwa regresi ini adalah dibatasi oleh suatu yang tertinggi, norma dasar yang menjadi alasan tertinggi sahnya seluruh tatanan hukum, norma yang menjadi alasan tertinggi sahnya seluruh tatanan hukum, merupakan kesatuannya.20 Berdasarkan hal tersebut maka norma menjadi hukum yang paling rendah harus tunduk atau mengikuti norma yang lebih tinggi, dan aturan hukum yang tertinggi harus sesuai dengan norma hukum yang paling dasar. Menurut Kelsen, norma hukum yang paling dasar (grundnorme) tidak bersifat konkrit (abstrak), contohnya adalah Pancasila.

Teori Hans Kelsen mengenai hierarki norma hukum terinspirasi dari Adolf Merkl yang menggunakan teori das doppelte rech stanilits, yaitu norma hukum yang mempunyai dua wajah, yang artinya: Norma hukum berasal dari dan bertumpu pada norma-norma di atas; dan norma-norma hukum ke bawah, juga menjadi landasan dan sumber bagi norma-norma di bawahnya. Sehingga suatu norma mempunyai masa berlaku relatif (rechkracht) karena masa berlaku suatu norma tergantung pada norma hukum yang diatasnya, sehingga apabila norma hukum yang diatasnya dicabut atau dihapus, maka norma hukum yang dibawahnya juga ikut dicabut atau dihapus. 21. Teori Hans Kelsen yang banyak mendapat perhatian adalah hierarki norma hukum dan rantai keabsahan yang membentuk piramida hukum (step theory).

Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Jurnal ini23 membahas tentang Desentralisasi Asimetris, yaitu pemberian/pendelegasian wewenang khusus kepada daerah tertentu dalam pelaksanaan tugas bantuan, serta membahas daerah mana saja yang diberi spesialisasi dalam arahan pemerintahan serta latar belakang pemberian spesialisasi pada daerah tersebut. Sedangkan dalam penelitian ini membahas tentang pendelegasian wewenang yang diberikan kepada pemerintah Aceh dalam pengangkatan Kapolda. Jurnal ini24 membahas tentang desentralisasi atau pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah untuk melaksanakan tugas-tugas pertolongan, kemudian membahas tentang otonomi untuk mewujudkan demokratisasi masyarakat desa menuju kondisi yang dapat mendukung munculnya kemampuan masyarakat untuk mampu mendorong segala demokrasi. proses. di daerahnya semaksimal mungkin dengan keahliannya dalam skema kebijakan Otonomi, sedangkan penelitian ini membahas mengenai kewenangan Aceh dalam mengangkat Kapolda dengan persetujuan Gubernur. 23 Andhika Yudha Pratama, Implementasi desentralisasi asimetris dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di era demokrasi, Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Th 28, Nomor 1, 2015, hal.

24 Sakinah Nadir, “Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desa: Menuju Pemberdayaan Masyarakat Desa”, Jurnal Politik Profetik Vol 1, Nomor 1, 2013, hal. Jurnal25 ini membahas tentang sejarah perkembangan otonomi di Indonesia mulai dari disahkannya undang-undang nomor 22 tahun 1948 hingga disahkannya undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, sedangkan penelitian ini membahas tentang kewenangan memberikan persetujuan dalam pengangkatan kepala polisi daerah. . .

Sejarah Pemberian Otonomi Khusus di Indonesia

  • Sejarah Pemberian Otonomi Khusus Papua
  • Sejarah Pemberian Otonomi Khusus Aceh
  • Sejarah Pemberian Otonomi Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Sejarah Pemberian Otonomi Khusus DKI Jakarta

Otonomi Khusus berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 menempatkan masyarakat asli Papua dan masyarakat Papua pada umumnya sebagai subyek utama. Kebebasan ini sangat berbeda dengan banyak hal serupa dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Melalui pemberlakuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, GAM pun menolaknya.

Semua elemen sepakat bahwa UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh menjadi titik tolak mewujudkan Aceh sejahtera. UU No. 22 Tahun 1948 disusul dengan UU No. 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat undang-undang ini mulai berlaku (UU No. 1 Tahun 1957), terdapat daerah-daerah swantantra di Indonesia berdasarkan berbagai jenis peraturan hukum pokok, misalnya Kotamadya Jabodetabek berdasarkan Stadsgemeente-oronantie (SGO) dan Tijdelijke voorningennya junto UU - UU No. 1 dari tahun 1957.

Otonomi Khusus Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pasal 18B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa negara mengakui dan menghormati satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan undang-undang. Bagir Manan10 menyatakan, penjelasan Pasal 18 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan bentuk. Melalui asas otonomi tersebut, pelaksanaan desentralisasi di Indonesia mengalami perubahan dengan adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Konsep dan makna otonomi daerah telah mengalami perubahan mendasar sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menggantikan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Khusus hanya mengatur pengaturan otonomi khusus saja. diatur dalam undang-undang lain. Negara mengakui dan menghormati satuan khusus atau khusus yang diatur dengan undang-undang.”

Kepolisian Republik Indonesia di Tinjau dari Konsep Lembaga Negara Polisi adalah salah satu lembaga negara ysng terdapat di Indonesia , Polisi adalah salah satu lembaga negara ysng terdapat di Indonesia ,

Sebagaimana kita ketahui, kepolisian merupakan suatu lembaga yang terintegrasi dengan militer dalam menjalankan fungsi keamanan, namun hal ini telah diatur dalam Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bab XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, Ketetapan MPR RI No. Kebijakan di bidang pertahanan/keamanan bertujuan untuk menggabungkan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia ke dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Peran sosial politik dalam dwifungsi TNI menyebabkan terjadinya penyimpangan peran dan fungsi TNI dan Polri yang berakibat pada berkembangnya landasan demokrasi dalam kehidupan berbangsa, bernegara. dan masyarakat.

Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XII Tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, Ketetapan MPR RI No. VI/MPR/2000 dan Ketetapan MPR RI No. VII/MPR/2000 melahirkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang kini menjadi landasan hukum normatif keberadaan Kepolisian NRI. Pengertian kepolisian terdapat dalam pasal nomor 1 undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara Republik Indonesia.” Pemberian pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan dalam lingkup tugas kepolisian; dan .. i) Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan Kepolisian Republik Indonesia dipimpin oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 “ Kepolisian Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

Pengangkatan Kapolda Dalam Negara Kesatuan

Indonesia merupakan negara kesatuan yang berbentuk republik, sehingga kepala negaranya adalah Presiden Republik Indonesia. Presiden sebagai lembaga tertinggi negara dalam suatu negara kesatuan mempunyai kewenangan yang sangat luas, semua kewenangan tersebut diatur dalam peraturan tersendiri, misalnya dalam hal pengangkatan Kepala Polisi Negara Republik Indonesia (Kapolri), Presiden mempunyai wewenang. berhak memilih siapa saja anggota polisi yang telah memenuhi persyaratannya. Persyaratan untuk mengisi posisi tersebut bermacam-macam, hal ini sesuai dengan Pasal 11 ayat 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berbunyi: “Kapolri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.” Sebagai lembaga tinggi negara, presiden berhak mengangkat dan juga memberhentikan Kapolri, hal ini sesuai dengan isi pasal 11 ayat 1, dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara, sehingga dapat dipahami bahwa Kepolisian Negara adalah lembaga yang berada di bawah Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, pada Pasal 8 ayat bahwa dalam Pasal 8 ayat 1: “Kepolisian Negara Republik Indonesia berada di bawah Presiden.

Kapolda yang selanjutnya disebut Kapolda adalah pimpinan Polri di provinsi dan bertanggung jawab kepada Kapolri sesuai dengan ketentuan Pasal 7 huruf a) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 tentang Wilayah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ketetapan MPR dan undang-undang, sistem pemerintahan kita telah memberikan kebebasan yang sangat luas kepada daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah sendiri.

Rekomendasi

Pengangkatan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) merupakan kewenangan Presiden atau Pemerintah Pusat sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan. Sebab, konsep kepolisian sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 merupakan alat negara yang tugas, asas, dan fungsi (tupoksi) menjaga keamanan negara yang dalam hal ini domainnya. Presiden sebagai kepala pemerintahan dengan mengacu pada Pasal 4 ayat (1) UUD 1945, dimana Presiden adalah pemegang kekuasaan pemerintahan. Negara Kesatuan Republik Indonesia mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat istimewa atau khusus, sesuai dengan Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sepanjang sesuai dengan ketentuan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia, ada hal-hal yang merupakan urusan pemerintahan yang merupakan batas bagi seluas-luasnya pelaksanaan ontonomi. Peneliti berharap DPR sebagai lembaga legislatif dapat merevisi peraturan tersebut dan mengembalikan kewenangan pengangkatan kapolda kepada Kapolri, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di lingkungan kepolisian.

Peneliti berharap agar diberlakukan pembatasan khusus terhadap pelaksanaan otonomi khusus agar tidak bertentangan dengan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Huda Ni'matul, Dayung antara bentuk negara kesatuan dan federal, Daftar Ustavni PSHK UII, Vol.1.No.01,. Otonomi Khusus Papua Angkat Martabat Masyarakat Papua dalam NKRI (Penerbit Perpustakaan Sinar Harapan: Jakarta, 2006).

Jurnal

Undang-Undang

Website

Referensi

Dokumen terkait

yang berlaku bagi masyarakat Islam di Aceh Jangan sampai dengan adanya peristiwa pengangkatan anak, akan terjadi hal-hal yang bertentangan dengan pemberlakuan syariat

Selain itu, dalam Penjelasan Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan

Eksistensi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 yang menyangkut Pasal 48 Ayat (2), menyatakan bahwa kebijakan mengenai keamanan di Provinsi Papua dikoordinasikan oleh Kepala

Berdasarkan ketentuan Pasal 49 Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2006 dan Penjelasannya, permohonan pengangkatan anak di pengadilan agama selain dilakukan oleh

Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pemerintah Aceh mendapat tambahan dana bagi hasil Minyak dan gas bumi untuk membiayai

melimpahkan kewenangan dibidang perizinan dan kewenagan lain sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 170 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh kepada Dewan

bahwa untuk percepatan pengembangan Kawasan Sabang, berdasarkan Pasal 170 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh memerintahkan kepada

Lihat juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh; Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syari’at Islam; Surat Keputusan Gubernur Nanggroe Aceh