• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU "

Copied!
91
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui cara penanganan pekerja seks komersial yang dilakukan pemerintah kota Bengkulu menurut syariat Islam.

Kegunaan Penelitian

Penelitian Terdahulu

10 Disertasi Erna Wahyuni ​​“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1956 tentang Pemberantasan Prostitusi di Kota Semarang”.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini data primer diperoleh melalui pedoman observasi perlakuan terhadap pekerja seks komersial oleh pemerintah kota Bengkulu ditinjau dari hukum positif dan hukum Islam. Oleh karena itu, sumber data utama dalam penelitian ini diperoleh dari informasi yang diberikan oleh para pelacur sebagai penulis pemeringkatan jenis kelamin. Data sekunder merupakan data yang mendukung data primer mengenai perlakuan terhadap pekerja seks komersial oleh pemerintah kota Bengkulu ditinjau dari hukum positif dan hukum Islam.

Sistematika Penulisan

Sutopo mengatakan, untuk menganalisis data deskriptif kualitatif digunakan analisis interaktif yang terdiri dari 3 komponen yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi yang digambarkan dalam proses yang bersiklus. Bab III membahas tentang gambaran umum objek penelitian yang terdiri atas: Profil Kota Bengkulu, Profil Satuan Kepegawaian Aparatur Sipil Negara dan Dinas Sosial Kota Bengkulu. Faktor Penghambat Pemerintah Kota Bengkulu dalam Menangani Pekerja Seks Komersial; Pekerja Seks Komersial dan Faktor Pengaruhnya Menjadi Pekerja Seks Komersial; Pandangan Islam tentang pekerja seks komersial.

KERANGKA TEORI

Ciri-Ciri Pekerja Seks Komersial (PSK)

Walaupun disadari sangat sulit untuk membuat garis besar yang jelas mengenai klasifikasi pelacur, namun ada beberapa jenis pelacur yang dikenal luas di masyarakat. Di banyak ibu kota provinsi di Indonesia, Anda sering melihat PSK seperti ini menunggu pelanggan di sepanjang jalan tertentu, terutama pada malam hari. Ketiga, lokalisasinya pada kawasan khusus yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman penduduk, dan penempatannya ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah setempat.

Beberapa lokasi terkenal di kota-kota besar di Indonesia adalah: Gang Dolly di Surabaya, Kramat Tunggak di Jakarta, Saritem di Bandung, Pasar Kembang (Sarkem) di Yogyakarta dan Sunan Kuning di Semarang, Pulau Bai di Kota Bengkulu. Bentuk prostitusi ini bersifat rahasia, artinya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, dan tarif yang dikenakan pada pelacur jenis ini biasanya sangat tinggi, bahkan terkadang mencapai puluhan juta rupiah. Banyak keluarga PSK yang mengetahui dan bahkan mendukung aktivitas anak atau istrinya karena mereka bisa rutin menerima uang.

Di beberapa daerah di Pulau Jawa, ada kewajiban yang dipikul anak untuk membantu, mendukung, dan menjaga hubungan baik dengan orang tuanya ketika orang tuanya sudah lanjut usia. Jika anak perempuan dipandang sebagai sawah atau komoditas, maka ekspektasi orang tua seperti ini, disadari atau tidak, akan berdampak pada anak perempuan mereka. Minimnya jaminan jaminan sosial di tengah terbatasnya kesempatan kerja tentu menjadi permasalahan besar bagi masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tepat.

Karena terbatasnya kesempatan kerja, banyak anak yang tidak mendapatkan pekerjaan meski sudah menyelesaikan pendidikan belasan tahun.

Konsep Hukum Roscoe Pound tentang Law As a Tool Of Sosial

Hukum yang digunakan sebagai sarana inovasi dapat berupa hukum atau yurisprudensi atau kombinasi keduanya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, di Indonesia, peraturan perundang-undangan merupakan hal yang paling menonjol, dan yurisprudensi juga berperan, namun tidak banyak. Agar pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang bertujuan inovasi dapat berjalan dengan baik, maka peraturan perundang-undangan yang dibentuk harus sesuai dengan apa yang menjadi inti pemikiran mazhab fikih sosiologi, yaitu: hukum yang baik harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang hidup di masyarakat. Jika tidak, maka ketentuan tersebut tidak akan dilaksanakan dan akan menghadapi tantangan. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari pembentuk undang-undang, aparat penegak hukum, pencari keadilan, atau kelompok masyarakat lainnya.

Hukum dalam masyarakat modern saat ini mempunyai ciri yang menonjol, yaitu penggunaannya dilakukan secara sadar. Roscoe Pound memandang bahwa hukum merupakan alat rekayasa sosial dan kontrol sosial yang bertujuan untuk menciptakan keselarasan dan keselarasan yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat secara optimal. Oleh karena itu, singkatnya aliran hukum yang konsepnya adalah hukum dibuat dengan tujuan memperhatikan hukum yang hidup dalam masyarakat atau hukum yang hidup, baik tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam hukum tertulis misalnya, hal ini tergambar jelas oleh hukum sebagai hukum yang tertulis, sedangkan yang dimaksud dengan hukum tidak tertulis di sini adalah hukum adat, dimana hukum ini pada mulanya hanyalah suatu adat istiadat, yang lama kelamaan menjadi undang-undang yang dalam penggunaannya berlaku tanpa ada hukum adat. ditulis. Dalam masyarakat yang mengakui hukum tidak tertulis dan berada pada masa gejolak dan transisi, hakim merupakan penyusun dan penggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Untuk itu hakim harus berada di tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui, merasakan dan mampu menggali rasa keadilan dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.

30 Nazaruddin Lathif, “Teori Hukum Sebagai Sarana/Alat Pembaharuan atau Perekayasa Masyarakat”, Jurnal Kajian Hukum Pakuan, Vol 3 No.

Tertib Sosial

Banyak hal atau permasalahan yang dibawa oleh penegak hukum, misalnya saja seperti permasalahan prostitusi yang melibatkan perempuan yang membuat sendiri barang-barang yang diperdagangkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pelacur mempunyai dasar kata “pelacur” yang berarti miskin, sengsara, tidak berhasil, tidak beruntung atau tidak menjadi. Dalam bahasa Inggris prostitusi disebut dengan prosstitution yang artinya tidak jauh berbeda dengan bahasa latin yaitu prosstitution, prosstitution atau maksiat.

Orang yang melakukan tindakan prostitusi disebut pelacur, disebut juga WTS atau pelacur. Secara etimologis, kata pelacur dalam bahasa Indonesia memang lebih banyak diartikan sebagai perempuan yang dilacurkan, dibandingkan laki-laki yang dilacurkan, padahal dalam praktiknya kedua jenis kelamin bisa menjual dirinya. Jika istilah WTS lebih dikenal dibandingkan dengan istilah pelacur perempuan, maka dapat dibedakan dengan pelacur laki-laki yang disebut gigolo.

Gigolo sendiri diartikan sebagai laki-laki bayaran yang dipelihara atau dipekerjakan oleh perempuan sebagai kekasih atau pasangan seksual. Iwan Bloch berpendapat bahwa, “Prostitusi adalah suatu hubungan seksual di luar nikah dengan pola tertentu, yaitu dengan siapa saja secara terbuka dan hampir selalu dengan bayaran, baik untuk persetubuhan atau kegiatan seksual lainnya yang memberikan kepuasan yang diinginkan oleh yang bersangkutan.” Sementara itu Commenge mengatakan bahwa prostitusi atau prostitusi adalah, “Suatu perbuatan seorang perempuan memperdagangkan atau menjual tubuhnya, untuk itu hal itu dilakukan. Masyarakat memandang prostitusi atau prostitusi sebagai suatu hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tanpa terikat oleh suatu perkawinan sah yang sah.

Sehingga kesehatannya sangat dipertanyakan karena belum tentu mau ke dokter.

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pekerja Seks Komersial

Dalam hukum Islam, pemanjaan nafsu seksual dianggap sah hanya jika dilakukan melalui perkawinan yang sah. Menurut hukum Islam, perzinahan sangat berbeda dengan konsep hukum konvensional karena dalam hukum Islam, segala hubungan seksual tanpa ikatan perkawinan (yang dilarang), seperti prostitusi, termasuk dalam kategori perzinahan, baik untuk tujuan komersial maupun tidak. dilakukan oleh seseorang yang mempunyai keluarga atau oleh orang yang tidak berkeluarga, baik duda, janda atau lajang, sepanjang ia tergolong blasteran. 42 Dian Andriasari, Studi Banding Perzinahan dalam Hukum Indonesia dan Hukum Turki, Jurnal Syiar Hukum FH.Unisba.

Oleh karena itu, Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang merupakan sumber terpenting hukum Islam, sama-sama melarang tindakan perzinahan atau prostitusi. Dalam hukum Islam, tidak ada definisi luas yang secara umum menyebutkan prostitusi atau pekerja seks komersial (PSW). Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah pemberian layanan seksual yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan untuk mendapatkan uang atau kepuasan.

Apakah unsur “pelayanan seksual” dalam pengertian prostitusi berarti persetubuhan antara laki-laki dan perempuan di luar nikah dapat disamakan dengan unsur zina dalam hukum Islam? Hal ini merupakan persoalan yang perlu diperjelas status hukumnya, mengingat dalam hukum pidana nasional istilah perzinahan dan prostitusi dibedakan berdasarkan delik. Sedangkan As-syafi'iyyah mengartikan zina adalah memasukkan alat kelamin laki-laki atau bagian-bagiannya ke dalam alat kelamin perempuan yang bukan mahram dengan melakukan sesuatu di luar syahwat yang meragukan.

Penetapan tindak pidana dalam hukum Islam lebih banyak ditangkap oleh jinayah ta’zir berupa kurungan dan atau denda.

Profil Kota Bengkulu

  • Geografi
  • Kependudukan

Kondisi tingkat pendidikan tersebut merupakan faktor yang sangat menunjang dalam penyelesaian permasalahan kesehatan, karena tingkat pendidikan yang tinggi mendukung program kesehatan yang lebih baik. 49 Profil Daerah Bappeda Provinsi Bengkulu, https://jati08.Wordpress.com/profil-kota-Bengkulu/ diakses Kamis, 25 Maret 2021 pukul 10.25. Tingkat pendidikan tertinggi yang diselesaikan penduduk Bengkulu adalah SLTA/S2 sebesar 36,21%, namun masih terdapat warga yang tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf).

Satuan Polisi Pamong Praja

Dinas Sosial

PEMBAHASAN

Faktor Penghambat Pemerintah Kota Bengkulu Dalam

Pekerja Seks Komersial dan Faktor Pengaruh Menjadi Pekerja

Pekerja seks komersial, atau biasa disebut pelacur, menjual layanan seksual seperti seks oral atau seks demi uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, kini sering disebut pekerja seks komersial (PSW). Dari sudut pandang hukum Islam, prostitusi, pekerja seks komersial, pelacur adalah perzinahan karena pelakunya tidak mempunyai hubungan darah atau hubungan intim dengan suami atau istri sendiri, melainkan orang yang tidak mereka kenal sekalipun.

Sikap tersebut menjadi tanda atau pertanda bahwa masyarakat Indonesia khususnya di Kota Bengkulu semakin menjauh dari syariat Islam. Dari data yang diperoleh melalui penelitian dapat disimpulkan bahwa pekerja seks komersial di Kota Bengkulu masih tergolong banyak kasus lokalisasi. Badan tersebut yaitu melakukan langkah demi langkah: pengintaian dan penyamaran, penggerebekan, pendataan dan penahanan PSK di Kota Bengkulu.

Rehabilitasi (pelatihan atau pembinaan), yaitu kegiatan residensial dimana peserta diharuskan tinggal di asrama selama kurang lebih 3 sampai 6 bulan untuk mendapatkan pengembangan keterampilan mental, sosial, fisik dan kerja untuk mengubah pandangan mereka terhadap prostitusi dan mempersiapkan mereka untuk meninggalkan pekerjaannya. sebagai pekerja seks dan berintegrasi ke dalam masyarakat. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan kepada instansi terkait untuk lebih menekankan pelarangan prostitusi atau pekerja seks komersial di Kota Bengkulu berdasarkan Peraturan Daerah No. Nunung dan Binahayati, “Penanganan Pekerja Seks Komersial di Indonesia”, Jurnal Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Vol.

Dokumentasi wawancara dengan aparat Kepolisian Pamong Praja (Satpol PP), dinas sosial dan pekerja seks komersial.

Pandangan Islam Mengenai Pekerja Seks Komersial

PENUTUP

Saran

24 Tahun 2000 tentang Larangan Prostitusi dan tidak hanya berpegang teguh pada cara razia untuk menangani para pekerja seks tersebut, namun harus ada cara lain untuk mengatasinya. Selain itu, jangan lupakan para PSK untuk mencoba mencari pekerjaan lain atau membuka usaha lain untuk meningkatkan taraf hidupnya di kemudian hari, karena jika ingin mencoba pasti ada cara untuk mendapatkannya. Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafis, 2011 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,.

Mughniyah, M Jawad, Lima Mazhab Fiqih, Jakarta: Lentera, 2000 Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006). Sedihnya, Hasan, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, Jakarta: Rieneke Cipta Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta, LKis. 1994). Arlinandes Jeffri, “Peraturan Daerah (Perda) Syariah dan Peraturan Daerah Bernuansa Syariah dalam Konteks Hukum Tata Negara di Indonesia”, Jurnal Pemerintahan dan Politik, Vol.

Referensi

Dokumen terkait

These results mean that transformational leadership used by company leaders by encouraging subordinates to think about innovation, creativity, new methods, or ways