• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH (Studi kasus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "INTEGRASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH (Studi kasus"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

INTEGRASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH

(Studi kasus: Siswa Etnis Minangkabau dan Siswa Etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya)

ARTIKEL

LOLA AGUSTI NPM: 12070018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2016

(3)
(4)

Social Integration of Students in the School (Case Study: Minangkabau and Javanese ethnic groups students at SMA N 1 Koto Baru, Dharmasraya). Advisor Drs. Wahyu

Pramono, M.Si and Isnaini, M.Si. thesis. Sociology college of teacher training and education (STKIP) PGRI West Sumatera Padang, 2016.

Oleh:

Lola Agusti1 Wahyu Pramono2 Isnaini3

* The Sosiology education student of STKIP PGRI West Sumatera

** The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI West Sumatera

ABSTRACT

Dharmasraya has two ethnic groups; Minangkabau and Javanese where predominantly ethnic group is Minangkabau. Although these the ethnic groups have different backgrounds as in SMA N 1Koto Baru, the majority of students come from Minangkabau ethnic groups. This research has two research questions; (1) what are the forms of integration of students in the school, (2) what are the factors that encouraging the integration. This research aimed to describe the forms of social integration of Minangkabau and Javanese ethnic groups students in SMA N 1 Koto Baru, Dharmasraya and to describe the factors that contributed to the social integration of Minangkabau and Javanese etnic groups students in the SMA N 1 Koto Baru, Dharmasraya.

The theory used in this research was the structural-functional theory by Talcott Parsons to see the social integration in differencial ethnic groups and as a reference to see how the unification of ethnic groups each other. This research used descriptive type with qualitative approach. The technique sampling of this research was purposive sampling with 29 informants. The data collection was done by observation and in- depth interviews. The analysis of the data used interactive analysis model deloveloped by B. Miles and Huberman; (1) reduction data, (2) data presentation or data display and,(3) conclusion or verification.

The results of this research showed that the the forms of social integration of Minangkabau and Javanese etnic groups students at SMA N 1 Koto Baru, Dharmasraya were acculturation and assimilation. Meanwhile, the factors that contributed to the social integration were the cooperation, the consensus value, and the tolerance factor.

1 Mahasiswa Program StudiPendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

2Pembimbing I, staf pengajar Prodi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

3 Pembimbing II, staf pengajar Prodi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat

(5)

ABSTRAK

Lola Agusti (NPM:12070018).INTEGRASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH (Studi Kasus:

Siswa Etnis Minangkabau dan Siswa Etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya). Pembimbing Drs. Wahyu Pramono, M.Si dan Isnaini, M.Si. Skripsi.

Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Padang 2016.

Dharmasraya terdapat etnis Minangkabau dan etnis Jawa, mayoritas penduduknya berasal dari etnis Minangkabau. Meskipun diantara etnis tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, seperti halnya di SMA N 1 Koto Baru yang siswanya beragam etnis, mayoritas siswanya berasal dari etnis Minangkabau. Pertanyaan penelitian ini, bagaimana bentuk-bentuk integrasi siswa di sekolah, dan apa faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru serta menggambarkan faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya.

Teori yang digunakan adalah teori Struktural fungsional menurut Talcott Parsons.

Sebagai model analisis dalam melihat integrasi sosial yang terjadi antara sukubangsa yang berbeda dan sebagai acuan untuk melihat bagaimana penyatuan suku bangsa yang satu dengan sukubangsa lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pemilihan informan dilakukan purposive sampling dengan jumlah informan 29 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam. Analisa data dalam penelitian ini, di analisis dengan langkah-langkah model analisis interaktif yang di kembangkan oleh B. Miles dan Huberman. Yaitu 1) reduksi data, 2) penyajian data atau display data, 3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa terjadi di lingkungan sekolah. bentuk-bentuk integrasi sosial yang mereka lakukan di sekolah tersebut adalah: 1) akulturasi, 2) asimilasi. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru tersebut seperti: 1) kerjasama, 2) adanya consensus atau kesepakatan nilai, 3) faktor toleransi.

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Indonesia Negara kepulauan yang wilayahnya di huni oleh berbagai etnis dengan adat istiadat yang beragam.

Karakteristik budaya tiap etnis tersebut sangat unik. Hildred Geertz, menyebutkan adanya lebih dari 300 suku bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultural yang berbeda-beda (Nasikun, 2014:44).

Kabupaten Dharmasraya merupakan Kabupaten yang berpotensi di provinsi Sumatera Barat, seperti: dalam bidang ekonomi, perkebunan, pertanian, perikanan, kehutanan, pariwisata, industri, perdangangan dan jasa, koperasi dan pertambangan. Di Kabupaten Dharmasraya memiliki lebih kurang 201. 370 jiwa, dan hamper 68% adalah etnis Minangkabau dan 32% adalah etnis Jawa berdasarkan sensus terakhir (2015), dari penduduk Kabupaten

Dharmasraya merupakan transmigran dari berbagai pulau Jawa. Jawa sudah terjadi sejak 30 tahun lalu. Dharmasraya merupakan akulturasi dari etnis Minangkabau, dan etnis Jawa yang selama ini hidup rukun dan tidak ada konflik yang terjadi (Laporan kinerja instansi pemerintah, 2015:1-12).

Masyarakat generasi multietnis seperti Minangkabau dan Jawa. Yang terdapat di Dharmasraya juga berinteraksi di lingkungan sekolah. sekolah merupakan salah satu tempat berlangsungnya proses sosialisasi. Proses sosialisasi terjadi melalui interaksi yaitu adanya hubungan antar setiap manusia yang menghasilkan suatu proses hubungan yang timbal balik. Sekolah dapat dikatakan sebagai suatu sistem sosial yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Sekolah terdapat sebuah pola interaksi baik itu tata pelaksana administrasi, kepala sekolah, maupun guru dengan siswa dan yang lebih penting adalah antara sesama

(6)

siswa. Interaksi yang terjadi antara siswa dapat terjadi di dalam maupun diruangan kelas. Salah satu sekolah yang ada di Dharmasraya adalah SMA N 1 Koto Baru.

Di sekolah ini terdapat siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa. Di SMA N 1 Koto Baru pada tahun 2016 jumlah siswa 643 orang dengan jumlah siswa Minangkabau sebanyak 364 orang dan siswa Jawa sebanyak 279 orang.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di SMA N 1 Koto Baru. Selama berhubungan atau berinteraksi antar etnis Minangkabau dan etnis Jawa pernah terjadinya konflik antara siswa Minangkabau dan siswa etnis Jawa. Di sebabkan oleh: (1) saling cemooh bahasa daerah. (2) saling berbeda pendapat, (3) adanya gank-gank tiap-tiap kelompok etnis. Adapun penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui guru BK, dan siswa yang bermasalah mendapatkan hukuman seperti: membersihkan WC, membersihkan lapangan basket, membersihkan ruangan guru dan sebagainya. Contoh asimilasi di sekolah tersebut adalah, siswa Jawa bisa berbahasa Minangkabau sedangkan orang Minangkabau tidak bisa berbahasa Jawa.

Contoh dari akulturasi tersebut adalah siswa etnis Jawa membawakan tarian daerahnya di sekolah sedangkan siswa etnis Minangkabau tetap melakukan tarian-tarian daerahnya sendiri siswa Minangkabau tidak mau terpengaruh oleh tarian-tarian siswa Jawa.

Mereka tetap memakai tarian-tarian daerah Minangkabau.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) bagaimana bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru? (2) apa faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka terdapat beberapa tujuan yang dicapai, diantaranya: (1) mendeskripsikan bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru, (2) menggambarkan faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi sosial siswa

etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di lingkungan SMA N 1 Koto Baru.

Manfaat Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan diharapkan berguna dan bermanfaat sebagai berikut: (1) secara akademis, diharapkan dapat menambah khasana pengetahuan tentang sosiaologi pendidikan, serta bermanfaat untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti masalah ini, (2) secara praktis, memberikan masukan kepada SMA N 1 Koto Baru agar dapat meningkatkan kerjasama dan toleransi dengan siswa yang berbeda etnis.

TINJAUAN PUSTAKA Pendekatan Teoritis

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah “teori fungsional struktural” Talcott Parsons. Thomas Bemard menempatkan teori-teoi tersebut di dalam konteks yang lebih luas dalam perbebatan antara teori-teori consensus (salah satunya adalah fungsionalisme struktural). Dimana teori consensus melihat norma-norma dan nilai-nilai yang dianut bersama sebagai hal yang fundamental bagi masyarakat, memusatkan perhatian pada tatanan sosial yang didasarkan pada kesepakatan- kesepakatan diam-diam dan melihat perubahan sosial terjadi dalam bentuk yang lambat dan teratur .

Teori struktural fungsional memiliki pandangan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pada bagian-bagian atau elemen-elemen yang lain. Asumsi dasarnya yaitu bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap strutur yang lain.

Penjelasan Konseptual

Integrasi atau “integration”

(Inggris) mempunyai arti keseluruhan atau kesempurnaan. Maurice Duverger mendefinisikan integrasi sebagai dibangunnya suatu bangunan yang bersifat interdependensi (kesalingtergantungan) yang lebih rapat antara bagian-bagian dari organism hidup atau antara anggota-anggota dalam masyarakat. Dengan demikian, dalam integrasi sosial terjadi penyatuan atau mempersatukan hubungan anggota-anggota

(7)

masyarakat yang dianggap tidak harmonis (Kolip & Setiadi, 2011:574).

Integrasi mengandung dua pengertian, yaitu pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem sosial dan membuat suatu keseluruhan atau menyatukan unsur-unsur tertentu, khususnya dalam suatu masyarakat yang beranekaragam. Sedangkan dikatakan integrasi sosial jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.

Masyarakat terdiri atas unsur-unsur yang berbeda-beda, minsalnya perbedaan kedudukan sosial, ras, etnis, agama, bahasa.

Untuk dapat hidup saling berdampingan, diperlukan suatu penyesuaian antara satu dengan lainnya untuk mengurangi perbedaan-perbedaan dan berusaha memupuk kesamaan yang terdapat di antara mereka dalam suatu kesatuan wilayah adat atau Negara. Suatu integrasi sosial diperlukan agar masyarakat tidak bubar walaupun menghadapi berbagai tantangan.

Baik berupa tantangan fisikmaupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.

Menurut Paul B.Horton masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang relative mandiri, hidup bersama cukup lama, mendiami wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagai besar kegiatan dalam kelompok tersebut. Masyarakat juga dapat diartikan sebagai organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama yang lain. didalam masyarakat terdapat suku bangsa, kebudayaan, adat istiadat, dan kepercayaan yang beranekaragam atau masyarakat multicultural. Multicultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Masyarakat multicultural berarti keadaan masyarakat yang didalamnya terdapat keanekaragaman budaya, termasuk didalamnya keragaman bahasa, agama, adat istiadat, dan pola-pola sebagai tatanan perilaku anggota masyarakatnya (Setiadi & Kolip, 2011:36).

Menurut Suparlan

multikulturalisme berasal dari kata kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan umut manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multicultural telah membentuk suatu ideology yang disebut multikulturalisme. Dengan demikian

multikulturalisme merupakan paham yang menganut asas keragaman sosial budaya yang dianut oleh suatu bangsa (Setiadi &

Kolip, 2011:553).

Bentuk-bentuk Integrasi Sosial Integrasi sosial adalah proses yang terjadi secara bertahap sebagai lawan dari konflik (pertentangan) di dalam masyarakat.

Para ilmuan mengidentifikasi bentuk-bentuk ideal suatu integrasi sosial, yaitu meliputi akulturasi dan asimilasi.

A. Akulturasi

Akulturasi yaitu: penerimaan sebagai unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli (Saebani & Abidin, 2014:166). Istilah akulturasi, atau acculturation atau culture contact, mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi, tetapi semua sepaham bahwa konsep itu mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

B. Asimilasi

Asimilasi (assimilation) adalah proses sosial yang timbul bila ada: (1) golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, (2) saling bergaul lansumg secara intensif untuk waktu yang lama, (3) sehingga kebudayaan- kebudayaan golongan-golongan tadi masing- masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsur kebudayaan campuran.

Konsep Kelompok Etnis

Konsep kelompok etnis dikenal sebagai suatu populasi yang secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan. Ada ciri-ciri tertentu pada kelompok etnis yaitu sebagai berikut: (1) mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, (2) membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, (3) menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain (Saebani, 2012:158).

Ciri-ciri kebudayaan khusus pada kelompok etnis adalah keabadian unit-unit

(8)

budaya ini dan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya unit budaya.

Pada kelompok etnis, unit budaya akan mempersatukan pengelompokannya karena keanggotaan kelompok etnis bergantung pada kemampuan kelompok memperlihatkan sifat budaya kelompoknya.

Etnis Minangkabau

Etnis Minangkabau suku bangsa asli yang hidup dan berkembang di Sumatera Barat. Etnis Minangkabau yang identik dengan sebutan sebagai suku bangsa Minang atau orang Padang. Menganut sistem kekerabatan matrilineal. Dalam sistem kekerabatan ini garis keturunan diwariskan garis Ibu. selain kuat memegang ajaran adat istiadatnya, masyarakat Minangkabau juga teguh dalam melaksanakan ajaran islam.

Pepatah adatnya mengatakan “adat basandi sarak, syarak, syarak basandi kitabullah”

wilayah Minangkabau terdiri atas dua pola, yakni darek (darat) dan pesisir (rantau) yang secara historis terbentuk dari perpaduan beberapa suku bangsa, terutama di daerah rantau yang menjadi pusat perekonomian tertentunya menjadikan daerah tersebut banyak dimasuki oleh berbagai kelompok etnis pendatang (Zainuddin, 2010:7-8).

Dalam perspektif kelompok etnis Minangkabau, menurut Zainuddin setiap orang dari manapun asalnya dapat menetap di wilayah Minangkabau terutama wilayah rantau. Orang Minangkabau menyebut masyarakatnya dengan istilah alam Minangkabau. Dan menyebut kebudayaanny sebagai adat Minangkabau.

Etnis Jawa

Orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa. Orang Jawa dibedakan dari kelompok- kelompok etnis lain di Indonesia oleh latar belakang sejarah yang berbeda, oleh bahasa dan kebudayaan mereka. Kebanyakan orang Jawa hidup sebagai petani atau buruh tani.

Kajian Relevan

Penelitian relevan dimaksudkan untuk mengungkapkan hasil-hasil penelitian terdahulu dan relevan dengan penelitian yang peneliti lakukan, adapun penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Setyawati (2013) yang berjudul “strategi masyarakat multikultural dalam membangun solidaritas (studi kasus: etnis Jawa, Batak, Minangkabau di Desa Sipora Jaya,

Kecamatan Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada beberapa faktor pendorong masayarakat membangun solidaritas, yaitu:

1) faktor individu, 2) faktor lingkungan, 3) faktor agama, 4) faktor karena paksaan. Dari faktor-faktor tersebut ada suatu strategi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sipora Jaya dalam membangun solidaritas yaitu dengan cara melakukan suatu kegiatan bersama dan membentuk suatu lembaga atau organisasi- organisasi sebagai alat pemersatu masyarakat.

Watini, (2014) “interaksi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi (studi kasus: di Jorong Bukit Subur Nagari Ranah Palabi Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya)”. Hasil penelitian ini menu jukan bahwa pola interaksi masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi di Jorong Bukit Subur Nagari Ranah Palabi berbentuk horizontal dan vertikal dengan kategori antar individu dengan individu 52% antar individu dengan kelompok 34% dan antar kelompok dengan kelompok 14%.

METODOLOGI

Pendekatan dan Tipe Penelitian Berdasarkan latar belakang belakang dan kajian teori, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor metodologi kualitatif sebagai prosedur peneletian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati (Moleong, 2010:4).

Metode ini digunakandengan beberapa pertimbangan, pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih muda apabila di hadapkan dengan kenyataan jamak, kedua,metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan informan. Ketiga, ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap nilai-nilai yang dihadapi (Moleong, 2010:10).

Penelitian yang dilakukan dengan tipe deskriptif, dimana penelitian ini hanya

mengembangkan konsep dan

mengumpulkan fakta-fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa penelitian deskriptif mencoba untuk mencari

(9)

data seluasnya dalam rangka mencari kondisi sosial dari sekelompok manusia (Moleong, 2010:3).

Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa yang akan membentuk integrasi sosial di sekolah SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan penerikan informan yang dipilih secara sengaja oleh peneliti dengan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan atau karakteristik tertentu sesuai dengan penelitian dan keberadaan mereka yang diketahui oleh peneliti.

Informan diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 29 orang yang terdiri dari siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa, kepala sekolah, para guru dan staf pegawai sekolah, antara lain terdiri dari siswa Minangkabau 11 dan 10 siswa Jawa, 1 orang kepala sekolah, dan 7 orang para guru dan staf mengajar di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya.

Jenis Data

Data primer adalah data yang diperoleh secara lansung dari informan dilapangan atau dari sumber asli. Hal tersebut dapat dikatan dengan observasi dan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Adapun yang merupakan data primer dalam penelitian ini adalah keterangan yang diperolah dari hasil wawancara mengenai integrasi sosial siswa di sekolah.

Data sekunder adalah data untuk melengkapi data primer yang sudah ada.

Apapun data-data tersebut berupa gambaran umum tentang SMA N 1 Koto Baru, data sekunder adalah data pendukung penelitian yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi relevan dan berkaitan dengan penelitian yang dilakukan., bisa berbentuk laporan atau dokumen yang didapati dari berbagai sumber media dan dokumentasi dari masrayat setempat.

Metode Pengumpulan Data Observasi

Observasi yang dilakukan penulis dengan melihat aktivitas siswa etnis Minangkabau dn siswa etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya.

Dimana mereka berusaha dalam membentuk suatu persatuan baik dalam suatu organisasi atau mereka melakukan belajar kelompok diwaktu jam istirahat. Mereka juga memiliki tingkat kerja sama yang baik, baik bekerjasama sdalam suatu organisasi maupun disetip aktivitas yang lain mereka lakukan.

Observasi pertama kali penulis lakukan yaitu ketika penulis mengantarkan surat penelitian ke SMA N 1 Koto Baru.

Bertepatan pada tanggal 14 April 2016. Pada waktu itu penulis diminta oleh kepala sekolah menemui beliau, dan kepala sekolah meminta penulis untuk menjelaskan apa yang mau diteliti, setelah surat izin penulis dibaca oleh kepala sekolah, beliau meresponnya dengan baik dan langsung member izin kepada penulis. Wawancara dilakukan di sekolah disaat jam istirahat dan penulis juga melakukan observasi di sekolah dan mengambil dokumentasi dengan mengambil foto siswa Minangkabau maupun siswa Jawa yang sedang melakukan kegiatan pada jam istirahat. Dan foto-foto siswa Minangkabau maupun siswa Jawa dalam melakukan kegiatan ekstrakurikuler.

Wawancara

Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang dilakukan secara bebas untuk menyatakan berbagai pernyataan kepada informan dan informan menjawab pertanyaan menurut apa yang mereka inginkan. Melalui wawancara, peneliti mengumpulkan data secara bertatap muka dengan informan yang dapat mengungkapkan jawaban secara luas, mendalam dan bebas berkaitan dengan tujuan penelitian.

Peneliti melakukan wawancara dengan cara melakukan pendekatan kepada informan, menanyakan waktu luang informan, memberikan janji kepada informan, mendatangi informan baik itu di kelas maupun di luar kelas. sebelum melakukan wawancara kepada informan, peneliti sudah mempersiapkan alat pengumpulan data, seperti pedoman wawancara, buku, pena, dan camera

(10)

handphone. Proses wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan dengan cara Tanya jawab lansung atau bertatap muka langsung kepada informan. Wawancara yang dilakukan peneliti dengan berulang kali agar mendapatkan data yang valid. Dalam proses wawancara berlangsung, hasil wawancara di catat dalam buku yang telah peneliti sediakan, kemudian di rekam dan di photo untuk dijadikan sebagai dokumen peneliti.

Wawancara yang dilakukan oleh penulis pada saat waktu senggang atau waktu istirahat di luar ruangan.

Studi Dokumen

Studi dokumen adalah pengambilan data melalui dokumen-dokumen. Pada tahap ini dilakukan studi dokumen seperti photo, arsip-arsip, profil sekolah dan lain-lain yang dilihat dari permasalahan penelitian tentang integrasi sosial siswa di sekolah etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa. Studi dokumen pada penelitian ini yang penulis gunakan adalah untuk memperkuat data primer.

Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian ini berbentuk kelompok yaitu informan penelitian yang membentuk integrasi sosial siswa di sekolah (studi kasus: siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya).

Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah aktifitas yang dilakukan secara terus menerus selama penelitian berlangsung dilakukan mulai dari pengumpulan data sampai pada tahap penulis laporan. Munurit Bogdan dan Biklen, 1982 analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan upaya bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menentukan pola, menentukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Afrizal, 2014:176).

Analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersama yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di sekolah SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya.

Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian dibuat sebagai pedoman pelaksanaan penelitian akan dilakukan oleh peneliti. Berdasarkan jadwal penelitian, peneliti akan melakukan penelitian pada bulan April.

Defenisi Operasional Konsep 1. Integrasi Sosial

Integrasi yang dimaksud disini adalah kesatuan dan persatuan orang-orang dari berbagai wilayah yang berbeda, atau memiliki berbagai perbedaan baik suku dan budaya. Suatu kondisi dimana kelompok-kelompok etnis untuk beradaptasi dan menjadi komformitas terhadap kebudayaan mayoritas, tapi masih mempertahankan budaya mereka sendiri.

2. Kelompok etnis

Setiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat baik berujud sebagi komunikasi desa, kota sebagai kelompok kekerabatan atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan corak khas yang terutama terlihat oleh orang diluar warga masyarakat yang bersangkutan. Seorang warga dari suatu kebudayaan yang telah hidup dari hari kehari di dalam lingkungan kebudayaannya biasanya tidak lagi melihat corak khas itu.

3. Etnis Minangkabau

Minangkabau adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau.

Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian Negeri Sembilan di Malaysia.

Dalam percakapan awam, orang Minangkabau seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu Kota Provinsi Sumatera Barat yaitu Kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan nyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak bermaksud sama dengan orang Minangkabau itu sendiri.

4. Etnis Jawa

Suku bangsa Jawa adalah suku bangsa Indonesia yang paling banyak jumlahnya, menempati seluruh daerah Jawa tengah, Jawa timur dan sebagian Jawa barat mereka menggunakan bahas Jawa secara keseluruhan, hanya saja

(11)

terdapat perbedaan dialek di daerah tertentu. Sukubangsa Jawa termasuk sukubangsa yang telah maju kebudayaannya, karena sejak zaman dahulu mereka telah banyak mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan:

kebudayaan Hindu, Budha, Islam.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi yang berperan penting dalam membantu siswa untuk mengenal beragam bentuk budaya yang ada di sekitar mereka.

Anak sebagai makhluk sosial tidaklah terlepas dari lingkungan sekitarnya yang dijiwai oleh kebudayaan. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai macam tingkahlaku yang seringkali menimbulkan hambatan dalam mewujudkan hubungan manusiawi efektif di kalangan anak-anak.

Melalui sekolah anak-anak disosialisasikan dengan keanekaragaman budaya, nilai, norma, tradisi, tingkahlaku, dan adat istiadat yang ada di sekelilinginya, sehingga nantinya dia mampu menyelesaikan dengan lingkungannya.

Di sekolah selain bersosialisasi juga terdapat organisasi-organisasi yang membuat siswa-siswi menjadi bersatu tidak berkelompok sesama etnis saja. Contoh organisasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswi di sekolah seperti, OSIS (organisasi siswa), PIK-R (pusat informasi konseling remaja), ROHIS (rohani islam), IKRAM (ikatan remaja anti mojok, IKRAR (ikatan remaja anti rokok), UKS, dan Pramuka. Dengan adanya organisasi di sekolah siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa bisa bergabung atau bersatu didalam satu kegiatan tersebut. Contohnya saja OSIS, kegiatan OSIS membuat siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa berkelompok atau bersatu. Mereka selalu bekerjasama supaya OSIS berjalan dengan baik dan bisa membuat nama sekolah mereka menjadi lebih maju dan membuat sekolah merek menjadi terkenal. Anggota OSIS yang ada di sekolah mayoritas siswa etnis Minangkabau tetapi tidak berpengaruh oleh siswa etnis Jawa, walaupun siswa etnis Jawa minoritas dalam kegiatan OSIS mereka selalu melakukan pekerjaan secara bersama, karena itu sudah tanggung jawab dan kewajiban mereka bersama dalam melakukan kegiatan yang ada di sekolah.

Siswa etnis Jawa ini sukubangsa pendatang di SMA N 1 Koto Baru, jumlah siswa etnis Jawa pada tahun ajaran 2015/2016 ini sebanyak 279 siswa sedangkan jumlah siswa etnis Minangkabau pada tahun 2015/2016 ini sebanyak 364 siswa. Jumlah siswa etnis Minangkabau mayoritas di SMA N 1 Koto Baru, apabila mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah juga siswa etnis Minangkabau yang mayoritas anggotanya. Contohnya saja kegiatan OSIS jumlah keseluruhan anggota OSIS sebanyak 45 siswa, jumlah siswa etnis Minangkabau 33 orang siswa sedangkan jumlah siswa etnis Jawa 12 orang.

Begitupun kegiatan ekstrakurikuler yang lainnya, siswa etnis Minangkabau juga yang paling banyak anggotanya.

Bentuk-bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di sekolah

1. Akulturasi

Bentuk-bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di sekolah SMA N 1 Koto Baru. Yang pertama akuluturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil percampuran kebudayaan jika berbagai kelompok manusia dengan kebudayaan yang beragam bertemu mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus, kemudian menimbulkan perubahan dalam pola-pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau pada keduanya. Dengan demikian, dalam akulturasi terdapat perubahan dan percampuran kebudayaan.

2. Asimilasi

Sedangkan asimilasi yaitu biasanya golongan-golangan yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas.

Dalam hal ini golongan-golongan minoritas mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari golongan mayoritas. Sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.

Faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di sekolah

SMA N 1 Koto Baru merupakan salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Dharmasraya. Siswa-siswi yang ada di SMA

(12)

N 1 Koto Baru ini terdiri dari berbagai etnis yaitu siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa. Banyaknya perbedaan-perbedaan di sekolah ini tidak menghalangi mereka untuk saling berinteraksi dan hidup saling harmonis.

Faktor-faktor yang mendorong terjadinya integrasi terdiri dari berbagai:

1. Kerjasama

kerjasama sangatlah penting dalam kehidupan kita. Kerjasama merupakan proses pengenalan karakter, kepribadian orang lain baik yang telah kita kenal maupun yang belum pernah kita kenal sebelumnya sehingga kita mempunyai banyak teman.

Kerjasama terdiri dari beberapa bagian antaralain:

a. Membuat Belajar Kelompok.

Belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal.

Kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki tujuan, keinginan dan harapan yang sama. Belajar kelompok adalah suatu proses transfer ilmu yang melibatkan lebih dari satu orang, dimana antara orang yang satu dengan yang lain saling melengkapi.

b. Membuat penghijauan di sekolah.

Sekolah tempat menuntut ilmu, belajar dan tempat mengajar. Sebuah sekolah tentu saja akan lebih nyaman jika proses kegiatan belajar-mengajar tersebut mampu berjalan kondusif, baik karena para warganya, dan tentu saja karena lingkungan sekolah tersebut.

Sebuah sekolah akan tampak lebih indah dan lebih nyaman jika lingkungannya begitu sehat dan hijau.

c. Menolong teman yang kesusahan.

Di SMA N 1 Koto Baru terdapat dua etnis yang berbeda yaitu etnis Minangkabau dan etnis Jawa. Siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa sama-sama mempunyai cirri khas masing-masing, terutama dalam segi berbicara, kalau siswa Minangkabau cara berbicaranya kurang sopan dan nada bicara terlalu tinggi. Siswa etnis Minangkabau memakai bahasa daerah ketika berbicara di lingkungan sekolah.

sedangkan siswa etnis Jawa nada berbicara lemah-lembut tidak pernah

kasar dalam berbicara, siswa etnis Jawa selalu memakai bahasa Indonesia ketika lagi berbicara di lingkungan sekolah.

Adanya Kesepakatan atau Konsensus Nilai

Konsensus adalah sebuah frasa untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama- sama antar kelompok atau individu setelah adanya perbedaan dan penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan konsensus pengambilan keputusan. Kesepakatan yang ada di sekolah ini dibuat oleh kepala sekolah dan staf pegawai yang ada di SMA N 1 Koto Baru.

Faktor Toleransi

Kita hidup dalam Negara yang penuh keragaman, baik dari suku, agama, maupun budaya. Untuk hidup damai berdampingan, tentu dibutuhkan toleransi satu sama lain. toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak yang tidak adil, budaya yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Toleransi adalah suatu sikap seseorang atau kelompok mayoritas dan minoritas untuk saling menjaga perasaan atau saling menghormati. Sikap toleransi yang tumbuh dari masing-masing individu memberikan nilai tersendiri apabila dia terjun ke masyarakat. Tanpa adanya toleransi maka di masyarakat bisa sering terjadi pertengkaran, perkelahian ataupun bisa saling mematikan kelompok satu dengan kelompok lainnya. Toleransi memberikan perlindungan pada kelompok minoritas dari kelompok-kelompok mayoritas. Dan lingkup toleransi bukan hanya pada satu bidang saja namun ada cukup banyak bidang atau lingkup yang membutuhkan sikap toleransi.

KESIMPULAN

Bedasarkan hasil penelitian dan wawancara dari informan tentang integrasi sosial siswa di sekolah (studi kasus: siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa di SMA N 1 Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya). dapat disimpulkan bahwa integrasi sosial siswa di sekolah antara siswa

(13)

etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa tersebut sebagai berikut:

1. Bentuk-bentuk integrasi sosial siswa etnis Minangkabau dan siswa etnis Jawa, bentuk-bentuknya tersebut seperti:

a. Akulturasi yang terjadi di sekolah seperti tarian-tarian yang ditampilkan oleh siswa-siswi etnis Minangkabau dan siswa-siswi etnis Jawa yang sekolah di SMA N 1 Koto Baru.

b. Asimilasi yang ada di sekolah ini adalah dari segi bahasa daerah masing-masing. Siswa-siswi di sekolah SMA N 1 Koto Baru ini mengalami kesusahan untuk memahami bahasa daerah Minangkabau. Karena siswa Minangkabau selalu memakai bahasa daerahnya di sekolah kecuali di dalam kelas.

2. Permasalahan selanjutnya yaitu faktor- faktor yang mendorong terjadinya integrasi sosial siswa di sekolah sebagai berikut:

a. Kerjasama, siswa-siswi di sekolah selalu melakukan kerjasama seperti belajar kelompok ketika mereka tidak memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah. maka mereka akan mengulangi pelajaran tersebut secara berkelompok.

b. Dengan adanya kesepakatan atau konsensus yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah dan staf pegawai di sekolah.

c. Faktor toleransi, faktor yang ada di sekolah seperti mematahui tata tertib sekolah, menjaga perilaku dan perkataan. Di SMA N 1 Koto Baru walaupun terdapat dua suku bangsa yang berbeda yaitu Minangkabau dan Jawa mereka tetap menjaga kerukunan.

SARAN

1. Penelitian yang telah dilakukan menggambarkan bahwa hubungan atau integrasi terjadi antara siswa etnis minang dan siswa etnis jawa berjalan dengan baik tanpa ada konflik lagi di antar merek.

2. Para peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian lebih lanjut, terutama tentang bagaimana antara kedua etnis tersebut. Apakah diantara dua budaya tersebut sudah terjadi asimilasi maupun akulturasi terutama yang dilihat dalam sebuah lembaga pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Kolip Usman dan Setiadi M Elly. 2011.

Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial, Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.

Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja.

Nasikun. 2014. Sistem Sosial Indonesia.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saebani, Beni Ahmad dan Abidin, Yusuf Zainal. 2014. Pengantar Sistem Sosial Budaya di Indonesia.

Bandung: CV Pustaka Setia.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan sistem zonasi dalam PPDB siswa SMA di Kabupaten Belitung Timur secara konten dan konteks pada umumnya kepala sekolah, guru, orang tua siswa dan siswa sebagian besar atau

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1 perencanaan manajemen kompetensi sosial guru dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran siswa adalah melalui rapat antara kepala sekolah,