SEJARAH TOKOH PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG FIKIH Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pengantar Studi Islam Dosen Pengampu: Dr. Siti Jahroh, S. H.I., M. SI.
Disusun oleh:
Muhammad Hisyam Al Faris Sayoga 24103070060
PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH DAN DAKWAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2024
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Kemudian shalawat serta salam kepada Nabi ﷴ SAW yang kita nantikan syafa’atnya di yaumul akhir nanti. Adapun makalah yang berjudul “Sejarah Tokoh Pemikiran Islam dalam Bidang Fikih” disusun sebagai bagian dari upaya untuk memamahi perkembangan pemikiran Islam, khususnya dalam bidang fikih, serta menggali kontribusi para ulama yang telah meletakkan pondasi penting dalam hukum Islam.
Pemikiran para tokoh/ulama fikih, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad yang menjadi kajian penting dalam makalah ini. Setiap tokoh memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan hukum Islam yang terus digunakan hingga saat ini. Dengan memahami sejarah dan metodologinya, diharapkan kita dapat lebih menghargai kekayaan intelektual Islam serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat dihadapkan demi perbaikan makalah ini pada masa mendatang. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam memahami tentang sejarah pemikiran Islam, khususnya dalam bidang fikih.
Yogyakarta, 13 September 2024
Muhammad Hisyam Al Faris Sayoga
3 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan Penulisan 5
BAB II PEMBAHASAN 6
A. Imam Abu Hanifah 6
B. Imam Malik 8
C. Imam Syafi’i 9
D. Imam Ahmad 11
BAB III PENUTUP 14
KESIMPULAN 14
DAFTAR PUSTAKA 15
4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Fikih berasal dari bahasa ‘Arab, faqiha-yafqahu yang secara bahasa memiliki arti al-‘ilmu artinya pengetahuan dan al-Fahmu artinya pemahaman.1 Fikih berfungsi sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan prinsip- prinsip syari’ah yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah yang telah ditetapkan oleh para ulama.2 Salah satu bagian terpenting bagi sejarah peradaban Islam ialah pemikiran-pemikiran para ulama/tokoh dalam bidang fikih. Oleh karena itu, seiring dengan dinamika sosial, politik dan budaya masyarakat, kebutuhan akan pemahaman hukum Islam bertambah luas dan aplikatif, menyebar hingga ke berbagai wilayah.
Sehingga memunculkan para ulama yang berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu ini. Mereka tidak hanya mempelajari dan mendalami teks-teks agama, tetapi juga melakukan ijtihad, qiyas dan ijma’ untuk menangani masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat pada saat itu dan terus digunakan hingga saat ini. Fikih bersifat instrumental, hanya terbatas pada hukum yang mengatur tentang perbuatan manusia, sehingga sangat mungkin jika terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.
Dalam Islam terdapat empat mazhab yang telah ditetapkan, pada periode akhir pemerintahan Bani Umayyah, diantaranya mazhab Hanafi (80-150 H), Maliki (93- 179 H), Syafi’i (150-204 H) dan Hanbali (164-241 H). Mazhab sendiri, merupakan suatu pendapat, kelompok atau aliran yang berasal dari hasil pemikiran/ijtihad ulama dalam memahami sesuatu, baik mengenai hukum (fiqh), politik, filsafat dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut memiliki perbedaan metodologi dan pendekatan
1 Rohidin, Pengantar Hukum Islam (Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books, 2017), 8.
2 Sapiudin Shidiq, Studi Awal Perbandingan Mazhab Dalam Fikih, 1st ed. (Jakarta: Kencana, 2021), 16,https://www.google.co.id/books/edition/Studi_Awal_Perbandingan_Mazhab_Dalam_Fik/zEgnEAAAQBA J?hl=id&gbpv=1&dq=imam+mazhab&printsec=frontcover.
5
dalam memahami syari’at Islam, hal tersebut menunjukkan kekayaan intelektual dalam tradisi Islam dengan berusaha menjawab tantangan zaman.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi masing-masing tokoh?
2. Apa saja metodologi yang digunakan oleh para tokoh dalam menggali hukum Islam?
3. Bagaimana kontribusi dan pengaruh pemikiran mereka terhadap mazhab-mazhab fiqh saat ini?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengkaji sejarah dan kontribusi tokoh- tokoh pemikir Islam dalam bidang fiqih. Selain itu, makalah ini juga akan membahas metodologi yang digunakan oleh para tokoh tersebut dalam menetapkan hukum- hukum fiqih serta pengaruhnya terhadap hukum Islam masa kini.
6 BAB II PEMBAHASAN A. Imam Abu Hanifah
a. Biografi
Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit Ibn Zutha al-Taimy; merupakan nama lengkap dari Abu Hanifah. Lahir di Kufah pada 80 H/699 M, semasa khalifah
‘Abd al-Malik bin Marwan dan wafat pada 150 H/767 M di Baghdad.3 Terlahir pada masa Bani Umayyah yang dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan. Ayahnya berasal dari Bangsa Persia, tetapi ketika beliau dilahirkan ayahnya pindah ke Kufah, merupakan seorang pedagang besar dan keturunan Rasullullah.
Pemberian gelar “Abu Hanifah” adalah karena seorang putranya bernama Hanifah, selain itu karena ketaatanya kepada Allah. Hanif memiliki arti cenderung kepada yang benar. Beliau terbiasa menghafal dan menghatamkan al-Qur’an, serta mengikuti pelajaran-pelajaran dengan para ulama di Masjid Kufah, seperti ilmu al-Qur’an, hadist, fiqh, kalam, sya’ir, teologi dan sastra. Oleh karena itu, pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh ulama besar Kufah, salah satunya Hammad bin Abi Sulaiman yang telah menjadi gurunya selama kurang lebih 18 tahun. Kecerdasan beliau dalam beberapa bidang ilmu terus berkembang, terutama dalam bidang fiqih dan teologi. Ia memiliki sifat jujur, wara’ dan tidak suka banyak bicara, juga memiliki kepribadian tinggi dan budi luhur.
b. Metodologi dan Pendekatan
Imam Abu Hanifah terkenal dengan pendekatannya yang lebih rasional (ra’yu) dalam bidang fikih, yaitu dengan penalaran logika, karena pembelajaran beliau dimulai dari ilmu kalam, bukan fikih. Sehingga hal tersebut membentuk
3 Mohd Anuar Mamat, “Kaedah Soal Jawab Dalam Pengajaran Imam Abu Hanifah: Satu Analisis Perbandingan,” ’Ulum Islamiyyah 12 (2014): 55–72.
7
metode berpikirnya yang rasional dan realistis.4 Ia menggunakan metode istinbath, giyas/analogi untuk menjawab masalah-masalah yang tidak berlandasan langsung dalam al-Qur’an atau hadist. Sebagaimana yang dikatakan beliau, “Sesungguhnya saya mengambil Kitabullah apabila saya dapatkan.
Apabila didalamnya tidak saya dapatkan, maka saya mengambil sunnah Rasulullah dan atsar-atsar shahih yang tersiar di kalangan orang-orang terpercaya. Apabila saya tidak mendapatkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah, maka saya mengambil pendapat para sahabat beliau yang saya kehendaki, kemudian saya tidak keluar dari pendapat kepada selain mereka.
Apabila urusan itu sampai kepada Ibrahim, Asy’Sya’bi, Hasan Ibnu Sirin dan Said bin Musayyab, maka saya berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”.5 Selain itu, ia juga menekankan pentingnya istihsan (preferensi hukum) dalam menangani masalah yang mungkin tidak adil jika hanya berdasarkan pada qiyas (analogi).
c. Kontribusi dan Karya
Imam Abu Hanifah tidak menulis sendiri karya-karyanya, tetapi ditulis oleh muridnya (muta’alim). Seperti kitabnya yang berjudul Adab al-Muta’allimin yang ditulis oleh salah satu muridnya yaitu Abu Muthi’ al-Balkhi, berisi 45 pertanyaan dan jawaban dari Imam Abu Hanifah dengan murid-muridnya, mengenai konsep iman, ibadah, kufur, khawf dan lain sebagainya.6
Perantara dari penyebaran mazhab Hanafi tak lain dipengaruhi oleh dukungan politik yang sangat kuat, karena Dinasti Abbasiyah menjadikan mazhab Hanafi sebagai mazhab resmi, kemudian meluas hingga Kekaisaran Ottoman. Kemudian juga disebabkan peran penting murid-muridnya, seperti Imam Abu Yusuf dan
4 Muhammad Rijal Fadli, “Tinjauan Historis: Pemikiran Hukum Islam Pada Masa Tabi’in (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Hanbali) Dalam Istinbat Al-Ahkam,” Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8, no. 1 (2020): 1–20.
5 Gibtiah, Fikih Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2016), 42, https://www.google.co.id/books/edition/Fikih_Kontemporer/hJkDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=mun%27i m+a+sirry+sejarah+fikih+islam&pg=PA15&printsec=frontcover.
6 Mamat, “Kaedah Soal Jawab Dalam Pengajaran Imam Abu Hanifah: Satu Analisis Perbandingan.”
8
Muhammad bin al-Hasan yang telah menulis dan mengkodifikasi ajaran-ajaran Imam Abu Hanifah. Mazhab ini meluas di wilayah Irak, Asia Tengah, Pakistan dan India.7
B. Imam Malik a. Biografi
Abu ‘Abdillah Malik bin Anas as-Syabahi al-Arabi bin Malik bin Abu ‘Amir bin al-Harits atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Malik. Terlahir di Hijaz, Madinah dan merupakan ulama ahli fikih terakhir disana. Lahir pada tahun 93 H/12 M dan wafat pada 179 H/798 M pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Harun al-Rasyid. Ayahya Bernama Anas bin Malik Yazid, seorang pembuat panah yang hidup pada masa tabi’in. Imam Malik sangat intens mempelajari ilmu agama, diantaranya belajar ilmu fikih kepada Rabiah ar-Ra’yi (w. 136 H), mempelajari ilmu hadist kepada Imam Naf’i Maula bin Umar (w. 117 H) dan Imam Ibnu az-Zuhry (124 H).8 Dikenal sebagai seorang yang teguh dan pemberani, kedalaman dan keluasan ilmunya yang menjadikan beliau begitu tegas dalam penentuan hukum syar’i.
Meski banyak kesempatan untuk meninggalkan Madinah, beliau memilih untuk menetap disana (kecuali untuk beribadah haji) hingga akhir hayatnya. Aktif mengajar hadist dan fikih di Masjid Nabawi, sehingga dijuluki sebagai Imam Darul Hijrah. Beliau mengabdikan hidupnya untuk mengajar, ajarannya menyebar luas dan telah melahirkan ulama-ulama hebat seperti Imam Syafi’i dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani.
b. Metodologi dan Pendekatan
Imam Malik dikenal karena mengutamakan praktik dan tradisi yang berlaku pada masyarakat Madinah, hal tersebut karena beliau tidak pernah meninggalkan kota tersebut semasa hidupnya. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Imam
7 Fadli, “Tinjauan Historis: Pemikiran Hukum Islam Pada Masa Tabi’in (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Hanbali) Dalam Istinbat Al-Ahkam.”
8 Gibtiah, Fikih Kontemporer, 44.
9
Malik yang utama dengan mengambil dari al-Qur’an dan sunnah, kemudian ijma’, qiyas, amal penduduk Madinah, istihsan, sa’ad al-Dzara’i, al-Maslahah al-Mursalah, qaul shohabi, mura’at al-Khilaf, al-Istishab dan syar’u man qoblanaa.9
c. Kontribusi dan Karya
Kitab al-Muwattha’ yang berisi himpunan hadist dan fatwa para sahabat dan praktik yang berlaku di Madinah pada masanya, yang dijadikan sebagai contoh ideal penerapan syari’at Islam. Karya tersebut merupakan karya fenomenal dari Imam Malik, yang kemudian menjadi salah satu referensi utama dalam bidang fikih. Hadist-hadist tersebut diterima dari guru-gurunya, sehingga beliau dikenal sebagai ahlul hadist. Pengaruh mazhab Maliki sangat kuat di Afrika Utara, terutama di Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Spanyol (Andalusia).
C. Imam Syafi’i a. Biografi
Nama lengkap dari Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Syafi’i bin Sa’id bin ‘Ubaid bin Abu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf bin Qushay al-Quraisy. Lahir pada bulan Rajab tahun 150 H/767 M di Gaza, Palestina.10 Ibu dan Ayahnya berasal dari suku Quraisy, yang berkelana dari Mekkah ke Madinah, kemudian menuju Gaza untuk bekerja dan menetap disana. Diumur kesembilan tahun, Imam Syafi’I telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan belajar bahasa Arab, hadist dan Fiqih. Pada usia 20 tahun, Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk belajar langsung kepada Imam Malik, telah berhasil menghatamkan kitab milik gurunya yaitu kitab al-Muwattha’, sehingga menjadikannya sebagai murid tersayang dari Imam Malik. Kemudian pergi ke Baghdad, Irak (195 H) untuk belajar kepada Muhammad bin al-Hasan al-Syaibaniy yang merupakan murid dari Imam Abu
9 Fadli, “Tinjauan Historis: Pemikiran Hukum Islam Pada Masa Tabi’in (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Hanbali) Dalam Istinbat Al-Ahkam.”
10 Rohidin, Pengantar Hukum Islam, 98.
10
Hanifah, kembali ke Mekah dan mengakhiri perjalanannya di Mesir hingga beliau wafat pada 29 Rajab 204 M.
b. Metodologi dan Pendekatan
Metodologi dan pendekatan yang dilakukan oleh Imam Syafi’i, terutama diawali dari al-Qur’an dan sunnah yang menjadi sumber utama, kemudian ijma’
terhadap sesuatu yang tidak terdapat dalam kedua sumber utama, ketiga qaul sahabat. Dalam bukti sejarah, kondisi sosial dan budaya sangat berpengaruh kuat pada nuansa fikih. Sehingga, Imam Syafi’i yang dinilai kuat pengamatannya pada realitas budaya, memiliki dua pendapat, yaitu qaul qadim (pendapat lama, ketika beliau tinggal di Baghdad, Irak pada 195-199 H) dan qaul jadid (pendapat baru, ketika pindah ke Mesir pada 199-204 H). Kedua pendapat ini didasarkan pada pengaruh tradisi dan adat dari dua negeri yang berbeda. Pada qaul qadim, Imam Syafi’i dipengaruhi oleh pemikiran Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, beliau menggabungkan pengaruh dari mazhab yang telah ada sebelumnya dengan pandangan pribadi yang didasarkan pada ijtihadnya sendiri. Kemudian pada qaul jadid, beliau banyak melakukan perkembangan, revisi dan formulasi terhadap pandangannya, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat Mesir pada saat itu.
c. Kontribusi dan Karya
Karya dari Imam Syafi’I diantaranya kitab Ar-Risalah al-Qadimah yang ditulis ketika menetap di Iraq, kemudian kitab ar-Risalah al-Jadidah, al-Umm, al-Amali dan al-Imla’.11 Merupakan tulisan yang memuat ushul fiqih secara teratur dan sistematis. Beliau merupakan imam mazhab pertama yang berhasil menulis dan menyusun kaidah ushul fikih. Dalam buku tersebut, memuat tentang hukum-hukum Islam, amar, nahyi, bayan, khabar, nasakh dan illat yang telah
11 Fadli, “Tinjauan Historis: Pemikiran Hukum Islam Pada Masa Tabi’in (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Hanbali) Dalam Istinbat Al-Ahkam,” 15.
11
ditetapkan dalam nas. Buku tersebut ditulis oleh muridnya, yaitu Rabi bin Sulaiman (w. 270 H) yang didekte langsung oleh Imam Syafi’i.
Imam Syafi’i memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan mazhab fikih Islam. Menyebar luas ke berbagai daerah, seperti di Mesir, Irak dan dominan di Asia Tenggara. Di Mesir, penyebarannya semakin meluas setelah kematian Imam Maliki, meskipun sempat terhambat oleh Dinasti Fatimiyah yang pada saat itu banyak dipengaruh oleh mazhab Syi’ah. Di Indonesia sendiri, mazhab Imam Syafi’i diterima dengan baik karena kesesuaiannya dengan tradisi dan budaya.12
D. Imam Ahmad a. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin ‘Abdillah bin Hayyan bin ‘Abdillah bin Anas bin
‘Auf bin Mazan bin Syaiban bin Zuhl bin Sa’labah bin ‘Ukabah bin Sa’ab bin Ali bin Wail az-Zuhli asy-Syaibani al-Marzawi. Lahir di Baghdad pada Rabi’ul Akhir tahun 164 H/780 M dan wafat pada 241 H/855 M pada usia 77 tahun.13 Beliau dibesarkan oleh ibu tunggal, karena ayahnya telah wafat, sehingga hidup dalam keadaan ekonomi yang sederhana. Ayahnya Bernama Muhammad dan ibunya bernama Syafiyah Maimunah binti Abdul Malik bin Sawadan bin Hindun al- Syaibani, berasal dari keturunan Bani Syaiban, salah satu kabilah yang berada di semenanjung Arab.
Beliau telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an saat usianya masih kecil, kemudian saat usia 16 tahun, untuk pertama kalinya beliau mempelajari hadis kepada Abu Yusuf,14 salah seorang sahabat Imam Abu Hanifah dan ahli ra’yu.
12 Anny Nailatur Rohmah and Ashif Az Zafi, “Jejak Eksistensi Mazhab Syafi`i Di Indonesia,” Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8, no. 1 (2020).
13 Ahmad Sudianto, “Metodologi Penulisan Musnad Ibn Hanbal,” Jurnal As-Salam 1, no. 1 (2017): 8, https://media.neliti.com/media/publications/220491-kitab-musnan-ahmad-ibn-hanbal.pdf.
14 Ali Imron, “Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid Imam Ahmad Bin Hambal,” Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas 9, no. 1 (2021): 81.
12
Karena ingin memperdalam dan memfokuskan keilmuan, beliau hijrah ke Hijaz, disana mempelajari fiqh dengan Imam Syafi’I, dilanjutkan menuju ke Kufah, Bashrah, Yaman, Syam, Mesir, Mekah dan Madinah. Beliau terkenal karena daya ingatnya yang begitu kuat, begitu pun dalam menghafal hadis, menerangkan dan menjelaskannya kepada murid-muridnya, beliau tidak memperbolehkan muridnya menulis apa yang beliau sampaikan sebelum memastikan dari catatan beliau, hal tersebut agar tetap menjaga keotentikan hadis.15
b. Metodologi dan Pendekatan.
Imam Ahmad memegang teguh prinsip untuk merujuk langsung pada al- Qur’an, kedua sunnah, ketiga atsar sahabat, dan keempat menggunakan qiyas dan istihsan tetapi jika dalam keadaan terpaksa, beliau lebih cenderung tekstualis, dan lebih mengutamakan fatwa berdasarkan pada atsar sahabat. Bukan hanya ahli hadis dan fiqih, beliau juga seorang sufi yang pemikirannya dipengaruhi oleh kedua gurunya, yaitu Hasan al-Basri (w.110 H/728 M) dan Ibrahim bin Adham (w.170 H.786 M).16 Metodologinya dalam ilmu hadis begitu rinci, hati-hati dan sangat teliti, terutama dalam menyeleksi periwayatan (sanad) dengan autentik.
Beliau dikenal karena komitmen yang begitu kuat, dan perjuangannya melawan doktrin Mu’tazilah selama masa fitnah bahwa al-Qur’an oleh mereka disebut sebagai ciptaan, bukan firman (mihnah), menolak doktrin tersebut meskipun menghadapi siksaan, berpegang teguh mempertahankan kebenaran dan menunjukkan keberanian. Karena keadaan sosial dan politik yang begitu kompleks, membuat beliau menjadi seseorang yang sangat teliti dan berhati-hati, karena ingin memurnikan Islam
c. Kontribusi dan Karya
15 Nadia, “Kehidupan Dan Karakteristik Pemikiran Hukum Imam Ahmad Bin Hanbal,” Comparativa:
Jurnal Ilmiah Perbandingan Mazhab dan Hukum 1, no. 2 (2020): 102.
16 Husnul Khatimah, “Sejarah Pemikiran Hukum Ahmad Bin Hanbal,” Lisan al-Hal 11, no. 1 (2017):
159–170.
13
Berbagai bidang ilmu telah dikuasai oleh Imam Ahmad, tetapi ilmu hadis dan fiqh adalah yang paling kuat, oleh karena itu beliau disebut muhaddist (ahli hadis). Selama hijrah keberbagai tempat, beliau berhasil menghimpun dan menyusun hadis-hadis dengan begitu detail, menyebutkan dengan lengkap dan teliti periwayatannya (sanad). Ketelitian, kesungguhan dan kegigihan ini telah membersihkan hadis-hadis dari pemalsuan, sehingga hadis-hadis tersebut shahih, terpelihara dan tersusun dengan baik dalam Musnad Ahmad yang terdiri kurang lebih 40.000 hadis. Karya lainnya yaitu, kitab Al-iIll, al-Tafsir, an-Nasikh wa al- Mansukh, az-Zuhd, al-Masa’il, Fadho’il as-Sahabah, al-Fara’id, al-Manasik, al- Asyribah, al-Imam,Tha’at al-Rasul, ar-Ra’d ala al-Jahmiyyah.17
17 Muhammad Misbah, Studi Kitab Hadis, 1st ed. (Malang: Ahlimedia Press, 2020), 30.
14 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan pada diatas dapat disimpulkan bahwa, para ulama telah memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu, khususnya bidang fiqh. Masing-masing dari mereka mengembangkan metodologi dan pendekatan yang berbeda, mulai dari pendekatan yang lebih condong kepada rasionalitas/ra’yu dan qiyas, seperti Imam Abu Hanifah. Kemudian penekanan amaliyah pada penduduk Madinah yang dilakukan oleh Imam Malik, serta sistematisasi ushul fiqh yang dilakukan oleh Imam Syafi’I, serta Imam Ahmad yang begitu teliti dan hati-hati, mengutamakan hadis sebagai sumber hukum. Kerja keras serta upaya yang mereka lakukan tidak hanya berdampak pada zamannya, sehingga menghasilkan mazhab- mazhab fiqh yang hingga saat ini dipakai oleh umat Islam. Penyebarannya telah meluas ke seluruh dunia dan menunjukkan fleksibilitas serta relevansi ajaran-ajaran mereka dalam menjawab berbagai problematika yang muncul di tengah masyarakat.
Dengan memahami sejarah dan pemikiran tokoh-tokoh tersebut, kita dapat lebih menghargai kekayaan intelektual Islam dan memiliki landasan yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan syari’at yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadist, seperti yang telah digariskan oleh para pendiri mazhab.
15
DAFTAR PUSTAKA
Fadli, Muhammad Rijal. “Tinjauan Historis: Pemikiran Hukum Islam Pada Masa Tabi’in (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Hanbali) Dalam Istinbat Al- Ahkam.” Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8, no. 1 (2020):
1–20.
Gibtiah. Fikih Kontemporer. Jakarta: Kencana, 2016.
https://www.google.co.id/books/edition/Fikih_Kontemporer/hJk-
DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=mun%27im+a+sirry+sejarah+fikih+islam&pg=PA 15&printsec=frontcover.
Imron, Ali. “Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid Imam Ahmad Bin Hambal.” Jurnal PROGRESS: Wahana Kreativitas dan Intelektualitas 9, no. 1 (2021): 70–102.
Khatimah, Husnul. “Sejarah Pemikiran Hukum Ahmad Bin Hanbal.” Lisan al-Hal 11, no. 1 (2017): 159–170.
Mamat, Mohd Anuar. “Kaedah Soal Jawab Dalam Pengajaran Imam Abu Hanifah: Satu Analisis Perbandingan.” ’Ulum Islamiyyah 12 (2014): 55–72.
Misbah, Muhammad. Studi Kitab Hadis. 1st ed. Malang: Ahlimedia Press, 2020.
https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=VeoOEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA 26&dq=biografi+imam+ahmad+bin+hanbal&ots=wbqY2FGWOE&sig=yljt4Ge7DKe b0M5mkQsJXlIQ97U&redir_esc=y#v=onepage&q=biografi imam ahmad bin
hanbal&f=false.
Nadia, Nadia. “Kehidupan Dan Karakteristik Pemikiran Hukum Imam Ahmad Bin Hanbal.” Comparativa: Jurnal Ilmiah Perbandingan Mazhab dan Hukum 1, no. 2 (2020): 95–113.
Rohidin. Pengantar Hukum Islam. Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books, 2017.
Rohmah, Anny Nailatur, and Ashif Az Zafi. “Jejak Eksistensi Mazhab Syafi`i Di
16
Indonesia.” Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8, no. 1 (2020).
Shidiq, Sapiudin. Studi Awal Perbandingan Mazhab Dalam Fikih. 1st ed. Jakarta: Kencana, 2021.
https://www.google.co.id/books/edition/Studi_Awal_Perbandingan_Mazhab_Dalam_
Fik/zEgnEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=imam+mazhab&printsec=frontcover.
Sudianto, Ahmad. “Metodologi Penulisan Musnad Ibn Hanbal.” Jurnal As-Salam 1, no. 1 (2017): 7–17. https://media.neliti.com/media/publications/220491-kitab-musnan- ahmad-ibn-hanbal.pdf.