Jika melihat konflik rasial yang terjadi di zaman modern ini, seperti yang terjadi di negara-negara Barat yang kebanyakan berkulit putih, kelompok kulit putih yang meremehkan dan merendahkan orang berkulit gelap, seperti yang terjadi di Afrika Selatan, orang kulit putih memposisikan dirinya sebagai kelompok dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok berkulit gelap sehingga pengelompokan tersebut menimbulkan perpecahan dan menimbulkan perlakuan berbeda sehingga menimbulkan perlakuan diskriminatif terhadap kelompok berkulit hitam. Begitu pula pada masa turunnya Al-Qur’an menceritakan terjadinya diskriminasi terhadap perbedaan ras yaitu pada masa Rasulullah, seperti yang terjadi pada sahabat Bilal bin Rabbah, seorang budak berkulit hitam. Penjelasan inilah yang menjadi alasan penulis menggunakan teori gerak ganda yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman dalam penelitian ini. Dalam surat al-Hujurat ayat 13 dijelaskan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal.
Terlepas dari perbedaan warna kulit, suku, agama, bangsa, budaya, politik dan lain sebagainya. dalam surah ar-Rum ayat 22 yang menjelaskan kebesaran Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya dan menciptakan manusia dengan bahasa yang berbeda dan suku yang berbeda. Dalam surat an-Nahl ayat 90, surat al-Ma'idah ayat 8 dan surat an-Nisa' ayat 135 ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk berbuat adil tanpa memandang siapapun.
Vokal pendek yang berurutan dalam satu kata dipisahkan dengan apostrof
Kata sandang alif lam yang diikuti huruf Qomariyyah maupun Syamsiyyah ditulis dengan menggunakan "al"
Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat ditulis menurut bunyi atau pengucapannya
Alhamdulillah, penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufiq, rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan disertasi tentang isu SARA dalam perspektif Al-Quran ini ( pendekatan gerak ganda Fazlur Rahman). Disertasi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Agama Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Baik dari segi teknik komposisi dan kosa kata tertulis maupun dari segi isi dan pembahasan yang dimuat dalam disertasi ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penting. yang penulis harapkan dapat memperbaiki dan menyempurnakan skripsi ini. Alim Roswantoro, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijga Yogyakarta beserta seluruh jajarannya.
H Abdul Mustaqim, M.Ag, selaku Ketua Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijga Yogyakarta dan Afdawaiza, S.Ag. Agung Danarto, M.Ag selaku pembimbing skripsi, terima kasih telah bersedia membimbing proses penyusunan skripsi dan memberikan motivasi sehingga skripsi ini dapat selesai tepat waktu. Tn. dan Ny. Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, terima kasih telah memberikan ilmu dan wawasan yang luas dalam segala aspek keilmuan selama penulis mengikuti perkuliahan.
Segenap pimpinan dan staf administrasi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah membantu dan memberikan pelayanan yang baik selama penulis mengikuti perkuliahan hingga selesainya penulisan skripsi ini. Karena hal ini tidak hanya terjadi pada zaman sekarang saja, namun juga terjadi pada saat turunnya Al-Qur'an, maka menggali kembali pesan Al-Qur'an menjadi sangat menarik dalam membandingkan persoalan SARA antara kedua konteks tersebut. Pada masa Al-Qur'an ketika Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW atau dikenal dengan masa Al-Qur'an telah terjadi hegemoni suku.
Mengingat hal di atas, maka sangat mungkin untuk mempertemukan konteks Arab pada masa turunnya wahyu dengan konteks zaman setelahnya. Selain sekadar mencari titik temu di antara keduanya, penelitian ini merupakan upaya mengungkap kondisi konflik rasial di masa kini dan masa turunnya wahyu, serta menelusuri beberapa dokumentasi dan catatan yang terkandung dalam Al-Qur'an yang dikumpulkan mengenai isu tersebut. . . Selain ayat-ayat di atas, nantinya penulis akan menjelaskan beberapa ayat Al-Quran yang membahas tentang keadilan, mencari persamaan antar konteks dan menguraikan solusi yang menjadi solusi.
Rumusan Masalah
Tujuan dan Kegunaan
Telaah Pustaka
Kajian Lewis tidak sebatas menjelaskan satu sisi dari kerusuhan ras kulit hitam dan putih, namun secara obyektif menjelaskan permasalahan tersebut dan menjelaskan bahwa meskipun masuknya Islam tidak sepenuhnya memberantasnya, namun sangat berpengaruh dalam menegakkan semangat penghapusan perbudakan. Dalam bukunya ini Bernard Lewis mengungkapkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dapat dijadikan informasi dan merupakan salah satu warisan yang dapat memberikan kita informasi saat ini, namun penafsiran Lewis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an hanya sebatas menyajikan mereka sebagai informasi dan tidak mencoba menafsirkannya. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian dalam buku tersebut mempunyai persamaan namun juga perbedaan dengan apa yang akan penulis lakukan.
Meski sama-sama menjelaskan pengaruh Islam, mencari titik temu pengaruh budaya Arab terhadap konflik rasial, dan menggunakan data seperti Al-Quran dan data tekstual lainnya, penelitian Bernard Lewis lebih melihat hubungan Islam dan rasisme melalui data umum dan membatasi diri pada pendekatan historis. Hal ini tentu saja berbeda dengan penelitian penulis yang berupaya menyelidiki nilai-nilai ideal moral dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya hanya dijadikan data oleh Bernard Lewis.
Kerangka Teoritik
Konteks mikro adalah sebab-sebab yang berhubungan langsung dengan turunnya ayat, sedangkan konteks makro adalah keadaan tidak langsung yang berupa konteks sosial budaya, pola interaksi, geografi, politik dan konteks lain yang melingkupi Al-Qur'an. Oleh karena itu metode Fazlur Rahman nampaknya dipengaruhi oleh Syah Waliyullah ad-Dahlawi dalam karyanya Fawz al-Kabi>r fi> Us}ul at-Tafsir. Dalam karyanya tersebut Syah Waliyullah menyatakan bahwa dalam penafsiran Al-Qur'an terdapat sebab-sebab khusus dan sebab-sebab umum.9 Amin Abdullah juga tidak mengabaikan istilah asba>ban-nuzu>l sod dengan asba >ban- nuzu>l qadi> m.10 Istilah-istilah tersebut pada dasarnya sama dalam menyatakan perlunya konteks sosial budaya yang sebelumnya banyak dilupakan.
Poin krusial berikutnya adalah membawa nilai-nilai cita-cita moral ke dalam gerakan fase kedua, yakni tahap membawa nilai-nilai cita-cita moral ke dalam dunia masa kini. Nilai moral ideal dirumuskan dengan cara beradaptasi terhadap budaya baru dengan konteks baru dan tidak menutupnya. Tidak jarang para ulama terdahulu yang mencoba melakukan kontekstualisasi tahap kedua ini berhadapan dengan kubu konservatif dan penulis sangat menyadari hal tersebut, sehingga diperlukan relevansi yang tepat untuk menyesuaikan cita-cita moral dengan budaya baru.
Metode Penelitian
Sumber data inilah yang menjadi bahan utama penelitian, karena dalam penelitian ini yang diprioritaskan adalah penggalian data dari sumber tersebut. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data yang menunjang data penelitian primer, baik dalam uraian maupun dalam proses analisisnya, yang membantu untuk memahami tema pokok serta melengkapi beberapa aspek. Karena penelitian yang ingin penulis lakukan adalah penelitian yang mengkaji topik-topik yang berkaitan dengan aspek isi Al-Qur'an, maka dari itu sumber data utama penelitian ini adalah Al-Qur'an.
Sedangkan sumber pendukung atau sumber data sekunder adalah buku-buku penafsiran dan literatur dalam bentuk apapun, baik buku, artikel atau sebagainya, yang mendukung dan diperlukan dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data dalam skripsi ini adalah metode dokumentasi dengan cara mengumpulkan data dari materi-materi yang berkaitan dengan tema Kesetaraan dan Kelas Sosial dalam perspektif Al-Qur'an, seperti mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tersebut, membaginya ke dalam beberapa pokok pembahasan. Metode deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran terhadap data yang ada13 dengan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang ditentukan.
Amirin, Menyusun Rencana Penelitian (Jakarta: Rajawali, 1996), hal. 94, lihat juga Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1982), hal. Dalam penelitian ini, pendekatan sosiologi digunakan untuk menemukan kandungan ayat-ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan tindakan sosial terkait tema Al-Qur'an dan konflik SARA. Kita tidak lagi memahaminya dari segi normatifitasnya, namun kita juga memahaminya dari nilai historisnya, dimana Al-Qur'an hidup sebagai wahyu yang berkelindan dengan realitas sosial, budaya, politik, ekonomi dan lainnya.
Aspek historisitas menurut Gracia sebagai keseluruhan realitas yang ada di sekitar manusia tidak lepas dari lahirnya sebuah teks, peran konteks jelas sangat menentukan, karena teks yang diungkapkan tidak mungkin lepas dari latar belakang sejarahnya dalam ruang dan waktu.16 Apa Gracia yang diungkapkan nampaknya menjadi pembenaran atas pernyataan Herder bahwa bahasa bukan sekedar alat untuk berpikir, melainkan model dari mana pemikiran itu akan terbentuk, karena “orang berbicara ketika mereka berpikir dan orang berpikir ketika mereka berbicara”.17
Sistematika Pembahasan
Pada bab kedua ini penulis akan menjelaskan teori yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman yaitu teori gerak ganda yang nantinya akan digunakan sebagai alat analisis pada bab-bab berikutnya untuk memandu penerapan teori yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman sehingga Al-Qur'an dapat berfungsi dengan baik. 'an masih relevan digunakan pada zaman modern seperti saat ini. Bab ini juga akan menjelaskan poin-poin penting dari bab-bab sebelumnya. Bab ini juga merupakan abstraksi jawaban pada rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pada masa turunnya Al-Qur’an juga menceritakan tentang terjadinya diskriminasi terhadap perbedaan ras yaitu pada masa nabi seperti yang terjadi pada sahabat Bilal bin Rabbah. Terlepas dari perbedaan warna kulit, suku, agama, bangsa, budaya, politik, dan lain sebagainya, karena Allah tidak memandang manusia berdasarkan warna kulit, bentuk fisik atau apapun. Allah SWT juga memerintahkan agar berlaku adil terhadap orang lain, karena berbuat adil merupakan wujud ketakwaan manusia kepada Allah SWT.
Allah SWT telah memerintahkan untuk berbuat adil seperti dalam surat an-Nahl ayat 90, pada ayat tersebut perintah untuk berbuat adil kepada setiap orang. Dan juga terdapat dalam surat an-Nisa' ayat 8, perintah berbuat adil. Dalam ayat ini Allah melarang berbuat kezaliman karena kebencian terhadap kelompok lain atau orang lain. Jangan biarkan ketidakadilan terjadi karena Anda tidak melakukannya. seperti orang lain. Dengan demikian, yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan hukum internasional adalah menaikkan taraf manusia, yaitu bahwa manusia itu setara dalam kedudukannya, tanpa membedakan warna kulit manusia, keturunan, bentuk fisik, bahasa, suku dan asal usulnya. segera.
Jadi, sama sekali tidak boleh ada orang yang berbuat seenaknya terhadap orang lain, berbuat tidak adil atau mendiskriminasi orang lain berdasarkan bentuk fisik, warna kulit, latar belakang dan sebagainya.
Saran
Penutup
MTS TARBIYATUT THOLABAH KRANJI 3. MA TARBIYATUT THOLABAH KRANJI