• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jejak Pers di Sulawesi Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jejak Pers di Sulawesi Tengah"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

Buku yang dibaca pembaca ini akan memaparkan perkembangan percetakan yang terjadi di Sulawesi Tengah, hingga jejak-jejak percetakan pada masa lalu yang tentunya mempengaruhi perkembangan percetakan saat ini. Ada pula istilah pers nasional terbitan daerah, artinya pers daerah yang produknya diedarkan secara nasional.1. Sejarah percetakan di Sulawesi Tengah sangat sulit ditemukan dalam berbagai literatur yang ada yang menuliskan sejarah percetakan nasional di Indonesia.

Tabel 1. Data Sejarah Pers Indonesia di beberapa daerah
Tabel 1. Data Sejarah Pers Indonesia di beberapa daerah

Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Pada tahun 1930an, muncul surat kabar pertama di Sulawesi Tengah bernama Suluh di Dolo atau sekitar tahun 1926. Surat kabar Zamroed Paloe tidak bisa lepas dari sosok Haji Mohammad Arsyad Intje Makkah.8 Lahir di Palu, 6 Februari 1904 dan meninggal pada tanggal 30 Maret 1977 di Palu. Sebagaimana terbaca dalam buku pedoman sidang gabungan Pengurus Pusat dan Badan Kerja Kongres Persatuan Wartawan Indonesia yang diadakan di Kota Palu: Zamroed Paloe dimasukkan sebagai surat kabar pertama yang terbit di Palu dan Haji Mohammad Arsyad Intje Makkah dimasukkan sebagai surat kabar pertama yang terbit di Palu dan Haji Mohammad Arsyad Intje Makkah dimasukkan sebagai surat kabar pertama yang terbit di Palu dan Haji Mohammad Arsyad Intje Makkah dimasukkan sebagai surat kabar pertama yang terbit di Palu. tercatat sebagai pionir jurnalistik pertama di Sulawesi Tengah.

Masa Orde Lama dan Orde Baru

Pers lokal saat ini belum banyak muncul, hal ini disebabkan sulitnya mendapatkan izin penerbitan (SIT). Pers lokal pada masa Orde Baru cenderung berkembang melalui kerja sama antara pers daerah dan pers nasional. Peraturan pemerintah yang ketat yang diatur oleh Kementerian Penerangan juga mempengaruhi kehidupan pers lokal.

Masa Reformasi

Akhirnya pada masa reformasi, pers lokal mampu berkembang sejajar dengan pers nasional sebagai salah satu komponen industri pers.15. Insan pers lokal di Sulawesi Tengah memanfaatkan euforia kebebasan dari belenggu Orde Baru. Pemberitaan konflik Poso dan terorisme seolah memberikan ruang tersendiri bagi insan pers lokal di Sulawesi Tengah.

MENELUSURI JEJAK PERS

Hanya saja untuk data pers tahun 2015 ini merupakan edisi terakhir Dewan Pers yang menerbitkan buku pendataan pers dan setelah itu pendataan tersebut akan disajikan secara lengkap di website Dewan Pers yaitu www.dewan pers. atau. pengenal. 40/1999 Pasal 15 ayat 2 huruf g), dari situ tampak bahwa salah satu fungsi Dewan Pers adalah “mendaftarkan perusahaan pers”. Data-data yang dihimpun Dewan Pers dapat menjadi referensi bagi banyak pihak, baik untuk kepentingan penelitian maupun sebagai pedoman dalam menyikapi pers dan jurnalis di setiap daerah, baik profesional maupun yang mengaku profesional.

Berdasarkan uraian kriteria di atas, maka data Dewan Pers tahun 2014 mengenai publikasi pers di Sulawesi Tengah meliputi 6 (enam) media cetak terbit harian, 5 (lima) media radio, 11 (sebelas) media televisi, dan 2 (dua) media online. media. Untuk data Dewan Pers tahun 2015, terdapat perbedaan jumlah pemberitaan pers di Sulawesi Tengah, antara lain 2 (dua) media cetak terbit harian, 1 (satu) media radio, 12 (dua belas) media televisi, dan tidak ada satupun media online. . Penurunan jumlah data pada tahun 2014 dan 2015 mungkin lebih banyak disebabkan oleh kriteria yang dibuat oleh Dewan Pers sendiri.

Hal ini mungkin juga disebabkan oleh pendataan yang kurang komprehensif atau tidak melibatkan unsur terkait di Sulawesi Tengah. Faktor sosialisasi Dewan Pers menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman kepada insan pers di Sulawesi Tengah sehingga dengan langkah ini sejarah pers dapat diketahui dan dijadikan rujukan ilmu pengetahuan bagi siapapun. Langkah penelitian yang dilakukan peneliti terhadap data pers di Sulawesi Tengah tidak bisa dibandingkan dengan data yang dihasilkan Dewan Pers, khususnya media cetak.

Sebab sejarah percetakan di Sulawesi Tengah diawali dari media cetak, seperti halnya pers nasional atau dunia di tingkat global.

Tabel 2. Data Pers (Media Cetak/Media Elektronik) di Sulawesi Tengah
Tabel 2. Data Pers (Media Cetak/Media Elektronik) di Sulawesi Tengah

PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

Mercusuar

Berikut foto pendiri harian Mercusuar yang juga salah satu pionir berdirinya Universitas Tadulako dan pers lokal di Sulawesi Tengah. Ada Mercusuar Gorontalo, ada Mercusuar Yogyakarta, artinya media ini adalah suara misi organisasi tersebut, yaitu surat kabar bernama Mercusuar yang hanya tersisa di Sulawesi Tengah di Indonesia. Kerja sama yang dijalin oleh Jawa Pos (diprakarsai oleh Dahlan Iskan) ini merupakan niat Dahlan Iskan untuk mendirikan surat kabar di wilayah Sulawesi Tengah, namun karena Mercusuar merupakan media lama dan sudah memiliki SIUPP maka Jawa Pos tertarik untuk bekerja sama. dengan pembagian saham 50:50.

Pada tahun 1993-2001 terjalin kerjasama dengan Jawa Pos Group, kemudian lahirlah surat kabar bernama Radar Sulteng. Melalui perjuangan dan kerja keras, surat kabar ini akhirnya berubah pada tahun 2005 menjadi surat kabar harian dan kembali menggunakan nama Mercusuar, meskipun saat itu masih dicetak hitam putih (belum berwarna). Berawal dari Surat Kabar Harian Mercusuar sebagai holding company, telah meluncurkan 5 (lima) anak perusahaan surat kabar harian untuk memenuhi kebutuhan pembaca di 10 kabupaten dan 1 kota di Sulawesi Tengah.

Harian Mercusuar menjadi bacaan edukasi pada penerbangan langsung ke Jakarta oleh maskapai Garuda Indonesia. Saat ini, terdapat kurang lebih 23 jurnalis yang bergabung di surat kabar Mercusuar yang umumnya berlatar belakang pendidikan sarjana. Surat kabar ini juga rutin dikunjungi oleh pejabat publik untuk berdiskusi santai mengenai berbagai permasalahan di Sulawesi Tengah.

Gambar di bawah menjelaskan ekspansi Mercusuar yang berani mengangkat topik etnisitas sebagai salah satu nama pers lokal di Sulawesi Tengah.

Gambar 3.1 Almarhum Letkol Inf.  Hi. Rusdy  Toana dan istri (Pendiri Mercusuar)
Gambar 3.1 Almarhum Letkol Inf. Hi. Rusdy Toana dan istri (Pendiri Mercusuar)

Media Al Khairaat (MAL)

Akhirnya pada tanggal 18 Mei 2008 diputuskan untuk mengubah Mingguan Al Khairaat menjadi Al Khairaat Media. Cetakan pertama Mingguan Al Khairaat ditulis dengan rugos (huruf yang dijiplak) yang kemudian diketik biasa, namun judulnya ditulis dengan tangan. Berikut gambar kantor manajemen utama Al Khairaat dan kantor redaksi media Al Khairaat.

Media Al Khairaat mengalami proses stagnan selama tiga tahun sejak 2006 hingga 2008, bahkan dianggap mati suri. Ia akhirnya meninggal dunia pada tahun 2006, sehingga Media Al Khairaat tidak terbit lebih dari tiga tahun. Dalam perjalanannya ada yang mendonasikan mesin cetaknya dan itulah awal mula Media Al Khairaat bisa terbit setiap hari.

Jadi konsep pemberitaan mereka dibuat dua rangkap, satu untuk media mereka di Jakarta dan satu lagi untuk Al Khairaat Media. Artinya, jika berita yang dikirim ke Jakarta tidak dimuat, maka akan disisipkan di Media Al Khairaat. Di tengah ketatnya persaingan media di Sulawesi Tengah, pengelolaan Media Al Khairaat masih dalam kondisi kurang optimal.

Tren penurunan oplah dan pengunduran diri jurnalis menjadi faktor yang mempengaruhi pengelolaan Media Al Khairaat.

Gambar 3.12 MAL (April 1972) Gambar 3.11 MAL
Gambar 3.12 MAL (April 1972) Gambar 3.11 MAL

Harian Radar Sulteng

Pemegang Saham) di Bali, akibat dari keputusan tersebut adalah perubahan nama Harian Mercusuar menjadi Harian Radar Sulteng. Saat itu, jurnalis yang tergabung di kedua media tersebut diberi pilihan untuk mengembangkan karir antara Mercusuar atau Radar Sulawesi Tengah. Ada beberapa jurnalis yang memilih melanjutkan karir di Radar Sulawesi Tengah di bawah naungan Jawa Pos, sedangkan jurnalis lainnya memilih ke Mercusuar.

Namun bila terjadi pemisahan, tidak menutup kemungkinan pembaca Mercusuar akan berbeda dengan pembaca Radar Sulawesi Tengah. Di bawah naungan Jaringan Berita Jawa Pos, pemberitaan Radar Sulteng telah banyak mengadopsi model tampilan Jawa Pos, meskipun pemberitaannya masih didominasi oleh unsur lokalitas. Radar Sulteng hadir untuk mengamplifikasi isu-isu lokal di Sulawesi Tengah, tanpa mengorbankan kepentingan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Halaman Depan Radar Sulteng Gambar 3.22 Halaman Regional Radar Sulteng Radar Sulteng yang merupakan anak perusahaan Kaltim Post dan Kaltim Post merupakan bagian dari anak perusahaan Jawa Pos. Berbeda dengan Radar Sulawesi Tengah yang resmi berdiri pada tahun 2001 dan terpisah dari pemerintahan Mercusuar. Radar Sulawesi Tengah kini berada dalam dunia demokrasi yang lebih terbuka dan kontrol pers telah dihilangkan.

Selanjutnya Radar Sulteng (sebagai anak perusahaan Kaltim Post dan bagian dari Jawa Pos News Network), dahulunya merger dengan Mercusuar, namun karena perbedaan prinsip pengelolaan, kedua media tersebut berpisah.

Gambar 3.19 Gedung Graha
Gambar 3.19 Gedung Graha

PERKEMBANGAN MEDIA ELEKTRONIK

  • LPP Radio Republik Indonesia Palu
  • LPP Televisi Republik Indonesia Palu
  • Radio Nebula
  • Radio MS Radio 98.3 FM
  • Radio Cakrawala 89.2 FM
  • Radio SKIP FM 94.3 FM

Walaupun RRI Palu saat itu masih sederhana, baik dari segi alat yang digunakan maupun usia RRI Palu saat itu yang masih sangat muda, namun RRI Palu mempunyai peranan yang sangat penting dalam Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah yang memberikan informasi khususnya kepada masyarakat Kota Palu mengenai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Kepala Bidang Transmisi TVRI Sulteng Kustomo yang bermarkas di Kota Palu membawahi 20 gardu induk yang tersebar di wilayah Sulteng. Pada tanggal 2 Juli 2001, TVRI bidang transmisi Sulawesi Tengah membuat rencana dengan melibatkan Gubernur Sulawesi Tengah yang saat itu diwakili oleh Prof.

Kemudian, pada tanggal 26 September 2001, Gubernur Sulawesi Tengah menyurati Dirjen TVRI untuk meminta izin pengoperasian studio mini TVRI Kelas B Pal. TVRI Sulawesi Tengah terus beroperasi dan menghadirkan program-program menarik dan bermanfaat untuk dinikmati pemirsa. Pada tanggal 8 Oktober 2018, jabatan sebelumnya sebagai Manajer Stasiun TVRI Sulawesi Tengah, Bapak. Miswarudin, secara resmi diserahkan kepada kepala stasiun yang baru yaitu Bpk. Agus Kismadi.

Hingga saat ini LPP TVRI Stasiun Sulawesi Tengah telah mampu menjalankan perannya sebagai lembaga layanan publik di bidang penyiaran khususnya bagi pemerintah daerah dan secara umum bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tengah yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Radio Nebula FM merupakan salah satu radio swasta di Kota Palu yang berada dibawah naungan PT. Saat itu, Radio Nebula FM menjadi radio siaran swasta pertama yang mengudara di saluran FM di Sulawesi Tengah.

MS Radio merupakan radio swasta yang berlokasi di Kota Palu dibawah naungan perusahaan PT. Radio SKIP FM merupakan salah satu radio swasta di Kota Palu yang berada dibawah naungan perusahaan PT. Visi Radio SKIP FM adalah sebagai media dan sumber informasi di bidang sosial, budaya, ekonomi dan teknologi modern khususnya di bidang ICT (Information Center Technology), oleh karena itu SKIP FM berharap dapat menjadi sarana informasi positif bagi generasi muda/pemuda di Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu.

Gambar 4.1 Kantor LPP RRI Palu yang berada di Jalan RA. Kartini Seiring perkembangan zaman, LPP RRI Palu semakin  ber-kembang baik itu dari segi peralatan maupun tujuannya
Gambar 4.1 Kantor LPP RRI Palu yang berada di Jalan RA. Kartini Seiring perkembangan zaman, LPP RRI Palu semakin ber-kembang baik itu dari segi peralatan maupun tujuannya

DAFTAR PUSTAKA

Gambar

Tabel 1. Data Sejarah Pers Indonesia di beberapa daerah
Tabel 2. Data Pers (Media Cetak/Media Elektronik) di Sulawesi Tengah
Gambar 3.1 Almarhum Letkol Inf.  Hi. Rusdy  Toana dan istri (Pendiri Mercusuar)
Gambar 3.2 Tampilan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Komposisi hibah yang sedang berjalan sampai dengan Triwulan II Tahun 2019 berdasarkan jenis hibah dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut: Gambar 3.2 Pelaksanaan Hibah Luar Negeri