• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal of Terrorism Studies Journal of Terrorism Studies

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Journal of Terrorism Studies Journal of Terrorism Studies "

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Serangan teroris di Indonesia telah berevolusi dari penggunaan bahan peledak konvensional seperti ANFO (bahan bakar minyak amonium nitrat) yang beralih ke penggunaan bahan kimia, biologi, radioaktif, dan nuklir (KBRN) yang dapat diubah menjadi senjata pemusnah massal dalam jumlah besar. skala besar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus penggunaan WMD dalam serangan teroris di Indonesia periode 2011-2019. Konsep teori kontraterorisme, pencegahan kejahatan, dan kebijakan publik digunakan untuk menjelaskan strategi pencegahan serangan teroris dengan WMD di Indonesia.

Tulisan ini mengkaji peran Kementerian/Lembaga seperti POLRI, BNPT, BAPETEN, BNPB, TNI, Kementerian Perindustrian dalam mitigasi dan penanganan serangan teroris dengan WMD. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlunya mengintegrasikan protokol penanganan serangan teroris yang ada saat ini dengan WMD dan melegalkannya dalam bentuk produk hukum yang lebih tinggi dari Lembaga Kepresidenan dan mengikat seluruh kementerian/lembaga terkait. Terorisme sebagai bagian dari Kejahatan Transnasional telah menjadi kekhawatiran negara-negara maju dan berkembang karena serangan teroris berkembang dengan bantuan senjata pemusnah massal baik berupa senjata kimia, biologi, radioaktif, dan nuklir.

Dalam beberapa dekade terakhir, serangan teroris yang menggunakan CBRNE meningkat dan secara paralel jumlah korban tewas dan terluka pun meningkat. Bahan radiologi juga tersedia di setiap rumah sakit, laboratorium dan industri, patogen biologis juga mudah ditemukan di berbagai laboratorium universitas atau rumah sakit; Insiden yang melibatkan CBRNE sulit untuk diidentifikasi, dalam serangan kimia sulit untuk mengidentifikasi jenis bahan kimia berbahaya apa yang digunakan; biologik juga memerlukan waktu inkubasi hingga berminggu-minggu untuk menimbulkan gejala, sehingga sulit untuk menentukan sumber biologis sebenarnya; Agen (material) CBRNE siap disebarkan dengan mudah melalui HVAC (pemanas, ventilasi, AC). Setelah tersebar di udara, obat ini akan menjadi uap atau asap yang sulit disebarkan dalam jangka waktu lama; Menimbulkan dampak psikologis, tujuan utama aksi teroris adalah untuk meneror masyarakat dan dampak psikologis serangan teroris dengan CBRNE akan bertahan lebih lama dan menimbulkan kepanikan masyarakat. Secara makro, ideologi teroris kedua kelompok tersebut cenderung stabil dan kelompok teroris di Indonesia tidak murni bersifat lokal melainkan kelompok teroris yang terafiliasi.

Dengan pergeseran ini, terjadi pula perubahan dalam jaringan teroris, kepemimpinan kelompok teroris, dan strategi serangan teroris. Puncak serangan teroris kedua di Indonesia terjadi pada tahun 2012, seiring dengan bangkitnya ISIS dan berkembangnya JAT-JAD di Indonesia yang ditandai dengan munculnya penggunaan bahan bom berdaya ledak tinggi seperti TATP, HMTD dan Nitrogliserin. Puncak ketiga serangan teroris di Indonesia terjadi pada tahun 2018 ketika ISIS tumbang dan menyerukan melalui media online agar simpatisan di seluruh dunia turun tangan di tempatnya masing-masing, terbukti dengan aksi bom berturut-turut di Surabaya, Pekanbaru, dan Medan.

Seperti disebutkan di atas, pola serangan teroris di Indonesia bergerak dari soft target non-strategis ke hard target strategis dan menggunakan pola gerilya hutan. Selain itu, lokasi serangan teroris terbanyak kedua adalah Sulawesi Tengah yang menjadi pusat perlawanan Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan mendiang Santoso dan Ali Kalora yang saat ini sedang ditangani oleh TNI. pemerintah. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan konsep teori pencegahan kejahatan yang menitikberatkan pada pendekatan situasional untuk menguraikan strategi pencegahan serangan teroris, namun mengingat penelitian ini bersifat multidisiplin maka penulis juga memasukkan konsep kontra-terorisme. teori dan teori kebijakan publik untuk memperkaya kajian.

Data sasaran yang dikumpulkan adalah seluruh data karakteristik bom yang terjadi di Indonesia pada tahun 1950-an hingga tahun 2019, dengan data sub sasaran adalah jenis senjata pemusnah massal yang digunakan. Dalam rangka menghadapi ancaman serangan teroris dengan menggunakan senjata pemusnah massal, mitigasi yang dilakukan pemerintah harus dilakukan secara holistik, yaitu tidak hanya dari segi penegakan hukum, tetapi juga dari segi upaya preventif. Matriks SOP/Protokol mengenai pendekatan serangan teroris dengan menggunakan senjata pemusnah massal (materi KBRN) oleh kementerian/lembaga di Indonesia.

Menetapkan peta/struktur komando penanggulangan kondisi krisis pada saat serangan teroris dengan menggunakan materi KBRN, lengkap dengan uraian tugas masing-masing jabatan;

PUK/DK2N 3/NN 21 Tgl 15 September

Saat ini, SOP AP belum memiliki skema/struktur komando untuk manajemen krisis. Perlu diwaspadai apabila terjadi peristiwa serangan teroris dengan materi KBRN di wilayah tersebut, maka diusulkan pihak yang ditunjuk sebagai panglima penanggung jawab adalah pihak setempat. Kasatwil (Kapolda/Kapolres); Dalam protokol OTDNN, kepala OTDNN adalah Kepala BNPB dalam hal dinyatakan sebagai bencana nasional akibat bahaya radioaktif nuklir, dan kemudian dalam konteks yang sama bahaya yang timbul dari ancaman terorisme penggunaan senjata pemusnah massal. . jika dampaknya ditingkatkan ke tingkat nasional, dampaknya bisa diserap.

PUSAT ZENI AD

SOP AP untuk Manajemen Krisis Serangan Teroris Kimia, Biologi, Radioaktif dan Nuklir menyatakan bahwa tidak ada satu badan/lembaga, baik lokal, provinsi, nasional atau sektor swasta, yang memiliki wewenang dan keahlian untuk bertindak secara independen terhadap kompleks yang mungkin terjadi di masa depan. respons terhadap keadaan darurat CBRN, khususnya yang berasal dari. Dari matriks di atas terlihat bahwa protokol penanganan serangan teroris dengan menggunakan senjata pemusnah massal masih bersifat sektoral sesuai tupoksi masing-masing fungsi. Dalam konteks 6 kasus bom WMD di Indonesia selama ini, alasan atau latar belakang pelakunya cenderung seragam, yaitu ideologis berupa keyakinan takfiris (menyalahkan pihak di luar kelompoknya) dan penolakan terhadap thaghut (kebencian dan perselisihan). ), yang diwujudkan dengan melakukan serangan teroris terhadap sasaran yang mereka anggap musuh, seperti polisi, simbol asing, atau simbol agama yang mereka benci.

Demikian pula penyebab kejahatan yang kedua, yaitu aspek kemampuan dan peralatan, mengkaji kejahatan tersebut meliputi pengetahuan dan keterampilan tentang alat dan penggunaannya (Sutherland (1948) dalam (Runturambi & Sudiadi, 2013). Begitu pula dengan kasus bom nitrogliserin di Solo (2012) mempelajari keterampilan perakitan bahan peledak, perakitan bahan peledak, perakitan bahan kimia secara otodidak melalui media sosial YouTube “cara membuat nitrogliserin”. Berdasarkan analisis faktual dan data empiris terhadap 6 percobaan serangan teroris menggunakan WMD di Indonesia. kebijakan respons yang tepat.

Peran institusi pemerintah dalam menangani serangan teroris dengan senjata pemusnah massal dilakukan melalui penyusunan dan pelaksanaan SOP/Protokol terkait, namun masih bersifat sektoral sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing Kementerian/Lembaga; Strategi kebijakan Pemerintah dalam menangani serangan teroris dengan WMD di Indonesia dilakukan dengan mengacu pada teori pencegahan kejahatan dengan pendekatan situasional yang dituangkan dalam 2 teknik utama yaitu meningkatkan risiko yang terlihat melalui kontrol akses untuk kemudahan akses terhadap materi CBRN dan akses online. informasi tentang perakitan bom; pelacakan barang/orang di perbatasan negara, dilakukan oleh Bea Cukai dengan menindak penyelundupan amonium nitrat; teknik utama. Mitigasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam merespon serangan teroris menggunakan WMD adalah dengan mengintegrasikan berbagai SOP yang ada dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: urgensi/tingkat ancaman yang dihadapi, kesamaan visi seluruh kementerian/lembaga terkait;

Referensi

Dokumen terkait

ACORN Board of Directors Rebecca East President Trent Batchelor Director Standards Committee Chair Patricia Flood Director Journal Committee Chair, Acting Journal Editor and