JurnaL
Epidemiologi Kesehatan
Indonesia
Vol. 2, No. 2 Desember 2018 e-ISSN: 2548-513X
Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Infeksi HIV pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) DKI Jakarta Tahun 2013-2014
(Halaman 35-42)
Association Between Knowledge of Condom Functions and Condom Use among Sexually-Active Unmarried Male Adolescents in Indonesia
(Halaman 43-48)
Faktor Risiko Kejadian Dehidrasi pada Petani Garam di Kecamatan Kaliori, Kabu- paten Rembang
(Halaman 49-54)
The Relationship between Antenatal Care with Childbirth Complication in Indo- nesian’s Mothers (Data Analysis of The Indonesia Demographic and Health Sur- vey 2012)
(Halaman 55-64)
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kesuksesan Kesembuhan dari Pen- gobatan Regimen Pendek (Short Treatment Regiment) pada Pasien Tuberkulosis Resistensi Obat di Indonesia Tahun 2017
(Halaman 65-71)
Artikel Penelitian
Volume 2 No 2, Desember 2018 ISSN 2548-513X
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
DAFTAR ISI
Faktor Risiko yang Berhubungan Dengan Infeksi HIV pada Pengguna Napza Suntik (Penasun) di DKI Jakarta Tahun 2013 -
2014... 32 - 42 Inggariwati, Sudarto Ronoatmodjo.
Association between Knowledge of Condom Functions and Condom Use among Sexually-Active Unmarried Male Adolescents in
Indonesia... 43 - 48 Lhuri Dwianti Rahmartani, Asri Adisasmita.
Faktor Risiko Kejadian Dehidrasi pada Petani Garam di Kecamatan
Kaliori, Kabupaten Rembang... 49 - 54 Nur Fitriah, Henry Setyawan S, Mateus Sakundarno Adi, Ari Udiyono.
The Relationship between Antenatal Care with Childbirth Complication in Indonesian’s Mothers (Data Analysis of The Indonesia Demographic and Health Survey 2012)...55 - 64 Krisnawati Bantas, Nurul Aryastuti, Dwi Gayatri.
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Hasil Pengobatan Regimen Pendek (Short Treatment Regiment) pada Pasien Tuberkulosis Resistensi Obat di Indonesia Tahun 2017... 65 - 71 Rina Agustina, Rizka Maulida, Yovsyah.
Volume 2 No 2, Desember 2018 ISSN 2548-513X
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
EDITORIAL TEAM Penanggung Jawab
Dr. dr. Tri Yunis Miko W, M.Sc (Ketua Departemen Epidemiologi, FKM UI)
Pemimpin Redaksi dr. Yovsyah, M.Kes
Dewan Redaksi
Dr. dr. Krisnawati Bantas, M.Kes (Departemen Epidemiologi, FKM UI) Dr. dr. Helda, M.Kes (Departemen Epidemiologi, FKM UI)
Putri Bungsu, SKM, M. Epid (Departemen Epidemiologi, FKM UI)
Pelaksana Manajemen Redaksi Ira Candra Kirana, SKM
Sekretaris Manajemen Redaksi Hariani Rafitha, SKM
Pengelola Web
Nico Kurnia Pratama, S.T Eddy Afriansyah, SKom, M.Si
Diterbitkan oleh Departemen Epidemiologi
Gd. A. Lt. 1, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus Baru UI, Depok 16424 Telp. (021) 7884 9031, Hp. 081806030588
email: [email protected] website: http://journal.fkm.ui.ac.id/epid
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, syukur kepada Allah Yang Maha Esa, dengan izin-Nya maka Volume 2 Nomor 2 Tahun 2018, Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia yang dikelola oleh Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia telah terbit. Terbitnya edisi pertama dari jurnal ini menjadi bukti semakin ditingkatkannya apresiasi terhadap pengembangan dan diseminasi (penyebar luasan) ilmiah dari bidang epidemiologi. Kami selaku redaksi juga akan melakukan pembenahan dan perbaikan secara terus menerus agar jurnal ini mendapatkan akreditasi nasional bahkan nantinya dapat diakui secara internasional. Pada Volume 2 Nomor 2 Tahun 2018 ini, Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia ini menghadirkan sejumlah tulisan yang berisi isu-isu yang menarik dalam dunia kesehatan. Jurnal edisi kali ini memuat 5 (lima) artikel.
Beberapa artikel dalam edisi pertama ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi perkembangan studi Epidemiologi, khususnya di Indonesia. Redaksi mengucapkan banyak terima kasih kepada para kontributor yang telah mempercayakan artikelnya untuk dipublikasikan pada Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia dalam edisi kali ini ydalam menyusun dan merevisi artikel. Semoga jurnal ini bermanfaat untuk memperkaya kajian ilmiah Epidemiologi. Redaksi juga mengharapkan masukan dan kiriman naskah-naskah akademik serta tulisan ilmiah yang akan memperkaya khasanah ilmu Epidemiologi.
Depok, Desember 2018
Pemimpin Redaksi
PEDOMAN PENULISAN
Artikel yang disubmit ke Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, harus mengikuti kriteria atau format penulisan dari jurnal ini. Artikel yang tidak mengikuti kriteria yang ada akan dikembalikan untuk diubah.
Format Penulisan
A. Format Dokumen : .doc, .docx (File harus dapat diedit dan tidak terkunci atau merupakan file yang diproteksi).
B. Panjang Artikel : Maksimal ditulis dalam 7500 kata. Hanya diperbolehkan menambahkan 6 gambar/tabel/bagan.
C. Font : Times New Roman, 12 pt, spasi baris 1.5
D. Tata Letak Halaman : A4, satu kolom, menggunakan batas margin 3 cm.
E. Bahasa : Secara keseluruhan ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Untuk penulisan judul dan abstrak menggunakan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
F. Singkatan : Singkatan ditetapkan sejak pertama dituliskan dalam teks. Tidak dianjurkan menggunakan singkatan non-standar kecuali singkatan tersebut dituliskan minimal 3 kali dalam teks.
Struktur Manuskrip
Manuskrip meliputi nama penulis, abtrak dan kata kuncinya, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan referensi.
A. Judul
Judul dituliskan dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dengan menggunakan format Times New Roman, 16pt, cetak tebal, spasi 1,5 dan tidak boleh lebih dari 20 kata.
B. Nama Penulis
Penulisan nama penulis berada satu spasi di bawah judul tanpa menggunakan gelar. Tuliskan pula afiliasi dari semua penulis yang terdiri dari nama departemen, institusi, kota, provinsi, dan negara. Tambahkan email dan nomer telepone untuk penulis utama.
C. Abstrak
Abstrak dituliskan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tidak lebih dari 250 kata. Abstrak dituliskan dalam satu paragraf yang terdiri dari masalah, tujuan, metode, dan hasil. Cantumkan 3-5 kata kunci yang berhubungan dengan topik pada artikel.
(Ditulis miring, 10pt) D. Isi Teks
Artikel diketik secara terstuktur mulai dari pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Artikel ditulis menggunakan format font Times New Roman, 12pt, dua spasi, dan tidak lebih dari 7500 kata.
- Pendahuluan terdiri dari latar belakang, review singkat dan tujuan penelitian pada akhir pendahuluan.
- Metode terdiri dari desain studi, populasi, sempel, sumber data, kuesioner/instrumen, prosedur analisis pengumpulan data dan prosedur analisis data.
- Hasil adalah penemuan eksperimen yang harus dituliskan secara singkat dan jelas. Dapat berupa tabel, gambar dan narasi. Tabel ditulis dengan satu spasi, dan diketik secara berurutan, menggunakan ukuran font 10pt. Hindari penulisan opini pada bagian hasil.
- Pembahasan mengeksplorasi makna dari hasil eksperimen dengan argumentasi berdasarkan teori yang relevan dengan hasil temuan yang ada.
- Kesimpulan memberikan rangkuman dari hasil penemuan eksperimen yang menjawab tujuan penelitian. Anda juga harus menyarankan eksperimen berikutnya dan/atau menunjukkan eksperimen yang sedang berlangsung kepada pembaca.
- Referensi ditulis menggunakan gaya Vancouver dengan maksimal 50 referensi. Penggunaan “et al” hanya untuk referensi yang penulisnya lebih dari 6 penulis.
Publikasi Artikel
Artikel yang dipublikasikan akan dikenakan biaya muat sebesar Rp 300.000,- (Tiga Ratus Ribu Rupiah) melalui no rek. 0140 280043 an. Ibu Ratna Djuwita Cabang UI Depok. Bukti pembayaran
Contoh Penulisan Referensi
A. Format Standar dengan Referensi Buku - Satu penulis atau editor
Mason J. Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005.
Ireland R, editor. Clinical textbook of dental hygiene and therapy.
Oxford: Blackwell Munksgaard; 2006.
- Dua-enam penulis atau editor
Miles DA, Van Dis ML, Williamson GF, Jensen CW. Radiographic imaging for dental team. 4th ed. St. Louis: Saunders Elsevier; 2009 Dionne RA, Phero JC, Becker DE, editors. Management of Pain and anxiety in the dental office. Philadelphia: WB Saunders; 2002 - Lebih dari enam penulis atau editor
Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, et al., editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th ed. Nwe York: McGraw Hill; 2008.
- Organisasi sebagai penulis
Canadian Dental Hygienists Association. Dental Hygiene: Definition and Scope. Ottawa: Canadian Dental Hygienists Association; 1995.
- Tidak ada penulis atau editor
Scott’s Canadian dental directory 2008. 9th ed. Toronto: Scott’s Directories; 2007.
- Dokumen Pemerintahan
Canada. Environmental Health Directorate. Radiation Protection in Dentistry: Recommended Safety Procedures for the use of dental x-ray equipments. Safety Code 30. Ottawa: Ministry of Health; 2000.
- Bab dalam buku
Alexander RG. Considerations in creating a beautiful smile. In:
Romano R, editor. The Art of the Smile. London: Quintessence Publishing; 2005. P. 187-210.
- E-book (Buku elektronik)
Irfan A. Protocols for predictable aesthetic dental restoration [Internet]. Oxford: Blackwell Munksgaard; 2006 [cited 2009 May 21]. Available from Netlibrary: http://cclsw2.vcc.ca:2048/
l o g i n ? u r l = h t t p : / / w w w . n e t L i b r a r y . c o m / urlapi.asp?actionn=summary&v=1&bookid=181691
B. Format Standar dengan Referensi Artikel Jurnal - Artikel Jurnal Cetak
Haas AN, de Castro GD, Moreno T, Susin C, Albandar JM, Oppermann RV, et al. Azithromycin as a adjunctive treatment of aggressive periodontitis: 12-months randomized clinical trial. J Clin Periodontol. 2008 Aug; 35(8): 696-704
- Artikel Jurnal dari Website
Tasdemir T, Yesilyurt C, Ceyhanli KT, Celik D, Er K. Evaluation of apical filling after root canal filling by 2 different techiques. J Can Dent Assoc [Internet]. 2009 Apr [cited 2009 Jun 14];75(3):[about 5pp.]. Available from: http://www.cda-adc.ca/jcda/vol-75/issue- 3/201.html
- Artikel Jurnal dari Database Online
Erasmus S, Luiters S, Brijlal P. Oral hygiene and dental student’s knowledge, attitude and behaviour in managing HIV/AIDS patients. Int J Dent Hyg [Internet]. 2005 Nov [cited 2009 Jun 16];3(4):213-7. Available from Medline: http://cclsw2.vcc.ca:2048/
l o g i n ? u r l = h t t p : / / s e a r c h . e b s c o h o s t . c o m / login.aspx?direct=true&db=cmedm&AN=16451310&site=ehost- live
C. Format Standar dengan Referensi Websites - Website dengan Penulis
Fehrenbach MJ. Dental hygiene education [Internet]. [Place unknown]; Fehrenbach and Associates; 2000 [updated 2009 May 2; cited 2009 Jun 15]. Available from: http://www.dhed.net/
Main.html
- Website tanpa Penulis
American Dental Hygienists’ Association [Internet]. Chicago : American Dental Hygienists’ Association; 2009 [cited 2009 May 30]. Available from: http://www.adha.org
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Risk Factor Which Related to HIV Infection in Injected Drug Users IDUs at DKI Jakarta in 2013-2014.
Inggariwatia*; Sudarto Ronoatmodjob
a Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta, Jl. Kesehatan no 10 Jakarta Pusat Indonesia
b Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Lantai 1 Gedung A Kampus Baru UI Depok 16424, Indonesia
Prevalensi HIV pada kelompok Penasun selalu menduduki peringkat tertinggi dibanding kelompok populasi kunci lainnya. Studi cross sec- tional dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi HIV pada populasi Penasun DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari pelaksanaan Sero Survei HIV/Sifilis yang terintegrasi dengan Survei Cepat Perilaku di DKI Jakarta pada tahun 2013 - 2014. Populasi penelitian ini adalah Penasun di DKI Jakarta, sampel 240, pemilihan sampel menggunakan metode RDS (Responden Driven Sampling). Model akhir analisis multivariate cox regression menunjukkan bahwa variabel yang paling berkontribusi terhadap infeksi HIV di kalangan Penasun adalah sikap sharing jarum suntik PR 2,42 (95% CI = 1,33 – 4,41) dan lama menjadi Penasun PR 1,78 (95% CI = 1,23 – 2,57). Sikap sharing jarum suntik walaupun hanya dilakukan sekali berdampak kuat meningkatkan risiko infeksi HIV dan variabel lama menjadi penasun berpengaruh terhadap melemahnya sikap konsisten untuk tidak shar- ing jarum suntik.
Kata kunci : Penasun, RDS, cox regression, sharing jarum suntik, lama jadi penasun
A B S T R A K A B S T R A C T
Keywords : IDU, RDS, cox regression, sharing syringe, duration of use syringe
Pendahuluan
Epidemi Human Immuno-deficiency Virus (HIV) secara global masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, kasus HIV di Indo- nesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 diderita oleh seorang warga Negara Belanda yang tinggal di Bali selanjutnya berkembang menjadi Epidemi dan telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun, diprediksi masih akan terus berlanjut. Secara umum telah diketahui bahwa penularan virus HIV ini adalah melalui hubungan seks berisiko dan penggunaan jarum suntik secara bersamaan pada pengguna napza suntik, serta ibu yang terifeksi HIV kepada bayinya.1
Estimasi prevalensi HIV di Indonesia pada kelompok usia >15 tahun sebesar 0,33% pada tahun 2015. Jumlah absolut orang dengan HIV tertinggi adalah di Jakarta. Jumlah absolut orang dengan HIV tertinggi adalah di Jakarta. Sampai dengan saat ini pola epidemi HIV AIDS masih terk onsentrasi pada kelompok populasi berisiko yang disebut dengan
“populasi kunci” yang terdiri atas wanita pekerja seks
dan pelanggannya, pengguna Napza Suntik (Penasun), *Korespondensi: Inggariwati. Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta, Jl. Kesehatan no 10 Jakarta Pusat Indonesia. E-mail: [email protected]
Artikel Penelitian
Volume 2 Desember - 2018 No. 2
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Infeksi HIV pada
Pengguna Napza Suntik (Penasun) DKI Jakarta Tahun 2013–2014
HIV prevalence in IDU groups always ranks highest compared to other key population groups. We conducted a cross sectional study to analyze associated factors among 240 samples of IDUs (Injecting Drug Users) from the Sero HIV/Syphilis Survey integrated with Rapid Behavior Survey in DKI Jakarta year 2013-2014, sample selection was using the RDS (Re- spondent Driven Sampling) method. Cox regression analysis were used to calculate Prevalence Ratio between associated factors with HIV infec- tion among IDUs. Multivariate Cox Regression analysis showed that shar- ing needles behavior among IDUs were at higher risk (PR = 2,42; 95% CI
= 1,33 – 4,41, P value = 0,004 ) compared with those that was not sharing needles. Patients with length time of being an IDU 120-240 moths also have higher risk to get HIV than those with length time <120 months (PR = 1,78; 95% CI : 1,23 – 2,57, P value = 0,015). Syringe sharing, although only once having a strong impact on increasing the risk of HIV infection, is due to the high prevalence of HIV among IDUs, a long time being IDU has an effect on the weakening of not sharing syringe behaviour.
Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) dan Waria.2 Dari tahun ke tahun prevalensi HIV pada kelompok Penasun selalu menduduki peringkat tertinggi dibanding pada kelompok populasi kunci lainnya. Tren prevalensi HIV pada kelompok Penasun hampir sama dengan Waria cenderung tetap sedangkan pada kelompok Laki-laki Suka Seks Laki-laki (LSL) trennya meningkat, sebaliknya pada kelompok Wanita Pekerja Seks T idak Langsung (WPSTL) trennya turun.
Berdasarkan data dari Surveilans HIV DKI Jakarta hasil dari Survei Terpadu Biologis Perilaku (STBP) tahun 2007, 2011, 2013 dan 2015 didapatkan prevalensi HIV di kalangan Penasun berturut-turut adalah 55%, 39%, 49.2% dan 2015 sebesar 43,6%.3Sangat tinggi dibanding prevalensi HIV global Penasun berdasarkan hasil studi sistematik reviu yang dilakukan oleh Degenhardt tahun 2017 yakni 17.8%; 95% CI = 10.8–
24.8%.4Sementara dalam literatur lain menyebutkan prevalensi HIV dikalangan Penasun di 3 Negara dengan populasi Penasun terbesar yakni China, Amerika Serikat
Metode Penelitian
Hasil dan Rusia masing-masing sebesar 12%, 16% dan 37%.5
Jumlah penyalahgunaan Napza meningkat sangat cepat, terutama mereka yang menggunakan jarum suntik tidak steril. Di Jakarta, 68% dari pasien yang berobat di RSKO adalah pengguna jarum suntik, sebanyak 72,7% dari jumlah tersebut sering menggunakan jarum suntik yang tidak steril ketika mereka menyuntikkan heroin. Sebanyak 59% dari mereka saling bertukar alat suntik.2
Berdasarkan ulasan Kementerian Kesehatan meskipun pada awalnya HIV disebabkan oleh penggunaan jarum suntik bersama di kalangan Penasun namun penularan melalui hubungan seksual saat ini merupakan cara penularan HIV paling utama. Jumlah infeksi baru per tahun diperkirakan mencapai sekitar 49.000. Pada studi ini dianalisis sejumlah variabel yang berhubungan dengan infeksi HIV di kalangan Penasun diantaranya perilaku pemakaian jarum suntik secara bergantian, faktor demografi dan untuk mengetahui apakah perilaku seks juga berperan pada infeksi HIV di kalangan Penasun dianalisis pula faktor risiko seksualnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi HIV pada populasi Penasun DKI Jakarta.
dengan Survei Cepat Perilaku di DKI Jakarta pada tahun 2013 - 2014. Kegiatan Survei ini dibawah tanggung jawab Kemenkes RI Dirjen P2PL sebagai agenda rutin yang dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka pengamatan epidemi HIV, kegiatan dilakukan di 11 Provinsi 13 Kab/Kota, pelaksana adalah Dinas Kesehatan Provinsi bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP), kegiatan ini telah melalui prosedur kaji etik dan layak dilaksanakan sesuai dengan Surat Keterangan dari Komisi Ahli Riset dan Etik Riset FKM UI no. 129/H2.F10/PPM.00.02/2014. Populasi pada penelitian ini adalah kelompok Penasun di DKI Jakarta.
Definisi operasional Penasun adalah pria/wanita berumur e” 15 tahun tinggal di Jakarta minimal selama sebulan, menyuntikkan Napza dalam satu tahun terakhir dan belum ikut serta sebagai responden dalam survei ini.6
Jumlah sampel sebanyak 240 responden berdasarkan perhitungan jumlah sampel minimal pada kegiatan sero survei HIV/Sifilis yang bertujuan untuk menghitung prevalensi HIV di kalangan Penasun. Status infeksi HIV dan Sifilis diukur dengan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan HIV menggunakan strategi 2 yakni menggunakan 2 jenis reagen yang telah memenuhi kriteria sensitifitas dan spesifisitas (sensitifitaas reagen per Penelitian ini berjenis observasional analitik disain cross sectional menggunakan data sekunder dari pelaksanaan Sero Survei HIV/Sifilis yang terintegrasi
tama >99% dan spesifisitas reagen kedua >98%) sesuai dengan tujuan studi yakni untuk screening, sedangkan pemeriksaan sifilis menggunakan 3 stage yakni RPR, TP Rapid serta RPR titer karena tujuannya disamping untuk screening sekaligus untuk pengobatan.7
Pemilihan sampel menggunakan metode Responden Driven Sampling (RDS) yakni sejenis metode chain-refferal sampling untuk populasi tersembunyi, yang dapat menghasilkan data yang representatif terkait populasi yang diteliti.8 Penasun dianggap sebagai populasi tersembunyi mengingat perilaku mereka yang berkaitan dengan Napza adalah ilegal, berbenturan dengan hukum. Langkah pertama metode RDS ini adalah menetapkan 7 seed awal yang memiliki karakteristik seheterogen mungkin, baik dari lokasi tempat tinggal, jenis hotspot, kelompok usia, pekerjaan/status sosial dan jenis kelamin, dengan metode ini diharapkan seluruh populasi Penasun di DKI Jakarta terwakili sebab karakter teman yang direkrut biasanya hampir sama dengan perekrutnya yang merupakan peer groupnya. Penunjukan seed awal berdasarkan rekomendasi dari informan yang ditunjuk, yakni anggota LSM yang menangani kelompok Penasun yang sebelumnya adalah Penasun juga. Dari 7 seed awal masing-masing akan merekrut maksimal 3 orang, selanjutnya responden yang terekrut diberikan kesempatan untuk mengajak temannya maksimal 3 orang juga, demikian seterusnya sehingga terkumpul 240 responden.9
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan variabel yang diteliti (Tabel no 1), untuk seleksi variabel yang masuk dalam analisis multivariat dilakukan analisis bivariat menggunakan chi square untuk menilai hubungan antara variabel dependen yakni status HIV dengan 10 variabel independen yakni status sifilis, jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, sikap konsisten tidak berbagi jarum suntik, lama penggunaan Napza suntik, frekuensi menyuntik, jual seks/tukar bodi, hubungan seks setahun terakhir dan perilaku seks berisiko, kekuatan hubungan diukur dengan PR (Prevalens Rasio) (Tabel no 2), selanjutnya untuk melihat hubungan antar variabel dilakukan analisis Multivariat pada variabel yang memenuhi kriteria, yakni memiliki p value <0,25 (Tabel no 3, 4, 5 dan 6). Analisis data menggunakan sofware STATA 12, variabel yang bermakna pada hasil studi ini dijadikan sebagai referensi untuk melakukan intervensi program.10
Prevalensi HIV di kalangan Penasun DKI Jakarta adalah 49,2% sedangkan prevalensi Sifilis hanya 3,8%.
Berdasarkan jenis kelamin, 9,6% responden adalah wanita, sisanya 90,4% pria. Usia termuda responden 17 tahun dan tertua 60 tahun, 85,8% berada pada kelompok usia produktif yakni 21 – 40 tahun.Variabel
Inggarawati, RonoatmodjoFaktor Risiko yang berhubungan dengan infeksi HIV pada pengguna NAPZA (Penasun) DKI Jakarta Tahun 2013-2014
Karakteristik Responden Jumlah Persentase (%) 1. Hasil Pemeriksaan HIV
- Reaktif
- Non Reaktif 118
122 49.2
50.8 2. Hasil Pemeriksaan Sifilis
- Reaktif
- Non Reaktif 9
231 3.8
96.2 3. Jenis Kelamin
- Perempuan
- Laki-laki 23
217 9.6
90.4 4. Umur
- 17-20 tahun - 21 – 30 tahun - 31 – 40 tahun - 41 – 50 tahun - 51 – 60 tahun
12 97 109
18 4
5 40.4 45.4 7.5 1.7 5. Tingkat Pendidikan
- Tidak Sekolah
- SD
- SMP
- SMA
- PT
4 31 63 123
19
1.7 12.9 26.2 51.3 7.9 6. Lama jadi Penasun
- 1 sd 12 bulan - 13 sd 60 bulan - 61 sd 120 bulan - 121 sd 240 bulan
18 58 73 91
7.5 24.2 30.4 37.9 7. Sikap Sharing Jarum Suntik
- Sharing - Tidak Sharing
184
56 76.7
23.3 8. Jual Sex
- Ya
- Tidak 4
236 1.7
98.3 9. Frekuensi menyuntik sebulan
terakhir
- Tidak menyuntik - Menyuntik tdk tiap hari - Menyuntik tiap hari
26 69 145
10.8 28.8 60.4 10. Melakukan Hubungan Sex
setahun Terakhir - Ya
- Tidak
16476 68.3
31.7 11. Melakukan Hubungan Sex
Berisiko - Ya
- Tidak 209
31 87.1
12.9 Tabel 1. Kar akteristik Responden berdasarkan
variabel dependen dan independen
sikap sharing jarum suntik dinilai dari kuesioner SCP Penasun 2013 pertanyaan P301 a, b, c, d, e, f;
dinyatakan tidak sharing jarum suntik bila jawaban P301 a-e dijawab tidak dan P301 f dijawab ya, hasil pengukuran variabel ini didapatkan hanya 23,3%
menyatakan tidak sharing, sisanya 76,7% masih melakukan sharing jarum suntik.
sifilis negatif yang hasil tes HIV nya positif, PR sebesar 1,62 (95% CI =1.1 – 2.4) secara statistik bermakna, artinya Penasun dengan Sifilis positif berisiko 1,62 kali untuk terinfeksi HIV dibanding Penasun dengan Sifilis negatif. Ditinjau dari jenis kelamin, Penasun perempuan lebih berisiko untuk terkena HIV 1,27 kali untuk terinfeksi HIV dibanding penasun laki-laki namun walaupun secara statistik tidak bermakna (95% CI = 0.9 – 1.8) hal ini dimungkinkan karena keterbatasan jumlah sampel. Variabel umur dikelompokkan menjadi dua yakni e”29 tahun dan <29 tahun, pembagian berdasarkan analisis ROC.11
Berdasarkan kelompok umur, 56,8% status HIV positif berada pada kel umur 29 - 60 tahun dan 33,3%
pada kel umur 17 – 28 tahun, nilai PR 1,7 (95% CI = 1,2 – 2.4) bermakna secara statistik. Berdasarkan Pendidikan tidak ada perbedaan risiko HIV berdasarkan Pendidikan. Berdasarkan variabel perilaku sharing jarum suntik, didapatkan bahwa 57,6% HIV positif melakukan sharing jarum suntik hanya 21,4% tidak sharing, nilai PR 2,69 (95% CI =1.6 – 4.5) secara statistik bermakna, artinya sikap sharing jarum suntik berisiko terhadap infeksi HIV sebesar 2,69 kali dibanding penasun yang memiliki sikap konsisten untuk tidak sharing jarum suntik. Variabel lama jadi penasun dikelompokkan menjadi 2 dengan penetapan cut off point berdasarkan perhitungan Youden’s indeks.
Berdasarkan variabel lama menjadi penasun, sebanyak 68,3% penasun dengan status HIV positif telah menggunakan napza suntik antara 120 – 240 bulan dan 35,3% menggunakan napza suntik antara 1 sd 119 bulan, lama pemakaian jarum suntik e” 120 bulan berisik o terinfeksi HIV sebesar 1,94 kali dibanding pemakaian jarum suntik <120 bulan (95%
CI =1.5 – 2.5), hubungan tersebut bermakna secara statistik. Pada variabel jual seks, 50% yang mengaku menjual seks memiliki status HIV positif dan 49,2%
yang mengaku tidak menjual seks hasil tes HIV nya positif juga, tidak terdapat hubungan antara jual seks dengan status HIV PR 1,02 (95% CI = 0.4 – 2.7).
Variabel frekuensi menyuntik sebulan terakhir dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan kuesioner SCP 2013 (P205) yakni tidak menyuntik sebulan terakhir dan menyuntik sebulan terakhir, 49,5% penasun HIV positif menyuntik dalam sebulan terakhir dan 46,2%
mengaku tidak menyuntik dalam sebulan terakhir, PR 1,07 (95% CI= 0.7 – 1.7) artinya tidak terdapat hubungan antara frekuensi menyuntik sebulan terakhir dengan infeksi HIV. Variabel hubungan seks setahun terakhir, sebanyak 48,2% penasun dengan HIV positif melakukan hubungan seks setahun terakhir dan 51,3%
mengaku tidak melakukan hubungan seks dalam setahun terakhir, PR 0,94 (95% CI= 0.7 - 1.2) artinya tidak terdapat hubungan antara hubungan seks setahun terakhir dengan infeksi HIV pada Penasun.
Dilakukan analisis bivariat variabel dependen status HIV dengan 10 variabel independent didapatkan hasil seperti pada tabel 2. Berdasarkan status Sifilis didapatkan 78% penasun dengan hasil tes sifilis positif memiliki status HIV positif juga dan hanya 8,4% status
Tabel 3. Model Awal Analisis Multivariat Cox Regression
Tabel 2. Analisis Bivariat Status HIV dengan Variabel Independen Variabel
Karakteristik
Responden HIV
PR 95% CI pV
N % N %
1. Status Sifilis Reaktif
Non Reaktif 7
11 78.0
8.4 2
120 22.0
91.6 1.62 1.1-2.4 0.08
2. Jenis Kelamin Perempuan
Laki-laki 14
104 61.0
48.0 9
113 39.0
52.0 1.27 0.9-1.8 0.24
3. Umur 29-60 tahun
17-28 tahun 92
26 56.8
33.2 70
52 43.2
66.8 1.70 1.2-2.4 0.00
4. Tingkat Pendidikan
Tidak Sekolah - SMP SMA – PT
46 72
46.9 50.7
52 70
53.1 49.3
0.93 0.7-1.2 0.57
5. Perilaku sharing jarum suntik
Sharing
Tidak Sharing 106
12 57.6
21.4 78
44 42.4
78.6 2.69 1.6-4.5 0.00
6. Lama jadi Penasun
120-240 bulan
1-119 bulan 69
49 68.3
35.3 32
90 31.7
64.7 1.94 1.5-2.5 0.00
7. Jual Sex Ya
Tidak 2
116 50.0
49.2 2
120 50.0
50.8 1.02 0.4-2.7 0.97
8. Frekuensi menyuntik sebulan terakhir
Menyuntik dalam sebulan Tidak menyuntik dalam 1 bulan
106 12
49.5 46.2
108 14
50.5 53.8
1.07 0.7-1.7 0.74
9. Hubungan Sex setahun Terakhir
Ya
Tidak 79
39 48.2
51.3 85
37 51.8
48.7 0.94 0.7-1.2 0.65
10. Perilaku Sex Berisiko
Ya
Tidak 104
14 49.8
45.2 105
17 50.2
54.8 1.1 0.73-1.67 0.62
Berdasarkan variabel perilaku seks berisiko yang diambil dari kuesioner SCP 2013 (P402) didapatkan 49,8% penasun HIV positif melakukan perilaku seks berisiko dan 45,2% tidak melakukan seks berisiko, PR 1,1 (95% CI = 0.73 – 1.67), artinya tidak terdapat hubungan antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIV pada Penasun. Dilakukan analisis multivariat menggunakan cox regression pada variabel dengan nilai P <0,25 yakni perilaku sharing jarum suntik, lama jadi penasun, kelompok umur, status sifilis dan jenis kelamin, variabel waktu dibuat konstan (time
= 1).12
Berikut adalah tabel hasil analisis multivariat:
Tujuan dari analisis multivariat ini adalah mendapatkan model terbaik untuk memprediksi kejadian HIV dikalangan Penasun dengan mempertimbangkan seluruh variabel yang diduga berhubungan dengan kejadian HIV, model awal didapatkan dari 5 variabel independen memiliki peran dalam kejadian HIV dengan kemaknaan yang berbeda, variabel perilaku sharing jarum suntik adalah faktor terbesar pada kejadian HIV dikalangan Penasun setelah dikontrol variabel lainnya. Untuk mendapatkanmodel
terbaik, satu persatu variabel yang memiliki nilai P tertinggi dikeluarkan dari model (metode backward).
Pada saat variabel jenis kelamin dikeluarkan terlihat perbedaan PR dari variabel perilaku sharing jarum suntik sebesar 0,02 atau < 10%, artinya variabel jenis kelamin bukan merupakan variabel perancu dan dapat dikeluarkan, setelah variabel jenis kelamin dikeluarkan terlihat variabel sifilis memiliki nilai P tertinggi, maka dikeluarkan dari model, didapatkan perbedaan nilai PR variabel perilaku sharing jarum suntik sebesar 0,01 atau <10% dari full model, sehingga bukan merupakan variabel perancu dan dapat dikeluarkan dari model. Selanjutnya terdapat 3 variabel yang memprediksi kejadian HIV pada Penasun, variabel kelompok umur memiliki nilai P tertinggi sehingga dikeluarkan dari model, perbedaan nilai PR variabel perilaku jarum suntik setelah variabel kelompok umur dikeluarkan adalah sebesar 0,03 atau <10%, sehingga variabel kelompok umur bukan merupakan variabel perancu sehingga dapat dikeluarkan dari model, disamping itu umur juga merupakan variabel yang tidak dapat diintervensi. Didapatkan model akhir pada studi ini variabel independent yang paling berkontribusi terhadap kejadian HIV pada Penasun adalah perilaku sharing jarum suntik dan lama menjadi penasun.
Perilaku sharing jarum suntik dapat meningkatkan risiko terkena HIV sebesar 2,42 kali setelah dikontrol oleh variabel lama menjadi Penasun.
Untuk menilai apakah terdapat hubungan antar variabel independen yakni perilaku sharing jarum suntik dengan lama menjadi penasun dilakukan analisis chi square, didapatkan hasil sebagai berikut:
Variabel z Nilai P PR 95% CI
Perilaku sharing jarum suntik 2.94 0.003 2.46 1.35-4.49
Sifilis 0.95 0.340 1.51 0.65-3.65
Jenis Kelamin 0.61 0.541 1.21 0.65-2.27
Kel Umur 1.63 0.103 1.46 0.93-2.30
Lama menjadi Penasun 2.46 0.014 1.62 1.10-2.38
Inggarawati, RonoatmodjoFaktor Risiko yang berhubungan dengan infeksi HIV pada pengguna NAPZA (Penasun) DKI Jakarta Tahun 2013-2014
Diskusi
Variabel z Nilai P PR 95% CI
Perilaku sharing jarum suntik 2.94 0.003 2.46 1.35-4.49
Sifilis 0.95 0.340 1.51 0.65-3.65
Kel Umur 1.63 0.103 1.46 0.93-2.30
Lama menjadi Penasun 2.46 0.014 1.62 1.10-2.38 Dikeluarkan variabel sifilis
Perilakusharing jarum suntik 2.92 0.004 2.45 1.34-4.46
Kel Umur 1.55 0.120 1.43 0.91-2.26
Lama menjadi Penasun 2.43 0.015 1.61 1.10-2.37 Model akhir cox regression
Perilaku sharing jarum suntik 2.88 0.004 2.42 1.33-4.41 Lama menjadi Penasun 3.05 0.015 1.78 1.23-2.57
Tabel 4. Model Analisis Multivariat Cox Regression (dikeluarkan variable JK, Sif ilis, kel umur satu per satu)
Pada saat variabel jenis kelamin dikeluarkan terlihat perbedaan PR dari variabel perilaku sharing jarum suntik sebesar 0,02 atau < 10%, artinya variabel jenis kelamin bukan merupakan variabel perancu dan dapat dikeluarkan, setelah variabel jenis kelamin dikeluarkan terlihat variabel sifilis memiliki nilai P tertinggi, maka dikeluarkan dari model, didapatkan perbedaan nilai PR variabel perilaku sharing jarum suntik sebesar 0,01 atau <10% dari full model, sehingga bukan merupakan variabel perancu dan dapat dikeluarkan dari model. Selanjutnya terdapat 3 variabel yang memprediksi kejadian HIV pada Penasun, variabel kelompok umur memiliki nilai P tertinggi sehingga dikeluarkan dari model, perbedaan nilai PR variabel perilaku jarum suntik setelah variabel kelompok umur dikeluarkan adalah sebesar 0,03 atau <10%, sehingga variabel kelompok umur bukan merupakan variabel perancu sehingga dapat dikeluarkan dari model, disamping itu umur juga merupakan variabel yang tidak dapat diintervensi. Didapatkan model akhir pada studi ini variabel independent yang paling berkontribusi terhadap kejadian HIV pada Penasun adalah perilaku sharing jarum suntik dan lama menjadi penasun.
Perilaku sharing jarum suntik dapat meningkatkan risiko terkena HIV sebesar 2,42 kali setelah dikontrol oleh variabel lama menjadi Penasun.
Variabel Perilaku sharing jarum
suntik PR 95% CI
Sharing Tidak sharing Lama menjadi
penasun
- 120-240 bulan 106 12
- 1-119 bulan 78 44 1.18 1.03-1.35
Tabel 5. Model Analisis Bivariat pada Variabel Perilaku Sharing Jarum Suntik
Untuk menilai apakah terdapat hubungan antar variabel independen yakni perilaku sharing jarum suntik dengan lama menjadi penasun dilakukan analisis chi square, didapatkan hasil sebagai berikut:
Lama menjadi Penasun mempengaruhi sikap Perilaku sharing Jarum suntik, Penasun yang telah menyuntik selama 120 – 240 bulan berisiko untuk berperilaku sharing jarum suntik sebesar 1.18 kali dibanding Penasun yang menyuntik kurang dari 120 bulan.
Dari 10 variabel yang diteliti sebagai determinan infeksi HIV pada penasun didapatkan 5 variabel yang memenuhi kriteria untuk dilakukan analisis multivariat cox regression, model akhir analisis multivariat didapatkan 2 variabel menjadi faktor utama infeksi HIV pada kelompok penasun yakni variabel Perilaku Sharing Jarum Suntik dan lama pemakaian napza suntik, keduanya merupakan faktor yang meningkatkan risiko infeksi HIV pada kelompok penasun, dengan Prevalens Rasio (PR) masing-masing sebesar 2,42 (95%= 1.33 – 4.41) dan 1,78(95% CI=
1.23 – 2.57), sejalan dengan penelitian Sri Herwanti S, 2017 sharing jarum suntik memiliki risiko 1,90 kali terinfeksi HIV (95% CI= 0,68 – 5,35).13 Faktor risiko utama kejadian HIV pada penasun adalah pemakaian jarum suntik secara bergantian, pada umumnya satu jarum suntik dipakai oleh 2 sampai 15 orang pengguna nark otika,9 berdasarkan hal ini WHO merekomendasikan program jarum dan alat suntik steril serta terapi subtitusi opioid sebagai strategi pengendalikan HIV dikalangan penasun di Afrika sebagai program pengurangan dampak buruk (harm reduction). Program ini dilaksanakan di 63% Negara dikawasan Afrika yang memiliki populasi penasun.14 Studi ini mendapatkan bahwa mayoritas penasun (76,7%) melakukan sharing jarum suntik dan hanya sebagian kecil (23,3%) yang memiliki sikap konsisten tidak sharing jarum suntik, ternyata sikap ini sangat menentukan apakah seorang penasun nantinya akan tertular HIV atau tidak. Agar terlindung dari HIV penasun tidak boleh sekalipun menggunakan alat suntik bekas atau selalu menggunakan alat suntik baru.
Tingginya prevalensi HIV di kalangan Penasun tentunya meningkatkan risiko jarum bekas pakai telah digunakan oleh penderita HIV sebelumnya, bahkan bukan hanya oleh satu orang penderita HIV karena pemakaian bersama rata-rata oleh 2 – 15 orang, dengan kondisi tersebut, walaupun hanya sekali menggunakan jarum bekas pakai dapat dipastikan jarum tersebut telah terinfeksi HIV meskipun belum dapat dipastikan apakah langsung berkembang menjadi HIV atau tidak.
Lama jadi penasun adalah variabel kedua yang behubungan dengan infeksi HIV dikalangan Penasun, hasil analisis mendapatkan semakin lama menjadi Penasun risiko untuk terinfeksi HIV semakin besar, hal ini dimungkinkan karena sikap Penasun yang semula tidak mau berbagi jarum suntik seiring pertambahan waktu sikap tersebut menjadi lemah karena godaan
teman (peer group), perilaku yang tidak terkontrol pada saat withdrawal (sakau) dan kemungkinan kesulitan mendapatkan jarum suntik steril juga turut melemahkan sikap yang tadinya tidak mau berbagi jarum suntik, dalam penelitian ini didapatkan juga bahwa lama menjadi penasun berhubungan secara bermakna dengan perilaku sharing jarum suntik, PR 1,2 (95% CI
= 1,03 – 1,35). Variabel umur adalah variabel ketiga yang berhubungan dengan infeksi HIV di kalangan Penasun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kelompok umur merupakan faktor risiko terhadap infeksi HIV di kalangan Penasun dengan nilai PR 1,43 (95% CI = 0,91 – 2,26), artinya Penasun usia tua lebih berisiko terkena HIV dibanding yang berusia muda walaupun secara statistik tidak bermakna, hasil analisis mendapatkan pula bahwa tidak terdapat hubungan antara kelompok umur dengan perilaku sharing jarum suntik. Metode pemeriksaan HIV yang digunakan dalam sero survei HIV ini adalah metode tidak langsung, yakni dengan mendeteksi respon imun terhadap infeksi HIV atau konsekuensi klinis dari infeksi HIV, metode ini memiliki kerugian terutama karena respon imun memerlukan jangka waktu tertentu sejak infeksi HIV hingga timbul reaksi tubuh, periode ini disebut window period, pada periode ini walaupun seseorang telah terinfeksi HIV namun masih memberikan hasil negatif pada pemeriksaan antibodinya, window period ini biasanya berlangsung selama 3 s.d. 6 bulan, namun sebagian besar kurang dari 3 bulan,15 sehingga disarankan untuk mengulang pemeriksaan setiap 3 bulan bagi kelompok berisiko, hal ini juga dapat mempengaruhi prevalensi HIV yang lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tinggi.
Prevalensi Sifilis di kalangan Penasun sangat kecil yakni 3,8% jauh lebih kecil dibanding prevalensi Sifilis di kalangan LSL yakni 14,2% dan Waria sebesar 29% namun Sifilis berperan dalam kejadian HIV pada Penasun sebesar 1,70 (95% CI= 0,79 – 3,65), artinya Penasun dengan Sifilis positif berisiko 1,7 kali untuk terinfeksi HIV dibanding Penasun yang tidak menderita Sifilis, hubungan ini tidak bermakna secara statistik, hal ini dimungkinkan karena jumlah sampel yang kurang, tujuan utama dari kegiatan survei ini adalah mencari prevalensi HIV dan Sifilis di kalangan Penasun. Suatu studi yang dilakukan di Denmark terhadap lebih dari 2000 pasien yang didiagnosis HIV dalam PAPDI 2011,16 mendapatkan bahwa Infeksi Menular Seksual dan Virus Hepatitis berhubungan dengan infeksi HIV dengan OR 12,3 (95% CI = 9,6 – 15,7), sejalan dengan penelitian Sri Hermawanti S, 2017 yakni riwayat IMS atau status sifilis positif berisiko terhadap HIV positif sebesar 1,23 kali (95% CI = 0,44 – 3,43). Penelitian Amalia dkk di Jawa Tengah terkait perilaku seks Penasun mendapatkan bahwa 37,2% responden melakukan seks tidak aman yakni tidak menggunakan kondom saat melakukan seks berisiko.17
Dalam penelitian ini juga mendapatkan bahwa Penasun wanita berisiko untuk terinfeksi HIV 1,21 kali dibanding Penasun pria (95% CI=0.65 – 2.27) walaupun secara statistik tidak bermakna, hal ini dapat disebabkan oleh jumlah Penasun wanita yang menjadi responden penelitian sangat sedikit dibanding Penasun pria (prevalensi 9,6%), wanita lebih berisiko untuk terinfeksi HIV dibanding pria di kalangan Penasun dimungkinkan karena wanita umumnya dalam posisi yang lemah, kemampuan untuk menjaga dirinya dengan cara menggunakan jarum suntik steril lebih rendah dibanding laki-laki, akses ke layanan jarum suntik steril pun lebih terbatas, terlebih stigma dari keluarga dan masyarakat yang dapat membuatnya merasa putus asa, disamping itu pada umumnya Penasun wanita melakukan tukar bodi/menjual seks untuk mendapatkan Narkoba, hal ini meningkatkan risiko infeksi HIV di kalangan Penasun wanita. Variabel yang secara teori berhubungan dengan kejadian HIV namun pada penelitian ini tidak terbukti adalah jual seks dan perilaku seks berisiko hal ini terjadi karena kemungkinan bias informasi, dalam kuesioner pertanyaan untuk perilaku seks hanya untuk 1 tahun terakhir, konsistensi jawaban responden pun perlu penilaian lebih lanjut. Pada survei ini 87,1% penasun mengaku melakukan seks berisiko, yakni dengan pasangan tidak tetap dan tanpa kondom, sejalan dengan penelitian yang dilakukan I. Praptoharardjo dkk pada tahun 2007 yang mendapatkan bahwa 60%
penasun pria sering mengunjungi pekerja seks, 72%
diantaranya tidak menggunakan kondom, sementara 63% Penasun wanita menjadi pekerja seks dalam studi tersebut. Penyebaran HIV dari penasun kepada kalangan masyarakat umum juga terjadi melalui mekanisme seks tidak aman ini, sebagaimana penelitian Besral dkk pada tahun 2004.
Model akhir analisis multivariat cox regression mendapatkan bahwa variabel perilaku sharing jarum suntik meningkatkan risiko infeksi HIV di kalangan Penasun setelah dikontrol oleh variabel lama menjadi penasun. Variabel lama menjadi penasun merupakan variabel perancu, sebab disamping berhubungan dengan variabel dependen yakni HIV juga mempengaruhi variabel perilaku sharing jarum suntik.
Semakin lama menjadi Penasun, semakin meningkatkan risiko sharing jarum suntik, sehingga kemungkinan tertular HIV pun semakin besar.
Kesimpulan dan Saran
Perilaku sharing jarum suntik dan lama menjadi Penasun adalah variabel yang sangat berperan pada infeksi HIV di kalangan Penasun. Kedua variabel ini dapat dilakukan modifikasi, variabel berikutnya yang juga berhubungan dengan infeksi HIV di kalangan Penasun walaupun tidak bermakna secara s tatistik
Inggarawati, RonoatmodjoFaktor Risiko yang berhubungan dengan infeksi HIV pada pengguna NAPZA (Penasun) DKI Jakarta Tahun 2013-2014
adalah kelompok umur, sifilis dan jenis kelamin. Variabel yang pengaruhnya paling besar terhadap infeksi HIV di kalangan Penasun adalah sikap sharing jarum suntik, sikap konsisten tidak sharing jarum suntik dalam berbagai keadaan mampu melindungi Penasun dari HIV, sebaliknya perilaku sharing jarum suntik walaupun hanya sesekali meningkatkan risiko infeksi HIV. Lama menjadi penasun disamping faktor risiko infeksi HIV mempengaruhi juga perilaku sharing jarum suntik di kalangan Penasun.
Pengendalian HIV dikalangan Penasun melalui program yang telah ada di Jakarta saat ini antara lain Program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) dan Program Terapi Rumatan Metadhone (PTRM) perlu dipertahankan dan ditingkatkan, harapannya seluruh Penasun mampu menjangkau program ini. Program lain yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah promosi kesehatan di kalangan Penasun, terutama yang masih berusia muda, tujuannya adalah membangun sikap konsisten untuk tidak sharing jarum suntik dan mendorong Penasun untuk segera beralih dari suntik ke oral secara perlahan dan bertahap. Pro- gram penggunaan kondom di kalangan Penasun baik Penasun laki-laki maupun wanita juga perlu dilakukan karena terdapat hubungan antara infeksi menular seksual (sifilis) dengan infeksi HIV dikalangan Penasun.
Referensi
1. Kemenkes RI. Kajian Epidemiologi HIV Indonesia 2016.
2017;1–66.
2. Kemenkes RI. Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di indonesia Tahun 2011 - 2016. 2014. p. 10
3. Ingggariwati. Hubungan antara perilaku seks dengan infeksi HIV pada populasi lelaki suka seks lelaki di DKI Jakarta tahun 2013. PAEI. 2018;1.
4. L Degenhardt. Peacock. Colledge. Global prevalence of injecting drug use and sociodemographic characteristics and prevalence of HIV, HBV and HCV in people who inject drugs: a multistage systematic review. Lancet Glob Heal.
2017;
5. Wiessing BMLDBPL. Global Epidemiology of injecting drug use and HIV among people who inject drugs: a sistematic review. Lancet. 2008;10:372.
6. Komisi Penanggulangan AIDS. Protokol Lapangan Survei Cepat Perilaku Penasun. 2013. Jakarta.
7. Kemenkes RI. Protok ol Lapangan Biologis Sentinel Surveilans HIV (Integrasi dengan Survei Cepat Perilaku).
2013.
8. Praptoraharjo I, Wiebel WW, Kamil O, Iii AP. JARINGAN SEKSUAL DAN PERILAKU BERISIKO PENGGUNA NAPZA SUNTIK/ : EPISODE LAIN PENYEBARAN HIV DI INDONESIA. 2007;23(3):106–18.
9. Fink HH, Nevendorff L, Gabriella A, Verina L. Studi Kasus/
: Integrasi Respon HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan dan Efektivitas Program Layanan Alat Suntik Steril di DKI Jakarta. PPH Atmajaya. 2015;
10.Sopiyudin Dahlan. 13 Penyakit Statistik disertai Aplikasi Program Stata. Jakarta; 2010. 15 p.
11. Youden J. Youden’s J Statistic [Internet]. wikipedia.org.
2017. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki William_J_Youden
12.Kleinbaum. David G. Survival Analisys a Self Learning Text third edition. Business Media, LLC; 2012.
13.Saputra S Herwanti (Epidemiologi FKM UI). Determinan yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi HIV pada Pengguna Napza Suntik di Indonesia tahun 2015 (Analisis Data STBP tahun 2015). UI; 2018.
14. WHO. Focus On Key Populations In National HIV Strategic Plans in The African Region. 2018;(September).
15. J.Nelwan Erni. Rudi W R. Gejala dan Diagnosis HIV. In:
PAPDI IPD Edisi VI. Jakarta; 2014. p. 910.
16.Djoerban Zubairi. S Djauzi R. HIV/AIDS di Indonesia. In:
PAPDI IPD Edisi VI. Jakarta; 2014. p. 887.
17.Cahyani Amalia Eka, Widjanarko Bagoes LB. Gambaran Perilaku Berisiko HIV pada Pengguna Napza Suntik di Provinsi Jawa Tengah. Promosi Kesehat Indones. 2015;10.
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia
Volume 2 Desember - 2018 No. 2
Artikel Penelitian
Lhuri Dwianti Rahmartania*, Asri Adisasmitaa
aDepartment of Epidemiology - Faculty of Public Health, Universitas Indonesia 1st Floor Building A Kampus Baru UI Depok 16424, Indonesia
Association Between Knowledge of Condom Functions and Condom Use among Sexually-Active Unmarried Male
Adolescents in Indonesia
A B S T R A K A B S T R A C T
*Korespondensi: Lhuri Dwianti Rahmartani. Department of Epidemiology - Faculty of Public Health, Universitas Indonesia. 1st Floor Building A Kampus Baru UI Depok 16424, Indonesia. E-mail: [email protected] , Phone: +62-78849031 Latar belakang: Seks pranikah bukanlah norma umum di Indonesia
dan pendidikan tentang kesehatan seksual masih dianggap kontroversial.
Ironisnya, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan adanya peningkatan prevalensi perilaku seks pranikah di kalangan remaja, khususnya laki-laki. Sayangnya, penggunaan kondom pada populasi ini terbilang rendah dan tidak diketahui apakah itu berhubungan dengan minimnya pengetahuan kesehatan seksual termasuk penggunaan k ondom. Tujuan: untuk melihat apakah ada hubungan antara pengetahuan tentang fungsi kondom dengan penggunaan kondom di kalangan remaja.Metode: Penelitian potong-lintang terhadap 913 laki- laki Indonesia usia 15-24 tahun yang melakukan hubungan seksual pranikah (SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja). Variabel independen adalah pengetahuan tentang fungsi kondom sedangkan variabel dependen adalah penggunaan kondom. Analisis statistik dilakukan menggunakan Chi Square danCox regression.Hasil: Prevalensi penggunaan kondom sekitar dua kali lebih tinggi pada responden dengan pengetahuan yang cukup tentang fungsi kondom (31%), dibandingkan responden tanpa pengetahuan tersebut (15,1%);adjusted PR 2,38 (95% CI 1,47 - 3,85).
Simpulan: Pengetahuan tentang kondom berasosiasi positif dengan penggunaan kondom pada remaja pelaku hubungan seksual pranikah.
Pelarangan informasi tentang kondom dapat membuat remaja yang aktif secara seksual melakukan hubungan seksual tidak aman. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan praktik seks aman diperlukan namun harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya.
Asosiasi Pengetahuan Mengenai Fungsi Kondom terhadap Penggunaan Kondom pada Remaja Laki-Laki Aktif Seksual di Indonesia
Background:Premarital sex is culturally unacceptable in Indonesia and education on safe sex practice remains controversial. Meanwhile, Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) show gradual increase in the prevalence of sexually-active adolescents nationwide, particularly among unmarried males. Unfortunately, condom use is low among this population and it is unclear whether it relates to inadequate knowledge on safe sex practice including condoms. Objective: to see whether there is an association between knowledge on condom functions and condom use among adolescents.Method: cross-sectional study of 913 Indonesian unmarried males aged 15 – 24 who have had sex (IDHS Adolescent Reproductive Health 2012 dataset). The independent variable is knowledge on condom functions while the dependent variable is the use of condoms. Statistical analysis is performed using Chi Square and Cox regression.Result: The prevalence of condom use is about twice higher in respondents with sufficient knowledge on condom functions (31%), than in respondents without (15.1%); adjusted PR 2.38 (95%CI 1.47 – 3.85). Conclusion: Having knowledge about condoms is positively associated with safer sex practice among sexually active adolescents.
Banning information on condoms may place sexually-active adolescents into unprotected sex. Education on safe sex practice is needed but should be cautiously tailored to meet cultural values.
Keywords: Premarital sex, condom, adolescent, male, knowledge, risky behavior.
Kata kunci: Seks pranikah, kondom, remaja, laki-laki, pengetahuan, perilaku berisiko.
Introduction
Premarital sex, especially in adolescents, is not considered part of Indonesian culture, and even often regarded as a taboo.1,2 However, Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) from the past decade show gradual increase in prevalence of sexually-active adolescents nationwide, particularly unmarried males (from 4.9% in 2003 to 8.3% in 2012).3,4 Unfortunately, this trend is not followed with adequate use of condoms. In 2012, only 27.4% male adolescents wore condom at their last intercourse.3 While in fact, condom remains the most effective way to prevent both sexually transmitted infections (STIs),
and unwanted pregnancy.5 The gap between risky behavior and its specific protection may lead to un- wanted pregnancy and STIs, which could bring in more consequences e.g. unsafe abortion and maternal-neo- natal complications.
Knowledge on sexual and reproductive health (SRH) is thought to have a role in this phenomenon yet sadly found lacking in Indonesian adolescents.
There is no standard comprehensive SRH education
at school and discussing about condoms is usually frowned upon.1, 2 Even basic information regarding condoms are not well-understood by every Indonesian adolescents. Based on IDHS 20123, almost 30% males and 40% female adolescents in Indonesia do not know that condom can prevent pregnancy. Moreover, more than 30% males and nearly 50% females do not know that condoms can prevent STIs. 3, 4
Behaviors are known to be influenced by knowledge.6 Likewise, there are many factors that are thought to influence adolescents in making decisions on sexual practice, one of them is their comprehension on sexual and reproductive health.7, 8 It remains unclear whether inadequate knowledge on safe sex contributes to unsafe sex. Therefore this study aims to see whether there is an association between knowledge on condom functions and the prevalence of condom use, particularly among unmarried male adolescents in Indonesia.
Method
This is a cross-sectional study using secondary data of Indonesia Demographic Health Survey (IDHS):
Adolescent Reproductive Health 2012.3 dataset involving 913 unmarried males aged 15 – 24 who have had sex. Sample is collected from all 33 provinces nationwide during the year 2007 - 2012. Data is obtained from an open source public domain (https://
dhsprogram.com/Data/). Complete questionnaires are displayed as appendix of IDHS 2012 (special report on adolescent reproductive health) and available for download at https://dhsprogram.com/pubs/pdf/FR281/
FR281.pdf.
In this study, the dependent variable is standard male latex condom use at last sexual intercourse (using condom or not using condom, form no.713-714).
Independent variable is knowledge on two basic condom functions, which are 1) to help prevent pregnancy and 2) to prevent STIs (form no. 216).
Categories of knowledge are divided into two; 1) suff icient knowledge (know both functions of condoms), and 2) insufficient knowledge (only know one function or not at all). Additionally, we also look for dose-response relationship by comparing condom use among those who know 2 condom functions vs know only one function vs know none of the functions.
Firstly, we use Chi Square test to calculate crude prevalence ratio (PR) for the use of condoms among the two knowledge group. Then Cox regression is used for multivariate analysis to obtain an adjusted PR by taking demographic covariates into consideration. The covariates included in the multivariate analysis are age (form no 103), economic status (form no. 118), zone of residence (identification form), and type of residence (identification form).
Ethical Review
Data from IDHS Adolescent Reproductive Health 2012 is obtained from procedures and questionnaires that comply with standard DHS surveys.
All protocols have been reviewed and approved by ICF Institutional Review Board (IRB) and an IRB in the host country, i.e. Indonesia in this case.9 ICF IRB confirms that the survey conforms to the U.S. Department of Health and Human Services regulations for the protection of human subjects (45 CFR 46).9
Result
Table 1 shows the general characteristic of the sample. Variables on rows no. 1 - 3 are independent variables, variable on row no.4 is dependent variable, and the rest are demographic characteristics. Asterisk (*) indicates demographic characteristics that are in- cluded in multivariate analysis as covariates because they have statistically significant effect in the model analysis. Based on row no.3, about 79% respondents have sufficient knowledge on basic condom functions, while the rest only know either one or not at all (this is defined as having insufficient knowledge on basic con- dom functions). Data on row no.4 shows that about 72% respondents do not use condoms at their last in- tercourse.
Tabel 1. Char acteristic of respondents
V a r ia b le s C a t e g o r ie s
n %
K n o w le d g e t h a t c o n d o m c a n h e lp p r e v e n t p r e g n a n c y
K n o w D o N o t K n o w
T o t a l M is s in g
7 8 9 1 1 1 9 0 1 ( 4 )
8 7 .6 1 2 .4 1 0 0 .0 K n o w le d g e t h a t
c o n d o m c a n h e lp p r e v e n t S T Is
K n o w D o N o t K n o w
T o t a l M is s in g
7 6 7 1 3 4 9 0 1 ( 4 )
8 5 .1 1 4 .9 1 0 0 .0 K n o w le d g e t h a t
c o n d o m c a n h e lp p r e v e n t p r e g n a n c y a n d S T Is
K n o w b o t h f u n c t io n s K n o w o n ly o n e f u n c t io n
K n o w n o n e T o t a l M is s in g
7 1 2 1 3 1 5 7 9 0 1
( 4 ) 7 9 .1 1 4 .6 6 .3 1 0 0 .0 C o n d o m u s e a t
la s t s e x u a l in t e r c o u r s e
Y e s N o T o t a l
2 5 1 6 6 3 9 1 3
2 7 .4 7 2 .6 1 0 0 .0 A g e a t
in t e r v ie w *
2 0 – 2 4 y e a r s 1 5 – 1 9 y e a r s
T o t a l
6 0 6 3 0 8 9 1 3
6 6 .3 3 3 .7 1 0 0 .0 A g e a t f ir s t
s e x u a l in t e r c o u r s e
1 8 – 2 4 y e a r s 1 0 – 1 7 y e a r s
T o t a l D o n o t r e m e m b e r
M is s in g
4 4 2 4 6 1 9 0 3 ( 6 ) ( 5 )
4 9 .0 5 1 .0 1 0 0 .0
L e v e l o f e d u c a t io n
S e c o n d a r y ( S M P ) o r a b o v e B e lo w s e c o n d a r y
T o t a l M is s in g
7 8 4 1 2 3 9 0 7 ( 6 )
8 6 .4 1 3 .6 1 0 0 .0 T y p e o f
r e s id e n c e
U r b a n R u r a l T o t a
5 3 5 3 7 8 9 1 3
5 8 .6 4 1 .4 1 0 0 .0 In d o n e s ia n
z o n e o f r e s id e n c e *
W e s t e r n C e n t r a l E a s t e r n T o t a l
5 1 6 3 1 3 8 4 9 1 3
5 6 .5 3 4 .2 9 .2 1 0 0 .0 E c o n o m ic
s t a t u s *
U p p e r M id d le L o w e r T o t a l M is s in g
9 4 3 3 7 4 6 9 9 0 0 ( 1 3 )
1 0 .4 3 7 .4 5 2 .1 1 0 0 .0 R e c e iv in g
e d u c a t io n o n H IV / A ID S a t s c h o o l*
Y e s N o / d o n ’t k n o w
T o t a l M is s in g
6 4 8 2 5 7 9 0 4 ( 9 )
7 1 .6 2 8 .4 1 0 0 .0