Halaman: 195—213
GHÂNCARAN: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
http://ejournal.iainmadura.ac.id/ghancaran E-ISSN: 2715-9132 ; P-ISSN: 2714-8955
DOI 10.19105/ghancaran.vi.11751
Pengembangan Metode Project Based Learning
“Ruang Literasi” untuk Peningkatan Keterampilan Menulis Artikel Ilmiah Mahasiswa Melalui Model
Hybrid Learning
Ilmatus Sa’diyah*, Eristya Maya Safitri**, Safira Arta**, Putri Nur Fadilah Irawan**, Fitri Wulandari**, Anas Ahmadi***
*Prodi Linguistik Indonesia, UPN “Veteran” Jawa Timur
**Prodi Sistem Informasi, UPN “Veteran” Jawa Timur
***Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya Alamat surel: [email protected]
Abstract
Keywords:
Project based learning;
Development of learning Methods;
Improvement of writing skills;
Writing scientific articles, Hybrid learning,
The study of writing is a study that attracts the attention of researchers, especially in the field of language. . In this regard, this research aims to develop learning methods that can improve the quality and writing skills of students' scientific papers. The development method (R & D) which includes the stages: definition, design and development to test the effectiveness and quality of the PBL learning method "Literacy Space" was used in this research.
The implementation of the development stage is carried out through a hybrid learning model. The data in this research is in the form of quantitative and qualitative data originating from student grades and student responses. Based on the research results, the "Literacy Space" PBL method shows that the "Literacy Space" PBL method has very good quality because it can improve scientific article writing skills among students and effectively applied in Indonesian language classes. A hybrid learning model also supports the effectiveness of this learning method.
Abstrak:
Kata Kunci:
Project based learning;
Pengembangan metode Pembelajaran;
peningkatan keterampilan menulis; Menulis artikel ilmiah;
Hybrid learning
Studi mengenai menulis merupakan studi yang menarik perhatian peneliti, terutama bidang bahasa. Berkait dengan itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas dan keterampilan menulis tulisan ilmiah mahasiswa. Metode pengembangan (R & D) yang meliputi tahapan:
pendefinisian, perancangan, dan pengembangan untuk menguji keefektifan dan kualitas metode belajar PBL “Ruang Literasi”
digunakan dalam penelitian ini. Pelaksanaan tahap pengembangan dilakukan melalui model hybrid learning. Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif yang berasal dari nilai mahasiswa dan respons mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, metode PBL “Ruang Literasi” menunjukkan bahwa metode PBL
“Ruang Literasi” memiliki kualitas yang sangat baik karena dapat meningkatkan keterampilan menulis artikel ilmiah dan efektif diterapkan di kelas Bahasa Indonesia. Model hybrid learning juga mendukung keefektifan metode pembelajaran ini.
Terkirim: 7 November 2023; Revisi: 1 Desember 2023; Diterima: 19 Desember 2023
©Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tadris Bahasa Indonesia
196 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
PENDAHULUAN
Pembelajaran di tingkat perguruan tinggi di Indonesia saat ini sudah menerapkan kurikulum Kampus Merdeka. Dengan hal itu, diharapkan pembelajaran di perguruan tinggi bisa menjadi lebih otonom dan fleksibel sehingga seluruh mahasiswa bisa belajar sesuai kebutuhan dan berpusat kepada mahasiswa (Evi Hasim, 2020). Dosen pun tidak lagi menjadi pusat dalam pembelajaran karena mahasiswa sudah lebih aktif. Hasil belajar juga diharapkan semakin mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Kegiatan belajar yang efektif seharusnya mampu memberikan kesempatan belajar untuk mahasiswanya sehingga bisa memberikan pengalaman yang berharga (Joesyiana, 2018) dalam proses input ilmu pengetahuan. Mengacu pada pandangan Dale, pengalaman belajar mahasiswa ke dalam dua kategori besar, yaitu pembelajaran aktif dan pembelajaran pasif. Bentuk kegiatan belajar yang yang mampu memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa adalah 70% kegiatan belajar berbicara dan menulis serta 90% dari kegiatan belajar melakukan (M. Sari, 2014). Untuk itu, kompetensi akhir yang diharapkan adalah menganalisis, mencipta, dan mengevaluasi.
Dari ketiga kompetensi tersebut, peran dosen dalam kegiatan pembelajaran pun bergeser sebagai fasilitator untuk membantu mahasiswa dalam mengaitkan pengetahuan awal yang sudah diperolehnya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari serta membimbing mahasiswa ketika mengalami kesulitan belajar (Dian, 2012). Dengan demikian, diharapkan mahasiswa bisa mengalami peningkatan ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran keterampilan kebahasaan, salah satu dari empat keterampilan kebahasaan yang banyak mendapatkan perhatian peneliti adalah menulis. Sebagai keterampilan berbahasa, menulis merupakan keterampilan yang paling kompleks dan membutuhkan skill tinggi (A. Ahmadi, 2019; Anas Ahmadi, 2019, 2021). Kompleksitas dalam menulis dan juga faktor skill yang tinggi merupakan penyebab utama kesulitan mahasiswa dalam pembelajaran menulis (Barber, 2013;
Peat et al., 2013; Yuan, 2017), baik menulis akademik ataupun menulis populer. Untuk itu, terobosan model pembelajaran dalam menulis sangat urgen dilakukan agar mahasiswa dapat meningkatkan kompetensi keterampilan berbahasa.
Saat ini, penelitian mengenai pembelajaran menulis lebih banyak memfokuskan pada problem based-learning, misal saja tulisan Howard yang berkaitan dengan studi pembelajaran menulis longitudinal melalui tiga fase (Howard, 2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pedagogis pembelajaran yang kolaboratif, menarik, interaktif, dan memiliki umpan balik merupakan pembelajaran yang sangat urgen dalam konteks keterampilan menulis. Handayani & Muhammadi meneliti problem based- learning di tingkat sekolah dasar (Handayani & Muhammad, 2023). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa implementasi model problem based-learning berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang dalam konteks ini dikaitkan dengan pembelajaran tematik terpadu di tingkat sekolah dasar. Berkait dengan dua penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengembangan model pembelajaran problem based-learning di tingkat perguruan tinggi yang dkaitkan dengan ruang literasi.
Berkait dengan metode pembelajaran yang tren, satu di antara metode pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar sangat tinggi hingga 90%
adalah metode project based learning. Metode itu sesuai dengan tuntuntan kampus merdeka. Metode itu merupakan metode yang mengunggulkan proyek sebagai output kegiatan pembelajaran. Pada pelaksanaannya, metode itu lebih banyak melibatkan mahasiswa ke dalam sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk yang bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat (R. T. Sari & Angreni, 2018).
Secara definisi, metode pembelajaran project based learning adalah metode pembelajaran yang menitikberatkan pada kegiatan mahasiswa secara terstruktur dalam kelas sehingga dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengembangkan sebuah proyek sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman yang berharga (Antika &
Nawawi, 2017). Pengalaman itu tentu dapat menjadi pengalaman yang bermakna bagi mahasiswa setelah belajar.
Project based learning merupakan metode pembelajaran yang kompleks karena terkait dengan keberadaan pertanyaan dan masalah yang ada, kemudian berusaha memecahkan masalah itu dengan kegiatan yang bermakna, lalu memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk saling berkolaborasi dalam hal pengambilan keputusan, pencarian referensi, dan mempresentasikan produk hasil proyek secara nyata (Antika & Nawawi, 2017). Oleh karena itu, metode ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir ilmiah dan kritis dalam diri mahasiswa.
Sebagai satu di antara metode pembelajaran yang sudah banyak digunakan oleh praktisi pendidikan (guru dan dosen) di kelasnya, metode project based learning memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan metode pembelajaran lainnya (Umar, 2017). Keunggulan itu meliputi (a) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan atas hal yang tertangkap oleh pancaindera mahasiswa, (b) mahasiswa dapat merancang kegiatan belajarnya, (c) mahasiswa dapat bekerja untuk menunjukkan dan menghasilkan konstruksi dari informasi yang ada secara mandiri, (d) membagikan wawasan yang diperolehnya kepada rekan sebayanya sehingga dapat mencapai hasil belajar bersama-sama yang bermanfaat untuk proyek yang dikerjakan, dan (e) menunjukkan sisi intelektual dan sosial dalam diri mahasiswa untuk memecahkan masalah yang dikerjakan secara nyata.
Metode pembelajaran dapat dikatakan berhasil dan efektif digunakan di kelas berkaitan dengan seberapa banyak dosen memahami tahapan pembelajaran dengan metode project based learning yang digunakan. Keberhasilan itu diitunjang dengan kemampuan dosen mentransfer tahapan itu ke mahasiswa di kelasnya. Umumnya, dosen dapat menggunakan tahapan pembelajaran berikut, (a) praproyek; (b) fase 1:
mengidentifikasi masalah; (c) fase 2: membuat desain dan jadwal pelaksanaan proyek;
(d) fase 3: melaksanakan penelitian; (e) fase 4: menyususn draf/prototipe produk; (f) fase5: mengukur, menilai, dan memperbaiki proyek; (g) fase 6 ; finalisasi dan publikasi;
(h) pascaproyek (Umar, 2017).
Dalam pelaksanaannya, metode pembelajaran project based learning dapat dikombinasikan dengan model pembelajaran hybrid learning. Mahasiswa dapat belajar dengan dua kondisi, baik luring maupun daring. Secara umum, daring dapat dilakukan mahasiswa dengan dosen selama di kelas. Selain itu, secara khusus, kegiatan daring
198 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
juga dapat dilakukan mahasiswa dengan anggota timnya di luar kelas. Hal itu dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa secara maksimal. Mahasiswa tidak perlu kerepotan dalam manajemen waktu bertemu untuk berdiskusi dengan teman satu timnya.
Penerapan metode project based learning dalam perkuliahan dapat meningkatkan kemampuan berpikir mahasiswa yang kritis dan kemandirian dalam belajar (Rais, 2010). Satu di antara aktivitas belajar yang membutuhkan dua kemampuan tersebut adalah menulis artikel ilmiah dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Di tingkat perguruan tinggi, publikasi artikel ilmiah menjadi barometer kualitas pendidikan sehingga mahasiswa pun dituntut bisa menghasilkan artikel ilmiah yang bisa menambah khasanah publikasi ilmiah. Sayangnya, peningkatan kapasitas dan kompetensi menulis artikel ilmiah lebih banyak diperuntukkan kepada dosen, sedangkan untuk mahasiswa belum optimal (Darmalaksana & Busro., 2021).
Mahasiswa hanya mendapatkan bekal menulis artikel ilmiah melalui mata kuliah Bahasa Indonesia dan metodologi penelitian. Pasalnya, mata kuliah Metodologi Penelitian cenderung diletakkan di semester akhir sebelum skripsi. Hal itu dirasa cukup terlambat dalam memberikan bekal dan pembiasaan menulis artikel ilmiah. Padahal, mahasiswa mendapatkan prasyarat lulus dari UPN “Veteran” Jawa Timur berupa publikasi artikel ilmiah di jurnal. Jika program studi tepat dalam menyusun rencana kurikulum, mata kuliah Bahasa Indonesia akan diletakkan di awal semester sehingga bisa memberikan bekal yang optimal. Sayangnya, menulis artikel ilmiah bagi mahasiswa bukanlah aktivitas yang mudah dikuasai (Hidayat et al., 2019). Mahasiswa membutuhkan bekal lebih komperensif di kelas untuk terampil menulis artikel ilmiah.
Oleh karena itu, mata kuliah Bahasa Indonesia menjadi kunci bekal pertama bagi mahasiswa dalam belajar menulis artikel ilmiah dan belajar memublikasikannya ke prosiding, book chapter, atau jurnal. Satu di antara metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar dalam penulisan artikel ilmiah adalah project based learning. Dalam hal ini, proyek yang dikembangkan bernama “Ruang Literasi”. Selama proyek, mahasiswa akan dibimbing dan difasilitasi untuk belajar menulis dan memublikasi artikel ilmiah. Mahasiswa akan secara langsung mendapatkan pengalaman belajar menulis dan berbicara ilmiah. Hasil akhirnya adalah berupa karya mahasiswa yang diterbitkan, yaitu kumpulan artikel ilmiah dalam book chapter.
Metode pembelajaran project based learning Ruang Literasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas publikasi artikel ilmiah pada tingkat mahasiswa di UPN “Veteran”
Jawa Timur. Selain itu, pembiasaan menulis artikel ilmiah pun akan terbangun sehingga menjadi kebiasaan yang positif bagi mahasiswa. Mahasiswa bisa menulis artikel ilmiah sesuai dengan struktur yang tepat dan tanpa melakukan plagiarisme seperti yang biasanya dilakukan.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research & development).
Hal yang dikembangkan adalah metode pembelajaran project based learning Ruang
Literasi. Model pengembangan yang digunakan adalah 3-P yang mencakup pendefinisian, perancangan, dan pengembangan oleh Thiagarajan karena sinergis dengan tujuan penelitian (Trianto, 2007). Tahap pengembangan dilaksanakan melalui model hybrid learning. Penelitian ini dilaksanakan di Gedung Kuliah Bersama MKDU Bahasa Indonesia UPN “Veteran” Jawa Timur dan secara daring melalui Zoom Meeting.
Hal itu karena model pembelajaran yang dipilih adalah hybrid learning. Data dalam penelitian ini adalah hasil belajar mahasiswa. Sementara itu, sumber data penelitian ini berasal dari kegiatan belajar mahasiswa peserta kuliah mata kuliah dasar umum Bahasa Indonesia di sepuluh kelas. Data dikumpulkan dengan beragam metode pengumpulan data. Pertama, data dikumpulkan dengan metode kuesioner dengan pengukuran skala likert. Skala likert bisa digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi mahasiswa tentang fenomena sosial yang diteliti (Nasution, 2017). Kedua, metode wawancara untuk mengonfirmasi jawaban mahasiswa dalam kuesioner. Ketiga, metode dokumentasi yang berasal dari artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa.
Artikel itu juga menjadi bahan untuk memberikan penilaian terhadap kualitas artikel yang ditulis. Instrumen hasil belajar mahasiswa menggunakan taksonomi Bloom yang mencakup tiga ranah: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik (Nasution, 2017). Seluruh metode itu digunakan untuk menyimpulkan kualitas dan keefektifan metode pembelajaran “Ruang Literasi” di kelas bahasa Indonesia.
Proses pengembangan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Dari kuesioner yang dibagikan ke mahasiswa, data dianalisis dengan statistik sederhana, yaitu mean. Sementara itu, data nilai artikel mahasiswa dianalisis secara deskripsi kuantitatif yang disimpulkan dengan rumus sebagai berikut.
X = ∑"
#
(Nurgiyantoro, 2011) Keterangan:
X = Rata-rata nilai mahasiswa
∑x = Jumlah nilai seluruh mahasiswa N = Jumlah mahasiswa
Nilai rata-rata mahasiswa dan nilai mahasiswa dibandingkan dengan dengan kriteria atau patokan yang menunjukkan aspek lulus atau tidak lulus (Nurgiyantoro, 2011). Patoka ini perlu karena dapat menunjukkan kualitas hasil belajar mahasiswa sehingga bisa menjawab aspek keefektifan metode belajar mahasiswa. Berikut ini adalah patokan yang digunakan.
Tabel 2.1 Kriteria Pencapaian Mahasiswa Interval Persentase
Tingkat Penguasaan
Nilai Ubahan Skala Sepuluh
Keterangan
96-100 10 Sempurna
86-94 9 Baik Sekali
76-85 8 Baik
66-75 7 Cukup
56-65 6 Sedang
200 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
46-55 5 Hampir Sedang
36-45 4 Kurang
26-35 3 Kurang Sekali
16-25 2 Buruk
1-15 1 Buruk Sekali
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah melakukan penelitian pengembangan, berikut ini adalah uraian hasil dan pembahasan dari penelitian pengembangan yang sudah dilakukan. Hasil dipetakan berdasarkan tahapan R&D Thiagarajan yang mencakup pendefinisian, perancangan, dan pengembangan. Hasil itu digunakan sebagai pijakan untuk menguraikan pembahasan pada aspek kualitas dan keefektifan metode pembelajaran berbasis project based learning “Ruang Literasi” melalui model hybrid learning.
Ada lima hal dalam subbab hasil yang diuraikan, yaitu hasil data pendefinisian, hasil data perancangan, hasil data pengembangan, hasil respons mahasiswa, dan hasil nilai mahasiswa. Berikut ini adalah uraiannya.
Hasil Data Pendefinisian
Pada tahap ini, dilakukan analisis terhadap kebutuhan mahasiswa dalam penulisan artikel ilmiah sebelum proyek dimulai. Hasil dari analisis kebutuhan ini digunakan untuk merancang dan mengembangkan metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi”. Mahasiswa diberikan sejumlah pertanyaan secara terbuka dan tertutup melalui google form. Dari 338 mahasiswa, hanya 283 mahasiswa yang memberikan respons. Meskipun demikian, data sudah mewakili seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan bahasa Indonesia.
Gambar 3.1 Persepsi Mahasiswa terhadap Menulis Artikel Ilmiah
Pada pertanyaan apakah menulis artikel ilmiah sulit dilakukan?, Ada 19%
mahasiswa yang menyatakan bahwa menulis artikel ilmiah sulit dilakukan dan 79%
mahasiswa yang menyatakan bahwa menulis artikel ilmiah cukup sulit dilakukan (lihat gambar 4.1). Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam menulis artikel ilmiah. Oleh karena itu, metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” perlu dirancang dan dikembangkan dengan baik.
19%
79%
0%2% Sulit
Cukup Sulit Sangat Sulit Mudah
Gambar 3.2 Bab Artikel Ilmiah yang Sulit Ditulis Mahasiswa
Sementara itu, pada pertanyaan berikutnya, bab berapa yang sangat sulit ditulis?, mayoritas mahasiswa (41%) mengaku jika bab 3 menjadi bab tersulit yang ditulis.
Kemudian, bab 5 menjadi bab yang mudah ditulis bagi mayoritas mahasiswa perkuliahan bahasa Indonesia. Dari sini, proyek “Ruang Literasi” yang dikembangkan harus menitikberatkan pada penulisan bab 3, baru kemudian bab 2 dan bab 4.
Pada aspek kesulitan dalam menulis artikel ilmiah ini, mahasiswa menjabarkan pada pertanyaan terbuka yang diajukan. Dari 283 respons mahasiswa, secara ringkas kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam menulis artikel mahasiswa mencakup beberapa aspek. Pertama, mahasiswa kesulitan mencari referensi yang tepat untuk artikel ilmiah, terutama sumber referensi yang bagus, seperti google scholar dan schimago. Pasalnya, mahasiswa telah mengetahui bahwa dalam menulis artikel di jurnal memerlukan kehati-hatian dalam menyertakan sumber referensi dalam daftar pustaka. Kedua, mahasiswa bingung memulai tulisan di awal kalimat atau awal paragraf serta merangkai kalimat pada kalimat berikutnya. Kesulitan pada aspek ini diikuti dengan kesulitan dalam melakukan Teknik parafrase kalimat. Ketiga, khawatir artikel yang ditulis memiliki tingkat plagiarisme yang tinggi. Keempat, kesulitan dalam pemilihan kata baku dan penulisan tanda baca. Kelima, mahasiswa kesulitan memilih metodologi penelitian yang tepat untuk penelitian atau artikel ilmiah yang ditulis. Hal itu juga berkaitan dengan cara mengumpulkan data penelitian, seperti survei lapangan dan analisis data.
Untuk itu, mahasiswa pun diminta menuliskan tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan menulis artikel ilmiah. Dalam hal ini, ada 238 harapan. Namun, beberapa memiliki kesamaan sehingga perlu diringkas. Pertama, mahasiswa membutuhkan informasi terkait literatur/referensi dalam menulis artikel ilmiah. Kedua, pelatihan dalam menggunakan aplikasi Mendeley sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Aplikasi mendeley memang sangat diperlukan dalam menulis sitasi dan daftar pustaka dengan mudah dan tersistem. Ketiga, mahasiswa juga membutuhkan materi secara lengkap beserta contoh artikel ilmiah yang baik. Keempat, aspek ini menjadi aspek yang paling banyak dibutuhkan oleh mahasiswa, yaitu teknis menulis. Dalam hal ini, mahasiswa membutuhkan untuk dilatih menemukan ide menentukan tema, judul, menulis kalimat, merangkai kalimat, menggunakan ejaan yang benar, dan melakukan parafrase dengan baik sehingga plagiarisme artikel yang ditulis tidak besar.
14%
21%
41%
23%1% Bab 1
Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5
202 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
Hasil Data Perancangan
Berdasarkan aspek kesulitan yang dihadapi mahasiswa dan aspek yang dibutuhkan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah yang telah dibahas pada subbab hasil pendefinisian, dapat disusun sebuah metode pembelajaran berbasis proyek (project based learning) “Ruang Literasi” untuk memberi bekal penulisan artikel ilmiah yang mumpuni kepada mahasiswa.
Secara spesifik, metode ini disesuaikan dengan capaian pembelajaran dalam mata kuliah bahasa Indonesia, yaitu mahasiswa mampu melakukan presentasi ilmiah dan mahasiswa mampu menulis ilmiah. Dari kedua capaian itu, metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” ini dilaksanakan dalam waktu satu semester. Artikel ilmiah sebagai produk akhir dari proyek ini digunakan juga sebagai bahan penilaian ujian akhir semester (UAS).
Ada pun tahapan dari metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” ini mencakup beberapa tahap. Pertama, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang beranggotakan minimal tiga orang. Kedua, mahasiswa diberi waktu untuk berdiskusi dengan teman kelompoknya dalam penentuan judul artikel ilmiah yang akan ditulis dengan tema besarnya, yaitu “Bahasa Indonesia dalam Ruang Lingkup Bidang Ilmu Lainnya”. Ketiga, mahasiswa mendapatkan ruang literasi materi tentang
“Mendeley, Pengutipan dan Daftar Pustaka”. Materi itu diberikan di awal kegiatan karena sebagai pengiring bagi mahasiswa menulis artikel ilmiah selama materi-materi berikutnya. Jadi, mahasiswa menulis sambil mendapatkan ruang literasi materi yang lainnya.
Gambar 3.3 Timeline Metode Pembelajaran “Ruang Literasi”
Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan ruang literasi materi tentang “Abstrak, Bab 1, dan Bab 2”. Abstrak disertakan juga karena mayoritas mahasiswa belum mampu menulis abstrak dengan susunan yang tepat. Keempat, mahasiswa mendapatkan ruang literasi materi tentang “Bab 3, 4, dan 5”. Dalam hal ini, mahasiswa diberi materi tentang struktur penulisan yang tepat. Kelima, mahasiswa melakukan presentasi secara random dari artikel draf kasar yang sudah ditulis. Untuk mahasiswa yang presentasi, dosen melakukan penentuan berdasarkan artikel ilmiah yang paling banyak kesalahannya sehingga mahasiswa dapat melakukan perbaikan dengan tepat. Keenam, mahasiswa
mendapatkan hasil cek Turnitin artikel ilmiahnya. Ketujuh, mahasiswa melakukan perbaikan dari artikel ilmiah draf kasar yang ditulis. Kedelapan, mahasiswa melaksanakan seminar nasional mahasiswa “Bahasa Indonesia dalam Ruang Lingkup Bidang Ilmu Lainnya” secara serempak.
Untuk tahap ketujuh tersebut, mahasiswa melaksanakan seminar secara hybrid, yaitu melalui zoom meeting dan luring di ruang seminar lantai 3 Gedung Giri Loka Fakultas Ilmu Komputer. Kegiatan presentasi artikel ilmiah yang ditulis mahasiswa dilakukan secara formal dalam suasana seminar nasional sehingga mahasiswa bisa mendapatkan wawasan lebih kompresensif.
Hasil Data Pengembangan
Setelah dilakukan perancangan, kegiatan berikutnya yang dilakukan adalah pelaksanaan metode pembelajaran di kelas selama satu semester. Mahasiswa telah dibagi ke dalam kelompok kecil yang beranggotakan 3-4 orang dengan menyesuaikan jumlah mahasiswa di kelas. Mahasiswa diberi pendampingan selama menulis artikel ilmiah di “Ruang Literasi”. Semua mahasiswa pun mengikuti setiap tahap dengan baik.
Berikut ini adalah uraian tiap tahap pelaksanaan kegiatan pengembangan metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi”.
1. Mahasiswa mendapatkan informasi tentang timeline pelaksanaan proyek. Dalam kegiatan ini, pelaksanaan berlangsung secara daring. Mahasiswa pun bisa mengikuti tahapan pembelajaran dengan baik ke depannya.
Gambar 3.4 Kegiatan 1
2. Mahasiswa mendapatkan materi “Ruang Literasi’ tentang penulisan abstrak, bab 1, bab 2, bab 3, bab 4, dan penulisan sitasi dan daftar pustaka dengan aplikasi Mendeley. Dari seluruh penyampaian materi, materi penggunaan aplikasi Mendeley menjadi yang paling kompleks karena ada mahasiswa yang laptopnya tidak bisa diinstal Mendeley. Oleh karena itu, mahasiswa juga dibekali cara mengutip dan membuat daftar pustaka dengan menu references yang ada di Microsoft Word.
Kegiatan pada tahap ini berlangsung secara daring dan luring sesuai tipe kelas mahasiswa.
204 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
Gambar 3.5 Kegiatan 2—5
3. Mahasiswa melakukan presentasi secara random dari artikel draf kasar yang sudah ditulis. Mahasiswa sudah harus siap untuk presentasi. Artinya, artikel ilmiah yang sudah ditulis harus berada dalam kisaran 80% sebelum revisi. Kelompok yang presentasi ditunjuk langsung oleh dosen saat hari H presentasi. Setelahnya, mahasiswa melakukan perbaikan artikel ilmiah berdasarkan umpan balik dari dosen, teman-teman mahasiswa, dan Turnitin.
Gambar 3.6 Kegiatan 6
4. Mahasiswa melaksanakan seminar nasional mahasiswa “Bahasa Indonesia dalam Ruang Lingkup Bidang Ilmu Lainnya” secara serempak secara hybrid, yaitu melalui zoom meeting dan luring di ruang seminar lantai 3 Gedung Giri Loka Fakultas Ilmu Komputer. Ada 15 kelompok yang presentasi secara langsung di kampus.
Kelompok ini bukan dipilih melainkan kemauan mahasiswa secara mandiri. Dalam kegiatan ini, tim panitia dibentuk untuk bantuan teknis selama pelaksanaan. Panitia berasal dari mahasiswa yang mengajukan diri sebagai panitia.
Gambar 3.7 Kegiatan 7
Dari pelaksanaan metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” yang sudah dilaksanakan, semua tahap metode terlaksana dengan baik. Ada pun kendala yang muncul selama pelaksanaan adalah penggunaan aplikasi Mendeley yang tidak bisa cocok untuk semua jenis laptop. Kendala kedua adalah keterbatasan waktu dalam pelaksanaan presentasi secara luring di ruang seminar. Pasalnya, ruang seminar hanya bisa dipinjam dalam satu hari serta situasi covid yang tidak memungkinkan untuk mengumpulkan seluruh mahasiswa dalam satu ruangan meskipun ruangannya besar sekalipun.
Hasil Respons Mahasiswa
Setelah mahasiswa melaksanakan semua tahap metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi”, mahasiswa diminta untuk memberikan respons terhadap pelaksanaan metode pembelajaran melalui google form. Ada pertanyaan terbuka dan tertutup yang diberikan kepada mahasiswa. Dari 338 mahasiswa, ada 290 respons yang masuk. Jumlah itu sudah memenuhi dan mewakili respons seluruh mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini.
Pada pertanyaan tertutup Apakah proyek UAS ini dapat meningkatkan keterampilan menulis artikel ilmiahmu?, ada 39% mahasiswa yang menyatakan bahwa proyek UAS ini sangat meningkatkan keterampilan menulis artikel ilmiah mereka.
Sisanya menyatakan meningkat dan cukup meningkat saja (lihat gambar 3.8).
206 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
Gambar 3.8 Peningkatan Keterampilan Menulis
Sementara itu, pada pernyataan Saya mendapatkan pengalaman belajar dari proyek yang diberikan dosen, mahasiswa memberikan pengakuan yang maksimal. Ada 95% mahasiswa dari 290 mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka mendapatkan pengalaman belajar yang berharga dari proyek “Ruang Literasi” (lihat gambar 3.9).
Gambar 3.9 Pengalaman Belajar dari Proyek “Ruang Literasi”
Hasil dari pertanyaan tertutup tersebut dikombinasikan dengan respons mahasiswa secara terbuka melalui pertanyaan kesan setelah proyek “Ruang Literasi’ ini berlangsung. Mahasiswa memberikan kesan bahwa proyek yang dilaksanakan berbeda seperti pemberian tugas pada UAS mata kuliah lainnya sehingga terasa seru, menyenangkan, dan menambah pengalaman. Kemudian, pelaksanaan proyek yang tertata dengan baik membuat mahasiswa mendapatkan banyak wawasan dalam menulis artikel ilmiah. Bahkan, mahasiswa tidak hanya mendapatkan peningkatan keterampilan menulis artikel ilmiah, tetapi juga peningkatan keterampilan berbicara dalam forum ilmiah seperti seminar (public speaking). Tabel 3.1 menunjukkan kesan mahasiswa secara lengkap.
Tabel 3.1 Kesan Mahasiswa Setelah Proyek “Ruang Literasi”
Kesan Mahasiswa
Pengalaman baru dalam menulis sebuah artikel dan cukup kaget setelah
39%
45%
16%0%0% sangat meningkat meningkat cukup meningkat kurang meningkat tidak meningkat
95%
5%0%
ya cukup tidak
masuk ruangan ternyata serius banget seminarnya.
Dosen yang membimbing proyek ini sangat membantu dan cara dosen menjawab ramah dalam menanggapi masalah dari kelompok kami
Proyek ini sangat bermanfaat dan membantu untuk meingkatkan kemampuan saya dalam menulis walaupun saya masih semester awal, tetapi menjadi memiliki banyak wawasan mengenai kepenulisan artikel karena ada kelas pengantar tiap babnya. Dan program ini menjadikan matkul ini menjadi menarik karena tidak hanya monoton mengerjakan tugas di kelas saja :D
Kesannya, saya memiliki banyak pengetahuan dari proyek UAS ini. Mulai dari tata aturan dalam penulisan artikel hingga penggunaan tata bahasa yang benar.
setelah proyek UAS artikel ini dilaksanakan saya mendapatkan banyak pengetahuan dan pelajaran baru tentang bagaimana cara menyusun artikel ilmiah yang baik dan benar, mendapat bimbingan tentang cara penulisan artikel yang baik dengan ibu dosen yang baik pula serta sabar dengan mahasiswanya
Kesan saya cukup baik. Karena setelah proyek ini dilaksanakan, pengetahuan dan wawasan saya dalam lingkup penulisan artikel ilmiah cukup bertambah.
Sehingga mempermudah dalam pembuatan tulisan ilmiah yang utama yaitu skripsi.
Kesan saya yaitu saya dapat menjadi lebih tau mengenai pembuatan artikel ilmiah yang benar dan saya menjadi dapat membuat artikel ilmiah yang sesuai dengan ketentuan terutama dalam Bahasa Indonesia
Menarik dan mengingatkan kembali bagaimana tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukan untuk membuat artikel, ditambah dengan adanya presentasi artikel tersebut akan melatih publik speaking bagi saya.
Kesan yang saya dapatkan adalah menjadi lebih bisa di dalam menulis suatu artikel ilmiah yang baik dan benar. Yang paling saya rasakan juga yaitu saya lebih dapat mengembangkan kemampuan saya di dalam memparafrase kata ataupun kalimat, karena terkadang biasanya saya hanya meng-copy paste dari artikel lain lalu hanya mengubah ke sebagian kata saja.
pertama saya ucapkan terima kasih ke pada ibu yang membimbing saya untuk pembuatan karya ilmia, Kesan yang saya dapatkan selama membuat karya ilmia tentu sangat berharga kerena saya belajar banyak tentang tata letak pembuatan karya ilmia ini untuk belajar buat skripsi dan tugas jurusan
saya merasa bahwa UAS dalam bentuk proyek atau tugas besar lebih efektif dibandingkan hanya ujian tulis biasa. Karena kami memahami apa yang kami pelajari dan kami lakukan sehingga kami merasa ini lebih efektif
Selain kesan yang diberikan, mahasiswa juga menjelaskan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan proyek. Kendala itu meliputi diskusi kelompok yang tidak bisa berjalan maksimal karena jarak antaranggota kelompok yang tidak bisa bersama dalam satu tempat, Oleh karena itu diskusi kelompok sering dilakukan melalui zoom meeting.
Kendala lainnya mencakup cara melakukan parafrasa terhadap kutipan yang diambil
208 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
kendala teknis, sedangkan kendala kedua termasuk ke dalam kendala dalam penulisan artikel ilmiah.
Berdasarkan kendala itu, mahasiswa pun memberikan saran yang terkait. Untuk kendala pertama, mahasiswa meminta untuk sistem pembagian kelompok dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa, bukan oleh dosen. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi anggota kelompok yang susah dihubungi. Terkait kendala kedua, mahasiswa memberikan saran agar bagian parafrasa diberikan secara detail dalam perkuliahan. Bahkan, mahasiswa meminta agar perguruan tinggi menyediakan sarana Turnitin gratis. Saran yang lain terkait dengan apresiasi yang diberikan kepada mahasiswa setelah penulisan artikel ilmiah selesai. Dalam pelaksanaan proyek, mahasiswa yang mendapatkan hadiah apresiasi hanyalah mahasiswa yang melakukan presentasi terbaik saat seminar secara luring. Tidak ada hadiah apresiasi untuk mahasiswa yang presentasi melalui daring dan artikel ilmiah terbaik dalam penulisan.
Hal itu menjadi perhatian bagi peneliti ke depannya.
Hasil Nilai Mahasiswa
Seluruh artikel ilmiah yang telah masuk diberikan penilaian berdasarkan beberapa aspek, yaitu aspek penggunaan bahasa, struktur artikel ilmiah, tingkat plagiarisme, kebaruan ide, kebermanfaatan ide, dan presentasi yang sudah dilakukan. Dari seluruh aspek itu, mahasiswa sangat unggul pada aspek presentasi yang dilakukan dan struktur artikel ilmiah. Untuk aspek tingkat plagiarisme, jika mahasiswa sudah mencapai syarat maksimal 20% yang menjadi ketentuan, mahasiswa sudah bisa mendapatkan nilai maksimal A. Penilaian dilakukan oleh tiga orang dosen yang terlibat dalam penelitian ini. Kemudian diambil nilai rata-rata tiap mahasiswa.
Tabel 3.2 Data Hasil Nilai Mahasiswa pada Penulisan Artikel Ilmiah
No. Nilai Kriteria Frekuensi Persentase
1. 80-100 A 196 59.9
2. 76-80 A- 70 21.4
3. 72-76 B+ 28 8.6
4. 68-72 B 22 6.7
5. 64-68 B- 10 3.1
6. 58-64 C+ 0 0
7. 54-58 C 1 0.3
Jumlah 327 100
Berdasarkan tabel 3.2, data menunjukkan bahwa kecenderungan nilai mahasiswa lebih banyak pada nilai dengan rentang 80-100. Ada sebanyak 59.9% mahasiswa yang mendapatkan nilai dengan kriteria A. Hal itu merupakan hal baik dalam penelitian ini karena menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi”
yang telah dilaksanakan telah berhasil dengan baik. Dalam data, ada 11 mahasiswa yang ternyata telah mengundurkan diri dari UPN “Veteran” Jawa Timur. Oleh karena itu, data mahasiswa yang awalnya berjumlah 338, saat diberikan penilaian hanya berjumlah 327 mahasiswa.
Namun, ada satu mahasiswa yang mendapatkan nilai dengan kategori C. Hal itu disebabkan oleh mahasiswa yang tidak hadir saat presentasi secara luring di kampus
dan tidak meminta presentasi pengganti secara daring di hari lainnya. Oleh karena itu, nilainya berbeda dari nilai anggota kelompok yang lainnya. Pasalnya, nilai mahasiswa dalam satu kelompok diberikan sama berdasarkan hasil kerja kelompok yang sudah dilakukan.
X = ∑"#
X = $%&'&.'
'$) = 79.9
Nilai dalam tabel 3.2 dihitung dengan menggunakan rumus rata-rata oleh (Nurgiyantoro, 2011). Dari nilai keseluruhan dan jumlah mahasiswa yang mendapatkan nilai akhir semester, didapatkan nilai rata-rata, yaitu 79.9. Jika dibandingkan dengan tabel kriteria Nurgiyantoro, dapat disimpulkan bahwa rata-rata tersebut berkategori baik.
Oleh karena itu, metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” efektif digunakan dalam kelas bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
Kualitas Metode Pembelajaran Project Based Learning “Ruang Literasi”
Melalui Model Hybrid Learning
Pada dasarnya, metode pembelajaran berbasis proyek (project based learning) atau yang umum dikenal dengan singkatan metode PBL pada aspek penulisan artikel ilmiah telah banyak dilakukan oleh dosen di perguruan tinggi lainnya. Satu di antaranya adalah pemberian tugas pengganti ujian akhir semester (UAS) dan ujian tengah semester (UTS) dengan menulis makalah atau artikel ilmiah. Namun, sayangnya, dalam pelaksanaan pemberian tugas pengganti itu tidak diikuti dengan bimbingan secara tersistem sehingga mahasiswa tidak mendapatkan peningkatan keterampilan menulis artikel ilmiah.
Hal tersebutlah yang mendasari pengembangan metode pembelajaran berbasis proyek (project based learning) Ruang Literasi di mata kuliah Bahasa Indonesia dengan tahap metode (1) mahasiswa dibagi ke dalam kelompok untuk berdiskusi dan menentukan ide artikel ilmiah berdasarkan topik, (2) mahasiswa mendapatkan literasi tentang penulisan sitasi dan daftar pustaka dengan aplikasi mendeley, (3) mahasiswa mendapatkan literasi tentang penulisan abstrak, bab 1, bab 2, bab 3, dan bab 4, (4) mahasiswa melakukan presentasi dari draf kasar artikel ilmiah, (5) mahasiswa melakukan uji plagiarism dengan Turnitin, (6) mahasiswa melakukan perbaikan terhadap artikel ilmiah, dan (7) mahasiswa melakukan presentasi dari artikel ilmiah dalam seminar nasional mahasiswa. Seluruh tahap itu telah diuji coba di kelas bahasa Indonesia dengan 327 mahasiswa. Dari uji coba tersebut, metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” memiliki kualitas metode yang baik. Hal itu didasarkan pada dua aspek, yaitu respons mahasiswa setelah perkuliahan dan hasil belajar mahasiswa dengan kategori baik pada subbab sebelumnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek yang berkualitas baik dapat memberikan manfaat bagi peningkatan hasil belajar dan keterampilan menulis mahasiswa. Hal itu senada dengan temuan peneliti lain bahwa
210 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
pembelajaran menulis dengan metode proyek sangat menunjang perkuliahan (Wismanto, 2022).
Meskipun demikian, metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi”
memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu disiasati oleh dosen. Pada aspek kelebihan, metode ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan penelitian secara sederhana, seperti menganalisis kesalahan bahasa dalam tulisan, melakukan wawancara, mengambil data kuesioner, dan melakukan kajian pustaka.
Selain itu, mahasiswa memiliki pengalaman menulis artikel ilmiah dengan proses yang sesungguhnya sehingga meminimalisasi kebiasaan mahasiswa untuk copy paste dari internet. Terakhir, kelebihan yang sangat penting adalah mahasiswa mampu menyampaikan hasil penelitiannya di forum seminar.
Sementara itu, kekurangan dari metode “Ruang Literasi” ini terletak pada kesediaan dosen dalam membimbing mahasiswa dalam jumlah besar. Pasalnya, proyek penulisan artikel ilmiah membutuhkan waktu, tenaga, pemikiran, dan dana (Cahyani, 2010). Dana dibutuhkan untuk pelaksanaan seminar nasional di akhir pertemuan. Jika tidak ada dana penelitian, tentu dosen perlu mengeluarkan dana dari uang pribadi. Kedua, tidak semua mahasiswa antusias dalam pelaksanaan proyek ini.
Oleh karena itu, membagi mahasiswa dalam kelompok kecil dapat dilakukan untuk menyiasatinya.
Efektivitas Metode Pembelajaran Project Based Learning “Ruang Literasi”
Melalui Model Hybrid Learning
Ada beberapa hal yang menjadi indikasi bahwa sebuah metode pembelajaran disebut efektif meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Pertama, pembelajaran yang efektif harus mampu memotivasi mahasiswa untuk belajar dan berlatih (Farikhah et al., 1995). Hal itu pun menjadi ciri khas dalam metode pembelajaran berbasis proyek
“Ruang Literasi”. Dalam pelaksanaannya, metode ini menuntut mahasiswa untuk belajar dan berlatih secara langsung menulis artikel ilmiah dengan motivasi yang terus dipacu oleh dosen tiap pertemuan.
Kedua, efektivitas metode ini dilihat dari produk yang dihasilkan di akhir perkuliahan (Supriyadi, 2015). Dari pelaksanaan metode pembelajaran ini, dihasilkan 118 artikel ilmiah yang ditulis oleh 327 mahasiswa. Seluruhnya dipetakan dalam tiga kategori artikel ilmiah, yaitu kategori kualitas baik, kualitas cukup, dan kualitas kurang.
Ketiganya akan diolah dengan cara yang berbeda. Artikel dengan kualitas baik akan dikirim ke jurnal, artikel dengan kualitas cukup akan dikirim ke seminar nasional berbayar dan tidak berbayar, dan artikel dengan kualitas kurang akan dibukukan menjadi satu dalam sebuah book chapter berupa prosiding. Artikel ilmiah itu menunjukkan bahwa metode ini efektif diterapkan dalam peningkatan keterampilan menulis artikel ilmiah di kalangan mahasiswa.
Rata-rata nilai mahasiswa sebesar 79.9 menunjukkan bahwa metode ini efektif digunakan. Apalagi, sebesar 59.9% mahasiswa mendapatkan nilai A untuk artikel ilmiah yang ditulis. Persentase itu sudah melebihi setengah dari mahasiswa yang mengikuti perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga merespons metode ini dengan positif. Hal itu menunjukkan bahwa mahasiswa termotivasi, antusias, dan bersemangat mengikuti
proyek selama setengah semester. Dalam hal ini, peningkatan keterampilan menulis artikel ilmiah ini menjadi penting bagi mahasiswa untuk menunjang perkuliahan pada jenjang berikutnya (Supriyadi, 2015).
Secara spesifik, respons mahasiswa terhadap keefektifan metode ini mencakup unsur-unsur berikut. Pertama, mahasiswa mendapatkan pengalaman baru dalam menulis artikel ilmiah. Kedua, mahasiswa dapat saling bekerja sama dengan mahasiswa dalam satu kelompok, bahkan bisa saling memberikan saran ketika masa revisi. Ketiga, mahasiswa merasa bahwa proyek artikel ilmiah ini berbeda dengan penugasan penulisan artikel ilmiah pada umumnya. Keempat, mahasiswa merasa tertantang dalam melakukan presentasi artikel ilmiah dalam forum seminar nasional di ruang seminar. Kelima, mahasiswa mengetahui teknik parafrase yang baik sehingga bisa meminimalisasi plagiarisme.
Dengan demikian, pembelajaran menulis artikel ilmiah dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek “Ruang Literasi” secara hybrid lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis artikel ilmiah mahasiswa. Hal itu disebabkan oleh kegiatan belajar yang berlangsung lebih menarik, tidak membosankan, lebih bermakna, lebih komprehensif, lebih aktif, dan memudahkan mahasiswa untuk mengeksplor kreativitas. Temuan ini senada dengan temuan peneliti sebelumnya bahwa metode belajar proyek cenderung efektif diterapkan karena menarik dan meningkatkan motivasi belajar mahasiswa bahkan mahasiswa dapat mengembangkan materi pembelajaran secara mandiri (Syahruddin & Pongpalilu, 2014).
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek (project based learning) “Ruang Literasi” melalui model hybrid learning efektif dan berkualitas baik untuk diterapkan dalam meningkatkan keterampilan menulis artikel ilmiah mahasiswa. Pengembangan metode itu sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan berkualitas untuk diterapkan.
Metode pembelajaran ini sejatinya perlu dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu diseminasi di kelas dan perguruan tinggi lainnya. Oleh karena itu, tahapan dalam metode ini bisa diadaptasi secara bebas oleh pembaca yang berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi yang sama atau pun perguruan tinggi lainnya. Bahkan, metode ini dapat dikembangkan pula sebagai bentuk penelitian pengembangan berkelanjutan oleh peneliti lain.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Jawa Timur karena telah memberikan dana penelitian sehingga penelitian pengembangan metode pembelajaran ini bisa dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN
212 Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Special Edition Lalongét IV
writing classes using behavior modificationitle. International Journal of Learning, Teaching and Educational Research, 18(12), 101–115.
Ahmadi, Anas. (2019). Psychowriting: Menulis Perspektif Psikologi. Pustaka Pelajar.
Ahmadi, Anas. (2021). Teaching creative (Literary) writing: Indigenous psychological perspective. Kıbrıslı Eğitim Bilimleri Dergisi, 16(4), 1422–1433.
Antika, R. N., & Nawawi, S. (2017). The Effect of Project Based Learning Model in Seminar Course to Student’s Creative Thinking Skills. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia, 3(1), 72. https://doi.org/10.22219/jpbi.v3i1.3905
Barber, A. W. (2013). ‘It is Not Easy What to Say of our Condition, Much Less to Write It’: The Continued Importance of Scribal News in the Early 18th Century.
Parliamentary History, 32(2), 293–316.
Cahyani, I. (2010). Peningkatan Kemampuan Menulis Makalah Melalui Model Pembelajaran Berbasis Penelitian pada Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia.
Sosiohumanika, 3(229), 175–192.
Darmalaksana, W., & Busro., B. (2021). Akselerasi Publikasi Ilmiah Mahasiswa: Studi Kasus WPAJ HMJ IAT UIN Sunan Gunung Djati Bandung. IJoIS: Indonesian Journal of Islamic Studies, 2(2), 139–157.
Dian, R. (2012). Pergeseran Paradigma Pembelajaran pada Pendidikan Tinggi.
Evi Hasim. (2020). Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Perguruan Tinggi Di Masa Pandemi Covid-19. Prosiding Webinar Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo “Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Ilmiah Menuju Anak Merdeka Belajar,” 68–74.
Farikhah, Firdaus, M. M. Al, & Yuwono, A. (1995). Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK): Sebuah Kerangka Pengetahuan untuk Pembelajaran Keterampilan Menulis. https://inisnu.ac.id
Handayani, R. H., & Muhammad, M. (2023). engaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Tematik Terpadu di Kelas V SD. E-Jurnal Inovasi Pembelajaran Sekolah Dasar, 9(2), 79–
88.
Hidayat, R., Khotimah, K., & Saputra, A. (2019). Mata Kuliah Wajib Umum Bahasa Indonesia Di Perguruan Tinggi: Sebuah Tawaran Model Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Telaah, 4(1), 31. https://doi.org/10.31764/telaah.v4i1.1268
Howard, L. (2023). Writing Bees, Wikis, Problem-Based Learning, and Assessment:
Teaching With Online Discussions. In In Research Anthology on Remote Teaching and Learning and the Future of Online Education (pp. 911–937). IGI Global.
Joesyiana, K. (2018). Penerapan Metode Pembelajaran Observasi Lapangan (Outdor Study) Pada Mata Kuliah Manajemen Operasional (Survey Pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Semester III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Beserta Persada Bunda). PeKA: Jurnal Pendidikan Ekonomi Akuntansi FKIP UIR, 6(2), 90–103.
Nasution, M. K. (2017). Penggunaan metode pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar siswa. STUDIA DIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan, 11(1), 9–16.
Nurgiyantoro, B. (2011). Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. BPFE.
Peat, J., Elliott, E., Baur, L., & Keena, V. (2013). Scientific writing: easy when you know how. John Wiley & Sons.
Rais, M. (2010). Model project based-learning sebagai upaya meningkatkan prestasi akademik Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, 43(3), 246–252.
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JPP/article/viewFile/129/123
Sari, M. (2014). Blended Learning, Model Pembelajaran Abad ke-21 di Perguruan Tinggi. Ta’dib, 17(2), 126–136. https://doi.org/10.19109/tjie.v24i2.4833
Sari, R. T., & Angreni, S. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Project Based
Learning (PjBL) Upaya Peningkatan Kreativitas Mahasiswa. Jurnal VARIDIKA, 30(1), 79–83. https://doi.org/10.23917/varidika.v30i1.6548
Supriyadi. (2015). PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH BERPENDEKATAN KONSTRUKTIVISME Supriyadi. LITERA, 14(2), 361–
375.
Syahruddin, & Pongpalilu, F. (2014). Inovasi Pembelajaran Menulis Kreatif Melalui Web-Based Learning. JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN, 21(2), 146–
154.
Trianto. (2007). Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Prestasi Pustaka.
Umar, M. A. (2017). PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (Project-Based Learning) DALAMMATERI EKOLOGI Muhammad Agus Umar. BIOnatural, 4(2), 1–12.
Wismanto, A. (2022). Pengembangan Model Pembelajaran Project Based Learning dalam Pembelajaran Menulis Berita. Diksa: Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 8(1), 116–125.
Yuan, R. (2017). This game is not easy to play’: a narrative inquiry into a novice EFL teacher educator’s research and publishing experiences. Professional Development in Education, 43(3), 474–491.