• Tidak ada hasil yang ditemukan

kebijakan pemberdayaan organisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "kebijakan pemberdayaan organisasi"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

Dasar penggunaan model kebijakan pemberdayaan organisasi sosial top-down Bakesbangpol Kabupaten Jember sendiri mengacu pada UU No. 17 Tahun 2013 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 57 Tahun 2017. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini fokus pada pemberdayaan organisasi kemasyarakatan Politik sebagaimana tercantum pada Bab 2 (Tinjauan Pustaka). Penulisan metode penelitian ini didasari oleh kebutuhan peneliti untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai himpunan proses politik pemberdayaan organisasi kemasyarakatan Bakesbangpol di Kabupaten Jember.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pemberdayaan organisasi kemasyarakatan Bakesbangpol Kabupaten Jember secara administratif sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Tata cara perumusan kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember Tahun 2020 mengacu pada landasan hukum Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Pedoman Pendaftaran Organisasi Kemasyarakatan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 17 Tahun Tahun 2013 tentang organisasi kemasyarakatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan penjabaran dari visi dan misi, serta program kepala daerah yang penyusunannya dipimpin oleh RPJPD dan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. (RPJMN). . Sebelum setiap tahun anggaran berakhir, tiga ketua bagian bersama dua ketua subbagian Bakesbangpol Kabupaten Jember merumuskan Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Masyarakat Tahun 2020 berupa penyiapan kegiatan pemberdayaan organisasi masyarakat beserta anggaran yang dibutuhkan. Tugas pokok Subbidang Kelembagaan Kemasyarakatan Bidang 1 Bakesbangpol Kabupaten Jember adalah pelaksanaan kegiatan penghubung dengan lembaga ormas, koordinasi dan fasilitasi pemberdayaan ormas serta tugas lain yang diberikan oleh kepala bagian.

Yusran menyatakan, pembuatan kebijakan untuk memberdayakan organisasi masyarakat diawali dari kesadaran akan permasalahan tersebut.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Dari segi teoritis, pertama dengan memberikan kontribusi pemikiran dalam dunia akademik dan dokumentasi dalam mengantisipasi kontroversi dan memberdayakan organisasi kemasyarakatan secara umum. Kedua, dapat memberikan wadah dan memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan yang dicanangkan Pemerintah. Dari segi praktis, pertama bagi penulis sendiri, diharapkan dapat menjadi penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Kedua, bagi masyarakat luas khususnya masyarakat Kabupaten Jember yang menjadi basis pemberdayaan organisasi masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Jember.

Definisi Istilah

Tesis yang ditulis oleh Sukma Hari Purwoko di Universitas Jember (UNEJ) berjudul “Agenda Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan di Pemerintah Kabupaten Jember Tahun 2017”. Dengan fokus pada permasalahan agenda kebijakan bagaimana merumuskan agenda kebijakan pemberdayaan organisasi masyarakat pada pemerintah Kabupaten Jember tahun 20175. Dengan fokus pada permasalahan bagaimana pemberdayaan organisasi masyarakat dari Badan Nasional Persatuan dan Politik dalam pencegahan konflik sosial di Kota Bandar Lampung.

7Radinal Muchtar, Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Karang Taruna Di Kabupaten Pinrang, Universitas Hasanuddin Makassar 2018.

Kajian Teori

  • Organisasi Kemasyarakatan
  • Pemberdayaan
  • Pemerintahan
  • Asas Pemerintahan Umum

Pertama, Dye berpendapat bahwa kebijakan publik hanya dapat dibuat oleh pemerintah, bukan oleh organisasi swasta. Kedua, Dye kembali menegaskan bahwa kebijakan publik mengacu pada keputusan yang diambil atau tidak diambil oleh pemerintah. Berkenaan dengan pendapat tersebut, Santoso mengartikan kebijakan publik sebagai kebijakan yang dikembangkan oleh badan dan pejabat pemerintah (policiesdeveloped by government body and official).

Pandangan ini mengacu pada pengertian yang menjelaskan bahwa kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.

Fokus Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengulas, mendeskripsikan dan mendeskripsikan proses perumusan kebijakan penguatan organisasi kemasyarakatan pada Pemerintahan Bakesbangpol Kabupaten Jember Tahun 2020. Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) Nomor 6 Tahun 2019 tentang Perubahan Peraturan Daerah RPJMD Bakesbangpol Kabupaten Jember yang mengatur tentang kemasyarakatan organisasi. Peneliti membatasi waktu penelitian selama satu tahun kebijakan saja untuk memberikan gambaran dan gambaran utuh mengenai proses kebijakan penguatan organisasi kemasyarakatan pemerintah Kabupaten Jember tahun 2020.

Data dan Sumber Data

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari dokumen atau sumber informasi lain. Data primer diperoleh peneliti melalui observasi langsung dan hasil wawancara dengan informan terkait proses politik pemerintah Kabupaten Jember terkait pemberdayaan Ormas pada tahun 2020.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur, yaitu proses tanya jawab antara peneliti dan informan yang berlangsung secara bebas, namun tetap dalam kerangka yang telah disusun peneliti mengenai topik penelitian. Alasan mengajukan pertanyaan di luar kerangka adalah karena jawaban informan tidak diharapkan oleh peneliti mengenai permasalahan penelitian, namun masih dalam kerangka pembahasan. Data yang dimaksud adalah data sekunder berupa data hasil kegiatan dan dokumen lain yang terkait.

Dokumen yang peneliti perlukan adalah seluruh dokumen yang berkaitan dengan Proses Politik Pemberdayaan Ormas Pemkab Jember Tahun 2020.

Penentuan Informan Penelitian

Teknik Analisis Data

Reduksi data dapat diartikan sebagai suatu proses seleksi yang memusatkan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data “kasar” yang diperoleh dari catatan lapangan tertulis. Data yang diperoleh di lokasi penelitian disajikan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan rinci. Penyajian data yang benar akan membawa pemahaman terhadap apa yang terjadi dalam penelitian kualitatif.

Verifikasi dilakukan setelah seluruh data terkumpul dan direkonsiliasi dengan melakukan proses reduksi data, yang kemudian disajikan sebagai bentuk proses penyajian data.

Pengujian Keabsahan Data

Peneliti akan dapat mengkaji secara detail faktor-faktor yang menonjol dalam fenomena permasalahan sehingga dapat memberikan gambaran yang mendalam untuk menguji keabsahan data yang diperoleh dari proses pengumpulan data. Miles, Matthew, menyatakan bahwa triangulasi adalah suatu teknik untuk menguji keabsahan data yang diperoleh dengan menggunakan sesuatu yang lain38. Penentuan keabsahan data sangat penting untuk memberikan keyakinan mengenai hasil audit yang dilakukan serta memberikan penilaian terhadap keabsahan data yang diperoleh dalam penelitian.

Triangulasi tidak hanya digunakan untuk pengumpulan data saja tetapi juga mempunyai fungsi ganda dan juga berguna untuk menguji keabsahan data yang diperoleh.

Gambaran Obyek Penelitian

Koordinasi evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kerja Sekretariat dan pelaksanaan kerja Badan Nasional dan Badan Politik. Pemerintah Daerah Kabupaten Jember Tahun 2020 yang dirumuskan langsung oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Kesatuan Politik (Bakesbangpol) Pemerintah Kabupaten Jember. Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan Pemerintah Daerah Kabupaten Jember Tahun 2020 dirumuskan oleh Badan Persatuan Bangsa-Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember.

Kebijakan pemberdayaan organisasi masyarakat Bakesbangpol Kabupaten Jember belum menyentuh hakikat pemberdayaan karena produk dari kebijakan tersebut bersifat seremonial. Dalam ranah praktis, ORMAS di wilayah Kabupaten Jember tidak terlibat dalam sistem pengambilan kebijakan. Mengenai perbedaan pemahaman atau pandangan mengenai prosedur perumusan kebijakan antara ORMAS dan Bakesbangpol Kabupaten Jember.

Prosedur Perumusan Kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember Prosedur Perumusan Kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember mengacu pada landasan hukum Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendaftaran Organisasi Kemasyarakatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Pemerintah Kabupaten Jember (RPJMD) dan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 06 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Aparatur Kabupaten Jember41. Perbedaan pemahaman mengenai prosedur perumusan kebijakan antara ORMAS dan Bakesbangpol Kabupaten Jember menimbulkan permasalahan dan tuntutan masyarakat. Sebelum mengetahui Kebijakan Pemberdayaan ORMAS Pemerintah Kabupaten Jember yang dirumuskan oleh Bakesbangpol Kabupaten Jember, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana proses perumusan Kebijakan Pemberdayaan ORMAS yang dilaksanakan oleh pelaku kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember.

“Setiap akhir tahun anggaran, ketiga ketua dinas bersama dua wakil ketua Bakesbangpol Kabupaten Jember mengambil kebijakan untuk tahun 2020 berupa penyiapan kegiatan pemberdayaan ORMAS beserta anggaran yang diperlukan.” Mengacu pada Perbup Nomor 06 Tahun 2012, Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember 1 merupakan sektor yang tugas pokok dan fungsinya memberdayakan ORMAS.

Pembahasan Temuan

Community Self Help) dan penyelenggara pemilu serta menjalin hubungan demokratis dengan instansi terkait dan tugas lain yang diberikan oleh kepala lembaga. Sebagai organisasi yang dibentuk oleh masyarakat dan mempunyai kegiatan sosial yang jelas bahkan diamanatkan undang-undang dengan fungsi pemberdayaan, maka penguatan ORMAS dalam menjalankan fungsi pemberdayaan masyarakat menjadi suatu keharusan. Sesuai dengan tujuan dan fungsi ORMAS, sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan, ORMAS harus memainkan peran berbeda dalam proses pembangunan bangsa.

Kuatnya nilai negosiasi ORMAS terhadap negara sebenarnya telah menunjukkan kekuatan masyarakat, artinya terjadi peningkatan pemberdayaan politik dan sosial dalam kehidupan masyarakat. Organisasi kemasyarakatan sebagai wadah untuk menjamin hak berserikat dan berkumpul bagi warga negara, merupakan lembaga partisipasi masyarakat dan penguatan sistem sosial yang merupakan salah satu alat sistem ketatanegaraan kita, sebagaimana diamanatkan. Namun di era globalisasi ini, kapasitas kelembagaan organisasi masyarakat belum optimal dalam hal pemberdayaan masyarakat dan sebagai mitra pemerintah dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan.

UU ORMAS Tahun 2013 (Pasal 40) menegaskan bahwa pemerintah daerah wajib memberdayakan ORMAS untuk meningkatkan kinerja dan menjaga kelangsungan hidup ORMAS. Dalam proses pemetaan persoalan dan permasalahan publik, yang merupakan bagian integral dari pemetaan nasional Indonesia memerlukan visi, misi dan strategi. Namun perkembangan ORMAS untuk memfasilitasi pemilu dan pemungutan suara di berbagai bidang kehidupan cukup nyata.

Sedangkan dari segi regulasi, pemerintah daerah dalam hal ini Badan Bakesbangpol hanya menyelenggarakan forum komunikasi sebagai wadah konsultasi dan koordinasi secara bergilir dengan ORMAS. Pemberdayaan dilakukan berdasarkan penghormatan dan pertimbangan terhadap aspek sejarah, catatan, peran dan keutuhan ORMAS dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

PENUTUP

Kesimpulan

Namun jika dikaji secara kritis dengan mengacu pada pengertian dan hakikat ormas baik dari segi hukum maupun teori, rumusan Kebijakan Pemberdayaan Organisasi Kemasyarakatan di Kabupaten Jember tidak menunjukkan adanya upaya yang serius. Hal ini terlihat pada teknis metode kerja Bakesbangpol Kabupaten Jember, baik dalam pemilihan ormas yang mengajukan permohonan dan perpanjangan Surat Keterangan Tercatat (SKT), penyelenggaraan pendidikan politik dan wawasan kebangsaan, serta teknis metode dalam pelaksanaannya. proses penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia atau anggota ormas.

Saran

Peraturan Daerah Kabupaten (Perbup) Nomor 57 Tahun 2012 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Persatuan Bangsa dan Badan Politik Kabupaten Jember. Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Kabupaten Jember Tahun Anggaran 2018. Bagaimana pergulatan wacana dan perdebatan di kalangan aktor politik Bakesbangpol Kabupaten Jember mengenai isu dan permasalahan pemberdayaan masyarakat? ORMAS.

Mengapa ORMAS mengharapkan Bakesbangpol Kabupaten Jember menggunakan model kebijakan bottom-up dalam upaya pemberdayaan ORMAS.

KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN ORGANISASI

KEMASYARAKATAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI

KEMASYARAKATAN

SKRIPSI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS SYARIAH

FEBRUARI 2021

Bagaimana proses perumusan Kebijakan Pemberdayaan Ormas Pemerintah Kabupaten Jember Tahun 2020 dengan mengacu pada Dokumen Kebijakan Bakesbangpol Kabupaten Jember.

Tabel 3.1 Data Informan
Tabel 3.1 Data Informan

Referensi

Dokumen terkait