Banyak orang berpikir bahwa menerima Tuhan Yang Mahakuasa adalah pengkhianatan terhadap Tuhan. Apa cara terbaik untuk mengatasi masalah ini? Kita tidak boleh begitu saja mengikuti fakta bahwa nama Mereka berbeda, tetapi kita harus mencari tahu
apakah Mereka adalah satu Roh, apakah itu adalah Tuhan yang sama yang bekerja. Pada Zaman Hukum Taurat, Tuhan Yahweh yang bekerja, dan yang bekerja pada Zaman Kasih Karunia adalah Tuhan Yesus. Di sini kita dapat melihat bahwa nama Tuhan
memang berubah, nama-Nya bukan lagi Yahweh, melainkan Yesus. Namun, dapatkah Anda mengatakan bahwa Tuhan Yesus dan Tuhan Yahweh bukan Tuhan yang sama? Dapatkah Anda mengatakan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus berarti
mengkhianati Tuhan Yahweh? Sama sekali tidak. Namun,
kebanyakan orang Yahudi menolak untuk menerima Tuhan Yesus, mengatakan itu akan mengkhianati Yahweh, dan mereka bahkan membantu untuk membuat Dia disalibkan. Mengapa? Itu karena mereka tidak menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah Roh Tuhan Yahweh yang menampakkan diri dan bekerja dalam daging.
Namanya berbeda, tetapi Tuhan Yesus dan Yahweh adalah satu Roh, satu Tuhan. Ada sebuah kisah sangat bagus yang dicatat dalam Alkitab tentang Filipus berkata kepada Tuhan Yesus,
"Tuhan, tunjukkan kepada kami Bapa itu, dan itu cukup untuk kami"
(Yohanes 14:8). Yesus menjawab, "Aku sudah begitu lama bersamamu, tetapi engkau belum mengenal Aku, Filipus? Ia yang sudah melihat Aku sudah melihat Bapa; lalu bagaimana engkau berkata, tunjukkan kepada kami Bapa itu? Tidakkah engkau percaya bahwa Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku? Firman yang Aku katakan kepadamu bukanlah Kukatakan dari diri-Ku sendiri: tetapi Bapa yang ada di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan itu" (Yohanes 14:9-10).
Perkataaan Tuhan Yesus sangat jelas. Dia dan Yahweh adalah satu Tuhan, dan Roh-Nya adalah Roh Yahweh. Tuhan Yesus adalah penampakan Tuhan Yahweh, satu-satunya Tuhan yang benar. Jadi, percaya kepada Tuhan Yesus tidak mengkhianati Tuhan Yahweh, tetapi tunduk kepada Yahweh. Itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika Anda berpegang teguh pada satu nama dalam iman Anda dan perkataan Alkitab secara harfiah tanpa
memahami Roh dan pekerjaan-Nya, Anda sangatlah mungkin tersesat dan menentang Tuhan. Lalu Anda akan cenderung mengkhianati Tuhan, yang akibatnya tak terbayangkan. Ketika Tuhan menampakkan diri dan bekerja, orang-orang Yahudi
menolak Dia. Bukankah itu berarti mengkhianati Tuhan Yahweh?
Esensi dari tindakan mereka adalah pengkhianatan, itulah
sebabnya bangsa Israel dikutuk oleh Tuhan. Juga, jauh sebelum penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus, ada nubuat Alkitab tentang Dia, yang mengatakan, "Seorang perawan akan
mengandung dan melahirkan anak laki-laki dan mereka akan menamai Dia Imanuel" (Matius 1:23). Namun, ketika Dia datang, namanya bukan Imanuel—namanya Yesus. Orang-orang Farisi Yudaisme secara kaku berpegang pada Kitab Suci secara harfiah, dan karena nama baru Tuhan tidak sama, mereka berupaya keras untuk menyangkal dan mengutuk Tuhan. Sebesar apa pun otoritas dan kuasa pengajaran Tuhan Yesus, mereka menolak untuk
menerimanya, dan akhirnya Dia dipakukan di kayu salib,
melakukan dosa yang kejam, dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Ini benar-benar pelajaran yang menggugah pikiran! Jadi, dalam hal menyambut Tuhan, haruskah kita secara kaku berpegang teguh pada Kitab Suci secara harfiah, dan hanya memegang nama
Yesus? Melakukan hal itu membuat semuanya terlalu mudah untuk berakhir dengan menentang dan mengutuk Tuhan. Ini adalah
sesuatu yang banyak orang percaya tidak pahami sehingga mereka berpegang teguh pada perkataan dalam Alkitab secara harfiah dan nama Yesus, dan ketika menyelidiki jalan yang benar, terus
bertanya, "Apakah ada dasar alkitabiah untuk nama Tuhan Yang Mahakuasa? Jika nama Tuhan Yang Mahakuasa tidak ada di dalam Alkitab, aku tidak bisa menerima Dia." Jika Anda
mengatakan bahwa Anda tidak mau menerima Dia kecuali nama Tuhan Yang Mahakuasa ada di dalam Alkitab, lalu mengapa Anda percaya kepada Tuhan Yesus meskipun nama-Nya tidak ada di dalam Perjanjian Lama? Bukankah itu bertentangan? Jelas, banyak orang tidak benar-benar memahami Alkitab, tetapi secara membabi buta berpegang teguh pada Kitab Suci dan aturan-aturan harfiah.
Mereka tidak berdoa, mencari kebenaran dari firman Tuhan atau
penegasan dari Roh Kudus, dan ini akhirnya akan menghancurkan diri mereka sendiri.