• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejahatan yang Sempurna

N/A
N/A
Edrick Igianto

Academic year: 2024

Membagikan " Kejahatan yang Sempurna"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Kejahatan yang Sempurna

Jika bukan untuk penampilannya, dunia akan menjadi kejahatan yang sempurna, maksudnya tanpa penjahat, tanpa korban, dan tanpa motif. Di dalamnya kebenaran selamanya diam, dimana rahasianya tidak pernah diekspos, karena ingin ditelusuri. Namun tepatnya kejahatan itu tidak pernah sempurna, karena dunia membuka dirinya lewat penampilan-penampilannya, yang merupakan jejak-jejak atas ketidak beradaannya, jejak- jejak dari keberlangsungan dari ketiadaan. Untuk ketiadaan itu sendiri, kelangsungan hubungannya meninggalkan jejak. Lewat sinilah dunia mengkhianati raha-sianya. Lewat inilah dunia membiarkan dirinya dirasakan, seraya menyembunyikan diri di balik penampilannya. Seniman juga dekat dengan kejahatan yang sempurna ini, maksudnya:

tidak ada apa-apa. Tetapi ia melarikan diri dari sini, dan karyanya adalah jejak dari ketidaksempurnaan kejahatannya. Menurut Michaux, seniman adalah orang yang bertahan sekuat tenaga dengan segala dorongan fundamental untuk tidak meninggalkan jejak- jejaknya. Bahasa mana yang menjadi jejak ketidaksempurnaan dunia, tidak ada kisah yang lebih baik menunjukkan dibanding kisah-nya John. Sampai usia 16 tahun, John muda, yang bahagia dan tampan dan dikaruniai semua indera, tidak pernah berbicara. la belum pernah mengucapkan sepatah kata pun sampai tiba-tiba suatu hari, pada waktu minum teh, ia berkata: "Saya mau gula sedikit." Ibunya yang kegirangan berteriak: "Wah, John kau bisa bicara! Mengapa selama ini ini kau tidak pernah bicara apa-apa?" Dan John menjawab,

"Sampai sekarang, segala sesuatunya sudah sempurna."Penyempurnaan kejahatan berada pada fakta bahwa hal itu sudah selalu terselesaikan—perfectum. Suatu jalan simpang, bahkan sebelum memproduksinya sendiri, dari dunia sebagaimana adanya. Karenanya tidak akan pernah ditemukan. Tidak akan ada penilaian final untuk menghukum atau membebaskan-nya. Tidak akan ada akhir, karena sesuatunya selalu terjadi. Bukan resolusi ataupun pengampunan atau absolusi, tetapi keterbukaan konsekuensinya tidak bisa dihindari lagi. Deklinasi atau kemunduran kejahatannya yang asli (di mana seseorang mungkin bisa menemukan bentuk yang menghina dalam deklinasi simulacra-nya yang berlaku?). Maka nasib kita adalah perbuatan kejahatan ini, bentangannya tidak bisa diganti- kan, kelancaran kejahatan, dan keberlangsungan ketiadaan. Kita tidak akan pernah tinggal dalam "adegan utama" namun setiap waktu kita mengalami tuntutan dan pertobatannya.

Tidak ada akhir untuk ini, dan konsekuensinya tidak dapat diperhitungkan. Sama dengan beberapa detik pertama dalam Big Bang yang tidak bisa diukur, maka beberapa detik dalam kejahatan yang asi tidak dapat ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah fosil kejahatan;

seperti suara yang menjadi fosil terserak ke seluruh jagad raya. Dan inilah energi kejahatan itu, seperti ledakan awal yang akan tersebar ke seluruh dunia, hingga akhirnya kehabisan Demikian visi mitos kejahatan aslinya, penyimpangan dunia dalam permainan godaan dan penampilan, serta dari ilusinya yang telah pasti. Demikianlah bentuk rahasianya. Sepanjang ilusi tidak diakui sebagai suatu kesalahan, maka nilainya pasti sama dengan nilai realitas.

Tetapi begitu ilusi dianggap sebagai kesalahan, maka nilainya tidak lagi demikian. Ia kemudian menjadi konsep ilusi itu sendiri, dan ia sendiri adalah ilusinya. Pertanyaan filosofis besarnya adalah: "Mengapa ada sesuatu yang lebih dibandingkan ketiadaan?" Maka sekarang pertanyaannya yang nyata adalah: "Mengapa ada ketiadaan yang lebih dibanding sesuatu?" Ketiadaan sesuatu terhadap diri mereka sendiri, fakta bahwa itu tidak terjadi sementara kelihatannya memang begitu, fakta bahwa segalanya menarik diri di balik penampilannya sendiri, dan kemudian tidak pernah bisa identik dengan dirinya sendiri- semuanya ini adalah ilusi dunia secara material. Dan ini tetap berada di dasar enigma atau teka-teki besar, yang menjerumuskan kita ke dalam teror, dan dari sini kita melindungi diri kita sendiri dengan ilusi kebenarannya yang formal. Di bawah hukuman teror, kita harus mengartikan dunia, jadi menghapuskan ilusi material. Kita tidak akan mentolerir, baik yang vakum, yang rahasia, maupun penampilannya semata-mata. Mengapa kita harus mengartikannya, bukan membiarkan ilusinya terpancar sebagaimana adanya dengan segala keemer-angannya? Nah, ini tentu saja menjadi teka-teki; mengapa kita tidak tahan dengan sesuatu yang bersifat teka-teki menjadi satu teka-teki pula. Ini adalah suatu potongan dengan dunia sehingga kita tidak dapat bertahan baik dengan ilusi ataupun penampilan

(2)

muminya. Kita tidak akan bisa lebih mentolerir jika ini harus ada-kebenaran dan transparansinya yang radikal.

Kebenaran ingin menyajikan dirinya secara telanjang; untuk menyingkapkan ketelanjangannya. Namun ia sia-sia mencari ketelanjangannya, seperti Madonna di dalam film yang menjadikannya terkenal. Lebih lanjut, Madonna menjadi contoh bagus untuk pemaksaan kebenaran ini. Kasus seseorang ini timbul karena keinginan yang absolut untuk telanjang, untuk mempertontonkan dirinya yang telanjang, dan yang tidak pernah benar- benar diperlakukan demikian. Selamanya ia terkekang-kalau bukan dengan kulit atau logam, maka dengan keinginan vulgar-nya untuk bisa telanjang, yaitu perilaku eksibisionis yang dibuat-buat. Rintangan tiba-tiba menjadi total, yang pada pihak penonton adalah frigiditas yang radikal. Tarian telanjang atau striptease yang sia-sia ini adalah kesia-siaan realitas itu sendiri, yang secara literer "melampaui" diri-nya sendiri (sederobe, yang menyajikan penampilan telanjang bagi mata penonton yang terlalu cepat percaya. Namun sebenar-nya, ketelanjangan ini membungkusnya dalam kulitnya yang kedua, yang bahkan tidak lagi memiliki pesona pakaian yang erotis (la robe). Suatu prostitusi realitas yang secara suka rela meninggal-kan dirinya untuk detil yang hiper realis-bahkan para bujangan tidak perlu lagi menguliti ketelanjangannya dan secara suka rela meninggalkan ilusi optis demi kepentingan tarian striptease itu. Keberatan saya yang prinsipil atas realitas lebih lanjut adalah karakter penyerahannya yang tanpa syarat terhadap hipotesis apa pun yang bisa dilakukan seseorang terhadapnya. Ini sekaligus mengecilkan hati pemikiran-pemikiran paling aktif lewat komprominya yang patut disesalkan. Anda bisa menundukkan-nya, dengan prinsipnya-(selain, apa yang sedang mereka lakukan bersama-sama, jika bukan persetubuhan yang pincang dan melahirkan bukti-bukti yang tak terhitung?)-, hingga kekejaman yang paling bengis, hingga provokasinya yang paling cabul, hingga sindiran- sindirannya yang paling paradoks: yang berusaha mati-matian untuk segalanya dengan watak budak yang tidak bisa dihindarkan Realitas itu ruwet Tidak ada yang mengejutkan di sini, bagaimanapun juga karena terlahir dari perzinahan ketololan dengan pemikiran yang matematis seni fusi yang sakral, dan terlempar ke dalam kawanan serigala ilmu pengetahuan? Untuk menemukan kembali jejak-jejak dari ketiadaan, dari kejahatan yang sempurna, maka perlu mengambil bentuk realitas dunia. Untuk mendapatkan kembali konfigurasi rahasia, maka perlu diambil dari akumulasi realitas. Mengurangi dan mengurangi. Yang sama tidak perlu ditambahkan untuk yang sama, dan seterusnya, ad nauseam atau sampai bosan. Yang sama harus dipreteli dari yang sama. Masing-masing gambar harus mengambil dari realitas dunia; di balik tiap-tiap gambar itu, harus ada fragmen realitas, sesuatu yang telah hilang, untuk menjamin kelangsungan ketiadaan-meskipun demikian tanpa mengalah pada godaan penghancuran karena penghilangan ini harus tetap hidup, jejak dari kejahatan harus tetap tinggal. Selalu dengan menambahkan pada yang ril, dengan menambahkan yang nyata pada yang nyata dengan sasaran suatu lusi yang sempurna (ilusi dari stereotip yang hiperriil) yang ditikamkan oleh seseorang ke jantung ilusi.

Porno, dengan cara menambahkan suatu dimensi ke dalam gambaran seks memindahkan seseorang dari nafsu dan membatalkan seluruh ilusi yang menggiurkan. Pada jung spektrumnya yang berlawanan, Jaltu trompe l'oeil yang waktu menguliti dimensi dari objeknya Yang nil menambahkan keberadaannya yang ajaib untuk ketepatannya yang menyesatkan. Trompe l'oeil atau tipuan mata adalah kegembiraan luar biasa atau ekstasi objeknya yang ril, ilusibuk- tya yang hidup, ilus yang menambahkan mistifikasi atare- terpesonaan indera pada pesona lukisan yang formal. Karenil keluhurannya tidak mencukupi: yang tak kentara atau subtit albuthkan, yaitu nuansa yang mencakup pengalihan yang nyata sembari menerapkannya secara harfiah. Kurangi, kurangilah, ambil nuansanya.

Yang tidak kita pelajari dari modernitas adalah bahwa pengurangan itu memberi kekuatan;

dari ketiadaan lairlah kekuatan. Kita tidak pernah berhenti berakumulasi, menambah, menawar yang lebih tinggi. Dan jika kita tidak mampu menghadapi lagi keunggulan dari ketiadaan yang simbolis, ini disebabkan karena kita sekarang terbenam dalam ilusi yang terbalik, ilusi atas kelimpahan yang mengecewakan, yaitu ilusi modern karena perkembangbiakan layar dan gambar. Kegusaranlah yang menyebabkan suatu gambar bukan lagi gambar, tepatnya dengan kata lain adalah yang menguliti dimen-sinya dari dunia

(3)

yang nyat dan melantik kekuatan ilusinya. Kini, dengan segala bentuk penampilan realitas dan realitas yang sebenarnya mereka ingin kita memasuki gambar, layar serta artefak tiga dimensinya dunia nyata yang baik untuk dialami —dan dengan demikian menghancurkan ilusi umum gambar apa pun.

Kesamaan temporer adalah kesamaan waktu nyatanya, yang berisi pada kecepatan cahaya-yaitu yang berasal dari in-formasi-untuk menempatkan kita pada kehadiran yang seka-rang, dengan menghapuskan semua ilusi masa lalu dan masa mendatang. Ilusi yang sebenarnya ini berlawanan dengan ilusi penam-pilannya. Tidak ada yang disembunyikan di sana, tak ada raha-sia, tak ada ketiadaan. Tujuannya adalah mengkloning realitas, mengkloning yang riil lewat hyperreal-nya dan memusnahkan yang riil lewat penggandaannya. Hilanglah ilusi sinematografis. Dari film bisu sampai film bersuara, dari film bersuara sampai film berwarna melalui tangga nada modern special effect-nya, dan ilusi menjalankan gaya penampilannya. Tidak ada lagi kekosongan, tidak ada lagi elips, tidak ada lagi kebisuan dan tidak ada lagi gambar. Kita makin dan makin mendekati definisinya yang tinggi, menuju penyem-lagi diakiam bar yan kk bern Karen, are sebean mya bukan makin orang mendekati definisinya yang pasti, yaitu penyem-puraan gambar operasionalnya, semakin hilanglah kekuatan ilusinya. Coba pikirkan Opera Beijing, Bagaimana hanya dengan ge-rakan yang sederhana si orang tua dan si gadis bisa menghidup-Kan arus sungai; dan dalam adegan duel, bagaimana dua tubuh bergerak mendekati satu sama lain namun sentuhannya tidak pemah gamblang secara fisik di dalam kegelapan tempat terja- dinya adegan berkelahi. Di sini ilusinya sudah total dan intens, lebih merupakan ekstasi fisik daripada ekstasi estetik, tepatnya karena seluruh kehadiran malam atau sungai yang realistik sudah dihapus, dan ilusi teatrik hanya tergantung pada tubuh saja. Sekarang orang memang membawa bunyi air di panggung, dan mereka akan mensyut duel di malam hari dengan sinarinfra merah. Gambar tidak lagi mengimajinasikan yang nyata karena ia sendiri adalah yang nyata itu. Tidak bisa lagi memimpikan realitas sejak ia menjadi realitas yang sebenarnya. Dari satu layar ke layar lain, gambar tidak mempunyai tujuan lain kecuali menjadi gambar saja. Seolah-olah sesuatu itu menelan cerminnya sendiri, dan menjadi transparan bagi dirinya sendiri, seluruhnya hadir untuk dirinya sendiri, sepanjang masa siangnya yang luas, pada waktu yang nyata melalui rekamannya yang tidak kenal ampun.

Bukannya alpa dari dirinya sendiri dalam ilusi dan rahasianya, mereka tidak lagi tercatat kecuali dalam ribuan layar di cakra-wala layar nyatanya, namun juga pembicaraan gambar yang sepantasnya telah hilang. Realitas telah diusir dari realitasnya, dan meninggalkan kita dalam kekosongan makna yang hiper-realitas. Mungkin hanya teknologi yang masih menyiarkan fragmen nyatanya yang berserakan? Ke mana perginya aturan makna itu?

Satu-satunya ketegangan yang ditinggalkan adalah kete- Sangan tentang seberapa jauh dunia bisa men-derealisasi sebe-lum mengalah pada defisit realitasnya, atau seberapa jauh ins bia meng -hiperreda elista esitas engalan pada suplus realitasnya (maksudnya jika sebuah kata yang telah menjadi lebih nyata dibanding yang nyatanya, maka akan jatuh di bawah serangan simulasi totalnya). Bagaimanapun juga-dan ini adalah hipotesis gila, yang secara fundamental sama dengan hipotesis transparansi kejahat-an—tidaklah pasti kalau konstelasi rahasia pudar oleh adanya transparansi jagad raya yang sebenarnya, bukan transparansi kekuatan ilusinya yang orisinil. Operasinya yang simbolik ter-sapu oleh operasi teknologi dunia melalui inspeksi teknologi sebagaimana hendak dikatakan oleh Heidegger.

Orang bisa men-deteksi di balik semua teknologi (khususnya yang paling maju: elektronika, komputer, virtual, yang ada di gambar dan di layar) ada semacam kepura-puraan yang absolut dan permainan ganda -yait karakter teknisitas yang melebihi biasanya sehingga menjadikan dunia sebagai permainan penampilan, pemakaian hal-hal yang kontras atau chiaroscuro dunia yang tak terselesai-kan di belakang ilusi untuk mengubahnya yang objektif dan realistik. Apakah teknisitas itu akhirnya menjadi alternatif pem-bunuh bagi ilusi dunia, atau ini hanya avatar raksasa ilusi funda-mentalnya yang sama, simpul yang terakhir dan tak kentara, atau hipostatis yang terakhir? Melalui teknisitas mungkin dunia sedang memakai kita, sehingga objeknya menggoda kita lewat ilusi kekuatan yang kita miliki di atasnya. Sebuah hipotesis yang memusingkan, yang hendak ditambahkan pada rasionalitas, yang memuncak dalam teknisitas yang sebenarnya, dan ter-akhir dalam

(4)

muslihat yang tidak masuk akal-salah satu dari korelasi dalam batin manusia, dari nafsu untuk berilusi, yang di sini adalah nafsu untuk kebenaran, di mana menurut Nietzsche tidak ada apa pun kecuali perputaran dan avatar.

Orang Jepang mengintuisikan kedewaan dalam setiap objek industrialnya. Bagi kita, kehadiran kesakralan ini berku-rang hingga keredupan yang ironis, hingga nuansa permainan dan keterpencilannya, namun tidak kurang bentuk spiritualnya dan di belakangnya ada siluet Jin Teknisitas yang Jahat, yang memastikan diri kalau rahasia dunia tetap tersimpan rapat-rapat. Hantu yang nakal mengawasi dan menunggu di balik semua artefak, dan tentang seluruh produk artifisial ini bisa kita kata-kan tentang apa yang dinyatakan Canetti tentang binatang bahwa: "Di balik setiap ekor binatang, masing-masing mempunyai kesar: bahwa manusia itu tersembunyi, sambil tertawa terkikik-kikik kepada kita". Ini menggemakan pernyataan Heidegger: "Jika Kita benar-benar memperhatikan esensi teknisitas yang ambigu, maka kita akan merasa ada konstelasi itu, yakni konstelasi ge-rakan rahasia bintang".Melalui efek yang paradoksal tampakya jika ilusi dunia itu dikuliti, maka ironinya akan melewati sesuatu. Kelihatannya teknisitas telah mengambil seluruh ilusi yang hilang dari kita, dan rekan imbangan atas kehilangan ini adalah munculnya ironi dunia yang objektif. Ironi sebagai bentuk universal disilusi, namun juga dari stratagem atau tipu daya yang dengannya dunia menarik diri ke balik ilusi teknisitas yang radikal seperti yang dilakukan oleh rahasia-(yaitu dalam kelangsungan Ketiada- an) —di balik kewajaran teknologi dan gambar kita. Ironi adalah satu-satunya bentuk spiritual dunia modern: Ja adalah gudang tunggalnya rahasia. Tetapi kita tidak lagi me-ngetahuinya. Fungsi ironik subjeknya telah menggantikan fungsi kritik subjeknya. Sejak saat melewati medium atau gambar, me-Jalui jejak tanda atau pasarnya, objek memanfaatkan fungsi arti-fisial dan ironisnya lewat eksistensi mereka juga. Tidak dibutuh-kan lagi suatu kesadaran kritis untuk dunia dengan menahan kaca gandanya: dunia modern kita telah menelan kegandaannya pada saat yang sama seperti waktu ia kehilangan bayangannya, dan ironi kegandaan yang tergabung ini setiap saat meleda kkan setiap fragmen dari tanda kita, objek kita dalam absurditas fungsi mereka seperti yang ditunjukkan oleh kaum Surealis: bahwa sesuatu menempati dirinya sendiri untuk menjelaskan dirinya sendiri secara ironis. Tanpa kesulitan membebaskan diri dari maknanya-ini semua sebagai bagian dari rangkaiannya Yang bisa dilihat, suatu jumlah berlebih-lebihan yang di dalam-nya tercipta efek parodi. Aura dunia kita tidak lagi sakral-tidak lagi merupakan cakrawala penampakan rasa beragama-melainkan salah satu di antara barang dagangan yang absolut. Esensinya adalah meng-iklankan. Di jantung jagad raya tanda-tanda kita adalah jin publi-kasi tukang iklan yang licik, seorang penipu yang telah mema-dukan perbadutan barang dagangan dengan pementasannya.

Seorang skenografer (kapital?) yang brilian telah mengiming-imingi dunia ke dalam fantasmagoria di mana kita semua men-jadi korbannya yang terpesona. Seluruh metafisika tersapu oleh terbaliknya situasi di mana subjek bukan lagi pemilik gambarannya (Aku akan menjadi pan-tulanmu!), namun semata-mata hanya fungi dari ironi dunia yang objektif.

Dalam semua teknologi, objeknyalah yang mem-biaskan subjek dan menentukan kehadiran dan bentuk aleatory-nya. Kekuatan objeknyalah yang mengacaukan jalan melalui per- mainan simulacra dan simulasi, melalui kelicikan pula kita bisa memperdayainya. Di dalam sini ada semacam keterbalikan yang ironis: bahwa objek menjadi penariknya. Karena terkuliti ilusi-nya oleh teknisitas itu sendiri, dan terkuliti dari segala konotasi makna dan nilai, serta tergusur-maksudnya telepas dari orbit subjeknya, maka akan menjadi objek murni, sebuah superkon-duktor ilusi dan omong kosong. Di cakrawala simulasi, tidak hanya dunia yang hilang, namun juga persoalan eksistensinya tidak ditanyakan lagi. Tetapi ini mungkin adalah tipu daya dunia sendiri. Ikonoklasme (faham menentang cara pemujaan yang telah ada) di Bizantium menghadapi masalah yang sama. Para ikono-klasis adalah orang-orang yang bercita-cita untuk menggambar-kan Tuhan agar kemuliaan-Nya menjadi lebih besar, namun saat menunjukkan gambar-Nya, mereka justru menyembunyikanmasalah eksistensi- Nya. Di balik masing-masing itu, ternyata Tuhan telah lenyap. la tidak mati, tetapi menghilang; maksudnya masalahnya tidak lagi menyajikan diri-Nya. Masalah ada atau tidak adanya Tuhan telah terselesaikan lewat simulasi. Sama seperti yang telah kita lakukan

(5)

dengan masalah kebenaran atau dengan ilusi dunia yang fundamental: kita telah menyelesaikan-nya lewat simulasi teknis, dan lewat kelimpahan gambar di mana tidak ada apa-apa untuk dilihat. Namun orang bisa saja mengira bahwa itulah strategi Tuhan sendiri untuk menghilang, tepatnya di belakang gambar.

Tuhan memanfaatkan gambar-gambar untuk menghilang, dia sendiri mematuhi gerak hati atau impuls untuk tidak meninggal-kan jejak. Demikian juga terwujudnya ramalan:

kita hidup di suatu dunia di mana fungsi tertinggi tanda adalah untuk meng-hilangkan realitas, sekaligus untuk menutupi kelenyapannyaSeni tak lain dan tak bukan adalah seperti ini. Media saat ini tak lain juga seperti itu. Itu sebabnya mengapa mereka pasrahpada nasio yang sama.Karena tidak ada yang ingin lagi diperhatikan, bahkan lu-kisan pun tidak, kecuali hanya untuk diserap dan disebar secara visual tanpa meninggalkan jejak-mencari suatu cara, menyem-bunyikan warna-warna simulasi, bentuk estetik yang diseder-hanakan dari pertukaran yang tidak dimungkinkan—, maka sulit sekarang untuk menangkap kembali penampilannya. Demikian-lah maka bahasa yang paling baik mempertanggungjawabkan- nya karena ini bisa menjadi bahasa di mana di dalamnya tidak ada yang perlu diucapkan, dan akan sama dengan lukisan di mana di dalamnya tidak ada apa-apa untuk dilihat. Yang ekuiva-len dengan objek murninya, dari objek yang bukan objek. Namun objek yang bukan objek itu sebenarnya bukan apa-apa. Ia adalah objek yang tidak berhenti berobsesi, Anda dengan imanensinya (ketetapanadaan), kehadirannya yang kosong dong imaterial.

Masalahnya secara keseluruhan pada batas-batas ketiadaannya adalah mematerialkan ketiadaannya ini di per- batasan kekosongan adalah untuk mencari kekosongan setelah Bambar dan di perbatasan ketidakacuhan adalah untuk ber-main sesuai dengan aturan ketidakacuhan yang misterius. Dunia itu seperti sebuah buku. Rahasia sebuah buku selalu ditulis dalam satu halaman saja. Sisanya bukan apa-apa selain keterangan dan pengulangan. Kelihaiannya yang penghabisan adalah membuat halaman tadi hilang begitu buku itu selesai.Karena itu tak seorang pun bisa menerka itu tadi membicarakan apa (selalu kejahatan yang sempurna). Pun halaman itu tetap terpencar di dalam buku, di antara apa yang tersirat; pokoknya tetap tersebar ke seluruh cabangnya yang terserak, dan orang harus bisa menyusunnya kembali tanpa diangkat rahasianya. Penyebaran sesuatu yang anagramatik esensial bagi kehadiran- nya yang simbolik hingga kekuatan ilusinya.

Mengidentifikasi dunia itu sia-sia. Orang harus menangkap sesuatu dalam tidurnya, atau dalam kemungkinan secara kebe-tulan yang total di mana mereka tidak hadir dalam dirinya.

Seperti dalam Puteri-Puteri Tidur-nya Kawabata, di mana si lelaki tua meghabiskan malam dengan berada di samping puteri-puteri yang sedang tidur, sementara ia sendiri dipenuhi birahi namun tidak menyentuh mereka, dan pergi berlalu sebelum mereka bangun. Mereka juga terbaring di dekat sebuah objek yang bukan salah satu dari mereka dan ketidakacuhannya yang total dalam tidur meruncingkan perasaan erotis. Tetapi yang paling menjadi teka-teki dalam kisah Kawabata dan yang menciptakan ironi menakjubkan ini adalah akhirnya yang tidak ada apa-apa, tepat pada akhir kisahnya, sehingga menyebabkan orang ingin tahu apakah para puteri itu benar-benar tidur atau hanya secara lihai dilepaskan dari kedalaman tidur mereka yang pura-pura, dari godaan mereka dan dari birahi mereka yang telah ditundukkan. Mereka yang tidak mengindera ilusi perasaan asmara, hingga tingkat irealitas dan permainan, spiritualitas bahasa cinta yang mendendam dan ironis tidak dipengaruhi bahkan mampu untuk bercinta. Inteligensi yang sebenarnya tidak lain adalah intuisi terhadap ilusi universal ini, bahkan dalam natsu cintanya-di atas semua nafsu cinta — meskipun demikian tanpa nafsu yang terdistorsi dalam gerakannya yang alamiah. Bahkan wajah kita sendiri tidak mampu untuk mengidenti-fikasi karena simetrinya didistorsi oleh cermin. Makna apa yang kita berikan pada fakta bahwa sang Pencipta menciptakan manusia seperti ini sehingga mereka tidak bisa merenungkan wajah mereka sendiri?

Terhadap penglihatan ini, akankah kita jadi gila? Sudahkah manusia berkembang men-jadi satu bentuk di mana wajahnya tetap tak terlihat? Mungkin-kah capung atau serangga besar lain mengenali penampilan ke-pala mereka? Apakah wajah mereka begitu simetris sehingga pembalikan lewat cermin itu tidak penting, atau spesies lain begitu identik sehingga masalah keistimewaan ciri-ciri tidak perah menampilkan dirinya sendiri? Sementara bagi kita, wajah kita, bagian yang paling pribadi kita hanya eksis untuk yang lain. Kita tidak eksis kecuali

(6)

hanya untuk orang lain. Kita sendiri secara definitif tersembunyi dari diri kita sendiri, tak dapat didentifikasi, bukan hanya rahasia dari hati kita sendiri, tetapi rahasia dari wajah kita.

Sebaliknya, kita mengetahui wajah yang sebenarnya dari orang lain, kita memiliki rahasia orang lain.

Orang Lain adalah orang yang raha-sianya kita miliki, dan yang memiliki rahasia kita.

Merenungkan wajah kita adalah kegilaan, karena kita tidak akan punya lagi rahasia untuk diri kita sendiri, karenanya akan terhapus lewat transparansinya.Cermin tidak memberi saya penampilan yang sebenarydi Saya hanya mengetahui diriku lewat refleksi, seperti yang di dalam diri saya tidak akan pernah ada saya. Namun seperti nilah setiap objek, yang hanya berubah secara definitif, terma-suk pada layar di otak kita. Jadi semuanya menawarkan diri lanpa harapan menjadi apa pun selain dari ilusi terhadap dirtinya sendiri. Jadi baguslah seperti ini. Untunglah objek yang tampak untuk kita selalu sudah hilang. Yang menggembirakan lag, idak ada apa pun yang tampin pada kita dalam waktu yang sesungguhnya, tidak lagi selain sitang bintang di angi pada malam hari. Jika keepa ga-haya it tidak terbatas, maka seluruh bintang dalam aga yaya bie ada di siniestatas, madalam waktu yang sesungguhnya-dan kubah langit akan menjadi sebuah pijaran yang tidak bisa ditahan. Tidak ada lagi malam-siang akan abadi. Untunglah tidak ada yang terjadi dalam waktu yang sesungguhnya, kalau tidak kita akan ditundukkan, lewat informasi, sampai ke cahaya semua peristiwa dan yang ada ini akan menjadi pijaran yang tak tertahankan.

Untunglah kita tinggal dalam cara ilusi yang vital, dalam cara kealpaannya, dari suatu irealitas, sesuatu yang tidak segera. Untunglah segala sesuatu, dunia dan yang lain datang sudah berubah secara definitif. Untunglah tidak ada yang seketika, bersamaan, ataupun sezaman. Untunglah realitas itutidak terjadi. Syukurlah, kejahatan tidak pernah sempurna.

(7)

GPT (Indo)

1. Pendahuluan: Kejahatan Sempurna

 Konsep Kejahatan Sempurna: Bayangkan sebuah dunia tanpa cacat atau masalah apa pun, seperti kejahatan yang tidak pernah ditemukan.

 Kejahatan dan Ketidaksempurnaan: Kejahatan tidaklah lengkap karena dunia menunjukkan ketidaksempurnaannya melalui penampilan.

 Seniman dan Ciptaan yang Tidak Sempurna: Seniman mencerminkan ketidaksempurnaan dunia melalui ciptaannya.

2. Kisah John

 Keheningan John: Sampai dia berbicara pada usia 16 tahun, keheningan John melambangkan keberadaan yang sempurna.

 Memecah Keheningan: Ketika John berbicara, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan itu tidak nyata, dan dunia tidaklah sempurna.

3. Kelanjutan Kejahatan

 Kejahatan yang Tidak Lengkap: Kejahatan tidak sepenuhnya disadari karena konsekuensinya tidak dapat diprediksi dan berkelanjutan.

 Konsekuensi yang Tidak Dapat Diprediksi: Dampak kejahatan seperti momen-momen yang tidak dapat diprediksi setelah Big Bang.

4. Ilusi dan Realitas

 Ilusi Realitas: Bentuk material dunia bisa menipu, mendorong kita untuk mencari kebenaran.

 Mencari Kebenaran: Kita menginginkan kebenaran namun kesulitan untuk menemukannya, seperti keinginan Madonna untuk menampilkan ketelanjangan dalam sebuah film.

5. Teknis dan Ilusi

 Teknologi Maju: Kemajuan teknologi mengungkap ilusi realitas, membuat objek menjadi tidak berarti.

 Strategi Dunia: Teknologi mungkin merupakan cara dunia bersembunyi di balik ilusi.

6. Ironi dan Ilusi

 Ironi di Dunia Modern: Ironi mendominasi dunia kita, di mana objek mendefinisikan realitas dengan cara yang membingungkan.

 Dampak Periklanan dan Teknologi: Mereka berkontribusi pada ilusi realitas yang ironis.

7. Simbolisme dan Ilusi

 Seni dan Media: Hilang setelah diserap dan didistribusikan, tanpa meninggalkan jejak.

(8)

 Bahasa dan Ketidakbermaknaan: Bahasa dapat merepresentasikan ketiadaan, menjadi seperti benda yang tidak memiliki makna.

8. Misteri dan Ilusi

 Ketidakpastian Realitas: Misteri dan ilusi menyembunyikan rahasia dan realitas tidak pasti.

 Wajah Tak Dikenal: Wajah kita tetap menjadi misteri, hanya diketahui melalui refleksi dan orang lain.

9. Syukur atas Ketidaksempurnaan

 Realitas Tidak Sempurna: Ketidaksempurnaan memungkinkan kita hidup di dunia ilusi vital, di mana realitas tidak instan.

 Realitas Non-Instan: Ketidaksempurnaan adalah berkah, mencegah realitas menjadi berlebihan dan instan.

Referensi

Dokumen terkait