TUGAS MAKALAH
KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS KONSEP EPIDEMIOLOGI DAN KEPENDUDUKAN
DISUSUN OLEH:
Kelompok 2 / Kelas 5A
1. Samhana Fitria 1130022035
2. Elly Arnovi Ibrahim Mandjaw 1130022075 3. Aisha Safira Rahma 1130022083
4. Sania Fernanda 1130022141
DOSEN FASILITATOR:
Dr. Ima Nadatien, S.KM., M.Kes
PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2024
ii KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Komplementer al- Hijamah yang berjudul “Pengaruh Terapi Bekam terhadap Penyakit Ginjal” dapat selesai seperti waktu yang telah direncanakan.
Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari peran berbagai pihak yang memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dosen fasilitator mata kuliah Konsep Keperawatan Komunitas, Ibu Dr. Ima
Nadatien, S.KM., M.Kes
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada kami sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
3. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini dapat kami selesaikan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas budi baik yang tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang kami sebutkan di atas. Tak ada gading yang tak patah, untuk itu kami pun menyadari bahwa makalah yang telah penulis susun masih memiliki banyak kelemahan serta kekeliruan baik dari segi teknis maupun non teknis.
Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada seluruh pihak, agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Apabila dalam makalah ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati pembaca, mohon dimaafkan.
Penyusun sangat berharap agar makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi mahasiswa.
Surabaya, 13 September 2024
Penyusun Kelompok 2 / Kelas 5A
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB 1KONSEP EPIDEMIOLOGI ... 4
1.1 Konsep Dasar Epidemiologi ... 4
1.1.1 Pengertian ... 4
1.1.2 Tujuan Dan Manfaat ... 4
1.1.3 Ruang Lingkup ... 5
1.2 Metode Epidemiologi ... 5
1.3 Perubahan dan Perkembangan Pola Penyakit ... 7
1.4 Peran Perawat dalam Epidemiologi ... 8
1.5 Ringkasan ... 9
1.6 Latihan ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 10
BAB II KONSEP KEPENDUDUKAN ... 11
2.1 Konsep Dasar Kependudukan ... 11
2.1.1 Pengertian ... 11
2.1.2 Komponen Demografi ... 12
2.2 Kependudukan dan Kaitannya dengan Kesehatan ... 12
2.3 Masalah Kesehatan yang Lazim di Indonesia ... 13
2.4 Strategi Pencegahan Masalah Kesehatan ... 14
2.5 Ringkasan ... 17
2.6 Latihan ... 17
DAFTAR PUSTAKA ... 18
4 BAB 1
KONSEP EPIDEMIOLOGI
Deskripsi:
Bab ini membahas konsep dasar epidemiologi, mulai dari pengertian, tujuan, hingga metode yang digunakan dalam ilmu ini. Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari frekuensi, distribusi, dan determinan kesehatan dalam populasi manusia. Secara etimologis, epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu tentang penduduk, yang awalnya berfokus pada penyakit infeksi namun kini juga mencakup penyakit tidak menular. Dalam bab ini, juga akan dibahas metode epidemiologi yang terdiri dari deskriptif, analitik, dan eksperimen. Selanjutnya, bab ini mengeksplorasi perubahan pola penyakit dari infeksi ke penyakit degeneratif dan man-made diseases, serta peran penting perawat dalam epidemiologi, termasuk surveilans, screening and prevention, dan peran rehabilitatif.
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa mampu menjelaskan : 1. Konsep dasar epidemiologi
2. Metode epidemiologi
3. Perubahan dan perkembangan pola penyakit 4. Peran perawat dalam epidemiologi
1.1 KONSEP DASAR EPIDEMIOLOGI 1.1.1 Pengertian
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu : Epi = atas/pada, Demos = penduduk, dan Logos = ilmu, sehingga Epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Secara etimologis epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan peristiwa yang banyak terjadi pada rakyat, yakni penyakit dan kematian yang diakibatkannya yang disebut epidemi (Kartikaningrum et al., 2017).
Awalnya, istilah epidemiologi berarti studi tentang epidemi suatu penyakit, terutama penyakit infeksi/menular. Namun seiring perkembangan keilmuan modern, studi ini berkembang menjadi disiplin ilmu terapan dan pencegahan dasar serta pengobatan penyakit menular dan penyakit tidak menular pada lingkup klinis, sosial/masyarakat dan perilaku dengan metode observasional. Sehingga, epidemiologi modern mengakomodasi tiga elemen penting yaitu, penyakit, populasi dan pendekatan ekologi. Dengan demikian, definisi epidemiologi adalah studi tentang frekuensi, distribusi, dan determinan terkait kesehatan pada populasi manusia tertentu (Yuniarsih et al., 2023).
1.1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan epidemiologi adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, serta menyembuhkan dan merehabilitasi pasien. Manfaatnya meliputi:
1. Mengidentifikasi faktor penyebab penyakit dan memantau perubahan seiring waktu.
2. Mempelajari dan menjelaskan riwayat penyakit dan status kesehatan.
3. Menyediakan data untuk metodologi analisis, perencanaan program, dan keputusan kesehatan.
5 4. Menggambarkan masalah kesehatan dengan menjawab pertanyaan tentang
siapa, kapan, di mana, apa, dan bagaimana.
5. Mengarahkan intervensi untuk menangani masalah kesehatan.
6. Mengevaluasi program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.
1.1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup epidemiolgi dibedakan atas 3 sebagai berikut (Wahyuni, 2016):
1. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi.
Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit- penyakit saja, tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya masalah kelurga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan saranan kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.
2. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia.
Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehata, akan memanfaatkan data dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisa dan diketahui penyebabnya dilakukan upaya- upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.
3. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.
Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisa data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat . Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
1.2 METODE EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan frekuensi penyakit pada manusia, serta faktor risiko yang menyebabkan masalah kesehatan.
Dalam praktiknya, terdapat tiga metode utama dalam epidemiologi yang digunakan untuk menganalisis dan memahami kejadian penyakit (Alwi et al., 2023):
1. Epidemiologi Deskriptif
Epidemiologi deskriptif merupakan ilmu yang mempelajari tentang distribusi dan frekuensi masalah kesehatan masyarakat. Epidemiologi deskriptif menunjukkan besarnya masalah kesehatan dalam populasi atau kelompok masyarakat. Pada jenis epidemiologi ini dapat menjawab pertanyaan berupa who (siapa), where (dimana) dan when (kapan). Dari ketiga penyataan bentuk pertanyaan tersebut dapat diketahui adanya masalah kesehatan dengan mengetahui serta menjelaskan siapa yang terkena, dimana terjadinya penyakit atau masalah Kesehatan serta kapan terjadinya masalah tersebut.
2. Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik berbeda dari epidemiologi deskriptif. Pada epidemiologi analitik, fokusnya adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan masalah kesehatan. Sementara epidemiologi deskriptif hanya menjelaskan apa yang terjadi dan seberapa sering, epidemiologi analitik berusaha menjawab
6 pertanyaan "mengapa" atau apa penyebab di balik masalah kesehatan.
Misalnya, jika kita melihat bahwa banyak perokok menderita penyakit jantung, epidemiologi analitik akan menyelidiki apakah merokok adalah penyebab utama penyakit jantung tersebut.
Di dalam ilmu epidemiologi, terutama untuk penyakit tidak menular, terdapat berbagai faktor penyebab yang bisa mempengaruhi, seperti usia, jenis kelamin, pengetahuan, perilaku, dan faktor lainnya. Oleh karena itu, penelitian lebih mendalam diperlukan untuk memahami hubungan ini.
Manfaat dari epidemiologi analitik adalah untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antara faktor risiko dan masalah kesehatan. Jika analisis menunjukkan adanya hubungan, maka hipotesis dapat dikembangkan dan diuji untuk membuktikan hubungan tersebut. Sebaliknya, jika hipotesis menunjukkan tidak adanya hubungan, maka sebaiknya dilakukan observasi deskriptif terlebih dahulu sebelum melanjutkan dengan analisis yang lebih mendalam.
3. Epidemiologi Eksperimen
Epidemiologi eksperimen merupakan suatu pembuktian yang dilakukan untuk membuktikan suatu faktor risiko sebagai penyebab terjadinya masalah/penyakit dari suatu kelompok penduduk yang dipelajari. pembuktian yang dilakukan adalah dengan melakukan percobaan atau biasa disebut dengan eksperimen.
Percobaan yang dilakukan dapat berupa intervensi penyuluhan terhadap perubahan perilaku masyarakat atau dapat pula intervensi dalam bentuk suatu produk yang diujikan langsung ke masyarakat atau media perantara lainnya.
a. Observasional adalah jenis penelitian di mana peneliti tidak mengubah atau mempengaruhi subjek yang diteliti. Sebaliknya, mereka hanya mengamati atau mencatat apa yang terjadi. Biasanya, penelitian observasional dilakukan dengan survei, yang mengumpulkan data kuantitatif dari populasi atau sampel dengan cara mengajukan pertanyaan kepada responden. Data yang diperoleh memberikan gambaran numerik tentang berbagai aspek dari populasi yang diteliti.
b. Retrospektif adalah jenis penelitian yang melihat kembali kejadian-kejadian yang sudah terjadi di masa lalu. Tujuannya adalah untuk memahami faktor- faktor yang berhubungan dengan masalah atau kesehatan yang sedang dipelajari. Istilah "retrospektif" berasal dari bahasa Latin "retrospectare,"
yang berarti "melihat kembali."
c. Prospektif adalah penelitian yang bersifat longitudinal, di mana peneliti mengikuti perkembangan penyakit atau kondisi kesehatan seiring berjalannya waktu. Penelitian ini memantau perjalanan penyakit atau kondisi dari waktu ke waktu, dimulai dari saat penelitian dimulai dan berlanjut ke masa depan.
d. Eksperimental adalah jenis penelitian di mana peneliti mengendalikan dan memanipulasi satu atau lebih variabel independen untuk melihat bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi variabel-variabel lain yang terikat.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan efek dari manipulasi yang dilakukan. Eksperimen bisa dilakukan dalam bentuk uji klinik (di laboratorium) atau uji lapangan (di tempat nyata).
7 1.3 PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN POLA PENYAKIT
Yang dimaksud dengan transisi epidemiologi adalah perubahan pola kesehatan dan pola penyakit yang berinteraksi dengan demografi, ekonomi, dan sosial. Transisi epidemiologi berkaitan dengan transisi demografi, begitu juga dengan transisi teknologi. Misalnya pergantian dari penyakit infeksi ke penyatit man-made disease atau lifestyle disease. Pergeseran penyakit ini dapat dibuktikan dengan berubahnya pola penyakit penyebab kematian tertinggi antara tahun 1960, dengan wabah penyakit pneumonia, tuberkulosis, dan diare, dengan 1990 penyakit jantung, neoplasma, dan penyakit otak-pembuluh darah (Setyonaluri F., 2019).
Paparan yang cukup lengkap tentang transisi epidemiologi disampaikan oleh Omran (2005) dalam publikasi berjudul “The Epidemiologic Transition: A Theory of the Epidemiology of Population Change”. Transisi epidemiologi berjalan secara paralel/bersamaan dengan transisi demografis dan transisi teknologi di negara-negara berkembang. Dalam paparannya, Omran menyebutkan setidaknya 5 dalil yang perlu dipahami dalam transisi epidemiologi (Kaunang et al., 2020):
1. Angka kematian merupakan faktor penentu dalam dinamika kependudukan.
Hasil studi demografi membuktikan bahwa angka kematian menentukan perkembangan populasi suatu negara.
2. Selama transisi epidemiologi berlangsung, perubahan panjang terjadi pada angka kematian dan pola penyakit, dimana penyakit menular secara berangsur- angsur digantikan oleh penyakit degeneratif dan penyakit akibat manusia sebagai penyakit yang memiliki angka kesakitan tinggi dan sebagai penyebab utama kematian. Pola perubahan angka kematian penyakit dibedakan dalam tiga tahap :
a. Masa wabah sampar dan kelaparan (the age of pestilence and famine), yang ditandai dengan: Angka kematian tinggi dan berfluktuasi, yang akhirnya menghambat kelangsungan pertumbuhan penduduk; dan Angka harapan hidup rendah dan bervariasi, berkisar antara 20-40 tahun.
b. Masa penyusutan pandemi (the age of receding pandemics), yang ditandai dengan: Angka kematian berangsur turun, dan terjadi tingkat penurunan epidemik; Pertumbuhan penduduk terus berlangsung dan mulai terjadi pola eksponensial; dan Angka harapan hidup meningkat dan stabil pada usia 30- 50 tahun.
c. Masa penyakit degeneratif dan penyakit akibat ulah manusia (the age of degenerative and man-made disease), yang ditandai dengan: Angka kematian berlangsung turun dan terkadang stabil mendekati level terendah;
Angka harapan hidup meningkat secara bertahap hingga usia 50 tahun; dan Angka kesuburan (fertility) turut menjadi faktor krusial pada pertumbuhan penduduk.
3. Selama berlangsungnya transisi epidemiologi, perubahan pola kesehatan dan penyakit yang paling mendalam terjadi pada anak-anak dan wanita usia muda.
Hal ini kemungkinan disebabkan tingkat kerentanan kelompok ini paling tinggi terhadap penyakit infeksi dan penyakit defisiensi.
4. Perubahan pola sehat dan penyakit yang terjadi selama transisi epidemiologi berhubungan erat dengan transisi demografi dan transisi sosial-ekonomi.
Interaksi antara transisi epidemiologi dengan transisi demografis turut berkontribusi pada pertumbuhan penduduk. Penurunan angka kematian selama
8 transisi epidemiologi, memperlebar demographic gap (jarak demografis) antara tingkat kelahiran dengan tingkat kematian.
Interaksi antara transisi epidemiologi dengan transisi sosial-ekonomi berlangsung kompleks. Penurunan angka kematian dan angka kejadian penyakit menular cenderung akan menambah efaktivitas tenaga kerja yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas ekonomi.
5. Variasi yang khas pada pola, kecepatan, dan determinan penyakit, serta perubahan populasi, menghasilkan tiga model dasar transisi epidemiologi yaitu model klasik, model akselerasi, dan model kontemporer.
a. Model klasik (transisi klasik)
Disebut juga model transisi epidemiologi western/barat, terjadi di negaranegara Eropa Barat.
b. Model Akselerasi (transisi dipercepat)
Disebut juga model transisi epidemiologi yang dipercepat, terjadi di negara Jepang, Eropa Timur, dan Uni Sovyet.
c. Model Kontemporer (transisi tertunda/delayed)
Disebut juga model transisi epidemiologi yang tertunda, umumnya terjadi di negara-negara Amerika Latin, Afrika, Asia.
1.4 PERAN PERAWAT DALAM EPIDEMIOLOGI
Peran perawat dalam epidemiologi melibatkan kontribusi langsung dalam pencegahan, deteksi, dan pengelolaan penyakit, serta dalam penelitian yang mendukung kesehatan masyarakat.
1. Surveilans: Perawat terlibat dalam pengumpulan dan pemantauan data kesehatan masyarakat untuk mendeteksi, menganalisis, dan melaporkan kejadian penyakit. Perawat membantu dalam pengidentifikasian dan pelacakan wabah, serta memantau tren penyakit dalam populasi. Data yang dikumpulkan sering digunakan untuk merencanakan dan mengimplementasikan strategi pencegahan dan intervensi.
2. Screening and Prevention: Perawat melakukan skrining untuk mendeteksi penyakit pada tahap awal, terutama untuk kondisi yang dapat dicegah atau diobati lebih efektif jika ditemukan lebih awal. Perawat juga mendidik pasien dan komunitas tentang langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko penyakit, seperti vaksinasi, perubahan gaya hidup, dan praktik kesehatan yang baik.
3. Study Design and Measures of Association: Dalam penelitian epidemiologi, perawat dapat terlibat dalam merancang studi untuk mengevaluasi faktor risiko, efektivitas intervensi, dan hubungan antara berbagai variabel kesehatan.
Perawat berkontribusi dalam pengumpulan data, pengolahan, dan analisis untuk menentukan hubungan antara faktor risiko dan hasil kesehatan. Selain itu, perawat dapat membantu dalam interpretasi hasil dan menerapkan temuan penelitian dalam praktik klinis dan kebijakan kesehatan.
Dikutip dari Role of a Nurse in Epidemiology peran perawat dalam epidemiologi antara lain:
1. Peran Pencegahan
a. Mengidentifikasi sumber penularan dan cara penyebarannya.
b. Memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat luas.
9 c. Berkontribusi dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit kronis serta
non-infeksius.
d. Melaporkan kepada instansi kesehatan mengenai penyakit tertentu seperti campak, difteri, tetanus, dan lain-lain.
e. Merencanakan strategi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang baru muncul. Perawat yang bekerja di masyarakat sebagai bagian dari tim kesehatan turut serta dalam pengawasan pada semua tingkat, yang bergantung pada situasi, kesiapan, dan tingkat tempat mereka bekerja.
2. Peran Promosi Kesehatan
a. Dengan memanfaatkan pengetahuan epidemiologi, perawat dapat menentukan prioritas program kesehatan sesuai dengan kebutuhan kesehatan yang mendesak.
b. Menggunakan pengetahuan epidemiologi untuk membangun sumber daya kesehatan secara lebih efektif, dengan menekankan pada masalah kesehatan mendesak yang memerlukan perhatian khusus.
c. Merencanakan strategi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan baru. Perawat yang berada di masyarakat sebagai anggota tim kesehatan turut serta dalam pengawasan pada semua tingkat, yang bergantung pada situasi yang ada, kesiapan, dan tingkat tempat mereka bekerja.
3. Peran Kuratif
a. Perawat dapat menangani masalah kesehatan secara mandiri, terutama jika masalah tersebut adalah masalah keperawatan, penyakit ringan, atau kondisi kesehatan tertentu.
b. Perawat juga dapat berpartisipasi sebagai anggota tim dalam investigasi berskala besar, seperti epidemi.
c. Terlibat dalam pengumpulan data, analisis data, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
d. Melakukan diagnosis dan pengobatan dini.
4. Peran Rehabilitatif
a. Mengevaluasi efektivitas tindakan yang diambil untuk mengendalikan penyakit atau gangguan tertentu.
b. Membantu individu dalam proses pemulihan kehidupan keluarga dan sosial.
c. Berperan dalam rehabilitasi psikologis dengan mendukung pemulihan martabat pribadi dan kepercayaan diri seseorang.
1.5 RINGKASAN
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit dan kematian dalam populasi manusia. Secara etimologis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu tentang penduduk, yang kini meliputi studi tentang frekuensi, distribusi, dan determinan kesehatan pada populasi. Awalnya, epidemiologi berfokus pada penyakit infeksi, tetapi sekarang mencakup baik penyakit menular maupun tidak menular dengan pendekatan yang lebih luas, termasuk metode observasional dan pencegahan dasar.
Metode dalam epidemiologi dibagi menjadi tiga kategori utama:
epidemiologi deskriptif, analitik, dan eksperimen. Epidemiologi deskriptif mengidentifikasi distribusi dan frekuensi masalah kesehatan di populasi, sedangkan epidemiologi analitik menganalisis faktor-faktor penyebab masalah kesehatan dan menguji hipotesis tentang hubungan sebab-akibat. Epidemiologi eksperimen
10 melibatkan percobaan untuk membuktikan faktor risiko sebagai penyebab penyakit dan dapat mencakup berbagai jenis penelitian seperti observasional, retrospektif, prospektif, dan eksperimental.
Transisi epidemiologi menggambarkan perubahan pola penyakit dari infeksi ke penyakit degeneratif dan penyakit akibat gaya hidup seiring dengan perubahan demografi dan teknologi. Dalam tahap awal transisi, penyakit infeksi mendominasi dengan angka kematian tinggi. Seiring waktu, penyakit degeneratif dan penyakit yang terkait dengan gaya hidup modern menjadi lebih umum. Proses ini berbeda di berbagai wilayah dan ditandai dengan perubahan angka kematian, harapan hidup, dan pola penyakit yang berdampak pada kesehatan masyarakat.
Peran perawat dalam epidemiologi meliputi surveilans, skrining, dan pencegahan penyakit serta kontribusi dalam penelitian. Perawat membantu dalam pengumpulan data kesehatan, deteksi awal penyakit, dan perencanaan intervensi kesehatan. Mereka juga terlibat dalam merancang studi epidemiologi, mengidentifikasi faktor risiko, dan menerapkan temuan penelitian untuk praktik klinis dan kebijakan kesehatan.
1.6 LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan epidemiologi dan bagaimana definisinya telah berkembang seiring waktu?
2. Jelaskan perbedaan antara epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitik dalam hal metode dan tujuan penelitian.
3. Apa yang dimaksud dengan transisi epidemiologi dan bagaimana transisi ini mempengaruhi pola penyakit dari masa ke masa?
4. Apa peran perawat dalam epidemiologi dan bagaimana mereka berkontribusi dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit?
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, J., Sari, M. P., Adnyana, I. M. D. M., & Rustam, M. Z. A. (2023). Metode Penelitian Epidemiologi (Number 112). Media Sains Indonesia.
Kartikaningrum, E. D., Alberta, L. T., Puspitanngsih, D., & Kusuma, Y. L. H.
(2017). Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol 53, Number 9).
Kaunang, W., Kaheming, N., Talibo, R., & Kristania. (2020). Transisi Demografi dan Transisi Epidemiologi. 2012.
ROLE OF A NURSE IN EPIDEMIOLOGY ~ Nursing Path. (n.d.). Opgehaal 18 September 2024, van https://www.nursingpath.in/2020/03/role-of-nurse-in- epidemiology.html?m=1
Setyonaluri F., D. & A. (2019). Transisi demografi dan epidemiologi : permintaan pelayanan kesehatan di indonesia. In Kementrian PPN/Bappenas (Vol 1, Number July). https://doi.org/10.13140/RG.2.2.23355.44325
Wahyuni. (2016). Epidemiologi dan Demografi. In Penerbit Pustaka Hanif.
Penerbit Pustaka Hanif.
Yuniarsih, S. M., Umam, M. K., Syukrowardi, D. A., Paryono, Sukardin, Pratama, K. N., & Kusumawardan, L. H. (2023). Konsep Keperawatan Komunitas. In Konsep Keperawatan Komunitas.
11 BAB II
KONSEP KEPENDUDUKAN
Deskripsi:
Bab II membahas konsep kependudukan dan dampaknya terhadap kesehatan.
Materi ini menjelaskan definisi kependudukan yang mencakup berbagai aspek seperti jumlah, pertumbuhan, dan distribusi penduduk serta keterkaitannya dengan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, dibahas hubungan antara kependudukan dan kesehatan, menyoroti perbedaan akses fasilitas kesehatan antara penduduk kota dan desa, serta pengaruh kepadatan penduduk dan kemiskinan terhadap kondisi kesehatan. Materi ini juga mengidentifikasi masalah kesehatan yang umum di Indonesia, seperti penyakit infeksi dan tidak menular, dan menguraikan strategi pencegahan yang meliputi peningkatan sistem deteksi dini, edukasi kesehatan, dan perbaikan infrastruktur kesehatan.
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa mampu menjelaskan : 1. Konsep dasar kependudukan
2. Kependudukan dan kaitannya dengan kesehatan 3. Masalah kesehatan yang lazim di Indonesia
4. Strategi pencegahan masalah kesehatan karena masalah demografi kependudukan
2.1 KONSEP DASAR KEPENDUDUKAN 2.1.1 Pengertian
Definisi penduduk yaitu seseorang yang menempati suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Sedangkan kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan, yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan. Penduduk dan konsep kependudukan berkaitan erat dengan demografi (Kusumawardani & Azizah, 2021).
Secara etimologi kata Demografi berasal dari bahasa Latin, yang terdiri dari kata Demos, yang artinya rakyat/penduduk, Graphien, yang artinya catatan atau bahasan tentang sesuatu. Sehingga secara etimologi demografi dapat diartikan sebagai catatan atau bahasan mengenai penduduk suatu daerah pada waktu tertentu (Hutasoit, 2017 dalam Alma et al., 2019).
Demografi atau ilmu kependudukan merupakan salah satu cabang ilmu yang telah berkembang sejak 3 abad yang lalu, dimulai saat Jhon Graunt, seorang pedagang pakaian yang hidup pada abad ke-17 di London yang kemudian dianggap sebagai bapak Demografi. Graunt melakukan analisis data kelahiran dan kematian, dari hasil analisisnya dikemukakan batasan-batasan umum tentang kematian (mortality), kelahiran (fertility), migrasi dan perkawinan dalam hubungannya dengan proses kependudukan, di mana data tersebut diperoleh dari catatan kematian (Bills of Mortality) (Alma et al., 2019).
12 2.1.2 Komponen Demografi
Dari pengertian demografi yang telah di jelaskan, dapat dikatakan bahwa komponen-komponen yang berkaitan dengan demografi sebagai berikut (Suharto
& Mulawarman, 2020).
1. Kelahiran (fertilitas/natalitas)
Fertilitas ini berhubungan dengan kelahiran penduduk yang menyangkut jumlah bayi yang lahir hidup. Namun bisa juga, fertilitas diukur dari jumlah anak per- pasangan.
2. Kematian (mortalitas)
Mortalitas berkaitan erat dengan tingkat kematian penduduk yang ada pada suatu daerah/wilayah. Tidak semua kejadian kematian dicatat dalam demografi, seperti : jumlah keguguran dan "still birth" tidak dihitung sebagai suatu kematian.
3. Perpindahan/gerak penduduk (migrasi)
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Migrasi dapat bersifat internal (dalam negeri) maupun internasional (antar negara).
Migrasi mempengaruhi distribusi dan komposisi penduduk di suatu wilayah.
4. Pernikahan
Pernikahan merupakan faktor yang memengaruhi jumlah dan perubahan penduduk. Dengan bertambahanya angka pernikahan, maka akan berdampak pada kenaikan tingkat fertilitas.
5. Mobilitas sosial
Mobilitas sosial mengacu pada perubahan posisi seseorang atau kelompok dalam struktur sosial masyarakat, misalnya perubahan status pekerjaan, pendidikan, atau kelas sosial. Mobilitas sosial mempengaruhi komposisi penduduk berdasarkan karakteristik sosial ekonomi.
2.2 KEPENDUDUKAN DAN KAITANNYA DENGAN KESEHATAN
Dikutip dari jurnal Pengaruh Faktor Demografi dan Sosial Ekonomi terhadap Status Kesehatan Individu di Indonesia oleh Rakasiwi, 2021, terdapat beberapa poin yang menjelaskan kaitan antara kependudukan dan kesehatan:
1. Perbedaan antara Penduduk Kota dan Desa
Penduduk yang tinggal di kota memiliki akses yang lebih baik ke fasilitas kesehatan, sehingga mereka lebih sehat dibandingkan penduduk di desa.
Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di kota memiliki probabilitas lebih sehat sebesar 1,02% dibandingkan mereka yang tinggal di desa. Ketimpangan ini disebabkan oleh distribusi layanan kesehatan yang tidak merata. Puskesmas dan rumah sakit lebih banyak tersebar di perkotaan, sedangkan di pedesaan, fasilitas tersebut sangat terbatas.
2. Akses Fasilitas Kesehatan
Ketersediaan layanan kesehatan seperti puskesmas lebih banyak di kota besar, seperti DKI Jakarta, sementara provinsi seperti Papua dan Papua Barat memiliki jumlah puskesmas yang sangat sedikit. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015-2017 menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan di pedesaan lebih tinggi (5,09%) dibandingkan di perkotaan (4,24%), mencerminkan bahwa penduduk desa lebih rentan terhadap masalah kesehatan.
3. Tingkat Kemiskinan dan Kesehatan
13 Selain akses fasilitas, tingkat kemiskinan juga berperan dalam kesehatan penduduk. Masyarakat desa umumnya lebih miskin dibandingkan masyarakat kota, yang menyebabkan perbedaan dalam pola konsumsi gizi dan nutrisi, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Kepadatan penduduk yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkat kematian yang lebih tinggi. Kematian terjadi terutama akibat berbagai jenis kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan asma.
Sebaliknya, kejadian diabetes ditemukan berhubungan dengan kepadatan penduduk yang rendah. Selain pada fisik, kepadatan penduduk juga bisa memberi dampak pada kesehatan mental. Kepadatan yang lebih tinggi dapat menimbulkan stres dan isolasi sosial, yang sering dikaitkan dengan depresi dan gangguan kecemasan.
2.3 MASALAH KESEHATAN YANG LAZIM DI INDONESIA
Indonesia menghadapi berbagai masalah kesehatan yang kompleks, termasuk penyakit infeksi baru (new emerging), penyakit infeksi lama yang kembali (re-emerging), serta penyakit menular dan tidak menular .
1. Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging:
a. Definisi: Penyakit infeksi new emerging adalah penyakit infeksi baru yang belum pernah terdeteksi sebelumnya, seperti COVID-19. Sedangkan re- emerging adalah penyakit infeksi yang pernah ada dan sempat terkendali, tetapi muncul kembali dengan peningkatan kasus, seperti demam berdarah atau tuberkulosis.
b. Faktor-Faktor Penyebab di Indonesia:
1) Kepadatan Penduduk: Dengan populasi yang besar dan padat, terutama di perkotaan, penularan penyakit menular bisa terjadi dengan cepat.
2) Perubahan Ekologi dan Mobilitas Penduduk: Mobilitas tinggi, perubahan lingkungan, dan urbanisasi yang cepat memicu peningkatan risiko penyebaran penyakit baru dan penyakit lama yang kembali muncul.
3) Keterbatasan Sistem Kesehatan: Sistem kesehatan yang belum optimal di beberapa daerah, terutama dalam hal deteksi dini dan penanganan cepat, membuat Indonesia rentan terhadap munculnya penyakit infeksi baru atau kambuhnya penyakit lama.
2. Penyakit Menular:
a. Definisi: Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur yang dapat menyebar, baik secara langsung dari orang ke orang atau melalui vektor seperti nyamuk. Contohnya adalah tuberkulosis, malaria, dan demam berdarah.
b. Faktor-Faktor Penyebab di Indonesia:
1) Akses Terbatas ke Layanan Kesehatan: Banyak daerah di Indonesia, terutama di wilayah terpencil, memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan yang memadai, membuat penanganan penyakit menular menjadi sulit.
2) Kesadaran dan Edukasi Masyarakat yang Kurang: Banyak masyarakat yang kurang memahami pentingnya pencegahan, seperti vaksinasi, penggunaan obat dengan benar, serta kebersihan lingkungan.
14 3) Resistansi Obat: Beberapa penyakit menular, seperti tuberkulosis, menjadi lebih sulit diatasi karena adanya resistansi terhadap obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan.
3. Penyakit Tidak Menular (PTM):
a. Definisi: Penyakit tidak menular adalah penyakit kronis yang tidak disebabkan oleh infeksi, tetapi lebih kepada faktor gaya hidup, genetik, atau lingkungan. Contohnya adalah diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit jantung.
b. Faktor-Faktor Penyebab di Indonesia:
1) Gaya Hidup Tidak Sehat: Pola makan tinggi gula dan lemak, merokok, kurang aktivitas fisik, serta stres menjadi penyebab utama meningkatnya kasus PTM di Indonesia, terutama di daerah perkotaan.
2) Penuaan Populasi: Seiring bertambahnya usia, masyarakat Indonesia lebih rentan terhadap penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.
3) Kurangnya Fokus pada Pencegahan: Program pencegahan penyakit tidak menular belum menjadi prioritas utama. Banyak masyarakat tidak sadar akan pentingnya deteksi dini atau pengelolaan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi atau kadar gula darah yang meningkat.
Ketiga masalah kesehatan ini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan ganda: mengatasi penyakit menular yang belum sepenuhnya terkontrol, sembari menghadapi peningkatan signifikan penyakit tidak menular akibat perubahan gaya hidup dan demografi. Pendekatan multidimensional dan peningkatan infrastruktur kesehatan sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.
2.4 STRATEGI PENCEGAHAN MASALAH KESEHATAN KARENA MASALAH DEMOGRAFI KEPENDUDUKAN
Pendekatan multidimensional dan peningkatan infrastruktur kesehatan yang diperlukan untuk mengatasi tiga masalah kesehatan utama di Indonesia (penyakit infeksi new emerging dan re-emerging, penyakit menular yang belum teratasi, dan penyakit tidak menular yang cenderung meningkat) mencakup strategi-strategi berikut:
1. Pendekatan Multidimensional
Pendekatan ini melibatkan berbagai sektor, baik dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi, hingga lingkungan, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pendekatan ini bisa dijabarkan melalui beberapa langkah:
a. Peningkatan Sistem Pencegahan dan Deteksi Dini 1) Penguatan sistem surveilans kesehatan
Melakukan pemantauan terus-menerus terhadap penyakit-penyakit menular dan tidak menular dengan data real-time, termasuk meningkatkan kapasitas laboratorium dan penggunaan teknologi informasi dalam melacak penyebaran penyakit.
2) Program imunisasi yang lebih luas
Memastikan cakupan vaksinasi tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga program vaksinasi dewasa (misalnya, vaksin untuk COVID-19 atau influenza), sehingga perlindungan masyarakat terhadap penyakit infeksi menjadi lebih baik.
3) Screening dan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM)
15 Penerapan skrining massal untuk penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit jantung melalui fasilitas kesehatan primer untuk mendeteksi masalah kesehatan sejak dini sebelum menjadi lebih parah.
b. Edukasi Kesehatan yang Terpadu
1) Peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat
Melakukan kampanye edukasi besar-besaran yang melibatkan pemerintah, LSM, dan sektor swasta, melalui berbagai media seperti TV, radio, internet, dan program di masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat, kebersihan lingkungan, dan pencegahan penyakit menular.
2) Edukasi di sekolah dan komunitas
Menanamkan kesadaran tentang pentingnya pola hidup sehat sejak usia dini melalui program edukasi di sekolah dan komunitas. Penekanan diberikan pada pengendalian risiko penyakit tidak menular (seperti pentingnya olahraga, diet seimbang, tidak merokok) dan kebersihan yang baik untuk mencegah penyakit menular.
c. Kolaborasi Antarsektor (Pendekatan “One Health”)
1) Kerjasama lintas sektor antara kesehatan, lingkungan, dan pertanian Pendekatan "One Health" melihat bahwa kesehatan manusia terkait erat dengan kesehatan hewan dan lingkungan. Dengan demikian, pengendalian penyakit zoonosis (penyakit yang berasal dari hewan) seperti COVID-19, atau pengelolaan vektor (seperti nyamuk pembawa malaria atau demam berdarah) harus melibatkan kerjasama lintas sektor.
2) Penanganan faktor lingkungan
Mendorong kebijakan yang terkait dengan sanitasi lingkungan, akses air bersih, dan pengelolaan limbah untuk mencegah penyebaran penyakit menular yang disebabkan oleh kondisi lingkungan buruk.
d. Penguatan Regulasi dan Kebijakan Kesehatan 1) Kebijakan anti-rokok yang lebih ketat
Menerapkan regulasi yang lebih ketat tentang penggunaan tembakau untuk menurunkan angka kejadian PTM, seperti kanker paru dan penyakit jantung. Ini bisa mencakup pembatasan iklan rokok, pelarangan merokok di area publik, dan peningkatan pajak rokok.
2) Regulasi akses pangan sehat
Pemerintah bisa mendorong kebijakan yang memperkuat akses ke makanan sehat dan mengurangi konsumsi makanan olahan yang tinggi lemak, gula, dan garam yang berkontribusi terhadap kenaikan PTM.
2. Peningkatan Infrastruktur Kesehatan
Meningkatkan kapasitas infrastruktur kesehatan meliputi pengembangan fasilitas kesehatan, teknologi, dan sumber daya manusia yang mendukung pelayanan kesehatan yang lebih baik. Beberapa hal yang perlu dilakukan:
a. Peningkatan Akses ke Layanan Kesehatan
1) Membangun dan memperbaiki fasilitas kesehatan di daerah terpencil Membangun Puskesmas, klinik, dan rumah sakit di daerah-daerah yang sulit dijangkau, serta meningkatkan sarana transportasi untuk memudahkan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan.
2) Pengembangan telemedicine
16 Mengadopsi teknologi telemedicine untuk memberikan pelayanan kesehatan jarak jauh, terutama di daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh dokter spesialis atau fasilitas kesehatan yang memadai. Ini sangat penting untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan dan melakukan konsultasi bagi pasien PTM dan penyakit menular tanpa harus datang langsung ke rumah sakit.
b. Penguatan Tenaga Kesehatan
1) Pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan
Memberikan pelatihan khusus kepada tenaga kesehatan, termasuk dokter, perawat, dan tenaga paramedis, tentang penanganan penyakit menular baru, resistensi obat, serta manajemen penyakit tidak menular.
Tenaga kesehatan juga harus dilatih untuk merespon dengan cepat dalam situasi darurat kesehatan, seperti pandemi.
2) Distribusi tenaga kesehatan yang merata
Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendorong distribusi tenaga kesehatan yang lebih merata ke seluruh daerah, terutama daerah terpencil dan tertinggal, untuk memastikan semua warga negara memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.
c. Penggunaan Teknologi Kesehatan Modern 1) Investasi dalam teknologi kesehatan
Pengembangan laboratorium modern untuk mendeteksi dan menganalisis penyakit secara cepat, termasuk teknologi untuk diagnosis dini PTM, seperti MRI, CT scan, atau alat skrining massal lainnya.
2) Sistem manajemen informasi kesehatan
Membuat sistem informasi kesehatan yang terintegrasi antar fasilitas kesehatan, sehingga rekam medis pasien dapat diakses dengan mudah di seluruh layanan kesehatan. Hal ini dapat mempercepat diagnosis dan pengobatan, serta mencegah terjadinya kesalahan medis.
d. Pendanaan yang Berkelanjutan
1) Peningkatan alokasi anggaran untuk kesehatan
Pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran untuk sektor kesehatan, baik dalam pengembangan fasilitas, teknologi, maupun sumber daya manusia. Anggaran ini juga harus diarahkan untuk program preventif dan promotif, bukan hanya kuratif.
2) Kerjasama dengan sektor swasta
Pemerintah juga dapat menggandeng sektor swasta untuk berinvestasi dalam infrastruktur kesehatan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) atau model kemitraan publik-swasta (public-private partnership).
3. Monitoring dan Evaluasi
a. Pemantauan berkala program kesehatan
Menilai efektivitas kebijakan, regulasi, dan program yang telah dijalankan melalui monitoring dan evaluasi berkala. Ini dapat membantu pemerintah mengidentifikasi apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.
b. Masyarakat terlibat dalam pengawasan kesehatan
17 Memungkinkan masyarakat terlibat dalam pengawasan program kesehatan melalui forum komunitas atau aplikasi pelaporan sehingga ada umpan balik langsung tentang kualitas layanan kesehatan.
Dengan mengadopsi pendekatan multidimensional dan peningkatan infrastruktur kesehatan yang komprehensif, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan besar dalam mengatasi penyakit infeksi, menular, dan tidak menular yang terus berkembang.
2.5 RINGKASAN
Penduduk adalah individu yang tinggal di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, dan konsep kependudukan mencakup jumlah, pertumbuhan, persebaran, serta aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Demografi, sebagai ilmu yang mempelajari penduduk, mulai berkembang sejak abad ke-17 ketika Jhon Graunt melakukan analisis data kelahiran dan kematian. Demografi mencakup kelahiran, kematian, migrasi, dan pernikahan yang memengaruhi dinamika kependudukan.
Ada ketimpangan akses kesehatan antara penduduk kota dan desa, di mana penduduk kota memiliki akses lebih baik terhadap fasilitas kesehatan. Faktor-faktor seperti distribusi layanan kesehatan yang tidak merata dan tingkat kemiskinan berperan dalam perbedaan kondisi kesehatan di kedua wilayah. Selain itu, kepadatan penduduk juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik, dengan kondisi perumahan yang buruk turut memengaruhi kualitas kesehatan.
Indonesia menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks, termasuk penyakit infeksi baru (new emerging) dan yang kembali muncul (re-emerging), serta penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis dan demam berdarah lebih rentan menyebar di daerah dengan akses kesehatan terbatas, sementara penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi meningkat karena pola hidup yang kurang sehat dan populasi yang menua.
Strategi pencegahan masalah kesehatan di Indonesia melibatkan pendekatan multidimensional yang mencakup peningkatan sistem deteksi dini, edukasi kesehatan, dan kerjasama lintas sektor. Selain itu, peningkatan infrastruktur kesehatan melalui pengembangan fasilitas, telemedicine, dan pelatihan tenaga kesehatan juga diperlukan. Pemerintah perlu memonitor efektivitas program kesehatan secara berkala dan melibatkan masyarakat dalam pengawasan layanan kesehatan.
2.6 LATIHAN
1. Apa saja komponen utama dalam demografi dan bagaimana masing-masing komponen tersebut mempengaruhi dinamika kependudukan?
2. Bagaimana perbedaan akses fasilitas kesehatan antara penduduk kota dan desa mempengaruhi kesehatan masyarakat di Indonesia?
3. Apa dampak kepadatan penduduk terhadap kesehatan?
4. Apa saja strategi pencegahan yang direkomendasikan untuk mengatasi masalah kesehatan yang timbul akibat masalah demografi kependudukan di Indonesia?
5. Apa peran demografi dalam menentukan strategi kesehatan masyarakat di Indonesia?
18 DAFTAR PUSTAKA
Alma, L. R., Km, S., & Ph, M. (2019). Ilmu Kependudukan. Ilmu Kependudukan, 1, 4–56.
Kusumawardani, P. A., & Azizah, N. (2021). Konsep Kependudukan dan KIE Dalam Pelayanan KB. In Umsida Press (Vol 185, Number 1).
Rakasiwi, L. S. (2021). Pengaruh Faktor Demografi dan Sosial Ekonomi terhadap Status Kesehatan Individu di Indonesia. Kajian Ekonomi dan Keuangan, 5(2), 146–157. https://doi.org/10.31685/kek.v5i2.1008
Setyonaluri F., D. & A. (2019). Transisi demografi dan epidemiologi : permintaan pelayanan kesehatan di indonesia. In Kementrian PPN/Bappenas (Vol 1, Number July). https://doi.org/10.13140/RG.2.2.23355.44325
Suharto, R. B., & Mulawarman, U. (2020). Buku Teori Kependudukan (Number December). Pustaka Horizon.
Wahyuni. (2016). Epidemiologi dan Demografi. In Penerbit Pustaka Hanif.
Penerbit Pustaka Hanif.