LAPORAN TEAM BASED PROJECT ELEKTRONIKA SEMESTER 117
“ANALISIS TRANSISTOR BJT SEBAGAI RANGKAIAN PENGUAT COMMON EMITTER”
KELOMPOK : 7
ANGGOTA : - Adinda Salsabila Khansa (1306621041)
- Shak Rhuk Khan (1306621042)
- Rizky Supriyadi (1306621070)
DOSEN PENGAMPU : Dr. Widyaningrum Indrasari, M.Si.
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2022
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 2
DAFTAR GAMBAR ... 3
DAFTAR TABEL ... 3
BAB I ... 4
PENDAHULUAN ... 4
A. LATAR BELAKANG... 4
B. TUJUAN ... 5
BAB II ... 6
KAJIAN PUSTAKA ... 6
BAB III ... 8
METODOLOGI ... 8
A. METODE ... 8
B. ALAT DAN BAHAN ... 8
C. GAMBAR RANGKAIAN ... 9
D. CARA KERJA ... 9
BAB IV ... 11
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11
BAB V ... 20
KESIMPULAN ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 21
LAMPIRAN ... 22
DAFTAR GAMBAR
Figure 1. Rangkaian Pembiasan Transistor NPN dan PNP ... 6
Figure 2. Transistor ... 7
Figure 3. Rangkaian Utama Penguat Common Emitter ... 9
Figure 4. Rangkaian Setara DC ... 9
Figure 5. Percobaan Pertama pada Rangkaian setara DC ... 12
Figure 6. Percobaan Kedua pada Rangkaian setara DC ... 12
Figure 7. Percobaan Ketiga pada Rangkaian setara DC ... 13
Figure 8. Percobaan Keempat pada Rangkaian setara DC ... 13
Figure 9. Percobaan Kelima pada Rangkaian setara DC ... 14
DAFTAR TABEL Table 1. Data Komponen Rangkaian ... 11
Table 2. Hasil Perhitungan menggunakan Multisim ... 15
Table 3. Hasil Perhitungan VCE ... 16
Table 4. Mencari Nilai Variabel Persamaan Garis ... 17
Table 5. Menghitung Persamaan Garis ... 17
Table 6. Hasil Grafik Sinyal Input Rangkaian menggunakan Multisim ... 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam perancangan sebuah sistem elektronika, diperlukan beberapa alat yang digunakan agar alat tersebut dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu bentuk perangkat tersebut adalah transistor. Alat ini merupakan alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat atau selektor yang memiliki tiga terminal. Dimana tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui dua terminal lainnya. Transistor juga umumnya digunakan sebagai penguat arus pada rangkaian power supply regulator.
Transistor menjadi salah satu komponen yang penting dalam suatu rangkaian elektronika karena beragam fungsinya. Karena pada sebagian besar komponen rangkaian elektronika memiliki transistor maka dari itu seorang yang mempelajari ilmu elektronika harus terlebih dahulu mempelajari komponen-komponen elektronika, salah satunya adalah transistor. Transistor juga merupakan salah satu komponen semikonduktor yang terdiri atas susunan material semikondur tipe-n dan tipe-p pada tiga daerah dopingnya.
Transistor Bipolar (BJT) merupakan transistor yang memiliki dua kutub dan jenis transistor yang sering kita temukan dan digunakan pada rangkaian elektronika.
Jenis-Jenis Transistor ini terbagi menjadi 3 bagian lapisan material semikonduktor yang terdiri dari dua formasi lapisan yaitu lapisan P-N-P (PositifNegatif-Positif) dan lapisan N-P-N (Negatif-Positif-Negatif).
Pada transistor BJT (bipolar) terdapat susunan material yang dibedakan menjadi 2, diantaranya transistor NPN dan PNP. NPN mengalirkan arus negatif dari emitor menuju ke kolektor, sedangkan PNP mengalirkan arus positif dari emitor menuju kolektor. Terdapat 3 jenis tipe penguatan yang dapat diberikan oleh transistor, antara lain common emitter (CE), common collector (CC), dan common base (CB).
Transistor berfungsi sebagai penguat, dan dalam penggunaannya yang lain transistor juga memiliki fungsi sebagai saklar dengan memanfaatkan daerah penjenuhan (saturasi) dan daerah penyumbatan (cut-off) ketika transistor bekerja.
Pada daerah saturasi, nilai resistansi penyambungan kolektor emitter secara ideal sama dengan nol atau dapat dikatakan bahwa kolektor terhubung langsung (short).
Hal tersebut menyebabkan tegangan kolektor emitter (Vce = 0) ketika keadaan ideal. Pada daerah cut-off, nilai resistansi persambungan kolektor emitter secara ideal sama dengan tak terhingga atau terminal kolektor dan emitter terbuka.
Pada common emitter, ground dihubungkan ke emitor dan memiliki impedansi yang cukup tinggi, impedansi keluaran yang dimiliki juga cukup tinggi dengan penguatan yang tinggi. Karakterisitik pada common emitter adalah sinyal ouput yang dimiliki terbalik 180°, digunakan pada frekuensi rendah, dan stabilitas penguatan rendah.
Rangkaian common emitter merupakan rangkaian Bipolar Junction Transistor (BJT) yang menggunakan terminal emitter sebagai terminal bersama yang terhubung ke ground, sedangkan terminal masukan dan keluarannya masing- masing terletak pada terminal basis dan terminal collector. Rangkaian penguat Common-Emitter ialah rangkaian yang paling umum digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitude dari sinyal masukan. Faktor penguatan dari transistor dilambangkan dengan symbol beta (β). Rangkaian Common-Emitter dapat dibagi menjadi rangkian Fixed bias, voltage divider bias dan emiter bias.
Pada laporan kali ini, kelompok kami akan menghitung dan menganalisis pengaruh rangkaian penguat dan membuat rangkaian penguat menggunakan aplikasi multisim. Percobaan yang kami lakukan berjudul “Analisis Transistor BJT Sebagai Rangkaian Penguat Common Emitter” memiliki beberapa hasil yang akan didapatkan, diantaranya nilai 𝐼𝐶, 𝑉𝐶𝐸, grafik input rangkaian, dan grafik hubungan antara nilai 𝐼𝐶 𝑑𝑎𝑛 𝑉𝐶𝐸.
B. TUJUAN
1. Menentukan karakteristik rangkaian emitter sebagai penguat transistor.
2. Mencari nilai arus Ic
3. Menentukan nilai 𝑉𝐶𝐸 dari beberapa percobaan dengan menggunakan komponen elektronika yang berbeda.
4. Membuat hubungan grafik antara 𝑉𝐶𝐸 terhadap Ic
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Transistor merupakan komponen semi konduktor yang memiliki fungsi sebagai penguat, saklar (switching), stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal. Transistor yang bekerja berdasarkan arus inputnya disebut transistor jenis Bipolar Junction Transistor (BJT). Transistor BJT merupakan komponen semikonduktor yang terdiri atas sebuah bahan tipe P dan diapit oleh dua bahan tipe N (Transistor NPN) atau terdiri atas sebuah bahan tipe N dan diapit oleh bahan tipe P (Transistor PNP) (Sugijono, 2020).
Transistor tersusun dari bahan semi konduktor yang memiliki 3 kaki, yaitu basis, kolektor, dan emitor. Terdapat dua tipe transistor yang telah disebutkan di atas, diantaranya transisitor NPN dan PNP. Untuk transistor NPN, tegangan bias pada basis harus lebih positif dari emitor. Sedangkan, transistor PNP, tegangan bias pada basis harus lebih negatif dari emitor. Semakin tinggi arus bias pada basis, maka transistor semakin jenuh dan tegangan kolektor-emitor (VCE) semakin rendah.
Figure 1. Rangkaian Pembiasan Transistor NPN dan PNP
Gambar bagian kiri merupakan transistor jenis NPN, jadi tegangan bias pada basis (Vbb) harus lebih positif dari emitor (Vee). Dalam memudahkan maka Vcc ditulis dengan +Vcc dan Vee ditulis dengan -Vee. Dan pada gambar bagian kanan merupakan transistor jenis PNP, jadi tegangan bias pada basis Vbb harus lebih negatif dari emitor (Vee) (Darmana & Koerniawan, 2018).
Common Emitter merupakan penguat yang kaki emitornya di ground-kan atau ditanahkan, kemudian input dimasukkan ke basis dan output diambil dari kaki kolektor.
Penguat Common Emitter memiliki karakter sebagai penguat tegangan. Terdapat suatu hubungan matematis antara besarnya arus collector (IC), arus basis (IB), dan arus emitter (𝐼𝐸), yaitu beta (𝛽), di mana beta merupakan besar penguatan arus DC untuk common emitter, sedangkan alpha (𝛼) merupakan besar penguatan arus untuk common basis.
Hubungan matematis dapat ditunjukkan dalam persamaan berikut:
𝛽 = 𝐼𝐶
𝐼𝐵 𝑑𝑎𝑛 𝛼 =𝐼𝐶 𝐼𝐸
Dari persamaan diatas, maka diperoleh hubungan matematis antara 𝛼 𝑑𝑎𝑛 𝛽 adalah,
Figure 2. Transistor
𝐼𝐸 = 𝐼𝐶+ 𝐼𝐵 𝑉𝐶𝐸 = −𝑉𝐵𝐶+ 𝑉𝐵𝐸
𝛽 = 𝛼
1−𝛼 𝑑𝑎𝑛 𝛼 = 𝛽
𝛽+1 (Debataraja, et al., 2011)
Rangkaian penguat merupakan rangkaian elektronika yang digunakan untuk menguatkan daya. Rangkaian elektronika penguat memiliki fungsi sebagai penguat signal arus dan tegangan listrik dari inputnya sehingga menjadi arus listrik dan tegangan yang lebih besar pada outputnya. Rangkaian penguat juga merupakan perangkat yang sebagian kecil banyak menggunakan sejumlah energi yang dihasilkan (Darlis, et al., 2017).
Rangkaian penguat memiliki kemampuan untuk meningkatkan besar nilai dari sebuah sinyal masukkan sehingga nilai sinyal keluaran bernilai lebih besar daripada sinyal masukkan tersebut. Perbandingan antara sinyal masukkan tersebut dinyatakan sebagai besarnya nilai 7 penguatan (gain) yang dapat diperoleh dari suatu penguat (amplfier) dan disimbolkan dengan A (Sidqi, 2018)
BAB III METODOLOGI A. METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dalam mengumpulkan data-data penelitian. Metode penelitian kuantitatif adalah sebuah metode penelitian yang menggunakan pendekatan kalkulasi angka-angka (numeric) (Mathar, 2013).
B. ALAT DAN BAHAN Rangkaian Utama:
1. Transistor
2. Power Sources (Vcc) 10.0 V 3. Ground
4. Resistor (R)
• Percobaan 1: R1 = 9 kΩ; R2 = 11 kΩ; RC = 300 Ω; RE = 400 Ω, RL = 5 kΩ
• Percobaan 2: R1 = 14 kΩ; R2 = 16 kΩ; RC = 400 Ω; RE = 400 Ω, RL = 10 kΩ
• Percobaan 3: R1 = 19 kΩ; R2 = 21 kΩ; RC = 500 Ω; RE = 400 Ω, RL = 15 kΩ
• Percobaan 4: R1 = 24 kΩ; R2 = 26 kΩ; RC = 600 Ω; RE = 400 Ω, RL = 20 kΩ
• Percobaan 5: R1 = 29 kΩ; R2 = 31 kΩ; RC = 700 Ω; RE = 400 Ω, RL = 25 kΩ
5. Kapasitor (C) 10 μF 6. AC Power
• Percobaan 1: 20 Vrms
• Percobaan 2: 40 Vrms
• Percobaan 3: 60 Vrms
• Percobaan 4: 80 Vrms
• Percobaan 5: 100 Vrms 7. Osiloskop
C. GAMBAR RANGKAIAN
Figure 3. Rangkaian Utama Penguat Common Emitter
Figure 4. Rangkaian Setara DC
D. CARA KERJA Rangkaian Utama:
1. Mencari element Transistor di bagian basic.
2. Mencari tiga Kapasitor di bagian basic.
3. Mencari enam Resistor di bagian basic.
4. Mencari AC Power di bagian sources.
5. Mencari Power Sources (Vcc) dibagian sources.
6. Menghubungkan power sources (Vcc) pada resistor ketiga.
7. Menghubungkan resistor ketiga pada transistor.
8. Menghubungkan transistor ke resistor keempat.
9. Menghubungkan resistor pertama diantara power sources (Vcc) dengan resistor ketiga.
10. Menghubungkan resistor keempat pada resistor kedua.
11. Menghubungkan resistor pertama pada resistor kedua.
12. Menghubungkan transistor diantara resistor pertama dengan resistor kedua.
13. Menghubungkan kapasitor kedua diantara resistor pertama dengan transistor.
14. Menghubungkan resistor kelima dengan kapasitor kedua dan ground.
15. Menghubungkan resistor diantara kapasitor pertama dengan AC power.
16. Menghubungkan kapasitor pertama diantara resistor pertama dengan resistor keempat.
17. Menghubungkan kapasitor ketiga diantara transistor dengan resistor keempat dan ground.
18. Menghubungkan channel A positif osiloskop diantara kapasitor ketiga dengan resistor kelima.
19. Menghubungkan channel A negatif osiloskop pada ground.
20. Menghubungkan channel B positif diantara kapasitor pertama dengan AC power.
21. Menghubungkan channel B negatif osiloskop pada ground.
Rangkaian Setara DC:
1. Mencari empat resistor dibagian basic 2. Mencari element transistor dibagian basic 3. Mencari power sources (Vcc) dibagian sources 4. Menghubungan Vcc dengan RC
5. Menghubungan RC pada transistor 6. Menghubungan transistor ke RE 7. Menghubungan RE dengan Ground 8. Menghubungkan Vcc dengan R1
9. Menghubungkan Transistor antara R1 dan R2 10. Menghubungkan R2 dengan Ground
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam laporan project kali ini, kami mengambil judul “Analisis Transistor Bjt Sebagai Rangkaian Penguat Common Emitter” dengan tujuan untuk mencari nilai Ic, hubungan grafik antara besarnya resistor dengan Ic, menentukan nilai 𝑉𝐶𝐸 dari beberapa percobaan dengan menggunakan komponen elektronika yang berbeda, dan lain sebagainya. Rangkaian penguat emitter gabungan merupakan BJT dengan jenis NPN dengan konfigurasi emitter gabungan dengan ciri yang dimiliki, yaitu output rangkaian penguat diletakkan pada terminal collector. Dari rangkaian yang kami buat, menunjukkan bahwasanya rangkaian penguat emitter gabungan digunakan sebagai penguat tegangan,
Transistor dalam aplikasi dasarnya merupakan sebagai switching dan amplifier.
Switching adalah suatu alat dengan sambungan dan dapat memiliki dua keadaan, yaitu keadaan on dan keadaan off. Keadaan off adalah keadaan dimana tidak ada arus yang mengalir. Sementara itu keadaan on adalah keadaan yang mana arus bisa mengalir dengan bebas. Sedangkan istilah amplifier pada dasarnya membuat sesuatu menjadi lebih kuat.
Dalam mencari pengaruh besar nilai resistor terhadap rangkaian, diperlukan beberapa komponen resistor dengan nilai yang berbeda dan sumber tegangan yang berbeda juga. Untuk data-data tersebut sebagai berikut.
No Vin R1 (kΩ) R2 (kΩ) RC (Ω) VCC (V) RE (Ω) RL (kΩ)
1 20 9 11 300 10 400 5
2 40 14 16 400 10 400 10
3 60 19 21 500 10 400 15
4 80 24 26 600 10 400 20
5 100 29 31 700 10 400 25
Table 1. Data Komponen Rangkaian
Dari tabel di atas, kita dapat mencari nilai Ic dan membandingkannya dengan nilai Ic dalam menggunakan Multisim. Sebelum mendapatkan nilainya, kita harus terlebih dahulu membuat rangkaian tersebut setara dengan DC, yang dimana kapasitor dianggap open circuit (Untuk menganalisis DC pada penguat emitter gabungan kita dapat melakukan dengan mengeliminasikan sumber arus dan membuka kapasitor pada
rangkaian hingga tidak menghubungkan sumber dan tidak menghubungan bypass pada resistor disekitar transistor). Rangkaian tersebut menjadi sebagai berikut.
Setelah membuat rangkain menjadi setara DC, maka dapat dihitung nilai Ic nya.
1. Rangkaian pertama
Figure 5. Percobaan Pertama pada Rangkaian setara DC
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1× 𝑉𝐶𝐶 = 11000
11000 + 9000× 10 = 5,5 𝑉 𝐼𝐸 =𝑉𝐵𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸 =5,5 − 0,7
400 = 0,012 𝐴 = 12 𝑚𝐴 2. Rangkaian kedua
Figure 6. Percobaan Kedua pada Rangkaian setara DC
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1× 𝑉𝐶𝐶 = 16000
16000 + 14000× 10 = 5,3 𝑉 𝐼𝐸 =𝑉𝐵𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸 =5,3 − 0,7
400 = 0,0115 𝐴 = 11,5 𝑚𝐴 3. Rangkaian Ketiga
Figure 7. Percobaan Ketiga pada Rangkaian setara DC
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1× 𝑉𝐶𝐶 = 21000
21000 + 19000× 10 = 5,25 𝑉 𝐼𝐸 =𝑉𝐵𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸 =5,25 − 0,7
400 = 0,011375 𝐴 = 11,375 𝑚𝐴 4. Rangkaian Keempat
Figure 8. Percobaan Keempat pada Rangkaian setara DC
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1× 𝑉𝐶𝐶
= 26000
26000 + 24000× 10 = 5,2 𝑉 𝐼𝐸 =𝑉𝐵𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸 =5,2 − 0,7
400 = 0,01125 𝐴 = 11,25 𝑚𝐴 5. Rangkaian Kelima
Figure 9. Percobaan Kelima pada Rangkaian setara DC
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1× 𝑉𝐶𝐶 = 31000
31000 + 29000× 10 = 5,16 𝑉 𝐼𝐸 =𝑉𝐵𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸 =5,16 − 0,7
400 = 0,01115 𝐴 = 11,15 𝑚𝐴
Dari perhitungan di atas, dapat dibandingkan dengan nilai yang didapatkan melalui percobaan Multisim
No. Perhitungan (mA) Multisim
1. 12
2. 11,5
3. 11,375
4. 11,25
5. 11,15
Table 2. Hasil Perhitungan menggunakan Multisim
Dari percobaan yang telah dilakukan di atas, nilai yang didapatkan dari perhitungan dan multisim terdapat perbedaan. Hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor, seperti dalam perhitungan, kami tidak mengambil sepenuhnya angka dibelakang koma, dalam menggunakan multisim kemungkinan terdapat beberapa error yang terjadi di komponen, dan sesuai konsep bahwasanya nilai Ic bukan sama dengan 𝐼𝐸, tetapi hampir sama dengan 𝐼𝐸, serta faktor-faktor lainnya.
Setelah didapatkan nilai Ic atau 𝐼𝐸, maka dapat dicari nilai 𝑉𝐶𝐸 yang dimana kedua variabel tersebut berhubungan, Untuk nilai 𝑉𝐶𝐸 sebagai berikut
No. Ic (A) 𝑉𝐶𝐸 (V)
1. 0,012
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶 − 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝑉𝐶𝐸 = 10 − 0,012(400 − 300)
𝑉𝐶𝐸 = 8,8
2. 0,0115
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶 − 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝑉𝐶𝐸 = 10 − 0,0115(400 − 400)
𝑉𝐶𝐸 = 10
3. 0,011375
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶 − 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝑉𝐶𝐸 = 10 − 0,011375(400 − 500)
𝑉𝐶𝐸 = 11,1375
4. 0,01125
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶 − 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝑉𝐶𝐸 = 10 − 0,01125(400 − 600)
𝑉𝐶𝐸 = 12,25
5. 0,01115
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶 − 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝑉𝐶𝐸 = 10 − 0,01115(400 − 700)
𝑉𝐶𝐸 = 13,345
Table 3. Hasil Perhitungan VCE
Untuk mencari grafik hubungan keduanya, dapat dicari melalui rumus sebagai berikut.
No. x y 𝒙𝟐 xy
1. 8,8 0,012 77,44 0,1056
2. 10 0,0115 100 0,115
3. 11,1375 0,011375 124,04391 0,1266890625
4. 12,25 0,01125 150,0625 0,1378125
5. 13,345 0,01115 178,089025 0,14879675
Σ 55,5325 0,057275 629,635435 0,6338983125
Table 4. Mencari Nilai Variabel Persamaan Garis
a =ΣyΣx2− ΣxΣxy nΣx2− (Σx)2
=(0,057275)(629,635435) − (55,5325)(0,6338983125) 5(629,635435) − (55,5325)2
= 0,0133773 b = n∑xy − ∑x∑y
n∑x2− (∑x)²
= 5(0,6338983125) − (55,5325)(0,057275) 5(629,635435) − (55,5325)2
= −0,000173082
x y = a + bx
8,8 0,1322498784
10 0,13204218
11,1375 0,13180419225
12,25 0,1316527455
13,345 0,13146322071
Table 5. Menghitung Persamaan Garis
8.8, 0.1322
10, 0.13204
11.1375, 0.13180
12.25, 0.1317
13.345, 0.1315 0.1314
0.1315 0.1316 0.1317 0.1318 0.1319 0.1320 0.1321 0.1322 0.1323
0 2 4 6 8 10 12 14 16
IC
VCE
Hubungan Ic terhadap VCE
Pada perhitungan di atas, ketika nilai Ic semakin kecil, maka didapatkan nilai 𝑉𝐶𝐸 semakin besar. Sehingga untuk grafik didapatkan turun ke bawah menuju nilai 𝑉𝐶𝐸 Maksimal. Hal tersebut dapat menjadi tidak valid, jika terdapat perubahan nilai komponen RE dan RC. Tidak hanya itu, kami juga mencari bentuk grafik input dari rangkaian yang kami buat berdasarkan komponen yang ada melalui Multisim. Untuk datanya sebagai berikut.
No Rangkaian Hasil Grafik
1
2
3
4
5
Table 6. Hasil Grafik Sinyal Input Rangkaian menggunakan Multisim
Kurangnya kesesuaian antara data perhitungan dengan percobaan Multisim dan grafik yang dihasilkan, dapat terjadi kemungkinan dikarenakan adanya perbedaan angka yang dihasilkan, memasukkan angka dalam perhitungan (tidak memasukkan semua angka dibelakang koma), dan adanya error dalam komponen yang diuji.
BAB V KESIMPULAN
1. Rangkaian common emitter merupakan rangkaian Bipolar Junction Transistor (BJT) yang menggunakan terminal emitter sebagai terminal bersama yang terhubung ke ground, sedangkan terminal masukan dan keluarannya masing- masing terletak pada terminal basis dan terminal collector.
2. Karakterisitik pada common emitter adalah sinyal ouput yang dimiliki terbalik 180°, digunakan pada frekuensi rendah, dan stabilitas penguatan rendah.
3. Transistor tersusun dari bahan semi konduktor yang memiliki 3 kaki, yaitu basis, kolektor, dan emitor. Terdapat dua tipe transistor yang telah disebutkan di atas, diantaranya transisitor NPN dan PNP.
4. Untuk mencari nilai 𝐼𝐸 dan VCE, rangkain perlu dibuat setara DC yang dimana kapasitor dianggap open circuit.
5. Setelah mencari nilai 𝐼𝐸, maka dapat ditentukan nilai Ic dikarenakan 𝐼𝐶 ≈ 𝐼𝐸 6. Transistor berfungsi sebagai penguat ketika arus basis berubah. Perubahan kecil
arus basis mengontrol perubahan besar pada arus yang mengalir dari kolektor ke emitter. Pada saat ini transistor berfungsi sebagai penguat.
7. Untuk mencari nilai 𝐼𝐸 dan 𝑉𝐶𝐸 dapat menggunakan rumus:
𝑉𝐶𝐸 = 𝑉𝐶𝐶− 𝐼𝐸(𝑅𝐸− 𝑅𝐶) 𝐼𝐸 =𝑉𝐵− 𝑉𝐵𝐸
𝑅𝐸
8. Sebelum mencari nilai 𝐼𝐸 perlu didapatkan nilai 𝑉𝐵𝐵 terlebih dahulu dengan rumus:
𝑉𝐵𝐵 = 𝑅2
𝑅2+ 𝑅1 × 𝑉𝐶𝐶
9. Dalam project kali ini, semakin kecil nilai 𝐼𝐸 maka semakin besar nilai 𝑉𝐶𝐸. Akan tetapi, hal tersebut tidak bersifat tetap dikarenakan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi, yaitu komponen resistornya.
DAFTAR PUSTAKA
Darlis, D., Darlis, A. R. & dan Abibi, M. H., 2017. Implementasi Sistem Penyiaran Musik Digital di Kafe menggunakan Visible Light Communication. ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika, 5(1), p. 60.
Darmana, T. & Koerniawan, T., 2018. Perancangan Rangkaian Penguat Daya dengan Transistor. Jurnal Ilmiah Sutet, 7(2), pp. 88-92.
Debataraja, A., Mawardi, L. & Manurung, d. R. V., 2011. Studi Awal MEMS pada Mikrofabrikasi Divais Transistor Bipolar NPN. JURNAL ILMIAH ELITE ELEKTRO,, 2(2), pp. 88-94.
Mathar, M. Q., 2013. Metode Penelitian Kuantitatif untuk Ilmu Perpustakaan. Makassar:
Alauddin University Press.
Sidqi, M. N., 2018. Smart Sound Detection System for Classifying Heart Disease using Artificial Neural Network. E-JPTE (Jurnal Elektronik Pendidikan Teknik Elektronika), 8(1), pp. 42-55.
Sugijono, S., 2020. Integrasi Aplikasi Analog dan Digital pada Praktikum Elektronika Program Studi Teknik Listrik Jurusan Teknik Elektro Polines. Majalah Ilmiah Pengembangan Rekayasa dan Sosial, 15(3), pp. 92-98.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
PEMBAGIAN TUGAS PER INDIVIDU:
1. Adinda Salsabila Khansa (1306621041)
• Latar belakang
• Tujuan
• Teori penunjang
• Hasil dan pembahasan
• Menyatukan dan merapihkan makalah
• Edit video
2. Shak Rhuk Khan (1306621042)
• Latar belakang
• Tujuan
• Teori penunjang
• Hasil dan pembahasan
• Metodologi
• Record
3. Rizky Supriyadi (1306621070)
• Latar belakang
• Tujuan
• Teori penunjang
• Hasil dan pembahasan
• PPT
• Kesimpulan