• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok A Green Supply Chain

N/A
N/A
DIAN NUR AZIZAH

Academic year: 2024

Membagikan " Kelompok A Green Supply Chain"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

GREEN SUPPLY CHAIN

Kelompok A

(2)

VIANSRI M.P

H1E021033 AUDRI SALMA H1E021053

MOCHAMMAD IRVAN H1E021001

ANGGOTA KELOMPOK

(3)

KHOIRUNISA W H1E021079 ABIYYU THORIF

H1E021063

ANGGOTA KELOMPOK

(4)

Green supply chain management adalah pengelolaan rantai pasok yang berfokus pada meminimalkan dampak negatif bisnis terhadap lingkungan. Penerapannya bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja lingkungan dan perusahaan secara bersamaan.

Green supply chain merupakan sebuah inovasi dalam penerapan strategi rantai pasok yang didasarkan dalam konteks lingkungan yang mencakup aktivitas-aktivitas seperti reduksi, recycle, reuse dan substitusi material. Dheeraj (2012)

GREEN SUPPLY CHAIN

(5)

konsep GSCM merupakan pengintegrasian perspektif lingkungan ke dalam manajemen rantai pasok mencakup desain produk, pemilihan dan seleksi sumber bahan baku, proses manufaktur, pengiriman produk akhir kepada konsumen serta pengelolaan produk setelah habis masa pakainya. Toke (2010)

KONSEP GREEN SUPPLY CHAIN

(6)

Istilah - istilah dalam Green Supply Chain Management :

KONSEP GREEN SUPPLY CHAIN

(7)

KONSEP GREEN SUPPLY CHAIN

(8)

Pemilihan supplier hanya dari “mitra hijau” yang mendapatkan ISO dan sertifikat konsep green Mempromosikan kegiatan daur ulang

Manufaktur hijau (Green Manufacturing) proses produksi dengan dampak lingkungan yang rendah

KONSEP GREEN SUPPLY CHAIN

Kegiatan-kegiatan dalam green supply chain antara lain :

(9)

RUANG LINGKUP GREEN SUPPLY CHAIN

Ruang lingkup Green Supply Chain Management (GSCM) melibatkan berbagai aspek dalam rantai pasok yang dirancang untuk meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Terdapat tiga ruang lingkup GSCM yang penting dalam teori ekologi modern dan juga penting bagi manajemen lingkungan serta keberlangsungan secara umum (Berger et al, 2001).

Penyertaan aspek-aspek lingkungan dalam rantai manajemen yang teritegrasi.

1.

Integrasi dari inovasi teknologi yang hasilnya bermanfaat bagi lingkungan melalui supply chain industri

2.

Partisipasi dari aktor-aktor industri yang lebih luar bagi manajemen lingkungan dari produksi industri yang tujuan akhirnya adalah penguatan pembangunan kapasitas (Capacity-building) tata kelola lingkungan.

3.

(10)

Adapun ruang lingkup dalam Green Supply Chain menurut para peneliti adalah sebagai berikut :

1. Ruang lingkup dalam Green Supply Chain menurut Chun et al. (2015), Natalia dan Astuario (2015), Susanty et al. (2017)

Plan (Perencanaan) Source (Sumber)

Make (Membuat)

Deliver (Pengiriman)

Return (Pengembalian)

2. Ruang lingkup dalam Green Supply Chain menurut Srivastava (2007).

Green Design

Green Manufacturing & Remanufacturing ) Reverse Logistics

Waste Management

(11)

3. Ruang lingkup dalam Green Supply Chain menurut T. Wu et al. (2014) Total quality environmental management Source

Waste management

Environmental management system Green manufacturing

Life cycle analysis

Green distribution besar.

Reverse logistics

(12)

Terdapat beberapa aspek utama dalam ruang lingkup Green Supply Chain antara lain :

Desain Produk 1.

Manajemen Pemasok 2.

Proses Manufaktur 3.

Kemasan 4.

Transportasi dan Logistik 5.

Distribusi 6.

Logistik Terbalik 7.

Kepatuhan dan Sertifikasi:

8.

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

9.

(13)

GREEN SUPPLY CHAIN DI INDUSTRI FARMASI

STUDY CASE

Green Supply Chain merupakan suatu model bisnis rantai pasok produk yang sangat berkorelasi dengan implementasi prinsip pengembangan yang berkelanjutan terhadap praktik bisnis dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Variabel masalah yang dihadapi ketika akan mengimplementasikan GSCM pada industri farmasi mencakup aspek :

Biaya : biaya yang tinggi pada desain, produksi, pelabelan, dan pengemasan produk. Industri lebih memilih menggunakan metode yang tidak ramah lingkungan untuk menekan biaya produksi.

1.

Pelatihan : kurangnya pelatihan dan edukasi karyawan mengenai implementasi GSCM, tidak adanya dukungan dari pemerintah dan institusi terkait.

2.

Kesadaran: Kurangnya kesadaran konsumen sehingga mengakibatkan tidak adanya tekanan industri untuk menerapkan GSCM.

3.

Pengetahuan: Kurangnya pengetahuan di antara pemegang saham, vendor, dan pemasok mengenai GSCM terhadap konsekuensi destruktif dari produk yang dihasilkan terhadap lingkungan.

4.

Regulasi: Belum adanya aturan yang spesifik terhadap implementasi GSCM.

5.

Sumber Daya Manusia (SDM): Kurangnya sumber daya manusia yang kompeten untuk mengembangkan dan menerapkan model rantai pasok GSCM

6.

Pesaing: Persaingan pasar untuk produk generik merupakan aspek penting sebagai pertimbangan sehingga biaya kemasan ramah lingkungan yang sangat tinggi tidak memungkinkan untuk dapat menerapkan GSCM

7.

(14)

GREEN SUPPLY CHAIN DI INDUSTRI FARMASI

STUDY CASE

Beberapa aspek dapat ditingkatkan efisiensinya dalam rangka mendorong implementasi GSCM oleh industri farmasi di Indonesia mencakup hal-hal berikut : Pengadaan : mempertimbangkan pemasok yang memperoleh ISO 14000, OHSAS 18000 dan/ atau arahan Restriction of Hazardous Substances Directive (RoHS) serta melakukan pemesanan melalui email.

1.

Manufaktur : proses produksi yang menggunakan input dengan dampak lingkungan yang relatif rendah, yang efisien dan menghasilkan sedikit atau tidak ada limbah atau polusi.

2.

Distribusi: mencakup aspek pengemasan dan logistik. Karakteristik kemasan seperti ukuran, bentuk, dan material yang digunakan berdampak pada distribusi karena mempengaruhi pengangkutan dan karakteristik produk .

3.

Reverse Logistics: proses mengambil produk yang tidak digunakan atau daluarsa dari konsumen sehingga produk dimusnahkan secara tepat

4.

(15)

TAHAP PRA KONSTRUKSI

Mengadakan seminar untuk pemasok tentang kesadaran terhadap lingkungan.

1.

Bimbing pemasok untuk

menyiapkan program lingkungan.

2.

Undang semua pemasok dalam industri yang sama untuk berbagi pengetahuan dan masalah.

3.

Berikan informasi tentang pemasok untuk mencapai

keuntungan dari produksi dan teknologi ramah lingkungan.

4.

Tekankan pemasok untuk

mengambil tindakan berdasarkan lingkungan.

5.

Memilih pemasok sesuai dengan kriteria berdasarkan lingkungan.

6.

TAHAP PRODUKSI

Bahan baku ramah lingkungan.

1.

Masukkan aspek lingkungan berbasis kriteria dalam

pertimbangan proses produksi.

2.

Pertimbangkan desain lingkungan.

3.

Proses optimasi untuk

pengurangan limbah dan emisi.

4.

Penggunaan teknologi ramah lingkungan sehingga dapat menghemat energi, air dan limbah.

5.

Terapkan prinsip-prinsip

manajemen kualitas total (Total Quality Management/TQM).

6.

TAHAP PASCA PRODUKSI

Pengelolaan limbah secara ramah lingkungan.

1.

Mengambil kembali kemasan dan produk yang daluarsa.

2.

Penarikan produk perusahaan yang telah rusak.

3.

Berikan informasi kepada

customer bahwa produk dan proses produksinya ramah lingkungan.

4.

Penggunaan transportasi yang ramah lingkungan dan minimal emisi gas.

5.

(16)

GREEN SUPPLY CHAIN DI INDUSTRI FARMASI

STUDY CASE

Beberapa aspek dapat ditingkatkan efisiensinya dalam rangka mendorong implementasi GSCM oleh industri farmasi di Indonesia mencakup hal-hal berikut : Pengadaan : mempertimbangkan pemasok yang memperoleh ISO 14000, OHSAS 18000 dan/ atau arahan Restriction of Hazardous Substances Directive (RoHS) serta melakukan pemesanan melalui email.

1.

Manufaktur : proses produksi yang menggunakan input dengan dampak lingkungan yang relatif rendah, yang efisien dan menghasilkan sedikit atau tidak ada limbah atau polusi.

2.

Distribusi: mencakup aspek pengemasan dan logistik. Karakteristik kemasan seperti ukuran, bentuk, dan material yang digunakan berdampak pada distribusi karena mempengaruhi pengangkutan dan karakteristik produk .

3.

Reverse Logistics: proses mengambil produk yang tidak digunakan atau daluarsa dari konsumen sehingga produk dimusnahkan secara tepat

4.

(17)

PHILIPS

STUDY CASE Philips mengintegrasikan isu lingkungan sbaik secara internal maupun eksternal

Membagi isu lingkungan menjadi 3 hal yaitu permasalahan ketaatan pada aturan, permasalahan performansi lingkunngan, dan permasalahan eco- design. Selanjutnya mengaplikasikan strategi dalam rantai pasoknya untuk mengelola isu tersebut.

Philips menggunakan kuisioner untuk menjamin pemasok patuh pada standar dan peraturan tentang lingkungan dan meminta pemasok untuk menyerahkan sertifikat yang mendukung hal tersebut.

Contoh sertifikat kepatuhan pemasok atas penggunaan substansi tertentu yang berbahaya

Philips meminta pemasok untuk menyediakan data

siklus hidup dan perbaikan data tersebut

(18)

Konsep GSCM ini biasanya mengacu pada perspektif lingkungan dimana harus memikirkan bagaimana cara yang harus dilakukan dalam mengurangi limbah dan juga dampak lingkungan yang dapat terjadi akibat kegiatan rantai

pasok, dengan menjaga lingkungan akan dapat menghasilkan keberlanjutan kegiatan rantai pasok di masa depan. Terdapat tiga ruang lingkup GSCM

yaitu penyertaan aspek-aspek lingkungan dalam rantai manajemen yang terintegrasi, Integrasi dari inovasi teknologi yang hasilnya bermanfaat bagi lingkungan melalui supply chain industri, partisipasi dari aktor-aktor industri yang lebih luar bagi manajemen lingkungan dari produksi industri yang tujuan akhirnya adalah penguatan pembangunan kapasitas (Capacity-building) tata

kelola lingkungan. Aspek utama dalam ruang lingkup Green Supply Chain antara lain desain produk, manajemen pemasok, proses manufaktur, kemasan, transportasi dan logistik, distribusi, logistik terbalik, kepatuhan

dan sertifikasi, peningkatan berkelanjutan, keterlibatan pemangku kepentingan.

KESIMPULAN

(19)

Dermawan, Doni dkk.2018. Implementation of Green Supply Chain Management (GSCM) in the Pharmaceutical Industry in Indonesia: Feasibility Analysis and Case Studies.Jurnal Ilmiah Farmasi 15(2)

Dheeraj, N. dan N. Vishal. 2012. An Overview of Green Supply Chain Management in India. Research Journal of Recent Sciences ISSN 2277-2502. Vol. 1(6), 77-82, June (2012). India: Government Engineering College Jhalawa

Heriyanto dan Andrian Noviardy. 2019. Kinerja Green Supply Chain Management Dilihat Dari Aspek Reverse Logistic dan Green Procurement pada UKM Kuliner di Kota Palembang. MBIA. Vol. 18, No. 1.

Ninlawan. C., Seksan P., Tossapol K. dan Pilada W. 2010. The Implementation of Green Supply Chain Management Practices in Electronics Industry. Proc. Of The International Multiconference of Engineers and Computer Scientists. March 17-19 2010. Hongkong.

Toke, L.K et al. 2010. Green Supply Chain Management; Critical Research and Practices.

Proceedings of the 2010 International Conference on Industrial Engineering and Operations Management Dhaka, Bangladesh, January 9 – 10, 2010

REFERENSI

(20)

ADA SARAN DAN PERTANYAAN ?

Silahkan disampaikan

kepada kami

(21)

TERIMA KASIH telah mendengarkan dan memberikan saran kepada kami

Referensi

Dokumen terkait