• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMAHIRAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KEMAHIRAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN "

Copied!
35
0
0

Teks penuh

Oleh karena penelitian ini dilakukan di sekolah untuk mengelola suatu program, maka tujuan kepemimpinan dalam suatu lembaga sekolah tidak dapat dipisahkan dari tujuan sekolah sebagai suatu organisasi atau lembaga formal. Suatu tujuan kelembagaan (baik umum maupun khusus) akan tercapai bila ada proses kegiatan di dalam lembaga (organisasi sekolah). Begitu pula jika ingin mengelola suatu program, seseorang harus mengetahui prinsip-prinsip manajemennya.

Setiap kegiatan memerlukan perencanaan yang matang agar kegiatan dapat berjalan lancar dan sesuai rencana, begitu pula dengan perencanaan program di sekolah. Dalam merencanakan suatu organisasi atau program, harus mempunyai masa depan yang ingin dicapai, atau dengan kata lain mempunyai misi. Setelah menentukan misi, langkah selanjutnya adalah menggambarkan kondisi masa depan organisasi yang ingin diwujudkan.

Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut diperlukan suatu sistem perencanaan dan pengendalian manajemen sehingga dapat mencapai tujuan masa depan tersebut.

Pelaksanaan Program Sekolah

Dalam program yang dilaksanakan di SMP Al-Falah pembelajaran Al-Quran terdiri dari alat dan metode pengajaran yaitu Iqra, Al-Quran dan kebutuhan guru dalam mengajarkannya. Oleh karena itu, staf pengajar yang dipilih untuk mengajar suatu program harus berpengalaman dan terampil dalam pengembangan program. Selain tenaga kerja, metode yang digunakan juga harus tepat agar mudah dipahami oleh mahasiswa dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam melaksanakan suatu program, fungsi pengerahan dan pengerahan personel dilakukan oleh pimpinan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Pertama, motivasi merupakan dorongan kepada pegawai untuk mampu melaksanakan tugasnya sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sesuai rencana. Ketiga, komunikasi yang dilaksanakan secara efektif dapat menggerakkan seseorang atau kelompok untuk bekerja sama, menerima gagasan, dan menyampaikannya kepada orang atau kelompok tersebut. Menurut Dewi & Mashar, fungsi implementasi adalah suatu proses pengelolaan kegiatan yang melibatkan lingkungan dan orang lain, dan penekanannya diberikan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi yang dibentuk.

Sebagai petunjuk yang benar, untuk memperingatkan akan azab Allah yang sangat pedih dan untuk memberikan kabar baik kepada orang-orang yang beriman, yang beramal shaleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik” (QS.Al-Kahfi: 2). Oleh karena itu dalam proses pelaksanaannya melibatkan lingkungan dan sumber daya manusia dengan menggunakan prosedur yang baik sehingga akan tercapai hasil yang baik, mulai dari yang menduduki jabatan tertinggi hingga staf yang terjun langsung di lapangan untuk melaksanakan program atau kegiatan tersebut. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa program ini fokus pada BBQ, sehingga pelaksanaannya juga terkait dengan BBQ, yang dimulai dari guru mempersiapkan, mempersiapkan siswa, menyiapkan materi, memilih metode pengajaran dan cara mengevaluasi hasil belajar siswa.

Temui penyelenggara dan diskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan, seperti tujuan, jalannya kegiatan, peralatan dan perlengkapan yang diperlukan. Ikuti tur ke tempat kegiatan dan periksa pengaturan tempat duduk, bahan, perlengkapan dan perlengkapan kegiatan sehingga mereka dapat menyesuaikan dengan apa yang direncanakan dan mengganti apa pun yang hilang. Dari hasil penelitian terkait pelaksanaan program BBQ (Pengembangan Membaca Al-Quran), peran guru sebagai pemandu dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dan perencana (atasan) seperti koordinator keagamaan dan stafnya, sehingga koordinasi yang baik dan pemantauan kegiatan rutin.

Evaluasi Program Sekolah

Sedangkan Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971) menyatakan bahwa evaluasi program merupakan upaya untuk memberikan informasi yang dapat disampaikan kepada pengambil keputusan. Dalam kegiatan evaluasi program, program harus mencakup komponen, subkomponen, dan indikator sehingga menjadi tolok ukur keberhasilan program yang direncanakan. Menurut Arikunto & Jabar, komponen program adalah bagian-bagian atau unsur-unsur yang membangun suatu program, yang saling berhubungan dan menjadi faktor penentu keberhasilan suatu program.

Jumlah komponen tiap program tidak sama, tergantung tingkat kerumitan program yang bersangkutan. Tujuan evaluasi program adalah untuk mengetahui ketercapaian tujuan program dengan menentukan pelaksanaan kegiatan program, karena penilai program ingin mengetahui bagian komponen dan subkomponen program mana yang tidak dilaksanakan dan alasannya. Program-program yang ada pada suatu lembaga pendidikan hendaknya dievaluasi untuk menjadi tolak ukur validitas lembaga dan status akreditasi lembaga tersebut.

Model ini dikembangkan oleh Tyler, model ini muncul sejak dini dan yang menjadi objek pengamatannya adalah tujuan-tujuan program yang telah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi formatif bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemajuan program yang dirancang, serta mengidentifikasi kendala-kendala yang ada. Dalam program pembelajaran Al-Quran, kata bina merupakan salah satu bentuk bimbingan yang dilakukan guru terhadap siswanya.

Dalam bahasa al-Quran, ia berasal daripada perkataan qara'a yang bermaksud mengumpulkan dan mengumpulkan, dan qira'ah bermaksud menggabungkan huruf dan perkataan dalam ucapan yang tersusun. Adapun makna al-Quran menurut istilah yang disepakati oleh para ulama adalah kalam Allah yang layak mendapat mukjizat yang diturunkan kepadanya. Fahami mesej-mesej yang terkandung di dalam al-Quran dengan menghayatinya dan seterusnya mengkaji makna yang terkandung di dalamnya.

Menerapkan pesan-pesan yang dibawa Al-Qur'an melalui implementasi, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Program Pengembangan Membaca Al-Qur'an merupakan kegiatan nyata yang berlangsung di sekolah dalam bidang keagamaan khususnya dalam bidang membaca Al-Qur'an untuk menunjang dan mengembangkan potensi siswa yang belum mampu. membaca Al-Qur'an, belajar membaca Al-Qur'an.an hingga mahir membaca Al-Qur'an secara bertahap.

Metode Pembelajaran Al-Qur’an

Menurut Roqib, metode pembelajaran membaca Al-Qur'an dengan model Iqra ini pernah dijadikan proyek Kementerian Agama RI sebagai upaya mengembangkan minat membaca kitab suci Al-Qur'an. Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan yang diakui dapat membuat siswa tertarik, senang dan mampu membaca (menulis) Al-Qur'an bahkan pada tingkat dasar. Lembaga tersebut dikenal dengan sebutan TKQ (TK Al-Qur'an) dan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an).

Modifikasi ini tidak hanya dapat diterapkan untuk belajar membaca Al-Quran saja, namun juga untuk mempelajari bacaan umum seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Cara ini dianggap sebagai cara cepat belajar membaca Al-Qur'an, khususnya bagi pemula. Pada tahun 1978, Muhadjir menerbitkan metodenya yang berjudul Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur'an Al-Barqy dengan tujuan membantu siswa belajar membaca Al-Qur'an (Winarti, Skirpsi, 2015: 34).

Oleh karena itu, pendapat Anggranti (Jurnal Intelijen, no.) menyatakan bahwa metode pembelajaran Al-Barqy disebut juga metode pembelajaran membaca dan menulis surat-surat Al-Qur’an secara klasikal, karena gurunya menggunakan metode semi- Metode SAS (struktural) dalam proses pengajaran. analisis sintaksis). Menurut Permana, metode belajar Al-Qur'an yang dilakukan Abu Rabni disebut dengan pembacaan Al-Qur'an kuantum. Metode ini sering dikenal dengan metode QRQ (quantum resitasi Al-Qur'an), yaitu metode praktis membaca Al-Qur'an dengan tartil karena mempelajari tiga prinsip yaitu membaca mad dan gunnah, lancar mengucapkan huruf hijaiah, dan penguasaan serta kemampuan melafalkan ayat gharibah yang baik dan benar.

Untuk mempelajari cara menggunakan metode ini telah tersebar di lingkungan sekitar, antara lain audio QRQ, baik dalam bentuk DVD yang berisi cara membaca Al-Qur'an dengan metode ini atau murattal dan tuntunan sholat, dan terdapat buku petunjuk metode QRQ sebagai panduan tahsin (Belajaral). -qur'an.id, 2018). Lembaga ini merupakan lembaga yang membantu lembaga formal maupun informal khususnya guru Al-Qur'an untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyelenggarakan pembelajaran Al-Qur'an dengan cara yang menghibur, efektif, dan menyentuh hati. Metode ini menggunakan sistem pembelajaran Al-Qur’an dengan menerapkan standardisasi yang terangkum dalam tujuh program dasar ummi, yaitu: tashih (validasi), tahsin (peningkatan tafsir), sertifikasi, pembinaan (pelatihan), supervisi, munaqashah (uji profisiensi). ). ) dan Khataman (Hasunah & Jannah, Jurnal Pendidikan Islam, No. 2, Des.

Metode Ummi terinspirasi dari metode pengajaran membaca Al-Qur'an yang tersebar di masyarakat dan berhasil membuat anak-anak dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar karena guru juga mempunyai banyak cara penyampaian yang berbeda kepada siswa yang menggunakan metode tersebut. . . Jika mengacu pada Al-Quran dan hadis, dapat diketahui bahwa kata muta'allim berarti mencari ilmu.

Mahir dalam Membaca Al-Qur’an

Padahal, siswa merupakan ‘kunci’ dalam interaksi pendidikan. Dari sudut pandang pedagogi, siswa dikatakan sebagai makhluk yang membutuhkan pendidikan, dengan kata lain, semacam makhluk “homo educandum”. Muhammad Quraish Shihab menyatakan bahwa tujuan tartil dalam membaca Al-Qur'an adalah membacanya perlahan-lahan sambil memperjelas huruf-hurufnya, berhenti dan mulai, sehingga pembaca dan pendengar dapat memahami dan merasakan nikmatnya (Hanifah). Teknik ini dilakukan dengan menyusun pola setiap huruf (per vokal) dan tidak menggabungkan beberapa huruf.

Teknik ini dilakukan setelah mempelajari satu huruf vokal, kemudian disisipkan vokal baru, anak terus berkomunikasi dengan vokal baru tersebut tanpa melupakan vokal yang telah dipelajari sebelumnya. Teknik ini dilakukan dengan menyisipkan gambar-gambar yang menarik dan warna-warna cerah, sehingga memberikan rangsangan pada anak dalam belajar membaca. Dalam kalimat, guru memaparkan teknik angka 1 sampai 10 secara berulang-ulang agar anak dapat mengenalinya dan kemudian menghafalkannya.

Setelah mempelajari setiap suku kata pada huruf vokal, Anda dapat memberikan bacaan ringan dalam kalimat pendek. Hal ini dimaksudkan agar pada akhirnya anak terbiasa membaca kalimat-kalimat yang mempunyai makna dalam suatu bacaan. Menguasai huruf hijaiah dan cara mengucapkannya merupakan tahap pertama dalam belajar membaca Al-Quran. Setelah Anda menguasainya, akan mudah untuk menguasai tahapan lainnya.

Menguasai ilmu tajwid dan hukum-hukum tajwid, mulai dari penekanan teori hingga praktek tajwid.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pelaksanaan pembiasaan juga dibutuhkan metode lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah

Berkaitan dengan masalah di atas untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memilih dan menerapkan metode

Berdasarkan hasil data yang diperoleh di lapangan dapat diketahui bahwa evaluasi strategi guru Al-Qur’an Hadits di MTs Aswaja Tunggangri Kalidawir yaitu dilihat

Metode pembelajaran adalah upaya yang dilakukan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai. secara optimal,

Tematisasi Studi Al-Qur’an dengan cara klasifikasi tema-tema yang sudah ada pada empat tema besar; Sejara, Mekanisme Teks, Sistem I’jaz dan Metode Bayan, merupakan cara sederhana

 Isi kandungan Al-Isra ayat 26 yaitu perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman agar mereka menunaikan hak-hak kerabat mereka berupa memberikan kebaikan

Bedasarkan uraian-uraian yang telah ditemukan ada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesilmpulan bahwa Metode baligha adalah sebuah formulasi metode membeca dalam

Pada pertemuan kedua, peneliti melakukan pembelajaran dengan menerapkan metode Qitada pada surat-surat pendek (al-kautsar) dengan beberapa tahapan: (1) Pendahuluan,