• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan Kepala Madrasah, sebuah paradigma

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kepemimpinan Kepala Madrasah, sebuah paradigma"

Copied!
180
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

SELAYANG PANDANG TENTANG

Pengertian Kepemimpinan

Dari perspektif Islam, ada banyak teks dalam hadits yang menjelaskan tentang apa dan bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Kedua, hadits tersebut juga menjelaskan sifat-sifat kepemimpinan yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Pendekatan dalam Memahami Kepemimpinan dan

Paradigma kepemimpinan transformasional merupakan salah satu paradigma kepemimpinan yang paling relevan digunakan dalam pengelolaan kepala sekolah.

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

Teori-Teori Kepemimpinan

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

Pengertian Umum Kepemimpinan Kepala

Jika dilihat dari segi sejarahnya, madrasah pada mulanya didirikan sebagai lembaga pendidikan yang khusus ditujukan untuk mengajarkan agama Islam. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepala madrasah adalah orang yang ditunjuk untuk menduduki jabatan pimpinan suatu lembaga pendidikan formal yang bercirikan Islam.

Ruang Lingkup Kepemimpinan Kepala Madrasah

Kepala madrasah berkewajiban untuk selalu meningkatkan profesionalisme guru atau tenaga kependidikan yang bekerja di bawah arahannya. Secara tidak langsung, kewajiban direktur untuk meningkatkan profesionalisme guru terkait dengan tugasnya mengembangkan aspek kewirausahaan.

Karakteristik dan Prinsip Kepemimpinan Kepala

Perilaku transparan dan jujur ​​yang harus menjadi karakter dalam pengelolaan kepala sekolah, berkaitan dengan beberapa hal seperti; Menurut Durotun Nafisah, karakter kepemimpinan kepala madrasah harus menjadi substansi dari seluruh kepemimpinan yang harus dilaksanakan oleh pengelola madrasah.

Regulasi Kepemimpinan Kepala Madrasah Menurut

TUGAS MANAJERIAL KEPEMIMPINAN KEPALA

Ruang Lingkup Manajerial Kepemimpinan Kepala

Hanya saja, jika orang tersebut memiliki jiwa kepemimpinan yang baik untuk menjalankan tugasnya sebagai kepala madrasah tidak mendapat perhatian. Untuk itu, setiap kepala madrasah diharapkan mampu dengan bijak menentukan gaya kepemimpinan seperti apa yang efektif diterapkan di madrasah. Dalam beberapa kasus, tidak sedikit pimpinan madrasah yang hanya menjalankan salah satu fungsi kepemimpinan di atas.

Selain pengembang kurikulum, kepala madrasah juga berperan sebagai pengawas dan evaluator pembelajaran.

Tugas Manajerial Kepemimpinan Kepala Madrasah

58 Tahun 2017 Pasal 8 disebutkan bahwa ada lima kompetensi kepemimpinan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah77 atau calon kepala sekolah. Hal ini antara lain tercermin dari banyaknya aspek kompetensi manajemen kepala madrasah yang mencakup lebih dari 16 aspek; Kepala madrasah sebagai pimpinan tertinggi madrasah dituntut memiliki kompetensi sosial yang sama baiknya dengan kompetensi lainnya.

82 Ahmad Dini, Pengawasan Kepala Madrasah: Upaya Peningkatan Kinerja Guru Madrasah (Jakarta: Kreasi Cendikia Pustaka, 2019), hlm.

Faktor Penghambat & Pendukung Tugas Manajerial

Aspek transparansi dan akuntabilitas pemilihan dan pengangkatan kepala sekolah tentunya tidak akan terwujud melalui persaingan yang tidak sehat. Sebagai lembaga pendidikan formal, wajib memilih dan mengangkat kepala madrasah berdasarkan tata cara yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun, tidak sedikit pimpinan madrasah yang dipilih dan dilantik tanpa mengikuti standar peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Perlu diketahui bahwa seleksi yang ketat dalam proses pemilihan dan pengangkatan kepala madrasah dilakukan sedemikian rupa agar kepala madrasah benar-benar sosok terbaik diantara yang baik.

Pendekatan-Pendekatan Manajerial Kepemimpinan

Untuk mewujudkan paradigma kepemimpinan transformasional di lingkungan madrasah, beberapa hal yang harus dilakukan oleh pimpinan madrasah antara lain: 102 Lihat, Basidin Mizal & Refereni Dewi, 'Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Membentuk Kerja Tim Pembelajaran di Madrasah.'. Ketiga, kepala madrasah diharapkan melakukan pengembangan manajemen, mengevaluasi keefektifan penggunaan model pembelajaran berdasarkan prinsip SOAR (Strength, Opportunity, Action, Result).

Di era 4.0 ini, kepala madrasah juga diharapkan mampu membaca arah keinginan masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan.

PARADIGMA KEPEMIMPINAN

Paradigma Demokratis

Dalam organisasi modern, paradigma kepemimpinan demokratis dianggap sebagai salah satu tipologi kepemimpinan yang paling tepat. Selain itu, pemimpin yang demokratis selalu berusaha menyelaraskan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan pribadi. Dalam menjalankan tugas organisasi, pemimpin yang demokratis juga mengutamakan terjalinnya kerjasama yang solid untuk mencapai tujuan organisasi.

Oleh karena itu, pemimpin yang demokratis akan selalu berusaha memberikan kesempatan berkembang kepada bawahannya, membimbingnya agar selalu berkembang dan berprestasi.

Paradigma Transformasional

Kepala madrasah selalu mengajak bawahannya untuk selalu memiliki pola pikir yang rasional berdasarkan data dan fakta. Dalam implementasi kebijakan di madrasah, dapat dipastikan terjadi perbedaan pendapat antara kepala madrasah dengan bawahannya. Kepala madrasah juga diharapkan mampu menjadikan ide dan gagasan bawahannya sebagai salah satu pertimbangan dalam memutuskan kebijakan di madrasah.

Menurut Jumiati Safitri, kepala madrasah sebagai stimulasi intelektual memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap upaya peningkatan mutu layanan pendidikan di madrasah.99 Dan sebagaimana disepakati bersama itu.

Paradigma Otokratis

Pertama, pemimpin yang menganut paradigma kepemimpinan otokratis dalam kepemimpinannya biasanya lebih mengutamakan kekuasaan yang dimilikinya. Berdasarkan uraian tentang ciri-ciri kepemimpinan otokratis di atas, dapat digarisbawahi bahwa paradigma kepemimpinan seperti itu tidak dapat diterapkan di lingkungan pendidikan khususnya madrasah. Dengan kata lain, kepala sekolah hendaknya tidak menerapkan pola kepemimpinan otokratis atau otoriter dalam menjalankan kepemimpinannya, karena secara konseptual dan teoritis paradigma kepemimpinan tersebut dinilai kurang mendidik.

Menurut Jamaludin, kelebihan paradigma kepemimpinan otokratis ini antara lain terletak pada kendala yang dihadapi pemimpin dalam menentukan tujuan yang tampaknya relatif tidak terhalang.

Paradigma Militeristis

Sekilas, kepemimpinan militeristik juga tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan otokratis dalam hal kemampuan pemimpin menerima kritik. Pemimpin militeristik cenderung menerima kritik keras karena perintah mereka sendiri lebih penting dan sebagai pemimpin orang seperti ini berpikir mereka lebih mengerti daripada bawahannya. Sebagaimana paradigma kepemimpinan otokratis sebelumnya, paradigma kepemimpinan militeristik merupakan paradigma kepemimpinan yang tidak konsisten diterapkan di lembaga pendidikan seperti madrasah.

Kepala madrasah diharapkan tidak menggunakan paradigma kepemimpinan militeristik dan mengawasi setiap guru dan siswanya agar tidak melakukan tindakan militeristik seperti di atas.

Paradigma Paternalistis

Seperti halnya seorang ayah, kepemimpinan paternalistik biasanya menganggap bahwa pemimpin lebih tahu segalanya daripada bawahannya. Ciri-ciri tertentu dari kepemimpinan parsial paternalistik dapat dijumpai di berbagai lembaga pendidikan, termasuk di madrasah. Terlepas dari beberapa kekurangan dari paradigma kepemimpinan paternalistik, beberapa ahli menjelaskan manfaat dari paradigma kepemimpinan ini.

Menurut Cheng, sebagaimana dikutip oleh Raymond Napitupulu, kepemimpinan paternalistik adalah gaya kepemimpinan yang berusaha menggabungkan disiplin yang kuat, otoritas dengan sikap paternal serta integritas moral. 108 Oleh karena itu, kepemimpinan yang ideal menurut paradigma ini adalah pemimpin yang bertindak seperti seorang ayah terhadap bawahannya, tetapi pada saat yang sama mengedepankan integritas moral dan kewibawaan kepentingan.

Paradigma Otokratis-Demokratis

113 Dalam paradigma kepemimpinan demokratis, ciri utama kepemimpinan ini adalah kemampuan pemimpin untuk melibatkan pengikutnya dalam setiap keputusan. Kepemimpinan otokratis-demokratis adalah kepemimpinan yang mungkin menggunakan gaya otokratis, terutama dalam menetapkan kebijakan darurat, mendesak, dan jangka pendek. Di sisi lain, paradigma kepemimpinan ini mengutamakan partisipasi bawahannya dalam menentukan kebijakan jangka menengah dan panjang.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa paradigma kepemimpinan otokratis-demokratis adalah paradigma kepemimpinan yang menuntut kemampuan pemimpin untuk memahami dalam situasi apa ia harus bersikap otoriter dan demokratis.

Paradigma Inisiasi-Konsiderasi

Kedua paradigma kepemimpinan ini secara tidak langsung mencerminkan kemampuan pemimpin untuk bersikap fleksibel namun sekaligus menentukan. Dalam kepemimpinan kepala madrasah yang diharapkan adalah perilaku kepemimpinan yang mendorong terciptanya kerjasama yang aktif antara guru dengan guru, guru dengan karyawan dan seluruh pelaku madrasah lainnya. Dalam kepemimpinan yang penuh perhatian ini, pemimpin menekankan agar bawahannya selalu memiliki sikap saling percaya, saling mendukung, berinteraksi secara hangat dan peduli satu sama lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada kepemimpinan otokratis-demokratis, kepemimpinan yang tepat dalam kepemimpinan kepala sekolah adalah kepemimpinan yang berupaya memadukan antara tipe inisiasi dan konsiderasi.

Paradigma Pancasilais-Nasionalis

  • Paradigma Spiritualis-Liberalis

Selain itu, kepemimpinan kepala madrasah di era New Normal juga diharapkan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan baru yang ditemukan di situasi pandemi. Akibatnya, kepemimpinan kepala sekolah di era 4.0 dituntut memiliki manajemen perubahan untuk menciptakan pengalaman dan prestasi baru bagi lembaganya. Selain itu kepala atau calon kepala madrasah juga diharapkan selalu berpikir, bertindak dan berperilaku kontekstual.

Kepemimpinan kepala madrasah di era New Normal juga diharapkan mampu menyelesaikan beberapa permasalahan baru yang ditemukan saat madrasah menghadapi situasi pandemi.

ORIENTASI KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

Visi-Misi Kepemimpinan Kepala Madrasah

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah kepala sekolah atau madrasah memiliki kewajiban yang sama yaitu mewujudkan proses belajar mengajar secara lebih kreatif dan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Nilai-nilai kepedulian, simpati dan kepekaan inilah yang harus menjadi perhatian kepala madrasah di masa normal ini. Di masa normal seperti saat ini, kepala madrasah dituntut memiliki orientasi baru dalam kepemimpinannya.

Salah satu aspek yang harus terus dikembangkan oleh kepala madrasah di era New Normal ini adalah menanamkan nilai-nilai kemandirian dalam belajar.

Strategi dan Inovasi Kepemimpinan Kepala

133 tetap penting untuk dijadikan acuan bagi kepala madrasah dalam merancang strategi dan inovasi pengembangan madrasah ke depan. Di masa normal, madrasah diharapkan menjadi pionir dalam mewujudkan tradisi hidup sehat, dimana hal ini sangat penting bagi ajaran agama Islam yang juga sangat memperhatikan masalah kebersihan dan kesehatan. Dalam kondisi normal, madrasah juga diharapkan selalu melakukan pengecekan dan evaluasi kondisi kebersihan lingkungan serta kondisi kesehatan siswanya sebagai bagian dari bentuk pelayanan madrasah.

Pada saat normal, madrasah diharapkan menciptakan lingkungan belajar seperti ruang kelas, kantor, perpustakaan, dan fasilitas yang sering digunakan siswa agar tetap bersih dan nyaman.

Kompetensi Kepala Madrasah Menyongsong

Salah satu pertanyaan penting dan relevan bagi madrasah dalam menyongsong era 4.0 adalah apa yang harus dilakukan madrasah sebagai persiapan menghadapi era 4.0. Di era industri 4.0 ini, berbagai produk teknologi canggih dengan sistem komputerisasi dirancang untuk memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan aktivitasnya. Di antara penanda lahirnya era 4.0 adalah terjadinya perubahan besar-besaran di berbagai bidang melalui perpaduan teknologi.

Penanda lain hadirnya Revolusi Industri 4.0 tidak lain adalah dominasi teknologi siber, termasuk dunia pendidikan, maka munculah istilah “Pendidikan 4.0”.

Kompetensi Kepala Madrasah di Era 4.0

Tiga: Kepala madrasah di era 4.0 ini selain mampu merespon perkembangan teknologi dengan cepat, juga diharapkan mampu membaca arah keinginan masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan. Keempat, di era 4.0, kepala madrasah juga dituntut untuk membuat kurikulum yang secara proporsional memperluas bidang pendidikan agama Islam sebagai keistimewaan madrasah dengan bidang pendidikan lainnya. Dengan kata lain, kepala madrasah diharapkan menghilangkan pengertian dikotomisasi ilmu agama dan ilmu umum.

Enam kepala madrasah juga diharapkan dapat menjadi panutan dalam proses pengembangan budaya literasi serta merancang strategi penguatan keterampilan literasi.

Strategi Madrasah Menghadapi Era 4.0

Tanpa reformasi, sangat sulit madrasah menjadi lembaga pendidikan yang modern, maju, dan menjadi pilihan masyarakat. Untuk itu, ada empat prinsip yang dapat digunakan oleh pimpinan madrasah sebagai landasan untuk membuat strategi madrasah menghadapi era 4.0. Prinsip keempat ini merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar lagi agar madrasah dapat menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas di era 4.0 ini.

Fleksibilitas merupakan salah satu prinsip penting bagi madrasah untuk beradaptasi dan berakselerasi dengan perkembangan yang berbeda dari waktu ke waktu.

Peluang dan Tantangan Kepemimpinan Kepala

Siap tidaknya madrasah menyongsong era 4.0 oleh karena itu akan sangat ditentukan oleh kompetensi kepala madrasah dan kemampuan kepala madrasah dalam memperbaharui strategi dan inovasi madrasah. Lembaga pendidikan seperti madrasah diharapkan berperan aktif dalam menanamkan karakter positif dan ini bukanlah tugas yang mudah bagi para guru, termasuk kepala madrasah itu sendiri. Oleh karena itu, di era milenium ini kepala madrasah menghadapi tantangan yang bisa dibilang cukup berat.

Karena kepala madrasah harus berusaha agar lembaga yang dipimpinnya menjadi lembaga maju yang berkualitas tinggi, dimana di dalam lembaga tersebut terdapat anak-anak yang sebagian mungkin justru menjadi penghambat keberhasilan kepala madrasah.

Merancang Media dan Model Pembelajaran

Kedua, kepala madrasah diharapkan mampu merumuskan strategi yang tepat dalam menggunakan model pembelajaran di atas agar proses belajar mengajar tetap berjalan efektif dan efisien. Selain itu, Ali Chaeruddin menambahkan kepala madrasah juga perlu memahami karakteristik penting dari masing-masing model pembelajaran berbasis digital tersebut. Keempat, seperti halnya kepemimpinan pada umumnya, kepemimpinan kepala madrasah memiliki ruang lingkup kerja yang telah ditetapkan.

Tujuh, dalam menjalankan kepemimpinannya, seorang pemimpin madrasah diharapkan mampu memperhatikan beberapa paradigma kepemimpinan modern yang akan diterapkan di lingkungan kerjanya.

PENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin (kepala sekolah) dalam memimpin suatu organisasi akan mempengaruhi kinerja daripada guru itu.. Menurut Thoha (E Mulyasa, 2002:

Namun, kekurangan dari gaya kepemimpinan feminim ialah dimana pemimpin merupakan sosok yang individualis dan sosok yang tidak mudah dalam membangun hubungan dengan

Beliau terkenal sebagai sosok pemimpin yang memposisikan dirinya bukan sebagai seorang pejabat, melainkan sebagai pemimpin yang berada di tengah-tengah anggota

Secara bahasa, makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai

Pola/model kepemimpinan seperti apa yang digunakan oleh kepala madrasah, bergantung pada pendekatan seperti apa yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam implementasi

Sedangkan faktor yang mempengaruhi model kepemimpinan kepala Madrasah Ibtidaiyah adalah kepribadian ( personality ), pengalaman masa lalu, dan harapan pemimpin. Hal

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan seseorang adalah perilaku yang dilakukan dan ditunjukkan oleh seorang pemimpin dalam

Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Efektivitas Sekolah Penggerak Winardi mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan memimpin dalam diri seseorang yang