• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJA PUSKESMAS BATUNADUA KOTA PADANGSIDIMPUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KERJA PUSKESMAS BATUNADUA KOTA PADANGSIDIMPUAN "

Copied!
93
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teori

  • Tuberkulosis Paru
    • Pengertian Penyakit Tuberkulosis Paru
    • Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Paru
    • Penyebab Penyakit Tuberkulosis Paru
    • Patogenesis TB paru
    • Cara Penularan
    • Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis Paru
    • Gejala Penyakit TB Paru
    • Diagnosis TB Paru
    • Masa Inkubasi
    • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingginya

Tuberkulosis paru merupakan infeksi kronis pada jaringan paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis, tuberkulosis paru pada paru kadang disebut Koch Pulmonum (KP) (Nizar, 2010). 21 orang pernah kontak dengan penderita tuberkulosis paru, namun orang tersebut tidak menunjukkan gejala klinis tuberkulosis paru saat itu (karier) (Aprianto, 2014). Semua orang di dunia ini bisa tertular bakteri TBC paru, baik tua maupun muda, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin bisa terkena TBC paru.

Tuberkulosis paru paling banyak menyerang penderita pada kelompok usia produktif yaitu 20 sampai 49 tahun (Aditama, 2002). Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis berbentuk batang dengan ukuran ± 0,3-0,6. Penyakit tuberkulosis paru biasanya ditularkan melalui udara yang terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis yang dikeluarkan oleh penderita tuberkulosis paru saat batuk, sedangkan pada anak-anak sumber penularannya biasanya dari orang dewasa yang menderita tuberkulosis paru.

Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologi, bakteri TBC paru akan berusaha dihambat oleh dinding yang terbentuk di sekitar bakteri tersebut oleh sel paru-paru. Mekanisme pembentukan dinding tersebut menyebabkan jaringan disekitarnya menjadi jaringan paru dan bakteri TBC paru akan menjadi dorman (istirahat). Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosis TB paru disebabkan oleh gambaran klinis penderita yang tidak khas, terutama pada kasus baru.

Terdapat beberapa karakteristik kelompok penduduk yang mempunyai risiko lebih besar tertular TB paru, antara lain faktor usia, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, jenis kelamin, kontak dengan sumber penularan dan kondisi lingkungan yang tidak sehat (Manalu, 2010). 35 Inang bakteri tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, namun inang yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manusia. Pengetahuan pasien yang baik tentang penyakit TBC paru dan pengobatannya akan meningkatkan keteraturan pasien, seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang penularan TBC paru akan berusaha mencegah penularannya (Notoatmodjo, 2007).

Kondisi yang harus dipenuhi oleh rumah yang sehat secara fisiologis dan mempengaruhi kejadian tuberkulosis paru antara lain:

Kerangka Teori

Kerangka Konsep

Hipotesis Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN

  • Jenis dan Desain Penelitian
  • Tempat dan Waktu Penelitian
    • Tempat Penelitian
    • Waktu Penelitian
  • Populasi dan Sampel Penelitian
    • Populasi Penelitian
    • Sampel Penelitian
  • Alat Pengumpul Data
    • Instrumen Penelitian
    • Sumber Data
  • Prosedur Pengumpulan Data
  • Defenisi Operasional
  • Pengolahan dan Analisa Data
    • Pengolahan Data
    • Analisa Data

Hasil uji statistik diperoleh p-value < 0,05 (p=0,001), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara perumahan dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua. Hasil survei menunjukkan jumlah ventilasi rumah responden penderita tuberkulosis paru dan responden bukan penderita tuberkulosis paru yang memenuhi syarat adalah 51,1%. Hasil uji statistik diperoleh p-value < 0,05 (p=0,025), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara ventilasi rumah dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua.

Responden yang memiliki suhu rumah tidak memenuhi syarat sebanyak 60,9% merupakan penderita tuberkulosis paru dan 27,3% responden bukan tuberkulosis paru. Hasil uji statistik diperoleh nilai p<0,05 (p=0,023), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara suhu rumah dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua. Hasil uji statistik diperoleh nilai P (0,001 < 0,05) sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi kepadatan perumahan dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua.

Hasil penelitian hubungan kondisi ventilasi dengan kejadian TB paru adalah total ventilasi yang tidak memenuhi syarat sebanyak 48,9% dan yang memenuhi syarat sebanyak 51,1%. Jadi, terdapat 48,9% responden di wilayah kerja Puskesmas Batunadua yang tidak memenuhi syarat berisiko terkena TBC paru. Hasil penelitian hubungan kondisi suhu dengan kejadian TBC paru adalah total suhu rumah yang tidak memenuhi syarat sebanyak 44,4% dan yang memenuhi syarat sebanyak 55,6%.

Responden yang paling banyak memiliki suhu rumah tidak sesuai adalah responden penderita TB paru sebesar 60,9%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC paru pada orang dewasa (Studi kasus di BP4 Pati).

Tabel 3.2 Defenisi operasional
Tabel 3.2 Defenisi operasional

HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Batunadua merupakan salah satu dari lima belas Puskesmas yang berada di wilayah kerja Kota Padangsidimpuan yang terletak di kecamatan Padangsidimpuan Batunadua yang wilayah kerjanya 15 desa. Secara geografis luas wilayah kerja adalah 38,74 km2 yang berbatasan dengan Kabupaten Padangsidimpuan Angkoa Julu di utara, Kabupaten Padangsidimpuan Selatan di selatan, Kabupaten Padangsidimpuan Tenggara di barat, dan kabupaten Padangsidimpuan Tenggara di timur, dan desa Pargarutan di timur.

Karakteristik Responden

Dari hasil tabel 4.1 diatas terlihat bahwa dari 45 responden, kelompok umur terbanyak adalah 40-59 tahun yaitu sebanyak 21 responden (46,7%), sedangkan kelompok umur responden paling sedikit adalah ≥60 tahun. , masing-masing. 3 responden (6,7%). Dari hasil tabel 4.2 diatas terlihat bahwa dari 45 responden, 25 responden (55,6%) berjenis kelamin laki-laki dan 20 responden (44,4%) berjenis kelamin perempuan. Dari hasil tabel 4.3 diatas terlihat bahwa dari 45 responden, yang terbanyak memiliki anak lebih dari 3 yaitu 30 responden (66,7%), dan yang terendah memiliki 1 anak yaitu 4 responden (8,9%).

Dari hasil tabel 4.4 diatas terlihat bahwa dari 45 responden, jenis pekerjaan tertinggi adalah Ibu Rumah Tangga yaitu sebanyak 16 responden (35,6%), dan jenis pekerjaan terendah adalah tidak bekerja sebanyak 1 responden (2,2%). . Dari hasil tabel 4.5 diatas terlihat bahwa dari 45 responden, pendidikan tertinggi tamat SMP sebanyak 21 responden (46,7%), dan pendidikan terendah tamat SD sebanyak 1 responden (2,2%). .

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas  Batunadua Tahun 2018
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas Batunadua Tahun 2018

Hasil Analisis Univariat

  • Kejadian TB Paru
  • Kepadatan Hunian
  • Ventilasi
  • Suhu

Hasil survei menunjukkan total kepadatan tempat tinggal responden penderita tuberkulosis paru dan responden yang tidak memenuhi syarat sebanyak 55,6%, sedangkan yang tidak memenuhi syarat hanya 44,4%. Responden yang memiliki rumah tidak memenuhi syarat diantaranya adalah mereka yang mengidap TBC paru, yaitu sebanyak 69,6% responden dan 18,2% responden tanpa TBC paru. Dari hasil analisis tabel 4.10 terlihat bahwa responden penderita tuberkulosis paru terbanyak umumnya mempunyai kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat, rumah responden sebanyak 16 orang (69,6%), dan rumah susun yang memenuhi syarat. kondisinya hanya Rumah sebanyak 7 responden (30,4%), dan yang tidak menderita tuberkulosis paru mempunyai kondisi lebih untuk tinggal yaitu 18.

Responden yang ventilasi rumahnya tidak patuh sebanyak 65,2% responden penderita TB paru dan 31,8% responden tanpa TB paru. Hasil penelitian terlihat bahwa total suhu rumah responden yang menderita TBC paru memenuhi syarat sebanyak 55,6% dan responden yang tidak menderita TBC paru sebanyak 44,4%. Pada kondisi perumahan yang buruk (tidak patuh), mayoritas responden menderita TBC paru sebesar 69,6%, sedangkan pada responden tanpa TBC paru hanya sebesar 18,2%.

Hal ini serupa dengan hasil survei, dari 45 responden di wilayah kerja Puskesmas Batunadua, 44,4% tidak memenuhi syarat kepadatan hidup yang akan mempengaruhi penularan penyakit tuberkulosis paru, karena kuman penyakit. Penularan penyakit tuberkulosis paru dapat menular melalui udara, sehingga jika rumah padat dengan mikroba maka sangat mudah menular. Responden yang ventilasinya paling banyak tidak memenuhi syarat adalah responden penderita tuberkulosis paru sebanyak 65,2%, sedangkan pada kontrol tidak ada yaitu 31,8%. Hasil uji statistik diperoleh nilai P (0,0025 < 0,05) yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian ventilasi udara tidak memenuhi syarat dengan penularan penyakit tuberkulosis paru.

Hasil uji statistik diperoleh nilai P (0,024 < 0,05) yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara terjadinya suhu udara di bawah standar dengan penularan penyakit tuberkulosis paru. Hubungan umur, jenis kelamin dan kepadatan tempat tinggal dengan kejadian tuberkulosis paru pada pasien rawat jalan di RSUD Noongan.

Tabel 4.8 Distribusi Rumah Responden Berdasarkan Keadaan Ventilasi  Rumah  di Puskesmas Batunadua Tahun 2018
Tabel 4.8 Distribusi Rumah Responden Berdasarkan Keadaan Ventilasi Rumah di Puskesmas Batunadua Tahun 2018

Hasil Analisis Bivariat

  • Hubungan Kepadatan Hunian dengan kejadian TB Paru
  • Hubungan Ventilasi dengan kejadian TB Paru
  • Hubungan Suhu dengan kejadian TB Paru

PEMBAHASAN

Hubungan Kepadatan Hunian dengan Kejadian TB Paru

Hasil penelitian Kepadatan Permukiman menunjukkan kepadatan total perumahan yang tidak memenuhi syarat sebesar 44,4% dan yang memenuhi syarat 55,6%. Menurut Soemirat, (2000), luas lantai rumah sehat harus mencukupi untuk penghuni didalamnya, artinya luas lantai rumah harus disesuaikan dengan jumlah penghuni agar tidak menimbulkan kelebihan beban. . Hal ini tidak sehat karena selain menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, jika salah satu anggota keluarga terjangkit penyakit menular maka akan mudah menular ke anggota keluarga lainnya.

Hasil penelitian Rusnoto (2006), mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan prevalensi TBC paru pada orang dewasa di pusat pencegahan dan pengobatan TBC paru di Pati, dari hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan odds rasio. adalah sebesar 5,983 dengan interval kepercayaan 95% dengan p-value = 0,0047. Penelitian yang dilakukan oleh Toni Lumban Tobing (2009), mengenai pengaruh perilaku penderita TBC paru dan kondisi sanitasi terhadap pencegahan potensi penularan TBC paru pada keluarga di Kabupaten Tapanuli Utara, dari hasil penelitian tersebut ditemukan kepadatan pemukiman kondisi yang memiliki hubungan signifikan dengan penyakit TBC. Hal ini terlihat dari Odds Ratio sebesar 3,3 yang berarti kondisi kepadatan pemukiman rendah mempunyai risiko tertular TB paru 3,3 kali lebih besar dibandingkan dengan kondisi kepadatan pemukiman baik.

Jika rumah tidak ramai maka sirkulasi udara tidak akan terhambat sehingga penderita dan anggota keluarga lainnya dapat mencegah penularan penyakit tuberkulosis paru.

Hubungan Ventilasi Rumah dengan Kejadian TB Paru

Hubungan Suhu Rumah dengan Kejadian TB Paru

Terdapat hubungan antara kepadatan pemukiman dengan kejadian penyakit tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua. Ada hubungan ventilasi dengan kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua Kecamatan Padangsidsimpuan Batunadua. Ada hubungan suhu dengan kejadian penyakit tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua Kecamatan Padangsidsimpuan Batunadua.

Pelayanan kesehatan memberikan edukasi mengenai faktor lingkungan fisik yang buruk (kepadatan perumahan, ventilasi dan suhu) yang berhubungan erat dengan penyakit TBC paru. Dinas kesehatan juga dapat menyebarkan media informasi seperti leaflet, poster, dan lain-lain, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat terdampak oleh informasi tentang TBC paru. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan program investigasi TBC paru dalam pelacakan kasus dan juga lebih aktif dalam melakukan pengendalian pasien TBC paru untuk mencegah penularan penyakit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tuberkulosis paru Bacillus resisten asam positif di Puskesmas Kabupaten Serang Kota Serang. Perbedaan kepatuhan pengobatan pada pasien TBC paru yang diawasi oleh PMO dan tidak diawasi oleh PM di Wilayah Puskesmas Kabupaten Boyolali. Efek hepatotoksik antituberkulosis terhadap kadar serum aspartate aminotransterase dan alanine aminotransterase pada pasien tuberkulosis paru.

Pengaruh perilaku penderita tuberkulosis paru dan kondisi rumah terhadap pencegahan kemungkinan penularan tuberkulosis paru pada keluarga di Kabupaten Tapanuli Utara. Faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Batunadua Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua tahun.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan melatih para eksekutif untuk meningkatkan pengawasan deteksi kasus dan membantu mencegah penularan tuberkulosis. Pengaruh dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis di Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu. Faktor lingkungan berhubungan dengan kejadian penyakit tuberkulosis positif BTA di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok.

Gambar

Tabel 3.2 Defenisi operasional
Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Puskesmas  Batunadua Tahun 2018
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas  Batunadua Tahun 2018
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak di Puskesmas  Batunadua Tahun 2018
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil data yang diambil peneliti, seluruh wilayah kerja Puskesmas Jambi Kecil tahun 2021 memenuhi syarat kesehatan (100%),namun variabel ini tidak bisa