• Tidak ada hasil yang ditemukan

keselamatan kerja buruh pabrik penggilingan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "keselamatan kerja buruh pabrik penggilingan"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Setelah menjelaskan beberapa hal tentang perlindungan keselamatan dan kesehatan pekerja yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak yang mempekerjakannya (pengusaha), peneliti menemukan adanya kesenjangan antara apa yang sebenarnya dan apa yang seharusnya terjadi, khususnya di desa Mumbulsari di sebuah pabrik bernama UD. LANCAR, di Desa ini terdapat penggilingan padi yang sudah berdiri kurang lebih sepuluh tahun, tidak hanya penggilingan padi, tetapi juga tempat beternak ayam dan juga penggilingan jagung yang merupakan bagian dari penggilingan padi. Pada praktiknya, para pekerja di penggilingan padi UD.Lancar tidak mendapatkan perlindungan keselamatan dan kesehatan secara penuh dari pabrik, seperti halnya para pekerja yang memasukkan beras ke dalam penggilingan padi dan tidak menggunakan alat pelindung diri seperti masker. yaitu sesak nafas yang disebabkan karena menghirup udara yang berdebu. Dan menurut para pekerja di sana yang sudah lama bekerja di pabrik tersebut, rata-rata mereka terserang penyakit pneumonia, terutama yang bekerja di dekat pabrik, bahkan ada yang meninggal karena sering menghirup udara beruap akibat penggilingan padi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis berpendapat bahwa permasalahan tersebut layak dijadikan topik penelitian ilmiah yaitu “Keselamatan Kerja Pekerja Pabrik Penggilingan Padi UD.LANCAR Desa Mumbulsari Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember dalam perspektif UU No.

Fokus Penelitian

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi ilmu pengetahuan dalam bidang praktis hukum ekonomi Islam, khususnya kaitannya dengan keselamatan kerja dalam perspektif UU No. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pemikiran ilmiah bagi penelitian ilmiah dan masyarakat yang berminat untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan di bidang ketenagakerjaan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan khususnya tentang keselamatan kerja pada saat pekerja bekerja maupun dalam praktek.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi suatu kegiatan akademis dan sebagai tambahan wawasan serta.

Definisi Istilah

Dalam Pasal 2 ayat 1, Nampaknya 1) Pengusaha wajib menyediakan APD (alat pelindung diri) bagi pekerja/pekerja di tempat kerja. Wawancara yang saya lakukan dengan salah satu pekerja/buruh pabrik Ud.Lancar yaitu Bpk. Sutari, kata. Dari hasil observasi yang saya lakukan, para pekerja pabrik/buruh di UD.Lancar tidak memberikan alat pelindung diri kepada pekerjanya karena dianggap hanya pekerjaan ringan saja yang tidak memerlukan alat pelindung diri.

Terkait alat pelindung diri yang harus dipakai oleh pekerja/buruh pabrik penggilingan padi, sebaiknya diterapkan standar operasional yaitu hair cup.

Sistematika Penulisan

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Penelitian Terdahulu

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, analisis data menggunakan analisis induktif. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah pada fokus penelitiannya (karena penelitian ini hanya berfokus pada perlindungan keuntungan bagi diri sendiri dan keluarganya, dan penelitian saya lebih banyak membahas tentang kesehatan dan keselamatan pekerja), lokasi penelitian , tahun penelitian, dan hasil penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya terletak pada fokus penelitiannya (karena penelitian ini lebih fokus hanya pada pemberian sanksi bagi yang melanggar peraturan keselamatan dan kesehatan kerja yang telah disepakati bersama, sedangkan penelitian saya lebih fokus membahas kesehatan dan keselamatan pekerja, yang mana dalam penelitian saya justru kebalikan dari penelitian ini karena kurang terpenuhinya tanggung jawab penggilingan padi terhadap pekerja), metode penelitian, lokasi penelitian, tahun penelitian dan hasil penelitian.

Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penyusunan tesis diplomanya adalah penelitian deskriptif kualitatif, karena tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan atau menggambarkan dan menjelaskan perlindungan hukum terhadap pekerja perempuan di PT.

Kajian Teori

  • Keselamatan kerja
  • Fungsi dan jenis alat pelindung diri
  • Jenis Perlindungan Kerja
  • Perlindungan Sosial atau Kesehatan Kerja
  • Perlindungan Teknis atau Keselamatan Kerja
  • Pengertian pekerja/buruh
  • Pedoman Pembuatan Peraturan Perusahaan No. IN5 8/
  • Pengawasan ketenagakerjaan
  • Perlindungan ketenagakerjaan

Di Kota Surakarta dan sekitarnya banyak ditemukan buruh/pekerja yang merasa tidak puas dengan besaran upah yang diterimanya karena merasa upah tersebut tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang dalam hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan. UU Ketenagakerjaan, Pasal 88, ayat 1, tentang remunerasi. Khusus dalam konteks ketenagakerjaan, terdapat sejumlah ketentuan pokok yang melindungi hak-hak pekerja/pegawai. Namun kenyataannya, isu perlindungan hak-hak pekerja di Indonesia akhir-akhir ini dirasakan mengalami kerentanan yang luar biasa sebagai dampak dari kebijakan undang-undang ketenagakerjaan Indonesia.

Tujuan dari perlindungan hak pekerja/pegawai adalah untuk menjamin agar sistem hubungan kerja tetap berjalan harmonis tanpa dibarengi dengan tekanan dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Migrasi Republik Indonesia nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri. Peraturan Menteri ini mengatur apa saja yang wajib dimiliki dan diberikan kepada pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan baik secara kelompok maupun sendiri-sendiri. Perlindungan teknis adalah suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan upaya melindungi pekerja/pekerja dari resiko kecelakaan yang disebabkan oleh alat kerja atau bahan yang digunakannya. Perlindungan ini lebih sering disebut perlindungan kerja.

Perlindungan ekonomi adalah suatu bentuk perlindungan yang berkaitan dengan upaya memberikan penghasilan yang cukup bagi pekerja/buruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarganya. Selain itu, dalam hal pekerja tidak dapat bekerja karena sesuatu di luar kendalinya, perlindungan semacam ini biasa disebut jaminan sosial.16. Kesehatan kerja sebagaimana disebutkan di atas merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial karena ketentuan yang berkaitan dengan kesehatan kerja berkaitan dengan permasalahan sosial dan kemasyarakatan, yaitu peraturan yang dimaksudkan untuk membatasi kekuasaan pengusaha untuk memperlakukan mereka sesuai keinginan mereka, tanpa membayar. untuk itu. memperhatikan standar yang berlaku terlepas dari kondisinya. Pekerja adalah makhluk Tuhan yang mempunyai hak asasi manusia.

Jadi jelas bahwa kesehatan kerja bertujuan untuk melindungi atau melindungi pekerja/buruh dari kejadian atau kondisi hubungan kerja yang membahayakan kesehatan dan moralnya pada saat pekerja atau pekerja melakukan pekerjaannya. Bagi pekerja/pekerja, jaminan perlindungan keselamatan dalam bekerja akan menciptakan suasana kerja yang tenang sehingga pekerja/pekerja dapat fokus pada pekerjaannya tanpa perlu khawatir suatu saat akan mengalami kecelakaan. Pengaturan keselamatan kerja di dalam perusahaannya akan mampu mengurangi terjadinya kecelakaan yang mungkin terjadi, yang berakibat pada kewajiban pengusaha untuk memberikan jaminan sosial. Penyediaan gratis semua alat pelindung diri yang wajib di tempat kerja masing-masing kepada seluruh pekerja/karyawan. a) Memasang gambar Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan bahan panduan lainnya di tempat kerja sesuai arahan pekerja pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja.

Ayat (2): pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan kepada seluruh pekerja/buruh mengenai isi perjanjian kerja bersama atau perubahannya.

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Subjek Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis Data
  • Keabsahan Data
  • Tahap – tahap Penelitian

Data primer inilah yang menjadi dasar peneliti dalam menyimpulkan permasalahan sistem keselamatan kerja pada pekerja Pabrik Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbulsari Jember dari sudut pandang UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Maqhasyid al-Syariah. Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dan prihatin atas kejadian yang terjadi di Pabrik Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbusari Jember. Mengumpulkan data dari masyarakat umum yang mengetahui kondisi di Pabrik Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbulsari Jember.

Penerapan Keselamatan Kerja pada Penggilingan Padi UD.LANCAR di Desa Mumbulsari Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember. Analisis penulis mengenai penerapan keselamatan kerja oleh pemilik penggilingan padi UD.Lancar. Terdapat kesenjangan antara apa yang sebenarnya dan apa yang seharusnya pada saat pemeliharaan lima unsur utama yang dilakukan di pabrik beras UD.Lancar Mumbulsari Jember.

Penerapan Keselamatan Kerja pada Penggilingan Padi UD.Lancar di Desa Mumbulsari Kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember. Analisis penerapan keselamatan kerja yang terjadi di pabrik beras UD.Lancar Mumbulsari Jember dapat dilihat dari tampilan data dan analisis data yang telah dijelaskan peneliti di awal. Pemilik pabrik tidak serta merta menyikapi hasil analisis data lokasi kerja yang sering terjadi kecelakaan kerja di pabrik beras UD.Lancar.

Penerapan keselamatan kerja di penggilingan padi UD.Lancar Mumbulsari Jember dalam perspektif Maqasyid al-Syariah. Setelah peneliti menjelaskan pada diskusi tentang keselamatan kerja pekerja pabrik penggilingan padi di UD.

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

Gambaran Umum Objek Penelitian

Produksi padi yang sangat tinggi tersebut dibarengi dengan banyaknya penggilingan padi, salah satunya terletak di Dusun Krajan, Desa Mumbulsari yang disebut PBK.Lancar. Keselamatan kerja memang sangat diperlukan bagi seluruh pekerja, namun yang terjadi saat ini di Pabrik Penggilingan Padi UD.Lancar Mumbulsari Jember, pekerjaan yang mereka lakukan sebagian besar adalah apa yang penulis lihat langsung saat berkunjung ke lokasi, banyak diantaranya yang menggunakan cara manual. . Namun dalam praktiknya, pekerjaan yang dilakukan para karyawan di pabrik UD.Lancar tidak sesuai dengan ketentuan hukum.

Tempat kerja yang sering terjadi kecelakaan pada penggilingan padi UD.Lancar terletak pada area penggilingan padi, tepat pada saat proses penggilingan padi berlangsung hingga selesai. Dengan kata lain, praktik yang terjadi di penggilingan padi ini tidak sesuai atau tidak memenuhi syarat yang diatur dalam undang-undang. Dalam praktiknya, menurut kelima unsur utama yang diuraikan di atas, penggilingan padi ini tidak memberikan perawatan yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan dan tujuan Maqasyid al-Syariah.

Permasalahan tersebut dibahas dalam hasil penelitian lapangan yang dilakukan peneliti selama penelitian berlangsung, berdasarkan fokus penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya mengenai keselamatan kerja pada penggilingan padi UD.Lancar di desa Mumbulsari kecamatan Mumbulsari Kabupaten Jember. Analisis mengenai penerapan keselamatan kerja yang terjadi di Pabrik UD.Lancar Mumbulsari Jember dapat diambil kesimpulan dari apa yang dijelaskan oleh informan. Hasil analisis data pertama mengenai alat pelindung diri di UD.

Kecelakaan ini sering terjadi pada pekerja/pekerja di area penggilingan padi, namun pihak pabrik tidak melakukan pemeriksaan secara langsung untuk meminimalisir risiko terulang kembali. Dapat kita simpulkan bahwa penerapan keselamatan kerja yang dilakukan di pabrik penggilingan padi UD.Lancar Mumbulsari Jember tidak memberikan perlindungan diri sesuai dengan standar operasional yang ada sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Migrasi Republik Indonesia. Nomor PER.08/MEN/VII/2010. Penggilingan padi UD.Lancar yang dibawakan Maqasyid al-Syariah memuat unsur kedua yaitu perlindungan jiwa orang lain.

Namun menurut pandangan Maqasyid Al-Syariah, penggilingan padi UD.Lancar adalah menurut As-syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat, yang mengatakan bahawa “apabila hal yang serupa dengan qishash, ia tidak termasuk dalam perkara primer (utama), nampaknya tidak menguatkannya dalam haji (skunder), tetapi hanya pelengkap (tertiary).

Gambar 1.2 Proses penimbangan beras pada sak beras
Gambar 1.2 Proses penimbangan beras pada sak beras

Referensi

Dokumen terkait