Kesulitan Belajar Membaca pada Siswa Kelas II SD
Penulisan makalah ini sebagai salah satu tugas pembelajaran
Mata Kuliah Problematik dan Perbaikan Pembelajaran di Pendidikan Dasar Yang diampu oleh Prof. Dr. Petrus Poerwadi, MS
Di susun oleh :
Nama : YESSY KRISTIANTI NIM : 224030109008
Program Pascasarjana
Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Palangkaraya
2023
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Analisis Peserta Didik tentang “Kesulitan Belajar Membaca pada Siswa Kelas II SD” dengan baik dan tepat waktu.
Terima kasih tak lupa saya ucapkan kepada semua rekan – rekan yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini serta terima kasih atas bimbingannya kepada Prof. Dr. Petrus Poerwadi, Ms selaku dosen pengampu mata kuliah Problematik dan Perbaikan Pembelajaran di Pendidikan Dasar.
Akhirnya atas segala kerendahan hati dan keterbatasan ilmu pengetahuan dan informasi yang kami terima. Saya menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini dapat memberikan informasi serta bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Palangka Raya, 17 November 2023
Penulis,
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……… i
DAFTAR ISI ………. ii
BAB I PENDAHULUAN ………...… 1
A. Latar Belakang ……….. 1
B. Rumusan Masalah ……….…… 4
C. Tujuan penulis ……….….………… 4
D. Manfaat ……….……… 5
BAB II PEMBAHASAN ……….……….……….. 6
A. Pengertian Kesulitan Membaca ……….……. 6
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Membaca ……….… 7
C. Gejala dan Ciri Kesulitan Membaca ……….… 9
D. Strategi Guru dalam Megatasi anak Kesulitan Belajar Membaca ………. 11
BAB III PENUTUP ……….……….. 16
KESIMPULAN ………..……….……. 16
DAFTAR PUSTAKA ……….….……….. 17
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Membaca merupakan salah satu komponen dan sistem komunikasi, membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh semua anak karena melalui membaca anak dapat belajar banyak tentang berbagai bidang studi. Oleh karena itu membaca merupakan keterampilan yang harus diajarkan sejak anak masuk SD dan kesulitan. Belajar membaca harus secepatnya diatasi. Kesulitan belajar menunjukan pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mambaca. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersama dengan adanya kondisi lain yang mengganggu adalah berbagai pengaruh lingkungan. Kesulitan belajar tampil sebagai suatu kondisi ketidak mampuan yang nyata pada orang-orang yang memiliki intelegensi rata-rata hingga superior.
Siswa SD perlu memiliki keterampilan membaca yang memadai. Pembelajaran membaca di SD yang dilaksanakan pada jenjang kelas I dan II merupakan pembelajaran membaca tahap awal atau disebut membaca permulaan. Penguasaan keterampilan membaca permulaan dan memiliki kelancaran dalam membaca.
Pengajaran membaca di SD terbagi menjadi 2 tahapan yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan yang di ajarkan di kelas I dan II memiliki peranan yang sangat penting. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran serat kesulitan dalam menangkap dan memahami
2 informasi yang disajikan melalui berbagai buku pelajaran, buku – buku bahan penunjang, dan sumber sumber belajar tertulis lainya.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan agar siswa lancar membaca, namun tidak jarang ada beberapa atau sekelompok siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca. Fakta dilapangan menunjukan bahwa pada prosesnya dalam menguasai kemampuan membaca. 70 persen siswa mengalami kesulitan. Kesulitan yang dialami oleh masing – masing siswa berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam kondisi tersebut guru, orang tua, atau orang dewasa yang dekat dengan anak perlu mengupayakan bantuan dan pendampingan agar anak yang mengalami kesulitan membaca tersebut segera mendapatkan penanganan yang tepat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan analisis kesulitan membaca permulaan. Melalui analisis kesulitan membaca permulaan, maka akan diketahui pada aspek-aspek mana saja letak kesulitan membaca masing-masing siswa. Analisis ini perlu dilakukan sedini mungkin di kelas-kelas awal, dengan demikian maka tidak terlambat untuk melakukan perbaikan dengan memberikan penanganan yang tepat kepada siswa.
Faktor-faktor peyebab kesulitan membaca yang dialami oleh setiap anak dapat disebabkan oleh faktof internal pada diri anak itu sendiri atau faktor eksternal di luar diri anak.
Faktor internal pada diri anak meliputi faktor fisik, intelektual dan psikologis. Adapun faktor eksternal diluar diri anak mencakup lingkungan keluarga dan sekolah (Farida Rahim, 2006: 16).
Jumlah siswa kelas IIa di SD Negeri & Bukit Tunggal sebanyak 18 siswa. Dari jumlah total tersebut, 18 siswa mengalami kesulitan membaca permulaan. Salah satu bentuk kesulitan membaca permulaan tersebut yaitu kesulitan mengenali huruf. Ada siswa yang belum mengenal beberapa huruf dengan baik atau bahkan sebagian besar bentuk huruf. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor neurologis pada bagian bagian otak yang merekan huruf cetakan, yaitu
3 homologogus yang terdapat pada bagian hemisfer kiri. Siswa yang lain mengalami kesulitan dalam membedakan huruf yang bentuknya mirip seperti huruf “b” dengan “d”, huruf “p”
dengan “q”, huruf “m” dengan “w” dan sebagainya. Mereka juga sulit membedakan yang bunyinya hampir sama yaitu antara huruf “f” dengan “v”. I. G.A.K. Wardani (1995:57) mengatakan jika hal itu terjadi, maka siswa tidak dapat melakukan decoding, yaitu membaca tulisan sesuai dengan bunyinya.
Kesulitan lain yang siswa alami yaitu merangkai huruf menjadi kata-kata. Ada siswa yang bahkan kesulitan dalam merangkai 2 huruf saja, misalnya huruf “b” dan “o” dirangkai menjadi
“bo” dan huruf “I” dengan “I” menjadi Ia”, seharusnya dibaca bola”, tetapi kata “bola” tersebut tidak terbaca “bola oleh siswa. Terlebih untuk kata yang susunan huruf-hurufnya lebih kompleks seperti huruf konsonan rangkap sangat menyulitkan siswa, misalnya kata “nyamuk”,
“mengeong”, khawatir” dan lain-lain. Hal ini kemungkinan terjadi karena anak tidak mengenal huruf.
Sebagian siswa ketika mengeja ada yang menghilangkan beberapa huruf. Misalnya tulisan “menyanyikan” dibaca “menyanyi”. Hal tersebut karena anak tersebut menganggap huruf yang dihilangkan tersebut tidak diperlukan. Penyebab ini adalah karna membaca terlalu cepat, sehingga terjadi penghilangan beberapa huruf.
Siswa juga masih terbata-bata dalam mengeja ketika membaca rangkaian kalimat.
Ketidaklancaran membaca seperti ini karena anak memusatkan perhatiannya secara berlebihan pada proses decoding (Amitya Kumara, A. Jayanti Wulansari & L. Gayatri Yosef, 2014:8). Ada siswa yang bercanda dan berlari-lari ketika disuruh membaca. Selain itu ada juga siswa yang membaca dengan menggunakan alat bantu seperti jari tangan. Hal itu karena anak kesulitan konsentrasi.
4 Berdasarkan rendahnya kemampuan membaca diatas, sebagai guru yang berperan untuk menanamkan kemampuan membaca pada diri siswa harus mengetahui pada bagian mana letak kesulitan, membaca yang dialami siswa terutama pada membaca permulaan, karena kesulitan yang dialami siswa terutama pada siswa permulaan, karena kesulitan yang dialami siswa bermacam-macam dan satu kemungkinan akan mengalami kesulitan yang berbeda dengan siswa yang lain. Akan lebih baik jika kesullitan membaca siswa terdeteksi sejak dini.
B. Rumusan masalah
Beberapa rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain sebagai berikut : 1. Apa yang di maksud dengan kesulitan membaca?
2. Apa penyebab kesulitan belajar membaca?
3. Apa gejala dan ciri-ciri kesulitan membaca?
4. Bagaimana cara mengatasi anak yang mengalami kesulitan belajar membaca?
C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini, yakni sebagai berikut : 1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kesulitan membaca
2. Mengetahui apa penyebab kesulitan membaca 3. Mengetahui gejala dan ciri-ciri kesulitan membaca
4. Mengetahui dan mengerti bagaimana cara mengatasi anak yang mengalami kesulitan belajar membaca.
5 D. Manfaat
Manfaat yang saya peroleh dari pembuatan makalah ini yaitu saya dapat mengetahui serta memahami tentang kesulitan belajar membaca pada anak dan mengetahui penyebabnya, gejala dan ciri-ciri yang ada pada anak kesulitan membaca. Dan hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat berguna sebagai :
1. Penambahan pengetahuan dan alasan tentang kesulitan belajar membaca pada anak
2. Bahan masukan bagi pembaca tentang bagaimana cara mengatasi anak yang mengalami kesulitan bekajar membaca.
6 BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kesulitan Membaca
Kesulitan membaca sering didefenisikan sebagai suatu gejala kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen dan kalimat. Siswa yang mengalami kesulitan membaca mengalami satu atau lebih kesulitan dalam memproses informasi. Anak kesulitan membaca sering memperlihatkan kebiasaan membaca yang tidak penuh ketegangan seperti mengeriyit kening, gelisah, irama, suara meninggi, atau mengigit bibir. Menurut Mercer, ada empat kelompok karakteristik kesulitan membaca, yaitu 1. Kebiasaan membaca, 2. Kekeliruan mengenal kata, 3. Kekeliruan pemahaman, dan 4. Gejala-gejala serba aneka.
Pada umumnya “kesulitan” merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapi tujuan, sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasi. Kesulitan membaca dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam suatu proses membaca yang ditandai adanya hembatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan ini mungkin disadari dan mungkin juga tidak disadari oleh orang yang mengalaminya, dan bersifat sosiologi, psikologis dalam keseluruhan proses belajarnya.
Kesulitan membaca pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifestasi tingkah laku secara langsung, sesuai dengan pengertian kesulitan membaca
7 sebagaimana dikemukakan di atas, maka tingkah laku yang dimanifestasikan ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu.
Kesulitan belajar spesifik adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa tilisan, gangguan tersebut mungkin menampakan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau menghitung.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Membaca
Banyak faktor yang mempengaruhi kesulitan membaca siswa, baik membaca permulaan maupun membaca lanjutan atau membaca pemahaman. Adapun faktornya sebagai berikut :
1. Faktor fisologis
Faktor yang mencakup kesehatan fisik. Kelelahan bisa juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar, apalagi membaca. Gangguna pada alat bicara, alat pendengar, dan alat penglihatan dapat memperlambat kemajuan membaca anak. Meskipun anak itu tidak mempunyai gangguan pada alat penglihatannya. Beberapa anak dapat mengalami kesulitan membaca. Hal itu terjadi karena belum berkembangnya kemampuan mereka dalam membedakan simbol-simbol cetakan, seperti huruf, angka-angka dan kata-kata, misalnua belum dapat membedakan b,p, dan d.
2. Faktor Intelektual
Faktor intelektual atau istilah intelegensi didefenisikan oleh Heinz sebagai suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat. Secara umum, intelegensi anak tidak
8 sepenuhnya mempengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca. Faktor metode mengajar guru, prosedur dan kemampuan juga turut mempengaruhi kemampuan membaca anak.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga mempengaruhi peningkatan kemampuan membaca siswa. Faktor lingkungan mencakup latar belakang dan pengalaman siswa di rumah serta sosial ekonomi keluarga siswa.
4. Faktor Psikologis
Faktor lain yang juga mempengaruhi peningkatan kemampuan membaca anak adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motovasi, minat kematangan sosial, emosi dan penyesuaian diri.
5. Faktor Penyelenggaraan Pendidikan yang kurang Tepat, faktor ini berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
Harapan guru yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan kemampuan anak, Pengelolaan kelas yang kurang efektif,
Guru yang terlalu banyak mengkeritik anak, Guru kurang kreatif dalam mengolah bahan ajar
Kurikulum yang terlalu padat, sehingga hanya dapat dicapai oleh anak yang bekemampuan tinggi.
Ada beberapa faktor yang menghambat minat baca pada anak antara lain adalah : a. Hambatan dari lingkungan keluarga, bisa dikarenakan orang tua tidak suka
membaca, hal inilah yang menjadi masalah jika orangtua sendiri tidak menyukai kegiatan membaca tentu saja akan berdampak buruk pada proses pendidikan dan pembelajaran anak, kerena merekalah guru pertama anak. Pada dasarnya anak
9 akan mencontohnya dan tidak memberikan contoh serta kurangnyaa waktu orang tua bersama anak, biasanya hal ini disebabkan orangtua yang sibuk dengan urusan pekerjaan sampai anaknya diserahkan kepada pembantu.
b. Hambatan dari lingkungan sekolah, sekolah menganggap pelajaran membaca tidak dianggap penting, padahal anak-anak sanngat perlu untuk senantiasa memanaskan otak. Dan sungguh ironis di lembaga pendidikan yang paling diandalkan dalam hidup yakni sekolah, justru aktivitas membaca tidak lagi ditampilkan sebagai suatu yang menyenangkan mereka.
c. Hambatan dari lingkungan masyarakat, masyarakat sendiri memang banyak yang belum paham bahwa membaca itu penting dan menjadi kunci kemajuan bersama efeknya orang masih memandang aneh pada siapapun yang memegang buku dan membaca di tempat umum.
d. Hambatan dari keterbatasan akses atas buku, sebenarnya harga buku di Indonesia masih wajar jadi terasa mahal, karena daya beli masyarakat yang memang rendah dengan adanya harga buku yang mahal tersebut. Orangtua malas membeli buku apalagi bagi mereka yang ekonominya pas-pasan, namun hal ini bisa diatasi dengan membeli buku yang murah rajin berkunjung keperpustakaan atau bisa saja menyewa buku di tempat-tempat persewaan yang baik.
C. Gejala dan Ciri-ciri Kesulitan Membaca
Tidak semua orang yang kesulitan membaca memiliki ciri yang sama, karena setiap orang adalah unik, memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mengalami masalah mempelajari nama nama benda dan bunyi dari huruf – huruf.
2. Kemampuan mengeja tidak konsisten dan tidak bisa ditebak.
10 3. Menaruh kata dan bentuk dengan urutan yang salah, misalnya menuliskan huruf B
padahal yang dimaksud adalah D.
4. Bingung dengan urutan dari huruf-huruf dalam suatu kata.
5. Membaca sangat perlahan atau membuat kesalahan ketika membaca keras-keras, dan kemampuan membacanya berada di bawah rata-rata anak seusianya.
6. Mengalami gangguan visual ketika membaca, misalnya seorang anak akan melihat bahwa huruf-huruf dan kata-kata akan tampak berlompatan atau buram, padahal hasil tes mata menunjukan hal yang normal.
7. Dapat menjawab pertanyaan dengan baik secara lisan mengalami kesulitan ketika harus memberikan jawaban dalam bentuk tulisan.
8. Harus berusaha keras mempelajari hal-hal yang berurutan, seperti urutan hari atau urutan dari alfabet. Juga mengalami kesulitan untuk megingat urutan atau langkah- langkah dari suatu hal.
9. Menulis dengan sangat perlahan dan mempunyai tulisan tangan yang buruk, tidak dapat mengenali persamaan atau perbedaan pada setiap kata dan huruf.
10. Sulit memngingat instruksi yang cepat dan beurutan, juga mengingat kata-kata yang sudah dipelajari.
11. Mengalami kesulitan untuk mengerti kalimat-kalimat yang merupakan ungkapan atau istilah tertentu.
12. Ada kemungkinan orang yang mengalami kesulitan membaca merasa pusing ketika sedang berusaha belajar membaca
13. Mengalami kesulitan memproses apa yang didengar
14. Seorang anak kesulitan membaca biasanya menjadi pembuat onar atau justru terlalu pendiam.
11 15. Kesulitan memusatkan perhatian atau fokus, kadang hiperaktif atau justru sering
melamun
D. Strategi Guru dalam mengatasi anak kesulitan belajar membaca
Strategi guru merupakan tindakan nyata yang dilakukan oleh guru dalam mengajar melalui suatu cara tertentu. Strategi yang digunakan dalam mengajar tentunya strategi yang dinilai lebih efektif dan efisien (Jannah dkk., 2022). Strategi guru dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran. Guru merupakan peran penting dalam membentuk dan perkembangan siswa dalam mewujudkan tujuan hidup secara optimal. Sebagai seorang pendidik, dalam mendidik siswa tentunya guru memiliki berbagai peran di dalamnya. Untuk menjalankan perannya, seorang guru tentunya harus memiliki beberapa kualifikasi akademik, salah satunya adalah kompetensi (Rosyid &Marwan, 2018). Guru dapat menemukan dan menerapkan beberapa strategi yang berkaitan dengan kondisi dan karakteristik siswa dalam mengatasi permasalahan yang terjadi (juhaeni dkk,2022). Berdasarkan permasalahan yang terjadi di kelas IIa di SDN 7 bukit tunggal strategi yang dilakukan oleh guru tentunya memiliki tujuan untuk meminimalisir dan mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa, diantaranya :
1. Bimbingan belajar
Bimbingan belajar merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan siswa. Dalam bimbingan belajar guru memberikan bimbingan belajar membaca secara khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Pada proses bimbingan belajar
12 membaca, guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa (Hani Hanifah dkk, 2022). Strategi yang digunakan oleh guru dalam bimbingan belajar membaca yaitu: melakukan pengenalan huruf, mengeja dan mendikte. Bimbingan belajar yang dilakukan tentunya bertunjuan untuk meminimalisir kesulitan membaca permulaan pada siswa. Adapun hasil dari penerapan bimbingan belajar terdapat perkembangan yang baik dalam kemampuan membaca siswa.
2. Perhatian dan Motivasi Siswa
Salah satu strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa yang memberikan perhatian dan motivasi secara khusus pada siswa. Strategi yang dilakukan oleh guru ini dapat membangkitkan semangat dan minat siswa dalam belajar membaca (Janah dkk., 2022). Guru memberikan perhatian khusus dan motivasi kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca permulaan.
Perhatian khusus yang diberikan kepada siswa dengan melakukan bimbingan pada saat jam pelajaran dan di luar jam pelajaran. Selain itu, dalam memotivasi siswa guru melakukan dengan cara menampilkan video-video atau bahan ajar yang dapat memotivasi siswa dengan meyakinkan siswa bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Adapun dari pemberian perhatian secara khusus dan motivasi siswa dapat membangkitkan semangat dan minat belajar siswa dalam membaca.
Selain beberapa strategi yang sudah diuraikan di atas, penulis juga menemukan beberapa strategi yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan membaca permulaan pada siswa. Strategi ini bertujuan untuk membantu dan memudahkan
13 siswa dalam belajar membaca permulaan. Strategi membaca permulaan yang diterapkan pada siswa terdapat beberapa metode di dalamnya, diantaranya :
1. Metode Abjad
Penerapan metode abjad, guru melakukan pengenalan lambang- lambang huruf
terlebih dahulu kepada siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode abjad merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan siswa, guru melakukan pengenalan lambang- lambang huruf dan bunyi huruf dari A sampai Z. Hal ini ini bertujuan agar siswa mampu mengenal dan mengingat huruf dengan baik. Dengan demikian, dalam penerapan metode membaca permulaan ini siswa diajarkan terlebih dahulu dalam mengenal huruf-huruf abjad dan melafalkan huruf-huruf konsonan dan huruf vokal.
2. Metode kartu huruf
Guru juga menerapkan media belajar berupa kartu huruf sebagai alat bantu bagi siswa dalam belajar membaca permulaan dengan cara melihat dan mengingat huruf dan gambar serta tulisan pada kartu (Pangastuti & Hanum, 2017). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa salah satu strategi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa yaitu metode kartu huruf. Strategi ini serupa dengan metode abjad yang memperkenalkan huruf-huruf abjad dari A sampai Z. Pada proses penerapannya, guru menggunakan media pembelajaran berupa kartu huruf dan
14 kartu gambar yang terdapat tulisan dan makna gambar pada kartu tersebut. Hal ini tentunya bertujuan untuk memudahkan siswa dalam mengenali dan mengingat bentuk-bentuk huruf. Dengan demikian, penerapan metode ini bertujuan untuk meminimalisir kesulitan membaca permulaan pada siswa dan memudahkan siswa dalam mengingat dan memahami huruf.
3. Metode Eja
Pada penerapan metode eja, siswa diajarkan membaca dan menulis yang diawali dari huruf-huruf yang dirangkai dan menjadi suku kata.
Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa guru menerapkan metode mengeja sebagai strategi dalam mengajarkan siswa membaca permulaan. Guru menerapkan metode mengeja setelah siswa mampu mengenal huruf dengan baik. Pada tahap ini guru menerapkannya secara bertahap dan yang terpenting bagi guru adalah siswa mampu bersuara terlebih dahulu. Dengan demikian, guru menerapkan metode ini dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.
4. Metode Dikte
Setelah siswa mampu mengenal huruf dan mengeja dengan baik, selanjutnya guru menerapkan metode dikte dalam strategi mengajarkan siswa belajar membaca permulaan. Pada penerapan metode dikte sangat membutuhkan konsentrasi dan fokus yang penuh pada siswa untuk mendengarkan dan menulis kata demi kata yang diucapkan oleh guru dengan benar. Metode ini bermanfaat untuk siswa memiliki kemampuan mampu membaca dan menulis dengan cepat (Fauziah, 2018). Hasil pengamatan
15 menunjukkan bahwa guru menerapkan metode dikte secara perlahan setelah siswa sudah mampu mengenal huruf dan mengeja dengan baik. Pada penerapan metode ini sangat membutuhkan konsentrasi penuh bagi siswa dalam mendengarkan guru mendikte dan menulis huruf dengan benar. Dengan demikian, metode ini diterapkan untuk membantu dan mempercepat siswa dalam meningkatkan kemampuan membacanya
Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa strategi yang dilakukan oleh guru terkait kesulitan membaca permulaan siswa sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari berbagai upaya yang dilakukan oleh guru.
Adapun beberapa strategi yang dilakukan oleh guru, diantaranya: (1) melakukan bimbingan konseling, (2) bimbingan belajar, dan (3) memberikan perhatian dan motivasi. Dengan demikian, hasil data yang diperoleh menjelaskan bahwasanya strategi guru yang dilakukan dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas II dapat terlaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan membaca permulaan siswa yang semakin membaik.
16 BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan berdasarkan yang dilakukan mengungkapkan bahwa terdapat Delapan belas siswa kelas II di SDN 7 Bukit Tunggal yang masih mengalami kesulitan pada membaca permulaan. Masing-masing karakteristik permasalahan kesulitan membaca permulaan pada siswa dikategorikan sebagai berikut: (1) kesulitan dalam mengeja, (2) terbata-bata, (3) salah dalam pemenggalan kata, (4) menghilangkan huruf, (5) salah dalam menyebutkan huruf, dan (6) belum mengenal huruf. Permasalahan tersebut tentunya diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang menjadi penyebab bagi kesulitan membaca pada siswa, yaitu (1) sikap dan minat siswa dalam belajar, (2) intelegensi siswa, dan (3) kurangnya akan kesadaran siswa. Sedangkan yang termasuk ke dalam faktor eksternal, yaitu (1) lingkungan keluarga, dan (2) lingkungan sekolah. Dengan demikian, kesulitan membaca permulaan juga memiliki dampak buruk bagi siswa, diantaranya: (1) akademik siswa, (2) interaksi sosial siswa, dan (3) psikologis siswa. Terdapat beberapa strategi yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa.
Strategi yang dilakukan oleh guru, yaitu melakukan bimbingan belajar dan memberikan perhatian dan motivasi secara khusus kepada siswa-siswa tersebut. Selain itu, guru juga menerapkan beberapa strategi dalam mengajar membaca permulaan. Adapun strategi tersebut terdiri dari beberapa metode, diantaranya: (1) metode abjad, (2) metode kartu huruf, (3) metode eja, dan (4) metode dikte.
17 DAFTAR PUSTAKA
Farida Rahim, (2008). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
I.G.A.K. Wardani, (1995). Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
DEPDIKBUD, DIKTI.
Kumara, Amitya &Lucky Ade Sessiani, (2014). Menangani Anak yang Mengalami Kesulitan dalam Mengenali danMenyembunyikan Bunyi Huruf. Yogyakarta: PT Kanisius.
Pangastuti dan Hanum. 2017.” Pengenalan Abjad pada Anak Usia Dini Melalui Media Kartu Huruf”. Al Hikmah, 1 No. 1: 51-66.
Juhaeni dkk. 2022. “Strategi Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca pada Siswa Madrsah Ibtidayah”.
JIDeR, 2 No. 3 : 126-134.
Rosidi dkk. 2022.”Strategi Guru dalam Masa Pandemi Covid 19 pada Siswa Kelas di Sekolah Dasar”. JRTI, 7 No. 3 : 617-624.
Hani Hanifah dkk. 2020. “Perilaku dan Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Tujuan Pembelajaran”.
MANAZHIM, 2 No. 1 : 105-117.