Harapan penulis, buku ini dapat dijadikan referensi bagi pembaca pada umumnya dan orang tua pada khususnya dalam kaitannya dengan melatih keterampilan anak agar memiliki kecakapan hidup sejak dini dengan berpedoman pada lingkungan keluarga. Oleh karena itu, orang tua harus memahami konsep tumbuh kembang anak sesuai usianya. Orang tua perlu memahami apa yang dibutuhkan anak ketika mereka sudah mencapai usia tertentu.
Orang tua juga perlu mengetahui kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mendorong kemandirian anak dan bagaimana cara melatih anak melakukan kegiatan tersebut tanpa dipaksa, sehingga pada akhirnya menjadi kebiasaan yang bermanfaat hingga ia dewasa. Selain itu, orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak dalam melakukan pekerjaan dalam upaya mengembangkan kemandirian anak. Buku ini dikembangkan sebagai bahan bacaan bagi para orang tua serta guru dan pendidik anak usia dini.Buku ini menyajikan berbagai bahan bacaan tentang apa itu kemandirian, mengapa kemandirian itu penting dan bagaimana mengembangkan kemandirian anak.
Selain itu, buku ini juga memberikan penjelasan mengenai kegiatan dan langkah-langkah yang harus dilakukan orang tua dalam mengembangkan kemandirian anak, media yang dapat digunakan serta gambaran cara mengevaluasi perkembangan kemandirian anak. Terakhir, orang tua dapat menstimulasi secara maksimal perkembangan kemandirian anak di rumah, sehingga dapat melahirkan anak yang mandiri dan bertanggung jawab ketika dewasa nanti.
Tujuan
Sebagai teladan yang baik, orang tua hendaknya mewaspadai segala sesuatu yang dilakukannya karena mereka yakin semua yang dilakukannya merupakan pelajaran bagi anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dibayangkan hampir seluruh waktu anak dihabiskan di keluarga. Apabila orang tua tidak memberikan suasana kekeluargaan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan seluruh aspek kemampuan dan potensi anak, maka waktu anak akan terbuang sia-sia. dan tidak ada gunanya. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam buku ini, perlahan-lahan anak akan belajar menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan kemandiriannya.
Konsep Keterampilan Hidup Mandiri
Kemandirian Anak Usia 3-4 Tahun
- Pengertian Kemandirian
- Bentuk-Bentuk Kemandirian
- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian Menurut Mayke sugianto tedjasaputra dalam
- Tahapan Kemandirian
Kemandirian merupakan sikap dan perilaku seseorang yang mencerminkan tindakan yang biasanya bersifat individual, tanpa bantuan dan bantuan orang lain. Kemandirian dalam arti psikis dan mental berarti keadaan seseorang dalam hidupnya, mampu memutuskan atau berbuat sesuatu tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian, ketika anak beranjak dewasa, ia akan lebih mudah mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan tidak mudah bergantung pada orang lain.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perilaku mandiri ditunjukkan oleh kemampuan berinisiatif, kemampuan mengatasi masalah, dan keinginan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Berdasarkan pengertian kemandirian menurut para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah tidak bergantung pada orang lain, dalam arti kemampuan untuk melakukan segala aktivitas atau melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang lain, tentu saja menurut untuk memiliki kemampuan. Anak yang selalu dibantu akan selalu bergantung pada orang lain karena tidak mempunyai kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri.
Akibatnya, ketika dihadapkan pada suatu masalah, ia akan meminta bantuan orang lain dalam mengambil keputusan untuk dirinya dan memecahkan masalah tersebut. Mereka adalah anak-anak yang mandiri, mereka adalah tipe anak yang senang dan senang dibantu oleh orang lain.
Aspek-Aspek Perkembangan Kemandirian
Wujud kemandirian seseorang terlihat pada kemampuannya mengemukakan gagasan, pemikiran, memenuhi kebutuhan sendiri dan berani mempertahankan pendirian. Terwujudnya kemandirian anak terlihat dari kemampuannya berani memilih, yakin akan kemampuannya dalam berorganisasi dan menghasilkan sesuatu yang baik. Perwujudan kemandirian terlihat dari tanggung jawab seseorang untuk berani menghadapi resiko akibat dari keputusan yang diambilnya, menunjukkan kesetiaan dan mempunyai kemampuan untuk membedakan atau memisahkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain di lingkungannya.
Terwujudnya kemandirian anak terlihat pada kemampuannya menemukan akar permasalahan, mengevaluasi segala kemungkinan untuk mengatasi permasalahan dan berbagai tantangan serta permasalahan lainnya, tanpa harus mendapatkan bantuan atau bimbingan dari orang yang lebih tua. g) Pengendalian diri, merupakan kemampuan beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, kemampuan mengendalikan diri dan perasaan, sehingga seseorang tidak merasa takut, cemas, ragu-ragu, atau marah berlebihan ketika berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya.
Indikator-Indikator dalam Perkembangan Kemandirian
- Aspek Motorik
- Aspek Emosi a. Amarah
- Aspek Sosial a. Meniru
Metode Practical Life Activites dalam Mengembangkan Kemandirian Anak
Hal serupa juga diamati oleh Montessori, yaitu ketika bermain, anak mencari aktivitas bermanfaat yang bebas mereka pilih sendiri. Anak juga ingin diperlihatkan cara melakukan berbagai hal, dan mengharapkan ketersediaan alat, bahan, dan ruang yang mendukung. Mereka khawatir hal tersebut akan membuat anak kehilangan masa-masa menyenangkan sebagai anak yang seharusnya hidup bebas tanpa tanggung jawab, seperti bersenang-senang bermain pura-pura (dramatic play), memainkan berbagai permainan, bertingkah lucu, berlarian di luar, bekerja bersama teman, atau . bahkan hanya berdiri diam dan tidak melakukan apa pun.
Para orang tua ini sebenarnya hanya terjebak dalam tekanan dan kecemasan diri mereka sendiri ketika sudah dewasa. Merekalah yang memutuskan bahwa tanggung jawab pendidikan dan pekerjaan akan segera menimpa kehidupan anak-anak mereka. Namun, setelah mengamati anak-anak dengan cermat selama bertahun-tahun, ia mengembangkan pemahaman berbeda tentang apa yang disukai anak-anak dan tindakan apa yang dapat diambil untuk membantu mereka tetap bebas.
Dia juga menemukan bahwa ketika dia tidak mencoba menerapkan konsep relaksasi orang dewasa pada anak-anak, anak-anak tampak lebih bahagia ketika permainan mereka membantu mengembangkan keterampilan hidup dasar, dan mereka merasa lebih bebas ketika diajari dan dibiarkan mengurus diri mereka sendiri. . Dengan kata lain, anak-anaklah yang paling bersenang-senang. bermain" ketika kegiatan ini membantu mereka mengerjakan "pekerjaan" khusus mereka, yaitu membentuk anak yang tidak berdaya menjadi orang dewasa yang mandiri. Anak Montessori tidak hanya bermain boneka, membuat teh atau bermain bola saja, namun mereka akan benar-benar menjaga diri, membersihkan dan menjaga lingkungan serta belajar berperilaku sopan.
Kegiatan praktik langsung memungkinkan anak mencoba hal-hal yang dilakukan dan sering dilihat orang dewasa setiap hari, seperti berpakaian sendiri, membersihkan rumah, dan menyapa orang di sekitar. Karena Kegiatan Praktis dirancang untuk memberikan pengalaman nyata kepada anak-anak, maka bahan yang digunakan dalam kegiatan harus berupa alat kerja nyata dan bukan hanya model mainan alat orang dewasa. Semua bahan yang penting untuk kegiatan praktis harus disimpan tetapi tetap mudah diakses oleh anak-anak tanpa memerlukan bantuan orang dewasa.
Kepedulian lingkungan merupakan istilah lain dari pekerjaan rumah tangga, yaitu tugas-tugas yang sering dianggap anak kecil yang dikerjakan oleh orang dewasa tanpa melibatkan anak-anak. Tujuan anak melakukan Kegiatan Praktek lebih mengacu pada perjalanan melalui proses daripada menilai hasil akhir. Aktivitas langsung yang dilakukan oleh anak-anak memungkinkan anak-anak melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa dan selalu mereka perhatikan.
Media Pengembangan Kemandirian Anak
Agar anak mengetahui bahwa dengan melihat poster tersebut mereka sudah mengetahui fungsi dan tugas apa saja yang harus dilakukan oleh anak. Gambar diatas merupakan contoh perlengkapan rumah yang disediakan untuk anak, jika tidak mempunyai bisa menggunakan perlengkapan yang sudah ada saja. Alat makannya sendiri dapat menarik perhatian anak, sehingga anak tidak lagi minta disuapi ketika ingin makan karena sudah mempunyai alat makan sendiri.
Teknik Evaluasi Perkembangan Kemandirian Anak
Anak mencuci tangan setelah memegang atau memainkan sesuatu yang membuat tangannya kotor. Anak mencuci kaki setelah bermain di luar rumah. Anak-anak memakai sandal/sepatu ketika keluar bermain. Anak-anak membersihkan sendiri rumah jika terlihat kotor. Anak-anak ingin meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan. Anak ingin memaafkan jika ada yang berbuat salah padanya.
Kanak-kanak boleh berkata ya/tidak apabila diminta memberi pendapat tentang sesuatu yang difikirkan baik atau tidak.
Konsep Pelaksanaan Kegiatan Keterampilan
Bentuk Kegiatan Pengembangan Kemandirian Berdasarkan Metode
- Kegiatan yang melatih konsep motorik anak Anak-anak diharapkan mampu melakukan
- Kegiatan yang melatih kepedulian anak terhadap diri dan lingkungannya
- Kegiatan yang melatih kemampuan sosial anak a. Mengucap salam
Tahapan Kegiatan Pengembangan Kemandirian Menurut Metode Practical
- Tahap pertama: Pemberian pelatihan kepada orang tua
- Tahap kedua: Orang tua membimbing anak supaya mandiri
- Tahap ketiga: Melakukan Pengulangan Kegiatan a. Orang tua membiasakan anak untuk melakukan
- Tahap empat : Evaluasi
Orang tua menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa, namun dengan tambahan mengajak anak untuk menyampaikan bahwa kita harus bisa mandiri. Orang tua melatih anak untuk melakukan aktivitas, mulai dari pembelajaran yang diawasi dengan bantuan orang tua, hingga akhirnya mereka dapat melakukannya sendiri, walaupun membutuhkan bantuan, namun dengan syarat tidak boleh membantu sepenuhnya. Orang tua mengamati seluruh aktivitas yang dilakukan anak selama program pengembangan kepribadian.
Orang tua mengisi lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya untuk melihat sejauh mana perkembangan kemandirian anak. Untuk mengetahui nilai/hasil yang dicapai anak, orang tua atau guru dapat menggunakan Rubrik.
Daftar Pustaka
Profil Penulis
Setiawati
Syur’aini
Ismaniar
Saat ini beliau menjabat sebagai dosen tetap pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang pada tahun 2005 hingga sekarang, dan merupakan dosen luar biasa pada Program Studi PGPAUD STKIP Aisyiah Pekanbaru. Sembari melanjutkan studi S3 di program studi PAUD, UNJ juga aktif sebagai dosen tamu di PGPAUD STAIINDO Jakarta dan pengajar PGPAUD di Universitas Terbuka Jakarta. Aktif sebagai asesor modul bidang PAUD Universitas Terbuka (2016-sekarang), serta dosen LB pada program studi PGPAUD STKIP Azdkia Padang (2016-sekarang).
Selain aktif sebagai dosen, beliau juga aktif melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, membimbing kegiatan kemahasiswaan, mengikuti pelatihan dan seminar, serta menjadi narasumber pada seminar dan acara pelatihan di bidang PAUD dan PAUD. pendidikan. Diantara penelitian yang telah dipublikasikan; Pengembangan kemandirian anak usia 3-4 tahun dalam kelompok bermain, pengembangan perilaku hidup bersih pada anak di TK, pemerolehan bahasa pada anak usia dini (studi kasus pada anak 'Putri' usia 2,3 tahun), model bermain untuk meningkatkan perhatian selektif pada anak dan publikasi lainnya.