• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN PASCA DIKLAT PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA

N/A
N/A
Neta Armita

Academic year: 2024

Membagikan "KINERJA PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN PASCA DIKLAT PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA "

Copied!
275
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/348175821

Kinerja Pendamping Program Keluarga Harapan Pasca Diklat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga

Book · December 2019

CITATION

1

READS

1,610

16 authors, including:

Nyi R Irmayani

Ministry of Sosial Welfare, Indonesia, Jakarta 23PUBLICATIONS   51CITATIONS   

SEE PROFILE

Suradi Suradi

National Research and Innovation Agency 19PUBLICATIONS   33CITATIONS   

SEE PROFILE

Benedictus Mujiyadi Badiklitpensos

18PUBLICATIONS   27CITATIONS    SEE PROFILE

Badrun Susantyo

National Research and Inovation Agency 38PUBLICATIONS   109CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)

Tim Peneliti:

Puslitbang Kesos

Pranata Pembangunan Universitas Indoesia

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BADAN PENDIDIKAN, PENELITIAN, DAN PENYULUHAN SOSIAL

KEMENTERIAN SOSIAL RI bekerja sama dengan

(3)

KINERJA PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN PASCA DIKLAT PERTEMUAN PENINGKATAN

KEMAMPUAN KELUARGA

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BADAN PENDIDIKAN, PENELITIAN, DAN PENYULUHAN SOSIAL

KEMENTERIAN SOSIAL RI bekerja sama dengan

PUSAT PENELITIAN PRANATA PEMBANGUNAN

(4)

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak buku sebagian atau selu- ruhnya tanpa izin dari Puslitbangkesos, Kementerian Sosial RI.

Tim Peneliti Puslitbangkesos:

Nyi R Irmayani, Suradi, B. Mujiyadi, Badrun Susantyo, Togiaratua Nainggolan, Sugiyanto, Habibullah, Rudy Gunawan Erwinsyah, Bilal As’Adhanayadi

Tim Peneliti Pranata Pembangunan Universitas Indonesia :

Widyono Soetjipto, Rahmat Andriansyah, Teddy Setiadi, Hendi Irawan, Atiek Difa Mufidah

Rati Afina, Lutfiana Nur Azizah

Cetakan I : Maret 2020

ISBN : 978-623-7806-05-9

Diterbitkan oleh:

PUSLITBANGKESOS KEMENTERIAN SOSIAL RI.

Jl. Dewi Sartika No. 200 Cawang III Jakarta- Timur. Telp. (021) 8017126 E-mail: [email protected]; Website: puslit.kemsos.go.id KINERJA PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN PASCA DIKLAT PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN KELUARGA. Jakarta,- Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial, Kementerian Sosial RI, 2019.

xii + 260; hlm. 14,8 cm x 21 cm.

(5)

PENGANTAR

Sejak 2007 pada saat PKH diluncurkan sebagai program uji coba yang baru menjangkau sekitar 350.000 keluarga sangat miskin hingga saat ini, PKH terus mengalami perkembangan baik dari segi cakupan jumlah KPM maupun cakupan bantuan. Muatan program terus dibenahi salah satunya dengan dilaksanakannya intervensi Family Development Session (FDS) atau disebut juga Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) pada tahun 2015.

Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau yang dikenal dengan Family Development Session (FDS) merupakan sebuah intervensi perubahan perilaku dalam bentuk pembelajaran yang terstruktur yang diberikan oleh pendamping/ fasilitator terlatih kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH yang dilaksanakan sejak tahun 2015. Guna meningkatkan kapasitas Pendamping Sosial PKH dalam menyampaikan materi P2K2 kepada KPM dampingannya, maka diberikan pendidikan dan pelatihan P2K2. Materi P2K2 disampaikan melalui pertemuan kelompok bulanan yang disampaikan oleh pendamping PKH terhadap kelompok-kelompok binaannya.

Pada Tahun 2017, pusdiklat kesejahteraan sosial menerapkan metode e-learning secara blended melalui Daring dan Luring (48,48%, 10 hari). Direncanakan untuk tahun 2019 jumlah sasaran peserta (Pendamping PKH) sebanyak 21.900 orang. Tuntutan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan P2K2 kepada pendamping sosial PKH semakin tinggi agar tujuan PKH, yaitu adanya perubahan perilaku kepada KPM tercapai. Namun adanya peningkatan jumlah peserta diklat P2K2 yang tinggi sejak tahun 2018-2019 perlu diketahui efektivitas diklat melalui metode daring atau luring. Oleh karena itu,dilakukan penelitian tentang “Kinerja Pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH) Pasca Pendidikan dan Pelatihan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2)”.

(6)

Hingga tahun 2018 P2K2 memiliki 5 modul utama yaitu Modul Kesehatan dan Gizi, Modul Pendidikan dan Pengasuhan Anak, Modul Pengelolaan Keuangan Keluarga, Modul Perlindungan Anak, dan Modul Kesejahteraan Sosial. P2K2 disampaikan dalam pertemuan bulanan yang wajib dilakukan oleh Pendamping terhadap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang menjadi dampingannnya. Dengan adanya materi P2K2, pertemuan bulanan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk pemutakhiran data KPM, namun membekali mereka dengan pengetahuan dan ketrampilan hidup yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan keluargannya.

Buku Pedoman Pelaksanaan PKH Tahun 2019 pada Bab III tentang Mekanisme Pelaksanaan PKH menjelaskan seluruh proses utama dalam pelaksanaan PKH, salah satunya adalah kegiatan pendampingan. Dalam buku pedoman tersebut dijelaskan bahwa Pendampingan bagi KPM PKH diperlukan guna percepatan pencapaian tujuan program. Pendamping sosial PKH menjalankan fungsi fasilitasi, mediasi dan advokasi bagi Keluarga Penerima Manfaat PKH dalam mengakses layanan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Pendamping sosial PKH juga memastikan KPM PKH memenuhi kewajibannya sesuai ketentuan dan persyaratan untuk perubahan perilaku KPM PKH melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2).

P2K2/FDS adalah kegiatan pertemuan bulanan yang rutin diselenggarakan oleh Pendamping PKH terhadap Keluarga miskin Penerima Manfaat (KPM) PKH dengan muatan materi pengetahuan praktis mengenai pendidikan dan pengasuhan anak, kesehatan dan nutrisi, ekonomi, dan perlindungan anak. Pemberian materi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun kesadaran KPM tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan guna memperbaiki kualitas hidup keluarga di masa depan. Melalui kegiatan ini, Pendamping mengarahkan KPM agar memanfaatkan bantuan PKH untuk keperluan produktif di antaranya meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui pembelian pangan yang mendukung pada peningkatan gizi dan meningkatkan partisipasi sekolah bagi anak-anak

(7)

agar dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Diharapkan setelah mengikuti P2K2/FDS, terjadi perubahan perilaku KPM yang mendukung ke arah peningkatan kesejahteraan keluarga, termasuk mewujudkan kemandirian ekonomi agar tidak lagi tergantung pada bantuan PKH.

Sehingga target pemerintah untuk mengraduasi 800.000 KPM dari 10 juta KPM PKH pada tahun 2019 dapat tercapai.

Jakarta, Desember 2019

Pusat Penelitian dan pengembangan Kesejahteraan Sosial

Kepala,

Eva Rahmi Kasim

(8)

DAFTAR ISI

PENGANTAR __________________________________________ iii DAFTAR ISI __________________________________________ vi DAFTAR TABEL __________________________________________ ix DAFTAR SKEMA ________________________________________ xi DAFTAR GAMBAR _____________________________________ xii BAB I : PENDAHULUAN _______________________________ 1 1.1 Latar Belakang __________________________________ 1 1.2 Rumusan Masalah _______________________________ 6 1.3 Tujuan Penelitian _______________________________ 7 BAB II : METODE PENELITIAN ___________________________ 8 2.1 Pendekatan Penelitian ___________________________ 8 2.2 Jenis Penelitian _________________________________ 9 2.3 Lokasi Penelitian ________________________________ 10 2.4 Populasi dan sample _____________________________ 11 2.5 Teknik Pemilihan Informan dan Responden ________ 12 2.6 Teknik Pengumpulan Data ________________________ 13 2.7 Teknik Analisa Data ______________________________ 16 2.8 Teknik Meningkatkan Kualitas Data ________________ 16 2.9 Sistematika Penulisan ___________________________ 19 BAB III : KERANGKA TEORI ______________________________ 20 3.1 Program Keluarga Harapan ______________________ 20 3.2 Petunjuk Pelaksanaan Diklat Peningkatan

Pertemuan Kemampuan Keluarga (P2K2)

Bagi B2P2KS ___________________________________ 22 3.3 Petunjuk Pelaksanaan P2K2/ FDS _________________ 30 3.4 Ishikawa Diagram _______________________________ 35 3.5 Pendidikan dan Pelatihan ________________________ 36 3.6 Konsep Kinerja __________________________________ 39

(9)

3.7 Metode Pendidikan Andragogi ___________________ 50 3.8 Konsep Perubahan Perilaku ______________________ 54 3.9 Skema Alur Berpikir Penelitian ___________________ 61 BAB IV : PROFIL BALAI BESAR PENDIDIKAN DAN

PELATIHAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (B2P2KS) KEMENTERIAN SOSIAL DAN PROFIL

PENDAMPING PKH ____________________________ 62 4.1 Profil Balai Diklat Kementerian Sosial _____________ 62 4.2 Profil Pendamping PKH (Responden Penelitian) ____ 65 BAB V : TEMUAN LAPANGAN ___________________________ 69

5.1 Proses Pelaksanaan Diklat P2K2 Kepada Pendamping PKH di 6 Balai Diklat (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung,

Jayapura) Kementerian Sosial ____________________ 69 5.2 Proses Pelaksanaan P2K2 yang Dilakukan

Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar,

Banjarmasin, Bandung, Jayapura) ________________ 107 5.3 Perubahan perilaku KPM di 6 Wilayah

(Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) setelah mengikuti P2K2

dari Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 _________ 137 5.4 Relevansi Proses Diklat P2K2 dengan tugas

Pendamping PKH, dan prioritas pengembangan

apa yang perlu dilakukan. ________________________ 170 BAB VI : PEMBAHASAN __________________________________ 177

6.1 Tahapan Pelaksanaan Diklat P2K2 Bagi

Pendamping PKH di 6 B2P2KS (Padang, Yogyakarta,

Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) _________ 177 6.2 Tahap Pelaksanaan P2K2 yang Dilakukan

Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin,

(10)

6.3 Analisa Perubahan Perilaku KPM Setelah Mengikuti P2K2 dari Pendamping PKH Pasca

Diklat P2K2 ____________________________________ 222 6.4 Relevansi Pelaksanaan Diklat P2K2 dengan

tugas Pendamping PKH, dan prioritas

pengembangan apa yang perlu dilakukan. _________ 232 BAB VII : PENUTUP _____________________________________ 237 7.1 Kesimpulan ____________________________________ 237 7.2 Saran __________________________________________ 244 DAFTAR PUSTAKA _______________________________________ 250 SEKILAS PENULIS _______________________________________ 253 INDEKS _________________________________________________ 256

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Alasan Pemilihan Lokasi Pengumpulan Data ______ 10 Tabel 2.2 Jumlah Sampel Penelitian ______________________ 12 Tabel 2.3 Responden dan Informan Penelitian _____________ 13 Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan P2K2 _______________________ 34 Tabel 3.2 Tabel Definisi Konsep Kinerja ____________________ 40 Tabel 3.3 Perbedaan Andragogi Dengan Pedagogi __________ 52 Tabel 5.1 Ringkasan Material ____________________________ 74 Tabel 5.2 Ringkasan Human _____________________________ 79 Tabel 5.3 Ringkasan Machine ____________________________ 82 Tabel 5.4 Ringkasan Method Terkait Jumlah

Pemberian Diklat ______________________________ 83 Tabel 5.5 Ringkasan Method terkait Tahapan Diklat Daring __ 85 Tabel 5.6 Susunan Kegiatan Diklat Tahun 2019 _____________ 86 Tabel 5.7 Ringkasan Method terkait Tahapan

Diklat Luring Tahun 2019 _______________________ 90 Tabel 5.8 Ringkasan Method Terkait Perbandingan Diklat ____ 95 Tabel 5.9 Ringkasan Environment ________________________ 100 Tabel 5.10 Tabel Measurement _____________________________ 105 Tabel 5.11 Temuan Lapangan _____________________________ 133 Tabel 5.12 Ringkasan Perubahan Perilaku KPM Pada

Pembelajaran Modul Ekonomi ___________________ 151 Tabel 5.13 Ringkasan Perubahan Perilaku KPM Pada

Pembelajaran Modul Kesehatan dan Gizi _________ 156 Tabel 5.14 Ringkasan Perubahan Perilaku KPM Pada Modul

Kesejahteraan Sosial ____________________________ 158 Tabel 5.15 Ringkasan Perubahan Perilaku KPM Pada Modul

Pengasuhan dan Pendidikan Anak _______________ 166 Tabel 5.16 Ringkasan Perubahan Perilaku KPM Pada Modul

(12)

Tabel 5.18 Lokasi Tempat Tinggal Pendamping ______________ 171 Tabel 5.19 Jumlah KPM Graduasi Alami _____________________ 171 Tabel 5.20 Jumlah KPM Graduasi Mandiri ___________________ 172 Tabel 5.21 Jumlah KPM Graduasi Sejahtera Mandiri __________ 173 Tabel 5.22 Tingkat Kesulitan Mengatasi Permasalahan KPM ___ 174 Tabel 5.23 Koordinasi Pendamping Dengan Stakeholder

Terkait PKH ____________________________________ 176 Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan P2K2 _______________________ 206 Tabel 6.2 Ringkasan Kesesuaian Antara Petunjuk

Pelaksanaan P2K2 dan Pelaksanaan P2K2

di 6 Wilayah ___________________________________ 208 Tabel 6.3 Komponen Pelatihan dalam Pelaksanaan P2K2 ____ 214 Tabel 6.4 Prinsip Pelatihan dalam Pelaksanaan P2K2 ________ 216 Tabel 6.5 Analisis Ishikawa dalam Kegiatan P2K2 ___________ 220 Tabel 7.1 Roadmap Intervensi Sosial Pada Perubahan

Perilaku KPM _________________________________ 246

(13)

DAFTAR SKEMA

Skema 3.1 Kerangka Konsep Perubahan Perilaku

KPM Setelah Mengikuti P2K2 dari Pendamping

PKH Pasca Diklat P2K2. _________________________ 60 Skema 3.2 Skema Alur Fikir _______________________________ 61 Skema 5.1 Tahap Pelaksanaan P2K2 ________________________ 137 Skema 6.1 Klasifikasi Perubahan Perilaku KPM Setelah

Mengikuti P2K2 Berdasarkan Taksonomi Bloom ___ 231

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Hierarkis Jenis Perilaku dan Kemampuan

Internal Menurut Taksonomi Bloom dkk _________ 58 Gambar 4.1 Jenis Kelamin Pendamping PKH ________________ 65 Gambar 4.2 Kelompok Umur Pendamping PKH _____________ 66 Gambar 4.3 Pendidikan Terakhir Pendamping PKH __________ 66 Gambar 4.4 Konsentrasi Pendidikan Terakhir

Pendamping PKH _____________________________ 67 Gambar 4.5 Tempat Tinggal Pendamping PKH ______________ 68

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program bantuan tunai bersyarat yang diberikan kepada keluarga miskin di Indonesia. PKH berfungsi sebagai salah satu program jaring pengaman bagi masyarakat miskin agar terlindungi dari kemungkinan kondisi krisis. PKH dalam jangka panjang diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan antar generasi melalui perbaikan kondisi pendidikan dan kesehatan. Dengan peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan dalam Keluarga Penerima Manfaat (KPM), kesempatan kerja yang lebih luas akan terbuka bagi anak dari keluarga PKH di masa depan. Dengan demikian generasi berikutnya dapat keluar dari perangkap kemiskinan. Pada tahun 2018, PKH sudah menjangkau lebih dari 10 juta rumah tangga miskin dan sangat miskin di Indonesia

Sebagai program bantuan tunai bersyarat, PKH mewajibkan KPM untuk memanfaatkan layanan kesehatan seperti pemeriksaan kesehatan terhadap ibu hamil, nifas, dan balita. Di bidang pendidikan, KPM peserta PKH juga harus mendorong anak-anak mereka untuk bersekolah mulai dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan untuk mencapai tingkat kehadiran 85% di sekolah. Ketidakberhasilan memenuhi persyaratan dapat berakibat pada penangguhan penyaluran bantuan.

Sejak 2007 pada saat PKH diluncurkan sebagai program uji coba yang baru menjangkau sekitar 350.000 KPM hingga saat ini, PKH terus mengalami perkembangan baik dari segi cakupan jumlah KPM maupun cakupan bantuan. Muatan program terus dibenahi salah satunya dengan dilaksanakannya intervensi Family Development Session (FDS)

(16)

Pada dasarnya kegiatan FDS ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran memang seringkali berlangsung lambat, tetapi perubahan yang terjadi akan bertahan lama. In fact, the impact of education is proved to determine beneficial effects both for individuals and for societies, to solve and avoid from cultural, social and economic disadvantages and to give a significant contribution to cooperating and social cohesion and stability. (Aleandri

& Refrigeri, 2013). Proses belajar dalam pemberdayaan bukanlah proses

“menggurui”, melainkan menumbuhkan semangat belajar bersama yang mandiri dan partisipatif.

Pelaksanaan Family Developemnt Session oleh fasilitator merupakan bagian dari pelayanan social. The activities that are a part of the social services provided include, for example, basic social counselling, assistance in coping with everyday personal care, assistance in running a household, social and therapeutic activities, as well as upbringing, educational and motivational activities. Borská & Švejdarová (2016, hlm. 2).

Pendamping PKH sebagai mitra kerja pemerintah, merupakan komponen kunci dalam program P2K2, karena tidak hanya berperan sebagai petugas yang memonitor kepatuhan KPM tetapi juga berperan sebagai fasilitator. Maka perlu mempersiapkan pendamping PKH sebagai tenaga fasilitator yang memiliki kemampuan professional dan berkualitas, memiliki pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan komitmen yang tinggi demi mensukseskan program ini.

Kinerja yang optimal dari fasilitator sangat diperlukan dalam P2K2.

Kinerja yang optimal dapat terjadi jika fasilitator mempunyai kompetensi yang memadai. Menurut Alain D. Mitrani, Spencer and Spencer yang dialih bahasakan oleh Dharma (2006) mengemukakan kompetensi adalah an underlying characteristic’s of an individual which is causally related to criterion referenced effective and or superior performance in a job or situantion. Artinya adalah sebagai karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektivitas kerja individu dalam pekerjaannya.

Menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negeri Nomor:

46A Tahun 2005 tentang pengertian Kompetensi adalah :

(17)

Kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya profesional, efektif dan efisien.

Berdasarkan pengertian tersebut bahwa kata “underying characteristic” mengandung makna kompetensi adalah bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Sedangkan kata “causally related” berarti kompetensi adalah sesuatu yang menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja.

Sedangkan kata “criterion-referenced” mengandung makna bahwa kompetensi sebenarnya mem-prediksi siapa yang berkinerja baik dan kurang baik, diukur dari kriteria atau standar yang digunakan.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi yaitu sifat dasar yang dimiliki atau bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan sebagai dorongan untuk mempunyai prestasi dan keinginan berusaha agar melaksanakan tugas dengan efektif.

Kompetensi merupakan serangkaian pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya. Kompetensi setiap pekerjaan disesuaikan dengan tugas pokok pekerjaan itu sendiri.

Kompetensi yang harus dimiliki fasilitator FDS tentunya disesuaikan dengan tugas dan tujuan dari kegiatan FDS.

Dalam kenyataannya kompetensi seseorang dapat berbeda dengan orang lain. Agar kompetensi dari setiap fasilitator dapat meningkat diperlukan suatu pendorong atau faktor yang dapat membuat kompetensi fasilitator tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah. Kompetensi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor Michael Zwel, 2000 (dalam Wibowo, 2012). Keyakinan dan nilai- nilai, keterampilan, pengalaman, karakteristik kepribadian, motivasi, isu

(18)

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mempersiapkan tenaga fasilitator yang profesioanl yaitu dengan pelatihan. Pelatihan dapat meningkatka pengetahuan dan keterampilan, perbaikan sikap serta meningkatkan kinerja ataupun sekedar mengetahui pengetahuan baru, sehingga seluruh pegawai dan organisasi pendukungnya menjadi suatu kesatuan dalam meningkatkan kualitas individu, kelompok dan lembaga.

Pelatihan pada hakikatnya mengandung unsur-unsur pembinaan dan pendidikan. Pelatihan adalah proses yang meliputi serangkaian tindakan yang dilaksanakan dengan sengaja dalam pemberian bantuan kepada tenaga kerja dilakukan oleh tenaga profesional kepelatihan dalam suatu waktu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja peserta dalam bidang pekerjaan tertentu guna meningkatkan efektifitas dan produktifitas dalam suatu perusahaan.

Pelatihan merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat (3) yaitu:

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Werther dan Davis (1994,) mengatakan bahwa “Although training helps employees do their current jobs, the benefits of training may extend throughout a person’s carrer and help develop that person for future responsibilities.” Artinya pelatihan sangat membantu dalam mengatasi permasalahan yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan yang sedang dihadapi serta perkembangan karir dan tanggung jawab seseorang dimasa yang akan datang. Tujuan pelatihan merupakan sarana untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yangakanmenunjang dalam pelaksaaan tugas pada bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

(19)

Beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah sebuah proses pendidikan jangka pendek yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu. Maka dari itu pelatihan sangat berperan dalam pengembangan sumber daya manusia karena dengan pelatihan maka fasilitator FDS akan memiliki keterampilan yang lebih dan dapat mengembangkan pekerjaannya.

Faktor lain yang mempengaruhi kompetensi fasilitator selain pelatihan adalah pengalaman kerja. Orang dikatakan telah mempunyai pengalaman kerja apabila orang tersebut telah menjalani atau mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Seseorang yang melakukan aktivitas dalam organisasi harus melaksanakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban. Apabila para pegawai telah melakukan aktivitasnya, maka pegawai tersebut dikatakan pegawai yang sudah mempunyai pengalaman kerja. Dengan pengalaman kerja yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pegawai. Ada juga perusahaan yang menyeleksi pengalaman seorang pegawa sebagai sesuatu hal yang penting, sebab dengan dapat diterimanya orang-orang yang berpengalaman dapat ditemukan ide-ide baru bagi perusahaan yang menerimanya.

Mencapai kompetensi yang baik memang bukan suatu perkara yang mudah. Selain pelatihan dan pengalaman kerja yang dapat mendukung peningkatan kompetensi, motivasi juga berperan. Hasibuan (2007, hlm.141) menyatakan bahwa “Motivasi merupakan sesuatu yang menjadi penyebab, mendistribusikan dan mensupport sikap dan tindakan individu, sehingga ia akan bekerja dengan tekun dan semangat untuk meraih hasil yang optimal. Sejalan dengan itu Mangkunegara (2007, hlm.61) berpendapat bahwa motivasi terbentuk dari sikap (attutude) pegawai dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan. (Kependidikan et al., 2013) mengungkapkan motivasi fasilitator merupakan faktor-faktor yang menggerakkan atau mendorong fasilitator untuk melaksanakan tugasnya.

Motivasi merupakan energi yang menggerakan diri seseorang

(20)

motivasi kerja untuk mencapai prestasi kerja secara maksimal. Penelitian sebelumnya mengungkapkan mengenai pengaruh pelatihan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan yang menyebutkan bahwa pelatihan dan motivasi kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.

Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kompetensi fasilitator Family Development Session (FDS) sebagai upaya pelaksanaan FDS di lokasi treathment yang mulai digulirkan pada tahun 2015, Kementrian Sosial melalui Seluruh Balai Besar Pendidikaan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (B2P2KS) melaksanakan Diklat Family Development Session (FDS) atau P2K2.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa kinerja fasilitator FDS dipengaruhi oleh hasil pelatihan, motivasi berprestasi dan pengalaman kerja. Dari konsep-konsep tersebut nampaknya merupakan unsur penting dalam melihat Kinerja fasilitator FDS. Untuk itu peneliti merasa tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar hasil pelatihan, motivasi berprestasi, dan pengalaman kerja memberikan pengaruh terhadap kinerja fasilitator FDS. Maka dari itu penyusun mencoba melakukan peneltian dengan judul “Kinerja Pendamping PKH Pasca Diklat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga”

1.2 Rumusan Masalah

Dengan kondisi pelaksanaan Program PKH yang telah berjalan selama tujuh belas tahun, dan disertakannya kegiatan P2K2 sebagai bagian dari proses bisnis program sejak tiga tahun lalu, tentu banyak pembelajaran yang dapat diambil dari proses yang telah berlangsung.

Kinerja pendamping tidak hanya ditempatkan sebagai penilaian performa pendampingan mereka, namun dapat dijadikan pembelajaran untuk perbaikan kegiatan P2K2 secara keseluruhan. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi capaian-capaian program P2K2 yang telah terjadi.

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan penggambaran kinerja pada level outcome, agar dapat memberikan gambaran model P2K2 yang berlangsung selama ini. Gambaran yang dimulai dari proses pendidikan dan pelatihan bagi pendamping, proses P2K2 yang

(21)

dilakukan, sampai dengan perubahan perilaku yang terjadi pada KPM dampingan. Dengan demikian, pertanyaan penelitian yang diajukan, antara lain:

1. Bagaimana Proses Pelaksanaan Diklat P2K2 Kepada Pendamping PKH di 6 Balai Diklat (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) Kementerian Sosial?

2. Bagaimana Proses Pelaksanaan P2K2 yang Dilakukan Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura)?

3. Bagaimana Perubahan perilaku KPM di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) setelah mengikuti P2K2 dari Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2?

4. Bagaimana relevansi antara proses Diklat P2K2 dengan tugas Pendamping PKH, dan prioritas pengembangan apa yang perlu dilakukan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian sebagai berikut:

1. Mendiskripsikan dan menganalisis Proses Pelaksanaan Diklat P2K2 Kepada Pendamping PKH di 6 Balai Diklat (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) Kementerian Sosial 2. Mendiskripsikan dan menganalisis Proses Pelaksanaan P2K2

yang Dilakukan Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) 3. Mendiskripsikan dan menganalisis Perubahan perilaku KPM di

6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Jayapura) setelah mengikuti P2K2 dari Pendamping PKH Pasca- Diklat P2K2

4. Mendiskripsikan dan menganalisis relevansi antara proses Diklat P2K2 dengan tugas Pendamping PKH, dan prioritas pengembangan apa yang perlu dilakukan.

(22)

BAB II

METODE PENELITIAN

Bab ini membahas mengenai metode penelitian yang digunakan untuk mendiskripsikan dan menganalisis terkait tujuan penelitian yaitu pelaksanaan diklat P2K2 bagi Pendamping, pelaksanaan P2K2, perubahan perilaku KPM dan relevansi antara pelaksanaan diklat P2K2 bagi Pendamping, pelaksanaan P2K2 dengan perubahan perilaku KPM pasca diklat P2K2.

2.1 Pendekatan Penelitian

Terkait dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendiskripsikan dan menganalisis pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2, perubahan perilaku KPM dan relevansi antara pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2 dengan perubahan perilaku KPM maka pendekatan yang cocok digunakan adalah pendekatan kombinasi (mixed methods), kualitatif dan kuantitatif.

Menurut Sugiyono (2014) bahwa, metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan objektif. Metode penelitian kombinasi adalah metode yang menggunakan dua metode yaitu metode penelitian kuantitatif dan kualitatif untuk digunakan dalam suatu kegiatan penelitian sehingga diperoleh data yang lebih lengkap dan menyeluruh.

Menurut (Creswell, 2002) penelitian kualitatif adalah proses penyelidikan memahami masalah sosial berdasarkan pada gambaran secara menyeluruh yang dipaparkan dalam bentuk kata-kata, melaporkan pandangan informan dengan rinci dan disusun berdasarkan latar ilmiah. Kemudian menurut (Neuman, 2006) pendekatan kualitatif

(23)

adalah penelitian berangkat dari fakta dan data hasil temuan lapangan.

Lalu, disandingkan dengan teoritis serta pembentukan konsep baru.

Pendekatan kualitatif ini digunakan untuk mengupas permasalahan penelitian terkait pada pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2, dan perubahan perilaku KPM.

Selain itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai upaya menganalisa hasil temuan lapangan berdasarkan kuesioner yang telah dibuat. Menurut Neuman (2006), pendekatan kuantitatif pada dasarnya merupakan pendekatan positivis.

“Positivistm is associated whit many spesific social theories. Best know is its lingkage to the structural-functional, rational choice and exxhange theory frameworks.... Many applied researchers (administrators, criminologists, market reseacrhers, policy analysts, program evaluators, and planners) embrace positivistm.”

Dalam penelitian kuantitatif, penelitian ini menggunakan teori yang ada untuk kemudian dibuktikan dengan data yang ada dilapangan sehingga dari kombinasi antara teori dan data yang ada kita dapat mengambil suatu keputusan. Kebenaran dalam penelitian kuantitatif adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui deskripsi akurat tentang suatu variabel, dan memiliki daya generalisasi yang baik.

2.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif sesuai dengan tujuan penelitian yang dipilih adalah penelitian deskriptif. Hal ini karena untuk untuk mengupas permasalahan penelitian terkait pada pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2, dan perubahan perilaku KPM. Menurut (Neuman, 2013) penelitian deskriptif adalah penelitian yang menyajikan gambaran data spesifik mengenai situasi, penataan sosial dan keterkaitannya. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, dilakukan pengumpulan data berasal dari naskah wawancara, foto, recorder, dokumentasi dan sebagainya. Selain mendapatkan deskripsi yang akurat dan lengkap, penelitian ini juga dapat mendeskripsikan isu

(24)

Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian kuantitatif sesuai dengan tujuan penelitian yang dipilih adalah menganalisis relevansi antara proses Diklat P2K2 dengan tugas Pendamping PKH, dan prioritas pengembangan apa yang perlu dilakukan. Hal tersebut dilakukan dengan pendekatan penyebaran kuesioner secara online mengggunakan aplikasi survey monkey.

2.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menurut (Neuman, 2006) adalah di mana sebuah aktivitas dan kejadian yang ingin diteliti berlangsung, serta lokasi tersebut adalah tempat untuk melakukan wawancara, mendengarkan, mengamati, dan merekam apapun yang terjadi di lokasi. Berikut lokasi penelitian:

Tabel 2.1 Alasan Pemilihan Lokasi Pengumpulan Data No Lokasi Pengumpulan Data

1 Group Disscussion B2P2KS Reg I, Kota Padang

B2P2KS Reg II, Kabupaten Bandung B2P2KS Reg III, Kota Yogyakarta B2P2KS Reg IV, Kota Banjarmasin B2P2KS Reg V, Kota Makasar B2P2KS Reg VI, Kota Jayapura

2 Wawancara Kota Padang

Kabupaten Bandung Kota Yogyakarta Kota Banjarmasin Kota Makasar Kota Jayapura

3 Kuesioner Seluruh Pendamping PKH yang pernah mengikuti diklat P2K2 dan melakukan kegiatan P2K2

Sumber: Olahan Penelitian

(25)

2.4 Populasi dan sample 2.4.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2011, hlm. 61) bahwa, “Populasi wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.” Sedangkan populasi menurut Zuriah (2009, hlm. 116) “Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan populasi menurut Arikunto (2010, hlm. 173) yaitu “keseluruhan subjek penelitian.”

Sedangkan populasi menurut Riduwan (2012, hlm. 54) “merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat- syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.”

Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa yang menjadi populasi itu seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dan tidak hanya orang atau manusia, akan tetapi benda atau objek lainnya bisa menjadi populasi asalkan mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dalam ruang lingkup dan waktu yang ditentukan.

2.4.2 Sampel

Menurut Sugiyono (2011, hlm. 62) bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.”

Sedangkan sampel menurut Arikunto (2010, hlm. 174) bahwa sampel adalah “sebagian atau wakil populasi yang diteliti.” Jadi berdasarkan pengertian tersebut bahwa sampel diambil dari sebagian populasi saja tidak mengambil keseluruhan untuk diteliti.

Menurut Sugiyono (2011, hlm. 118) bahwa “teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi probability sampling dan nonprobability sampling.” Pada penelitian ini menggunakan teknik sampel probability sampling. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 120)

probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang

(26)

Simple random sampling menurut Sugiyono (2009, hlm. 120) adalah “Pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.”

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pendamping PKH yang tersebar di enam Balai Diklat Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Adapun jumlah dari sampel yang akan diteliti sebanyak 9.819 responden dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 2.2 Jumlah Sampel Penelitian

2.5 Teknik Pemilihan Informan dan Responden

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendiskripsikan dan menganalisis pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2, perubahan perilaku KPM. Oleh karena itu, kriteria informan yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1. B2P2KS

• Seluruh Penyelenggara diklat yang dilibatkan oleh B2P2KS dalam Diklat P2K2. Penyelenggara yang dilibatkan di antaranya:

˚ Bidang Kediklatan

˚ Fasilitator diklat P2K2, yang terdiri dari widyaiswara, koordinator Regional/ Wilayah/Kabupaten/Kota

˚ Koordinator Kota/Kabupaten

˚ Seluruh panitia atau admin penyelenggara diklat 2. Pendamping PKH

• Telah Mengikuti Diklat P2K2 secara Daring

• Telah Mengikuti Diklat P2K2 secara Luring

• Telah Melaksanakan kegiatan P2K2 Minimal sebanyak 2 (dua) Modul

(27)

• Pendamping yang memiliki minimal 5 KPM dengan Komponen Kesehatan (Ibu Hamil, Anak Usia Dini)

3. Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

• KPM PKH terpilih yang telah mengikuti kegiatan P2K2 yang diberikan Minimal 2 Tahun oleh Pendamping PKH yang mana telah mengikuti diklat P2K2.

Kemudian, untuk tujuan penelitian terkait tujuan untuk mengetahui relevansi antara pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2 dengan perubahan perilaku KPM. Oleh karena itu, kriteria respoden yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1. Seluruh Pendamping PKH yang tersebar di Indonesia

• Telah Mengikuti Diklat P2K2 secara Daring

• Telah Mengikuti Diklat P2K2 secara Luring

• Telah Melaksanakan Minimal Sebanyak 2 (dua) Modul

• Pendamping yang memiliki minimal 5 KPM dengan Komponen Kesehatan (Ibu Hamil, Anak Usia Dini)

Tabel 2.3 Responden dan Informan Penelitian No. Pengumpulan Data Responden dan Informan

1 Wawancara Keluarga Penerima Manfaat (KPM) 2 Group Disccussion Seluruh Penyelenggara diklat P2K2:

Admin atau panitia penyelenggara Fasilitator

3 Online Survey Seluruh Pendamping PKH yang tersebar di Indonesia

Sumber: Olahan Penelitian

2.6 Teknik Pengumpulan Data

Menurut (Basrowi, 2008), pengumpulan data dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh data, keterangan, kenyataan dan informasi yang dapat dipercaya. Teknik pengumpulan data merupakan

(28)

data yang dilakukan. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa cara diantaranya:

2.6.1 Teknik pengumpulan data primer

Data primer merupakan data yang diambil langsung dari sumber data yang dianggap mewakili objek penelitian, serta peneliti melakukan pengukuran sendiri. Berbagai metode dapat digunakan dalam penelitian misalnya saja, wawancara, percakapan, observasi partisipan, penelitian tindakan, pertemuan fokus dan analisis teks pribadi. Menurut (Creswell, 2002) pembentukan hubungan dan empati sangat penting untuk mendapatkan kedalaman informasi, terutama terkait pada menyelidiki masalah, pemahaman dan kedalaman informan memahami masalah yang sedang dialami atau yang dia ketahui. Beberapa cara yang dipilih dalam pengumpulan data primer, terdiri dari:

a. Wawancara

Wawancara mendalam adalah percakapan yang memiliki tujuan tertentu dan dilakukan antara peneliti dan informan yang fokus pada persepsi dalam diri informan, kehidupan, dan pengalaman. Semua itu dinyatakan dalam kata-kata sendiri.

Wawancara mendalam dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan semi terstandardisasi. Menurut (Gilbert, 2003) wawancara semi terstandardisasi adalah jenis wawancara di mana peneliti (pewawancara) menanyakan pertanyaan pokok yang sudah disusun pada pedoman wawancara. Tetapi terdapat kebebasan untuk mengubah rangkaian pedoman wawancara dengan melakukan probing untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi.

Wawancara dilakukan kepada kelompok KPM PKH yang telah mendapatkan pendampingan melalui P2K2 untuk mengetahui penerapan materi P2K2 oleh pendamping sosial PKH.

b. Diskusi Kelompok Terarah atau Group Discussion

Group Discussion diarahkan bagi penyelenggara atau

(29)

fasilitator diklat (widyaiswara, Kordinator Wilayah, Kordinator Kabupaten/Kota) dan pendamping sosial PKH.

c. Angket/Kuesioner

Angket atau kuisioner yang dibuat sendiri oleh peneliti menyatakan bahwa yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiono, 2014)

Teknik ini dapat memberikan informasi penting dan jelas tentang relevansi antara pelaksanaan diklat P2K2, pelaksanaan P2K2 dengan perubahan perilaku KPM. Angket disebarkan secara online kepada Pendamping Sosial PKH yang sudah mengikuti diklat P2K2, baik konvensional maupun melalui e-learning. Penyebaran angket/kuisioner dilakukan melalui link online survey kepada seluruh Pendamping Sosial PKH.

Penyebarluasan link survey dilakukan oleh Koordinator Wilayah/ Kabupaten /Kota, kepada para Pendamping Sosial PKH yang berada dalam wilayah binaannya, dalam kurun waktu tertentu (terbatas waktu).

2.6.2 Teknik pengumpulan data sekunder bersumber dari dokumen tertulis

Dokumen adalah sesuatu yang dapat dibaca dan berhubungan dengan beberapa aspek. Terdapat beberapa dokumen yang sifatnya direkam kedalam bentuk laporan, lalu ada dokumen yang berasal dari catatan atau rekaman pribadi: surat, buku harian, dan foto.

Terdapat berbagai macam dari dokumen seperti rekaman publik, media, biografi, dokumen visual, dan lain-lain (Gilbert, 2003).

Menurut (Neuman, 2006) menguraikan beberapa literatur yang dapat membantu dalam penelitian seperti buku, artikel, laporan, kebijakan dan dokumen pemerintah. Studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data dari buku-buku, jurnal, peraturan perundang-undangan, dan sebagainya yang relevan dengan penelitian. Di antaranya dokumen penyelenggaraan dan proses

(30)

2.7 Teknik Analisa Data

Penelitian ini adalah metode penelitian kombinasi model concurent embedded dengan metode kualitatif sebagai metode primer dan metode kuantitatif sebagai metode sekunder. Teknik analisis data kualitatif mengikuti Ellen dalam (Neuman, 2006) yaitu teknik analisa ini membagi data penelitian lapangan menjadi tiga macam, yaitu: data dasar, data yang direkam, serta penyeleksian dan pemerosesan data (untuk penyusunan laporan). Pertama dengan mengorganisasikan data yang telah terkumpul (data dasar. Kedua adalah perekaman data yang terdiri dari sound recording, visual recording, dan field notes atau catatan lapangan. Ketiga, pembagian data ketiga ini, dikenal istilah sortir, klasifikasi, dan pengkodean (Open coding, Axial coding and selective coding). Kemudian hasil sortiran tersebut akan ditampilkan ke dalam bentuk taksonomi.

Sedangkan dalam teknik analisa kuantitaif menurut Sugiyono (2012) ada dua macam yakni: “statistik deskriptif dan statistik inferensial.”

Teknik analisa data berkaitan dengan perhitungan menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis. Dalam penelitian ini terdiri dari empat rumusan masalah yang salah satunya dilakukan menggunakan teknik analisa kuantitatif deskriptif.

Teknik ini dilakukan dengan maksud untuk mendeskripsikan sebagaimana menurut Wirartha (2006) bahwa “penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematis dan akurat fakta dan karakteristik populasi atau bidang tertentu.” Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif yang tidak menguji hipotesis maupun membuat prediksi, akan tetapi hanya menjelaskan suatu fenomena, gejala atau kejadian di lapangan yang sebenarnya terjadi.

2.8 Teknik Meningkatkan Kualitas Data

Sehubungan pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif. Menurut (Krefting, 1991), strategi untuk meningkatkan dan membuktikan bagaimana nilai kebenaran dan keabsahannya (trustwothhiness) antara lain dengan menggunakan empat konsep dasar yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Berikut Uraiannya:

(31)

1. Kredibel

Dikatakan kredibel jika proses penyediaan dan pemaparan data disajikan dengan deskripsi yang akurat dan interpretasi dari pengalaman informan serta pembaca dapat mengerti sesuai dengan yang diinterpretasikan

2. Transferability

Proses pemaparan data benar-benar dipaparkan secara jelas dang detail

3. Dependability

Dikatakan konsisten karena penelitian ini konsisten menggunakan diskripsi yang jelas, menggunakan kode terkait pengelompokan pada data mentah, menggunakan jurnal dan referensi yang akuntabel, dan tersusun dengan jadwal yang terencana.

4. Confirmability

Dilakukan triangulasi dalam proses pengolahan data

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas data kuantitatf akan dilakukan uji validitas dan uji realibilitas. Adapun gambaran uji tersebut sebagai berikut:

1. Uji Validitas

Validitas menurut Sugiyono (2016) menunjukan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti untuk mencari validitas sebuah item, kita mengkorelasikan skor item dengan total item-item tersebut. Jika koefisien antara item dengan total item sama atau diatas 0,3 maka item tersebut dinyatakan valid, tetapi jika nilai korelasinya dibawah 0,3 maka item terebut dinyatakan tidak valid.

(32)

Untuk mencari nilai koefisien, maka peneliti menggunakan rumus pearson product moment sebagai berikut:

2. Uji Realibilitas

Uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama akan menghasilkan data yang sama ( Sugiyono, 2012). Uji realianilitas kuesioner dalam penelitian digunakan metode split half item tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelimpok item ganjil dan kelompok item genap. Kemudian masing-masing kelompok skor tiap itemnya dijumlahkan sehinga menghasilkan skor total.

Apabila korelasi 0,7 maka dikatakan item tersebut memberikan tingkat reliabel yang cukup, sebaliknya apabila nilai korelasi dibawah 0,7 maka dikatakan item tersebut kurang reliabel.

Adapun rumus untuk mencari reliabelitas adalah sebagai berikut.

(33)

2.9 Sistematika Penulisan

Bab 1 Pendahuluan, dijelaskan secara umum mengenai latar belakang masalah, rumusan permasalahan, dan tujuan penelitian.

Bab 2 mengenai metode penelitian terdiri atas pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, teknik pemilihan informan, teknik dan waktu pengumpulan data, operasionalisasi konsep dan sistematika penulisan.

Bab 3 berisi kerangka pemikiran atau teori-teori yang dapat memperkuat penelitian mengenai topik, digunakan sesuai kebutuhan penelitian. Bab 4 membahas mengenai profil balai dan profil responden pendamping PKH dalam penelitian. Bab 5 membahas mengenai temuan lapangan yang terdapat di 6 wilayah B2P2KS dan di 6 wilayah KPM tinggal selaku informan penelitian.

Bab 6 menyajikan pembahasan sifatnya sangat deskriptif secara terstruktur dan komprehensif dari hasil penemuan lapangan dan analisa dari hasil penemuan lapangan. Terakhir bab 7, adalah penutup berisi kesimpulan dan saran yang mana diperoleh dari hasil analisa temuan

(34)

BAB III

KERANGKA TEORI

Bab 3 berisi mengenai tinjauan teori yang berisi konsep-konsep yang digunakan dalam proses analisis data. Dalam penelitian kualitatif teori sering digunakan sebagai poin akhir, penelitian dimulai dari data, kemudian menjadikan data menjadi sebuah tema-tema atau kategori tertentu. Lalu, dikembangkan menjadi pola-pola, teori atau generalisasi- generalisasi untuk diperbandingkan dengan literatur yang ada.

Kemudian penelitian kuantitatif keberadaan teori sering digunakan sebagai poin utama, penelitian dimulai dari menentukan variable- variabel yang akan diukur, lalu mengolahnya dengan perhitungan yang sudah dibuat dan kemudian dianalisa dengan literatur yang sudah ada yang mana hasilnya dapat digeneralisir. Berikut ulasannya:

3.1 Program Keluarga Harapan 3.1.1 Tujuan Program PKH

Program Keluarga Harapan bertujuan:

1). untuk meningkatkan taraf hidup Keluarga Penerima Manfaat melalui akses layanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial;

2). mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan rentan;

3). menciptakan perubahan perilaku dan kemandirian Keluarga Penerima Manfaat dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan sosial;

4). mengurangi kemiskinan dan kesenjangan;

5). mengenalkan manfaat produk dan jasa keuangan formal kepada Keluarga Penerima Manfaat.

3.2.1 Tugas Pendamping

Berdasarkan buku kerja pendamping PKH yang dikutip dalam Habibullah (2013), pendamping memiliki tugas yang sangat

(35)

penting dalam pelaksanaan program di lapangan yakni:

1) Tugas pokok

Tugas pokok meliputi tugas persiapan program, tugas rutin dan tugas dalam proses pembayaran. Tugas persiapan program berupa sosialisasi program PKH tingkat kecamatan, menyelenggarakan pertemuan awal dengan seluruh calon peserta PKH dan tindak lanjut pertemuan awal.

Tugas rutin pendamping adalah tugas keseharian yang harus dilakukan secara intensif yang meliputi:

• Melakukan pemutakhiran data

• Memfasilitasi dan menyelesaikan kasus pengaduan

• Mengunjungi rumah peserta PKH jika dalam pertemuan kelompok ada peserta PKH yang tidak bisa datang dan tidak memenuhi komitmen

• Melakukan kordinasi dengan aparat setempat dan pemberi layanan pendidikan dan kesehatan

• Melakukan pertemuan bulanan dengan ketua kelompok dan seluruh peserta PKH

• Melakukan temu kunjungan bulanan dengan petugas kesehatan dan pendidikan di lokasi pelayanan

• Memberikan motivasi kepada peserta PKH dalam menjalankan komitmen

• Melakukan upaya yang sinergi antara pendamping PKH dengan pemberi leyanan pelayanan kesehatan dan pendidikan

• Melakukan pencatatan dan pelaporan 2) Tugas pengembangan

Tugas pengembangan yang dilakukan pendamping PKH meliputi:

• Melakukan koordinasi atau kerjasama dengan tokoh-tokoh adat dan atau keagamaan dalam sesi-sesi komunikasi ritual dalam rangka meneguhkan nilai-nilai moral dan spiritual dalam rangka meneguhkan nilai-nilai moral dan spiritual

(36)

• Melakukan kerjasama dengan tim penggerak PKK dan atau LK3 dalam upaya penyedaran pentingnya fungsi-fungsi keluarga bagi peserta PKH

• Menumbuhkan semangat kewirausahaan keluarga peserta PKH melalui usaha ekonomi produktif

• Memotivasi dan advokasi anggota keluarga peserta PKH yang mengalami disabilitas untuk memperoleh kemudahan dalam mengakses pelayanan sosial

• Memfasilitasi ketersediaan media konsultasi bagi keluarga perserta PKH yang mengalami ketidakharmonisan

• Menggugah kesadaran keluarga peserta PKH tentang pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya

• Mengidentifikasi potensi dan sumber yang ada di wilayah kerja pendamping untuk melihat kemungkinan dapat dimanfaatkan dalam membantu mendukung penanggulangan kemiskinan, penanganan masalah atau kebutuhan khusus yang dialami peserta PKH

• Berperan serta dalam menunjang sosialisasi program keluarga berencana

3) Tugas penunjang

Tugas penunjang pendamping PKH berupa:

• Mengembangkan kapasitas diri dalam berkomunikasi, bernegoisasi, membangun relasi dan jejaring kerja, berdasarkan pengelaman selama bertugas di lapangan dan atau secara mandiri

• Mendokumentasikan setiap kegiatan penting terkait dengan tugas dan fungsi sebagai pendamping PKH

• Melatih diri dalam kegiatan tulis menulis berkaitan dengan pengalaman selama mendampingi peserta PKH

3.2 Petunjuk Pelaksanaan Diklat Peningkatan Pertemuan Kemampuan Keluarga (P2K2) Bagi B2P2KS

3.2.1 Metode Diklat

• Blended e-learning yaitu diklat PDK2/FDS PKH e-learning 2019 berlangsung dengan sistem blended yaitu penggabungan

(37)

antara proses pembelajaran daring (dalam jaringan atau online) dan luring (luar jaringan atau offline)

• Mandiri yaitu peserta diminta untuk melakukan belajar mandisi sebelum dan sesudah proses daring berlangsung

• Latihan soal yaitu peserta wajib mengerjakan latihan soal yang tersedia dalam materi yang sudah dipelajari. Latihan soal ini dapat dikerjakan beberapa kali bilamana peserta merasa belum puas atas nilau yang diperoleh

• Penugasan yaitu peserta diberikan penugasan selama proses pembelajaran daring sesuai modul

Review yaitu suatu proses di mana para peserta luring secara bersama-sama mereview materi dari modul 1-5 dengan fasilitator

• Simulasi kelas atau micro teaching yaitu peserta melakukan praktek kelas dengan kelompok kecil pada saat proses pembelajaran luring berlangsung

• Belajar praktek lapangan yaitu di mana pada saat luring peserta akan mengadakan praktek belajar lapangan yang langsung bertemu dengan KPM di lokasi/ masyarakat

• Ujian yaitu suatu proses evaluasi untuk melihat tingkat kemampuan peserta dalam penugasan modul atau materi yang dilakukan melalui pre test, post test, dan uji komprehensif.

3.2.2 Kurikulum

• Proses pembelajaran daring berlangsung selama (85 Jam pelajaran/JP) atau 11 hari kerja @7,8 JP per hari

• Proses pembelajaran luring berlangsung 80 JP atau 10 hari kerja, tidak termasuk hari libur @8 JP per hari. Termasuk di dalamnya 50 JP untuk PBL 5 modul

• Proses pembelajaran daring berlangsung sesuai dengan kondisi masing-masing peserta dengan catatan tdak mengganggu pekerjaan

• Materi diklat P2K2/FDS E-learning 2019 terdiri dari 5 modul, 14 sesi (165 JP) melitputi: modul 1 (pengasuhan dan pendidikan

(38)

3 sesi), modul 3 (kesehatan dan gizi sebanyak 25 JP, dengan 3 sesi, modul 4 (perlindungan anak sebanyak 15 JP, dengan 2 sesi), dan modul 5 (kesejahteraan sosial sebanyak 15 JP, dengan 2 sesi), lalu melakukan review modul 1-5 sebanyak 5 JP.

• PBL terdiri dari 5 modul, 50 JP tiap modul yang terdiri dari PBL modul 1 pengasuhan dan pendidikan anak (10 JP), PBL modul 2 pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha (10 JP, PBL modul 3 kesehatan dan gizi (10 JP), PBL modul 4 perlindungan anak (10 JP), PBL modul 5 kesejahteraan sosial (10 JP).

• Lain-lain (14 JP) terdiri dari pembukaan/penutupan, pengenalan aplikasi e-learning, kebijakan program PKH, teknik fasilitasi, pengantar tentang hak-hak anak, dan evaluasi yang mana-masing masing kegiatan 2 JP

3.2.3 Tahapan Pelaksanaan 1. Persiapan

• B2P2KS melakukan sosialisasi pelaksanaan diklat P2K2 e-learning tahun 2019 melalui proses daring (dalam jaringan) datau online kepada semua calon peserta dan semua pihak terkait penyelenggara diklat P2K2 E-learning 2019.

• B2P2KS wilayah regional masing-masing bekerjasama dengan korwil/korkab/korkot PKH Direktorat JSK dan Dinas Sosial Kab/Kota setempat dalam penetapan calon peserta yang berasal dari wilayah masing-masing

• Menyiapkan data calon peserta diklat, yang meliputi: nama, email, alamat, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, NIK/

pembelajaran luring sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh B2P2KS masing-masing

• Saat pelaksanaan luring harus melakukan registrasi ulang dan membawa dokumen yang dipersyaratkan oleh B2P2KS masing-masing pada saat melapor diri.

• Biaya transportasi datang dan pulang, serta akomodasi peserta ditanggung oleh panitia

• Selama proses pembelajaran luring disediakan layanan akomodasi dan konsumsi

(39)

• Peserta wajib memenuhi semua tata tertib yang dutetapkan oleh panitia.

2. Proses Pembelajaran Luring (Tatap Muka Atau Klasikal)

• Untuk mengikuti proses pembelajaran luring peserta harus dipanggil dan datang ke B2P2KS atau pusat belajar yang ditetapkan sesuai wilayah regional masing-masing dan belajar secara tatap muka dengan fasilitator yang ditunjuk

• Peserta wajib mengikuti semua proses pembelajaan luring sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan

• Panitia menyediakan toolkit pembelajaran untuk peserta

• Proses pembelajrana luring dilakukan melalui tahapan (1) review masing-masing modul dan review hasil penugasan yang sudah dikerjakan pada saat daring, (2) micro teaching atau kelas kecil, (3) praktek belajar PBL dan mengikuti uji komprehensif yang dilakukan sebelum penutupan dilakukan.

3. Review Modul

• Proses luring diawali dengan review masing-masing modul secara kelas besar (40 orang peserta per kelas) yang diasuh oleh 3-4 fasilitator

• Lama proses review untuk 1 modul adalah 45 menit yang dipimpin oleh fasilitator pengasuh modul yang ditunjuk, sednagkan fasilitator lainnya bersifat membantu fasilitator pengampu modul

• Setelah review modul selesai, dilanjutkan dengan praktek kelas kecil yang difasilitasi oleh masing-masing fasilitator yang ditunjuk. Setelah proses kelas kecil selesai untuk 1 modul tertentu kemudian dilanjutkan untuk review modul selanjutnya

• Substasi review terdiri dari: hal-hal substansi dalam modul yang belum dipahami oleh peserta selama proses pembelajaran daring berlangsung, langkah-langkah proses pembelajaran yang belum dipahami, proses permainan yang belum dipahami peserta, hal-hal yang aneh dan

(40)

yang sudah diberikan selama proses pembelajaran daring, dll yang dianggap penting

• Proses pembelajaran review lebih bersifat interaktif, pengayaan, pendalaman, diskusi, tanya jawab, bukan proses pembelajaran 1 arah. Proses pembelajaran menempatkan peserta sebagai pusat pembelajaran

• Penugasan yang sudah diberikan pada saat daring, akan dibahas dalam proses review modul, dan hasil tugas dibawa oleh peserta masing-masing dan didiskusikan

• Komponen dalam penilaian dalam review modul: ada tidaknya tugas relevansi isi tugas, kedalam isi tugas, keaktifan peserta, ketepatan merespon, dan kemampuan analisis.

4. Kelas Kecil (Micro Teaching)

• Praktek kelas kecil, diawali penjelasan bagaimana proses micro teaching dilakukan (sisampaikan pada saat proses review modul berlangsung)

• Untuk proses praktek kelas kecil, peserta dibagi dalam 3-4 kelompok kecil terdiri dari 10-14 orang per kelompok, masing-masing kelompok difasilitasi oleh 1 orang fasilitator

• Setiap kelompok (kelas kecil) wajib melakukan prakter simulasi kelas kecil (skala klasikal), tuntas (langkah demi langkah), terhadap 1 sesi dari modul yang sudah di review.

Kelompok dapat memilih salah satu sesi seuai dengan kondisi daerah setempat untuk dijadikan contoh praktek/

simlasi dari sesi lainnya.

• Dalam proses praktek kelas kecil, anggota membagi habis langkah-langkah yang ada dalam 1 sesi modul secara merata untuk dipraktekkan, untuk 1 langkah dapat terdiri dari 2 orang atau sebaliknya 1 orang untuk beberapa langkah, sesuai jumlah langkah yang ada.

• Yang menjadi KPM dalam proses micro teaching adalah peserta lainnya yang sedang tidak bertugas memberi materi

• Proses pelaksanaan praktek atau simulasi dalam kelas kecil difasilitasi dan diamati oleh fasilitator. Fasilitatir wajib memberikan saran, masukan, dan kritikan atas praktek kelas yang dilakukan oleh masing-masing kelompok.

(41)

• Setelah proses praktek kelas kecil, selesai dilakuka untuk 1 modul kemudiandilanjutkan review kelas kecil hasil pekalsanaan micro teaching selama 45 menit yang dipimpin oleh fasilitator, kemudian dilanjutkan dengan review kelas besar yang dipimpin oleh fasilitator pengampu modul

• Proses praktek kelas kecil akan menjadi salah satu komponen penilaian bagaimana penguasaan peserta terhadap modu;

diklat yang dipelajari

• Aspek yang dinilai dari PPK: penggunaan waktu, urutan langkah, penguasaan materi, perilaku, penggunaan alat bantu, teknik fasilitasi (verba dan non verba) dan sikap (kerjasama dan ketepatan merespon).

5. Praktek Belajar Lapangan (PBL)

• PBL dilakukan untuk setiap modul. PBL dilakukan setelah proses review dna prkatik kelas kecil/ micro teaching selesai dilakukan

• Proses PBL dilaksanakan 5 kali secara berturut-turut @10 JP tiap modul

• Metode pelaksanaan PBL dapat dilakukan dengan metode

“datang dan pulang” atau melalui pendekatan homestay (peserta menginap ditempat), sesuai kondisi masing- masing balai, dipilih mana yang lebih efektif dan efisien

• Sasaran PBL adalah KPM peserta PKH. Peserta dikla langsung bertemu KPM peserta PKH

• Dalam pelaksanaan PBL dibagi menjadi 3 kelompok @10- 14 orang peserta diklat dengan @10 KPM dan difasilitasi 1 orang fasilitator.

• Dalam pelaksanaan PBL, peserta dibagi menjadi 6 kelompok

@ 6-7 orang peserta dklat dengan @10 KPM dan difasilitasi 1 orang fasilitator

• Panitia menyiapkan 30 orang KPM untuk menjadi sasaran praktek/ simulasi yang dibagi menjadi 3 kelompok @10 KPM

• Panitia menyiapkan 3 lokasi desa atau RW atau RT untuk

(42)

• Proses PBL dilakukan dnegan mempraktekkan atau mensimulasikan 2 sesi dari setiap modul (sesi pagi dan sesi sore)

• Dalam proses PBL, setiap kelompok peserta (kelompok kecil) wajib melakukan praktek / simulasi sesi (pagi dan sore) secara tuntas dengan langkah yang ada dalam modul.

• Setelah proses PBLselesai dilakukan untuk 1 modul, kemudian pada sore hari sebelum pulang dilanjutkan review kelas kecil (kelompok masing-masing) hari pelaksanaan micro teaching selama 45 menit yang dipimpin oleh fasilitator pengampu modul.

3.2.4 Fasilitas

1. Selama proses pembelajaran daring peserta berada di tempatnya masing-masing. Panitia tidak menyediakan fasilitas jaringan atau paket internet tetapi menjadi tanggung jawab masing-masing peserta.

2. Selama proses luring berlangsung peserta diberikan fasilitas akomodasi, uang harian dan transportrasi menggunakan kelas ekonomi

3. Fasilitas transportasi menggunakan pesawat kelas ekonomi 4. Proses pembelajaran luring dapat dilakukan di Pusdiklat Kesos,

B2P2KS atau Pusat Belajar yang ditetapkan

5. Panitia menyediakan bahan ajar (modul) tercetak yang mendukung proses pembelajarab diklat P2K2/FDS PKH secara e-learning sesuai dengan anggaran yang ada.

3.2.5 Evaluasi

1. Komponen evaluasi peserta

Ada beberapa komponen penilaian peserta yang dapat dilihat dalam rangka penilaian tingkat kemampuan peserta dalam penguasaan materi pembelajatan meliputi: proses pembelajaran during (30%), proses pembelajaran luring (30%), dan uji komprehensif (modul 1-5) (40%).

Kriteria penilaian

Proses penilaian oleh sistem dan fasilitator dilakukan dengan

(43)

menggunakan sklala 1-10, ekmudian akan dikonversi dengan menggunakan skla 100. Kriteria penilaian : kurang baik (0.0-70 tidak lulus), baik (70,1-80), memuaskan (80,1-90), ddan sangat memuaskan (90,1-100). Kemudian proses penilaian akhir tidak untuk menetapkan LULUS atau TIDAK LULUS, tetapi hanya sebagai pemetaan kompetensi peserta diklat.

2. Evaluasi penyelenggaraan diklat

• Relevansi kurikulum kediklatan terhadap tantangan yang dihadapi peserta diklat

• Durasi waktu yang disediakan untuk setiap pokok bahasan/

sub pokok bahasan mata diklat

• Metode pembelajaran yang diterapkan

• Sarana dan prasaran pembelajaran yang tersedia (modul, kurikulum, buku pintar, brosur, leaflet, dll)

• Kit training

• Jaringan/ akses internet

• Media pembelajaran yang tersedia

• Pelayanan administrasi

• Pelayanan akomodasi

• Pelayanan transportrasi

• Sarana pendukung yang tersedia (olah raga, hiburan, dll) 3. Evaluasi SDM peenyelenggara

• Fasilitator: penguasaan materi, pencapaian tujuan pembelajaran, kemampuan fasilitasi pembelajaran daring dan pembelajaran luring, kemampuan memotivasi peserta, metode pembelajaran yang digunakan, sistematika penyajian, dan komunikasi peserta

• Admin/ operator/ IT (admin), meliputi: penguasaan tugasn, tanggungjawab terhadap tugas, penguasaan IT, komunikasi dengan peserta, dan kecepatan memberikan respon terhadap peserta

• Pendamping kelas: keaktifan pendamping, kreativitas pendamping, komunikasi/ keramahtamahan, tanggungjawab terhadap tugas, koordinasi dalam

(44)

• Peserta: paling heboh, paling anggun, paling wibawa, dan paling suka ngantuk di kelas.

3.2.6 Pembiayaan

Pembiayaan penyelenggaraan diklat P2K2/FDS PKH e-learning tahun 2019 dibebankan kepada RAPBN 2019 satuan unit kerja masing-masing.

3.3 Petunjuk Pelaksanaan P2K2/ FDS 3.3.1 Definisi Program P2K2

Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disebut PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH. Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan PKH. Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi di negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis.

Sebagai sebuah program bantuan sosial bersyarat, PKH membuka akses keluarga miskin terutama ibu hamil dan anak untuk memanfaatkan berbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik) yang tersedia di sekitar mereka. Manfaat PKH juga mulai didorong untuk mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia. Melalui PKH, KPM didorong untuk memiliki akses dan memanfaatkan pelayanan sosial dasar kesehatan, pendidikan, pangan dan gizi, perawatan, dan pendampingan, termasuk akses terhadap berbagai program perlindungan sosial lainnya yang merupakan program komplementer secara berkelanjutan. PKH diarahkan untuk menjadi episentrum dan center of excellence penanggulangan kemiskinan yang mensinergikan berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial nasional.

(45)

Misi besar PKH untuk menurunkan kemiskinan semakin mengemuka mengingat jumlah penduduk miskin Indonesia sampai pada Maret tahun 2016 masih sebesar 10,86% dari total penduduk atau 28,01 juta jiwa (BPS, 2016). Pemerintah telah menetapkan target penurunan kemiskinan menjadi 7-8% pada tahun 2019, sebagaimana tertuang di dalam RPJMN 2015-2019. PKH diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan untuk menurunkan jumlah penduduk miskin, menurunkan kesenjangan (gini ratio) seraya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dalam rangka perubahan perilaku KPM, diperlukan edukasi berkelanjutan yang dapat memberikan pemahaman kepada KPM tentang pentingnya pendidikan dan pengasuhan anak, kesehatan, pengelolaan keuangan keluarga, perlindungan anak dan pengasuhan lanjut usia dan disabilitas. Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau yang dikenal dengan Family Development Session (FDS) merupakan sebuah intervensi perubahan perilaku yang terstruktur. P2K2 diberikan pada semua KPM PKH sejak tahun pertama kepesertaan PKH. Materi P2K2 wajib disampaikan melalui pertemuan kelompok setiap bulan yang disampaikan oleh Pendamping Sosial PKH terhadap kelompok- kelompok dampingannya.

3.3.2 Tujuan P2K2

Tujuan P2K2, antara lain:

1. Meningkatkan pengetahuan KPM PKH mengenai pengasuhan anak dan mendukung pendidikan anak di sekolah.

2. Meningkatkan pengetahuan praktis KPM PKH tentang pengelolaan keuangan keluarga. KPM PKH belajar bagaimana membedakan antara kebutuhan dan keinginan, membuat target menabung dan menghindari hutang, serta meningkatkan penghasilan dengan membuka usaha.

3. Meningkatkan kesadaran KPM PKH dalam hal kesehatan khususnya pentingnya 1000 hari pertama kehidupan yang

(46)

4. Meningkatkan kesadaran KPM PKH terhadap pencegahan kekerasan terhadap anak dan memenuhi hak-hak anak.

5. Meningkatkan kesadaran KPM PKH terhadap hak-hak lansia dan disabilitas.

6. Secara umum meningkatkan kesadaran KPM PKH akan hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan layanan umum yang disediakan pemerintah untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan pendidikan.

3.3.3 Komponen Pelaksanaan P2K2

Komponen yang diperlukan dalam pelaksanaan P2K2 adalah:

1. Modul P2K2

Modul P2K2 merupakan modul pembelajaran terstruktur untuk meningkatkan keterampilan hidup masyarakat miskin dengan fokus utama di bidang ekonomi, pendidikan anak, kesehatan, dan perlindungan anak. Modul P2K2 disampaikan kepada KPM dengan memperhatikan kebutuhan KPM.

2. Pendidikan dan Pelatihan P2K2

Diklat P2K2 diberikan kepada SDM PKH sesuai ketentuan dan kebijakan program pada tahun berjalan.

3. Bahan Ajar

Pengadaan bahan ajar berupa buku modul, buku pintar, flipchart, poster dan brosur dan alat lainnya untuk mendukung penyampaian P2K2 diselenggarakan oleh Kementerian Sosial atau pihak-pihak lain yang ingin berkontribusi.

4. Waktu Pelaksanaan P2K2

P2K2 dilaksanakan setiap bulan selama masa kepesertaan PKH.

5. Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan P2K2

P2K2 diberikan sebagai kewajiban pendamping PKH terhadap KPM PKH yang menjadi dampingannya dalam pertemuan yang diselenggarakan sebulan sekali. Dalam pelaksanaannya P2K2 menjadi bagian dari ukuran kinerja seorang pendamping dengan supervisi dari koordinator kabupaten/kota, dan koordinator wilayah

(47)

3.3.4 Waktu

a) Pertemuan P2K2 diselenggarakan 1 kali dalam sebulan b) 1 sesi disampaikan dalam 1 kali pertemuan

c) Penyampaian sesi P2K2 berlangsung sesuai panduan dalam modul (120 menit)

d) Jam penyelenggaraan P2K2 dapat ditentukan sesuai kesepakatan antara peserta PKH dan Pendamping

3.3.5 Materi Dalam Pelaksanaan P2K2

Materi P2K2 terdiri dari 6 (enam ) bagian modul yang melingkupi topik Pendidikan dan Pengasuhan, Ekonomi, Kesehatan, dan Perlindungan Anak. Modul- modul tersebut memiliki rincian antara lain:

a) Modul Pendidikan dan Pengasuhan Anak

Modul ini terdiri dari 4 sesi dengan rincian sebagai berikut : 1. Menjadi orang tua yang lebih baik

2. Memahami perilaku anak

3. Memahami cara anak usia dini belajar 4. Membantu anak sukses di sekolah b) Modul pengelolaan keuangan keluarga

Modul ini terdiri dari 4 sesi dengan rincian sebagai berikut : 1. Mengelola keuangan keluarga

2. Cermat meminjam dan menabung 3. Cerdas memanfaatkan layanan Bank 4. Memulai usaha

c) Modul Kesehatan dan Gizi

Modul ini terdiri dari 3 materi dengan rincian sebagai berikut : 1. Pentingnya gizi dan layanan kesehatan ibu hamil

2. Pentingnya gizi untuk ibu menyusui dan balita 3. Kesakitan pada anak dan kesehatan lingkungan d) Modul Perlindungan Anak

Gambar

Tabel 2.1   Alasan Pemilihan Lokasi Pengumpulan Data  ______  10 Tabel 2.2   Jumlah Sampel Penelitian  ______________________  12 Tabel 2.3   Responden dan Informan Penelitian  _____________  13 Tabel 3.1   Jadwal Pelaksanaan P2K2  _______________________
Tabel 5.18  Lokasi Tempat Tinggal Pendamping  ______________  171 Tabel 5.19  Jumlah KPM Graduasi Alami _____________________  171 Tabel 5.20  Jumlah KPM Graduasi Mandiri ___________________  172 Tabel 5.21  Jumlah KPM Graduasi Sejahtera Mandiri __________
Tabel 2.1 Alasan Pemilihan Lokasi Pengumpulan Data No Lokasi Pengumpulan Data
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan P2K2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kabupaten Donggala dari tahun anggaran 2008-2015 rata-rata cukup serasi, Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah dalam keuangan pemerintah Kabupaten Donggala

Berdasarkan kenyataannya masih banyak siswa mengalami kesulitan, maka perlu diupayakan alternatif lain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mate- matika, yang berorientasi

Pengukuran kinerja dari aspek keuangan memang penting, tetapi masih ada aspek-aspek lain yang juga penting dan perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian anggaran dari pemerintah dengan realisasi bantuan yang diberikan kepada keluarga sangat miskin dan untuk

Servant leadership tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja pendamping PKH Aceh Utara karena masih ada hal-hal yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan,

Hal ini karena pada dimensi Kuantitas Pekerjaan Quantty of Work terdapat kader yang tidak dapat mencapai target dalam setiap tugasnya sehingga masih adanya angka stunting, kemudian