commit to user 8
BAB II KAJIAN TEORI
A.Tinjauan Pustaka 1. Lahan
Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya. Termasuk didalamnya adalah akibat-akibat kegiatan manusia, baik pada masa lalu maupun sekarang, seperti reklamasi daerah-daerah pantai, penebangan hutan, dan akibat-akibat yang merugikan seperti erosi dan akumulasi garam (FAO, 1976 dalam Hardjowigeno & Widiatmoko 2007 : 19)
(Arsyad,1989:207)mendifinisikan lahan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, dan vegetasi serta benda yang diatasnya sepanjang ada pengaruh terhadap penggunaan lahan, termasuk didalamnya hasil kegiatan manusia dimasa lalu dan sekarang, seperti hasil reklamsi laut, pembersihan vegetasi dan juga hasil yang merugikan seperti tanah yang tersalinasi.
2. Evaluasi Kesesuaian Lahan
Hardjowigeno (2007 : 15) mendefinisikan evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan. Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang akan diterapkan, dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang kan digunakan. Dengan cara ini, maka akan diketahui ptensi lahan atau kelas kesesuaian/kemampuan lahan untuk tipe penggunaan lahan tersebut
Evaluasi lahan merupakan proses pendugaan potensi lahan untuk macam- macam alternatif penggunaannya (Dent dan Young, 1981 dalam Abdullah 1993 :57). Evaluasi lahan melibatkan pelaksanaan survai/penelitian bentuk bentang alam, sifat dan distribusi tanah, macam dan distribusi vegetasi , dan aspek-aspek lahan yang lain. Keseluruhan evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membuat perbandingan dari macam-macam penggunaan lahan yang memberikan
commit to user
harapan positif. Macam-macam penggunaan lahan ini di dalam evaluasi lahan dikenal dengan LUT (Land Utilization Type) (Abdullah, 1993 :57).
Kesesuaian Lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu (Sitorus, 1995 : 42). Struktur klassikasi kesesuaian lahan menurut kerangka FAO (1976) dapat dibedakan menurut tingkatannya sebagai berikut :
a. Ordo Kesesuaian Lahan (Order)
Ordo kesesuian Lahan menunjukkan jenis atau macam kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara global (umum).
b. Kelas Kesesuian Lahan (Class)
Kelas Kesesuaian Lahan menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo.
c. Sub Kelas Kesesuaian Lahan (Sub Class)
Sub Kelas Kesesuaian Lahan menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan di dalam kelas.
d. Satuan Kesesuaian Lahan (Unit)
Unit menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam sub kelas.
Kelas kesesuaian suatu area dapat berbeda tergantung dari jenis tipe penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan. Evaluasi kesesuaian mempunyai penekanan yang tajam yaitu mencari lokasi yang mempunyai sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan struktur klasifikasi kesesuaian lahan yang kedua yaitu kelas kesesuaian lahan.
(Sitorus,1995: 42) menjelaskan bahwa evaluasi kesesuaian lahan pada hakekatnya berhubungan dengan evaluasi untuk satu penggunaan tertentu, seperti untuk bududaya padi,jagung dan sebagainya. Evaluasi kesesuaian mempunyai penekanan yang tajam, yaitu mencari lokasi yang mempunyai sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan produksi atau penggunaannya.
FAO (1976) dalam Setyowati (2007)evaluasi kesesuaian lahan adalah proses penafsiran potensi lahan untuk tujuan tertentu yang meliputi kegiatan
commit to user
survei bentuk lahan, vegetasi, tanah, iklim, dan lain-lain untuk membandingkan bentuk-bentuk penggunaan lahan yang diusulkan dengan tujuan evaluasi. Selain untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan lahan suatu wilayah, evaluasi sumberdaya lahan dapat juga diarahkan ke evaluasi kesesuaian lahan. Hal ini mencerminkan bahwa potensi suatu wilayah untuk peruntukan secara umum atau penggunaannya, sedangakan untuk keseuaian lahan bersifat spesifik, merujuk pada peruntukan tertentu misalnya untuk permukiman, untuk tanaman pertanian, untuk lokasi perindustrian, untuk lokasi hutan lindung, untuk lokasi perdagangan maupun lainnya. Penggunaan lahannya berbeda tergantung pada tingkat kesesuaian lahan sehingga tiap penggunaan lahan dapat dipertimbangkan untuk pemanfaatan lainnya.
Kerangka dasar dari evaluasi kesesuaian lahan yaitu membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan tertentu dengan sifat sumberdaya yang ada dalam sumberdaya tersebut. Prosedur evaluasi disamping membutuhkan persyaratan yang berbeda-beda juga membutuhkan keterangan- keterangan tentang lahan tersebut menyangkut aspek sesuai dengan perencanaan peruntukan yang sedang dipertimbangkan. Adapun keterangan-keterangan tersebut menyangkut tiga aspek utama yaitu lahan, penggunaan lahan, serta aspek ekonomis.
Proses evaluasi kesesuaian lahan terdiri dari lahan terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pengumpulan karakteristik/kualitas lahan, tahap penentuan kebutuhan dari jenis penggunaan lahan, dan tahap evaluasi kesesuaian lahan dengan membandingkan karakteristik/kualitas lahan dengan kebutuhan dari jenis penggunaan lahan
Dalam Setyowati (2007) metode evaluasi kesesuaian lahan adalah cara mengatasi potensi atau nilai dari suatu areal untuk penggunaan tertentu. Menurut Jamulya (1992) dalam Setyowati (2007) terdapat tiga metode dalam mengadakan evaluasi kesesuaian lahan, yaitu :
commit to user a. Metode Pemerian (Description)
Metode pemerian dilaksanakan dengan menjelaskan kelas-kelas kesesuian lahan dalam bentuk kalimat, bahkan metode ini juga menggunakan perbandingan antara kualitas dan karakteristik lahan dengan kriteria kelas kesesuaian lahan, tetapi dianalisis dengan deskripsi sugestif. Analisis deskripsi sugestif adalah pemerian suatu gambaran yang meyakinkan tentang kualitas dan karakteristik lahan sehingga tercipta suatu penghayatan tentang potensi lahan yang sedang dievaluasi.
b. Metode Pengharkatan (Scoring)
Metode Pengharkatan merupakan suatu cara untuk menilai potensi lahan dengan jalan memberi harkat pada setiap parameter lahan, sehingga diperoleh kelas kesesuaian lahan berdasrkan perhitungan harkat pada setiap parameter laha.
Terdapat dua macam teknik pengharkatan yaitu : (1) Teknik Penjumlahan atau Teknik Pengurangan, teknik ini dilakukan dengan menjumlahkan atau mengurangi harkat setiap parameter lahan. (2) Teknik Perkalian atau Pembagian (Sistem Indeks) dilakukakn dengan mengalikan atau membagi harkat setiap parameter lahan. Dari kedua teknik tersebut akan diperoleh suatu nilai atau indeks tertentu dengan menunjukkan kelas kesesuian lahan
c. Metode Perbandingan (Matching)
Metode Matching merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi kesesuaian lahan dengan jalan mencocokkan serta membandingkan antara kualitas dan karakteristik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan, sehingga diperoleh potensi yang ada pada satuan lahan tertentu.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode scoring.
Kelas merupakan keadaan tingkat kesesuian lahan pada tingkat ordo. Pada tingkat kelas yang tergolong ordo seseuai (S) dibedakan kembali pada tiga kelas yaitu lahan sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3).
Sedangkan lahan yang tergolong ordo tidak sesuai (N) dibedakan dalam dua kelas yaitu lahan tidak sesuai saat ini (N1), dan lahan tidak sesuai permanen (N2).
commit to user a.Kelas Sangat Sesuai (S1)
Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak mempengaruhi secara langsung produksi lahan tersebut, serta tidak menambah masukan (input) dari yang biasa dilakukan dalam pengusahaan lahan.
b.Kelas Cukup Sesuai (S2)
Lahan mempunyai faktor penghambat agak berat. Berpengaruh terhadap produktifitas lahan tersebut, memerlukan tambahan masukan. Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi.
c.Kelas Sesuai Marginal (S3)
Lahan yang mempunyai faktor pembatas sangat berat apabila digunakan untuk penggunaan tertentu yang lestari. Faktor penghambat ini akan berpengaruh terhadap produktifitasnya, memerlukan tambahan masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi faktor penghambat pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya bantuan atau investasi dari pemerintah atau swasta.
d.Kelas Tidak Sesuai Saat Ini (N1)
Lahan yang mempunyai pembatas dengan tingkat sangat berat, akan tetapi masih memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan saat ini dengan biaya yang rasional.
e.Kelas Tidak Sesuai Permanen (N2)
Lahan yang mempunyai pembatas sangat berat, sehingga tidak mungkin untuk dipergunakn terhadap suatu penggunaan tertentu yang lestari
3. Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Permukiman
Hardjowigeno (2007 :171) menjelaskan permukiman adalah tempat dimana sejumlah penduduk tinggal dan melakukan kegiatan sehari-harinya untuk
commit to user
keperluan tersebut diperlukan lahan untuk mendirikan bangunan seperti rumah.
Oleh karena pekerjaan-pekerjaan untuk permukiman secara umum dilakukan diatas tanah, maka sifat-sifat tanah pun perlu mendapat perhatian pula. Sifat-sifat tanah tersebut antara lain adalah klasifikasi tanah, tata air atau drainase tanah (wetness), tebal tanah sampai ke hamparan batuan, kepekaan erosi, bahaya banjir, lereng,daya menyangga tanah (daya dukung tanah), poetnsi terjadinya korosi, lapisan organik, mudah tidaknya tanah digali,dan sebagainya.
Paremeter kesesuaian lahan yang diukur dan diamati untuk menentukan klasifikasi kesesuaian lahan permukiman yaitu :
a. Kemiringan lereng (dalam %)
b. Kembang kerut tanah (dinyatakan dengan nilai COLE) c. Daya dukung tanah
d. Tingkat bahaya erosi (pengikisan tanah) e. Tingkat bahaya longsor
f. Ancaman banjir
Penentuan kesesuaian lahan untuk permukiman dipakai metoda parametrik kualitas lahan atau sifat lahan (Jamulya dan Sunarto,1991). Artinya untuk menentuka kualitas tiap karakteristik lahan diberikan nilai atau harkat diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk, nilai atau harkat yang diberikan setiap karakteristik lahan antara 1 sampai 5. Berikut adalah parameter evaluasi kesesuaian lahan permukiman berdasarkan karakteristiknya :
a.Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng menunjukkan relief suatu wilayah. Relief erat kaitannya dengan pengelolaan lahan dan erosi (Muta’ali, 2012: 118). Semakin besar kemiringan lereng suatu wilayah, semakin curam relief wilayah tersebut.Oleh karenanya, wilayah dengan karakteristik relief curam dibatasipengelolaannya sebagai kawasan lindung sebagai upaya memperkecil erosi.
commit to user
Berikut ini disajikan klasifikasi kemiringan lereng pada tabel 2.1 Tabel 2.1. Klasifikasi Kemiringan Lereng
Kelas Kemiringan (%) klasifikasi
I 0 -8 Datar
II 8-15 Landai
III 15-25 Agak curam
IV 25-40 Curam
V >40 Sangat curam
Sumber : Van Zuidam dalam Suranto (2008) b. Kembang Kerut Tanah (COLE)
Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya adanya sifat ini, beberapa jenis tanah mengerut pada musim kemarau. Besarnya potensi kembang kerut tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient of Linear Extensibility).
Berikut ini disajikan klasifikasi kembang kerut tanah pada tebel 2.2 Tabel 2.2. Klasifikasi Kembang Kerut Tanah
Kelas Nilai COLE Klasifikasi
I <0,01 Sangat Rendah
II 0,01-0,03 Rendah
III 0,03-0,06 Sedang
IV 0,06-0,09 Tinggi
V >0,09 Sangat Tinggi
Sumber : Sitorus (1995:158) c. Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah diartikan sebagai kemampuan tanah untuk menahan tekanan yang di berikan di atas tanah. Semakin besar daya dukung tanah, semakin baik kualitas tanah tersebut untuk berbagai kegiatan, dalam hal ini pembangunan pondasi.
commit to user
Berikut ini disajikan klasifikasi daya dukung tanah pada tabel 2.3 Tabel 2.3. Klasifikasi Daya Dukung Tanah
Kelas Daya Dukung Tanah (kg/cm2)
Klasifikasi
I >1,5 Sangat Tinggi
II 1,4-1,5 Tinggi
III 1,2-1,3 Sedang
IV 1,1-1,2 Rendah
V <1,1 Sangat Rendah
Sumber : Hasil Perhitungan d.Tingkat Bahya Erosi
Erosi merupakan proses alami yang dicirikan dengan berkurangnya lapisan atas tanah. Erosi dianggap sebagai sebuah bahaya apabila erosi yang terjadi lebih besar dari erosi yang diperbolehkan. Pengembangan permukiman di lokasi yang tidak sesuai dapat memicu besarnya erosi yang berakibat pada penurunan kualitas lahan (degradasi lahan).
Berikut ini disajikan klasifikasi tingkat bahaya erosi pada tabel 2.4 Tabel 2.4. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi
Kelas kriteria Klasisfikasi
I <25% lapisan atas hilang Tidak ada erosi II 25-75% lapisan atas hilang Ringan
III >75% lapisan atas sampai
<25% lapisan bawah hilang
Sedang IV Lebih dari 25% lapisan
bawah hilang
Berat
V Erosi parit Sangat berat
Sumber : Arsyad (2012:331)
commit to user e.Tingkat Bahaya Longsor
Bahaya longsor merupakan potensi ancaman kerugian harta benda maupun nyawa manusia akibat gerakan massa tanah. Wilayah dengan bahaya longsor tinggi dilarang untuk didirikan permukiman.
Berikut ini disajikan klasifikasi tingkat bahaya longsor pada tabel 2.5 Tabel 2.5. Klasifikasi Tingkat Bahaya Longsor
Kelas Intensitas Longsor
I Tidak Pernah
II <2 kali/tahun, resiko ringan III <2 kali/tahun, resiko berat IV >2 kali/tahun, resiko ringan
V >2 kali/tahun, resiko berat Sumber : Modifikasi dari Setyowati (2007:4) f.Bahaya Banjir
Banjir adalah peristiwa menggenangnya air di permukaan tanah atau juga meluapnua air dari saluran yang kapasitasnya lebih kecil dari volume air. Banjir merupakan faktor yang sangat merugikann untuk berdirinya suatu permukiman.
Berikut ini disajikan klasifikasi tingkat bahaya banjir pada tabel 2.6 Tabel 2.6. Klasifikasi Tingkat Bahaya Banjir
Kelas Kriteria Klasifikasi
I Daerah tidak pernah dilanda banjir Sangat baik II Banjir terjadi teratur dalam waktu
kurang dari satu tahum
Baik III Selama waktu satu bulan dalam
setahun secara teratur terjadi banjir
Sedang IV Selama 2-5 bulan dalam setahun
teratur terjadi banjir
Jelek
commit to user
Sumber : Modifikasi dari Setyowati (2007:6)
9. Daya Dukung Lahan
Menurut UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, daya dukung lingkungan hidup diartikan sebagai kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain
Dasman (1992) dalam Muta’ali (2012 : 16) mendefinisikan daya dukung secara lebih operasional sebagai jumlah penduduk yang dapat ditunjang per satuan daerah pada tingkat teknologi dan kebudayaan tertentu
Khanna (1999) dalam Muta’ali (2012 :16) mengutarakan bahwa daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung libah (assimilatve capacity). Carrying capacity atau daya dukung lingkungan mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan makhluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Daya dukung lingkungan dapat pula diartikan kemampuan lingkungan memberikan kehidupan organisme secar sejahtera dan lestari bagi penduduk yang mendiami suatu kawasan
3. Permukiman
Utomo dan Kusumastuti (2002 : 6) menyatakan bahwa :permukiman tidak cukup diartikan sebagai tempat bermukim, namun juga berkiprah dalam berbagai kegiatan kerja dan kegiatan usaha, berhubungan dengan sesama permukim sebagai satu kesatuan masyarakat dan memenuhi berbagai kebutuhan kehidupannya. Hal ini membawa pemahaman bahwa permukiman yang layak memiliki kandungan lima unsur pokok yakni wisma, karya, marga, suka di tambah dengan penyempurna. Sebagai pengembang kaum modernis dalam Athens Charter. Tentunya ini lebih berkembang dari pengertian umum yang menyatakan bahwa permukiman merupakan peleburan dari place-work-folk suatu tempat tertentu yang terdapat kegiatan kerja atau pencaharian yang dilakukan oleh penduduk.
V Selama 6 bulan atau lebih selalu terjadi banjir secara teratur
Sangat jelek
commit to user
Menurut Yunus (1987 : 3) “ Permukiman diartikan sebagai suatu bentuk artificial maupun natural, dengan segala kelengkapannya yang dipergunakan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok, untuk bertempat tinggal baik sementara maupun menetap, dalam menyelenggarakan kehidupannya”. Pengertian permukiman menurut Sumaatmadja (1988 :191) mengemukakan bahwa “ Permukiman pada konsep ini adalah bagian permukaan bumi yang dihuni manusia yang meliputi pola segala sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan penduduk yang menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal yang bersangkutan.”
Kawasan permukiman menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman didefinisikan sebagai bagian darilingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaanmaupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal ataulingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan danpenghidupan. Menurut Departemen PU (2008: 13), kawasan permukimanmemiliki fungsi utama antara lain sebagai: 1) lingkungan tempat tinggal dantempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan masyarakatsekaligus menciptakan interaksi sosial; 2) kumpulan tempat hunian dan tempatberteduh keluarga serta sarana bagi pembinaan keluarga. Dari beberapa pengertianyang telah dikemukakan, secara sederhana permukiman dapat diartikan sebagaitempat tinggal penduduk dengan segala kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya.
Penyelenggaraan kawasan permukiman diatur salah satunya oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011. Pada pasal 56 disebutkan bahwa penyelenggaraan kawasan permukiman dilakukan untuk mewujudkan wilayah yang berfungsi sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan yang terencana, menyeluruh terpadu, dan berkelanjutan sesuai dengan rencana tata ruang. Penyelenggaraan tersebut bertujuan untuk memenuhi hak warga negara atas tempat tinggal yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur serta menjamin kepastian bermukim.
commit to user
4. Daya Dukung Lahan untuk Permukiman
Daya dukung wilayah untuk permukiman, dapat diartikan sebagai kemampuan suatu wilayah dalam menyediakan lahan permukiman guna menampung jumlah penduduk tertentu untuk bertempat tinggal secara layak.
Dalam menyusun formulasi daya dukung wilayah untukpermukiman, selain diperlukan besaran luas lahan yang cocok dan layak untuk permukiman tetapi juga dibutuhkan standar atau kriteria kebutuhan lahan tiap penduduk.
Luas lahan yang sesuai untuk permukiman dapat didekati dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan tata ruang dan pendekatan kemampuan lahan. Dengan pendekatan tata ruang, maka lahan permukiman adalah area yang ada di dalam suatu wilayah, di luar kawasn lindung dan terbebas dari bahaya lingkungan, seperti banjir, tanah longsor, intrusi air tanah dan abrasi, serta berbagi macam ancaman bahaya geologi lainnya. Adapun pendekatan kemampuan lahan, lahan permukiman dapat diletakkan pada area yang memiliki tingkat kemampuan lahan I sampai IV. Meskipun demikian tidak semua areal sesuai untuk permukiman dapat dikembangkan secara keseluruhan, melainkan harus disediakan ruang untuk penggunaanb yang lainnya. Buku pedoman penentuan kawasan budidaya menyebutkan penggunaan lahan untuk pengembangan perumahan baru terdapat sekitar 40%-60% dari luas lahan yang ada, dan untuk kawasan-kawasan tertentu disesuaikan dengan karakteristik serta daya dukung lingkungan.
SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, menyebutkan tentang kebutuhan layak (minimum) lahan untuk bangunan rumah yaitu, 9,6m2 / orang dewasa 4,8m2/ anak-anak dan 100 m2/ kavling dan tambahan 30% (tiga puluh persen) dari luasan tersebut untuk tambahan fasilitas lingkungan permukiman, maka idealnya adalah 130 m2 untuk maksimal 5 orang, atau 26 m2 tiap orang.
commit to user
Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 11/ PERMEN /M/2008 tentang Pedoman Keserasian Kawasan Perumahan dan Permukiman menyebutkan mengenai kebutuhan ruang maksimal penduduk yang lebih bervariasi menurut zona kawasan. Semakin tinggi karakter perkotaan dan tingkat kepadatan, semakin kecil kebutuhan ruang per kapita. Sebagai contoh, untuk menciptakan kondisi lingkungan permukiman yang serasi, untuk zona perdesaan dibutuhkan 133 m2/ kapita, zona pinggiran kota 80 m2 /kapita, dan zona perkotaan 26 m2/ kapita
Tabel 2.7. Kebutuhan Ruang per Kapita Menurut Lokasi Geografis (Zona Kawasan)
Lokasi Geografis (perdesaan- perkotaan
Tingkat kepadatan Lingkungan
Jml rumah/ha α=Kebutuhan ruang/kapita (m2//kapita) Zona Lindung Kepadatan 0
jiwa/ha
Jumlah rumah 0 unit/ha
0 m2/ kapita Zona Perdesaan Kepadatan lebih
kecil dari 50 jiwa/ha
Jumlah rumah paling banyak 15 unit/ha atau luas rata-rata tiap rumah maksimal 666m2
133 m2/ kapita
Zona Pinggiran Kota
Kepadatan antara 51 sampai dengan 100 jiwa/ha
Jumlah rumah paling banyak 25 unit/ha atau luas rata-rata tiap rumah maksimal 400m2
0 m2/ kapita
Zona Perkotaan Kepadatan antara 101 sampai dengan 300 jiwa/ha
Jumlah rumah paling banyak 75 unit/ha atau luas rata-rata tiap rumah maksimal 133m2
26 m2/ kapita
Zona Pusat Kota Kepadatan antara 301 sampai dengan 500 jiwa/ha
Jumlah rumah paling banyak 125 unit/ha atau luas rata-rata tiap rumah maksimal 80m2
16 m2/ kapita
Zona Pusat Kota Metropolitan
Kepadatan lebih besar dari 501jiwa/ha
Jumlah rumah paling banyak 300 unit/ha atau luas rata-rata tiap rumah maksimal 33 m2
6,6 m2/ kapita
commit to user Zona Preservasi Sesuai dengan
ketentuan yang berlaku daerah masing-masing
Sumber : Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No.11/PERMEN/M/2008 Keterangan : Kebutuhan ruang/ kapita menggunakan asumsi 5 orang/rumah
Berdasarkan uraian di atas, dapat disusun formula yang digunakan untuk menghitung daya dukung wilayah untuk permukiman adalah :
DDPm = = /
Keterangan :
DDPm = daya dukung permukiman JP = Jumlah Penduduk
α = koefisien luas ruang kebutuhan ruang/kapita (m2 / kapita)
Menurut SNI 03-1733-2004 sebesar 26 m2, sedangkan menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat NO. 11/ PERMEN/ M/ 2008, kebutuhan bervariasi menurut kawasan. LPm = Luas lahan yang layak untuk permukiman (m2), dapat menggunakan beberapa batasan diantaranya :
1. Areal yang layak untuk lahan permukiman adalah di luar kawasan lindung dan kawasan rawan bencana (banjir dan longsor), sehingga :
LP = LW – (LKL + LKRB) LW = luas wilayah
LKL = luas kawasan lindung
LKRB = luas kawasan rawan bencana
2. Menggunakan batasan kelas kemampuan lahan, dimana dapat diasumsikan kelas kemampuan lahan I-1V dapat dan layak digunakan untuk permukiman
Kisaran nilai indeks daya dukung permukiman adalah :
commit to user
1. Apabila DDPm, artinya bahwa daya dukung permukiman tinggi, masih mampu menampung penduduk untuk bermukim (membangun rumah) dalam wilayah tersebut.
2. Apabila DDP=1, bermakna bahwa daya dukung permukiman optiamal, terjadi keseimbangan antara penduduk yang bermukim (membangun rumah) dengan luas wilayah yang ada.
3. Apabila DDP < 1, berarti bahwa daya dukung permukiman rendah, tidak mampu menampung penduduk untuk bermukim (membangun rumah) dalam wilayah tersebut.
Selanjutnya, dengan di temukannya nilai daya dukung permukiman tersebut, sekaligus dapat dihitung jumlah penduduk (JPo) dan luas lahan optimal (Lpmo).
Jpo = DDPm x Jumlah Penduduk Optimal
Sebagai contoh, apabila nilai DDPm = 2, maka jumlah penduduk yang diperkenankan bermukim (membangun rumah) adalah sebanyak 2 kali dari penduduk yang ada.
Lpmo = 1 / DDPm x Lpm
Sebagai contoh, jika nilai DDPm = 2, maka luas lahan yang optimal untuk bermukim (membangun rumah) bagi penduduk saat ini sebenarnya hanya ½ dari kapasitas luas lahan yang layak untuk permukiman.
Apabila luas lahan yang layak untuk permukiman (m2) yang diperbolehkan untuk dibangun perumahan hanya 40% maka rumus tersebut dapat diperhalu sebagai berikut :
Lpmo = 1/DDPm x (0,4 LPm)
Selain menggunakan formulasi tersebut di atas, pengukuran daya dukung lingkungan permukiman juga dapat menggunakan konsep liputan bangunan atau Building Coverage, dengan formula sebagai berikut :
commit to user LB = ( )x 100%
Keterangan :
LB = Liputan bangunan (%) LW = Luas wilayah (km2)
RT = Ruang terbuka atau open space(km2)
Jika nilai LB = 0%, maka lahan belum dimanfaatkan untuk bangunan, sebaliknya jika nilai LB= 60%, maka pemanfaatan lahan untuk bangunan mencapai 60% dari total luas wilayah.
Dalam banyak kasus menunjukkan bahwa kualitas lingkungan akan terpelihara dengan baik apabila manusia mengelola daya dukung pada batas minimum dan optimum, yaitu antara 30-70%. Angka ini diperoleh berdasrkan konsep tata ruang arsitektur bangunan yang harus mempertimbangkan arsitektir alam yaitu 1/3 sampai 2/3 dari seluruh ruang yang dikelola atau diubah oleh manusia. Apabila pemanfaatan lebih dari 70% atau mendekati 100% maka akan berakibat pada penurunan kualitas lingkungan. Hal ini dibenarkan oleh Keputusan Menteri Negara Kependudukan/ kepala BKKBN Nomor : Kep-03/MEN/MENEG.
K/2/1998 tentang Pedoman Umum Indikator Dinamis Keseimbangan Penduduk dan Daya Dukung dan Daya Tampung.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Dewi Liesnoor Setyowati (2007) melakukan penelitian Kajian Evaluasi Kesesuaian Lahan Permukiman dengan Teknik Sistem Informasi Geografis.Tujuan penelitian tersebut adalah untuk: 1) Melakukan inventarisasi kesesuaian
lahan pada Wilayah Pengembangan Permukiman di Kota Semarang, 2)Mengevaluasi kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman di Kota Semarang, dan 3) Menerapkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk
commit to user
mengevaluasi tingkat kerawanan bencana pada Wilayah PengembanganPermukiman di Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah matchingparameter, dan overlay peta dengan SIG. Penelitian tersebut menunjukkan bahwaterdapat 4 kelas kesesuaian lahan yaitu kelas S2 (sesuai), kelas S3 (sesuai denganbeberapa hambatan), kelas N1 (tidak sesuai) dan kelas N2 (sangat tidak sesuai).Kelas kesesuaian S2 meliputi kawasan seluas 5.549 hektar (36,9%), kelas S3meliputi daerah seluas 944 hektar (6,3%), kelas N1 meliputi daerah seluas 8.059hektar (53,5%), dan kelas N2 seluas 503 hektar (3,4%). Faktor penghambat ataupembatas yang dominan kelas kesesuaian lahan di Kota Semarang adalahkemiringan lereng, kekuatan batuan, kembang kerut tanah, jalur patahan, bahayaerosi, dan bahaya longsor.
Dewi Suci Gerhanawati(2011),melakukan penelitian yang berjudul
“Analisis Daya Dukung Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cebongan Kabupaten Wonogiri Tahun 2011”.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui produktivitas pertanian di DAS Cebongan Tahun 2011, mengetahui ketersediaan lahan di DAS Cebongan Tahun 2011, mengetahui tingkat kebutuhan lahan di DAS Cebongan Tahun 2011, mengetahui daya dukung lahan di DAS Cebongan Tahun 2011, mengetahui kesesuaian antara daya dukung lahan terhadap RTRW Kabupaten Wonogiri Tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi spasial.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1)Produktivitas pertanian DAS Cebongan Tahun 2011 sebagai berikut (a) Tingkat produktivitas padi tinggi sejumlah delapan desa. Tingkat produktivitas padi rendah sejumlah satu desa (b) Tingkat produktivitas jagung tinggisejumlah delapan desa. Tingkat produktivitas jagung rendah sejumlah satu desa (c) Tingkat produktivitas ketela pohon tinggi sejumlah satu desa. Tingkat produktivitas ketela pohon rendah sejumlah delapan desa (d) Tingkat produktivitas kacang tanah tinggi sejumlah tiga desa.Tingkat produktivitas kacang tanah rendah sejumlah enam desa. (2) Ketersediaan lahan DAS Cebongan Tahun 2011 sebesar 18.222,1 Ha. Desa yang memiliki ketersediaan lahan terbesar adalah Desa Sambirejo yaitu 8.950,24 Ha, dan ketersediaan lahan terkecil adalah Desa Slogoretno yaitu sebesar 0,33
commit to user
Ha.(3)Kebutuhan lahan DAS Cebongan Tahun 2011 adalah 8.979,05 Ha. Desa yang memiliki kebutuhan lahan terbesar adalah Desa Tanggulangin sebesar 1.942,76 Ha, dan kebutuhan lahan terkecil Desa Slogoretno sebesar 203,70 Ha.(4) Status daya dukung lahan surplus terdapat di Desa Sambirejo,Desa Sidorejo. Status daya dukung lahan defisit terdapat di Desa Slogoretno,Desa Jatipurwo,DesaTawangrejo, Desa Gunungsari, Desa Gondangsari,Kelurahan Tanjungsari, ,Desa Tanggulangin.(5) Daya dukung lahan yang sesuai dengan RTRW adalah Desa Gondangsari,Desa Sambirejo,Desa Sidorejo,Desa Tanggulangin,dan Kelurahan Tanjungsari, Desa Gunungsari, Desa Jatipurwo.
Daya dukung lahan yang tidak sesuai dengan RTRW adalah Desa Slogoretno, dan Desa Tawangrejo.
Dedi Hermon, Santun R.P. Sitorus, Manuwoto, Alinda F. Medrial Zain (2011) melakukan penelitian dengan judul Arahan Kebijakan Pengembangan Permukiman Pada Kawasan Rawan bencana Longsor di Kota Padang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Mengevaluasi dan merumuskan kawasan rawan bencana longsor; 2) Merumuskan arahanpengembangan permukiman pada wilayah rawan bencana longsor. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) Penentuan kawasan rawan bencanalongsor dilakukan dengan memanfaatkan SIG dan model MAFF-Japan untuklongsor; 2) Arahan pengembangan permukiman dianalisis melalui AHP.
Hasildari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Terdapat 4 wilayah rawan bencanalongsor di Kota Padang yaitu rawan rendah (18,613 ha), rawan sedang (15,256 ha),rawan tinggi (27,614 ha) dan rawan sangat tinggi (7,633 ha); 2) Dihasilkan 3zona utama pengembangan kawasan permukiman. Kebijakan diprioritaskan untukmencegah pengembangan permukiman pada kawasan yang tidak diperuntukkan
untuk permukiman terutama pada zona tingkat bahaya longsor sangat tinggi.Secara garis besar, perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya terletak pada:1. Metode penentuan tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman dalampenelitian ini menggunakan kombinasi skoring dan
commit to user
pembobotan AHP. AHPdigunakan untuk menentukan bobot parameter fisik agar dihasilkan bobotyang konsisten yang berguna dalam penilaian kesesuaian lahan untukpermukiman. Penelitian evaluasi lahan yang pernah dilakukan sebelumnya menggunakan metode matching.2. Variabel yang digunakan untuk menghasilkan arahan pengembanganpermukiman yang diusulkan dalam penelitian ini mendasarkan analisisnyaatas tingkat kesesuaian suatu lahan untuk permukiman serta fungsi kawasanlahan. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya memberikan arahanberdasarkan kondisi bencana seperti longsor dan lahan kritis.
commit to user
27
No Nama
peneliti
Judul Tujuan penelitian Metode Hasil
1.Dewi Liesnoor Setyowati (2007)
Kajian Evaluasi Kesesuaian Lahan Permukiman dengan Teknik Sistem
Informasi Geografi (SIG)
Melakukan invetarisasi kesesuaian lahan pada wilayah Pengembangan Permukiman di Kota Semarang.
Mengevaluasi Kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman di kota Semarang.
Menerapkan Teknologi SIG untuk mengevaluasi tingkat kerawanan bencana pada wilayah pengembangan permukiman di kota Semarang.
Metode perbandingan (matching)
Metode tumpang susun (overlay)
Perkembangan
Permukiman di Kota Semarang termasuk kategori kesesuaian lahan kelas S2 (sesuai dengan sedikit hambatan) seluas 36,9%, S3 (sesuai dengan banyak hambatan yang dominan) seluas 6,3%, N1 (tidak sesuai) seluas 53,5%, dan N2 (sangat tidak sesuai) seluas 3,4%.
Kelas kesesuaian S2 lahan permukiman termasuk sesuai dan dapat dikembangkan, kelas S3 dan kelas N1 lahan permukiman yang harus selalu diperbaiki faktor penghambatnya,
sedangkan lahan kelas N2 merupakan lahan yang tidak sesuai untuk permukiman dan tidak disarankan untuk Tabel 2.8. Penelitian yang Relevan
commit to user
28
No
dibangun permukiman
2.Dewi Suci Gerhanawati (2011)
Nama
Analisis Daya Dukung Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Judul
Cebongan Kabupaten Wonogiri Tahun 2011
Mengetahuiproduktivitas pertanian di DAS Cebongan Tahun 2011 Tujuan penelitian
Mengetahui ketersediaan lahan di DAS Cebongan Tahun 2011
Mengetahui tingkat kebutuhan lahan di DAS Cebongan Tahun 2011
Mengetahui daya dukung lahan di DAS Cebongan Tahun 2011
Mengetahui kesesuaian antara daya dukung lahan terhadap RTRW Kabupaten Wonogiri Tahun 2011.
Deskripsi spasial
Metode
Daya dukung lahan yang sesuai dengan RTRW
adalah Desa
Gondangsari,Desa
Sambirejo, Desa Sidorejo,Desa
Hasil
Tanggulangin,dan Kelurahan
Tanjungsari, Desa Gunungsari, Desa Jatipurwo. Daya dukung lahan yang tidak sesuai dengan RTRW adalah Desa Slogoretno, dan Desa Tawangrejo.
3.Dedi Hermon Santun R.P. Sitorus, Manuwoto, Alinda F.
Medrial Zain
Arahan Kebijakan Pengembagan Permukiman Pada Kawasan Rawan
bencana
Mengevaluasi dan
merumuskan kawasanrawan bencana longsor
Merumuskan arahan pengembanganpermukiman pada wilayah rawan
bencanalongsor
Penentuan kawasan rawan bencana longsor dilakukanDenganmemanfaa tkan SIG dan model MAFF- Japan untuklongsor
Arahan pengembangan Metode
Terdapat 4 wilayah rawan bencana longsor di Kota Padang yaitu rawan rendah (18,613 ha), rawan sedang (15,256 ha), rawan Lanjutan Tabel 2.8
commit to user
29
No
(2011)
Nama
Longsor di Kota Padang(Jurnal, Institut
Pertanian Bogor)
Judul
Tujuan penelitian
permukiman dianalisis melalui AHP
tinggi (27,614 ha) dan rawan sangat tinggi (7,633 ha).
Dihasilkan 3 zona utama
pengembangankawas an permukiman.
Kebijakandiprioritask an untuk
Hasil
mencegah pengembangan permukiman pada Kawasanyang tidak diperuntukkan untukpermukiman terutama pada zona tingkatbahaya longsor sangat tinggi.
4.Ovista Widya Hidayanti (2013)
Analisis Daya Dukung Lahan Untuk Arahan Pengembangan Permukiman di Daerah Aliran Sungai Walikan Kabupaten
Mengetahui tingkat kesesuaian lahan di DAS Walikan tahun2013
Mengetahui daya dukung lahan di DAS Walikan tahun 2013
Mengetahui arahan pengembangan permukiman
Metode scoring Lanjutan Tabel 2.8
commit to user
30
Karanganyar dan Wonogiri Tahun 2013
di DAS Walikan
commit to user
C.Kerangka berpikir
Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk khususnya di Daerah Aliiran Sungai mendorong pertumbuhan kebutuhan lahan seperti permukiman, pertanian, dan sarana prasarana. Di dalam pemanfaatannya ada yang sesuai dan tidak sesuai, untuk yang tidak sesuaimenyebabkan timbulnya berbagai masalah seperti meningkatnya degradasi lahan. Ketidak seimbangan antara jumlah penduduk yang membutuhkan tempat tinggal dengan ketersediaan tempat tinggal merupakan suatu hal yang mendesak untuk dipikirkan pemecahannya. Permasalahan- permasalahan tersebut dapat diselesaikan antara lain dengan melakukan evaluasi kesesuaian lahan. Evaluasi lahan untuk permukiman dinilai berdasarkan karakteristik lahan yang mempengaruhi pondasi bangunan, kenyamanan dan keselarasan dan keselamatan serta kelestarian bangunan dengan parameter berupa kekuatan batuan, tingkat pelapukan, daya dukung tanah, tekstur tanah, kembang kerut tanah, bahaya longsor, kerapatan aliran, kedalaman alur, bahaya banjir dan permeabilitas tanah. Selain melakukan evaluasi lahan untuk menjawab permasalahan permukiman maka diperlukan perhitungan daya dukung lahan suatu lingkungan. Daya dukung wilayah untuk permukiman, dapat diartikan sebagai kemampuan suatu wilayah dalam menyediakan lahan permukiman guna menampung jumlah penduduk tertentu untuk bertempat tinggal secara layak.
Dalam menyusun formulasi daya dukung wilayah untuk permukiman, selain diperlukan besaran luas lahan yang cocok dan layak untuk permukiman tetapi juga dibutuhkan standar atau kriteria kebutuhan lahan tiap penduduk. Setelah melakukan evaluasi kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lahan maka kita dapat mengetahui arahan pengembangan permukiman di DAS Walikan yang sesuai hasil evaluasi kesesuaian lahan dan analisis daya dukung lahan.
Digram alur pemikiran dijelaskan pada gambar dibawah ini :
commit to user Pertumbuhan penduduk
Mendorong pertumbuhan kebutuhan lahan
Permukiman Pertanian Sarana
prasarana
Tidak sesuai sesuai
Degradasi lahan
Evaluasi kesesuaian
lahan
Analisis daya dukung
lahan
Arahan pengembangan
permukiman Gambar 2.1 diagram alur
pemikiran