• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOAS Psychiatry SIMTOMATOLOGI

N/A
N/A
catatankuliah1

Academic year: 2024

Membagikan "KOAS Psychiatry SIMTOMATOLOGI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

SIMTOMATOLOGI, DR LIKO

Yang dimerahin catatan yang di bilang pas kuliah

● Simtomatologi = anamnesa dan status mental psikiatri

● Anamnesa psikiatri harus lebih menjadi pendengar yang baik (lebih banyak pertanyaan terbuka)

● Wawancara

 Wawancara psikiatri adalah elemen yang paling penting dalam evaluasi dan tatalaksana pasien gangguan mental.

 Tujuan mendapatkan informasi membentuk suatu kriteria berdasarkan diagnosa.

 Proses ini, membantu dalam prediksi jalannya penyakit dan prognosis, mengarah pada keputusan pengobatan.

 Umumnya sama dengan pemeriksaan lain, bedanya kalau wawancara lain terdapat pemeriksaan fisik tetapi wawancara psikiatri pemeriksaannya status mental (harus ditanya ke pasien, jangan ditanya ke keluarganya; keluarga hanya sebagai alloanamnesis/bagian dari anamnesa bukan pemeriksaan status mentalnya)

Co:

“Ini suami ibu dengar bisikan ga si?” trus di tulis sama kita ‘halusinasi positif’  jangan kaya gini

● Parts of the Initial Psychiatric Interview 1. Identifying data

2. Source and reliability 3. Chief complaint 4. Present illness

5. Past psychiatric history 6. Substance use/abuse 7. Past medical history 8. Family history

9. Developmental and social history 10. Review of systems

11. Mental status examination 12. Physical examination 13. Formulation

14. PPDGJ

15. Treatment plan

● Simptomatologi

 Ilmu yang mempelajari tentang tanda dan gejala psikiatri

(2)

 Definisi secara umum, pengindikasian keberadaan suatu penyakit atau gangguan kesehatan yang tidak dinginkan

 Perbedaan antara tanda dan gejala adalah :

 Tanda : Obyektif yang dapat diamati oleh pemeriksa

 Gejala : Subyektif yang disampaikan oleh pasien

 Gejala utama atau gejala yang paling menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), di lingkungan sosial (sosiogenik), ataupun psikis (psikogenik)

 Sebagian besar kondisi psikiatri merupakan kumpulan gejala dan tanda yang terjadi bersama sama / sindrom sebagai suatu kondisi yang dapat dikenali yang mungkin kurang spesifik dibandingkan gangguan atau penyakit yang jelas.

● Tanda & Gejala Psikiatri 1. Persepsi

2. Proses berpikir

3. Keadaan afektif & Reaksi emosional

4. Sikap & tingkah laku 5. Kesadaran

6. Orientasi 7. Kontak psikis 8. Perhatian 9. Daya ingat

10. Intelektual & intelegensi, pikiran abstrak (bukan kompetensi dr)

11. Ekspresi, karangan, tulisan & gambaran (bukan kompetensi dr)

12. Inisiatif 13. Konsentrasi 14. Pendapat 15. Tilikan 16. Pertimbangan

17. Insting & dorongan instingtuil

● Penampilan dan Perilaku

 Bagian ini terdiri dari gambaran umum tentang bagaimana pasien terlihat dan bertindak selama wawancara. Apakah yang terlihat sesuai usianya (lebih muda atau lebih tua).

Gaya berpakaian, ciri fisik, atau cara interaksi. Apa yang dikenakan pasien, termasuk perhiasan tubuh, dan apakah itu sesuai situasi

 Pertama, kalau wawancara pasien pasti, yang kita lihat penampilan dan perilakunya, jangan pikir halusinasi atau waham dulu  Gunakan seluruh pancaindera kalian untuk memeriksa pasien  fokus ga cuman dengerin tapi perhatikan (raut muka, rambut, ada luka-luka ga di tubuh)

(3)

Co: ketemu temen biasanya bersih tiba2 dateng lusuh  harus mikir “wah dia kenapa ini?”

● Kesadaran

 Kejernihan ingatan yang tidak lengkap dengan gangguan persepsi dan sikap

 Sama seperti pemeriksaan pasien lainnya, kesadaran itu penting diperiksa, gabisa diagnose, “Oh iya pasien ini depresi dok atau cemas” tapi kesadarannya fluktuatif sambal tidur aja

 Kebanyakan pasien, misal delirium karna akibat organik (misal; infeksi, trauma atau penyakit lainnya) itu bisa menyebabkan perubahan kesadaran.  harus diamati dari pasien

 Pemeriksaan lebih detail mengenai orientasi, memori akan kalian tanya dibagian akhirnya, tapi di awal langsung kalian nilai kesadarannya, GCS nya langsung

 Di psikiatri

 Kesadaran normal (composmentis) tpi pasien cuman diem aja ga jawab kita berarti apatis

 Kesadaran normal (composmentis) tpi pasien jawab kita dengan baik berarti kesadaran jernih

 Gangguan kesadaran 1. Kesadaran berkabut

 Individu tidak mampu berpikir jernih dan berespons secara memadai terhadap situasi di sekitarnya. Sering kali individu tampak bingung, sulit memusatkan perhatian dan mengalami disorientasi.

2. Delirium

Disorientasi Pengaburan

Kesadaran Stupor Delirium Koma

Koma vigil Twilight State Dreamlike State Somnolensi

(4)

 Suatu perubahan kualitas kesadaran yang disertai gangguan fungsi kognitif yang luas, sering disertai gangguan persepsi berupa halusinasi atau ilusi.

Biasanya orang dengan delirium akan sulit untuk memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian

3. Dream like state

 Gangguan kualitas kesadaran yang terjadi pada serangan epilepsi psikomotor

4. Disorientasi

 Gangguan mengerti waktu, tempat, orang dan situasional. Sering terjadi pada kerusakan organik di otak

5. Twilight State

 Keadaan perubahan kualitas kesadaran yang disertai halusinasi 6. Koma

 Derajat kesadaran paling berat, tidak dapat bereaksi terhadap rangsang dari luar, meskipun sekuat apapun perangsangan diberikan

7. Koma vigil

 Pasien tertidur tetapi dapat dibangunkan, mutisme akinetik.

8. Stupor

 Nyaris tidak berespons terhadap stimulus dari luar, atau hanya memberikan responss minimal terhadap perangsangan kuat

9. Somnolens

 Keadaan kesadaran menurun yang cenderung tidur

● Perhatian

 Didefinisikan sebagai Usaha yg dilakukan untuk memusatkan pada bagian tertentu (Kaplan and Saddock)  gampang teralihkan atau tidak

● Gangguan Pemusatan Perhatian 1. Distrakbilitas

Ketidakmampuan memusatkan atensi; penarikan atensi kepada stimuli eksternal yang tidak penting atau tidak relevan.  paling sering pada pasien manik, schizophrenia

“setiap ada orang lewat langsung teralihkan perhatiannya”

2. Inatensi selektif

(5)

Hambatan atensi karena ada hal-hal yg menimbulkan kecemasan.

3. Hipervigilensi

Atensi dan pemusatan yang berlebihan pada semua stimuli internal dan eksternal;biasanya sekunder dari waham  berlebihan terhadap semua stimulans  missal ada suara apa langsung negok, ada yang lewat nengok

4. Trance

Tidak sadarkan diri karena atensi terpusat dan kesadaran berubah; biasanya pada hipnosis

● Sugestibilitas

 Definisi: kepatuhan dan respon yang tidak kritis terhadap gagasan atau pengaruh

 Terbagi 2:  cuman tambahan, jarang ditemukan 1. Folie a deux (folie ‘atrois)

Penyakit emosional yang berhubungan pada dua orang atau lebih, salah satu orang paranoid yang lain menjadi paranoid.

2. Hipnosis

Modifikasi kesadaran yang diinduksi secara buatan yang ditandai dengan peningkatan sugestibilitas

● Emosi

 Suatu kompleks keadaan perasaan dengan komponen psikis, somatis, dan perilaku yang berhubungan dengan afek dan mood

 Terbagi:  yang paling penting mood dan afek aja, yang lain hanya tambahan 1. Mood

 Definisi

Suatu suasana perasaan yang meresap dan dipertahankan dalam waktu yang cukup lama  perasaan yang menetap dan bertahan

 Sifat : Subyektif

 Dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh orang lain, menggunakan kata- kata pasien sendiri untuk mendeskripsikan mood

contoh:

“sedih,” “marah,” “bersalah,” atau “cemas”

 Mood yang dirasakan oleh pasien

(6)

2. Afek

 Definisi

Mood yang di tampilkan, bersifat objektif, dan meliputi : kualitas, kuantitas, range, kesesuaian dan kongruen.

Ekspresi emosi yang dinilai dari ekspresi wajah,pembicaraan dan sikap pasien.

Mungkin tidak konsisten dengan emosi yang dikatakan pasien.

 Sifat : Objetif  pemeriksa yang menilai

 Komponen afek - Kualitas

 Eutimik :

Suasana perasaan dalam rentang normal, perasaan yang luas dan serasi dengan irama hidupnya

 Biasa aja, dapat mengekspresikan secara baik, tidak berlebihan atau hipotim

 Elevated :

Suasana keyakinan dan kesenangan, suatu mood yang lebih ceria dari biasanya

 Istilah lain: hipotim  suasana mood semakin meningkat

 Ibarat kalau kalian lagi seneng, missal: nilai ujian kalian lebih tinggi disbanding teman-teman kalian. Atau kalian dikasi sama orang tua kalian tiba2 uang 1M

 Expansive :

Ekspresi seseorang tanpa pembatasan, sering kali dengan penilaian yang berlebihan terhadap kepentingan atau makna seseorang

 Ecstasy :

Perasaan kegembiraan yang luar biasa disertai kegairahan yang kuat

 Euphoria :

Elasi yang kuat dengan perasaan kebesaran

(7)

 Misal: pada pemain sepak bola kalo lagi menang juara liga champion

 Pasien mania moodnya euforia terus selama 1 minggu dari pagi - malam

 Disforik :

Menggambarkan suasana perasaan yang tidak menyenangkan, jenuh , gelisah, jengkel, bosan

 Kaya kesel, missal: kalian tanya pasien jawabnya ogah- ogahan, menahan amarahnya

 Jadi, kalo ada pertanyaan yang menyinggung dikit langsung “apaan si lu?”

 Iritabel :

Mood yang mudah dibuat marah atau mudah tersinggung

 Udah marah-marah pokonya kalo ini

 Labile :

Aosilasi atau pergeseran antara euphoria dan depresi atau kecemasan

 Perubahan emosi

 Depresi :

Perasaan kesedihan yang psikopatologis

 Kalo pasien depresi, sedihnya bertahan 2 minggu dari pagi - malam

 Anhedonia :

Hilangnya minat dan menarik diri dari semua aktivitas rutin dan menyenangkan, seringkali disertai dengan depresi

 Aleksitimia :

Ketidakmampuan atau kesulitan dalam menggambarkan atau menyadari emosi atau mood

- Kuantitas  contoh gambaran pada pasien depresi

 Ringan

 Sedang

(8)

 Berat - Range

 Afek luas :

Afek pada rentang normal, ekspresi emosi yang luas dengan sejumlah variasi yang beragam dalam ekspresi wajah, irama suara maupun gerakan tubuh, serasi dengan suasana yang dihayatinya

 Afek menyempit

Menggambarkan nuansa ekspresi emosi yang terbatas, Intensitas dan keluasan dari ekspresi emosinya berkurang yang dapat dilihat dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang kurang bervariasi

 Afek tumpul

Penurunan yang banyak dari kemampuan ekspresi emosi yang tampak dari tatapan mata kosong, irama suara monoton dan bahasa tubuh yang sangat kurang  dari awal wawancara sampai akhir pasien bengong  biasanya pada pasien skizofrenia yang sudah kronis

 Afek datar

Suatu hendaya afektif berat yang lebih parah dari afek tumpul, kehilangan kemampuan ekspresi emosi  pada pasien skizofren katatonik, ekspresinya sudah tidak ada  bener-bener jadi patung

- Kesesuaian

 Merujuk pada bagaimana afek berkorelasi dengan situasi  pas lagi pemakaman trus ada orang yang bercanda itu berarti afeknya tidak sesuai

 Sesuai/tidak sesuai

 Contoh: seorang pasien yang tertawa saat moen pemakaman yang khidmat digambarkan mempunyai afek yang tidak sesuai

- Kongruen

 Afek serasi :

(9)

Keadaan normal dari ekspresi emosi yang terlihat dari keserasian antara ekspresi emosi dan suasana yang dihayatinya

 Afek tidak serasi :

Kondisi sebaliknya, yakni ekspresi emosi yang tidak cocok dengan suasana yang dihayati

 Afek labil :

Perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba-tiba yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal

 Afek  yang kita perhatikan 3. Emosi yang lain

 Kecemasan :

Perasaan ketakutan disebabkan oleh dugaan bahaya yang mungkin berasal dari luar atau dalam dirinya.

 Kecemasan yang mengambang :

Rasa takut yang meresap, tidak terpusatkan dan tidak berhubungan dengan gagasan.

 Ketakutan :

Kecemasan oleh adanya bahaya yang dikenal secara sadar dan realistik.

 Agitasi :

Kecemasan berat disertai ketegangn motorik

 Panik :

Puncak kecemasan, disertai perasaan takut dan pelepasan otonomik

 Apati :

Irama emosi yang tumpul disertai ketidak acuhan terhadap lingkungannya.

 Abreaksional :

Pelepasan/pelimpahan emosional setelah mengingat pengalaman yang menakutkan.

 Ambivalensi :

Terdapat dua impuls/gagasan datang bersama pada orang dan waktu yang sama

 Tension :

(10)

Peningkatan aktivitas motorik dan psikologis yang tidak menyenangkan

 Shame :

Kegagalan membangun pengharapan diri

 Guilt :

Emosi sekunder karena melakukan sesuatu yang salah 4. Gangguan psikologis yang berhubungan dengan mood

 Anoreksia : Hilangnya atau menurunnya nafsu makan

 Hipervagia : Meningkatnya nafsu makan dan asupan makanan

 Insomnia : Hilangnya atau menurunnya kemampuan untuk tidur

 Hypersomnia : Tidur yang berlebihan

 Variasi diurnal : Mood yang secara teratur terburuk pada pagi hari,dan membaik pada siangnya

 Konstipasi : Ketidakmampuan atau kesulitan defekasi

 Penurunan libido, penurunan minat, dorongan dan daya seksual

● Aktivitas Motorik  sebelum mood dan afek  jadi lihat gerakannya gimana (normal/gelisah/banyak diem). Pada pasien yang mengalami efek samping obat psikotik (bradikinesia (parkinson)/tremor)

 Merupakan penilaian terhadap tonus dan kekuatan otot, pergerakan dalam perubahan posisi dan pola pola yang tidak biasa, menunjukkan keutuhan dari nervus –nervus kranialis meliputi pergerakan wajah, mulut, lidah mata termasuk ketika pasien makan dan menelan dan adanya produksi liur berlebihan (Kaplan And Saddock Book of Comperhensive)

 Di gambarkan dengan normal, menurun (bardikinesia) atau agitasi (hyperkinesia)

 Tes yang digunakan untuk Tardive Diskinesia dengan menggunakan Abnormal Involuntary Movement Scale (AIMS) examination

 Terdiri dari:

1. Katatonia :

Kelainan motorik dalam gangguan nonorganik atau psikogenik,

2. Katalepsi :

Posisi tidak bergerak dan dipertahankan terus agak lama

(11)

 Pasien diem aja bentuknya, emang bentuk sendiri 3. Luapan katatonik :

Aktivitas motorik yang teragitasi, tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal

4. Stupor katatonik :

Penurunan aktivitas motorik yang nyata, sering kali sampai titik immobilitas dan tampaknya tidak menyadari sekeliling

5. Rigiditas katatonik :

Penerimaan postur yang kaku yang disadari, menentang usaah untuk digerakkan 6. Posturing katatonik :

Penerimaan postur yang tidak sesuai atau kaku yang disadari, biasanya dipertahankan dalam waktu yang lama

7. Fleksibilitas cerea :

Kondisi dimana anggota gerak seseorang dapat diatur dan digerakkan dalam posisi tertentu yang kemudian dipertahankannya seakan -akan anggota tubuhnya terbuat dari lilin

 Seperti: pasien seperti lilin

Misal: kalian gerakin tangan pasien seperti lilin  dia akan mempertahankan lama banget bisa sampe 2 jam pada pasien kataton

8. Negativisme :

Menahan tanpa motivasi terhadap semua usaha untuk menanggapi suatu perintah

 Artinya menarik dari kalian

 Missal: pasien menghindar dari kalian. Pas kalian tanya dia gamau

9. Katapleksi :

Hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dicetuskan reaksi emosional

10. Stereotipik :

Pola tindakan fisik atau bicara yang terfiksasi dan berulang

11. Mannerism :

Gerakan tidak biasa tidak disadari, dan menjadi kebiasaan / gerakan menyeringai pada anak

12. Otomatisme simbolik :

(12)

Tindakan-tindakan yang otomatis mewakili aktivitas simbolik dan tak disadari 13. Otomatisme sugestif :

Tindakan-tindakan otomatis tidak disadari mengikut sugesti/kepatuhan otomatik.

14. Hipoaktivitas (hipokinesis) : Penurunan gerak

15. Mimikri :

Aktivitas motorik tiruan dan sederhana pada`anak-anak, tanpa disadari.

16. Agresi :

Tindakan keras, bagian afek motorik dari kekasaran, kemarahan atau permusuhan yang diarahkan pada tujuan tertentu, dapat bermanifestasi dalam bentuk verbal atau fisik

17. Acting out :

Ekspresi langsung suatu harapan atau impuls tidak disadari dalam bentuk gerakan; fantasi yang tidak disadari dihidupkan secara impulsif dalam perilaku

18. Abulia :

Penurunan impuls untuk bertindak/ berfikir disertai ketidakacuhan tentang akibat tindakan

19. Mutisme :

Tidak bersuara tanpa kelainan struktural 20. Agitasi psikomotor/overactivity :

Gelisah

21. Hiperaktivitas/hyperkinesis :

Kegelisahan, agresivitas, aktivitas destruktif seringkali didasari oleh kerusakan otak.

22. Tik :

Gerakan motorik spasmodik yang tidak disadari.

23. Somnambulisme/sleep walking :

Tidur berjalan, aktivitas motorik saat tidur.

24. Ataksia :

Kegagalan koordinasi gerakan otot.

(13)

25. Akatisia :

Perasaan ketegangan motorik subjektif karena obat antipsikotik.

26. Kompulsi :

Impuls tidak terkontrol untuk melakukan suatu tindakan segera dan berulang

 Bagian dari isi pikir obsesi, tapia ada gerakannya

 Kompulsi tuh karna obsesinya, dia jadi kepengen terus mengecek sesuatu Co:

“oh iya dok saya OCD ni dok” berulang ulang ngecek

Tadi tuh udh dikunci pintunya, tapi say aga tenang klo belum ngecek 1- 3 kali

27. Dipsomania :

kompulsi untuk minum alcohol

28. Kleptomania :

kompulsi untuk mencuri

29. Nimfomania :

kompulsi untuk melakukan koitus pada perempuan

30. Satiriasis :

kompulsi untuk koitus pada laki-laki

31. Trikotilomania :

kompulsi untuk mencabuti rambut

32. Ritual :

aktivitas kompulsif otomatik dalam sifat untuk menurunkan kecemasan

33. Judi : patologis

● Pikiran

 Bentuk pikir

 Definisi

Proses pikir, termasuk didalamnya bentuk pikir, adalah suatu bentuk dari berbagai ide yang berhubungan satu sama lain sehingga mampu memuaskan lawan bicara, atau apabila berpidato bahasannya menjadi runut bila di dengarkan oleh pendengar (Kaplan and Sadock, Comperhensive Book, hal. 2489)

(14)

 Terbagi 2:

1. Realistis : normal  tidak ada tanda-tanda psikotik, waham, halusinasi, inkoheren

2. Non realistis : reality testing ability terganggu

 Gangguan umum bentuk pikiran a. Gangguan mental

Sidrom perilaku atau atau psikologis yang bermakna secara klinis b. Psikosis

Tidak mampu membedakan kenyataan dengan fantasi, uji realita terganggu dengan menciptakan realita baru. Uji realita merupakan pemeriksaan dan pertimbangan objektif tentang dunia di luar diri.

c. Tes realita

Pemeriksaan dan pertimbangan obyektif tentang dunia di luar diri d. Gangguan pikiran normal

Gangguan dalam bentuk pikiran, ditandai dengan kekenduran asosiasi,neologisme dan konstruksi yang tidak logis

e. Dereistik (austistik)

Preokupasi dengan dunia dalam (preokupasi dengan waham halusinasi sendiri atau dengan dunianya sendiri) dan pribadi.

 Pada pasien skizofren hebefrenik, retardasi mental berat f. Berpikir tidak logis

Berpikir mengandung kesimpulan yang salah atau kontradiksi internal, berpikir ini bersifat patologis jika nyata dan tidak disebabkan oleh nilai kultural.

g. Berpikir magis

Berpikir dimana pikiran, tindakan dan kata-kata mempunyai kekuatan, misalnya dapat mencegah terjadinya suatu peristiwa.

h. Proses berpikir primer

Istilah umum berpikir magis, dereistik, tidak logis yang normal dijumpai pada saat bermimpi, tidak normal pada psikosis

 Proses/arus pikir

(15)

 Terbagi: tahapannya (koheren - flight of ideas – asosiasi longgar – inkoheren) A. Koheren : normal, bisa runtut menceritakan pikiran kita, satu ide ke

ide lain secara runut B. Inkoheren :

Bentuk pikiran yang tidak dapat dimengerti, umumnya berupa ide maupun kata-kata yang tidak logis atau tidak lazim secara tata bahasa, sehingga tidak dapat dimengerti dan menimbulkan kebingungan

 kebalikan koheren tapi ekstrim  jadi gabisa membentuk satu kalimat pun  biasanya pada pasien skizofren hebefrenik, retardasi mental berat

C. Neologisme

Kata-kata baru yang diciptakan pasien, sering berupa kombinasi beberapa suku kata yang tidak mengandung makna.

D. Word salad/gado-gado kata

Penggabungan kata dengan frasa yang inkoheren.

E. Asosiasi longgar/pengenduran asosiasi

Arus pikiran dimana ide-ide bergeser dari satu subjek ke subjek lainnya yang tidak saling berhubungan

 Satu ide kalimat ke kalimat lain tapi kaya gaada hubungannya, kadang bingung nangkapnya

 Jadi, satu kalimat trus loncat lagi ke kalimat lain tapi apa sambungnya?

F. Flight of ideas

Verbalisasi yang cepat dan terus menerus mengakibatkan pergeseran terus menerus dari satu ide ke ide lainnya.

 Satu ide ke ide lain, tapi karna saking cepetnya dia berpindah, kalian jadi agak bingung. Tapi, sebenernya ada runutannya. Tapi, kalo kalian ga ngikutin bingung

 Co: pada pasien mania, orang yang jenius

 “tadi saya kesini naik motor, naik motor saya yamaha N-Max. N-Max tuh dari Jepang dok. Jepang tuh lagi musim sakura dok sekarang.

(16)

Sakura tuh warnanya merah banget dok. Merah tuh ada banyak boneka dok di mall. Di mall saya kemarin ke taman anggrek”

G. Sirkumstansialitas

Gaya bicara tidak langsung yang terlambat mencapai tujuan tertentu, namun akhirnya dapat mencapai tujuan.

 Jawabannya muter-muter tapi akhirnya menjawab

 Misal ditanya sama penguji, kalian jawabnya muter-muter berbelit belit

H. Tangensialitas

Ketidakmampuan untuk mencapai asosiasi pikiran yang mengarah ke tujuan tertentu.

 Kaya mau menjawab tapi ujung-ujungnya ga menjawab pertanyaan I. Perseverasi

Respons terhadap stimulus sebelumnya yang menetap setelah stimulus baru diberikan sehingga tampak pasien mengulangi kalimat jawaban.

 Satu kalimat diulang-ulang J. Verbigerasi

Pengulangan kata-kata atau frasa-frasa spesifik yang tidak mempunyai arti.

 Kata-kata yang diulang K. Ekolalia

Pengulangan kata atau kalimat yang diucapkan oleh orang lain yang bersifat psikopatologis.

 Pasien meniru omongan kita L. Kondensasi

Penggabungan beberapa konsep menjadi satu kata.

M. Jawaban irrelevan

Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, pasien sering tampak mengabaikan atau tidak memperhatikan.

 “misal, tadi makan apa bu?” dijawab “naik motor”

 Hati-hati sama pasien yang memang pendengarannya kurang, jadi jangan cepat-cepat menyimpulkan

(17)

N. Asosiasi bunyi (clang association)

Keterkaitan kata-kata yang mirip bunyinya namun berbeda-beda artinya yang sering kali tidak memiliki keterkaitan logis, dan dapat berupa terbentuknya rima dan sajak.

O. Asosiasi pengertian

Penggunaan kata-kata yang diidentikkan dengan persamaan fungsi, misalnya “rajawali besi” yang maksudnya adalah kapal terbang.

P. Blocking

Terputusnya aliran berpikir secara tiba-tiba sebelum pikiran/gagasan diselesaikan.

 Misal:

kalian kalo lagi ujian, terus bingung jawab apa

kalian lagi jelasin trus tiba2 diem, gatau lagi mau jelasin apa lagi kalian nanya lagi mancing, tapi kalian gabisa jawab lagi

 Contoh pada pasien yang depresi

Pasien lagi cerita tiba2pelan pelan trus diem, kalian tanya lagi “bu tadi sampe sini bu, gimana bu bisa lanjutin bu?” trus dijawab “ha gimana dok gatau dok”

 Ada juga retardasi hampir sama blocking. Jadi kalo retardasi, dia lagi jelasin trus berenti, tapi kalian pancing lagi bisa lanjutin si pasiennya

Q. Glosolalia

Penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti artinya sebagai cara untuk mengungkapkan wahyu, dianggap normal pada praktik agama Pantekosta tertentu

 Isi pikiran

 Gangguan Isi Pikir adalah gangguan pada kognitif yang mempengaruhi secara langsung bahasa dan isi pikir seseorang sehingga mengganggu komunikasi (Kaplan and Sadock)

 Terdiri:

A. Obsesi

(18)

Ide yang terpaku dan patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang dan dihilangkan dari kesadaran oleh logika serta disertai kecemasan.

B. Pikiran kompulsi

Kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang bila ditahan akan timbul kecemasan, sehingga menimbulkan perilaku berulang sebagai respons terhadap obsesi tersebut.

C. Koprolali

Pengulangan secara kompulsif dari kata-kata cabul.

D. Fobia

Rasa takut yang persisten, irrasional, berlebihan dan terjadi terhadap suatu jenis stimulasi atau situasi tertentu yang menyebakan keinginan menghindar dari stimulus atau situasi tersebut

E. Kemiskinan isi pikiran

Pikiran yang hanya berisikan sedikit informasi, sering kali berupa pengulangan kalimat yang itu-itu saja dan kurang bermakna, atau penggunaan kalimat yang samar.

 Jadi, sedikit informasi di otak dia. Yang dibahas itu lagi itu lagi F. Ide berlebih (overvalued ideas/gagasan mirip waham)

Keyakinan yang salah dipertahankan dan tidak beralasan, dipertahankan secara kurang kuat dibandingkan dengan waham.

 Setingkat dibawah waham G. Preokupasi pikiran

Pemusatan pikiran pada ide tertentu disertai irama afektif yang kuat seperti kecenderungan paranoid ingin membunuh atau bunuh diri.

 Pikiran terpusat

 Co: kalian dibeliin mobil mercy seharga 4M. kalian bawa ke cemput pas nongkrong bareng temen. Parkir di pinggir jalan. Akhirnya kalian terpreokupasi, jadi selama kalian ngobrol sama teman, kamu terpikiran terus “mobil saya aman ga ya?” tapi diajak ngobrol nyambung. Tapi pikiran ke mobil

(19)

H. Egomania

Preokupasi pada diri sendiri yang patologis.

I. Monomania

Preokupasi pada suatu objek tunggal.

J. Hipokondriasis

Ketakutan/kecemasan yang berlebihan tentang kesehatan diri pasien didasarkan bukan pada patologi organ yang nyata, tetapi pada interpretasi yang tidak realistis terhadap tanda atau suatu sensasi fisik abnormal.

K. Fobia sederhana

Rasa takut berlebihan terhadap objek atau situasi yang jelas (sebagai contoh, rasa takut terhadap labalaba atau ular).

L. Fobia sosial

Rasa takut akan keramaian, seperti rasa takut berbicara di depan umum, bekerja, atau makan bersama.

M. Akrofobia

Rasa takut terhadap tempat yang tinggi.

N. Agrophobia

Rasa takut terhadap tempat yang terbuka.

O. Algofobia

Rasa takut terhadap nyeri.

P. Ailurofobia

Rasa takut terhadap kucing.

Q. Eritrofobia

Rasa takut terhadap warna merah (merujuk pada rasa takut terhadap darah).

R. Panfobia

Rasa takut terhadap segala sesuatu.

S. Klaustrofobia

Rasa takut terhadap tempat yang tertutup.

T. Xenophobia

Rasa takut terhadap orang asing

(20)

U. Zoofobia

Rasa takut terhadap binatang V. Waham  pikiran

Keyakinan yang salah didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang realita eksternal, tidak sejalan dengan logika dan budaya, serta tidak dapat dikoreksi dengan alasan apapun

 Co:

“saya meyakini satu kelas ini mau menyakiti saya” padahal kenyataannya tidak begitu

“saya meyakini penghasilan saya 500M sebulan” padahal tukang tambal ban

 Syarat waham ada 5:

1) Egosentris

 Mengenai hanya ke diri sendiri, lebih luas (ke keluarganya atau ke bangsanya)

 Co:

Bukan waham kalo :

“saya meyakini kalo kamu tertimpa musibah”

“saya meyakini kalo kamu sedang dijahatin oleh teman sebelah kamu”

Yang waham kalo:

“saya meyakini bangsa Indonesia akan diserang besok oleh Israel”

2) Non realistis

 Tidak benar 3) Dipercaya 100 persen 4) Tak bisa dipatahkan

 Kalau bisa dipatahkan dan tidak diyakini 100% itu ide

 Co:

(21)

Kita missal lagi berantem sama temen. Trus, hari ini kamu ngeliat, temen kamu ngobrol sama temen sebelahnya. Trus mikir “pasti ngomongin aku”  ide referensi

5) Tidak logis : tak sesuai dengan keyakinan yang dianut (agama yang diakui), kebudayaan, adat istiadat

 Berdasarkan konsep:

1) Waham sistematis  disebut juga waham non bizarre Keyakinan yang salah melibatkan suatu tema atau peristiwa tunggal yang menurut pikiran dapat terjadi di kehidupan nyata.

 Co:

“saya meyakini saya ingin dijahatin oleh salah satu mahasiswa disini”

Pada kenyataan di kehidupan sehari-hari : mungkin Tapi kalo waham, “engga ko, mahasiswa dokter ga kaya gitu, baik semua, gaada yang jahat sama dokter”

tapi si guru masih meyakininya

Atau

Co: tukang tambal ban meyakini penghasilan 500M per bulan, tapi klo bill gates masih mungkin pendapatannya 500M perbulan

 Kalau non bizarre, kalian harus tanya kembali anamnesanya  karna paling banyak yg ditemukan wahan referensi yang ditemukan

“saya merasa diguna guna sama tetangga saya dok”

Kalian tanya juga ke keluarganya “bener ga si tetangganya jahat” “engga ko dok, mereka baik-baik aja”

(22)

 Kalau waham non bizarre : masih bisa skizofrenia atau gangguan afektif dengan psikotik (mania dengan gejala psikotik atau depresi berat dengan gejala psikotik atau gangguan waham menetap) 2) Waham yang kacau (bizarre delusion)

Keyakinan salah yang aneh, mustahil dan sama sekali tidak masuk akal dan tidak berasal dari pengalaman hidup pada umumnya.

 Gausa alloanamnesis sudah yakin ini waham bizarre

 Co:

“saya meyakini di otak saya ada alien yang menggerogoti isi kepala saya”

“saya meyakini badan saya dikendalikan oleh makhluk halus”

 Point2 waham bizzare di diagnostic skizofrenia ada thaught (pikira) dan delusion (ke tubuh)

 Skizofrenia ada waham bizarrenya

 Pas wawancara waham bizarre kalian jangan cepat puas “oh ini benar bizarre” tapi kalian tanyain lagi yang non bizarre supaya makin ngeyakinin kalo ini tuh waham bizarre

 Berdasarkan tema

WAHAM NON BIZARRE 1) Waham kejar (persekutorik)

Sebuah waham dengan tema utama bahwa pasien diserang, diganggu, ditipu, disiksa atau dilawan komplotan.

 Gaada obyek, lebih ke pikiran dia sendiri

 Missal: dijebak, ada komplotan, mau bersengkokol Guru meyakini “ada yang mau jahatin saya” ditanya sama kita “kenapa” dijawab “soalnya dia dari dulu emang kaya gitu ke saya”

(23)

2) Waham referensi

Keyakinan bahwa objek, kejadian atau perilaku orang lain yang sebenarnya netral ditujukan khusus untuk diri pasien.

Biasanya dengan konotasi.

 Waham referensi dari obyek  jadi kaya daftar pustaka

 Missal:

Guru meyakini “ada yang mau jahatin saya” ditanya sama kita “kenapa” dijawab “karna daritadi dia liatin saya”

Jadi, saya meyakini diam au menjahati saya 3) Waham kebesaran

Menunjukkan kepentingan, kemampuan, kekuatan, pengetahuan atau identitas yang berlebihan atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal.

 Missal

“saya meyakini semua ilmu di dunia ini saya kuasai, semua professor di dunia kalah sama saya”

“saya bisa mengendalikan satelit, saya diperintahkan oleh NASA untuk mengatur semua satelit di dunia.

Kalo saya mau bisa hancur ini, saya pencet aja saya hancurin”

4) Waham rasa bersalah dan ketidakberhargaan

Perasaan menyesal dan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya, lebih sering dijumpai pada depresi.

 Missal

“saya merasa bersalah dok” “kenapa” “karna kemarin ada gempa bumi dok, saya ketiduran”

5) Waham nihilistik

Merupakan keyakinan tentang ketiadaan beberapa orang atau sesuatu. Namun, pengertian ini diperluas hingga

(24)

termasuk ide-ide pesimis bahwa karier pasien berakhir, ia akan mati, tidak memiliki uang atau bahwa dunia adalah merupakan sebuah malapetaka. Waham nihilistik dihubungkan dengan derajat ekstrim dari mood depresi

 Menuju kiamat 6) Waham somatik

Keyakinan yang salah menyangkut fungsi tubuh pasien.

pasien memiliki suatu cacat fisik atau kondisi medis umum.

 Meyakini ada penyakit tertentu di dirinya 7) Waham agama

Waham yang berisi nilai agama, lebih sering terjadi pada abad ke-19 daripada masa sekarang, agaknya mencerminkan bagian terbesar bahwa agama dijalankan dalam kehidupan orang-orang biasa di masa lalu.

8) Waham cemburu

Keyakinan yang salah, didapatkan dari kecemburuan patologis bahwa kekasih pasien tidak jujur.

9) Erotomania dan waham seksual

Hal ini jarang ditemukan, namun paling sering terjadi pada perempuan. Waham mengenai hubungan seksual seringkali sekunder pada halusinasi somatik yang dirasakan pada genital. Seorang perempuan dengan waham cinta percaya bahwa ia dicintai oleh laki-laki yang biasanya tak dapat digapai, dari golongan status sosial yang lebih tinggi

WAHAM BIZARRE (delusi: tubuh) , (Thought: pikiran) 1) Waham pengendalian (delusion of control)

Keyakinan bahwa tindakan, perasaan dan kemauan adalah benar- benar berasal dan dipengaruhi atau diatur oleh orang atau kekuatan dari luar.

(25)

 Tubuh dikendalikan, jadi kaya boneka kayu (kaya wayang)

2) Penarikan pikiran (thought withdrawal)

Keyakinan bahwa pikirannya telah ditarik ke luar 3) Penanaman pikiran (thought insertion)

Keyakinan bahwa beberapa pikirannya adalah bukan miliknya telah ditanamkan ke dalam pikirannya oleh kekuatan dari luar.

 Jadi, awalnya kaya halusinasi pendengaran karna saking kuatnya kepikiran, jadi pikiran bergema terus- terusan

4) Penyiaran pikiran (thought broadcasting)

Keyakinan bahwa pikirannya telah diketahui oleh orang lain, seolah-olah setiap orang dapat membaca pikirannya.

 “Saya yakin pikiran saya tersiar luas” jadi semua orang tahu

 Missal : disiarkan oleh TV, disiarkan oleh media sosial, disiarkan oleh sinar matahari

5) Pengendalian pikiran (thought control)

Keyakinan bahwa pikiran pasien dikendalikan oleh orang atau tenaga lain

● Bicara

 Definisi bicara

Cara berkomunikasi atau cara mengekspresikan sesuatu melalui suara (Meriam Webster Dictionary)

 Kelalaian bicara

 Tekanan bicara (pressure of speech) Bicara cepat, yaitu peningkatan dan kesulitan untuk memutuskan pembicaraan

 Logorrhea (kesukaan bicara)  Suka bicara, kuantitas bicara berlebih, berhubungan dan logis.  pada pasien mania  biasanya logorrhea dibarengi dengan flight of ideas tapi miskin bicara jadi sedikit ngomongnya

(26)

 Kemiskinan pembicaraan (poverty of speech)  Berkurangnya jumlah pembicaraan, jawaban mungkin hanya terdiri dari satu suku kata (monosyllabic).

 Bicara yang tidak spontan  Respons verbal yang diberikan hanya jika ditanya atau dibicarakan langsung, tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan.

 Kemiskinan isi pembicaraan  Kuantitas kata adekuat, tetapi sedikit memberi informasi karena ketidakjelasan, kekosongan, atau frasa yang stereotipik.

 Diprosodi  Hilangnya irama bicara normal (lawannya prosodi).

 Disartria  celat, cadel, kesulitan dalam artikulasi, bukan dalam penemuan kata Bahasa

 Gagap  pengulangan atau perpanjangan suara atau suku kata yang sering dan menyebabkan gangguan kefasihan bicara yang jelas

 Kekacauan bicara  bicara yang aneh dan disritmik yang mengandung semburan yang cepat dn menyentak

 Bicara yang keras atau lemah secara berlebihan  hilangnya modulasi volume bicara normal: dapat mencerminkan berbagai keadaan patologis mulai dari psikosis sampai depresi sampai ketulian

 Gangguan afasia  gangguan dalam pengeluaran Bahasa

 Gangguan organic  gangguan afasia Missal: stroke

 Perhatikan juga jangn salah menuliskan status mental

“pasiennya jawabannya irelevan dok, miskin bicara” padahal pas diperiksa ini pasien stroke  jangan-jangan gara-gara afasia global  jadi dia udah ga ngerti dibilangin apa juga

 Terdiri:

a) Afasia motoric

Gangguan bicara yang disebabkan oleh gangguan kognitif, pasien masih dapat mengerti pembicaraan, namun kemampuan untuk bicara adalah sangat terganggu, bicara banyak berhenti, bicara susah, bicara tidak fasih (juga dikenal sebagai afasia Broca, tidak fasih dan ekspresif).

(27)

b) Afasia sensorik (afasia reseptif, afasia sub korteks, afasia Wernicke) Kehilangan kemampuan organik untuk mencari kata, bicara lancar dan spontan, tetapi membingungkan dan tidak mengerti yang dibicarkan.

c) Afasia nominal (afasia anomia, afasia amnestic)

Kesulitan untuk menemukan nama yang tepat untuk suatu benda.

d) Afasia sintatikal

Tidak mampu menyusun kata-kata dalam urutan yang tepat.

e) Afasia global

Gabungan afasia motorik dan afasia sensorik.

f) Afasia logat khusus

Kata-kata yang dihasilkan seluruhnya neologistik, katakata yang bukan-bukan diulangi dengan berbagai intonasi nada dan suara

● Persepsi  diesbut juga halusinasi  pencaindera

 Definisi  Sesuatu yang ditangkap oleh panca indera

Persepsi sensoris yang salah, tidak disertai stimuli eksternal yang nyata, mungkin terdapat atau tidak terdapat interpretasi waham tentang pengalaman halusinasi.

 Halusinasi fisiologi (masih logis):

1. Halusinasi hipnagonik

Halusinasi terjadi saat akan tertidur: biasanya dianggap sebagai fenomena yang nonpatologis.

 Missal:

Pas mau tidur kaya lihat setan 2. Halusinasi hipnopompik

Halusinasi terjadi saat akan terbangun: biasanya dianggap tidak patologis.

 Missal:

Baru bangun tidur lihat bayangan apa 3. Halusinasi visual

Halusinasi penglihatan dapat berupa orang, benda (fisik) atau citra yang tidak berbentuk (kilatan), sering terjadi pada kerusakan otak.

 Missal:

(28)

Gaada obyek tapi orang itu melihat ada suatu obyek tertentu 4. Halusinasi olfaktorik (cium)

Halusinasi menghidu sesuatu, sering terjadi pada kerusakan otak.

 Halusinasi akustik/auditorik

 Paling bermakna pada pasien-pasien psikotik, co: pasien skizofrenia

 Dibagi 2:

1. Akuasma : Suara bersifat kacau balau dan tidak dapat di bedakan dengan tegas  selain suara orang (suara detak jam, suara angin, suara terompet, pluit)

2. Phonema : berbentuk suara yang jelas seperti berasal dari manusia  bermakna

 Phonema dibagi lagi:

a. Commanding = menyuruh

Kaya contoh berita ada orang yg dorong istrinya katanya ada yg nyuruh dorong buat nyelametin istrinya

b. Commenting = berkomentar c. Argueing = ada yang ngobrol

 Meliputi panca indra:

1. Halusinasi olafktorius 2. Halusinasi visual

3. Halusinasi gustatorik (pengecapan)

Pesepsi tentang rasa pengecapan yang salah, seperti rasa pengecapan yang menyenangkan yang disebabkan oleh kejang: paling sering pada gangguan organik.

4. Halusinasi perabaan (taktil, haptik)

Persepsi yang salah tentang perabaan atau sensasi permukaan, seperti dari tungkai yang diamputasi (phantom limb), sensasi adanya gerakan pada kulit atau dibawah kulit (kesemutan)

5. Halusinasi kinestetik (somatik)

Halusinasi adanya kejadian disuatu alat/bagian tubuhnya.

(29)

6. Halusinasi autoskopik

 Halusinasi liliput (mikroskopik)

Halusinasi yang dicirikan benda yang dilihat tampak lebih kecil dari pada ukuran sebenarnya.

 Halusinasi yang sesuai dengan mood (mood-congruent hallucination)

Halusinasi yang isinya konsisten dengan mood depresif atau manik (contohnya, pasien depresi mendengarkan suara yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang jahat)

 Sinestesia

Halusinasi yang muncul didadahului halusinasi yang lain, misalnya halusinasi visual didahului halusinasi pembauan.

 Trailling phenomenon

Halusinasi oleh karena pengguaan obat/ zat.

 Gangguan persepsi yang berhubungan dengan kognitif a. Anosognosia

Ketidakmampuan untuk mengenali suatu defek neurologis.

b. Somatopagnosia (autopagnosia)

Ketidakmampuan seseorang untuk mengenali bagian tubuhnya sendiri.

c. Agnosia visual

Ketidakmampuan untuk mengenali objek atau orang d. Astereognosia

Ketidakmampuan untuk mengenali benda melalui sentuhan/ rabaan.

e. Prosopagnosia

Ketidakmampuan untuk mengenali wajah f. Apraksia

Ketidakmampuan untuk melakukan tugas spesifik g. Simultagnosia

Ketidakmampuan untuk memahami lebih dari satu elemen pandangan visual pada satu waktu

 Gangguan persepsi yang berhubungan dengan fenomena konversi dan dosiatif a. Anesthesia histerik

Hilangnya modalitas sensorik disebabkan konflik emosional.

(30)

b. Makropsia

Benda-benda yang dilihat tampak lebih besar dari yang sebenarnya.

c. Mikropsia

Benda-benda yang dilihat tampak lebih kecil dari yang sebenarnya.

d. Depersonalisasi

Sensasi subjektif pada seseorang bahwa dirinya terasa asing.

 Tidak mengenali dirinya sendiri, jadi ngerasa asing sama diri sendiri e. Derealisasi

Sensasi subjektif bahwa lingkungannya terasa aneh atau tak nyata.

 Merasa asing dengan lingkungannya

● Ilusi

 Seperti salah melihat Misal:

Depan kalian laptop, tapi kalian liatnya naga

● Daya ingat

 Periksa memorinya dan macam-macam pemeriksaan lain

 Gangguan daya ingat 1. Amnesia

Tidak mampu sebagian atau seluruhnya untuk mengingat pengalaman masa lalu, bisa organik atau psikogenik.

2. Amnesia anterograde

Tidak mengingat sesuatu sebelum kejadian.

3. Amnesia retrograde

Tidak mengingat ssesuatu sesudah kejadian.

4. Paramnesia

Pemalsuan ingatan akibat distorsi ingatan.

5. Konfabulasi

Pengisian kekosongan memori secara tidak sadar dengan pengalaman yang dibayangkan atau bukan yang sebenarnya, paling sering disebabkan gangguan organik.

6. Déjà vu

(31)

Merasa sudah melihat sesuatu tetapi sebenarnya belum melihatnya.

7. Deja entendu (pense)

Merasa sudah mendengar sesuatu tetapi sebenarnya belum mendengarnya.

Jamais vu Merasa belum melihat, sebenarnya sudah melihatnya.

8. Jamais entendu (pense)

Merasa belum mendengar, sebenarnya sudah mendengarnya.

9. Hiperamnesia

Peningkatan derajat penyimpanan dan pengingatan 10. Screen memory

Ingatan yang dapat ditoleransi secara sadar menutupi ingatan yang menyakitkan.

11. Represi

Melupakan ingatan secara tidak sadar karena tidak dapat diterima.

12. Letologika

Tidak mampu sementara mengingat nama suatu orang/benda.

 Tingkat daya ingat

1. Daya ingat segera (immediate)  Kemampuan mengingat hal-hal yang dialami dalam jangka waktu beberapa detik sampai menit.

 Contoh:

Kalian sebutin 3 objek (apel, meja, koin), pasiennya suruh mengulangi Kalian tes konsentrasi “100-7” sebanyak 5 kali

Trus kalian tanya lagi, tadi obyeknya apa aja ya pak

Biasanya pasien-pasien yang mulai demensia atau tanda-tanda pemikungan itu memori segeranya sudah mulai menurun

2. Daya ingat jangka pendek (recent)  Kemampuan mengingat hal-hal yang dialami dalam jangka waktu beberapa jam atau hari.

 Co: Tadi pagi sarapan apa?

3. Daya ingat menengah (recent past)  Kemampuan mengingat hal-hal yang dialami dalam jangka waktu beberapa minggu/bulan

 Co: Seminggu lalu kegiatannya apa?

(32)

4. Daya ingat jangka panjang (remote)  Kemampuan mengingat hal-hal yang dialami di masa lampau

 Co: dulu sekolah SMP nya dimana?

● Intelegensia

 Retardasi mental

Kurangnya inteligensia sampai derajat di mana terdapat gangguan pada kinerja sosial dan kejuruan

 Ukuran IQ

Borderline : IQ 70-85

Retardasi mental ringan : IQ 50 - 70 (debil) Retardasi mental sedang : IQ 30 - 50 (imbecil) Retardasi mental berat : IQ kurang dari 30 (idiot)

 Terdiri:

1. Dementia

Perburukan fungsi intelektual secara global tanpa pengaburan kesadaran, terjadi karena faktor kerusakan otak.

2. Diskalkulia (akalkulia)

Hilangnya kemampuan berhitung 3. Disgrafia (agrafia)

Hilangnya kemampuan menulis atau menyusun struktur kata 4. Aleksia

Hilangnya kemampuan membaca, penglihatan baik 5. Pseudodemensia

Ada gejala dan tanda seperti demensia yang tidak disebabkan oleh kerusakan otak dan sering disebabkan oleh depresi.

6. Berpikir konkret

Berpikir harfiah, penggunaan kiasan yang terbatas tanpa pengertian nuansa arti, pikiran satu dimensi.

7. Berfikir abstrak

Kemampuan untuk mengerti nuansa arti, berfikir multi dimensi dengan kemampuan menggunakan kiasan dan hipotesis dengen tepat

(33)

● Tilikan

 Definisi

Kemampuan pasien untuk mengerti penyebab sebenarnya dan arti dari suatu situasi seperti kumpulan gejala.

 Tingkat

1. Insight derajat 1

Ketika pasien menyangkal ataupun sama sekali tidak merasa sakit.

 Sama sekali tidak mengakui dirinya mengalami gangguan jiwa.

 Co:

“iya dok saya sakit” “sakit apa?” “sakit kepala” padahal ada halusinasi 2. Insight derajat 2

Ketika pasien sedikit menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh bantuan namun dalam waktu yang bersamaan juga menyangkal bahwa ia sakit.

 Bingung, satu sisi mikir sakit satu sisi mikir engga sakit

 Co: “iya dok kayanya sakit, eh tapi engga, sakit deh”

3. Insight derajat 3

Ketika pasien menyadari bahwa dirinya sakit, namun menyalahkan faktor eksternal, orang lain, masalah medis, atau masalah fisik lainnya sebagai penyebab sakitnya.

 Co:

“iya dok saya mengakui adanya gangguan jiwa dok, tapi gara-gara si A bikin saya sakit kaya gini, saya diguna-guna dok”

Atau

“iya dok saya lagi sakit demam dok gara-gara hujan kemarin” padahal kan imunnya lagi turun

4. Insight derajat 4

Ketika pasien menyadari keadaan sakitnya disebabkan karena sesuatu yang tidak diketahui di dalam dirinya

 Dia udh tau dirinya sakit, tapi keadaan sakitnya ga diketahui penyebabnya sama dia.

(34)

 Co: “iya dok saya sakit, saya jadi bingung dok penyebab saya sakit gangguan jiwa ini apa”

5. Insight derajat 5

Ketika pasien menyadari gejala yang dialami dan penyakitnya, mengetahui bahwa hal tersebut muncul akibat pola pikirnya sendiri, namun tidak menggunakan pengetahuan tersebut untuk melakukan suatu perubahan di masa depan. Insight ini dikenal sebagai intellectual insight.

 Menyadari gangguan jiwa penyebabnya krna internal.

 Co: “iya dok saya sakit, karna saya ga sanggup mengatasi masalah ini.

Jadi saya mengalami banyak gangguan”  tapi dia gamau berobat gamau memperbaiki habitnya

6. Insight derajat 6

Ketika pasien menyadari sepenuhnya apa yang mendasari gejala yang dialaminya, dan pasien melakukan perubahan pada perilaku dan kepribadiannya untuk mencapai pemulihan, keterbukaan terhadap ide dan konsep baru mengenai dirinya. Insight ini dikenal sebagai true emotional insight

 Udah mengakui, menyadari karna faktor internal dan mau berobat.

● Daya nilai

 Definisi

Kemampuan untuk menilai situasi secara benar dan untuk bertindak secara tepat di dalam situasi tersebut dengan mempertimbangkan alasannya

 Terdiri

1. Judgment sosial Kemampuan untuk menilai situasi sosial dan bertindak secara tepat. Misalnya dengan menanyakan tindakan apa yang akan dilakukan jika diajak melakukan kerja bakti.

2. Judgment test  Kemampuan untuk menilai situasi dan bertindak secara tepat tanpa adanya orang lain. Misalnya dengan menanyakan tindakan apa yang akan dilakukan jika menemukan telepon genggam seseorang yang tertinggal.

 Pertimbangan kritis

 Co:

(35)

“Bapa diruangan kaca, sekelilingnya sudah kebakaran semua, apa yang akan bapa lakukan?”

Atau

“ada dompet orang jauh apa yang akan bapa lakukan?”

 Kemampuan untuk menilai, melihat dan memilih berbagai pilihan di dalam suatu situasi.

 Kinerja refleks di dalam suatu tindakan.

 Kehilangan kemampuan untuk mengerti suatu situasi dengan benar dan bertindak secara tepat.

 Pertimbangan Otomatis

 Pertimbangan yang Terganggu

Pembuatan Status Mental  liat word yg dikasih dr liko 1. Laporan

 RS nya: IGD/Bangsal/Polri

 Nama dan NPM kita

 Yang bertugas jaga pada saat itu

 Pembimbing kita siapa di RS tersebut 2. Data Pribadi pasien

3. Riwayat psikiatri

 Keluhat utama

 Keluhan dari keluarga  alloanamnesa 4. Status psikiatri seperti bercerita

 Onset

 Permasalahan / stressor (kaya bercerita biasanya si pasien)

 Gejala  nyeritain sesuai onset

 Produktivitasnya  GAF (waktu luang, komunikasi, aktivitas kebersihan, dll) 5. Riwayat penyakit sekarang

6. Riwayat penyakit dahulu (pernah ga ada riwayat psikiatri sebelumnya?) 7. Riwayat pendidikan, pekerjaan, silsilah keluarga (bagus 3 generasi) Notes:

(36)

Cek PANS  kalo PANS <20 rawat di bangsal biasa, PANS>20 rawat di ruang intensif psikiatri  apalagi pasien dengan tentamen suicide (yang berfikir bunuh diri) harus masuk ke ruang intensif

sembuh menurut psikiatri ada lah pasien sudah bisa beraktivitas seperti sebelumnya sebelum si pasien sakit

RPS  masih sakit ga pernah beraktivitas kembali layaknya normal seperti sebelum sakit RPD  pernah sembuh

Normal  GAF >80

Mulai ada gejala  GAF <75 Co:

1. Depresi berulang

Sekarang depresi, 1 tahun lalu depresi, tapi diantara 2 episode depresi itu sudah sehat lagi recover bisa aktivitas lagi, tidak ada gejala depresinya  masuk ke riwayat penyakit sebelumnya

2. Pasien bipolar

Sekarang periode fase manianya. Tapi 6 bulan lalu depresi. Tapi diantara depresi dan mania, dia sempat ada periode sembuhnya (normal bisa kerja bisa aktivitas)  RPD

GAF bisa menilai prognosa

Kenapa psikiatri harus tanya masalah organiknya? Karna bisa memengaruhi diagnosis, bisa saya kelainan organik tersebut yang memunculkan penyakit gangguan jiwanya 

misdiagnosis/mistatalaksana Co:

tifoid  bisa muncul gejala psikotik

(37)

stroke  marah marah

hipertiroid  depresi, cemas, psikotik

obat2 tertentu  misal obat TB yang resisten  bisa menyebabkan gejala psikotik obat obat napza bisa menimbulkan gejala psikiatri

hati2 juga  obat psikotis ada yg bisa menyebabkan gula naik

Aksis 1  diagnosis psikiatri (dari f0 – f9)  DD nya minimal 2

Aksis 2  masa premorbid  “ada retardasi mental?” atau “ada gangguan kepribadian ga?”

Aksis 3  diagnosis organik ada ga?

Aksis 4  stressor yang masih bermakna dengan penyakit sekarang  bisa jadi lebih dari 1 Aksis 5  GAF  pointnya : gejala dan hendaiannya  GAF dibagi lagi: 1 tahun terakhir terbaik saat masuk dan ketika diperiksa (maksud 1 tahun terbaik, co: skrg bulan januari 2024, nah 1 tahun lalu, januari 2023, tanya ke keluarganya si pasien gimana gejala dan hendaiannya)  untuk menentukan prognosis dan edukasi  GAF yang dipake 2 bulan berturut turut terbaik dalam 1 tahun terakhir

Referensi

Dokumen terkait