E. Konsep / Teori Advokasi Komunitas dalam Keluruhan Dukuh Pakis
Menurut Notoadmodjo (2003), advokasi adalah upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap memiliki pengaruh dalam keberhasilan suatu program maupun kegiatan yang dilakukan. Pada satu sisi, peran advokasi berdasarkan pada tradisi pembaruan sosial, di sisi lain berdasarkan pada pelayanan sosial. Aksi advokasi menjadi aksi yang aktif dan terarah dimana dalam menjalankan fungsi advokasi dalam mewakili kelompok masyarakat membutuhkan bantuan maupun layanan. Dalam menjalankan peran advokasi perlu melakukan aksi persuasi terhadap kelompok professional maupun kelompok elit tertentu untuk mencapai tujuan yang diingingkan.
Advokasi memiliki tujuan untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok dalam mengambil kebijakan ataupun keputusan. Proses advokasi cukup penting dilakukan untuk mengomunikasikan isu penting dengan merencanakan strategi yang memiliki target utama adalah pengambilan kebijakan. Advokasi bukanlah revolusi, namun dilihat sebagai bentuk atau usaha perubahan sosial. Keberhasilan advokasi diperoleh apabila proses yang dilakukan cukup terstruktur, sistematis, terencana, dan bertahap dengan tujuan yang jelas untuk memberikan pengaruh perubahan kebijakan untuk menjadi lebih baik. Keterampilan dalam advokasi menjadi suatu ilmu juga seni yang dipengaruhi oleh komunikasi untuk meningkatkan kinerja tim dalam beradvokasi.
Dalam menyelenggarakan advokasi, tidak hanya mempengaruhi orang lain namun, memonitoring dan menentukan juga pihak yang akan melaksanakan advokasi, serta melakukan pengembangan jaringan untuk melakukan advokasi.
Suatu organisasi dapat terlibat dalam aksi advokasi dengan memberi tahu suatu organisasi mengenai kebijakan dan masalah saat ini yang mempengaruhi suatu komunitas atau organisasi. Selain itu, dilakukan juga evaluasi terkait misi dan tujuan suatu organisasi atau komunitas dengan memeriksa kembali program yang melibatkan advokasi sebagai sarana untuk mengatasi masalah atau keluhan dalam masyarakat. Aksi advokasi juga dapat berkolaborasi atau bekerja dalam koalisi dengan kelompok yang memiliki tujuan yang sama dengan organisasi atau komunitas tersebut.
Dalam penelitian ini penulis ingin mengkaji aksi yang dijalankan oleh pemerintah Kelurahan Dukuh Pakis dalam mengedukasi publik untuk mengurangi kegiatan yang bersifat penyimpangan agama. Selain itu, penulis juga ingin menganalisi bagaimana kerjasama SOTH bersama degan pemerintah Kelurahan dalam mengedukasi
publik untuk mengurangi kegiatan yang menyimpang agama sehingga dapat menunjukkan bahwa SOTH bersama Pemerintah Kelurahan Dukuh Pakis dapat menjalankan kerjasamanya.
F. Isi dan Pembahasan
Salah satu program yang berada di Kampung Madani adalah penyaluran bantuan berupa sembako berupa beras. Bantuan ini disalurkan kepada warga yang lanjut usia (lansia) dan janda yang tidak memiliki pekerjaan/ hidup tanpa keluarga. Penyaluran ini dilakukan di setiap RT dan terdapat ibu-ibu SOTH per RT yang sudah mempersiapkan. Bantuan yang disiapkan yakni beras 3-5 kg, karena terdapat keterbatasan dana. SOTH merupakan singkatan dari Sekolah orang tua hebat, program ini merupakan salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah kota Surabaya yang direalisasikan di kampung madani. Tujuan dari diadakannya SOTH adalah untuk memberikan edukasi kepada kedua orang tua yang memiliki anak balita mengenai parenting terhadap anak dan lain sebagainya.
Pengurangan kegiatan yang menyimpang agama dengan pemerataan bantuan merupakan strategi yang penting dalam mewujudkan keadilan sosial dalam bidang keamanan. Ada beberapa tujuan penyusunan rencana aksi pemerataan bantuan, antara lain:
I. Memberikan panduan dan arahan di dalam menysun kebijakan, program dan kegiatan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi (monev) yang responsif pada setiap tahap pembangunan.
2. Mengefektifkan pelaksanaan strategi pemerataan bantuan secara lebih konkrit dan terarah untuk menjamin agar semua kalangan memperoleh akses, partisipasi, mempunyai kontrol dan memperoleh manfaat yang adil dari adanya bantuan dan berkontribusi pada terwujudnya keadilan dan keamanan daerah.
a. Sumber Daya dan Anggaran
Anggaran pemerataan bantuan tertuang dalam aturan SOTH berupa kegiatan penguatan kelembagaan dan penguntasan kegiatan yang menyimpang agama, baik mengenai halal haram maupun hal lainnya.
b. Sistem DNTN
Sistem data di Kelurahan Dukuh Pakis tersentral di Sekretariat, disamping masing-masing Kasie (Kasie Pemerintahan, Kasie Kesejahteraan Rakyat dan Perekonomian, Kasie Pembangunan dan Ketertiban)
c. Alat Analisis
Dalam menganalisis kegiatan dan anggaran tertuang dalam Dana Kelurahan beserta aturan BPD dan jajarannya
d. Peran Serta Mnsynraknt dan Kegiatan Inovasi
Peran serta masyarakat dalam kegiatan pemerataan bantuan di Kelurahan Dukuh Pakis sangat besar, utamanya dalam kegiatan pengurangan kriminalitas dan peningkatan ekonomi masyarakat dimana semua kegiatan baik social, ekonomi dan pembangunan harus bangkit dan bergerak guna mewujudkan kesejahteraan, Kesehatan masyarakat dan kebangkitan ekonomi masyarakat, sangat diperlukan Kerjasama dan peran serta semua unsur masyarakat.
e. Kegiatan Inovasi SOTH Kelurahan Dukuh Pakis
1. Penurunan angka Kriminalitas (Kegiatan yang Menyimpang Agama) 2. Pembentukan dan penguatan kampung madani
3. Pembentukan dan pengcmbangan kelompok anti kekerasan
Pengurangan Kegiatan Kriminalitas tidak hanya memperhatikan permaslahan praktis kegiatan dan pembangunan, tetapi juga harus berupaya mengubah situasi dan kondisi yang mendasari adanya ketidaksetaraan sebagai tujuan jangka panjang. Berikut rencana aksi Program Pemerataan banyuan SOTH Kelurahan Dukuh Pakis :
1. Pendidikan
a. Tertanganinya anak Putus Sekolah di wilayah Kelurahan Dukuh Pakis b. Memberi pelatihan ketrampilan lebih banyak lagi pada anak pulus
sekolah dan
Karang Tarunadengan menggandeng CSR, 2. Kesehatan
a.
Penanganan anak stunting sehingga di Kelurahan Dukuh Pakis tidak ada lagi anak stunting dan kurang gizib.
Melaksanakan kunjungan rumah/home visit untuk mencari anakstuntingc.
Memantau pertumbuhan kesehatan anak stunting di wilayah Kelurahan Dukuh Pakis d. Peningkatan ketrampilan Kader dalam penanganananak stunting3. Ekonomi
a.
Peningkatan peran UKM untuk memacu perkembangan ekonomib.
Penguatan UMKM melalui pelatihan 4. Sosiala. Memberi bantuan dan perhatian pada perbaikan gizi anak stunting.
b. Membari penyuluhan sec-ara optima] dan bertelanjutan pada masyarakat penyebab dan dampak stunting pada anak.
G. Perspektif Islam Mengenai Advokasi Komunitas pada Pemerataan Bantuan di Kelurahan Dukuh Pakis
Ayat-ayat advokasi dalam al-Quran menyangkat banyak tema. Pertama, pengentasan kemiskinan menjadi perhatian utama al-Quran. Allah swt berfirman:
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin." (Qs. al-Mudatsir. 38-44).
Ayat-ayat surat al-Mudatsir di atas menunjukkan spirit Islam tentang hukuman pedih bagi orang yang membiarkan kaum lemah dan kemiskinan yang tidak terentaskan. Membiarkan orang-orang menderita oleh kemiskinan adalah alasan Tuhan menyiksa manusia di neraka. Padahal, Islam sudah memerintahkan umat muslim untuk mengadvokasi orang-orang lemah dan terpinggirkan, seperti kelas sosial orang miskin ini (Bahri, 2013).
Melakukan pembelaan terhadap kaum lemah, salah satunya, dilakukan dengan mendistribusikan kekayaan, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan. Harta kekayaan pribadi yang tidak dikelola untuk kesejahteraan sosial adalah tindakan 'maksiat yang membawa celaka di akhirat. Allah swt berfirman:
"Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, "Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.
Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku." (Q.S. al-Haqqah: 25-29) Dengan mengutip Imam al-Ghazali, Arief Subhan, dkk., menyebutkan bahwa harta umat muslim harus digunakan untuk kemaslahatan umat. Kemaslahatan ini berkaitan dengan aspek Individual, dan masyarakat secara keseluruhan. Kesejahteraan
sosial (social walfare) berhubungan dengan kepentingan dasar manusia, seperti pangan, pakaian, dan tempat tinggal. Semua ini adalah tugas masyarakat secara umum (Subhan, 2016).
Pemberdayaan sosial melalui mekanisme distribusi kesejahteraan personal adalah perintah Islam. Allah swt berfirman:
"Dan pada harta-barta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin," (Qs.
adz-Dzariat: 19-20).
Berdasar ayat ini, kemiskinan yang melanda seluruh rakyat di muka bumi menjadi tanggung jawab bersama umat muslim, karena Islam adalah agama kemanusiaan. Begitupun, upaya pengentasan kemiskinan berdasar ayat ini bisa lintas batas juga tanggungjawab satu negara atas rakyatnya sendiri (Riza Ul Haq, 2018).
Salah satu ayat yang menegaskan Islam adalah agama kemanusiaan yang membela kepentingan orang lemah tercermin dalam firman Allah swt.
"Dan Dialah yang menjadikan kebun kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama trasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam au) bila dia berbuah, dan tunaikanlah baknya di hari memetik hasiluja (dengan disedekahkan kepada fakir mukin), dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih Ichiban," (Qs al- An'am: 1413.
Ayat lainnya mengatakan,
"Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan bakaya demikian (pula) kepada takir miskin dan orang-orang yang dalam persahanan, tuulah yang lebih baik bags swang orang yang mенски keredhaan Allah, dan mereka malab orang anang bermutung. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)," (Qs ar- Rum: 38-39).
Kedua, perlindungan keluarga. Ini advokasi di tingkat mikro. Allah swt berfirman,
"Dan berikanlah kepada keluarga keluarga yang dekat akan baknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-bamburkan (hartamu) secara boros." (Qs. al-Isra: 26). "Hai orang-orang yang beriman, peliharalab dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Qs. at-Tahrim: 6).
Selain aspek kesejahuaan atau dalam term Maqashid Shariah disebut Hifz al- Mal (menjaga harta), advokasi juga berkaitan dengan menjaga keturunan dan kehidupan berkeluarga. Ayat-ayat yang berkaitan dengan advokasi di wilayah kehidupan keluarga ini antara lain:
"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya. maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakan itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuia lagi Maha Mengenal,” (Q. An-Nisa’: 35).
Problem rumah tangga hagian dari tanggung jawab advokasi Islam. Karena itulah. Hasbi Indra secara spesifik menguraikan tentang etika Islam dalam membangun kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah Karena membina keluarga vang hahagia. memiliki keturunan yang berkelanjutan, bagian darı ajaran Islam (Indra, 2017). Dalam term Maqashid Shariah, ini disebut menjaga keturunan (anak), menjaga hubungan baik suami-istri (Hifz al-Nas). Dakwah advokasi Islam dapat menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai salah satu sasaran advokasi (mad'u).
Selain menjaga jiwa agar keturunan berlanjut dan hubungan suami istri harmonis, bidang lain yang juga masuk kategori hifz al-nasl adalah tentang pendidikan yang berkualitas (Indra, 2017). Pentingnya pendidikan berkualitas untuk anak itu tercermin dalam ayat al-Quran:
"Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan- perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:
"Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?." (Qs, al-Qashashs: 12).
Selain itu, perlindungan terhadap anak adalah hak anak itu sendiri. Scorang anak memang dianjurkan oleh Islam untuk memohon perlindungan kepada keluarganya.
Ayat itu terdapat dalam firman Allah swt tentang kisah nabi Luth as, "Luth berkata:
"Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)" (Qs. Hud: 80). Karenanya, gerakan dakwah advokasi Islam dapat diarahkan pada perlindungan dan pembelaan hak-hak anak di dalam rumah tangga (Mardi Candra. 2018)
Terakhir, term Maqashid Shariah yang penting adalah Hifz Aql (menjaga akal).
Dari akal inilah lahir nilai-nilai dan budi pekerti, yang pada wujud materialnya berupa kearifan lokal. Local wisdom adalah buah manis dari hifz aql. Karenanya, budaya itu sendiri diartikan sebagai cipta karsa rasa manusia (Sarinah, 2019), dengan demikian, advokasi Islam dapat diarahkan untuk memberikan perhatian pada relasi Islam dan budaya lokal yang harmonis, terlebih di Indonesia, yang memiliki keragaman kultural.
Allah swt berfirman
“Wahai manusia! Sungguh. Kami telah menciptakan kamu dars woning laki-laki dan seorang perempuan. Landian Kami jadikan kamu berbangsa bangsa dan berenkuku agar kamu saling mengenal Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sini Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha teliti," (Q. A-Hujurat: 131).
H. Kesimpulan
Implementasi Pengarusutamaan Kegiatan Menyimpang Agama di lingkungan Kelurahan Dukuh Pakis sudah baik melalui rapat koordinasi, rapat teknis. penyuluhan dan sosialisasi dengan melibatkan semua unsur meliputi Rader, TP PKK Kelurahan Dukuh Pakis serta masyarakat di Kecamatan Dukuh Pakis. Kebijakan-kebijakan Pemerataan bantuan di Kelurahan Dukuh Pakis diperlukan komitmen yang tinggi dari pimpinan dan semua unsur, komitmen ini dapat dituangkan dalam bentuk kebijakan- kebijakan yang responsif keadilan, sehinggan peraturan-peraturan tentang pengarustamaan kriminalitas dijadikan acuan dalam Pembuatan kebijakan/ Peraturan/
Keputusan/ Surat Edaran di lingkungan Kelurahan Dukuh Pakis,
Beberapa kendala yang masih muncul pada Saat penyusunan Perencanaan dan Penganggaran diantaranya adalah kurangnya pemahaman ASN terhadap konsep kegiatan yang sebcnamya sudah ber-perspektif keamanan dan ketidaktersediaan data terpilah pada beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan.
Al-Quran sebagai kitab suci dan pedoman hidup dunia akhirat umat muslim, mengajarkan prinsip-prinsip dasar tentang advokasi atau pembelaan terhadap orang- orang dan golongan tertentu. Prinsip tersebut dirumuskan dalam satu konsep yang sudah matang di tangan para sarjana muslim klasik, yang lebih dikenal dengan sebutan Maqashid Shariah. Dalam disiplin ilmu dalewah, maqashid syariah ini sudah banyak dikembangkan oleh praktisi namun belum popular teoritisasi atau formula teoritisnya.
Dengan sebutah Dakwah Advokasi dalam al-Quran inilah, peneliti menawarkan sato alternatif teoritis baru, yang membahas tentang prinsip-prinsip, ruang lingkup, dan berbagai prasyarat yang harus dipesali untuk menjalankan dakwah advokasi menurut Islam
Sebagai sebuah kegiatan advokasi, tentu dakwah harus dipahamai sebagai serangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mempengaruhi orang lain, baik personal maupun massa kolektif demi menggapai target-target pembelaan tertentu. Target-target pembelaan ini disebut Maqashid Shariah, yang terdiri dari lima dimensi utam:
membela agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Untuk menjadi seorang da’i yang bergerak di badang advokasi, beberapa syarat yang harus dipenuhi adalah penguasaan ilmu yang mumpuni di berbagai bidang, diwujudkankan dalam pengamalan atas ilmu, memiliki kesabaran yang cukup, serta penguasaan situasi dan kondisi sosial.
REFERENSI PENULISAN
Amin, m. (2012). Konsep Dakwah melalui Program Posdaya berbasis Masjid. Jurnal Dakwah Tabligh, 13, (1), 97-108.
Ardiyanti, n.a. (2018). Dakwah Humanis sebagai Upaya Penanggulangan Radikalisme di Indonesia. Jurnal Tabligh, 19 (2), 179-197.
Arif, S. (2009). Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif. Depok: Koekoesan.
As-Suyuthi. J. (2008). Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Bandung: Gema Insani Press.
Aswar, H. (2016). Politik Luar Negeri Arab Saudi dan Ajaran Salafi-Wahabi di Indonesia.
Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations, 1 (2), 15-30
Budiantoro, W. (2017). Dakwah di Era Digital. Komunika, 11 (2), 263-281.
Candra, M. (2018). Aspek Perlindungan Anak Indonesia. Bandung: Prenada Media.
Deshinta, W.F. (2017). Bebas Visa Kunjungan. Seminar Nasional hukum. Universitas Negeri Semarang
Hafidhuddin, D. (1998). Dakwah Aktual, Bandung: Gema Insani Press.
Harapah. J. (2014). Hermeneutika dan Metode Penafsiran Alquran. Analytica Islamica, 3 (2), 152-161.
Imam. K. (2016). Relevansi Hermeneutika Jorge J. E. Gracia dengan Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an. Esensia, 17 (1), 251-264.