1. KONSEP WALI DAN MAHAR SEBELUM DAN SESUDAH ISLAM
Menurut adat Arab jahiliyah atau masa pra Islam, seorang wali (pria) berkuasa penuh atas perempuan yang berada dalam asuhannya serta harta yang dimilikinya. Jika perempuan itu cantik, maka akan dinikahi dan diambil hartanya, jika buruk rupa, maka dihalangi nikahnya dengan laki-laki lain. Tujuannya agar walinya dapat menguasai seluruh hartanya. Hal seperti ini ditentang oleh Al-Quran seperti tercantum dalam surah An-Nisaa' ayat 127. Di masa itu wanita tidak mempunyai hak untuk menolak atau sekedar memberi saran dalam urusan pernikahannya. Demikian pula dengan mahar, pemberian mahar pada masa pra Islam dianggap sebagai harga beli seorang perempuan dari walinya sehingga wanita merupakan milik suami sepenuhnya. Ia berhak memperlakukan istrinya dalam bentuk apapun. Mahar menurut ajaran islam, bukanlah dimaksudkan sebagai harga, pengganti atau nilai tukar bagi wanita (calon istri) yang akan dinikahi. Mahar sebagai bagian dari lambang atau tanda bukti bahwa calon suami menaruh cinta terhadap calon istri yang akan dinikahi.
2. PRAKTIK PERNIKAHAN SEBELUM DAN SESUDAH ISLAM
Dalam bangsa Arab pra Islam, budaya patriarki mendominasi sehingga perkawinan lebih identik dengan sebuah kontrak jual-beli di mana perempuan dianggap tidak lebih dari pada sebuah objek yang dijual. Kaum perempuan tidak dihargai, dalam pernikahan hanya dijadikan sebagai barang komoditi yang bisa diwariskan atau dipertukarkan tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu dari pihak perempuan. Beberapa contoh praktik perkawinan pada masa itu seperti berikut.
Perkawinan al-daizan Zawaj al-badal Zawaj al-sighar Zawaj al-istibda’
Zawaj al-zainah
Masih banyak lagi bentuk perkawinan lain yang dirasa merendahkan perempuan.
Setelah Islam datang, Islam menghapus segala bentuk perkawinan yang bertentangan dengan syariat Islam, segala kezaliman dihapuskan. Pernikahan dianggap sesuatu yang agung, tidak hanya sekadar hubungan kontraktual antara keluarga lelaki dan keluarga perempuan tapi pernikahan mengandung unsur ibadah. Islam juga mengembalikan kedudukan perempuan dengan memuliakan perempuan.